Tampilkan postingan dengan label Karate. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karate. Tampilkan semua postingan

Ada Banyak Memori di Sini


Tiga tahun yang penuh "pelajaran" setelah jam pelajaran. Entah itu agenda Pramuka, OSIS, KIR, Karate, ataupun momen kelas yang masyaAllah. Sangat jarang pulang sebelum adzan Ashar, bahkan tak jarang menjelang adzan Maghrib-lah rutinitas itu bersambung. Pada beberapa agenda, menginap di SMA merupakan paket wajib selaku peserta atau malah panitia. Lapangan dan aula di SMA ini adalah saksi segala rupa ceria, duka, galau, kegaringan, mistis/horor, hingga emosi bertaut.

*di lapangan ini juga dulu pernah seorang pemimpin upacara yang suaranya cengkok "ngeleyob", entah dimana sosok itu kini menghirup episode hidupnya yang lain #eh

Karate yang sedang Dibicarakan

Belakangan cabang olahraga ini dibicarakan oleh orang banyak. Ya, karate memang tengah menuai status sebagai topik nomor dua di Indonesia. Hehee, no.1 kan masih sepakbola gegara AFF. Kenapa sih dengan karate?

Insiden didiskualifikasinya salah seorang peserta turnamen Karate ditengarai sebagai penyebabnya lantaran yang bersangkuran tidak berkenan mengganti kerudungnya dengan yang sudah menjadi standarnya. Bukan isu yang baik lantaran muncul di saat isu SARA sedang sensitif untuk dibahas, apalagi jika dilempar di media sosial dimana 'yang dibaca setengah, yang dipahami seperempat, yang disebar dua kali lipat'. Kecaman terhadap panitia pun bermunculan hingga beberapa petinggi federasi pun ikut angkat bicara. Sebagai mantan anggota Karate, baik di SMP, SMA, maupun perguruan tinggi, saya merasa risih karena banyak pemelintiran mengenai kronologis serta kesan bahwa Karate diskriminasi.

Singkat cerita, Karate merupakan olahraga yang sifatnya 'impor' dari Jepang, sebagaimana sepakbola dari Eropa. Maka, adopsinya pun tentu menilik bagaimana budaya tradisional yang terjadi di Jepang. Karate sendiri sudah mendunia dengan banyak negara yang memiliki federasi resmi serta adanyak feredasi internasional resminya, yaitu World Karate Federation. Kondisi kedua ini tentu menyebabkan standar permainan Karate mengacu pada budaya yang berlaku di pergaulan internasional. Dalam hal ini, beberapa pertandingan Karate harus mereduksi beberapa aturan tradisionalnya, sebagai contoh penggunaan pengaman yang tidak ada pada Karate yang 'tradisional'. Jadi asal usul serta proses globalisasi Karate sendiri memang tidak memihak ke salah satu agama. Maka, wajar jika penerapannya pun memungkinkan adanya pertentangan dengan adab agama tertentu. Dalam hal ini, WKF sendiri sudah menyadari adanya protes dari sejumlah negara, terutama di Timur Tengah mengenai larangan memakai jilbab lantaran belum diakui di aturan seragam. Kini, WKF sudah mengizinkan hanya saja standar jilbab yang diizinkan memang masih memicu perdebatan.

Di Indonesia sendiri, aturan bersifat lebih longgar. Hal yang lumrah mengingat secara umum, masyarakat Indonesia memang berkarakter mudah bertoleransi. Lebih spesifik, Islam adalah mayoritas agama yang dianut. Maka, sejumlah dojo ataupun klub menerapkan kelonggaran terkait busana khusus untuk muslimah, termasuk pula dalam memilih lawan tanding yang gendernya harus sama-sama perempuan. Kelonggaran ini sendiri saya temui di dojo saat SMP, SMA, serta perguruan tinggi. Kebetulan memang di tiga institusi pendidikan tersebut kultur kesiswaan/kemahasiswaannya memang cenderung religi kuat, maka sangat wajar jika budaya tersebut memengaruhi kebijakan pengurus serta pelatih/senpai. Barangkali kasus demikian mungkin saja terjadi di dojo/klub lain, bisa jadi pula tidak. Pun dengan cabang olahraga lain, seperti penggunaan celana panjang saat futsal.

Saya sendiri berpendapat bahwa regulasi Karate, termasuk dalam konteks pertandingan perlu memahami dan menyesuaikan budaya lokal/setempat. Toh hal-hal yang sifatnya prinsip atau filosofis tidak hilang begitu saja saat adaptasi ini kan. Khusus jika bicara turnamen, jika memang tidak arah jenjang  ke nasional atau bahkan internasional, mengapa harus 'ngeyel' ke regulasi yang terlalu kaku namun mencederai situasi lokal, terlebih yang terkait keyakinan. Kaitannya dengan menyesuaikan pun juga harus mempertimbangkan faktor kesehatan karena Karate ini punya dimensi sebagai olahraga. Sebagai contoh, jilbab yang dipakai seorang karateka perempuan harus memungkinkan wasit dan juri mengetahui apakah ybs cedera di telinga atau tidak. Maka, umat Islam pun tidak bisa hanya pasif mengajukan pendapat. Umat Islam perlu turut andil dalam membentuk ekosistem Karate yang 'bersahabat' bagi agama apapun, termasuk Islam.

Jika saat ini regulasinya belum pas, terutama di konteks internasional, maka silakan pilih dennga bijak sesuai keyakinan. Pada hakikatnya, Karare tidak mengungguli prioritas agama.

K is (still waiting) on the way

Tak sabar menanti Agustus tahun depan (2016) dimana akan diumumkan apakah Karate akan diterima sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade Tokyo 2020. Jelas sebuah keputusan yang akan sangat bermakna banyak mengingat Karate belum pernah dipertandingkan di Olimpiade, bahkan sampai dengan Rio de Janerio 2016 nanti, Karate masih berstatus alfa. Maka, predikat peraih medali emas Karate hanya berlaku paling tinggi adalah Asian Games serta kejuaraan dunia Karate yang diadakan oleh WKF.

