Tampilkan postingan dengan label BEM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BEM. Tampilkan semua postingan

#TutupMata yang telalu #MenutupMata

Ini tentang keprihatinan atas "tingkah laku" beberapa pengurus BEM Unitel yang mengatasnamakan aksi #TutupMata. Maaf jika bahasa di opini ini "keras", tapi mengingat keberanian (sebut saja keberanian walau saya lebih menganggapnya sebagai kenekatan) dalam bertingkah laku itu ya harus membaca opini ini pengurus BEM Unitel harusnya bisa lebih tahan. Toh kalian berani mengkritik pemerintah, masa enggan dikritik.


Kesadaran sebagai "Pemimpin" yang (Biasanya) Diteladani
Presiden mahasiswa itu sudah selayaknya akan diikuti perilaku dan pemikirannya oleh pengurus BEM lainnya, hingga mahasiswa pada umumnya. Dan apa yang dilakukannya mau tidak mau harus kita filter bahwa tingkah laku yang kemarin kurang layak untuk diteladani. Mengapa? Tanya saja akal dan nuranimu :D

Kesadaran tentang Risiko Negatif 
Untuk urusan kesadaran terhadap segala risiko negatif yang mungkin terjadi, ah entahlah saya jujur tidak mengerti. Berdasarkan pemberitaan di media massa serta media resmi BEM Unitel, tidak disinggung mengenai kesiapan BEM dalam mencegah maupun mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Apakah memang tingkah yang dilakukan kemarin sudah diyakini akan 100% sukses pun saya tidak bisa memastikan. Jika memang tidak ada rencana penanganan risiko negatif, maka jelas tindakan konyol, apalagi dilakukan di fasilitas umum. Jika memang punya rencana penanganan risiko negatif, sampaikanlah itu dengan gamblang. Jangan mau diperbudak nafsu ingin tampil keren. Jangan seenaknya memanfaatkan fasilitas publik dengan tingkah laku yang tidak paham risikonya.

Kita Bicara Efek
Selama ini demo (atau "aksi" dalam tanda kutip) identik dengan pertanyaan "efeknya apa?" Dan dari pengamatan saya (yang masih sempit dan nggak selebar anak-anak BEM sekarang), tingkah laku kemarin efeknya baru sebatas terpampang di media massa alias popularitas. Jika memang bermaksud menggugah kesadaran presiden, ya sungguh itu tingkah laku jauh dari tujuan. Efek yang didapat sejauh ini hanya berkutat pada ketenaran, jadi pembicaraan orang-orang, jadi trending topic di social media, dan hal-hal lain yang sifatnya teoritis. Apakah ada masyarakat yang memperoleh manfaat secara jelas. Saya butuh penjelasan yang masuk akal dari mereka.

Klaim Korban MediaIni memang faktor eksternal yang di luar wewenang BEM, termasuk presiden mahasiswanya. Hal yang klasik pula karena dari jaman 2008 (awal saya mengenal, mengamati, dan bergabung di BEM (selama 2 periode)) juga terjadi fenomena demikian. Namun pertanyaannya, apakah tidak ada pembelajaran untuk mengendalikan isu. Ketika sebuah pergerakan memasuki gelanggang sosial politik, maka harusnya sadar bahwa akan ada dukungan dan terkaman media massa. Media massa pun (maaf) tidak semua bersikap jujur dalam memberitakan kronologis di lapangan. Ke depannya, jika akan melakukan aksi (yang tentunya harus lebih mengutamakan nalar, kebermanfaatan, dan memberi solusi, ya intinya aksi yang lebih waras lah), maka siapkan juga strategi media yang lebih cerdas agar tidak cengeng menyalahkan media.

BEM nggak cuma demo kok, ada pengmasy jugaWell, kalau memang ada kegiatan pengabdian masyarakat (pengmasy), ya kenapa nggak optimalkan saja kegiatan pengmasy-nya sebagai pergerakan yang lebih memberi solusi. Janganlah kegiatan pengmasy hanya dijadikan sebagai "ajang pemutih reputasi" semata. Investasikan SDM yang dimiliki untuk kegiatan ini tentunya (dan harusnya) bisa lebih efektif dalam memberikan manfaat.

Respon "Ah kalian bisa kritik"
Lha terus harusnya kami (yang mengkritik kalian) bersikap apa? Tatkala kalian (baca: BEM) berani untuk menunaikan hak untuk mengekspresikan pendapat kalian, maka sudah pasti kalian pun wajib dan berani menerima konsekuensi untuk dikritisi mengenai esensi dan cara berpendapatnya kalian. Tapi silakan saja jika BEM masih menggerutu dan kecewa atas kritik kami, itu sudah mencerminkan kedewasaan kalian :)

Klaim Didukung Masyarakat
Pernyataan bahwa didukung masyarakat ini sangat menarik. Kenapa menarik? Karena cara merelasikan antara klaim bahwa "masyarakat mendukung opini presma tentang presiden RI menutup mata" disambungkan dengan tingkah laku mengendarai mobil sambil menutup mata. Sebuah pola pikir yang (menurut saya yang pikirannya nggak selebar anak-anak BEM saat ini) tidak berpikir sistematis. Mengapa tidak sistematis? Tidak perlu penjelasan panjang karena dua hal itu tidak nyambung gaess.

Semoga bsia lebih belajar tentang makna hidup yang penuh kontribusi

Purworejo: Temen Satu BEM Nikah, Beribu Tunas Kelapa, hingga all Sweety Meals

Purworejo, sebuah kabupaten di Selatan Jawa Tengah yang beberapa kali saya singgahi. Namun tidak seperti kesempatan terdahulu yang hanya numpang mandi, sholat, dan makan, kali ini destinasi utama adalah kondangan. Orang Purworejo mana yang saya (dan tentunya istri kunjungi)??

Dua orang yang di tengah itu tampak familiar bukan? Mereka adalah Bang Gheza feat. Mba Rahma. Dari tahun 2009 s.d. 2011 mereka pernah satu organisasi, yaitu BEM. Kebetulan di periode 2009 dan 2010 satu kabinet pula dengan saya. Jelas mengindikasikan bahwa keduanya bukan orang asing bagi saya. Malah Mba Rahma adalah kawan satu kosan dengan istri selama hampir dua tahun dan ikut menyaksikan akad saya dengan istri. Sebagai tambahan pernikahan keduanya memperpanjang jejak pernikahan satu organisasi yang ada di SC PDKT 2012 hehee

Nah sepanjang perjalanan saya tak hentinya menemukan tugu berupa tunas kelapa di kanan kiri jalan. Tampak familiar mengingat itu adalah icon dari Pramuka. Tapi di Purworejo memang banyak sekali pohon kelapa. Atau jangan-jangan ini juga basis kuatnya kepramukaan di Kwarda Jateng? Mungkin hehee

Nah, yang menarik adalah komentar istri saya bahwa hidangan di sini yang sangaaat manis. Entah karena mengonsumsinya di samping saya atau bagaimana :v. Tapi kultur Jawa yang punya sejarah tanam paksa tebu memang mendoring cita rasa makanan yang kuat dengan tipe manis.

Overall... Perjalanan ini berkesan, khususbya dari sisi silaturahim^^

Friend's the Best Catalog

Istilah teman sebagai "katalog" pertama kali saya dengar dari Mas Uun, senior di IT Telkom, di sebuah video motivasi yang ditujukan bagi maba (mahasiswa baru, eh tapi saya mahasiswa basi ya? hehee). Maksudnya gimana tuh?

Teknologi sudah berkembang, dan muncullah berbagai macam istila seperti Googling, online directory, portal, dll. Namun sebelum adanya berbagai itu semua, kita mengenal orang-orang di sekitar kita sebagai katalog dalam mencari informasi, bahkan lebih dari itu, teman kita juga berperan sebagai jalan bersama-sama mewujudkan ide-ide tadi. Bisa dibilang katalog yang mampu mengonkretkan hehee.

Dengan latar belakang teknik informatika, Alhamdulillah saya berkesempatan menikmati bocoran disiplin ilmu lain melalui kawan-kawan saya. Tentang bagaimana proses manufaktur, bagaimana kebutuhan nutrisi tubuh, bagaimana proses edukasi ke usia dini, dll. Semua itu menjadi proses untuk membuka wawasan sehingga indahnya pengetahuan sebagai anugerah Allah terasa begitu nikmat masya Allah.

Namun jangankan antardisiplin ilmu, ketika menghadapi peliknya dunia informatika yang bukan spesialisasi saya, berbagai masukan dapat saya peroleh dari kawan-kawan yang memiliki latar belakang sama namun spesialisasi berbeda. Nggak menyangka sama sekali senior di himpunan dulu yang akan menjadi mediator petunjuk bagaimana mengerjakan riset dengan COBIT. Nggak mengangka juga teman ngelawak bareng dulu jadi orang yang selalu saya summon saran-sarannya terkait keamanan informasi.

Terkait passion, wah, ini juga asyik. Ada teman yang memotivasi dalam urusan sastra. Ada juga teman yang asyik untuk jalan-jalan ngebolang di belantara alam.

Itulah semangat yang terus mewarnai hidup ini. Bagaimana beragamnya kawan-kawan menjadi khazanah yang sungguh berharga dan pada muaranya adalah bagaimana itu membukakan mata kita akan kebesaran Allah SWT.

Minimarket Mulai Jualan "Aneh-Aneh"

Baca status seorang adik kelas bahwa di salah satu minimarket di Dayeuhkolot yang nggak ada 100 meter dari kampus mulai terang-terangan menyediakan minuman beralkohol di etalasenya. Rasanya kok gimana gitu... Kesal, sebal, gemes, tapi bisa berbuat apa ya?

