Tampilkan postingan dengan label Profesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profesi. Tampilkan semua postingan

Sebuah Awal

 Sebuah awal yang tidak disangka, bismillah

Apakah ini akhir dari sebuah upaya? Bukan

Ini adalah akhir dari upaya yang entah keempat, kelima, atau jangan-jangan keenam

Tapi ketika sebuah frase "akhir" tiba, artinya frase "awal" telah mengetuk pintu

Bismillah 

Blurry Point will be clear soon

Evaluasi Dosen, Sebuah Review untuk Preview

Tiap akhir semester, dosen akan memperoleh 'surat cinta' yang menceritakan bagaimana sosok dirinya di mata mahasiswa. Di Universitas Indonesia, kami menyebutkan EDOM, jika di Universitas Telkom, hmmm apa ya namanya. Ya... yang ada di menu Survey lah hehee.. Ini ketiga kalinya saya memperoleh surat cinta tersebut. Rasanya bersyukur dengna adanya mekanisme demikian walau saya merasa skemanya perlu diperbaiki. Mengapa demikian, nanti saya jelaskan.

Ada dua bagian dalam survei tersebut di Universitas Telkom, yaitu kuantitatif serta kualitatif. Bagian kuantitatif memaparkan tingkat kepuasan mahasiswa berdasarkan kriteria tertentu yang diukur memakai 4 skala Likert. Semester lalu saya mengalami penurunan skor walau masih dalam tahap memuaskan. Saya kurang mengerti apakah perubahan skala Likert 4 item dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang 5 item merupakan penyebabnya atau bukan. Naif jika menyebut penurunan ini hanya sekedar statistik. Skor tersebut mencerminkan kualitas saya di hadapan pihak-pihak yang menerima langsung layanan dari saya. Saya tentu tidak boleh seenaknya mengklaim kesuksesan jika ternyata performa saya belum memenuhi kebutuhan mahasiswa selaku konsumen saya.

Di bagian kualitatif, saya kadang mengalami kesulitan dengan jawaban singkat yang 'baik-baik saja', misalnya 'lanjutkan', 'sudah bagus', 'mantap', 'like this gan', dan semacamnya. Sederhana saja, saya kurang bisa menerka apakah memang jawaban singkat tersebut mencerminkan keseluruhan persepsinya ataukah jawaban yang sengaja dibuat ringkas karena malas menjabarkan, saya harap tidak demikian tentunya. Saya beberapa kali menemukan pula kritik yang sangat konkret, misalnya ritme mengajar yang terlalu cepat, dan [yang baru kali ini muncul di semester ini] tugas yang terlalu banyak. Khusus mengenai tugas yang terlalu banyak, ini akan saya ulas di artikel lain, tapi kalau sempat, ini sedang mengejar beberapa ketikan lain yang mendesak. Saya bersyukur dengan adanya kritik tersebut. Saya tipe orang yang belajar dari kritik walau saya akui tidak semua saran bisa saya penuhi lantaran keterbatasan diri.

Saya sendiri berharap mekanisme survei demikian tidak hanya satu kali di akhir semester, tapi dua kali. Alasannya simpel, yaitu agar mahasiswa di tengah semester bisa menyampaikan unek-uneknya sehingga dosen bisa memperbaiki lebih dini. Semoga di kampus yang saya ajar juga demikian.

Finale ManproTIK

Sesi presentasi sebagai laga pamungkas dari mata kuliah ManproTIK. Tahun lalu bersua mereka di matkul Teori dan Bahasa Automata (jangan tanya gimana ceritanya anak MTI ngajar "ilmu hitam" tersebut). Tahun ini dipertemukan untuk banyak berbincang dengan mereka yang insyaAllah calon manajer proyek TIK. Sengaja mereka saya minta presentasi dengan jas almamater. Tujuan sederhana, agar segera presentasi dengan kostum serupa di sidang Tugas Akhir hehee. Sukses y Gaes di berbagai rencana hidup kalian. *btw, rasanya kok saya masih cocok seangkatan dg mereka ya...

An Afternoon View from 6th Floor

Suatu Siang di Meja (makan?)

Research Sharing Session @CS.Binus.BDG


Default agenda for Informatics lecturers in Thursday afternoon is Research Sharing Session. It involves us to inspire each other. Sometimes, we realize that perfect research is untouchable, but we have realize that the most importance is improve this major to be enhance and qualified. For short term, we hope our productivity can be emerged gradually.

Tonggak Akademik BinusBDG


Kalau di DKI Jakarta, kampus berlokasi satu atap dengan mall/pasar raya bukan hal yang tabu. Tapi di Kota Bandung hal ini masih dianggap nyentrik. Apakah ada relasi antara kedekatan kampus dengan pusat aktivitas ekonomi merupakan isu yang menarik untuk diulas, tapi dengan latar pendidikan non-ekonomi dan pengetahuan statistik terbatas tentu saya kurang kompeten menyelidikinya.

Okay, ini adalah kampus tempat saya bernaung sebagai seorang pendidik. Wallahualam dengan faktor X,Y, atau bahkan Z, saya hanya fokus pada keinginan memberikan kontribusi yang terbaik. Bismillah.

