Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan

#EkspedisiKinabaluBrunei Eksplorasi Pusat Kota Kinabalu [3]

Kota Kinabalu sebagai ibu kota alias bandar raya dari negara bagian Sabah, menyediakan tata letak yang unik. Selain objek wisata alam, hampir objek-objek menarik di Sabah berlokasi di Kota Kinabalu. Di luar area Kota Kinabalu, sepi banget [lho kok tahu, hehee, sedikit bocoran episode mendatang]. Objek wisata alam yang melegenda di sini adalah Gunung Kinabalu serta berbagai pulau kecil di sekitar Kota Kinabalu. Keduanya bukan opsi yang realistis mengingat keterbatasan waktu dan tenaga. Dari berbagai objek yang menarik untuk ditelusuri di pusat kota ini tentunya kawasan dermaga yang membentang luas. Sejumlah titik menarik perhatian untuk didokumentasikan.


Kota Kinabalu itu panasnya poooool, udah macam Semarang lah. Secara suhu sih menyaingi Jakarta, tapi panas di sini murni faktor kawasa tropis dan pantai, bukan 'jebakan' kalor gedung-gedung dan kendaraan bermotor. Tapi, musim penghujan masih melanda pada saat saya di sini, alhasil suhu bisa berbalik nasib secara mendadak. Dan itu yang terjadi di tengah terik panas mendatang rintik hujan keroyokan hadir.

Sebuah titik yang sangat foto-able. Mirip dengan I Love KL, yang ada di Kuala Lumpur, kalau yang ini KK-nya tentu Kota Kinabalu.

 Ikan merlion, simbol tidak resmi kota ini yang merepresentasikan dunia laut sebagai sumber ekonomi masyarakat di sini.

Hotel Capital, warnanya yang unik jelas sayang untuk dilewatkan begitu saja. Entah bagaimana mengarahkan tukang-tukang catnya.

Di tengah terik panasnya Kota Kinabalu, saya menyempatkan diri masuk ke sebuah psuat perbelanjaan. Bisa dibilang semacam BIP-nya Kota Kinabalu. Tapi, jelas namanya bukan KKIP, Kota Kinabalu Indah Plaza, lho ya. Ternyata sedang ada pentas seni tingkat nasional. Entah apa nama acaranya, yang pasti sajian tari budayanya memantik minat saya untuk menikmati eksotika budaya negara tetangga ini. Beberapa ritme musik maupun busana yang dikenakan mirip dengan yang ada di Indonesia.


Ya iyalah, Malaysia semenanjung memiliki kedekatan kultur dengan masyarakat di Riau, Kepulauan Riau, bahkan Sumatera Barat sesama rumpun Melayu. Sementara itu, Malaysia bagian Timur satu pulau dengan lima provinsi Indonesia dalam bingkai Pulau Kalimantan alias Borneo. Suku Dayak pun tersebar pula di Sabah dan Serawak. Wajar jika ada kemiripan, yang penting saat dicek dengan Turnitin kurang dari 20 persen lah.

 Lantaran siang hari, jelas objek ini tidak berpenghuni. Namun bisa ditebak ini tempat 'nongkrong' anak muda di pagi dan sore atau malah malam hari.

 Bangunan klasik ini saat ini menjadi kantor dewan pariwisata Sabah. Jelas eksteriornya seolah berbisik bahwa bangunan ini sudah ada sedari era kolonial.

Sebuah masjid yang lokasinya relatif tinggi, yaitu perbukitan agak menepi dari keramaian Kota Kinabalu.

Lantaran badan mendadak menggigil, saya putuskan kembali ke hostel untuk beristirahat s.d. malam harinya sebuah ajakan berbincang masuk ke WA saya.