Mengintip website Olimpiade Tokyo 2020 di http://tokyo2020.jp/en/plan/outline/index.html , memang belum tercantum cabang olah raga Karate beserta lokasinya (venue). Tapi jika melirik rilis perkembangannya di Wikipedia Inggis, indikasi perjuangan memang sangat kental. Berikut petikannya:

Under new IOC policies that shift the Games to an "event-based" programme rather than sport-based, the host organizing committee can now also propose the addition of sports to the programme—with a particular focus on adding sports that are popular in the host country. As a result of these changes, a new shortlist of eight sports were unveiled on 22 June 2015. These sports include baseball/softball, bowling, karate, roller sports, sport climbing, squash, surfing, and wushu. On 28 September 2015, organisers proposed 5 sports (baseball/softball, karate, sport climbing, surfing and skateboarding) to the IOC for inclusion in 2020, with the final decision in August 2016.


Faktor siapa tuan rumah tentu menjadi previledge tersendiri. Ya, Jepang merupakan asal dari olah raga yang sebetulnya sudah ada di berbagai penjuru dunia, bahkan tidak dibatasi etnis, suku, hingga faktor imperialisme. Negara Arab banyak yang berpartisipasi di turnamen-turnamen Karate, begitu pula negara latin/Hispanik maupun Anglikan. Artinya permasalahan globalisasi segmen tidak perlu diragukan. Hanya saja memang sejauh mana tingkat pembatasan alat perlindungan pada masing-masing atlet itu yang (mungkin) masih perlu pembahasan. Mari kita lihat hasilnya :)

Missing Jacks

Baru sadar belum nulis artikel ini
Yeah, this is about kerinduan yang arggghhh kalau dikuantitatifkan itu bernilai 14 dari 10 (lhaa?). Bukan tentang seseorang, bukan sama sekali. Tapi ini tentang sebuah keluarga, keluarga tempat saya menikmati waktu yang penuh pembelajaran di penghujung masa kuliah di IT Telkom (kini Universitas Telkom). Ini bukan sekedar UKM, bukan pula sekedar klub olah raga, bukan juga formalitas, tapi ini sudah menjadi kenangan yang mengasyikan dan jujur bikin saya sempat (dan masih) kehilangan puzzle yang sudah terlanjur jadi agenda di Kamis malam dan Minggu pagi.

UKM Karate IT Telkom (kini UKM Karate Telkom University) agaknya udah langsung ketebak dengan berbagai clue di atas. UKM Karate IT Telkom merupakan tempat ketiga saya menimba ilmu ber-karate setelah sebelumnya saya menempuhnya di Dojo SMP N 1 Margasari dan Dojo SMA N 1 Slawi. Uniknya ada sejarah yang kembali berulang di tiga wahana ini, yaitu aktif justru di tahun terakhir. Yups, saya justru aktif di UKM Karate IT Telkom malah di semester 8 dan 9 tatkala kawan-kawan seangkatan saya sudah menanggalkan atribut UKM/himpunan/LK/BEM/lab-nya.

Berawal dari canggung, namun saya sungguh berterima kasih pada sosok berwujud Senpai Joko, Senpai Dhika, Senpai Icha yang sangat welcome menerima keberadaan saya yang hanya butiran debu #tsaah. Tidak pernah sesukukatapun keraguan dilontarkan terkait masuknya saya ke UKM ini. Sungguh itu adalah formula awal yang membuat saya betah dan nyaman berada di sini. Mungkin karena saya sudah menggemari Karate dari SMP maka tidak ada problema terkait suka tidak suka ke Karate, baik dari sisi olah raga maupun dari sisi pendidikannya. Namun untuk urusan bersosial, sungguh saya terbantu beradaptasi dengan keramahan orang-orang tadi plus kawan-kawan lain macam Anrio, Ibob, IRma, Onat, Mamat, Aziz, Adum, Dion, Edho, ah bisa jadi database tersendiri malah kalau harus saya rinci satu per satu hehee.

Sekali lagi Karate ini bukan perkara olah raga, namun juga ada unsur pendidikan, dan jika bicara koteks UKM maka ada unsur kekeluargaan di situ. Maka sungguh ada puzzle yang tatkala perlahan lenyap dari rutinitas sudah barang tentu ada kejanggalan. Dan itu yang saya rasakan. Aneh rasanya ketika saya berkunjung ke latihan Minggu pagi pekan lalu. Agaknya ada bisikan "kenapa cuma nonton? harusnya ada di tengah situ". Yups, setahun lebih kayaknya tidak lagi mengenakan tegi, dan sangat berharap bisa kembali ke Dojo, baik itu di SMP, SMA, ataupun di kampus.

WKF Premier League Jakarta


Akhirnya berkesempatan menyaksikan turnamen karate tingkat internasional. Berbekal informasi yang agak numpang lewat, akhirnya sampai juga di Tennis Indoor Senayan 21 Juni 2014 lalu. Dari segi antusiasme penonton, memang tidak seramai laga timnas sepak bola Indonesia bertanding, bahkan ketika Indonesia Open badminton berlaga pun, turnamen karate ini relatif tak seramai itu. Namun bicara fanatisme, yang hadir menyaksikan turnamen ini ternyata adalah mereka yang sangat menggemari karate, bahkan sudah terbangun koneksi sana sini. Koneksi itu terbukti ketika satu sama lain saling sapa seolah sudah kenal bertahun-tahun.

Berbagai negara tampil di sini, diantaranya Australia, Jepang, Iran, Kuwait, Thailand, Prancis, Belanda, Makau, India dll, serta tentu saja tuan rumah Indonesia yeeeeyyyyy...



