Smart and Calm in SocMed
Tentang Berbusana Muslimah
Kerudung pada era saat ini lebih dari sekedar penutup aurat. Fungsi utamanya, diakui atau tidak, ya tetap itu. Hanya saja pada perkembangannya menjadi identitas yang mencerminkan krakter diri dan lingkungan. Dan bila kita tarik evolusi dunia mode kerudung pada muslimah dan muslimin ada banyak hal yang unik dari situ (kenapa ada muslimin? nanti ada poin tersendirinya).
Makin "diakui" oleh organisasi formal
Belakangan pemakaian kerudung (monggo jika ada yang lebih "sreg" dengan frase "jilbab" maupun "hijab") menjadi hal yang lebih sering kita jumpai pada pakaian-pakaian resmi dibandingkan beberapa masa yang lalu. Bahkan salah satu organisasi kepemudaan terbesar di Indonesia (yang sudah berdiri sejak 1961) sampai menyediakan regulasi khusus yang menjamin kesempatan kaum muslimin untuk mengenakan busana seragam organisasi tersebut tanpa menanggalkan identitas. Begitu pula di berbagai institusi pendidikan yang masih menyelnggarakan seragam sebagai atribut kesehariannya. Bagaimana dengan PNS? Idem ditto kondisinya. Kalau Polri? :) :) :)
Secara umum, eksistensi kerudung sebagai bagian dari pengakuan atas identitas tiap individu mengalami perkembangan
Menjadi trend berbusana
Era yang ramai social media (lagi-lagi) berperan erat dalam keberhasilan busana muslim sebagai bagian dari trend berbusana masyarakat saat ini. Karakter gemar mengikuti trend menjadikan orang Indonesia (dalam hal ini muslimah) jadi "latah" dan ikut penasaran ketika ada trend busana muslim yang sedang digandrungi.
Setahu saya saja, bagi laki-laki istilah yang sering didengar itu baju koko (klarifikasi "koko" itu bukan nama orang lho ya), baju "uje" (mengacu ke model bajunya alm. Ust. Jeffry), tapi urusan sarung ya udah sarung, palingan adanya sarung kotak-kotak, sarung batik (dan sarun tinju nggak masuk). Nah kalau busana muslimah? Ada istilah baju kurung, gamis, trus jilbab ineke, chiffon, ceruti dan lain-lain, ah saya juga bingung itu mana yang nama bahan mana yang model pakaian. Banyak alternatif yang menjadi kegemaran dan sesuai dengan selera. Bicara penyebab trend juga tidak lepas dari beberapa ketenaran film macam Ayat-Ayat Cinta, buku karya Asma Nadia, hingga munculnya tutorial memakai hijab (dan diikuti tutorial mengenakan sarung yang garingggg banget, mungkin kaum laki-laki enggan kalah trendy :v). Alhasil makin tertarik pula masyarakat untuk mencari tahu dan seiring waktu berjalan, tampillah busana muslimah sebagai trend yang layak dan biasa dijumpai dalam keseharian. Baju muslimah tidak lagi dikaitkan dengan ibu-ibu mau pengajian, ibu-ibu yang abis naik haji.
Oh ya, ngomong-ngomong "trend" tentu kita bicara integritas (beuh...aya naon deui??). Intinya kalau ditanya pakaian bagus atau tidak tentu melihat keseluruhan yang dikenakan. Baju kebaya kalau celananya jeans tentu agak aneh. Begitu pula terkait busana muslim. Dulu orang ketika mendengar "busana muslimah" banyak terbayang krudung simpel yang disertai baju lengan panjang dan rok/celana yang panjang juga. Tapi saat ini definisi baju muslimah mulai berkembang (lebih tepatnya "diperbaiki"). Kerudung disediakan berupa paket lengkap beserta baju atasan hingga bawahan, bahkan manset dan kaos kaki yang warna selaras yang menarik hati untuk dikenakan.