#EkspedisiKinabaluBrunei Eksplorasi Pusat Kota Kinabalu [2]

Eksplorasi terus berlanjut di tengah rintik hujan. Kondisi fisik yang terasa makin anjlok, ditandai dengan batuk yang makin kencang dan kering, membuat saya tidak punya opsi lain kecuali pulang. Tapi sebentar, ada beberapa lokasi menarik yang masih sempat saya jelajahi dalam satuan belasan menit sebelum rintik-rintik itu tiba.

Atkinson Tower Clock

Tanpa bermaksud meremehkan, namun jam gadang di Kota Bukittinggi lebih besar dan melegenda. Tentu tidak berarti jam yang ini jelek, pasti ada daya tarik tersendiri. Dari sisi histori, keberadaan menara-menara jam seperti ini pada era/zaman dulu adalah sebagai pusat standardisasi waktu di daerah masing-masing. Kita tahu bahwa pada era kolonial, jam dinding saja sudah menjadi barang langka sehingga roda pemerintahan dan perekonomian perlu standardisasi.


Bangunan model gepeng yang memancing atensi saya

Sebuah bangunan yang belum sempat saya telusuri fungsinya memancing atensi atau perhatian saya. Bentuknya yang gepeng jelas menjadi daya tarik tersendiri. Sepasang bendera Sabah dan Malaysia masih berkibar di depannya. Pertanda bangunan ini masih memiliki fungsi di masa sekarang. Sebuah ornamen seni lukis disajikan dengan gaya grafiti kekinian menandakan bahwa ada sentuhan kreativitas kontemporer turut menyemarakkan arsitektur bangunan unik ini.

Tanah lapang sebagai [semacam] alun-alun Kota Kinabalu

 Kota Kinabalu juga memiliki tanah lapang luas yang berfungsi sebagai ajang seremonial dan tempat berkumpulnya masyarakat. Walau tidak tayang pada foto di atas, terdapat bendera seluruh negara bagian di Malaysia. Memang sudah menjadi budaya untuk turut serta memasang bendera negara bagian lain sebagai bentuk solidaritas dan persatuan sesama pembentuk negara federal.

Cuplikan sejarah Kota Kinabalu

Sebuah galeri dari kejauhan sudah mengekspresikan fungsinya, yaitu cuplikan sejarah Kota Kinabalu. Premis sederhaa melihat foto hitam putih ukuran besar dari kejauhan. Memang, kota ini memiliki sejarah panjang yang cukup berliku. Mulai dari bagian dari Kesultanan Brunei, di bawah kolonial Inggris, diduduki Jepang, kembali ke pangkuan Inggris, hingga akhirnya bergabung dengan Federasi Malaysia.

Tidak ada selera makan nasi, alhasil saya memilih untuk membeli dua buah mangga sebagai sumber nutrisi malam itu


#EkspedisiKinabaluBrunei Eksplorasi Pusat Kota Kinabalu [1]

Secuil dokumentasi saat berkenala di pusat Kota Kinabalu, tepatnya area kantor pemerintahan. Kalau di sini, istilah yang digunakan adalah Pusat Bandaraya. Saya kemari seusai hari pertama presentasi ISCAIE [27/4] dengan kondisi badan masih belum sehat. Sebetulnya sih masih sempoyongan demam, bahkan saya dalam durasi waktu tertentu saya harus menenggak obat batuk. Well, nikmati saja perjalanan ini.


Sebuah tugu yang didedikasikan untuk tentara-tentara Australia
Lho, kenapa ada Australia, bukankah sejarahnya Sabah [negara bagian yang menaungi Kota Kinabalu] hanya pernah diduduki oleh Inggris dan Jepang, heheee

Sebuah gerbang yang menampilkan corak menarik walau sederhana. 

Tampak depan kantor pemerintahan Kota Kinabalu dimana dua bendera berkibar, yaitu bendera Sabah dan bendera Malaysia.
Bagi yang tidak tinggal di Aceh maupun DI Yogyakarta, pemasangan dua bendera memang bukan hal yang lazim di Indonesia. 


