Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Buku Asyik (sayangnya) belum "Khatam"

Review Buku: Faith and the City


Buku karya duo HR kali mengedepankan konflik batin yang menarik. Kenapa menarik? Karena novel ini menyuguhkan kesederhanaan berpikir atas apa yang menjadi obsesi, ambisi, dan juga jatidiri. 

Kisah dua orang perantau yang harus mengevaluasi lagi komitmen bersama mereka setelah godaan duniawi menjejali target pribadi. Godaan yang sulit dibedakan apakah ini membela agama ataukah diperalat uang semata.

Buku Isinya Orang-Orang Keren Berkirim Surat

Dapat pinjaman buku kece dari kawan di Himmpas UI yang sebetulnya sudah cukup lama terbitnya, yaitu tahun 2012 lalu. Isinya menarik karena menawarkan curhatan dari berbagai tokoh terkemuka di Indonesia. Curhatan para tokoh ini, yang notabene pejabat publik, atlet, seniman, wiraswasta, board of director, sastrawan, hingga tokoh agama, disajika dalam bentuk surat yang membuat kita merasakan "mendengar" pesan-pesan penuh makna mereka. Beberapa tokoh malah menyelipkan surat (dalam arti denotatif) berupa dokumen yang asli dibuat oleh mereka, baik ketikan maupun tulis tangan.

Sampulnya menyiratkan makna klasik yang sederhana namun memberi kesan sesuatu yang spesial. Pemilihan font yang menyerupai tulisan tangan seolah mengilustrasikan isi buku ini.

 Coach Rahmad Darmawan disajikan lukisannya beserta profil singkatnya

Sebuah surat tulis tangan dari tokoh terkemuka asal Papua

Secara pribadi ada beberapa nama saya rasa bisa memberikan kesan kuat agar buku ini makin lengkap ceritanya tentang "Menjadi Indonesia". Pertama adalah Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf, Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh yang kebetulan keduanya adalah mantan petinggi GAM. Tentu ada kisah menarik melirik status mereka yang kini merupakan orang yang "paling bertanggung jawab" atas keutuhan Indonesia di pucuk Pulau Sumatera ini. Kedua adalah Hasbullah Thabrani, salah seorang pakar kesehatan masyarakat yang punya andil besar sebagai "arsitek" BPJS, sebuah sistem informasi yang menjadi ekosistem untuk pemerataan ketahanan Bangsa Indonesia di bidang kesehatan. Ketiga adalah Nurdin, Bupati Bantaeng yang memilih hijrah dari kenikmatan sebagai akademisi untuk mengabdi pada masyarakat.

#ReviewBuku Ikhtiar Mencari Ridho Allah

Buku ini cocok dijadikan sebagai penambah ilmu yang disajikan secara ringan. Nggak perlu khawatir bahasa yang digunakan muluk-muluk, bahkan penyampaian ayat Al Qur'an dan hadis di dalamnya tidak memaksa kita berpikir keras. Ulasan mengenai topik-topik yang dihidangkan pun sangat aktual, betul-betul sesuai dengan keseharian kita. Singkatnya, ini adalah buku penuh nutrisi yang membangkitkan ghirah kita dalam mencari ridha Allah saat beraktivitas :)

#ReviewBuku Sabtu Bersama Bapak

Buku ini menyimpan keunikan tersendiri yang mantap punya. Menjelaskan tiga alur cerita "sungai" yang bermuara pada "hilir" sebuah kebahagiaan. Bagi yang punya problema sebagai berikut:
- Kepala keluarga kaku saat di rumah
- Susah jodoh
- Single parent
- Khawatir dalam mendidik anak
- Dilema antara merawat orang tua vs calon pasangan

Ini buku patut disimak dengan gaya bahasa yang sangat "kota". Namun dengan segmen perkotaan dan daerah rantau, buku perlu filter agar tidak asal dibaca oleh anak-anak. Bahasanya agak frontal hehee... Tapi pesan moralnya sangat menyentuh. Ringan, lucu, dan menggelorqkan semangat berkeluarga.

RIlis juga The Next Indonesia

Ada dua kebanggaan yang tidak terkira terkait buku The Next Indonesia. Buku ini di dalam proses pengerjaannya mengajarkan banyak hal yang terus terang tidak akan pernah ditemui dalam kuliah di jurusan DKV, jurusan jurnalistik, ilmu komunikasi, apalagi di teknik informatika. Secara ringkas, kedua hal tersebut adalah ketidaksempurnaan yang dalam perjalannya harus mendefinisikan ulang batas kemampuan, hmm, lebih sederhana lagi jika disebut "menembus batas".