Menjadi bisnis yang "spesial"
Kau tahu kawan, berbisnis di era penuh teknologi informasi seperti saat ini menjadikan bisnis lebih mengasyikan. Tidak perlu modal gede untuk menyewa ruangan sebagai toko. Bahkan untuk ngumpul para pelaku bisnisnya (yang dilabeli "entrepreneur") bisa memakai fasilitas umum macam taman kota, tempat makan yang cozy (btw, cozy iku opo yo?). Intinya memulai bisnis sekarang ini lebih mengutamakan kreativitas dan tentunya ketekunan dibandingkan modal finansial. Hal ini berlaku juga pada bisnis busana muslim. Dengan modal koneksi yang intens dan komunikatif, orang dapat cepat mengenal produk baru. Cara orang tahu produknya? Udah banyak aplikasi online showcase, termasuk juga memanfaatkan galeri di social media.
Sudah banyak start up dengan produk busana muslim, termasuk beberapa kenalan saya, baik yang di Bandung, Tegal, hingga Semarang. Nah itu di 3 kota berbeda tapi saya yang di Jakarta masih bisa tahu juga karena pengaruh social media.
Penantang terkuat Ancaman Dekadensi
Dekadensi alias kemerosotan moral tidak pernah ditampilkan dalam suasana yang menyedih di awalnya. Pasti yang digembor-gemborkan ya keasyikannya. Semua itu bagian dari perang pemikiran (alias apa hayo??). Selama ini cara menyadarkan generasi muda masih didominasi dengan metode-metode kontemplasi yang penuh perenungan, suasana tertekan dll. Itu tidak salah sepenuhnya karena memang kondisi generasi muda sangat parah, khususnya ditinjau dari perilaku berbusana. Nah, cara terbaik memerangi "kegelapan" bukanlah dengan "kegelapan", melainkan dengan keterangbenderangan. Maksudnya? Harus ada perbaikan citra dalam "berkerudung".
Stigma "kerudung itu kolot, kerudung itu terbelakang, kerudung itu kaku" tidak akan berubah jika hanya dilawan dengan kata-kata, harus ada bukti. Angkatlah prestasi-prestasi dan berbagai sajian berita positif yang bertujuan pada pengubahan citra sehingga berkerudung itu identik dengan keceriaan kaum muslimah.
Begitu pula prestasi-prestasi entrepreneur busana muslimah yang secara profit, popularitas, hingga tanggung jawab sosial menunjukkan perkembangan positif. Secara kalkulasi bisnis, entrepreneur-entrepreneur ini merupakan lawan yang sangat kuat bagi para aktor dekadensi.
Masih ada Bahaya Laten di dalamnya (Bagian dari Ancaman Dekadensi itu sendiri)
Nah dibalik fenomena-fenomena positif tadi, perkembangan busana muslimah juga menyimpa bahaya laten. Nah lho, kok iso ngono?
Perkembangan busana muslimah juga bisa menjadi bagian dari ancaman dekadensi lho, walah kok bisa?
1. Ketika orientasi entrepreneur busana muslimah menempatkan nominal di atas niat ibadah
2. Ketika produk busana muslimah "direcoki" ketidakstandaran atas aturan busana muslim, misalnya bahan yang terlalu tipis
Kebayang kan ngerinya sesuatu yang sepintas menggusung nama agama tapi justru menghancurkan agama?
Ibaratnya kayak lem tikus yang justru dipakai untuk memberangus tikus :v
Maka berhati-hatilah terhadap dua kondisi ini :(
Masih setengah hati dilirik oleh para ahli strategi dakwah
Strategi perbaikan kaum muslimin dan muslimah perlu dikemas dengan suasana kreatif sebagaimana dicontohkan di isu sebelumnya. Selama pesan dakwah, khususnya tentang berkerudung, hanya mengumbar ancaman neraka maka kaum muslimin akan dihantui rasa takut pada agamanya sendiri. Strategi harus diubah dengan konten-konten positif semisal manfaat berkerudung, hadiah bagi yang teguh dalam mengenakan kerudung yang syar'i. Dalam analogi lainnya, seorang anak kecil akan lebih semangat belajar ketika diceritakan padanya orang-orang sukses yang rajin belajar daripada kisah-kisah orang yang gagal membangun karir karena malas belajar.