#EkspedisiKinabaluBrunei Seaview yang Memang View-nya ber-Sea


Alasan saya memilih tempat penginapan ini sederhana, suasananya yang 'cozy'. Bahkan saat saya ceritakan ke istri saya, beliau takjub dengan fitur canggih tempat menginap yang 'eksentrik' ini. Sebetulnya, model kaman kapsul ini bukan barang baru di dunia pariwisata, saya saja yang baru berkesempatan menjajalnya. Keunggulan apa yang ditawarkan model kamar kapsul ini? Pertama, privasi yang kuat lantaran akses masuk kamar dibatasi walaupun ada kapsul-kapsul lain di kamar kita. Praktis kita tidak perlu risih saat ingin istirahat dengan tenang maupun memang ingin sendiri. Kedua, tingkat keamanan relatif meningkat. Tentu saja, dibandingkan dengan kamar model asrama. Walau demikian kewaspadaan harus tetap digalakkan hehee.

Tampak luar kapsulnya

Sebagaimana namanya, yaitu Seaview Hostel, hostel ini menyediakan panorama laut yang sangat jelas melalui akses jendela. Praktis hanya sebuah gedung pasar yang menghalangi fisik gedung ini dari pinggir laut persis. Namun, gedung itu bisa diabaikan lantaran hostel ini berlokasi di lantai 4 [eh empat atau lima ya...] sehingga tidak terhalangi si gedung. Ruang tamu dan ruang kecil untuk menyeterika dibiarkan menghadap langsung ke laut. Ini menjadi poin plus lantaran cocok bila kita untuk relaksasi pikiran namun jengah dengan suasana tertutup di kapsul.

Pemandangan sembari menikmati proses menyeterika hehee

Sebagaimana saya singgung di paragraf sebelumnya, hostel ini berlokasi di lantai 4 di sebuah gedung [yang saya tidak tahu namanya hehee]. Di sinilah tantangan yang saya temui untuk bisa mencapai hostel ini. Saya perlu mengitari gedung yang ternyata tersusun atas berbagai komponen. Mulai dari pasar dan restoran di lantai dasar, tempat parkir mobil di beberapa lantai, hingga perkantoran. Rasanya hampir sejam dan lima kali saya bertanya mengenai keberadaan hostel ini ke lima orang berbeda dengan jawaban yang berbeda. Padahal hostel ini memiliki rating cukup bagus sehingga saya asumsikan populer pula. Ternyata eh ternyata untuk menuju hostel ini, carilah pintu lift persis di pinggir jalan dengan papan 'agak kecil' bergambar logo si hostel. Fuihhh wkwkwk..

Kalau yang di 'sono' tuh nggak masuk anggarannya hehee

Sebagaimana hostel pada umumnya, tidak ada sarapan sekelas nasi, hanya roti berselai. Tidak perlu khawatir karena ada pasar dan kios di sekitar gedung ini dengna harga relatif terjangkau, termasuk kafe kopi Starbucks. Harga kapsulnya ada di rentang 150-an s.d. 200 ribu, terjangkau lah hehee..

#EkspedisiKinabaluBrunei Antara Demam dengan Harus Maju Jalan

Sempat menginap satu malam di Bandara Soekarto Hatta [25/4] dilanjutkan menanti siang di Bandara KLIA keesokannya, ini adalah salah satu perjalanan penuh rintangan yang pernah saya lalui. Sederhana, kondisi fisik saya mendadak tumbang lantaran demam yang entah bagaimana ceritanya. Sepertinya sih lantaran pada beberapa hari sebelumnya, saya 'lembur' di laboratorium untuk mengerjakan naskah paper dalam rangka Studi Mandiri 3. Memang, rencana sepekan lebih di Malaysia [dan insyaAllah Brunei] membuat saya otomatis harus menyelesaikan segala bentuk tanggung jawab perkuliahan [termasuk SM3] lebih awal.