Desain buku ini mulai dari halaman pertama s.d. halaman terakhir, kecuali sampul dalam, merupakan konsep yang sangat panjang prosesnya. Butuh negosiasi sana-sini untuk mengompromikan gagasan yang ada di kepala. Segala patokan seperti "elegan", "sederhana", dll, sifatnya kualitatif, dan (as you know) sangat imajinatif dan "debatable" bagi orang kuantitatif macam saya. Himpitan waktu di tengah urusan kerja dan juga keluarga sangat mempengaruhi konsentrasi dan kenyamanan saya. Tapi pada akhirnya zona tidak nyaman itulah yang menjadi "kursi" bagi saya untuk menuangkan ramuan ide kreatif yang sangat tidak memuaskan dan tidak sempurna. But, i'm proud :)

Mengenai tulisan yang terletak di penghujung buku ini, saya merasa sangat banyak kekurangan karena memang jam terbang saya yang kalah jauh dibandingkan penulis-penulis lainnya. Modal saya hanya dua: (1) data yang bisa intepretasikan, serta (2) semangat menuntaskan keinginan bisa menulis. Memang akan menimbulkan kerancuan mengingat latar belakang ilmu komputer tapi malah menulis ekonomi kreatif. Apakah ilmu komputer terlalu gersang untuk digarap? Tentu tidak, namun dari hasil riset dan corat-coret, situasi ekonomi kreatif lebih memungkinkan dieksplorasi dalam keterbatasan waktu menulis.

Akhirnya, terima kasih atas bantuan semua ciptaan-Nya, baik yang bernyawa ataupun tidak bernyawa (hardware dan software) selama proses pembuatan buku ini.
Semoga menjadi sumber amalan hingga hari akhir nanti :)


Pengin ke situ... ya mulai dari buku lah...


Paling nggak tahan lihat buku travelling, apalagi kalau tentang alam. Dan inilah hasil buruan akhir pekan ini. Sebuah buku bertajuk Kalimantan Selatan, Antara Laut Jawa dan Selat Makassar.

Apa yang spesial?
Pertama
Saya belum pernah ke Kalimantan, jadi anggap saja sebagai pemantik doa agar bisa ke situ, aamiin

Kedua
Mengulas panorama alam yang bikin ngiler. Ditambah pula sejumlah spoiler tentang kondisi sosial yang ada di situ

Ketiga
Ini buku di dalamnya tertulis "cetakan pertama 2015", lha kok ini saya udah punya? Bingung banget apa maksudnya kok sudah diedarkan =_=

Keempat
Dari kaver sudah jelas, topik yang diumbar adalah panorama pantai, dan saya akui kualitas foto di buku ini bikin ngiler (pake "bangettt")


Bismillah, semoga menjadi inspirasi untuk bisa menjelajahi alam-Nya :)

Amazing Puzzles

Santapan selama Ramadhan dan Lebaran^^

Sejak lihat cover-nya, saya langsung tertarik. Singkat kata setelah mengakuisisinya, buku ini jadi bacaan yang menarik. Kenapa menarik?

Tema utama di buku ini berkutat pada kisah sepasang perantau yang menyelami berbagai kisah yang pada akhirnya bermuara pada: istimewanya Islam.

Kisah dimulai dari seorang pemudi yang ditugasi ke Amerika membuat reportase bertajuk "Will the world be better without Islam?". Ternyata si suaminya ditugasi ke sebuah konfrensi di Amerika juga. Dari sini sudah memantik ketertarikan karena diri ini lagi ikutan proyek jurnalitik plus sedang mengincar konfrensi sebagai mahasiswa S2.

Perjalanan mulai kacau dengan terpetiknya konflik hingga keduanya terpisah. Dalam perpisahan ini masing-masing menemukan pengalaman spesial. Hanum dengan momen perjumpaannya dengan sosok Azima. Dan Rangga berpapasan dengan sosok Brown.

Keunikan di novel ini terdapat pada berbagai potongan puzzle yang ternyata berkaitan dan membentukan sebuah kronologis yang tak disangka sama sekali?

Apa yang dimaksud dengan "puzzle" di atas? Langsung simak saja buku ini guys...^^

Bepe20 "PRIDE"

Satu lagi buku dengan ketebalan di atas rata-rata koleksi saya. Penulisnya bukan dari jurusan sastra, namanya pun dikenal di blantka tanah air Indonesia tidak diawali dari kata-kata spektakuler di dalam tulisannya. Orang lebih mengenalnya sebagai mantan kapten Tim Nasional Indonesia sekaligus Persija Jakarta. Dua angka yang identik dengannya, yaitu 20 sehingga dia kerap dijuluki BEPE20. Yaps, dia adalah Bambang Pamungkas. Dan bukunya yang menjadi bacaan pekan ini berjudul PRIDE. Wewww tebelnya udah menyaingi buku Artificial Intelligence-nya Pak Suyanto o_O

Buku ini merupakan gabungan antara tulisan-tulisannya di blog beliau bambangpamungkas20.com, interaksi di twitter beliau @bepe20, hingga beberapa pemikiran tertulis yang tidak pernah dimaut sebelumnya di dua media tadi. Apa sih yang menarik dari buku ini?