Budaya Barat memang menggempur habis-habisan masyarakat Indonesia. Satu per satu produk "aneh" mulai diwajarkan dengan argumen yang nggak banget. Minuman beralkohol dibela dengan alasan ini nggak bikin mabuk. Tatoo dibilang tren, nggak mengganggu orang. Alat kontrasepsi dilindungi alibi mencegah penularan HIV. Biar makin aman, segala teknik ngeles sudah ditebarkan. "Ah elu nggak usah ikut campur urusan orang lain", "itu kembali lagi ke orangnya, kalau orangnya bener ya nggak bakal manfaatin buat yang nggak-nggak", "wah elu ikut aliran apa sih? ekstrim banget".

Alhasil satu per satu produk aneh merajai etalase minimarket, ya minuman alkohol lah, bahkan alat kontrasepsi. Kalau di teori ekonomi ada istilah permintaan dan penawaran. Keduanya menyebabkan terjadinya transaksi. Kenapa jual es nggak laku di wisata gunung? Ya karena nggak ada permintaannya. Namun bisa juga belum ada permintaan, namun karena ditawarkan dengan baik maka timbullah permintaan. Nah jika menengok barang-barang aneh di minimarket, itu kondisinya bagaimana? Apakah masih sekedar penawaran yang belum ada permintaan atau sudah terjadi permintaan yang tinggi? Jika yang terjadi kedua, waduh mama sayangeeee, gawat nih.

Seharusnya, kampus perlu menyadari bahwa lingkungan civitas akademia tidak sekedar dibatasi gerbang kampus, di luar itu #BukanUrusanSaya. Sama saja berprinsip selama anak saya tidak merokok di rumah ya nggak masalah. Kebiasaan merokok di luar akan memberi pengaruh terhadap perilaku si anak saat di dalam rumah. Salah besar jika kampus (dalam hal ini rektorat plus organisasi mahasiswa yang mempunyai "kekuatan politik") menganggap bahwa di luar gerbang tidak termasuk ekosistem yang patut dijaga. Area kos-kosan serta apa yang ada di sekitarnya masih menjadi ekosistem yang mempengaruhi kondisi civitas akademia. Selain itu ingat pula peran "pengabdian sosial" sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Kampus (minimal dengan definisi tadi, namun akan lebih sangat bagus jika disertai+didukung pula oleh seluruh civitas akademia) harus aktif memantau ancaman apa yang timbul di masyarakat yang berpotensi menjadi "penyakit" bagi mahasiswa. Salah satunya tentu dagangan yang ada di minimarket di sektiar kampus. "Tenang pak, mahasiswa nggak beli yang gituan kok pak", Lha emang ada yang berani ngasih jaminan? "Lha pak, kalau minimarket di sini nggak jual, kan dia bisa beli di minimarket sana (nunjuk yang radius 50km dari kampus)?" Aisshhh alasanmu banyak. Kampus perlu menekan agar minimarket di sekitar kampus tidak menjual barang aneh-aneh.

Tentu caranya bukan melakukan penggrebekan, razia, maupun demo. Perlu penyamaan pandangan antara mahasiswa, rektorat, serta pemuka masyarakat. Barulah melakukan pendekatan dan perjanjian secara damai dengan pengelola minimarket tentang hal tersebut. Kalau nggak mau? Lakukan propaganda secara "manis" yang berujung pada tekanan sosial. Kunci untuk melakukan itu semua ada pada sikap saling mendukung dan bergerak bersama. BEM mau sendirian? Nggak akan jalan. Rektorat mau bergerak sendirian? Hubungan dengan masyarakat nggak seakrab mahasiswa dengan masyarakat. Pemuka masyarakat mau bersikap? Sulit dilakukan jika mahasiswa masih jadi pelanggan setia minimarket itu, apalagi kalau beli barang-barang itu.

Kabinet itu bernama "kerja"

Huru-hara pemilihan presiden sudah menjadi memori yang "renyah" karena benar-benar membuat banyak orang terbius dan sakau utuk ikut berkoar-koar. Ok, yuk move on. Marilah kita orang menatap masa depan di bawah kepemimpinan Bapak Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla. Frase "kepemimpinan" sengaja saya pilih daripada "rezim" ataupun frase lain yang mencerminkan jabatan struktural. Kini kedua sosok tersebut diharapkan tidak sekedar terpampang di dinding sekolah-sekolah persis di bawah logo Garuda Pancasila. Konkreatnya "kerja" merupakan hal yang patut dibuktikan melalui formasi penuh ekspektasi yang bernama "Kabinet Kerja".

Walau bukan simpatisan dan pendukung keduanya tidak berarti yang saya tulis merupakan agresi/mosi tidak percaya. Namun lebih "sekedar cuap-cuap" dari seorang rakyat jelata.

Salut dengan busana yang dipilih untuk "launching" nama-nama yang dipercaya menjadi menteri. Tidak ada jas yang terkesan glamor. Kemeja putih dengan nuansa sederhana. Sebuah reminder bahwa mendapat "jabatan" tersebut berarti bukan untuk disombongkan ataupun dirayakan, namun fokuslah pada "kerja". Kasus tumbangnya 3 menteri di era Kabinet Indonesia Bersatu lantaran kasus korupsi agaknya menjadi rambu-rambu bagi JKW-JK untuk lebih antisipasi bahaya laten korupsi sehingga menjelang diumumkannya nama-nama menteri, organisasi bernama KPK berulang kali disebut-sebut tengah dijajaki kerja sama untuk melacak track record para calon menteri.

Sebagai masyarakat awam, terus terang saya masih belum memahami beberapa fenomena unik di dalam pembagian nama dan ruang lingkup kementerian di Kabinet Kerja ini, antara lain:

  • Apa bedanya Kementerian "Pertanian" dengan Kementerian "Agraria" dan Tata Ruang
  • Unik juga dengna adanya Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Koordinator Maritim, dua kementerian koordinator yang baru ada di periode ini
  • Mengapa pendidikan tinggi dialihkan dari Kementerian Pendidikan Nasional (lama) menuju Kementerian Riset dan Teknologi (lama) sehingga saat ini yang ada berupa Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Kenapa heran? Pertama, risiko yang sangat besar untuk memisahkan antara pendidikan dasar, menengah, dengan tinggi ke dalam dua kementerian yang berbeda. Kedua, jika alasannya agar apa yang dikembangkan di perguruan tinggi bisa diterapkan di riset dan teknologi, maka timbul pertanyaan "kenapa tidak digabung dengan perindustrian?"
  • Mengapa ekonomi kreatif dipisahkan dari Kementerian Pariwisata (d/h Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) sedangkansalah satu isu yang menjadi daya tarik orang memilih JKW-JK adalah ekonomi kreatif. Berhembus isu susulan bahwa ekonomi kreatif akan dikelola oleh badan setingkat menteri, nah pertanyaannya, apakah hal tersebut mampu setidaknya mempertahankan performa Kemenparekraf yang justru sudah memperoleh kepercayaan tersendiri di blantika orang kreatif Indonesia

Semoga Kabinet Kerja ini mampu menorehkan pengaruh positif bagi NKRI :)
Dan tak lupa agar menjaga nilai-nilai Bangsa Indonesia dari ancaman liberalisme, atheisme, serta hedonisme

Manfaatkan Potensi, Kuatkan Organisasi

Berasa di sebuah organisasi tentu tidak lepas dari tujuan utama organisasi tersebut dengan core atau inti pada bidang tertentu. Himpunan Mahasiswa Teknik Informasika tentu bukan sekedar anggotanya yang anak jurusan/prodi Teknik Informasika, namun harus ada kontribusi keilmuan di bidang informatika. Rumah Singgah Pecinta Qur'an tentu mengabdikan diri di dalam bidang mendakwahkan amalan-amalan yang bersumber dari Al Qur'an. Atau bahkan sebuah klub bernama Sriwijaya FC yang tentu memiliki sasaran utama pada olah raga sepak bola.

Meskipun demikian, sebuah organisasi tentunya memiliki sumber daya manusia dengan akrakteristik dan kapabilitas beragam. Karakteristik dan kapabilitas tersebut berbeda dengna mesin yang stabil dan mudah dikendalikan performansinya. Kondisi yang berbeda akan ditemui di dalam organisasi, khususnya yang berbentuk kemahasiswaan. Di dalamnya perlu pengelolaan SDM yang menawarkan pengelolaan sesuai dengan kebutuhan SDM tersebut. Namun harus disadari bahwa masih banyak organisasi yang menempatkan tujuan organisasi sebagai "berhala" dan menumbalkan potensi-potensi hebat anggotanya lantaran tidak memanusiakan manusia yang ada di dalamnya. Lho kok bisa?

Fenomena ini muncul lantaran pengurus (khususnya yang duduk di posisi manajerial) hanya memandang kesuksesan mencapai indikator keberhasilan sebagai sasaran kerja. Bagaimana dengan kenyamanan manusia di dalamnya? Ah itu urusan nanti. Toh harusnya mereka juga sadar bahwa di sini bukan tempat main-main, di sini ya buat kontribusi. Apakah pola pikir ini salah? Salah atau benar, saya bingung mengklasifikasikannya, tapi juga ditanya songong atau nggak, jelas jawabannya songong banget.

Manusia itu memiliki trafik yang dinamis, boleh jadi performansinya hari ini kereeen banget, tapi besok-besok anjlog. Ketika bicara performansi yang sedang melambung biasa saja, tapi ketika performansinya menukik, yang ada justru dikucilkan seolah-olah itu bukan urusan manajerial organisasi. Alhasil banyak kasus muntaber alias mundur tanpa berita lantaran si angota tidak merasakan kepedulian dari organisasi dan seolah-olah dia hanyamenjadi sapi perah atas berbagai program kerja.

Solusinya bagaimana?

Cobalah untuk menyempatkan waktu untuk melakukan hal-hal kecil yang sangat tidak formal dan diisi dengan hal-hal yang sifatnya rileks plus sesuai dengan kegemaran personel di dalamnya. Kebanyakan laki-laki gemar futsal, dan mayoritas perempuan demen masak. Hobi-hobi tersebut harus dari awal kepengurusan dikepoi lantas diterapkan melalui berbagai momen-momen unik yang mengakrabkan melalui kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan hobi/passion/kesenangan anggotanya.