Sampai di Bandara Internasional Kinabalu menjelang Maghrib, saya tidak punya opsi lain kecuali segera masuk ke hostel dan merevisi rencana jalan-jalan yang sudah disiapkan jadwalnya hehee. Tidak apalah, ada agenda yang lebih prioritas. Malah, kudapan yang saya peroleh dari maskapai sewaktu di pesawat pun hanya saya masukkan ke tas lantaran lidah terasa pahit untuk mengunyah makanan.



Ngomong-ngomong, bandara ini ukurannya melebihi [walau sedikit] dari Bandara Internasional Minangkabau, Kota Padang Panjang. Relatif ramai karena memang Kota Kinabalu terkenal sebagai wisata yang cukup 'ramah' bagi turis asal Asia Timur. Selain itu, Kota Kinabalu juga terkenal dengan gunungnya yang sangat melegenda untuk didaki. Alhasil, bandaranya pun harus layak dan mampu mengakomodasi arus keluar masuk. Yang menarik, di paspor saya sebuah cetakan stempel terpampang jelas 'Enter Sabah on' diikuti tanggal saat itu. Bingung juga, walau nantinya ada kisah yang lebih menggelikan lagi.

Sebagaimana saya tayangkan foto di atas, suasana pemandangan bukit memandakan bahwa bandara ini berlokasi agak menepi dari pusat kota. Untuk menuju kota, berbagai opsi transportasi tersedia. Bus menuju dan dari pusat kota melayani hampir setiap jam. Taksi luring maupun daring juga ada. Berjalan kaki, entah, yang pasti fisik saya jelas tidak memungkinkan untuk itu

#SekilasJanuari Kebun Kopi





#SekilasJanuari2019 GovPay GovNext


Seharian yang penuh inspirasi tentang pemerintahan elektronik dan bisnis digital, termasuk pula tentang teknologi finansial dan keamanan informasi. Semoga bisa menjadi modal mengembangkan teknologi informasi yang bermanfaat. Alhamdulillah dapat kenalan juga Mr. Dt. Amirudin (CEO CyberSecurity Malaysia) dan Bpk. Munawar Karsan (OJK Indonesia)

Piramida Hitam Khas Sleman


Limas warna hitam putih ini sangat jamak dijumpai di pinggir jalan Kabupaten Sleman. Saya sendiri masih menelusuri di berbagai literatur [macam Bab 2 gitulah] apa arti filosofis di balik ornamen ini. Bentuknya sederhana tapi seolah menyiratkan makna yang unik. Penerawangan saya, bentuk segitiganya mengacu ke gunung, hahaa, agak ngaco sih...

Aura Taman Surga di Masjid Kampus UGM

Tugu: Sepucuk Memori yang tak Sampai


Siang itu Tugu diselimuti awan mendung dengan manjanya. Masih kokoh dengan modifikasi pada area bundarannya. Masih kokoh sebagaimana di tahun 2012 aku melewatinya hampir tiap hari kerja dalam rangka magang di Disparbud Kota Yogyakarta. Hmm,,, aku tersipu atas banyaknya memori ajaib dengan berbagai orang-orang hebat di kota ini sekian masa lalu.

Jelang Subuh di Nol Kilometer

Saya tidak hafal ini visitasi yang keberapa di zona nol kilometer Yogyakarta. Setidaknya di 2006 pasca lomba proposal kegiatan anti-rokok, di 2011 bareng peserta TKNP3T, dan 2012 bareng BPH; itu yang terlintas di memori. Kali jelang subuh saya "kabur" dari rutinitas dalam bingkai "ngabuburit" jelang subuh, subuh lho ya bukan maghrib wkwkwk. Sepi? Banget, hanya saya sendiri di salah satu sisi perempatan dan tampaknya nihil orang di ketiga sisi perempatan lainnya. Praktis saya disuguhi panorama "bersih" berisi bentang karya arsitektur, seni, dan konstruksi di perempatan legendaris ini.