Sebagai penikmat sastra, saya mengagumi bahasa yang ditulis Bambang Pamungkas yang tercermin dari tulisan-tulisan beliau di blog tersebut yang kerap saya baca saat kuliah S1. Kagum dengan penceritaan alur yang tidak pernah terburu-buru dan cerdik memilih kata. Sudut pandang berceritanya ornag pertama, namun justru di situ kekuatannya yang membuat kita malah berasa ngobrol dengan dia tanpa memaksa kita menjadi dirinya. Buku kedua ini boleh dikata mengupas apa yang terjadi padanya di (nyaris) tiga tahun ke belakang pasca Piala AFF 2010 (momen paling klimaks dari sisi antusiasme terhadap Timnas). Apa saja yang terjadi setelah Piala AFF 2010? Banyak... (tradisi) finalis SEA Games 2011, perpecahan federasi, perpecahan timnas, perpecahan kompetisi, perpecahan klub (beuhhh federasi, timnas, kompetisi/liga, klub pecah jadi dua, untung nggak ada 2 orang Bepe, 2 orang FR12, 2 orang Ponaryo dll), konflik pemain vs manajemen di Persija, kepindahannya dari Persija ke PBR, serta perjuangannya di APPI.

Membaca spoiler-nya di sebuah toko buku terkemuka di Pondok Cina, Kota Depok, saya tidak terlalu takjub histeris karena udah tahu gaya menulis beliau yang saya uraikan di atas. Tapi langsung speechless ketika ada foto Bepe20 dengan kedua orang tuanya. Rasanya terharu banget menyaksikan sosok yang setegar itu ternyata tetap menjadi anak yang berbakti dan selalu membanggakan orang tuanya.

Banyak kisah yang saya petik dari berbagai perjalanan beliau pasca Piala AFF 2010. Boleh dikatakan karir Bepe mengalami pasang surut terdrastis memang di era pasca Piala AFF 2010. Jika menjelang Piala AFF Cup 2010 ujian terberatnya adalah melepas ban kapten untuk keperluan strategi (dan itu dilewati dengan lapang dada) dan tentu saja insiden 10 menit 3 gol di Bukit Jalil, maka dilema pilih timnas atau Persija jadi konflik batin terbesarnya. Cara dia memandang konflik yang terjadi di federasi ternyata berbeda dengan konflik mana timnas yang sebenarnya, kompetisi mana yang legal, hingga klub bernama Persija yang mana yang harus dibelanya. Perbedaan tersebut tidak menunjukkan egoismenya, melainkan kejujuran dia dalam melihat suatu masalah secara independen tanpa tendensi dari masalah lain. Orang boleh saja memvonis kita oportunis, munafik, dsb, namun pada akhirnya kita yang paling berkewajiban mempertanggungjawabkan apa yang menjadi tindakan dan perkataan kita.

Bahkan secara terang-terangan dia memaparkan pergolakan batinnya tatkala Pelita Bandung Raya vs Persija. Sebelum musim ini, tidak ada yang membayangkan di pertandingan itu Bepe bakal jadi penghancur Persija. Satu dekade membela Macan Kemayoran. Bahkan eksistensi Bepe dan Ismed Sofyan di Persija (yang berada ISL) merupakan faktor kenapa The Jack bulat suara membela Persija yang di ISL, bukan di IPL. Tapi di laga itu, Bepe berbaju biru dongker-merah karena dia pemain PBR, bukan Persija. Dua golnya ke gawang Andritany jadi bukti bahwa masih menjadi mesin pembunuh, bahkan ke mantan klubnya sendiri. Itulah integritas yang mampu diperlihatkannya walau di hati terdalam dia masih mencintai Persija.

Banyak pelajaran yang dipetik dari sini. Secara garis besar dia juga mengajak pembaca untuk berpikir jauh tentang masa depan persepakbolaan Indonesia dengan berbagai sudut yang mencerdaskan tanpa mengesampingkan identitas kemanusiaan.