Coba cari tahu seperti apa kebiasaan-kebiasaan unik perusahaan tertentu yang sifatnya nasional atau bahkan internasional. Pasti ada trik keakraban diantara para personelnya. Ada yang memfasilitas stik PES/FIFA di rest area kantor, ada yang menggantung raket plus menyiapkan net dan tiangnya di halaman parkir kantor, ada yang membuat diskusi tentang tokusatsu, drama komedi dan lain-lain. Kesamaannya apa? Mereka memanusiakan manusia di dalam organisasi tersebut

Soal Jumlah Karyawan vs Gaji

Ini sebuah kasus yang pernah saya lontarkan saat Fit and Proper Test calon Presma-Wapresma BEM KBM IT Telkom di medio Desember 2012. Saat itu ada sebuah poin yang dikaitkan dengan perspektif terhadap sosial kemasyarakatan. Inspirasinya diperoleh dari mata kuliah SPPK (SPPK-nya nggak mbahas informatika, tapi perpolitikan).

Deskripsi dari grafik tersebut ringkasnya begini
Sebuah perusahaan mempunyai alokasi gaji sekian rupiah. Sekian rupiah tersebut jika dibagi ke dalam jumlah karyawan yang banyak maka gaji tiap orang sedikit. Kemudian muncullah sikap dari asosiasi pekerja/karyawan menuntut kenaikan gaji. Padahal jika dana yang tersedia untuk menggaji karyawan sifatnya tetap. Jika gaji per karyawan naik maka jumlah karyawan mau tidak mau harus dikurangi. Artinya itu akan menimbulkan PHK yang (boleh jadi) massal. Nah lho...

Jujur dari dua pasangan saat itu tidak ada yang bisa memberikan jawaban yang jelas. Keduanya muter-muter pada jawaban diplomatis. Kalau saya yang ada di posisi mereka tentu sudah kelabakan wkwkwk.... Memang, saya akui ini pertanyaan yang masyaAllah dilematis sulit di jawab :)

Mungkin kawan-kawan ada yang punya solusi??

Subset vs Set

Iriskan Proker
Pprogram kerja memang menjadi hal yang menjemukan jika terlalu banyak dan berjalan sendiri. Hal ini kerap menimbulkan sifat egoisme intern tim terhadap kolektivitas organisasi. Padaha banyaknya program kerja yang dijalankan oleh masing-masing tim sama-sama mengalami kekurangan dana, SDM, waktu yang saling bentrok, dan yang kalah menyusahkan adalah peserta yang ikut sama-sama sedikit. Well, seperti kata pepatah, "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh". Lakukan analisis program kerja apa saja yang bisa dijadikan menjadi sebuah paket besar dan ramai untuk ditawarkan kepada calon peserta. Misalnya ada program kerja temu alumni organisasi X, ada juga buka puasa bareng anak yatim, kemudian ada pula HUT organisasi X, nah tentu akan relatif lebih efektif jika ketiga agenda itu digabungkan menjadi HUT organisasi X yang diisi dengan buka puasa bareng anak yatim dan alumni. Memang tidak semua program kerja cocok dipadukan, namun yang perlu dipilh mana nyambung.

Tim Building Barengan Yukk
Masa iya ketemu tim lain lagi-lagi membahaskan program kerja. "eh gimana proker ini?" "bro katanya indikator keberhasilan proker itu katanya belum tercapai?" aduh mama sayangee'ee kaku banget donk. Nah makanya adakan agenda ngumpul antar-tim tapi 100% jangna membahas proker. Isikan saja dengna agenda have fun, have fun, dan have fun. Dari situ bakal terbangun suasana yang lebih rileks dan mampu mencairkan suasana.

Sosialisasi Agenda Antartim
Seringkali ketidaktahuan agenda tim lain bakal menjadi penyebab seringkali tidak adanya dukungan antartim di dalam sebuah organisasi. Tim A sedang keteteran mengadakan agenda X eh tim B malah lagi asik kongkow tanpa orientasi yang jelas, besoknya tim A balas dendam ke tim B, begitulah seterusnya hingga Indonesia lolos ke Piala Dunia #ehkok?? So, intenskan informasi apa saja agenda tim lain yang bisa dibantu, didukung, ataupun ditopang dalam wujud apapun (tenaga, informasi, hingga semangat hehee).

Kampanyekan Kebersamaan
Cara terbaik untuk menumbuhkan kekuatan organisasi yang tidak terpecah-pecah di dalam masing-masing tim adalah mendoktrin. Kampanye kebersamaan secara positif dan kreatif bakal jadi metode yang lebih mengena ketimbang saling melempar kritik yang tidak jelas solusinya alias hanya album kompilasi isi keluhan doank.

Keluargakan Organisasi, antara mitos, ekspektasi, dan realiti

Dalam berorganisasi, tagline menjadi keluarga bukanlah hal yang jarang didengar. Sebaliknya, harapan itu selalu terselip, khususnya dalam acara non-formal. Sepintas mudah, namun yang sepintas itu seringkali tidak mencerminkan kenyataan. Apalagi ketika ada suara yang jujur (walau sering dianggap sumbang) merasa keluarga yang diidamkan tidak didapatkannya. Sikap saling menyalahkan pun mulai berseliweran, mosi tidak percaya pun kerap berseberangan. Singkat kata, realiti bahwa organisasi bisa dijadikan keluarga itu bak mitos, jadi berekspektasi boleh tapi soal realiti ya pukpukpuk saja deh...
"di sini 'kan emang tujuan kita menyukseskan proker, kita harus profesional, situ juga harusnya komitmen donk" Hmmm, bukan jawaban yang menyenangkan, sehingga perlu kiat-kiat khusus untuk mengeluargakan organisasi

Mulai dr doa
Tentu yang namanya keluarga itu mendapat space untuk di-mention di dalam panjatan doa, khususnya setelah sholat. Nah, jika memang ingin organisasi beriklimkan kekeluargaan (bukan macam koperasi lho ya) mulailah dengan rajin memberikan doa yang terbaik. Ketika terbiasa mendoakan tentu akan lebih mudah hati kita memperoleh kenyamanan di organisasi tersebut. Bahkan jika sesama organisasi saling mendoakan kebaikan, artinya saat itu pula dirimu memperoleh doa kebaikan dari orang lain :)

Redefinisi tujuan
Tentu tidak mungkin seseorang bergabung dengan organisasi tanpa tujuan. Masa iya jug ujug ada di dalamnya wkwkwk. Sudah bisa dipastikan akan ada perbedaan tujuan, ada yang diajak teman, ada yang pengin belajar organisasi, ada mau menekuni bidang tertentu (misalnya desain, keilmuannya dll). Ketika ada berbagai tujuan berbeda, akan dimungkinkan cara menjalani organisasi tersebut berbeda sehingga peluang terwujudnya rasa kekeluargaan akan lebih sukar. Apakah harus didoktrin agar mereka menanggalkan tujuan awal tersebut? Tidak, yang perlu adalah redefinisi tujuan dimana seorang koor, hingga ketua melakukan gerilya untuk menumbuhkan tujuan baru yang tak kalah muliahnya secara baik-baik dan tujuan itu adalah mengeluargakan organisasi tersebut.

Peka memahami
Masing-masing individu perlu menjadi diri masing-masing lebih peka. Peka untuk apa?
Peka untuk menanyakan berbagai hal di luar urusan proker
Peka untuk membantu sebagai seorang saudara yang siap membantu saudara/saudarinya tanpa pamrih
Peka untuk aktif memberikan semangat tentang kekeluargaan tersebut
Namun bersikaplah tidak peka dalam arti jangan terlalu banyak mikirin apa yang udah didapatkan, sudahlah, fokus saja ke apa yang bisa dirimu berikan :)

Propaganda
Lakukan berbagai metode untuk menumbuhkan kesan positif bahwa organisasi ini memang diliputi suasana kekeluargaan. Bukan berarti palsu, tidak begitu. Kampanyekan nilai-nilai positif tentang kekompakan sekecil apapun agar mampu memotivasi optimisme seluruh personel di dalam organisasi tersebut.

Lupa Adat

Coba tanyakan ke orang sekitar "Siapa saja presiden Indonesia sejak merdeka hingga saat ini?" Kemungkinan besar jawabannya adalah "Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY", mungkin berbeda dikit tapi sekarang kecenderunhgannya memang begitu. Lho cenderung apa? Lihat kata "Bung" dan "Pak" yang tidak menyertai nama presiden sejak presiden keempat dan keenam ataupun "Bu" bagi presiden kelima.

Sama saja dengan ngomongin calon presiden sekarang ini. "ah jokowi capres gini gini" "ih prabowo capres gitu gitu". Sangat jarang menyertakan kata "Pak". Kata "Bapak" baru dipakai kalau ketemu orangnya langsung ya hehee.

Budaya egaliter memang deras masuk di Indonesia pasca revolusi 1998. Berbagai kebiasaan yang mengagungkan pemimpin dihilangkan. Intinya semua sama. Intinya kini era bebas. Padahal egaliter yang kita aplikasikan harusnya tetap memperhatikanv adat budaya kita punya. Memanggil orang lain (apalagi yang lebih tua) maka sangat tidak.dianjurkan langsung nama. Kalaupun ada kalimat informasi yang tidak memakai nama maka gunakan nama lengkap.


Siap presidenmu? SBY
Siapa gubernurmu? Jokowi (kalau lagi di DKI), Aher (Jabar mode ON), Ganjar (kembali ke Jateng)
Siapa ayahmu? hayooo...berani nggak?? pasti tengok kanan kiri

Terlepas dari berbagai kekurangannya, kita masih harus menghormati orang lain dengan tetap menyematkan sebutan yang layak. Memang saya sendiri sering ngucapkan nama dan lupa label "Pak" ketika membicarakan sosok-sosok pemimpin di negeri ini. Mereka bukan untuk dipuja tapi untuk dihargai karena mereka representasi dari negara, provinsi, hingga daerah yang dipimpinnya.