Banyak yang sudah berubah. "Tugu" monumen batik sudah diganti. Yang ada di avatar Instagram saya sudah "pensiun". Pun dengan sejumlah aksesori seperti replika sego kucing dan aksara jawa 3-dimensi. Penggantinya tidak kalah keren walau secara ukuran lebih "hemat". Itulah perubahan yang akan terus dilangsungkan selagi jarum jam terus bergulir. Eksistensi di dunia tidak ada yang dijamin abadi, justru bersiaplah diganti.

Kombinasi Romantis

Gerimis, malam hari, dan juga Yogyakarta. Ketiganya jadi paduan yang romantis semalam (27/11). Ada yang kurang dan berlebihan dari romansa kali ini. Tidak ada istri dan anak yang kerap menjadi "tim petualang". Intensitas air malah agak surplus membuat lapisan tas agak terembesi. Semangkuk wedang ronde dan dua utas lumpia agaknya bisa disodorkan sebagai penawar dingin dan basahnya pelipis.

Menyibak Cerah dan Derainya Teluk Bayur


Saya mengenal Teluk Bayur hanya sebatas sebagai bagian dari lagu era lama sebagaimana Widuri. Keduanya pun sama-sama tidak pernah saya tahu wujud visualnya seperti apa. Mungkin karena saya lebih menyenangi wisata alam di gunung/bukit daripada pantai. Praktis, ekspedisi ke Ternate sekitar tiga tahun lalu menjadi awal saya menemukan sisi lain eksotika pantai, terutama dari sisi humanioranya.

Teluk Bayur bukan sekadar pantai biasa. Ini adalah pelabuhan yang menjadi titik 'penghubung' para pengembara dan perantau, baik saat mereka pergi maupun kembali. Jelas ada banyak romansa haru yang berlinang di sini. Seiring melonjaknya transaksi tiket pesawat, kini Teluk Bayur kian sepi. Saya pun termasuk yang dua kali masuk ke Provinsi Sumatera Barat lewat pesawat. Walau demikian, saya yakin fungsi Teluk Bayur belum hilang, setidaknya lima hingga delapan dekade mendatang.

Menyusuri Rongga-Rongga Lorong Kampus ITB


Senin lalu, saya berkesempatan 'kembali' ke kampus ITB dalam rangka ICITSI. Ini bukan almamater saya, tapi saya punya banyak kenangan di sana. Tidak lain dan tidak bukan, yaitu menemani istri saya menyelesaikan studi magisternya di STEI ITB. Memang saat itu, istri saya bukan anak kecil lagi, malah kami sudah punya anak kecil yang atraktif nan interaktif. Tapi saat itu masa studinya yang sudah memasuki tahun ketiga, jelas fase yang krusial dimana hampir tiap hari lagu 'Menghitung Hari'-nya mba Krisdayanti kerap berdendang. Program mirip 'wajib militer' pun dijalani istri saya dan juga rekan-rekan sekelasnya, yaitu wajib hadir di lab dari pagi s.d. sore. 'Wajib militer' ini dilengkapi dengan 'wajib lapor' tiap pagi, siang, dan sore ke bagian admin. Etdaah, karyawan saja presensi cuma pagi dan sore hehee. Tujuan sederhana, yaitu mengondisikan mahasiswa agar lebih kondusif menyelesaikan sebuah buku yang dijilid rapi bersampul tebal disertai logo ITB dan tulisan gagah 'TESIS'. 

Perjuangan yang tidak mudah lantaran di waktu yang sama, anak kami baru memasuki usia setahun lebih beberapa hari/bulan. Ibu mana yang tidak bingung ketika harus meninggalkan sejenak putra/putrinya yang masih belia, yang lazimnya dipuas-puaskan bermain. Alhamdulillah Allah mengulurkan bantuan, ibu kami serta kerabat keluarga kami berkenan ikut menjaga anak kami sehingga di siang hari istri bisa menggeber laptop untuk menunaikan amanat tersebut.