Bekal Pulang Pekan ini

Diurut dari belakang


- kado buat kelulusan Dito dari Smansawi

- kado buat kaka biar mau nemenin jalan-jalan nyebrang pulau lagi :v


- kado buat kenaikan kelas Nanda plus kesuksesan sbg PIC study tour ke Bali (ehrmm oleh-olehnya ada di kulkas atau meja belajar y?? )

- buat adiknya kaka sekaligus kakanya adik (baca: sayasendiri) :p hehee banyak nasihat bagus di dalamnya

Waaahh Kungfu Boy

Ceritanya sekitar Sabtu akhir Mei lalu dateng ke Jakarta Book Fair di Istora Senayan. Ya siapa tahu nemu buku tentang CMMI, COBIT, Artificial Intelligence, *ketauan bo'ongnya wkwkwk*... Bisa dibilang antara mengisi waktu senggang dengan emang beneran niat nyari buku hehee...
Dan saya menemukan (walau nggak beli) sebuah komik legendaris yang jadi salah satu favorit saya, yaitu Kungfu Boy *dedaunan jatuh dari langit :p*

Saya bukan tipikal yang gemar membeli komik, tapi beda cerita kalau dibelikan hehee. Pertama kali saya kenal komik Kungfu Boy ini sekitar SD, kalau nggak salah kelas V, pokoknya jaman belum ngenal apa itu C#, Java, MySQL. Diceritakan seorang Chinmi, pemuda yang belajar kungfu untuk melindungi ornag-orang di sekitarnya, sempat galau karena hilang arah atas berbagai tantangan pergulatan hidup, akhirnya dia menemukan hakikatnya kekuatan yang sedang dia pelajari itu untuk apa.

Fragmen paling inspiratif adalah Chinmi diundang oleh Jenderal Owlin untuk mengikuti sebuah turnamen bela diri di ibu kota. Bukan turnamen biasa karena ada misi terselubung yang mengharuskan Chinmi menjadi juara untuk memastikan keselamatan kaisar. Lho kok bisa? Jadi ceritanya ada komplotan yang mengincar nyawa kaisar dengan cara memenangkan turnamen ini sehingga bisa tampil menemui kaisar langsung dan di situlah rencananya mereka menjalankan rencana itu.

Tanpa disangka yang menjadi petarung yang mewakili komplotan itu adalah Sie Fan, kawan Chinmi di kuil Dairin, bahkan mereka pernah bertarung mati-matian di tengah hutan melawan srigala. Jelas sebuah pertanyaan mengapa Sie Fan kini jadi perwakilan mereka? Ternyata itu bukan Sie Fan yang dulu *ceilee*, melainkan Sie Fan yang telah hilang ingatan karena diserang para penjahat dengan teknik jarum yang sudah punah. 

Laga menuju puncak penuh deraan karena Chinmi harus berhadapan dengan Iryu dan berbagai petarung lainnya hingga mencapai final kategori tanpa senjata. Oh ya, turnamen ini membagi peserta ke dalam kategori tanpa senjata serta kategori bersenjata. Juara masing-masing kategori akan berlaga memperebutkan gelar juara umum. Di final kategori tanpa senjata Chinmi berhadapan dengan Tan Tan. Sedangkan Sie Fan juga lolos ke final kategori bersenjata versus Siba. Chinmi sudah jelas alasan mengapa harus juara, begitu pula Sie Fan (walau bukan Sie Fan yang dulu *ceilee masih aja dibahas*), lantas siapakah Tan Tan dan Siba? Tan Tan merupakan penganut kungfu tanpa tangan, alias cukup kaki. Namun dia sering diejek karena dianggap sia-sia memlajari aliran tersebut. Sedangkan Siba merupakan mantan polisi yang kini menjadi pemburu hadiah. Keluarganya dibantai oleh penjahat dan tinggal dirinya serta adiknya yang mengalami trauma berkepanjangan. Maka bisa disimpulkan Tan Tan memiliki motif pembuktian alirannya, sedangkan Siba untuk membentuk hidup baru bersama adiknya bermodalkan hadiah bagi juara umum. 4 finalis dengan motif yang berbeda-beda.

Penasaran kelanjutannya?? Mending cek aja langsung di komiknya :) hehee
Yang pasti di akhir cerita mereka berempat menjadi pahlawannya :)

Recommended Book: Good Hobby vs Bad Habit

Pulang dari Semarang, menyempatkan diri mampir merelaksasi diri di Gramedia Simpang Lima. Dan nemu buku bagus, salah satunya adalah Good Hobby vs Bad Habit. Agak bingung juga awalnya, ini buku untuk segmen muslimah atau muslim dan muslimah. Namun karena ngerasa bagus, maka OK ambil dah..(tentunya bayar lho ya)

Dan ternyata buku ini nggak bagus, tapi baguuuusss bangettt.
Kenapa?

  • Bahasanya ringan (dan koplak)
  • Desain visualnya siplah
  • Topik yang diulas menarik
  • Mengajak kebaikan


Mindmap Buku 'Halaqah Cinta'

Penasaran??
Makanya, langsung baca aja bukunya :D