Dari sekian negara yang tampil, ada sebuah negara yang cukup impresif dan memikat perhatian saya, yaitu Iran. Mereka sangat memanfaatkan keunggulan postur fisik sehingga kerap memakai strategi mencukil kaki lawan untuk dikunci dengan pukulan 3 angka. Jelas strategi sangat menyulitkan para kontingen asal Indonesia. Perlu kegesitan untuk mengakalinya dan justru Jepang yang tidak sebesar postur mereka mampu mengangkangi strategi ini lewat tendangan yang tangkas.

Jujur, saya tidak mengenal identitas karateka Indonesia yang berlaga siang itu. Tapi saya hanya perlu satu alasan untuk menyemangati mereka sepenuh hati *ciee*, yaitu Indonesia. Inilh yang disebut dengan solidaritas nasionalisme. Cukup sebuah simbol bendera merah-putih di papan skor yang membuat kita tersihir untuk mendukung mereka.

Keluargakan Organisasi, antara mitos, ekspektasi, dan realiti

Dalam berorganisasi, tagline menjadi keluarga bukanlah hal yang jarang didengar. Sebaliknya, harapan itu selalu terselip, khususnya dalam acara non-formal. Sepintas mudah, namun yang sepintas itu seringkali tidak mencerminkan kenyataan. Apalagi ketika ada suara yang jujur (walau sering dianggap sumbang) merasa keluarga yang diidamkan tidak didapatkannya. Sikap saling menyalahkan pun mulai berseliweran, mosi tidak percaya pun kerap berseberangan. Singkat kata, realiti bahwa organisasi bisa dijadikan keluarga itu bak mitos, jadi berekspektasi boleh tapi soal realiti ya pukpukpuk saja deh...
"di sini 'kan emang tujuan kita menyukseskan proker, kita harus profesional, situ juga harusnya komitmen donk" Hmmm, bukan jawaban yang menyenangkan, sehingga perlu kiat-kiat khusus untuk mengeluargakan organisasi

Mulai dr doa
Tentu yang namanya keluarga itu mendapat space untuk di-mention di dalam panjatan doa, khususnya setelah sholat. Nah, jika memang ingin organisasi beriklimkan kekeluargaan (bukan macam koperasi lho ya) mulailah dengan rajin memberikan doa yang terbaik. Ketika terbiasa mendoakan tentu akan lebih mudah hati kita memperoleh kenyamanan di organisasi tersebut. Bahkan jika sesama organisasi saling mendoakan kebaikan, artinya saat itu pula dirimu memperoleh doa kebaikan dari orang lain :)

Redefinisi tujuan
Tentu tidak mungkin seseorang bergabung dengan organisasi tanpa tujuan. Masa iya jug ujug ada di dalamnya wkwkwk. Sudah bisa dipastikan akan ada perbedaan tujuan, ada yang diajak teman, ada yang pengin belajar organisasi, ada mau menekuni bidang tertentu (misalnya desain, keilmuannya dll). Ketika ada berbagai tujuan berbeda, akan dimungkinkan cara menjalani organisasi tersebut berbeda sehingga peluang terwujudnya rasa kekeluargaan akan lebih sukar. Apakah harus didoktrin agar mereka menanggalkan tujuan awal tersebut? Tidak, yang perlu adalah redefinisi tujuan dimana seorang koor, hingga ketua melakukan gerilya untuk menumbuhkan tujuan baru yang tak kalah muliahnya secara baik-baik dan tujuan itu adalah mengeluargakan organisasi tersebut.

Peka memahami
Masing-masing individu perlu menjadi diri masing-masing lebih peka. Peka untuk apa?
Peka untuk menanyakan berbagai hal di luar urusan proker
Peka untuk membantu sebagai seorang saudara yang siap membantu saudara/saudarinya tanpa pamrih
Peka untuk aktif memberikan semangat tentang kekeluargaan tersebut
Namun bersikaplah tidak peka dalam arti jangan terlalu banyak mikirin apa yang udah didapatkan, sudahlah, fokus saja ke apa yang bisa dirimu berikan :)

Propaganda
Lakukan berbagai metode untuk menumbuhkan kesan positif bahwa organisasi ini memang diliputi suasana kekeluargaan. Bukan berarti palsu, tidak begitu. Kampanyekan nilai-nilai positif tentang kekompakan sekecil apapun agar mampu memotivasi optimisme seluruh personel di dalam organisasi tersebut.

Yuk Diskusi

Diskusi kerap identik dengan adu argumentasi dan kesan eksklusif yang hanya bisa diikuti oleh orang-orang "pilihan". Padahal budaya berdiskusi yang "sehat" merupakan indikasi intelektualitas dalam kehidupan kampus.

Mengobrol memang hal yang asyik, saking asyiknya kadang sering lupa waktu, tentunya hanay perlu sedikit pemantik maka terucaplah berbagai ide plus curhat terhadap masalah yang dibahas, entah itu terkait akademik, hobi (misalna prediksi skor pertandingan bola nanti malam), lingkungan masyarakat, hingga urusan negara #ciee Nah, tentu bakal asyik, menarik, dan eksentrik jika obrolan-obrolan tadi menghadirkan sebuah paket berisi menu-menu solutif.