Pencitraan sebagai Branding KM

Pencitraan, terlepas dari hiruk pikuknya Pemilihan Presiden, ternyata merupakan hal yang harus dipikirkan matang oleh sebuah organisasi dalam lingkungan bersosial. Contoh pencitraan yang paling sukses (selain salah satu kandidat presiden) adalah Wali Kota Bandung, Kang Emil. Berbekal kemampuan melek informasi (dna tentunya didukung orang-orang sekitar), dia mampu membangun citra positif pada dirinya serta Kota Bandung versinya. Menariknya lagi, banyak karya beliau yang pada akhirnya mudah diketahui masyarakat karena citranya sudah terlanjur positif. Tentu jadi pelajaran berharga bagi Keluarga Mahasiswa (d/h Keluarga Besar Mahasiswa) maupun Ikatan Keluarga Mahasiswa untuk mengadopsi konsep tersebut. Cukup dengan ber-socmed kah? Kok gampang banget sih?

Citra erat kaitannya dengan visi serta ekspektasi.
Setiap pemimpin tentunya memiliki visi serta ekspektasi. Itu wajib. Pencitraan sebagai branding KM merupakan strategi yang harus dibangun di awal sehingga semangat yang tertuang di dalamnya dapat lebih mudah diwujudkan. Optimis, penuh kreatif, kritis, ceria, penuh cinta, persahabatan, darurat dll itu semua merupakan citra ketika sejak terpilihnya seorang ketua maka harus segera dibangun. Gebrakan pencitraan di awal menjadi hal yang penting sehingga apa yang ditawarkan lebih jelas.

Tentu kita lebih mudah mengetaui seperti apa Kota Bandung yang ditargetkan oleh wali kotanya sekarang karena citranya jelas dan positif. Tak heran respon positif untuk ikut serta lebih mudah didapat. Hal ini patut ditiru oleh KM.

Yang penting kerja nyata
Namun seringkali kesuksesan di lapangan tidak semua orang tahu. Ada progja pembangunan sarana publik untuk masyarakat, ada advokasi beasiswa, hingga pencerdasan anti-korupsi. Namun ujung-ujungnya keberpihakan mahasiswa di dalam KM akan kembali pada apa yang mereka ketahui. Di sinilah peran pencitraan, bukan sebagai riya tetapi metode untuk membangun kepercayaan publik.

KM saat ini dalam keadaan genting
Satu per satu rekruitasi diperpanjang karena kekurangan SDM disertai alibi yang diplomatis
Tingkat partisipasi terhadap kegiatan yang melibatkan KM anjlok drastis.
Pucuk penggerak KM punya visi apa pun entah apa yang ditangkap /dimengerti oleh yang menjadi anggota biasa KM
Sudah saatnya bekerja lebih terbuka
Sudah waktunya membangun citra KM sebagai awal untuk mewujudkan jalinan penuh rasa percaya
Dengan demikian apa yang dicitrakan tak lagi hanya pencitraan tapi kenyataan

Tinjaulah roadmap KM melalui visi dan misi penggeraknya
Sinergikan seluruh elemen di dalamnya
Gaet kepercayaan melalui pesan-pesan kreatif di social media
Galang kebersamaan yang tidak dibatasi program kerja
Tapi ingat bahwa pencitraan sebagai branding KM tidak cukup, pencitraan hanya trigger/pemancing di awal... Komitmen untuk realisasi itu jadi kuncinya

Direktori Lokal Entrepreneur Kampus

Contoh virtual booth dari http://waterworld.com

Melihat web Indonesia Kreatif di bagian direktori (directory.indonesiakreatif.net) dan web ITPB (URL-ny masih rahasia karena belum launching ^^) jadi dapat inspirasi bikin direktori buat mahasiswa yang jadi lagi jadi entrepreneur di kampus. Wah...badhe kunaon ieu ??
Konsepnya sederhana...:)
Bisa diinisiasi oleh BEM, bisa pula himpunan ataupun ormawa lain yang terkait kewirausahaan.

Diawali dengan menyediakan sebuah website yang isinya itu virtual booth. Weh..opo meneh kui??
Virtual booth ya bisa dibilang booth alias stand alias outlet yang sifatnya digital (agak gaib hehee). Kemudian disajikan ke dalam wujud pameran/ekshibisi yang tampil di monitor.

Di sini setidaknya diperlukan 3 kekuatan:
  • Pertama programming untuk mengubah ide-ide menjadi produk "astral" yang lebih manusiawi. Masa iya semua booth-nya dituangkan begitu saja tanpa ada fitur-fitur yang membuat nyaman pengguna? Perlu berbagai rekayasa coding-an agar pengguna dapat mengetahui mana lapak yang mengupas kuliner, mengulas jasa public speaking, membahas ATK. Ini baru contoh, yang lain? masih banyak :)
  • Kedua design yang menjadikan konsep sederhana ini dibalut keindahan yang menawan. Kalau cuma kotak-kotak berisi logo tentu sangat datarrr. Mungkin bisa divariasikan pintu masuknya berupa pintu, ataukah matriks, ataukah tematik yang unik
  • Ketiga relation yang menghimpun keunggulan virtual booth ini menjadi sebuah paket kerja sama yang menarik bagi pengisi virtual booth serta pengunjungnya.
Ngomong-ngomong kerja sama, bagaimana konsep income-nya? Ada dua opsi.
  • Satu, jalankan secara gratis, hehee, ya itung-itung CSR-nya BEM/himpunan lah... :v
  • Dua, komersilkam fitur-fitur di dalamnya. Plot durasi, plot layout, hingga fitur-fitur lain yang bisa jadi kelebihan dari virtual booth yang disediakan
Kalau di directory.indonesiakreatif.net masih simpel, pasti ada desainer dari mahasiswa mampu lebih kece :)

Terus timbul pertanyaan kenapa harus ada virtual booth ataupun direktori beginian? -_-" dagang ya dagang aja sana...
Guys...wirausaha itu sebuah keinginan yang sangat mulia. Tentu potensi yang luar biasa dan sangat mungkin terus berkembang. Ketika ada mahasiswa yang memerlukan bantuan dan kesempatan untuk mengembangkan wirausahanya tentu jadi panggilan bagi BEM ataupun himpunan atau juga ormawa yang terkait:)
Selain itu, bagi ormawa yang ingin menyelenggarakan sebuah kegiatan dan membutuhkan topangan sponsor, keberadaan virtual booth ini tentu akan membantu karena dapat memperoleh informasi mahasiswa mana yang bisa diajak bekerja sama, entah itu menopang logistik, jasa dll.
Bagi mahasiswa yang biasa namun ingin belajar dari mereka yang telah merintis jalan, tentunya keberadaan virtual booth ini menjadi inspirasi yang sangat membantu
Tak lupa bagi mahasiswa pemilik virtual booth, dia memperoleh kesempatan ingin memiliki sebuah ruang digital tempat promosi, galeri produk, unjuk portofolio, membuka lowongan kerja, menawarkan kerja sama, berekspresi kreatif dalam berwirausaha, ahhh pokoknya banyak dah.. :)

Semoga menginspirasi :))

Monggo yang mau diskusi *nggakjugagapapa*

Yuk Diskusi

Diskusi kerap identik dengan adu argumentasi dan kesan eksklusif yang hanya bisa diikuti oleh orang-orang "pilihan". Padahal budaya berdiskusi yang "sehat" merupakan indikasi intelektualitas dalam kehidupan kampus.

Mengobrol memang hal yang asyik, saking asyiknya kadang sering lupa waktu, tentunya hanay perlu sedikit pemantik maka terucaplah berbagai ide plus curhat terhadap masalah yang dibahas, entah itu terkait akademik, hobi (misalna prediksi skor pertandingan bola nanti malam), lingkungan masyarakat, hingga urusan negara #ciee Nah, tentu bakal asyik, menarik, dan eksentrik jika obrolan-obrolan tadi menghadirkan sebuah paket berisi menu-menu solutif.

Forum Group Discussion, alias FGD, memang menjadi istilah yang agak asing, padahal intinya mengobrol hanya saja "terarah", lha emang ada gitu obrolan yang terarah? bukannya yang peting enak mengalir? kok dibikin repot sih? Yupss, mulut itu berjarak satu kilan dari otak, namun berjarak 2-3 jari dari hidung, maka wajar saat sesak nafas lebih mengutamakan yang penting ngomong daripada kecerdasa otak..eitssss, kok argumentasinya aneh ya? nggak logis banget... Nah itulah ketika tidak mengedepankan esensi satu pemabahasan maka yang terjadi adalah argumen yang tidak nyambung. Maka perlu suatu pengarahan agar arah obrolan bersifat produktif :)

FGD sebagai medan saling memahami
Beda pendapat dengan orang lain? Ah tentu itu hal yang wajar. Masa iya bisa terus-terusan memiliki ide yang sama? Hehee... Nah di sinilah peran sebuah budaya berdiskusi yang "sehat" :)
Melalui budaya berdiskusi yang sehat kita dapat mengetahui keragaman berpikir antar-entitas, bahkan individu. Dalam mendiskusikan sebah hal yang krisual dan memberi efek besar bagi banyak entitas, misalnya pandangan dalam kenaikan BBM, pandangan tentang peraturan norma bermasyarakat, pandangan tentang kurikulum, memang lebih gampang ketika hanya mengundang/menyertakan pihak yang cenderng setuju dengna opini kita, yang kayaknya beda pendapat nggak usah diajak. Nah 'kan gampang plus enak tuh...
Eitsss, justru diskusi yang sehat akan terbangn ketika seluruh entitas yang dilibatkan dalam diskusi bersifat lebih luas dan merpakan pihak yang memang berkaitan dengan topik diskusi, urusan beda pendapat itu lain cerita. Memang bakal lebih alot, tapi dari situ segala unek-unek berkaitan dengan topik diskusi akan lebih dapat dipaparkan lebih gamblang, dan boleh jadi berbagai info baru akan diperoleh. Misalnya diskusi mengenai bagaimana arah kurikulum sebuah program studi. Tatkala hanya menghadirkan dosen yang mengajar maka hasil diskusi hanya akan bagus dari sudut pandang dosen. Akan lain cerita saat mahasiswa, alumni yang telah bekerja, perwakilan DIKTI, hingga praktisi bidang terkait jaga diundang. Menyatukan pendapatnya memang sulit, tapi di sinilah medan untuk saling memahami :)

FGD sebagai langkah kematangan berpikir
Ada yang bilang mahasiswa kaum intelektual yang cekatan, walau kata "cekatan" sering berganti menjadi "grusa-grusu" alias tergesa-gesa. Hal ini sering dialamatkan ke mahasiswa karena dalam tempo satu malam sudah bisa merencakan sebuah aksi berwujud demo. Sepintas memang menunjukkan kelihaian dan jam terbang yang keren, namun di sisi lain timbul pertanyaan bahwa apakah rencana ersebut sudah matang, apakah isu yang digusung memang layak didukung/dikontra, atau juga emang itu satu barisan udah kompak apa cuma ikut-ikutan
Melalui diskusi, harusnya mahasiswa dapat meningkatkan kematangan berpikir. Lhe? Emang bisa?