Lah, terus saya ngapain di saya? Ikut download Kamen Rider dan Mahabarata kah? Atau mencari tuyul-tuyul digital dalam wujud Pokemon? Tentu saja tidak. Saya ikut ke ITB dalam rangka mengerjakan berbagai proyek [di tahun saya masih bekerja di beberapa proyek jarak jauh]. Dengan ikut mengerjakan di kampus ini, saya bisa memosisikan diri untuk mendukung langsung secara moril istri saya, termasuk ikut mengkritisi penelitian tesis istri saya. Setidaknya, saya jadi mengerti sedikit-sedikit lah apa itu Kragging dan kroni-kroninya hehee.

Lorong ITB sangat khas berupa pilar-pilar besar yang terbuat dari campuran semen dan batu ukuran besar. Sangat khas karena saya belum menemui yang serupa di kampus ini. Melihat kembali bongkahan-bongkahan pilar tersebut saya jadi teringat masa-masa berangkat dan pulang mengantar istri saya. Pada akhirnya, saya juga menemukan inspirasi bahwa kesungguhan merupakan modal berharga untuk mengatasi krisis di masa-masa yang kritis.

Ke Arah dari Pantai Padang


Menjelang pulang dari Pantai Padang, saya menemukan sebuah objek unik di pinggir pantai. Ini adalah papan petunjuk arah dan jarak beberapa negara dari pantai ini. Kita tidak bisa menyamakan fungsi objek ini sebagaimana papan serupa yang menandai kemana Kota Bandung beserta jaraknya saat melintasi jalan tol Purbaleunyi. Papan ini fungsinya sebagai simbol persahabatan dan hubungan negara-negara yang memiliki wilayah laut yang beberapa bulan/tahun sebelumnya berkumpul di Kota Padang.

Tentang Bukittinggi: Ibu Kota Darurat Indonesia


Kita mengenal Bukittinggi sebagai salah satu destinasi wajib bila berada di Sumatera Barat. Padahal, ada peran 'ajaib' yang pernah diemban kota ini di era perjuangan awal kemerdekan Indonesia. Kota Bukittinggi adalah ibu kota ketiga Indonesia setelah Jakarta dan Yogyakarta berhasil direbut oleh Belanda. Sebuah hal yang ajaib negara yang baru merdeka kemarin sore ternyata punya ide brilian untuk membentuk pemerintahan darurat di ibu kota darurat yang lokasinya agak jauh dari ibu kota asalnya. Dalam sistem komputer, Kota Bukittinggi menjadi disaster recovery center lantaran data center kolaps. Harus diakui, hubungan erat antara suku Minang di pemerintahan pusat dengan suku Minang di Sumatera Barat menjadi motivasi dipilihnya Kota Bukittinggi selain faktor 'tersembunyi' dari jangkauan Belanda. Yang menarik, deklarasi pemerintahan darurat di Kota Bukittinggi ini seharusnya dilatari instruksi resmi dari pemerintah pusat di Yogyakarta. Lantaran faktor teknis, instruksi tersebut tidak pernah diterima walau sudah resmi dikeluarkan. Ajaib kan hehee...

Kini, Jam Gadang kota ini menjadi simbol khasnya. Belum foto dengan latar Jam Gadang berarti visitasi ke Kota Bukittinggi patut dipertanyakan. Kurang lebih seperti itulah anekdotnya. Hingga sekarang jam ini masih berputar dengan berbagai perangkat berat di sekitarnya lantaran permugaran taman. Mungkin tahun depan selesai...

Kreatifa dan Istano

Refleksi Langit di Danau Singkarak

สวัสดี Bangkok [6] yang Ada di Sekitar Grand Palace

Ministry of Interior, jangan diartikan kementerian [yang ngurusin desain] interior. Maksudnya adalah kementerian dalam negeri. Di beberapa negara lain, istilah yang dipakai adalah Ministry of Home Affair.