Forum Group Discussion, alias FGD, memang menjadi istilah yang agak asing, padahal intinya mengobrol hanya saja "terarah", lha emang ada gitu obrolan yang terarah? bukannya yang peting enak mengalir? kok dibikin repot sih? Yupss, mulut itu berjarak satu kilan dari otak, namun berjarak 2-3 jari dari hidung, maka wajar saat sesak nafas lebih mengutamakan yang penting ngomong daripada kecerdasa otak..eitssss, kok argumentasinya aneh ya? nggak logis banget... Nah itulah ketika tidak mengedepankan esensi satu pemabahasan maka yang terjadi adalah argumen yang tidak nyambung. Maka perlu suatu pengarahan agar arah obrolan bersifat produktif :)

FGD sebagai medan saling memahami
Beda pendapat dengan orang lain? Ah tentu itu hal yang wajar. Masa iya bisa terus-terusan memiliki ide yang sama? Hehee... Nah di sinilah peran sebuah budaya berdiskusi yang "sehat" :)
Melalui budaya berdiskusi yang sehat kita dapat mengetahui keragaman berpikir antar-entitas, bahkan individu. Dalam mendiskusikan sebah hal yang krisual dan memberi efek besar bagi banyak entitas, misalnya pandangan dalam kenaikan BBM, pandangan tentang peraturan norma bermasyarakat, pandangan tentang kurikulum, memang lebih gampang ketika hanya mengundang/menyertakan pihak yang cenderng setuju dengna opini kita, yang kayaknya beda pendapat nggak usah diajak. Nah 'kan gampang plus enak tuh...
Eitsss, justru diskusi yang sehat akan terbangn ketika seluruh entitas yang dilibatkan dalam diskusi bersifat lebih luas dan merpakan pihak yang memang berkaitan dengan topik diskusi, urusan beda pendapat itu lain cerita. Memang bakal lebih alot, tapi dari situ segala unek-unek berkaitan dengan topik diskusi akan lebih dapat dipaparkan lebih gamblang, dan boleh jadi berbagai info baru akan diperoleh. Misalnya diskusi mengenai bagaimana arah kurikulum sebuah program studi. Tatkala hanya menghadirkan dosen yang mengajar maka hasil diskusi hanya akan bagus dari sudut pandang dosen. Akan lain cerita saat mahasiswa, alumni yang telah bekerja, perwakilan DIKTI, hingga praktisi bidang terkait jaga diundang. Menyatukan pendapatnya memang sulit, tapi di sinilah medan untuk saling memahami :)

FGD sebagai langkah kematangan berpikir
Ada yang bilang mahasiswa kaum intelektual yang cekatan, walau kata "cekatan" sering berganti menjadi "grusa-grusu" alias tergesa-gesa. Hal ini sering dialamatkan ke mahasiswa karena dalam tempo satu malam sudah bisa merencakan sebuah aksi berwujud demo. Sepintas memang menunjukkan kelihaian dan jam terbang yang keren, namun di sisi lain timbul pertanyaan bahwa apakah rencana ersebut sudah matang, apakah isu yang digusung memang layak didukung/dikontra, atau juga emang itu satu barisan udah kompak apa cuma ikut-ikutan
Melalui diskusi, harusnya mahasiswa dapat meningkatkan kematangan berpikir. Lhe? Emang bisa?

  • Pertama menghargai waktu. Label "jam ngaret" sering ditempelkan ke pundak mahasiswa karena ya gitu jam berapa undangannya jam berapa mulainya. Melalui diskusi, maka sudah seharusnya bisa menyadari bahwa berharganya waktu. Semakin matang pula untuk menyadari bahwa yang hadir dalam diskusi juga punya agenda lain, maka jangan mengulur-ulur waktu
  • Kedua mempersiapkan agenda dengan baik. Memang cepat identik dengan yang bagus. Namun akan ada saatnya dalam sebuah diskusi disusun agenda yang relevan berupa pembagian sesi dalam berdiskusi. Misalnya di sesi 1 pengumpulan daftar masalah, sesi 2 pengumpulan daftar potensi, sesi 3 permusan solusi tiap masalah, sesi 4 penyusunan agenda penerapan solusi berjangka waktu. Tentu hal ini akan menjadikan kesiapan bertindak lebih matang.

FGD sebagai bekal di "dunia sebenarnya"
Dunia pasca-lulus dihiasi berbagai warna yang beragam. Ada yang berkutat dengan asyiknya ber-entrepreneur, ada yang sibuk membenahi birokrasi, ada yang menggemari riset, ada pula yang menyelami karir sebagai praktisi, ahh...macam-macamlah. Garis besarnya satu, mengoptimalkan peran sebagai makhluk sosial. Makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dengan sesama. Interaksi ini direpresentasikan dalam berbagai aktivitas berkomunikasi. Tentunya komunikasi yang berakaitan dengan bagaimana caranya mengembangkan potensi dan mengatasi permasalahan, baik dalam lingkup organisasi, korporasi, hingga kenegaraan. Dengan demikian, kemampuan berdiskusi secara produktif, ilmiah, dan sistematis merupakan sebuah keahlian yang perlu dibina dari bangku kuliah. Memang bukannya tidak mungkin, namun akan ada kesulitan untuk memecahkan permasalahan lingkungan di sebuah provinsi, jika tidak pernah berdiskusi bagaimana cara memecahkan masalah sampah di kampus. Tentu akan jadi bekal berharga bagi seseorang jika pernah mendiskusikan strategi membangun sistem informasi yang berguna dalam mengatasi masalah keamanan di kampus, kemudian kemampuan tersebut diadopsi untuk memecahkan masalah keamanan di suatu kota. Kemampuan berkomunikasi seperti mengatur emosi, fokus pada topik, dan mempergunakan argumentasi yang relevan, akan jadi bekal untuk memunculkan peran yang optimal dalam bermasyarakat.
Semoga bermanfaat dan selalu terbka untuk masukan, kritik, dan diskusinya :)

Andai Ormawa Kenal BSC

Ada yang tahu BSC? Harapan saya bukan dikira kembarannya BSM. Ini singkatan dari Balance Score Card yaitu suatu metode pembagian perspektif organisasi dalam proses bisnisnya terhadap empat dimensi, yaitu Internal, Finansial, Customer, dan Learning+Growth. Sepintas konsep ini simpel dan biasa saja. Untuk kesan simpel itu memang, namun terkait biasa saja, mmm justru belum ada kebiasaan mempergunakan BSC dalam menyusun roadmap di lingkup organisasi kemahasiswaan. Nah lho? Mau kekmana ini pembahasannya?