  • Pertama menghargai waktu. Label "jam ngaret" sering ditempelkan ke pundak mahasiswa karena ya gitu jam berapa undangannya jam berapa mulainya. Melalui diskusi, maka sudah seharusnya bisa menyadari bahwa berharganya waktu. Semakin matang pula untuk menyadari bahwa yang hadir dalam diskusi juga punya agenda lain, maka jangan mengulur-ulur waktu
  • Kedua mempersiapkan agenda dengan baik. Memang cepat identik dengan yang bagus. Namun akan ada saatnya dalam sebuah diskusi disusun agenda yang relevan berupa pembagian sesi dalam berdiskusi. Misalnya di sesi 1 pengumpulan daftar masalah, sesi 2 pengumpulan daftar potensi, sesi 3 permusan solusi tiap masalah, sesi 4 penyusunan agenda penerapan solusi berjangka waktu. Tentu hal ini akan menjadikan kesiapan bertindak lebih matang.

FGD sebagai bekal di "dunia sebenarnya"
Dunia pasca-lulus dihiasi berbagai warna yang beragam. Ada yang berkutat dengan asyiknya ber-entrepreneur, ada yang sibuk membenahi birokrasi, ada yang menggemari riset, ada pula yang menyelami karir sebagai praktisi, ahh...macam-macamlah. Garis besarnya satu, mengoptimalkan peran sebagai makhluk sosial. Makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dengan sesama. Interaksi ini direpresentasikan dalam berbagai aktivitas berkomunikasi. Tentunya komunikasi yang berakaitan dengan bagaimana caranya mengembangkan potensi dan mengatasi permasalahan, baik dalam lingkup organisasi, korporasi, hingga kenegaraan. Dengan demikian, kemampuan berdiskusi secara produktif, ilmiah, dan sistematis merupakan sebuah keahlian yang perlu dibina dari bangku kuliah. Memang bukannya tidak mungkin, namun akan ada kesulitan untuk memecahkan permasalahan lingkungan di sebuah provinsi, jika tidak pernah berdiskusi bagaimana cara memecahkan masalah sampah di kampus. Tentu akan jadi bekal berharga bagi seseorang jika pernah mendiskusikan strategi membangun sistem informasi yang berguna dalam mengatasi masalah keamanan di kampus, kemudian kemampuan tersebut diadopsi untuk memecahkan masalah keamanan di suatu kota. Kemampuan berkomunikasi seperti mengatur emosi, fokus pada topik, dan mempergunakan argumentasi yang relevan, akan jadi bekal untuk memunculkan peran yang optimal dalam bermasyarakat.
Semoga bermanfaat dan selalu terbka untuk masukan, kritik, dan diskusinya :)

Apa Kabar Peran Himpunan [2] dan BEM (juga)

Himpunan selalu menorehkan inovasi
Seolah tiada surut inspirasi dan aktif sebagai tradisi
Saat masih ada yang belum terpenuhi maka di situ pula selalu ada saja solusi
Walau tiada pasti semarak berselebrasi, namun inovasi senantiasa melayani.

Problema yang kerap dijumpai seorang mahasiswa tentu pelik #ceileh. Baik sebagai mahasiswa tahun pertama, tahun kedua, ketiga, keempat, hingga periode ekstensi, masing-masing punya topik tersendiri dalam bergalau. Ada pula krisis yang senantiasa melekat tanpa peduli tahun keberapa?

Mari kita tengok tantangan yang menggelayuti pikiran tiap tahun.

Tahun pertama, kebingungan tentang benarkah prodi yang saya pilih ini sesuai dengan diri ini. Ibaratnya "gue cocok nggak sih di sini?" Di tahun pertama, intensitas bertemu teman sesama SMA tentu menjadikan "eh, gimana kuliah di situ?". Kalau tahun pertama ini lancar, tentu jawabannya berupa senyuman yang memancar cerah, sebaliknya jika galau tentang salah jurusan bakal menjadikan senyuman datar sambil garuk-garuk kepala. Itu baru tentang hati nurani dalam memilih jurusan. Tantangan lain? Salah satunya nasib rantau. Yups, hampir mayoritas perguruan tinggi diisi oleh mahasiswa yang domisili aslinya bukanlah di sekitar kampus. Bahkan di sejumlah kampus seperti Universitas Telkom, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Institut Teknologi Bandung dll, malah berstatus sebagai lumbung "diaspora" sehingga mahasiswa "lokal"-nya hanya menjadi minoritas. Kehidupan sebagai anak rantau yang jauh menjadikan mahasiswa tahun pertama (dan tahun-tahun berikutnya) rawan terhadap godaan yang menggiurkan dari hedonisme. Belum lagi serba-serbi berbagai rekruitasi "terselubung" untuk menjadi kontestan jamaah ini itu yang yaitulah...

Bisa dibilang tantangan terbesar di tahun pertama adalah "keyakinan dalam memahami jurusan/perguruan tinggi" serta "adaptasi di dunia baru"

Tahun kedua, boleh jadi kegalauan di tahun pertama masih melanda yaitu per-salahjurusan-an. Namun intensitasnya sudah berkurang, mungkin karena pasrah atau juga terlanjur bersemangat dengan perkuliahan yang ada. Ini juga menjadi kesempatan terakhir mendaftar di beberapa sekolah kedinasan seperti STAN dan STIS. Tapi badai lama mereda dan muncullah badai lanjutannya, yaitu keasyikan di berbagai organisasi kemahasiswaan. Yups, tahun kedua (dan nantinya di tahun ketiga) merupakan periode gemilangnya seorang mahasiswa berkarir di dalam kancah organisasi kemahasiswaan. Ada yang cukup satu, ada juga yang ber-poliorganisasi. Teorinya mudah, ketika ada agenda bersamaan maka pilih yang sedang memerlukan prioritas, namun kenyataannya?? *mengusah keringat* Dari sisi akademik sendiri, tahun kedua merupakan masa transformasi menuju "core" jurusan/program studi. Bagi informatika, tentu santapan malam hingga malam lagi ialah COA, SE, DBS, dan pastinya ADS. Dan kebanyakan tugas dikerjakan secara berkelompok, dari sinilah softskill tentang bekerja sama versus adu ego akan jadi lakon tiap hari.
Tak salah untuk menyebut bahwa di tahun kedua ini yang menjadi momok adalah "jati diri untuk berekspresi" serta "manajemen waktu"

Di tahun ketiga (bagi S1) merupakan klimaks dalam arti karier di ormawa. Pucuk pimpinan macam ketua, wakil, dan kisaran BPH lazim diemban mahasisw tahun ketiga. Bahkan jabatan koordinator asisten pun identik di generasi tersebut. Dengan kondisi demikian, jelas himpunan dan BEM tidak bisa menutup fakta bahwa mahasiswa di tahun ketiga memerlukan pendidikan yang khusus. Pengelolaan lab dan ormawa ada di pundak mereka, jika hanya membiarkan mereka otodidak atau paling banter belajar dari diskusi dengan seniornya+LPJ maka outputnya tidak jauh-jauh dari orientasi "menambal ban", bukan menggebrak lewat inovasi. Banyak isu strategis yang patut diapungkan, seperti kecerdasan mengambil keputusan, kematangan manajemen waktu, tata kelola administrasi dmbl. Itu baru ditinjau dari keormawaan. Padahal masih ada aspek lain seperti akademik, riset, dan pengabdian masyarakat.
Secara akademik, karakter kejuruan jadi topik yang perlu dikaji. Tentu tidak diharapkan output yang tidak tahu potensinya di bagian mana. Himpunan punya peran besar untuk ikut memberi pencerdasan tentang bagaimana kejuruan di jurusan/prodi tersebut. Masa iya nggak punya info dari dunia kerja ataupun alumni.

Mengenai riset, harus diakui bahwa ini bukan ranah yang sudah lihai dimengerti oleh himpunan dan juga BEM. Bagaimana peran himpunan dan BEM pun kerap kerdil di ranah riset. Alhasil riset tidak menjadi lahan yang disoroti oleh calon ketua himpunan maupun ketua-wakilketua/capres-cawapres BEM.

Himpunan dianggap identik dengan akademik, BEM dengan pengabdian masyarakatnya, dan lab dengan risetnya. Ketiganya seolah yang terpisah dan asyik sendiri-sendiri. Dan tak lupa isu pengabdian masyarakat yang perlu dipantik lagi. Perlu dilakukan kajian tentang seberapa besar (%) partisipasi mahasiswa dalam kegiatan pengmasy. Tahun ketiga tentu sewajarnya si mahasiswa sudah tahu masalah di sekitarnya, sudah tahu potensi di dirinya serta bagaimana mempertemukan dua pengetahuan tersebut.

Hal ini menegaskan bahwa di tahun ketiga, faktor-faktor yang patut dituding sebagai pangkal keramaian adalah kebutuhan profesionalitas pengurus ormawa+lab, pemahaman kejuruan di dalam disiplin ilmu jurusan/program studi, serta partisipasi riset+pengmasy.

