Museum PLTD Apung Aceh (plus Pantai Ulee Lheue)

Objek wisata ini saya kunjungi (juga) persis setahun yang lalu dan sangat nggak terbayang proses "pembangunan" objek wisata ini yang sangat kental "campur tangan" oleh Allah SWT. Sebuah kapal laut yang seharus berada di dermaga  terdampar di tengah kota Banda Aceh saat tsunami membasahi bumi Serambi Mekkah ini. Memang benar bahwa Allah itu Maha Menghendaki, bahkan apa yang saya saksikan ini hanyalah segelintir dari bukti kekuasaan-Nya.

Jika Museum Aceh merupakan objek wisata buatan (artifisial), maka objek wisata PLTD ini merupakan monumen yang bisa dikatakan sepertiga religi, sepertiga hostori, dan sepertiga alami.

Cheeeersss :)

Begronnya bagus ya? Tatkala seorang sanak family menunjuk arah seberang jauh yang diujarkannya sebagai lokasi dermaga "seharusnya" kapal ini berada, saya berpikir bahwa betapa dahsyatnya megabencana satu dekade lebih itu. Dari lokasi tempat PLTD ini kita akan menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang menghantarkan pesan kedamaian dengan panorama yang aduhai... *jangan bandingkan dengan kota megapolitan "itu" ya *



Museum Tsunami

Setahun lalu, ya pada 11 Januari 2015 saya berkesempatan mengunjungi Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Provinsi paling Barat Laut NKRI. Salah satu titik dikunjungi oleh saya beserta rombongan keluarga adalah Museum Tsunami. Lokasi tidak terlalu menyempil di belantara pojok, namun tidak pula menonjol di tengah kota. Namun jangan khawatir tidak bisa menemukannya, kenapa? Bangunan ini spesial dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Aceh walau bukan dirancang oleh masyarakat Aceh sendiri.


Sekedar nama? Menurut saya tidak. Sekilas penayangan nama tidak se-waah dibandingkan foto-foto kejadian, namun nama-nama itu justru membuat kita termenung betapa kecilnya kita. Seolah-olah nama-nama berujar setelah ajal yang akan kita sisakan hanya nama, bukan harta duniawi. Tidak ada yang menyandang gelar akademik dan profesi di sini, tampak "kode" bahwa jangan menyombongkan gelar apapun. 

Bagian yang (setidaknya bagi saya pribadi) menjadi simbol jauhnya kita dari Allah. Sebuah representasi lain betapa "kerdil"-nya diri kita ini atas kuasanya. Diorama yang menerpurukkan kesombongan :)

 Setelah menyusuri jembatan penuh "nuansa nostalgia" kita akan disambut jembatan yang mengekspesikan harapan dan uluran tangan dari berbagai bangsa di dunia. Di sini kita diajak berpikir bahwa jangan terkungkum dalam tempurung kesendirian, apalagi di tengah prahara sekian dekade antara pemerintah pusat vs GAM. Ketika semua dihempas bencana alam, masyarakat Aceh berstatus sama, yaitu sama-sama membutuhkan uluran bantuan, tak hanya dari Indonesia, namun juga dunia.

:) #nocaptionneeded

Nu 7: Arda Turan

Akhirnya si "kartu (apakah truf)" musim ini diluncurkan, yaitu Arda Turan dan Aleix Vidal. Kedunya muncul setelah musim ini Barca meraup 2 trofi, yaitu Piala Super Eropa dan Kejuaraan Dunia Antarklub 2015. Tapi mereka punya memegang peranan penting mendobrak kelabilan Barca yang kerap tersandung di laga-laga melawan klub semenjana.