Namun hal ini belum disadari sepenuhnya oleh para ahli strategi dakwah. Masih ada sikap pragmatis yang menyampaikan dakwah hanya berdasarkan kurikulum warisan, padahal sasaran dakwahnya sudah berbeda kondisi dibandingkan era-era sebelumnya.
Pragamatis itu makin sulit dihilangkan ketika para ahli strategi dakwah itu berorientasi pada perubahan yang sekejap. Padahal untuk seorang perempuan muslim mantap mengenakan kerudung syar'i membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Silakan didata, namun kenyataannya perubahan yang perlahan lebih mengena bagi seorang muslimah dibandingkan yang ujug-ujug. Maka terhadap isu "kerudung syar'i", perlu roadmap yang realistis dan optimis, khususnya terkait analisis sasaran dakwah serta timeline-nya.
Bagaimana dengan Peran Kaum Laki-Laki
Nah ini pertanyaannya relevan apa nggak monggo-monggo saja tanggapannya bagi pembaca.
Pertama kita tidak bisa memungkiri bahwa busana merupakan pembatas antara yang berhak dilihat (bukan aurat) dengan yang tidak berhak dilihat (aurat) oleh laki-laki. Laki-laki apapun posisinya, apakah itu kawan sejawat, kerabat, saudara, orang tua, anak, hingga suami, memiliki kewajiban untuk mengingatkan kaum perempuan SECARA BAIK-BAIK tentang bagaimana berbusana yang semestinya. Bila menemukan yang kurang tepat, jangan jadikan sebagai (maaf) santapan syahwat yang aji mumpung :( Di sini peran laki-laki sebagai orang yang berkewajiban mengingatkan.
Kedua, dalam rantai bisnis mode busana muslimah, agaknya sangat sukar membayangkan dari bahan baku alamiah maupun sintesis menjadi busana muslim yang hanya dikerjakan oleh kaum perempuan. Kemungkinan besar akan ada peran laki-laki, baik di dalam proses pengolahan langsung maupun proses pendukung (ngitung akuntansinya, memromosikannya, pengemasan, hingga evaluasi bisnisnya). Di sini dituntut pula peran laki-laki yang mampu berkontribusi secara optimal di dalam peran-peran tadi. Sangat mungkin lho bagaimana bisnis busana muslim yang memiliki konten positif dan tujuan mulia malah berantakan gara-gara ngirim produknya salah customer, salah nentuin harga jual dll. Jadi peran laki-laki kedua di sini adalah berkontribusi maksimal di dalam bisnis mode busana muslim.
Ketiga, jumlah desainer busana dari kaum laki-laki sudah tidak bisa dihitung dengan jari alias sudah menjamur. Ini bukan urusan kelainan gender lho y. Jadilah desainer busana yang "lurus", jangan jadi perancangan busana yang memancing hal-hal yang tidak diinginkan. Rancanglah desain-desain yang mampu mengangkat derajat dan martabat kaum muslimah, bukan malah mengumbarnya.
OK, lah laruik sanjo...