Budaya organisasi kemahasiswaan (dengan sampel di IT Telkom/Universitas Telkom, UI, ITB, UGM, Unnes, IPB, dan UNY) memperlihatkan gejala belajar dari tradisi. Orientasi yang sering dikedepankan adalah perbaikan proker terdahulu. Tak heran, banyak organisasi kemahasiswaan yang hanya mempunyai aset intelektual berupa program kerja tahun ini, roadmap? garuk-garuk kepala. Memang sakit, tapi harus diakui bahwa gejala ini merupakan diagnosis ke sebuah tuduhan "lima tahun ormawamu kayak apa juga kamu nggak punya gambarannya ya?".

Kondisi di atas pula yang menyebabkan banyak ormawa kerap menghabiskan tenaga untuk survive hari ini tanpa mengira-kira apa yang perlu dipersiapkan esok hari. Sementara itu, sangat jarang adanya ide pendobrak untuk membuat roadmap alias rencana jangka panjang di dalam organisasi kemahasiswaan. Bicara tentang "membuat" tentu tak lepas dari pertanyaan "bagaimana caranya" maupun "dengan apa". Di kesempatan menulis ini, ide yang diusulkan adalah BSC. Kenapa?
BSC menyediakan cara berpikir modularitas, maksudnya adalah memecah permasalahan/tantangan global ke dalam beberapa kelas.  Cara berpikir modularitas ini kerap dikerjakan berupa membagi  daftar yang harus dikerjakan, target, hingga parameter keberhasilan berdasarkan empat dimensi tadi.

Maka dengan mengadopsi konsep itulah mari kita buat matriks yang memanjang horisontal sebagai ladang menanam ide-ide untuk ormawa dalam jangka panjang.

Pertama bagi ke dalam empat baris yang mewakili 4 dimensi di atas. Urutan tidak masalah Kawan :) Kemudian bagi masing-masing baris ke dalam sejumlah kolom yang merepresentasikan target tahunan (sehingga diperoleh beberapa tahun ke depan).

Internal
Dimensi internal di sini meliputi bagaimana pengelolaan rumah tangga organisasi mahasiswa diarahkan. Misalnya dalam konteks pemanfaatan IT dalam organisasi, pembuatan kurikulum softskill kepada pengurus, kematangan budaya organisasi dll.

Customer
Dalam arti luas, customer merupakan cerminan dari pihak luar yang berkaitan dengan organisasi mahasiswa. Misalnya rektorat, dekatan, masyarakat, forum komunikasi di dalam kampus, forum komunikasi di luar kampus, hingga masyarakat. Baris customer dapat dipecah berdasarkan jenis-jenis yang disebutkan di kalimat sebelumnya. Misalnya di tahun ke sekian konsep pengabdian masyarakatnya bagaimana, di tahun ke berapa berhasil mengembangkan apa secara kolektif oleh forum komunikasi di luar kampus.

Financial
Lho lho kok mbahas duit nih? Ormawa saya mah non-profitable. Eitss, maksud financial di sini bukan berarti menyulap ormawa sebagai mesin rupiah yang matre. Arti financial di sini adalah mengembangkan konsep keuangan di dalam ormawa agar tidak menetek pada belas kasihan kampusnya. Masa iya kalah ama OSIS SMA yang berani menggaet sponsor. Konsep kemandirian berwira usaha perlu dibudidayakan dalam mengarungi perjalanan sebuah ormawa.

Learning and Growth
Esensi sebagai tempat belajar berbagai hal tidak bisa dilenyapkan dari sebuah ormawa. Dan cara terbaik untuk mempertahankan dinamis sebuah pembelajaran di dalam ormawa adalah terus mengembangkannya sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman. Kapabilitas mengelola organisasi di era saat ini tentu perlu direvisi di kemudian hari.

Nah, ide-ide di atas masih terlalu teoritif kalau cuma dibaca. So, ayo buat ide roadmap untuk ormawamu dan sebarkan virus kreatif yang visioner di dalam ormawamu :D :D :D

Akreditasi Ormawa, masih pantas??

Sejarah pernah mencatat bahwa bagian kemahasiswa IT Telkom pernah menyelenggarakan akreditasi ormawa sebanyak 2 kali dalam rentang 3 tahun. Dalam rentang itu pula ketidaksamaan persepsi terus menggelayuti antara esensi vs formalitas. Bukan tanpa sebab tentunya, perdebatan ini lebih dikarenakan adanya arus visi yang kurang sesuai. Mengapa demikian?

Pertama mengenai analisis stakeholder. Ide akreditasi ini merupakan gagasan dari bagian kemahasiswa. Ide yang brilian sebetulnya, kenapa? karena bertujuan untuk mengevaluasi kondisi tiap ormawa dengan mempeprhatikan berbagai faktor yang berujung pada klasifikasi akreditasi ormawa. Output rencana tersebut lebih mendapat sorotan mengenai "bakal dapat sekre/inventaris barukah?". Belum lagi peran BEM sebagai mediator ide tersebut yang (boleh dibilang) belum maksimal memahami arti dari sebuah penjagaan kualitas. Saat itu, yang terpikirkan hanya sebagai mediator dan mediator, maklum saja karena tak sedikit yang memasang kecurigaan bila ada keberpihakan, sebuah kecurigaan yang pernah terbukti. Di satu sisi, mediator ini memang menunjukkan objektivitas, namun di sisi lain, menjadi peluang blunder ketika tidak dijadikan kesempatan BEM untuk ikut serta mensupervisi kualitas ormawa. Padahal dengna peran sebagai motor KBM, menjadikan BEM punya peran sentral untuk mendorong ormawa mencapai kualitas tertentu sesuai visi KBM. Belum lagi dukungan pejabat di atasnya (rektorat dan dekanat) yang belum sejalan untuk menerapkan ide ini. Maka tidak heran rencana pasca akreditasi bersifat mengawang-awang, antara beneran ada atau hanya manis diplomatis. Bahkan pengumuman hasil akreditasi pun disikapi dingin sehingga tidak memberi dampak yang masif.