Dan di tahun keempat maka topiknya tentu bermuara pada skripsi dan dunia kerja. 
Kondisi saat ini riset didominasi yang berstatus skripsi membuat kualitas sebuah perguruan tinggi sangat dipengaruhi oleh kualitas skripsinya. Prospek di dunia kerja pun tak luput dari kegundahan mahasiswa tingkat akhir. Keasyikan kuliah kerap membuat kesiapan masuk dunia kerja menurun, alhasil pilihan sebagai pengikut arus lebih banyak diambil. Dalam dunia kerja, yang lebih penting bukanlah hardskill, melainkan karakter diri dan konsep karakter diri yang dipergunakan oleh banyak perusahaan adalah MBTI, yaitu dimensi I-E-N-S-T-F-P-J. Banyak mahasiswa yang justru tidak bisa mengidentifikasi karakter dirinya sehingga terombang-ambing dalam merencanakan masa depan.

Di dua hal ini, himpunan (dan BEM juga) patut mengambil peran. Perannya tentu diwujudkan sebagai penggerak yang memberi inspirasi dan pencerdasan di dua hal tersebut, tidak melulu berupa event, namun bisa melalui berbagai bentuk kreatif lainnya.

Itu tadi isu-isu sakral di masing-masing tahun mahasiswa. Lantas apa dan bagaimana himpunan (dan BEM) berperan? Apakah sekedar penggembira? Semua berpulang pada kaderisasi dan kaderisasi yang berwujud apakah

Mari kita ulas di artikel sekuel ketiga ini nanti ^_^

Kebebasan Bertepuk Sebelah Tangan.

Kita analogikan dengan merokok. Ada dua orang merokok. Yang satu mengklaim merokok adalah haknya dan satunya lagi memiliki hak menghirup udara segar. Dengan demikian ketika keduanya bersebelahan dengan kondisi si orang pertama merokok. Tentu akan timbul gesekan hak.

Kebebasan di dalam era sekarang
Mungkin itulah yang menjadi alibi orang-orang yang (maaf ya) salah kaprah terhadap makna kebebasan. Definisi kebebasan yang boleh jadi dimengerti adalah "silahkan lakukan yang gue suka, kalau lw nggak suka yaudah jangan di sini". Pola pikir inilah yang kemudian menjadi seseorang malah seenaknya. Saking seenaknya, kebebasan diartikan sesuka dia dan mengabaikan hak-hak orang lain.

Ulasan tentang miss olimpiade saya akui sebagai latar belakang menulis ini. Ada salah kaprah yang dipahami dalam definisi kebebasan. Ada yang berasumsi sebagaimana frasa di atas.

Tidak bisa dibohongi adanya sikap mengkotak-kotakan mahasiswa. Dan saking nggak jelasnya cara berpikir, banyak merasa terkotak-kotakan justru karena cara berpikir yang merasa sok' didiskriminasikan. Sikap mengkotak-kotakan menjadi anak gaul dan anak santri. Stereotipnya, anak gaul itu identik dengan hiruk pikuk kontemporer dan anak santri diasosiasikan dengan sikap kaku dan sok mengatur. Alhasil ketika muncul pro dan kontra, yang dilihat pertama bukan substansi perdapat, melainkan teman-teman saya ada di pihak mana. Untuk kasus yang seperti ini, saran saya singkat "banyak-banyaklah bergaul".

Dan tentang kebebasannya, untuk sekesian kali saya tuliskan bahwa ada yang mendefinisikannya "silahkan lakukan yang gue suka, kalau lw nggak suka yaudah jangan di sini". Dan kalau dilihat secara global, mereka (entah sadar atau tidak sadar) mengkebiri kebebasan orang lain, ya mengebiri sesuatu yang dengan manisnya bibir mereka perjuangkan. Ya jelas ketidakkonsistensian.

"Ah loe, banyak protes, hargai kebebasan napa?"
"Ya iya ini kan kebebasan gue buat nyampaikan keluhan"
"Iya tapi kan gue males dengernya, kalau lw nggak suka yaudah nggak usah didengerin"
"Nah itu...kalo loe juga males ndengernya, ko ngapain loe masih ngedengerin gue?"

Tidak ada kebebasan yang seenaknya. Yang namanya kebebasan itu berkaitan dengan sejauh mana apa yang boleh dan tidak boleh dalam berperilaku.

Mading... Kapan tertibnya ya?

Sesuatu yang tidak pernah berubah dari dulu di kampus IT Telkom hingga kini FTE, FRI, dan FIF Universitas Telkom adalah semrawutnya publikasi poster di berbagai penjuru.

Hingga akhir 2010, tengah gedung B merupakan lokasi mading ormawa serta mading umum. Baik itu urusan ormawa hingga jualan atau bahkan pengumuman dari rektorat, papan-papan itu jadi sarana yang strategis. Faktor social media yang belum semeledak sekarang turut membari andil seberapa berharganya lokasi di situ. Tumpukan sekian kertas jadi pemandangan yang lumrah lantaran kepedulian untuk memberesi relatif rendah. Tahu sih tahu kalau pemasangan posternya berantakan tapi ya udah. Begitu juga ketika bagian pubdok sebuah kepanitiaan, divisi media sebuah organisasi hingga bagian promosi sebuah lapak jualan memasang poster di mading, namun lupa (atau emang sengaja ya biar eksis) mencabut kembali publikasi yang sudah dipasang. Alibinya selalu sama "itu poster saya udah ketimpa poster orang, susah nyabutnya", ya saya juga lihat kalau poster dia sudah ketimpa, cuma kalau "susah" itu sih alasan doank (yang merepresentasikan kemalasan :v). Ya begitulah "valid until" merupakan barang berharga yang sempat dimuseumkan karena sulit menemui pengumuman yang memberi kejelasan kapan expired-nya. Itu baru tentang expired, bicara ukuran kertas? Walah, udah kayak bayar SPP-nya paling gede aja, lho kenapa emang? Yang lainnya ukuran A4, eh ini ada yang masang A2, ckckck, nggak sekalian pasang baligo buat nutupin semua poster saingan loe aja bro?

Kalau ditanya aturannya ada apa nggak, jawabannya ada. Tapi bahasa kalimat khasnya sebuah SOP tentu tidak dianggap menarik maka dianggap lalu lalang begitu saja.

Mari kit apaligkan wajah ke student center, aduh, podo wae -_-". Ya gitu lah, di gedung B yang ada aturannya saja dilanggar apalagi di SC yang belum ada aturannya :/

Yang penting pengumuman gue eksis dan acara gue sukses bos. :(

Tak cukup berperilaku seenak di kosan, jamak dijumpai berbagai poster yang dipasang di pinggir lorong kampus. Malah tak cukup di pinggir lorong, di tengah lorong pun ada. Wah wah wah, mana ada yang berargumen bahwa itu adalah bagian dari strategi membangun eksistensi. Hmmm, eksistensi macam apa sih yang dia ingin? Kalau yang tertanam di otak saya sih, eksistensi mereka tidak bertanggung jawab. Nggak itu departemen sebelah (yup, departemen sebelah ada yang begitu), sekre sebelah, sekre tetangga di student center

Dan begitulah perilaku pragmatis diajarkan sebagai implementasi egoisme organisasi di lingkup kampus.

Beberapa aksi pendobrak sempat dilakukan oleh tukang media di J102. Regulasi mading dimunculkan di dalam sebuah musyawarah ormawa di awal Maret 2010. Pasca itu pun semua ormawa dikirim hasil keputusannya plus pemasangan regulasi di dalam bentuk rangkuman persis di atas mading. Harapannya tentu membangun kesadaran dalam berkomunikasi lewat informasi tertuis yang (harusnya) bertanggung jawab. Dengan menjadi ninja malam hari, mereka mencabuti (paksa) poster yang sudah expired dan hanya menyisakan yang masih berlaku informasinya. Yang ukuran segede gaban? Mmmm, yang macam begono besok udah nggak ada *evilsmile*. Ternyata bukan hal yang mudah mempertahanakan sebuah regulasi, butuh konsistensi -_-"

Seiring perpindahan lokasi mading ke area selasar, tingkat pelanggaran mading umum ternyata tidak berkurang. Padahal social media udah nge-trend. Lokasi juga nggak sestrategis dulu waktu di tengah gedung B. Kesadaran untuk mencabut sendiri poter yang dipasang di beberapa hari sebelum masih saja kurang terbangun. Tempelan-tempelan sok lucu di lorong? Ah, masih seperti dulu kok :v

Bicara kewajiban dan hak untuk bertindak tentu berpulang bagaimana regulasi mengaturnya. Ketika BEM 2010 menginisiasi sebuah regulasi mading di gedung A, B, dan J, di situ tercantum bahwa semua civitias akademia mempunyai hak untuk bertindak bila ada publikasi yang tidak sesuai dengan aturan. Memang sih, kesannya biar nggak jadi kambing hitam (kalau ada yang nanya <misalnya DPM yang sering tanya> 'eh itu ko poster yang salah gitu masih dipasang' maka tinggal dijawab 'lha kan semua orang boleh langsung nyabut yang nggak sesuai, nggak usah nunggu bem kali :p'). Namun tujuan sebenarnya adalah menjadi sense of belonging untuk menjaga aset publik mading tidak hanya milik bem, khususnya tukang media, tapi bisa dimiliki oleh civitas akademia. Itu bahasa diplomatisnya begono, realisasinya? Ya susah juga sih kalau siang-siang ada mahasiswa biasa tahu-tahu nyabut pengumuman di mading, bisa-bisa kena tonjok yang punya posternya malah.

Budaya poster seenak ayam rica-rica emang sulit didobrak secara instan. Perlu cara yang kreatif. Apalagi baik BEM fakultas dan himpunan prodi tidak pernah membuat sebuah riset yang ilmiah tentang perilaku mahasiswa (dan boleh jadi ini yang bikin banyak progam kerjanya belum bisa dibilang sukses diikuti orang banyak <kecuali PDKT buat mahasiswa baru, dan itu karena agak diwajibkan>, acara macam pengmasy, kajian politik ya ramenya kalah ama warung kopi di PGA).