Saya bukan fotografer andal, jadi jepretan ini biasa saja.


Ministry of Defence alias kementerian pertahanan. Tidak tampak senjata yang diumbar, malah memancing untuk berswafoto.

nak, sudah pengin ke sana ya...

Keluar dari Grand Palace, mata saya langsung terpancing ke gedung yang berwarna merah hati ini. Entah apa nama gedung ini...

สวัสดี Bangkok [5] Grand Palace

Okay, pencitraan dulu selaku keluarga yang tangguh hohoo

Objek wisata ini menjadi yang paling menguras kocek selama ekspedisi ke Bangkok. Kocek ... THB harus dirogoh untuk menyaksikan mahakarya seni rupa dan juga arsitektur. Beruntungnya, harga tersebut sepadan dengan apa yang disuguhkan, tentunya dengan mengabaikan faktor padatnya wisatawan yang hadir. Bisa dibilang, ini adalah objek ini termasuk menu wajib di berbagai paket wisata ke kota Bangkok. Ini adalah Grand Palace.

Istri saya masih setrong dengan rute perjalanan yang menguras keringat

Ada banyak bangunan dengan desain arsitektur yang eksotik khas negeri Thailand. Beberapa berfungsi sebagai kuil, beberapa sebagai tempat istirahat, beberapa sebagai monumen. Kenali jenisnya dengan baik agar kita tidak mengganggu yang sedang beribadah.

Si buah hati tampak kagum dengan interiornya

Aku juga termasuk yang kagum

Padahal kami hadir ke sana hari Senin, namun masyaAllah ramainya luar biasa. Tampaknya Grand Palace ini memang lebih menyenangkan untuk dikunjungi di pagi hari, saat belum terlalu terik dan belum terlalu ramai.

Lihat saja banyak yang berkerumun di sebuah tempat istirahat. Sementara yang masih moncer berfoto maupun mengitari juga banyak

Salah satu mahakarya yang kreatif

Banyak bangunan dengan cita rasa seni yang tinggi sekaligus ukuran yang tinggi pula. Ya, ada banyak pilar-pilar menjulang mengobarkan semangat keanggunan dan kemegahan.


Patung penjaga yang saya duga mengacu ke fauna babi hutan, bentuk agak seram tapi terkesan gagah juga sih

Salah satu 'adegan' sejarah tentang Kerajaan Thailand

Salah satu 'fitur' menarik di Grand Palace yang jarang dijadikan objek foto adalah lukisan histori tentang Kerajaan Thailand. Wajar, siapa sih yang nggak ngantuk kalau mendengar kata 'sejarah', tentu sangat sedikit. Detail gambar-gambar yang ada pun memang kurang cocok dijadikan objek foto di media sosial. Tapi, jika menelusuri sisi histori, apa yang disuguhkan lukisan-lukisna yang menjadi satu dengan dinding ini menawarkan kisah yang menarik.

The 'real' palace of the royal

Jika mengacu mata 'palace', maka ini adalah istana yang 'sebenarya' sih ya yang ada di foto barusan. Yang menjadi objek wisata sebelumnya bisa dibilang pelataran yang penuh dengan bangunan-bangunan mahakarya yang kreatif. Terlihat anggun dan berwibawa dengan atap khas budaya Thailand.

Mereka adalah pasukan kerjaan yang bertugas di istana. Dalam beberapa momen mereka mengitari istana. Di satu sisi, ini kesempatan untuk mendokumentasikannya dalam wujud foto. Di sisi lain, ini adalah ujian tentang bagaimana kita menghormati dedikasi dan profesi mereka. Jangan terlalu dekat memotret karena itu mengganggu konsentrasi mereka. Beri kesempatan mereka lewat bila kita menghalangi arah jalan mereka.

Niat hati melompat malah terkesan mendarat hehee