Padahal akreditasi ormawa sendiri (menurut hemat saya) menurut ide yang cemerlang. Mengapa?

Kenyataannya tidak ada standar (umum dan khusus) yang menstandarisasi kondisi ormawa di KBM
Memang, tiap ormawa mempunyai ke-khas-an dalam tata kelola organisasinya. Namun tentunya ada hal-hal umum yang menjadi pentunjuk seberapa kuat kondisi di ormawa tersebut, khususnya berkaitan dengan aspek infrastruktur formal seperti alur kaderisasi, mekanisme komunikasi, hingga penyelenggaraan administrasi.

Menyelaraskan pergerakan ormawa sesuai dengan visi misi kampus
Akreditasi sebenarnya merupakan suatu teknik formal untuk mengarahkan objek menuju ke kondisi yang dianggap berkualitas oleh penyelenggaranya. Standar webometric misalnya yang mengarahkan pemilik website suatu kampus akan membangun website-nya sesuai standar webometric karena standar itulah yang menjadi patokan yang diakui. Demikian pula akreditasi kampus yang memegang peranan dalam mengarahkan ormawa mendukung realisasi visi dan misi kampus.

Pemetaan permasalahan di dalam ormawa
Cara terbaik meningkatkan kualitas adalah mengidentifikasi secara rinci permasalahan yang ada. Singkatnya ketika akan memajukan suatu ormawa, perlu dilihat kondisi masing-masing item, misalnya aspek ketertiban program kerja, kualitas SDM, ketersediaan TIK. Dengan mengenali masalah di tiap bidang maka dapat lebih mudah mencari solusinya dibandingkan melihat kesemrawutan secara global.

Tiap ormawa dihadapkan kenyataan sebagai wadah menuju kematangan pengelolanya yang berstatus mahasiswa (yang menuju kelulusan). 
Akreditasi ormawa dapat diibaratkan sebagai simulasi si mahasiswa menuju dunia kerja yang dituntut kualitas tertentu, bahkan di dunia kerja sendiri terdapat berbagai standar kualitas berupa sertifikasi, seperti CMII, CISA, PMP, CCNA, dll, termasuk juga yang bersifat kolektif organisasi macam ISO. Semua sertifikasi tersebut perlu persiapan di berbagai aspek. So, bukankan akreditasi ormawa merupakan latihan yang menggiurkan dalam membekali kapasitas pengurusnya?

Tips Berelasi dengan Alumni

Sebuah organisasi, misalnya institusi pendidikan, unit kegiatan mahasiswa, himpunan dll, mempunyai syarat yang menentukan keberlangsungannya, yaitu kaderisasi. Kaderisasi inilah yang menata keanggotaan mulai dari calon hingga status "alumni".

Alumni alias jebolan alias lulusan, purnabakti, veteran, dan berbagai istilah lainnya merupakan elemen yang secara formal tak ubahnya bagian masa lalu. Karena itulah, keberadaannya kerap dianggap tidak penting, ada pula yang sekedar formalitas walau masih ada pula yang memperlakukannya secara manusiawi. Padahal apa yang telah dicapai hari ini merupakan hasil andil alumni organisasi tersebut. Bahkan ada beberapa hal yang menentukan kualitas sebuah organisasi dimana ada peran alumni di situ.
1. Profil alumni memberi gambaran kualitas organisasi tersebut
2. Opini (walau subjektif) dari alumni suatu organisasi mempunyai nilai validitas dalam masyarakat
3. Ini yang bakal kita ulas di sini :)) apa y?

Maka alumni, walau sudah tidak ada di dalam struktur organisasi, akan terus memberi pengaruh terhadap organisasi, bahkan ke arah masa depannya.
FYI: Di dalam penyusunan kurikulum di sebuah institusi pendidikan, profil dan kondisi alumni menjadi patokan untuk menentukan apa yang harus dipertahankan dan apa yang perlu diperbaiki.

Permasalahannya, sering terjadi kekeliruan dalam membina interaksi antara organisasi dengan alumninya. Berikut kekeliruan yang kerap terjadi:
1. Alumni itu kalau dilibatkam bakal sok ngatur-ngatur
2. Alumni kalau mau ngebantu pasti ada udang di balik rempeyeknya, misal mau nyaleg :v
3. Alumni hanya dibutuhkan ketika penggalangan donasi
4. Alumni adalah oposisi organisasi
5. Alumni yang aktif adalah yang dulunya aktivis
6. Kalau belum sukses finansial, keberadaan alumnus secara personal kurang dianggap

Oke...boleh jadi ada ironi-ironi lainnya. Lantas apa solusinya??

Pertama buat daftar kebutuhan antara organisasi dengan alumni. Bolehlah secara romantis berujar "#akuikhlas #akurapopo" tapi untuk menghindari kesalahpahaman, kemukakanlah dengan sopan dan elegan mengenai kebutuhan masing-masing. Pada dasarnya, manusia mempunyai kecenderungan ingin didengar dan keinginan terpenuhi tidak sebesar keinginan didengar :)
Boleh jadi kebutuhannya adalah dukungan moral, bantuan material, bantuan informasi dll.

Komunikasi nonformal, ternyata ini memberi andil yang lebih signifikan daripada komunikasi formal. Sepintas sms/whatsapp "apa kabar" ataupun "selamat ultah (tapi nggak pake kado" terkesan basa-basi. Namun ketika komunikasi nonformal sudah memberi kenyamanan berinteraksi maka kebersamaan untuk saling memberi apa yang dibutuhkan satu sama lain akan lebih kuat. So... kepada entitas di dalam organisasi yang menjadi PIC tentang peralumnian harus menyediakan slot waktu tersendiri untuk komunikasi nonformal.