Transfer Arda Turan (dan juga Aleix Vidal) terhitung unik karena walau resmi berkostum Blaugrana, tepatnya saat rilis skuad 2015/2016, mereka belum bernomor punggung. Sempat beredar rumor bahwa nomor 6 akan dipakai oleh Arda Turan mengingat dirinya seorang gelandang yang kreatif dan disebut-sebut layak mewarisi nomor milik Xavi Hernandez. Namun ternyata nomor itu digaet oleh Daniel Alves yang sebelumnya bernomor 22. Nomor resmi Arda Turan ternyata mengarah ke nomor 7 yang di penghujung bursa transfer musim panas lalu dilowongkan pasca hengkangnya Pedro Rodriguez. Nomor 7 yang diperoleh Arda Turan ini ternyata menyimpan sejarah tersendiri karena kerap diisi oleh pemain-pemain yang cenderung bukan sorotan utama, bahkan cenderung menjadi super-sub, sebut saja Javier Saviola, Eidur Gudjohnsen, David Villa, dan Pedro Rodriguez itu sendiri. Namun mengingat mereka masing-masing striker sayap dan striker dimana di era masing-masing sudah ada nama yang lebih besar, maka wajar mereka redup. Barangkali kita perlu mengungkit Luis Figo yang menjadi maestro lini tengah Barcelona di penghujung era 1990-an. 

Arda Turan menjadi alternatif yang memperkaya opsi Luis Enrique menyusun propaganda serangan Barcelona. Bayangkan saja, di rooster klub ini sudah bersanding sebelumnya nama Andres Iniesta, Ivan Rakitic, Sergio Busquest, Rafinha Alcantara, Sergio Roberto. Sistem rotasi jelas menjadi win-win solution bagi Barcelona jika tidak ingin ada sakit hati lantaran nama-nama tersebut tersisih dengan sakit hati.

Dan khusus bagi individu Arda Turan, jika berhasil membawa Barcelona menjuarai La Liga, maka dia akan menorehkan catatan khusus berubah pemain yang mampu meraih gelar juara La Liga di dua klub berbeda. Sebuah torehan yang sangat langka. Mengapa demikian? Karena La Liga terlalu didominasi oleh Barcelona dan Real Madrid, dan kita tahu rivalitas kedua membuat sangat jarang ada pemain menyeberang. Sosok Bernt Schuster, Luis Figo dan Javier Saviola agaknya patut diacungi jempol karena bisa menduetkan gelar La Liga dari kedua klub tersebut. Tapi sosok fenomenal tentu David Villa yang berhasil meraih gelar juara La Liga bersama Barcelona (2010/2011, 2012/2013) serta Atletico Madrid (2013/2014). Ya torehan David Villa yang juara dengan klub di luar "duopoli" sangat mungkin disusul oleh Arda Turan.

Hanyalah ....

Besi (Al-Ĥadīd):20 -
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.
Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.
Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Lelucon Awal tahun yang #AhKeterlaluan

Sebuah berita yang beredar di berbagai media (dan sudah dikonfirmasi validitasnya) di awal tahun ini, salah satunya yang disiarkan oleh Kompas

JAKARTA, KOMPAS.com — Putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Palembang yang menolak gugatan perdata senilai Rp 7,9 triliun dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) terhadap PT Bumi Mekar Hijau (BMH) terus menuai kritik.

Berita tersebut juga telah dilansir oleh Makamah Agung melalui direktori putusan pengadilan yang berbunyi, "MENGADILI: Dalam Provisi: - Menolak tuntutan provisi Penggugat; Dalam eksepsi: - Menolak eksepsi Tergugat; Dalam Pokok Perkara: - Menolak gugatan Penggugat seluruhnya; - Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara yang sampai hari ini ditetapkan sejumlah Rp10.251.000,00 (sepuluh juta dua ratus lima puluh satu ribu rupiah); " (Sumber: http://putusan.mahkamahagung.go.id/putusan/0eefbd16fb31db1936f732586efd2047). Inti permasalahan yang dibahas sangat mendalam ada pada proses penanaman pohon akasia yang "dianggap" mudah ditanam kembali.