GL Binus@Bandung

When it begins

Biar Tetap Melek dan Mengepul

Walau cuma DLB

Dosen luar biasa, itu adalah yang sudah saya jalani hampir genap dua semester ini di sebuah institusi pendidikan terkemuka. Banyak pengalaman menarik yang saya petik di sini. Baik yang sifatnya pendidikan hingga tata kelola. Kalau ditanya mengapa saya memilih institusi pendidikan ini, tampaknya ikatan histori selaku alumnus menjadi alasan utama yang menyebabkan saya sedikit banyak mengenal ekosistem dan kultur di sini. Banyaknya rekanan dosen yang sudah saya kenal saat saya masih sebagai mahasiswa S1 menjadi teman ngobrol yang nyambung. Jika ditanya, kenapa cuma status 'luar biasa', hmmm ya alasannya lebih sederhana dan logis lagi, yaitu posisi yang tersedia saat ini memang hanya sebagai DLB. Itu pun setelah percobaan sekian bulan, hohoo.

Walau cuma DLB
Saya sadar bahwa mahasiswa tidak mau tahu status dosen yang mengajar di depan kelas itu apa, apakah dosen tetap, dosen tidak tetap, dosen apapun istilah, mereka tidak mau tahu. Yang mereka inginkan hanya satu, layanan yang optimal. Layanan optimal ini memang bisa didefinisikan berbeda oleh tiap mahasiswa. Tapi, secara umum mengacu pada kemampuan mentransfer pengetahuan terkait mata kuliah, memicu keativitas dan keaktifan, hingga transparansi dalam penilaian. Saya sangat menyadari tuntutan tersebut. Karena itulah, saya berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan kemampuan terbaik saya dalam proses perkuliahan ini. Memang masih jauh dari kesempurnaan, semoga Allah memberi saya kekuatan untuk terus memperbaiki diri.

Walau cuma DLB
Saya berupaya menyuguhkan kreativitas atau bahkan inovasi. Harapannya bukan mengincar citra yang keren, melainkan ingi mengajak mahasiswa yang berpikir kreatif. Toh, tidak apa yang saya kreativitaskan tidak memengaruhi 'hitung-hitungan administrasi', malah saya lebih leluasa tanpa beban. Semoga tujuan dari ajakan berkreativitas ini bisa konkret.

Walau cuma DLB
Saya sadar bahwa pekerjaan apapun, termasuk bagi seorang dosen yang apapun statusnya, tetap dikenakan kesempatan beribadah dari profesi yang dijalankannya. Tentu dengan beberapa syarat, misalnya diniatkan sebagai ibadah, ikhlas apapun hasilnya sebagai kehendak Allah, seoptimal mungkin dalam menjalankannya, hingga membawa kebaikan dan manfaat bagi orang lain. Tentu status DLB tidak menghalangi kesempatan 'mengais' pahala atas ibadah tersebut. Pun sebagai DLB saya tidak luput dari incaran dosa jika terperangkap dalam kemunafikan karena tidak memberi teladan, mengorupsi amanat, ataupun tidak bertindak adil. Karena itulah, saya perlu berhati-hati dalam menjalankan amanat tersebut.

Walau cuma DLB
Saya juga ikut bangga atas pencapaian institusi ini sekecil apapun itu. Memang saya juga sulit membedakan apakah kebanggaan itu murni selaku individu yang pernah menjadi mahasiswa di sini ataukah individu yang sedang bekerja di sini. Yaelah, saya tidak perlu pusing memikirkan bedanya dua sisi itu. Nikmati sajalah...

Karena cuma DLB
Hmm, saya masih belum sreg tentang belum dibukanya kesempatan yang luas untuk ikut serta kegiatan riset dan pengabdian masyarakat bagi DLB. Mungkin pertimbangan legalitas dalam proses administrasi yang masih dibatasi hanya untuk dosen dengan status tertentu. Tentu saya merasa kecewa, namun saya mencoba berpikir positif bahwa barangkali fokus DLB yang hanya sebagai penguat institusi di sektor akademik, bukan di dua aspek tri dharma perguruan tinggi lainnya.

Exploite the Experience

Salah satu tantangan mengajar mata kuliah yang bersifat terapan adalah menyodorkan studi kasus sebagai ilustrasi dari teori yang ada. Hal ini sudah saya alami sejak semester lalu saat mengajar Literasi TIK di prodi Sistem Informasi. Kebetulan memang semester lalu saya juga mengajar mata kuliah Teori Bahasa dan Automata yang sangat teoretis sehingga terasa perbedaannya. Di TBA saya tidak perlu banyak mengumbar studi kasus penerapan SI/TI, namun di LiTIK saya harus mengumpulkan stok kisah-kisah nyata untuk diangkat sebagai bahan ajar.