Ketiga, pahamilah bahwa alumni itu beranekaragam. Ketika sudah tak lagi satu atap organisasi, tentu akan banyak hal yang mengubah karakter alumni, malah ketika masih anggota pun sudah beragam. Karena itulah, bisa jadi muncul sejumlah alumni yang merasa tidak dipedulikan. Untuk hal semacam ini, prioritaskan lembaga legal alumni sebagai representasi yang memang resmi. Kemudian bicarakan di luar forum kepada kelompok tersebut tentang klarifikasi secara baik-baik.

Agendakan bagaimana kolaborasi antara organisasi dengan alumninya. Misal tahun pertama membuat database alumni, tahun kedua membuat sistem pengurus cabang, tahun ketika acara bersama dll.

Pada dasarnya alumni ingin organisasinya lebih baik daripada eranya dulu. Itu sudah tentu. Begitu pula sudut pandang organisasi. Maka cara terbaik mewujudkannya ialah kolaborasi secara positif.

Eksklusif vs Inklusif ??

seringkali kita mendapati komentar orang mengenai organisasi kita, diantara komentar tersebut yang kadang agak kurang enak didengar dan selalu terus ingin dibantah adalah sebuah opini "organisasi loe eksklusif". Eksklusif, ya entah parameter apa yang mereka gunakan untuk mebnggelari organisasi kita eksklusif.

Organisasi lahir/dibentuk dari sebuah identitas, entah itu formal ataupun non-formal. IDentitas ini bagi organisasi formal tentunya dimuat dalam sebuah produk hukum, entah itu undang-undang, anggaran dasar, anggaran rumah tangga, maupun produk hukum lainnya. Kesamaan identitas ini pun didudkung adanya kesamaan secara psikologis tentang identitas mereka. Bagi organisasi non-formal yang tidak punya produk hukum,  secara batin mereka merrasa punya suatu kebersamaan. FC Barcelona, tentunya punya sebuah identitas yang sama. Bahkan gank anak remaja yang (sebut saja) AGSKS (Anak Gahol Super Kece Sukabirus) pun walau tidak ada AD ART, mereka telah menetapkan sebuah lingkaran yang membedakan mereka dengan orang di luar lingkaran tersebut.

Identitas merupakan sebuah keunikan yang pada awalnya telah dijadikan sebuah patokan untuk mengeksklusifkan diri dari mereka yang tidak memenuhi identitas ini. Apapun bentuk organisasinya, selama dia mempunyai identitas maka organisasi tersebut bersifat eksklusif. Titik.

Ah nggak kok, organisasi saya nggak eksklusif kok, kita siap kerja sama dengan siapapun.
Antiteori ini sering kita dengar, namun ada perbedaan definisi yang menjadi panutan. Lha terus bener nggak berarti klaim tersebut?

Dengan adanya identitas, maka organisasi akan bersifat eksklusif. Namun belum tentu dengan interaksinya.

Interaksi suatu organisasi bersifat sosial dimana dia pastinya akan berinteraksi dengan individu maupun organisasi lain di luar "lingkaran"-nya. Interaksi tersebut dapat berupa kerja sama, saling mendiamkan, atau bahkan saling menyerang. Dengan demikian, ketika orang mengklaim organisasinya tidak eksklusif, maka ketidakeksklusifannya terletak pada interaksinya dan pada kenyataannya, interaksi organisasi dengan entitas di luarnya pasti bersifat inklusif (lawan dari eksklusif).

Yang jadi permasalahan adalah bagaimana pengelolaan interaksi dengan entitas di luar organisasi agar sikap inklusifnya ini membawa dampak positif. KEeksklusivitas suatu organisasi berumber dari identitasnya, maka identitasnya inilah yang jadi parameter bagaimana organisasi tersebut "memilih cara berinteraksi" dengan organisasi/individu lain, apakah dengna hubungan yang baik atau buruk ataukah acuh tak acuh. Ketika hubungan yang terjalin baik, maka orang akan mengecapnya organisasi yang tidak eksklusif, walaupun sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa eksklusivitasnya sudah mutlak.

Ada lagi sebuah antiteori berupa "organisasi kita sifatnya terbuka ko". Memang pendapat ini tidak salah karena memang banyak komunitas yang memilih wujud keanggotaan yang super sukarela, intinya gini "kalau situ mau gabung silahkan, akalu udah nggak mau di sini nggak kita susahin ko". Well, sikap itu pun sebenarnya cerminan dari eksklusif dengan pembahasaan yang lebih "jinak". Ketika identitas yang jadi alasan kebersamaan dikedepankan maka orang di luar organisasi dapat bergabung, dan ketika identitas tersebut dirasa tidak lagi sama ataupun tidak membuat nyaman maka dia keluar. Intinya teuteup eksklusif kan?

Kesimpulannya, daripada memikirkan "eksklusif ga sih organisasi gue", mending sibukkan organisasimu dengan kegiatan yang bermanfaat bagi orang lain

And Passion was+is+willbe My Reason

Pekan lalu kegiatan Makrab (Malam Keakraban) Karate Telkom (peleburan IT Telkom Karate Club, UKM Karate Politeknik Telkom, IM Telkom) diadakan di Cibeunying, Kabupaten Bandung Barat (tapi perjalanan kita malah ke Utara hehee). Sebuah sesi menjadi kesempatan saya untuk survey, tidak hanya buat saya pribadi tapi untuk UKM ini, yaitu alasan memilih Karate sebagai UKM.

Jawabannya beragam, ada yang ingin belajar bela diri, ada yang ingin melanjutkan Karate dari jenjang akademik sebelumnya, ada yang bureng (absurd T_T) dan macam-macam. Mungkin ketika saya ditanya balik pun perlu waktu untuk menyusun kata, ceileh berasa mau sidang skripsi aja :p

Karate (dan Pramuka tentunya) menjadi kegiatan yang melengkapi (tapi bukan pelengkap) aktivitas saya selama menekuni dunia akademik sejak SMP. Bahkan ada rasa aneh ketika di awal kuliah tidak ada dua kegiatan itu sebagai UKM. Tapi Allah menggariskan suatu ketentuan dimana saya bisa ikut dalam pendirian Racana hingga resmi menjadi UKM resmi di IT Telkom. Untuk Karate sempat hadir di masa-masa awal, namun dikarenakan satu dan lain hal saya vakum hingga akhir 2011. Di akhir 2011 saya memulai kembali alias RESTART dimana gerakan saya kaku dan sangat memprihatikan :/ Tapi dukungan yang laur biasa dari Sensei, Senpai, dan Kohai menjadi alasan untuk survive. 