Secara objektif, saya belum menelusuri bagaimana penyederhanaan kesimpulan "bakar hutan tidak apa-apa, karena bisa ditanami lagi". Yang pasti apabila kita hanya membaca kesimpulan itu ya tentu secara alami kita akan marah, itu manusiawi. Bencana asap kemarin adalah salah satu bencana "nasional" terpanjang yang pernah melanda Indonesia (saya beri tanda kutip karena pemerintah, dalam hal ini Kabinet Kerja, tidak pernah menyematkan status resmi), korban jiwa ada, peradaban pun mengalami mati suri, termasuk pendidikan dan perekonomian, dampaknya sudah jelas jangka pendek dan jangka panjang. Tentu pernyataan hakim, yang dibuat kesimpulannya seperti itu jelas menyakiti perasaan masyarakat. Saking sakitnya, masyarakat langsung berbuat "keras" dengan meretas website Pengadilan Negeri Palembang, bahkan "penghakiman social media" menjatuhkan vonis berupa meme-meme menyakitkan hati yang terarah hanya kepada sang hakim.

Berpikir ilmiah terhadap kajian
Saya terus terang tepar membaca berita lengkap putusan tersebut. Total 116 halaman dengan berserakannya istilah hukum membuat saya agak sempoyongan. Secara garis besar, pengacara tergugat memang memberikan argumentasi berupa jenis akasia yang konon diklaim mudah ditanami kembali. Di sini memang sudah terasa aroma yang agak sadis. Masyarakat tentu tidak mau bertele-tele jenis pohonnya apa serta detail berapa tahun bisa tumbuhnya. Alhasil, fakta "akasia" sudah pasti menguap. Kemudian terdapat pula kronologis keberadaan akasia serta luas wilayah. Bicara luas wilayah tentu terjadi generalisasi terhadap kasus yang disidangkan dengan bencana nasional yang terjadi. Kita (termasuk saya) masih belum mengerti ruang lingkup geografis yang jadi persidangan itu berapa. Apakah wilayah yang disidangkan ini memang sangat kecil (dibandingkan area bencana nasional kemarin) serta apakah di wilayah ini situasinya separah wilayah lain. Barangkali dua hal ini juga menguap. Alhasil kita perlu lebih bersikap kritis tidak hanya ke sang hakim, namun juga ke berita yang ada dimana harus kita telusuri lebih mendalam kronologis pemberian vonis tersebut.

Tapi secara subjektif...
Saya tidak membela sang hakim. Kenal, apalagi dibayar pun nggak. Yang diutarakan di atas adalah fokus kepada kebiasaan kita yang membaca berita setengah-setengah (malah nggak ada setengah alias 50%). Secara subjektif saya turut prihatin dengan hasil akhir putusan hakim tersebut. Apakah bukti yang disampaikan Kementerian Lingkungan Hidup masih kurang kuat? Apakah pihak tergugat beserta pengacaranya terlalu piawai dalam berargumen? Ataukah ada kesengajaan dalam mengambil keputusan? Semua hanya bisa bertanya-tanya, atau malah menjawabnya dengan su'udzon.

Sedih karena ada ketimpangan yang akan berpengaruh ke masa depan, khususnya kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap penegakan hukum Indonesia. Semoga tidak ada main "amplop" di sini.
#AhSudahlah
Tidak lucu lelucon awal tahun ini yang #AhKeterlaluan

Ekspedisi Ternate: Jalan K.A.K.I.












#ArfiveMalukuUtara

Berorganisasi di Lingkungan S2

S2 alias jenjang magister merupakan salah satu tahap di pendidikan tinggi yang relatif "pendek". Masa studi S2 dirancang untuk ditempuh selama 4 semester. Tentu hampir dua kali lipat lebih singkat dibandingkan sarjana (8 semester) ataupun doktor (8 semester). Maka tidak heran bahwa lingkungan S2 sangat gersang berorganisasi. Memang sepintas kredit atau SKS yang harus ditunaikan berkisar pada 12 SKS per semester alias 4-6 mata kuliah yang artinya ada 12 x 50 s.d. 60 menit alias 600 s.d. 720 menit (dibulatkan menjadi 10 s.d. 12 jam) tiap pekannya. Di atas kertas, jenjang S2 jelas lebih luang waktu kuliahnya dibandingkan S1 yang rata-rata menghabiskan 20 SKS tiap semesternya. Namun ada banyak faktor yang mendorong kegersangan iklim berorganisasi di lingkungan S2.
- Masa studi pendek
- Kenyang berorganisasi
- Fokus di dunia kerja
- Sudah berkeluarga
- Target studi lebih tinggi
- Biaya kuliah yang lebih mahal
- Penugasan di luar jam perkuliahan sangat banyak
- Sangat jarang organisasi kemahasiswaan yang "akrab" dengan S2