Besok ngoding lagi =____=
Gudnite kawan :) :) :)
Devide et Impera
Era social media selain menyimpan manfaat memang menyertakan pisau tajam di dalamnya. Banyak permasalahan yang timbul dikarenakan social media, misalnya terumbarnya hal seharusnya bersifat privasi, kesalahanpaham dalam mencerna informasi yang berujung ketersinggungan hingga hal-hal lain yang ternyata jug amenjaga peluang untuk adu domba. Adu domba? Kayak pernah denger deh, ini taktiknya VOC alias kumpeni yang juga dikenal dengan istilah devide et impera ya? Lho? Bukannya VOC udah bubar? Kumpeni kan cuma ada di buku sejarah :v Eitss, ternyata banyak Kumpeni Lama Bersemi Kembali, taktiknya mereka sama, yaitu mengadu domba, hanya saja yang diadu domba bukan lagi raja ini dengan raja itu, melainkan seluruh pengguna social media, nah lho? Kunaon itu teh?
Adu domba melalui social media ini memang bukan hal yang bisa ditelusuri dengan mudah, kenapa? Proses menghilangkan jejak sangat mudah, malah proses bikin akun social media pun sangat singkat. Selain itu, karakter calon "domba" yang mau diadu pun tentunya sudah bisa ditebak. Karakter masyarakat Indonesia dalam memakai social media relatif addict (termasuk saya juga sih hehee), sangat responsif (atau malah latah ya?) terhadap info yang sifatnya uptodate dan temporer, dan sangat subjektif dalam memberikan penilaian atas konten yang tersebar. Info yang uptodate dapat terlihat ketika kasus info tips pemakaian masker yang hanya boleh satu sisi, dan ternyata setelah terlanjur menyebar dna menimbulkan keresahan karena banyak pengguna yang memakai kedua sisinya waswas (mungkin hingga tidak bisa tidur, ekskresi jadi tidak lancar, nafsu makan hilang), justru di kemudian hari muncul artikel yang menyatakan bahwa pemakaian "side A dan side B" tidak masalah. Ini baru isu masker, berbagai tips kesehatan pun banyak yang simpang siur. Boleh jadi sikap berprasangka baik atas konten yang di-share temannya menjadikan syarat "cek sumber" malah diabaikan. Nah, kembali ke devide et impera alias adu domba.
Salah satu karakter yang tidak disebutkan di atas adalah adanya sentimen terhadap isu yang menyangkut kelompok (sori bila subjektif). Di satu sisi, ini menjadi indikasi positif bahwa masyarakat Indonesia (sebagian besar) mempunyai kecintaan terhadap apa yang menjadi identitasnya. Namun di sisi lain, hal itu juga menjadi komoditas yang menggiurkan untuk memecah-belah persatuan. Tidak semuanya mengarahkan kita ke arah sikap bertoleransi. Berbagai artikel yang beredar di social media juga sukses memaksa kita (tanpa sadar) menanggalkan sikap berprasangka baik dan malah mengedepankan emosi dengna bereaksi keras terhadap konten-konten yang menggiring ke arah propaganda sentimen golongan. Masyarakat Indonesia sangat majemuk, bukan hal yang mudah untuk menjaga keanekaragaman ini dalam bingkai kedamaian bertoleransi. Isu suku dan kedaerahan menjadi isu yang lezat untuk saling ejek dalam topik sepakbola antarklub daerah, bahkan yang satu provinsi. Perbedaan agama dianggap hal yang menodai golongan tertentu sehingga tanpa basa-basi sikap saling laknat lebih dikemukakan.