Namun apabila ditanya kenapa saya masih menggandrungi Karate maka jawaban saya adalah
Karate merupakan passion saya baik masa lalu, masa kini, maupun masa depan

Memang saya belum pernah berkesempatan mengikuti turnamen; baik di SMA maupun di kuliah saya tidak terlibat sama sekali di kepengurusan dan bahkan di masa klimaks ekskul/ormawa saya justru lebih aktif di tempat lain; memang semenjak ikut Karate saya justru lebih menjadi pendiam (nggak sepecicilan ketika belum ikut Karate); atau untuk jangka pendek, saya di Jakarta Selatan tanpa tegi dan tidak latihan rutin. Tapi, passion tetaplah passion.

Ketika IAIS alias Ikatan Alumni Inkai Smansawi membutuhkan bantuan saya maka in sya Allah semampunya saya berkontribusi
Ketika UKM Karate Telkom memerlukan hal serupa maka in sya Allah pula saya berkontribusi semampunya

Kenapa?
Karate passion saya
Di Karate saya mendapati "keluarga" yang mampu mengayomi :)

Terus apa gunanya

Ironi memang bila segala pengalaman di kepanitiaan atau organisasi sia-sia atau bisa dibilang gunanya hanya memperpanjang baris pada curiculum vitae...

Kenapa sia-sia??

Dalam berbagai kepanitiaan ada banyak hal yang bisa manfaatkan untuk mempersiapkan diri menyambut Ramadhan

Arogan ga sih bila cakap menguasai ketertiban rapat plus ontime tingkat cumlaude.. Tapi tidak tertib dalam mengejar berbagai amalan di Ramadhan

Konyol ga sih bila mahir mengelola RKA alias pendanaan organisasi/kepanitiaan..eh selama puasa malah makin boros dan tidak bisa mengalokasikan khusus untuk sodaqoh

Lucu ga sih bila kreatif dalam membuat rundown sebuah event..penginnya perfeksionis..pengisi acaranya nomor wahid..eh giliran besoknya Ramadhan ga tahu musti apa selain sahur-tidur-beli takjil

Aneh ga sih ketika rajin ngejarkom berbagai info kepanitiaan tapi lupa saling memberi nasihat tentang keutamaan Ramadhan

Semoga berbagai ilmu yang direguk dalam mengenyam kepanitiaan/organisasi bisa diterapkan pula untuk menyambut dan mengisi Ramadhan. Bisa membuat berbagai persiapan untuk proker masa bingung nyusun renacana di Ramadhan malah udah langsung nyerah??
Jadilah muslim(ah) yang tangguh dan pandai mngaplikasikan berbagai pelajaran dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya

20 Filosofi Karate

20 FILOSOFI KARATE GICHIN FUNAKOSHI

1.     Karate diawali dan diakhiri dengan penghormatan.
2.     Tak ada serangan pertama pada karate.
3.     Karate merupakan alat pembantu dalam keadilan.
4.     Pertama-tama, kontrol dirimu sebelum mengontrol orang lain.
5.     Semangat yang utama, teknik kemudian.

Dining Philosopher

Judul di atas bukan tentang konsep dining philosopher yang materi Operating System semester 5, bukan, ini tentang sajian "makan malam" yang penuh dengan filosofi 1,5 hari yang lalu, kenapa 1,5? Karena diadakan malam hari diantara pergantian tahun. Ya ya yapzz.. Ketika hirup pikuk petasan dipersiapkan di pusat Kota Bandung Karate Telkom memutuskan meninggalkan nikmat duniawi menuju sengsara duniawi ke Oray Tapa, sebuah buper di Utara Kota Bandung. "Sengsara"? Hahahaa, gimana gak sengsara, cara menelusuri sawah sudah nyaris mirip gerilyawan Macan Tamil Sri Lanka dan ketika sampai di TKP hampir mirip pengungsi dari Rohingya. Well, satu kita culik satu per satu hikmah di balik "sengsara" yang menjadi santapan makan malam kami dimana hidangan penutupnya berupa berbagai merk mi rebus/goreng dan tidur beratapkan saung dan langit.

Sengsara itu ibarat persimpangan mengenai cara kita menyikapi rintangan, pilih jalur mengeluh, jalur tetap diam datar tanpa ekspresi, ataukah jalur berdoa. Namun, apakah dengan keluhan kita mendadak akan turun nasi goreng dari langit? Apakah cara lain akan memberi efek bagi kita? Ibarat UTS multiple choise, ada banyak pilihan dengan berbagai efek yang bisa kita nikmati

Tiket menuju TKp adalah membawa tenda, terpal, rangka, dan berbagai alat masak dan bekal. Ya seperti itulah latihan Karate. Kita merasa capek luar binasa tertatih membawa barang-barang tersebut, namun itulah yang akan menjadi modal kita "survive" di TKP. Dalam latihan Karate, kita seringkali merasa capek, jenuh, bosan, letih, lesu, lemas, lunglai, lebay terhadap porsi latihan yang kadang kita sendiri lupa "apa manfaatnya", namun itulah modal yang menjadi "senjata" kita survive dalam pertandingan/turnamen/maupun tujuan lainnya

Sementara dua itu dulu saja yang hendak saya tulis di blog tersayang ini. Nanti kalau sudah dapat dokumentasi event kemarin, segera saya tambahkan.

Any lessons always avaible in anywhere, anytime