Sebenarnya ada banyak kesempatan bagi mahasiswa S2 untuk bergabung membaktikan waktunya di berbagai organisasi dengan berbagai tujuan yang tentunya menjadi kewajaran sebagai manusia. Mungkin motifnya untuk melebarkan koneksi, mengeksplorasi minat dan bakat, mengisi waktu luang, hingga kebutuhan administrasi borang tertentu, dll. Semua itu pada akhirnya patut untuk tetap dinyalakan nuansa ibadah kepada Allah SWT. Secara umum, afiliasi organisasi bagi mahasiswa S2 dapat dibagi menjadi dua, yaitu organisasi non-kemahasiswaan serta organisasi kemahasiswaan. Contoh organisasi non-kemahasiswaan misalnya ikut bergabung di dalam PMI Chapter Indonesia (Project Management Institute), partai XYZ, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Indonesia Berkebun, LSM, dll, dimana identitas keanggotannya tidak dibatasi oleh kesamaan sebagai mahasiswa. Contoh organisasi kemahasiswaan yang dimaksud di sini dapat diambil contoh misalnya HIMMPAS (Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana) Universitas Indonesia, KAMIL ITB, Himpunan Mahasiswa Pascasarjana FKM UI, atau bisa pula organisasi kemahasiswaan lainnya yang membuka keanggotaannya kepada seluruh strata, baik diploma/vokasi, sarjana, hingga magister. Di sini sedikit berbagai mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan apabila hendak bergabung dengan organisasi dalam menjalankan kewajiban perkuliahan di S2.

Profil apa yang diharapkan setelah bergabung di organisasi tersebut?
Tentu mahasiswa S2 (dengan rentang usia 21 tahun ke atas) memiliki pemikiran yang berbeda kematangannya dengan mahasiswa diploma/vokasi dengan sarjana. Bergabung di sebuah organisasi harus memperhatikan orientasi berupa output pada diri ini apa yang diharapkan setelah bergabung. Apakah mampu memperoleh koneksi yang lebih luas? Apakah memiliki kemampuan hardskill dan softskill yang lebih mumpuni? Apakah hobi tersalurkan?

Pengaturan prioritas
Bagi yang multi-asking alias memiliki amanat di berbagai tempat, misalnya kuliah tentu, kerja juga, berkeluarga alhamdulillah, maka patut disusun skala prioritas. Perhatikan manajemen risiko yang sangat mungkin terjadi apabila menjalankan multi-asking, apalagi terkait konflik kepentingan yang mungkin terjadi.

Ketersediaan waktu
Tentu bergabungnya kita tidak diharapkan sekedar menambah tuple dalam database keanggotaan. Maka, coba cari tahu ketersediaan waktu yang realistis. Apakah memang harus bergabung di organisasi tersebut? Ataukah masih ada kemungkinan berkembang di tempat lain yang lebih memungkinkan penyediaan waktunya.

Hap Hap Hap Farmhouse

Bingung mencari deskripsi yang tepat untuk menggambarkan betapa heroiknya perjuangan menuju TKP. Ya, Farmhouse memang sedang naik daun, sementara itu kami harus naik motor mengitari jalanan terjal dari Buah Batu, Kota Bandung, hingga mencapai Lembang, Bandung Barat. Situasi macet sudah menertawakan kami sejak kami mencapai belokan Ledeng vs Cihampelas. Di situ mobil dengan plat B sudah melampaui jumlah yang lazim. Boleh dikata, kami beruntung menggunakan motor sehingga dapat menembus eblantara macetnya mobil. Bytheway, terima kasih kepada Pemkot Bandung yang sudah merehab pinggir jalanan dengan coran sehingga memudahkan motor menerobos jalanan tanpa ikut merecoki keasyikan mobil-mobil. 