Semester ini situasinya bisa dibilang lebih menguras persiapan terkait studi kasus yang tiga kali lipat. Mata kuliah Literasi TIK kembali saya ajar, kali ini di prodi Teknik Industri, ditambah Sistem Informasi dan Perencanaan Strategis Sistem Informasi. Saya harus pandai-pandai menyusun skenario mau berbagi cerita apa saya. Sebagai catatan, saya ditantang menjelaskan ekosistem organisasi di dunia kerja pada mahasiswa tahun ke-3 dan ke-4 pada matkul Sisfo dan PSSI. Padahal mereka sendiri hanya mengenyam 4-6 pekan di dunia kerja berstatus Geladi ataupun Kerja Praktik. Artinya saya perlu mengatur ritme agak secara perlahan menyeret mereka ke dalam paradigma dunia manajemen organisasi dunia kerja. Sebisa mungkin saya menggunakan studi kasus yang sederhana dengan sesekali menyimulasikan percakapan di dunia kerja. Tampaknya saya perlu belajar teknik public speaking macam standup comedy tapi versi agak serius.

Terkait stok studi kasus, alhamdulillah sya terbantu dengan pengalaman di dunia kerja sejak tahun 2013. Pengalaman di PAJ Group selaku programmer, analyst, dan sesekali project administrator, sangat membantu. Pun pengalaman nge-proyek bareng di Arkadia itu juga memberi masukan tentang betapa dinamisnya ekosistem organisasi terkait pengelolaan SI/TI. Dan tak lupa bekal 3 semester di MTI Fasilkom UI turut mewarnai pengetahuan saya, baik "genoside" di kelas maupun "romusha" di S*buck. Tentu sya harus patuh aturan dalam meramunya. Ada fenomena yang bisa diutarakan begitu saja, ada yang harus anonim, ada pula yang tidak boleh diceritakan sama sekali. Saya harus cerdas memilih dan mempertanggungjawabkannya.

Harapan saya sederhana, mahasiswa bisa mudah mencerna dan bisa belajar di hari nanti.

Promosi Tanda Tangan Digital @Makassar

BoothTeam Edisi Mendadak @HariHakUntukTahuSedunia

IT Perlu Diperjuangkan

Berkali mampir kemari sebagai tamu. Berbagi pemantik inspirasi bagaimana IT bisa berarti. Berjelajahi gagasan walau kadang kendala merintang. Dominasiroblema masih seputar bagaimana semangat IT bisa dibangun sebagai komitmen yang terencana dan emenihi kebutuhan organisasi.

Jalan tampaknya masih panjang, samar berliku tapi itulah mistri yang oleh Allah masih dipersilakan bagi kita untuk memperbaiki ya

Awal Musim Baru


Sebuah keinginan yang terbesit sejak nyaris 5 tahun lalu
Sebuah upaya yang sempat terjegal dalam durasi setahun ini via 5 ali percobaan 6 kali penolakan
Sebuah debut yang masih sangat panjang dan perlu menyisihkan malam-malamku untuk belajar lebih giat lagi

Terima kasih kpd istri, orang tua, dan saudra yg sudah berkenan menemaniku memelihara mimpi
Terima kasih pula kpd kawan-kawanku yg sudah lebih dulu menjelajahi belantara rimba dosen di berbagai bumi Allah, bang Inggar Saputra di Universitas Mercu Buana, bang Detha Alfrian Fajri di Universitas Brawijaya, mba Denis Eka Cahyani di Universitas Negeri Sebelas Maret, Mba Betha Nurina Sari di Universitas Singaperbangsa Karawang.

Ready Steady Hmmm


Sulit membayangkan ada di forum ini bersama wajah-wajah yang sebetulnya familiar. Wajah-wajah kini menjadi rekan kerja saya untuk menuju Universitas Telkom yang lebih baik.

Emang Perlu Ada SER gitu?

Kali ini kesempatan 'gratis' menyimak pembicaraan tentang manajemen risiko dari sisi ancaman dunia teknologi informasi. Penyalahgunaan teknologi informasi serta faktor bencana merupakan ancaman yang mempengaruhi keberlangsungan SI/TI di organisasi kita. Di sini diulas banyak tentang urgensi untuk membangun komitmen, khususnya di layanan pemerintah, berupa lembaga fungsional yang berfungsi sebagai pusat penanganan bencana SI/TI.


Terima kasih kepada Pak Fetri Miftach, Pak Tedy Sukardi, dan Mr. Tony atas ilmu yang dibagikan pada kesempatan tersebut.

Telkom 3 Generasi, Pernah 1 Korporasi


Wah ternyata momen ini belum diarsipkan di blog hehee..
Pertemuan agak mendadak ini awalnya bertujuan mengumpulkan para alumni maupun yang masih di Departemen IT PAJ Group, antara lain Mas Eri, Peik, Hanafi, Mas Iqbal, Pudy, Dani, plus bintang tamu dari pakar GIS: Mas Samsul. Tapi apa daya, seleksi alam lalu lintas ibu kota Jakarta terlalu keras. Alhasil hanya bisa mempertemukan tiga orang yang kebetulan udah beristri semua hehee.

Makin unik karena latar belakang yang sama, yaitu alumni perguruan tinggi Telkom. Mas Eri adalah generasi STT Telkom angkatan 2003, saya generasi IT Telkom angkatan 2008, sedangkan Peik walau masuk di IT Telkom angkatan 2009, namun kelulusannya bertepatan dengan era Universitas Telkom.