Sempat mengamati perilaku berposter di sejumlah kampus. Di Undip, poster relatif rapi, tiap ormawa punya mading di depan sekrenya, mading umum pun ramai namun masih teratur. Di Unnes, UNS, UGM, hingga UNY pun kondisi serupa. Suasana relatif rapi. Boleh jadi karena jumlah informasi yang diposterkan nggak banyak (mungkin), boleh jadi lebih gemar makai social media (mungkin), boleh jadi budget nge-print poster nggak sejor-joran di IT Telkom (mungkin hehee), dan boleh jadi terbiasa dengan budaya tertib (mungkin mmm, tapi prefer alasan ini nih hehee). Di UI dan ITB posternya masya Allah ramai banget, nggak ada mading yang lowong, semuanya penuh. Memang ada psoter yang expired, namun jumlahnya sangat jarang. Khusus di UI, yang agak berantakan justru di sekitar halte bis kuning, di gedung kuliah rapi. Berarti kalau bukan faktor aturan yg tegas maka emang budaya malu masang seenaknya sangat tinggi (dan bisa jadi dua-duanya). Berarti hmmm

#ahsudahlah Let's Talk about Future :)
Ngomongin masa depan tentu lebih asyik bro, kenapa? Memberi banyak ide untuk diterapkan dengna kreatif.

Tidak semua kampus bisa ditelusuri dengan detail bagaimana ceritanya bisa lebih baik ketertibannya dalam mengelola mading sebagai aset publik. Maka, besar harapan saya, agar BEM dan himpunan prodi untuk melakukan riset tentang bagaimana caranya membangun budaya tertib menyebarkan informasi tertulis. Tidak perlu malu menanyakan hal yang (sepintas) sepele seperti ini ke kampus lain.

Ada beberapa kampus yang memang memiliki kultur tersendiri dalam meregulasi informasi berupa poster, bahkan dibuat aturan legalnya. Misalnya di sebuah PTN yang menerapkan kewajiban lapor kepada petugas untuk memasang poster di area publik. Bahkan saat lapor, pemasang wajib memberi jaminan ketertiban berupa uang. Pungli nih? Eitss, uang ini sifatnya mirip "asuransi", ketika poster dicabut kembali (dibuktikan dengan melaporkan dan emnunjukkan poster yang telah dicabut kepada petugas) maka uang tersebut daat diambil sepenuhnya. Walau demikian, terdapat pinalti bila terjadi keterlambatan. Hmm, bisa sumber dana KBM (atau KM-kalau sekarang) yang melimpah nih kalau diterapkan yang begonoan di Unversitas Telkom.

Itu dari sudut pandang si pengelola media pemasangan. Bagaimana dengan organisasi pembuat publikasi?

Well, percaya tidak percaya, di sebuah organisasi pada sebuah PTN (dan ternyata hampir semua organisasi di PTN tersebut menerapkan hal serupa), terdapat sebuah divisi yang bertugas sebagai penjaga mutu publikasi yang dikeluarkan. Wehwehweh, aya naon ieu?

Divisi ini bertugas menerapkan regulasi di awal kepengurusan tentang bagaimana seharusnya publikasi yang musti dikeluarkan ke publik. Misalnya dari sisi penerapan logo, branding, dll. Jadi, selama divisi lain belum mendapat ACC dari divisi ini maka poster belum layak tampil di hadapan publik. Istilahnya ya, ini lembaga sensor gitu. Sepintas kejam, namun ini bukan kejam, melainkan pengendalian mutu/kualitas yang tujuannya adalah memastikan organisasi tersebut mengeluarkan publikasi yang sesuai dengan aturan.

Implementasinya tentu perlu modifikasi ketika bicara di lingkup Universitas Telkom.

BEM, baik pusat maupun fakultas, tentunya bukan event organizer. Divisi atau kementerian yang bertugas di bagian komunikasi dan informasi tentunya juga bukan tukan bikin psoter yang statis. BEM, dalam hal ini bagian komunikasi dan informasi, tentunya mempunyai kekuatan untuk berbuat sesuatu yang mampu mengubah perilaku tidak disiplin dan tidak tertibnya dalam memasang publikasi/poster kegiatan di kampus. Mau berupa proker atau event, atau bukan, ah itu tidak penting.

Lakukanlah dengan penelitian dan pengumpulan alternatif solusi. Mediasikan dengan ormawa serta buatlah sebuah budaya yang membangun. Bisa jadi ide di atas ada kecocokan untuk diterapkan, bisa juga muncul alternatif lain yang lebih solutif.

Semoga membangunkan^^
Tidak bermaksud menggurui

Andai Ormawa Kenal BSC

Ada yang tahu BSC? Harapan saya bukan dikira kembarannya BSM. Ini singkatan dari Balance Score Card yaitu suatu metode pembagian perspektif organisasi dalam proses bisnisnya terhadap empat dimensi, yaitu Internal, Finansial, Customer, dan Learning+Growth. Sepintas konsep ini simpel dan biasa saja. Untuk kesan simpel itu memang, namun terkait biasa saja, mmm justru belum ada kebiasaan mempergunakan BSC dalam menyusun roadmap di lingkup organisasi kemahasiswaan. Nah lho? Mau kekmana ini pembahasannya?

Budaya organisasi kemahasiswaan (dengan sampel di IT Telkom/Universitas Telkom, UI, ITB, UGM, Unnes, IPB, dan UNY) memperlihatkan gejala belajar dari tradisi. Orientasi yang sering dikedepankan adalah perbaikan proker terdahulu. Tak heran, banyak organisasi kemahasiswaan yang hanya mempunyai aset intelektual berupa program kerja tahun ini, roadmap? garuk-garuk kepala. Memang sakit, tapi harus diakui bahwa gejala ini merupakan diagnosis ke sebuah tuduhan "lima tahun ormawamu kayak apa juga kamu nggak punya gambarannya ya?".

Kondisi di atas pula yang menyebabkan banyak ormawa kerap menghabiskan tenaga untuk survive hari ini tanpa mengira-kira apa yang perlu dipersiapkan esok hari. Sementara itu, sangat jarang adanya ide pendobrak untuk membuat roadmap alias rencana jangka panjang di dalam organisasi kemahasiswaan. Bicara tentang "membuat" tentu tak lepas dari pertanyaan "bagaimana caranya" maupun "dengan apa". Di kesempatan menulis ini, ide yang diusulkan adalah BSC. Kenapa?
BSC menyediakan cara berpikir modularitas, maksudnya adalah memecah permasalahan/tantangan global ke dalam beberapa kelas.  Cara berpikir modularitas ini kerap dikerjakan berupa membagi  daftar yang harus dikerjakan, target, hingga parameter keberhasilan berdasarkan empat dimensi tadi.

Maka dengan mengadopsi konsep itulah mari kita buat matriks yang memanjang horisontal sebagai ladang menanam ide-ide untuk ormawa dalam jangka panjang.

Pertama bagi ke dalam empat baris yang mewakili 4 dimensi di atas. Urutan tidak masalah Kawan :) Kemudian bagi masing-masing baris ke dalam sejumlah kolom yang merepresentasikan target tahunan (sehingga diperoleh beberapa tahun ke depan).

Internal
Dimensi internal di sini meliputi bagaimana pengelolaan rumah tangga organisasi mahasiswa diarahkan. Misalnya dalam konteks pemanfaatan IT dalam organisasi, pembuatan kurikulum softskill kepada pengurus, kematangan budaya organisasi dll.

Customer
Dalam arti luas, customer merupakan cerminan dari pihak luar yang berkaitan dengan organisasi mahasiswa. Misalnya rektorat, dekatan, masyarakat, forum komunikasi di dalam kampus, forum komunikasi di luar kampus, hingga masyarakat. Baris customer dapat dipecah berdasarkan jenis-jenis yang disebutkan di kalimat sebelumnya. Misalnya di tahun ke sekian konsep pengabdian masyarakatnya bagaimana, di tahun ke berapa berhasil mengembangkan apa secara kolektif oleh forum komunikasi di luar kampus.

Financial
Lho lho kok mbahas duit nih? Ormawa saya mah non-profitable. Eitss, maksud financial di sini bukan berarti menyulap ormawa sebagai mesin rupiah yang matre. Arti financial di sini adalah mengembangkan konsep keuangan di dalam ormawa agar tidak menetek pada belas kasihan kampusnya. Masa iya kalah ama OSIS SMA yang berani menggaet sponsor. Konsep kemandirian berwira usaha perlu dibudidayakan dalam mengarungi perjalanan sebuah ormawa.

Learning and Growth
Esensi sebagai tempat belajar berbagai hal tidak bisa dilenyapkan dari sebuah ormawa. Dan cara terbaik untuk mempertahankan dinamis sebuah pembelajaran di dalam ormawa adalah terus mengembangkannya sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman. Kapabilitas mengelola organisasi di era saat ini tentu perlu direvisi di kemudian hari.

Nah, ide-ide di atas masih terlalu teoritif kalau cuma dibaca. So, ayo buat ide roadmap untuk ormawamu dan sebarkan virus kreatif yang visioner di dalam ormawamu :D :D :D

Akreditasi Ormawa, masih pantas??

Sejarah pernah mencatat bahwa bagian kemahasiswa IT Telkom pernah menyelenggarakan akreditasi ormawa sebanyak 2 kali dalam rentang 3 tahun. Dalam rentang itu pula ketidaksamaan persepsi terus menggelayuti antara esensi vs formalitas. Bukan tanpa sebab tentunya, perdebatan ini lebih dikarenakan adanya arus visi yang kurang sesuai. Mengapa demikian?