Isu pembantaian tanpa rasa kemanusiaan oleh suatu golongan diobral secara rinci, dipublikasikan oleh suatu page ataupun akun dengan tujuan membangkitkan emosi kebencian terhadap golongan (yang dicitrakan) sebagai antagonis versi akun tersebut. Berbagai nama orang yang asal bikin ditambah foto yang entah darimana sumbernya dijadikan bumbu "pedas" sehingga makin memerahkan kepala pembacanya. Padahal nama itu sendiri fiktif, plus foto tersebut diambil dari insiden lain di tempat lain yang tidak nyambung dengan apa yang jadi pembahasan artikel tersebut. Well, sikap keengganan untuk meng-crosscheck narasumber akhirnya benar-benar jadi faktor yang memuluskan "Kumpeni-Kumpeni" modern itu untuk mendoktrin kita dengna sikap penuh kebencian terhadap sesama manusia. Kebencian itu sepintas rapi dibungkus sikap peduli satu golongan dan fanatik terhadap identitas. Padahal sikap kebencian inilah bom waktu yang menjadikan kita perlahan menjauhi sikap penuh kedamaian. Yang fanatik jadi buta, yang kurang fanatik jadi enggan dengan suasana demikian. Yesss, taktik "adu domba" sukses berat broo.. :(
Maka, apabila ada informasi yang menyinggung SARA, konfirmasi dulu kebenarannya. Salah-salah, itu akan jadi bom waktu yang menghancurkan peradaban kita -_-
Rekomendasi SEO dan Plug in
Rekomendasi plugin
Alkisah dalam sebuah proyek, dilakukan proses perbaikan traffic website yang entah mengapa mengalami kemerosotan drastis. Berbagai perkiraan disampaikan oleh masing-masing personel tim. Ibarat acara "Seconds to Disaster", maka satu per satu kemungkinan sebab diujikan terhadap berbagai argumentasi dengan kalkulasi *yang membuat saya termangu* :p
Dari sekian kemungkinan yang masih berpotensi sebagai "dalang" dari kemerosotan ini, salah satunya adalah kurangnya optimalisasi SEO. Padahal dalam pengerjaan website ini, plugin tentang SEO sudah dipasang, namun kenapa malah seperti ini hasilnya. Well, ternyata faktor pemasangan plugin tidak dibarengi dengan pemakaian rutin pada tiap artikel yang diterbitkan. OK, langsunglah dibahas pemakaian plugin tersebut.
Wah, ternyata plugin ini cadas juga ey. Tiap kali meng=update suatu artikel, maka akan muncul lampu indikator yang menggambarkan tingkat optimalnya parameter-parameter SEO yang dipergunakan. Dan ternyata memang *jengjrengggg*, banyak indikator yang masih bisa dieksplorasi untuk meningkatkan optimalisasi SEO ini.
Focus keyword, yaitu kata kunci yang jadi patokan Google dalam memberikan rekomendasi artikel kepada pembaca. Semakin kuat focus keyword, maka nilai rekomendasinya semakin tinggi. Sek sek, " kuat" dimananya? Kekuatan terletak pada focus keyword juga dimuat dalam article heading, page title, page URL, content, serta meta description. Untuk content, semakin banyak focus keyword ditemukan, maka kekuatannya semakin besar, sedangkan pada 4 elemen lainnya, bukan hal yang mudah untuk memunculkannya berkali-kali *apalagi di judul masa kata-katanya diulang-ulang terus*.
SEO Title, kalau menurut Yoast, definisinya begini "The SEO Title defaults to what is generated based on this sites title template for this posttype.". Kalau masih bingung, SEO Title itu yang akan muncul sebagai judul ketika muncul berbagai rekomendasi artikel. Misal kita nyari Telkom University, maka yang biru-biru itulah SEO Title
Meta description, merupakan penjelasan dari website ketika muncul di sebagai rekomendasi dalam temuan Google. Misal kita nyari artikel Telkom University, maka yang tulisan hitam di bawah URL, itulah meta description. Singkat kata, ketika muncul berbagai hasil rekomendasi Google, maka user tentunya akan membaca sekilas tentang aturan, nah sekilasnya itulah yang merupakan meta description sehingga menjadi patokan user untuk menentukan apakah artikel ini yang dicari atau bukan.