Di sana, suasana lebih mirip pasar kaget karena sangat ramai. Logat Sunda yang jarang terdengar menandakan bahwa memang banyak orang dari luar Jawa Barat, khususnya Bandung, yang menjadi pengunjung di sini. Hampir semua bermodalkan gawai dan kamera digital untuk mendokumentasikan "kesuksesan" mereka mencapai lokasi ini. Dan harus diakui, Farmhouse memiliki pemandangan yang unik dimana beberapa bangunan bercorak ala Belanda dengan aksesori bunga tentu menjadi magnet bagi siapapun untuk memotretnya.

 Sejak dirilis awal Desember 2015 lalu, Farmhouse memang terhitung memiliki kekurangan dari sisi daya tampung parkir serta masih tampak beberapa perkakas bangunan yang terselip di pinggir arena. Wajar bagi saya, mengingat momen libur panjang akhir tahun 2015 terlalu sayang untuk dilewatkan. Gembar-gembor di social media juga turut menyugesti orang-orang untuk berjuang ke sini. Dengan banyaknya bunga yang belum "panen" terus terang Farmhouse belum "mekar" dengan total. Barangkali medio tahun depan Farmhouse baru bisa memamerkan warna-warni bunganya dengan lebih memesona.

Ekspedisi Ternate: Potret Pesisir Ternate

Senyum menyambut jepretan foto di tengah keramaian para penghuni peradaban ala pelabuhan


Sebuah kapal feri dengan nama Marin Teratai bersiap untuk menyeberangi lautan Halmahera. Tebak, dermaga mana tujuan mereka?

Termpat ini merupakan titik yang mengawali bergulirnya industri kuliner khas laut di Ternate. Tempat dimana beraneka ragam fauna laut memulai tahapan menjadi hidangan mentah untuk memenuhi nutrisi penduduk. Tempat dimana bermacam profesi ikut andil dalam ekosistem industri kuliner khas laut.

Apakah mereka terlunta kaena menunggu jadwal? Apakah mereka jengah dengan kusamnya fasilitas yang seadanya? Apakah mereka ... Hmmm, entahlah Kawan 

Selain menjadi nama bandar udara di Kota Semarang, ternyata beliau juga menjadi nama pelabuhan di Pulau Ternate. Penasaran ada keterkaitan apa antara Sang Jenderal dengan pulau ini


Rombongan (tidak resmi) kami mulai menatap eloknya Pulau Tidore dari jarak jauh. Tiap orang punya alasan bermigrasi dari Ternate ke Tidore di hari itu. Itulah dinamisnya roda kehidupan yang mewarnai segala beragamnya aktivitas manusia menjalani petualangannya
Pertama kali foto dengan latar belakang Pulau Ternate yang legendaris. Tampak awan berarak semakin menyelimuti, pemandangan yang jamak terjadi namun langka bagi saya hehee :)

#ArfiveMalukuUtara

Ekspedisi Ternate: Danau Tolire (Besar dan Kecil)








Maka nikmat mana yang kau dustakan? dikutip dari Ar Rakhman yang diulang-ulang sepanjang surat ini

Aduhai indahnya panorama ini. Sangat membuat kita merasa "rendah" atas kekuasaan Allah SWT yang menciptakan ini semua. Namun, waspada saat jalan-jalan di pinggir danau karena tidak ada pagar sehingga lengah sedikit kita akan jatuh. Hati-hati dengan pesona yang membius di tempat sini.


 Akhirnya bisa menaklukan diri dengan sampai di Danau Tolire Besar dengan berjalan kaki. Tampak mencoklat kulit ini tergoreng matahari hehee... Dan tongkat yang dibawa dari pinggir Bandara Babullah betul-betul menjadi teman perjalanan yang ikut menopangku yang mengalami kecengklak pada kaki kiri. Alhamdulillah sampai juga...

#ArfiveMalukuUtara