Pertama mengenai analisis stakeholder. Ide akreditasi ini merupakan gagasan dari bagian kemahasiswa. Ide yang brilian sebetulnya, kenapa? karena bertujuan untuk mengevaluasi kondisi tiap ormawa dengan mempeprhatikan berbagai faktor yang berujung pada klasifikasi akreditasi ormawa. Output rencana tersebut lebih mendapat sorotan mengenai "bakal dapat sekre/inventaris barukah?". Belum lagi peran BEM sebagai mediator ide tersebut yang (boleh dibilang) belum maksimal memahami arti dari sebuah penjagaan kualitas. Saat itu, yang terpikirkan hanya sebagai mediator dan mediator, maklum saja karena tak sedikit yang memasang kecurigaan bila ada keberpihakan, sebuah kecurigaan yang pernah terbukti. Di satu sisi, mediator ini memang menunjukkan objektivitas, namun di sisi lain, menjadi peluang blunder ketika tidak dijadikan kesempatan BEM untuk ikut serta mensupervisi kualitas ormawa. Padahal dengna peran sebagai motor KBM, menjadikan BEM punya peran sentral untuk mendorong ormawa mencapai kualitas tertentu sesuai visi KBM. Belum lagi dukungan pejabat di atasnya (rektorat dan dekanat) yang belum sejalan untuk menerapkan ide ini. Maka tidak heran rencana pasca akreditasi bersifat mengawang-awang, antara beneran ada atau hanya manis diplomatis. Bahkan pengumuman hasil akreditasi pun disikapi dingin sehingga tidak memberi dampak yang masif.

Padahal akreditasi ormawa sendiri (menurut hemat saya) menurut ide yang cemerlang. Mengapa?

Kenyataannya tidak ada standar (umum dan khusus) yang menstandarisasi kondisi ormawa di KBM
Memang, tiap ormawa mempunyai ke-khas-an dalam tata kelola organisasinya. Namun tentunya ada hal-hal umum yang menjadi pentunjuk seberapa kuat kondisi di ormawa tersebut, khususnya berkaitan dengan aspek infrastruktur formal seperti alur kaderisasi, mekanisme komunikasi, hingga penyelenggaraan administrasi.

Menyelaraskan pergerakan ormawa sesuai dengan visi misi kampus
Akreditasi sebenarnya merupakan suatu teknik formal untuk mengarahkan objek menuju ke kondisi yang dianggap berkualitas oleh penyelenggaranya. Standar webometric misalnya yang mengarahkan pemilik website suatu kampus akan membangun website-nya sesuai standar webometric karena standar itulah yang menjadi patokan yang diakui. Demikian pula akreditasi kampus yang memegang peranan dalam mengarahkan ormawa mendukung realisasi visi dan misi kampus.

Pemetaan permasalahan di dalam ormawa
Cara terbaik meningkatkan kualitas adalah mengidentifikasi secara rinci permasalahan yang ada. Singkatnya ketika akan memajukan suatu ormawa, perlu dilihat kondisi masing-masing item, misalnya aspek ketertiban program kerja, kualitas SDM, ketersediaan TIK. Dengan mengenali masalah di tiap bidang maka dapat lebih mudah mencari solusinya dibandingkan melihat kesemrawutan secara global.

Tiap ormawa dihadapkan kenyataan sebagai wadah menuju kematangan pengelolanya yang berstatus mahasiswa (yang menuju kelulusan). 
Akreditasi ormawa dapat diibaratkan sebagai simulasi si mahasiswa menuju dunia kerja yang dituntut kualitas tertentu, bahkan di dunia kerja sendiri terdapat berbagai standar kualitas berupa sertifikasi, seperti CMII, CISA, PMP, CCNA, dll, termasuk juga yang bersifat kolektif organisasi macam ISO. Semua sertifikasi tersebut perlu persiapan di berbagai aspek. So, bukankan akreditasi ormawa merupakan latihan yang menggiurkan dalam membekali kapasitas pengurusnya?

Tips Berelasi dengan Alumni

Sebuah organisasi, misalnya institusi pendidikan, unit kegiatan mahasiswa, himpunan dll, mempunyai syarat yang menentukan keberlangsungannya, yaitu kaderisasi. Kaderisasi inilah yang menata keanggotaan mulai dari calon hingga status "alumni".

Alumni alias jebolan alias lulusan, purnabakti, veteran, dan berbagai istilah lainnya merupakan elemen yang secara formal tak ubahnya bagian masa lalu. Karena itulah, keberadaannya kerap dianggap tidak penting, ada pula yang sekedar formalitas walau masih ada pula yang memperlakukannya secara manusiawi. Padahal apa yang telah dicapai hari ini merupakan hasil andil alumni organisasi tersebut. Bahkan ada beberapa hal yang menentukan kualitas sebuah organisasi dimana ada peran alumni di situ.
1. Profil alumni memberi gambaran kualitas organisasi tersebut
2. Opini (walau subjektif) dari alumni suatu organisasi mempunyai nilai validitas dalam masyarakat
3. Ini yang bakal kita ulas di sini :)) apa y?

Maka alumni, walau sudah tidak ada di dalam struktur organisasi, akan terus memberi pengaruh terhadap organisasi, bahkan ke arah masa depannya.
FYI: Di dalam penyusunan kurikulum di sebuah institusi pendidikan, profil dan kondisi alumni menjadi patokan untuk menentukan apa yang harus dipertahankan dan apa yang perlu diperbaiki.

Permasalahannya, sering terjadi kekeliruan dalam membina interaksi antara organisasi dengan alumninya. Berikut kekeliruan yang kerap terjadi:
1. Alumni itu kalau dilibatkam bakal sok ngatur-ngatur
2. Alumni kalau mau ngebantu pasti ada udang di balik rempeyeknya, misal mau nyaleg :v
3. Alumni hanya dibutuhkan ketika penggalangan donasi
4. Alumni adalah oposisi organisasi
5. Alumni yang aktif adalah yang dulunya aktivis
6. Kalau belum sukses finansial, keberadaan alumnus secara personal kurang dianggap

Oke...boleh jadi ada ironi-ironi lainnya. Lantas apa solusinya??

Pertama buat daftar kebutuhan antara organisasi dengan alumni. Bolehlah secara romantis berujar "#akuikhlas #akurapopo" tapi untuk menghindari kesalahpahaman, kemukakanlah dengan sopan dan elegan mengenai kebutuhan masing-masing. Pada dasarnya, manusia mempunyai kecenderungan ingin didengar dan keinginan terpenuhi tidak sebesar keinginan didengar :)
Boleh jadi kebutuhannya adalah dukungan moral, bantuan material, bantuan informasi dll.

Komunikasi nonformal, ternyata ini memberi andil yang lebih signifikan daripada komunikasi formal. Sepintas sms/whatsapp "apa kabar" ataupun "selamat ultah (tapi nggak pake kado" terkesan basa-basi. Namun ketika komunikasi nonformal sudah memberi kenyamanan berinteraksi maka kebersamaan untuk saling memberi apa yang dibutuhkan satu sama lain akan lebih kuat. So... kepada entitas di dalam organisasi yang menjadi PIC tentang peralumnian harus menyediakan slot waktu tersendiri untuk komunikasi nonformal.

Ketiga, pahamilah bahwa alumni itu beranekaragam. Ketika sudah tak lagi satu atap organisasi, tentu akan banyak hal yang mengubah karakter alumni, malah ketika masih anggota pun sudah beragam. Karena itulah, bisa jadi muncul sejumlah alumni yang merasa tidak dipedulikan. Untuk hal semacam ini, prioritaskan lembaga legal alumni sebagai representasi yang memang resmi. Kemudian bicarakan di luar forum kepada kelompok tersebut tentang klarifikasi secara baik-baik.

Agendakan bagaimana kolaborasi antara organisasi dengan alumninya. Misal tahun pertama membuat database alumni, tahun kedua membuat sistem pengurus cabang, tahun ketika acara bersama dll.

Pada dasarnya alumni ingin organisasinya lebih baik daripada eranya dulu. Itu sudah tentu. Begitu pula sudut pandang organisasi. Maka cara terbaik mewujudkannya ialah kolaborasi secara positif.

Nostalgia Pildek FT #Unitel ke Pilrek #ITTelkom

Awalnya sempat kaget dengan rencana pemekaran FT Unitel menjadi 3 fakultas dengan langkah awal pemilihan dekan, namun melihat sikap sportif yang ditunjukkan civitas akademika FT Unitel, diri ini optimis menatap evolusi di kampus saya. Kampus saya? Akan seperti apapun, itu adalah kampus yang menjadi bagian dari diri ini tumbuh. Semoga setelah lulus S2 ini, segera bisa menjadi dosen di Fakultas Informatika.

Oiya, terkait pemilihan 3 dekan kali ini malah mengingatkan saya ke sebuah pemilihan rektor di tahun 2009. Kala itu, terdapat 6 orang kandidat, yaitu Jangkung Raharjo, Agus Ahmad Suhendra, Wiyono, Johni Girsang, Ahmad Tri Hanuranto, dan Johni Girsang.

dari atas ke bawah (kiri ke kanan juga): Pak Agus, Pak Jangkung, Pak AT, Pak Johni, Pak Budhi, dan Pak Wiyono

Keterlibatan saya di kepanitiaan itu memang sebuah kebetulan. Kala itu saya sedang standby di kawasan kampus karena jadi panitia PDKT 2009. Karena memang kekurangan SDM, maka diikutkanlah saya di kepanitiaan pemilihan rektor sebagai pubdok bersama Mas Syarif yang jadi koor saya. Saat itu ruang lingkup pemilihan yang menjadi tanggung jawab KPR (nama panitianya) sebagai akomodator suara mahasiswa yang memperoleh porsi 15%. Porsi 15% ini melengkapi 85% parameter lainnya yang menjadi bahan pertimbangan untuk dipilih 3 besar dari 6 orang tersebut, lalu ketiga terpilih akan diseleksi langsung oleh YPT.

Mengenai pemilihan 3 dekan kali saya belum mengetahui mekanisme detilnya. Yang pasti, harapan saya, perubahan ini memberi angin positif. Aamiin...



Untuk pilihan Departemen Informatika, Maman Abdurrohman unggul di segmen dosen tetap dan mahasiswa, namun kalah tipis di segmen TPA.