Meta keywords, ketika menyusun abstrak di sebuah skripsi kan ada tuh kata kunci, nah meta keyword sama dengan itu. Jumlahnya boleh lebih dari satu nih :)
Heading, baik h1, h2, h3 dkk, itu menjadi patokan Google untuk mendeteksi tingkat nyambung nggak-nya artikel dengan kata kunci yang telah diberikan sebelumnya
Image alt tag, ketika menyisipkan sebuah gambar, tentu akan sulit bagi Google untuk memberi penilaian seberapa kuat tingkat kenyambungan gambar dengan artikel (kan tujuan gambar untuk menguatkan konten artikel), maka Google akan menilainya dari Alt Text yang diberikan. Padahal, bagi sebagian penulis, pemberian Alt Text sering diabaikan. Sistem di kebanyakan website, termasuk WordPress adalah mengotomasi Alt Text dengan nama image, maka disarankan memberi nama image yang mengandung focus keyword *sehingga Alt Text-nya akan otomatis terisi focus keyword
Flesch Reading Ease test, yaitu sebuah formulasi yang menghitung tingkat kerumitan bahasa yang digunakan pada konten. Formula ini sederhananya menghitung keruwetan artikel berdasarkan rata-rata banyaknya suatu kata dalam satu kalimat serta banyaknya suku kata dalam satu kata. Konsekuensinya, kalimat majemuk tentu akan mempunyai keruwetan semakin tinggi. Kenapa ada penilaian seperti ini? Singkatnya, Google sebagai search engine tentu menjaga reputasi di mata user-nya dengan memberi rekomendasi artikel dan user pun tentu berharap disuguhi artikel yang tidak hanya sesuai kebutuhan, tapi juga mudah dicerna. Maka, parameter kemudahan mencerna itulah yang direpresentasikan dengan FRET ini.
Jumlah kata minimum dalam artikel. Lha, kok malah ada parameter ini? Buat apa? Well, percaya atau tidak, kita sebagai user dari layanan search engine tentu berharap memperoleh artikel yang komplet, bukan yang seiprit-iprit, maka Google akan menghitung banyaknya kata dalam sebuah konten artikel sebagai pertimbangannya, malah direkomendasikan jumlah minimalnya 300 kata. Dan oleh karena itu, pemberian shortcode pada konten artikel, perlu dikaji lebih dalam, memang, adanya shortcode memudahkan author dalam mengirimkan informasi, bahkan dapat dispesialkan CSS dan jQuery-nya, namun kalkulasi juga total kata yang dihitung oleh sistem di Google. Namun juga, kembali lagi pada strategi dan prioritas dalam mengelola konten. Baca ini dan ini
Outbound link alias hyperlink yang mengarah ke luar artikel
Nah, sebagai akhir dari artikel ini, saya mau mempromosikan plugin yang jadi "asisten" saya dalam mengolah tingkat optimalisasi SEO di artikel-artikel yang saya kelola, yaitu
Yoast WordPress SEO
12 Elemen pada Homepage
Dua hari lalu, pasca-evaluasi tampilan website di sebuah proyek di PAJ, saya mencoba browsing tentang kajian mengenai panduan konten dalam homepage di sebuah website. Sepintas gampang, sejenak yang sering terpikir adalah suasana ramai. Opsss, ternyata perlu berpikir yang "dalam".
Salah satu artikel di hubspot.com memberi paparan tentang 12 elemen penting yang harus ada pada homepage sebuah website yang menawarkan layanan kepada pengguna internet,
Apa saja?
- Headline, singkat, deskriptif, dan menjawab pertanyaan "apa yang ditawarkan"
- Sub-headline, ringkasan penawaran, tampilkan secara unik dan menunjukkan nilai yang spesial. Persuasif namun tidak narcis
- Benefit, jelaskan kenapa harus memakai dan bagaimana bila mengabaikan tawaran ini, tentunya dengan bahasa yang menarik
- Primary Calls-to-Action (CTA), berisi alur yang akna dilalui oleh konsumen ketika memutuskan memakai layanan yang ditawarkan. Jangan membagi langkah-langkah tersebut ke dalam tahapan yang panjang karena memberi kesan bahwa user kurang "dimanjakan"
- Features, berisi item-item spesial yang akan diperoleh oleh user ketika mempergunakan layanan ini
- Customer Proof, pasang testimoni dari mereka yang pernah memakai layanan ini. Perhatikan kekuatan individu pemberi testimoni yang memberi rekomendasi, faktor "siapa dia?" tentu memberi kontribusi yang signifikan
- Success Indicators, sajikan bukti berupa statistik maupun pengharagaan yang menunjukkan kualitas yang telah dicapai oleh layanan ini.
- Navigation, sediakan navigasiyang jelas dengan memperhitungkan kebutuhan user, misalnya daftar harga, portofolio, daftar klien, profil perusahaan
- Supporting image, pengguna komputer didomminasi oleh orang yang sibuk dan efisien dalam memakai internet (sibuk kerja, pulsa terbatas dll). Kesan yang mudah melekat dengan kesempatan terbaca yang sempit tersebut adalah menampilkan visual yang mendukung, tidak harus perfeksionis, setidaknya sesuai konteks dan mengarahkan user untuk percaya bahwa produk kita merupakan jawaban dari kebutuhan user
- Content Offer, mengignat waktu pemakaian internet yang terbatas, sediakan beberapa file yang bisa disimpan oleh user, sehingga sifatnya accessable without internet, misalnya company profil.
- Resources, menurut web ini, 96% visitor sebuah web dalam kondisi belum siap membeli, bisa dibilang sedang mencari rujukan/pembandingan layanan. Maka sediakan layanan informasi tambahan kepada user untuk berinteraksi lebih lanjut dalam mempelajari layanan yang ditawarkan.
- Secondary CTA, Ada tipikal user yang ingin membaca web hingga selesai barulah mengambil keputusan untuk memakai layanan tersebut atau tidak. TIpikal user yang demikian perlu diakomodasi dengan secondary CTA.
Jadwal dan Analytics Tools #SoMed
- Mempunyai rancangan isi/konten pembahasan sehingga meminimalisasi habisnya topik obrolan
- Mencegah penumpukan beberapa info di waktu bersamaan maupun kekurangan info di waktu lainnya
- Penyampaian informasi sesuai dengan kondisi/perilaku follower/fans like
- Untuk akun dengan beberapa admin, pembagian tugas dapat dilakukan jauh-jauh hari
- Tolok ukur keberhasilan akun twitter/facebook dalam menjalin ikatan dengan follower/fans like
Posting-nya di Blog/Web tapi Comment-nya di Facebook
Introduksi #SocMed
- facebook, twitter
- tempat ngalay macam like status quq eaaa, tempat debat ngalor-ngidul
- tempat memantau perkembangan UAS dimana berharap di H-1 ada temen nge-share contoh soal UAS
- kultwit dengan #hashtag
- tempat stalking alias kepo, itu si doi lagi sibuk apa sih?
- dan seabreknya
- mahasiswa suudzon = socmed itu tempat dosen ngasih pengumuman mendadak macam kuliah ditiadakan
- mahasiswa khusnudzon = socmed itu tempat kita saling menasehati tentang perkembangan di luar kampus, misalnya kondisi di Mesir
- dosen suudzon = tempat saya dikepoin ama mahasiswa sendiri
- dosen khusnudzon = tempat diskusi tugas kalau di kelas waktunya terbatas
- ortu suudzon = tempat anak saya ngumpulin foto cewe
- ortu khusnudzon = begitu kuliah komunikasi ama anak saya lebih gampang
- bos HRD = situs nggak produktif
- bos pemasaran = itu sumber data potensi pasar
- dan seabreaknya
- Photo-sharing: Flickr, {instagram masuk di sini-by me}
- Video-sharing: YouTube
- Audio-sharing: imeem
- Virtual Worlds: Second Life
- Online Gaming: World of Warcraft
- Social news: Digg, Reddit
- Reviews: Yelp, epinions
- Microblogs: Twitter, Pownce, {plurk, tumblr juga masuk di sini-by me}
- Events: Evite
- Social Networking Services: Facebook, LinkedIn, MySpace
- Subjek yang menjadi incaran untuk "dimangsa" ada di social media mana saja. Sebagai contoh ketika hendak membuat akun facebook perusahaan kosmetik, maka survey keberadaan calon customer-nya sering aktif di twitter jugakah atau tidak. Langkah ini dapat dikatakan sebagai step yang paling simpel.
- Bagaimana profil, baik identitas maupun tingkah laku mereka di social media. Misalnya ketika akan membuat akun twitter sebuah klub sepakbola Eropa, maka perlu diketahui bahwa fans klub sepakbola Eropa lebih sering aktif di malam hari menjelang, saat, dan beberapa saat setelah pertandingan klub mereka. Kemudian fans klub sepakbola mempergunakan bahasa non-formal, dan (yang ini jeleknya) saling memprovokasi tim lawan.
- Apa yang diharapkan dari hubungan dengan target. Perlu dilakukan pembatasan tujuan agar interaksi dengan user lain sesuai dengan hasil yang diharapkan dan tidak terjadi penyimpangan cara berinteraksi. Misalnya, untuk akun suatu merk/brand produk, maka apakah akun ini difungsikan sebagai berikut :
- Apa yang dibutuhkan target bila social media ini telah terbangun. Misalnya untuk akun socmed suatu institusi pendidikan, maka hal yang mungkin dibutuhkan oleh user lain bisa saja meliputi :
- Bagaimana cara menggaet "sejumlah"/"sebagian" target alias bagaimana cara berpromosi mengenai keberadaan social media ini. Ini merupakan langkah awal terkait mengendus keberadaan target. Susunlah strategi dalam berpromosi, misalnya di dua pekan pertama "mengintip" follower akun twitter lain dan follow mereka, kemudian langkah berikutnya bla bla bla. Jangan lupa harus punya indikator keberhasilan yang jelas di fase-fase berpromosi ini. Bila promosi sudah gagal, akan memberatkan kesuksesan membangun social media di kemudian hari.
- Interaksi apa saja yang dilakukan untuk mengikat hubungan dengan target. Ada banyak cara untuk menarik dan menjaga hubungan dengan target. Sebagai contoh, akun @idkreatif milik Indonesia Kreatif yang pada prime time pagi hari meluncurkan twit berupa sapaan, kemudian share tentang artikel menarik di siang hari. Pada momen tertentu muncul twit berupa pertanyaan yang meminta opini dari tweeps terkait isu tertentu. Tak jarang komentar yang menarik di-retweet. Hal simpel semacam ini merupakan strategi untuk mengapresiasi interaksi yang terjalin dengan follower sehingga follower merasa akun @idkreatif itu "hidup", bukan sekedar ada. Berikut printscreen-nya
- Bahasan apa saja yang menjadi lingkup aktivitas di social media. Definisikan dengan jelas. Topik apa saja yang wajib, boleh, dan tidak boleh dibahas di social media. Hal ini untuk menjaga fokus akun social media agar tetap pada tujuannya. Namun, perhatikan pula "trik-trik" dalam berkomunikasi dimana hal-hal yang OOT (out of topic) sekali-kali disinggung namun tujuannya sebagai selingan untuk mencegah kejenuhan. Akan lebih baik lagi ketika admin mempunyai kalender berupa jadwal pembahasan topik, kenapa? Dengan jadwal tersebut, dapat dilakukan pembahasan yang teratur secara waktu dan tidak terjadi kekosongan pembahasan maupun bentrokan pembahasan.
Masing-masing pertanyaan tentunya mempunyai jawaban yang variatif. Tentu saja, di sosial media tiap orang punya kepentingan yang berbeda, seleranya juga berbeda