Ekspedisi Ternate: Danau Ngade


Wajar jika banyak yang belum mengenal danau ini, terlihat dari bentuk papan nama yang relatif sederhana. Namun jangan tanya keindahan Danau Ngade yang terletak di pantai Selatan Pulau Ternate. Bahkan sebagian wisatawan yang belum ke sini, justru lebih mengenal danau ini dengan sebutan Danau Laguna Selatan, bukan Danau Ngade. Entah bagaimana kronologisnya, tapi demikian yang terjadi. Bagi yang gemar tantangan, silakan untuk berjalan kaki menuju Danau Ngade dari pusat Kota Ternate. Jarak tempuh hampir 2 jam tentu cocok dan bakal menguras peluh dan sedikit membakar kulit. Tak perlu khawatir sia-sia karena suasana di sini sangat nyaman.


Saran saya, jangan sekedar singgah di sini kurang dari satu jam. Kenapa? Karena terlalu sayang untuk melewatkan panorama dan syahdunya alam Danau Ngade dalam waktu yang singkat. Cobalah untuk mengunjunginya sekitar Ashar. Maka panoramanya yang adem bakal membuat tenteram hati untuk berselonjorkan kaki, plus memancing kegatelan kamera untuk mendokumentasikannya.



#ArfiveMalukuUtara

Afternoon View from (still) Outside

Ada gemuruh tanya yang tak terhingga bila menatap kampus ini. Masih dan masih belum jua aku "pulang". Apakah memang tidak pernah pulang? Apakah memang bukan di situ rumah dalam tanda kutip? Ya setidaknya aku pernah berupaya melangkahkan kaki.

MAT: Diayun Geloran dan juga Renung

Acara yang disuguhkan di Pusdai 31 Desember 2015 oleh Republika ini memberikan sisi lain dalam menyikapi pergantian tahun yang tidak perlu diselebrasikan dengan cara yang sia-sia. Acara Muhasabah Akhir Tahun ini menghidangkan nutrisi penuh spiritual oleh masing-masing pembicara dengan gaya yang sangat unik dan saling mewarnai. Ada sajian penuh hentakan semangat oleh Ust. Ahmad Heryawan, yang juga Gubernur Jawa Barat. Kemudian ulasan tentang Al Ashr yang dibumbui canda segar berdialek khas Sunda oleh ustadz Athian Ali. Bahkan walau tidak bisa hadir langsung dan hanya mengirimkan rekaman suara, K.H. Abdullah Gymnastiar menyelipkan pesan mendalam tentang menjaga kelurusan niat menjalankan aktivitas sebagai ibadah.

Sebetulnya, agenda yang dihelat oleh Republika ini berpotensi menimbulkan perdebatan mengingat bisa saja para "manusiayanggemarberdebat" mempertanyakan bentuk acara yang dapat dianggap sebagai bentuk perayaan tahun baru. Well, bagi saya pribadi, tidak perlu lah memperpanjang debat yang tidak produktif seperti itu. Allah Maha Mengetahui niat apa yang kita pendam dan perilaku apa yang kita amalkan.

#ReviewBuku Ikhtiar Mencari Ridho Allah

Buku ini cocok dijadikan sebagai penambah ilmu yang disajikan secara ringan. Nggak perlu khawatir bahasa yang digunakan muluk-muluk, bahkan penyampaian ayat Al Qur'an dan hadis di dalamnya tidak memaksa kita berpikir keras. Ulasan mengenai topik-topik yang dihidangkan pun sangat aktual, betul-betul sesuai dengan keseharian kita. Singkatnya, ini adalah buku penuh nutrisi yang membangkitkan ghirah kita dalam mencari ridha Allah saat beraktivitas :)

"Tugu" Awug

Awug emrupakan salah satu jajanan khas wilayah Bandung. Bahan pembuatannya sangat khas kesederhanaan pedesaan yang membuat orang ketagihan. Nah, terus terang saya baru tahu keberadaan Tugu Awug ini dua bulan sejak mendiami hunian di kawasan Sukamulya, Mengger. Apakah memang betul bahwa awug diinisiasi pertama kali di Sukamulya ini. Sulit untuk membantahnya karena belum ada klaim dari daerah lain, namun sulit mengiyakannya karena jarang ada yang menjualnya di tiap hari. Kebetulan dari hasil baca-baca juga belum ada fakta yang mengiyakan maupun membantahnya hehee...


Ekspedisi Ternate: Masjid Al Munawwaroh




#ArfiveMalukuUtara

Ekspedisi Ternate: Pantai Sulamadaha




#ArfiveMalukuUtara

Ekspedisi Ternate: Benteng Oranje

Ini merupakan salah satu benteng yang lokasinya tersembunyi di balik keramaian pasar. Warna oranye khas negeri kincir angin ini memang menjadi namanya, Benteng Oranye. Warna mencolok ini agaknya menjadi daya tarik yang berperan membedakannya dengan bangunan-bangunan lain di jantung Kota Ternate.

Tidak perlu menerka-nerka mengapa ada benteng di tempat ini. Lokasi geografis yang di pinggir pantai dengan Pulau Halmahera dan Pulau Tidore di hadapannya, jelas menjadi alasan logis penempatan benteng ini. Namun benteng ini tidak seperti benteng-benteng lainnya yang berlokasi di pegunungan ataupun area terjal. Bidang lokasinya cenderung datar membuat saya berpikir bahwa benteng ini agaknya lebih berperan sebagai “think tank” alias sentra pertahanan secara administrasi dan strategis daripada sentra pertahanan secara fisik. Saya belum menelusuri informasi, apakah saat benteng ini beroperasi situasi di sekitarnya memang pasar atau bukan. Jika iya, artinya benteng ini kemungkinan besar memiliki peranan dalam mengawasi situasi perekonomian di Kesultanan Ternate pada saat itu.

Situasi Benteng Oranje saat ini relatif memprihatikan. Memang ada renovasi, tapi yang saya tangkap hanya sekedar memperbaiki ornament yang rusak, bukan mempercantik dengan wahana yang bersifat edukatif. Barangkali tingkat kunjungan wisatawan yang belum tercatat membuat proyek perbaikannya kurang dapat melihat apa yang diinginkan oleh wisatawan.

 

#ArfiveMalukuUtara

Ekspedisi Ternate: Benteng Kastela dan Benteng Kota Janji


#ArfiveMalukuUtara

Dosen Mroyek

Topik terkait judul di atas memang abu-abu, terlebih jika tidak dipahami luar dalam. Wajar, karena profesi utama apapun, termasuk dosen, akan selalu mengundang pro kontra apabila yang bersangkutan juga memiliki profesi sampingan. Jangankan dosen, pemain bola dengan gaji bulanan berjuta-juta pun masih doyan jadi foto model produk sana-sini. Banyak menteri di kabinet (dari masa ke masa pun) masih tercantum namanya sebagai bagian dari manajemen atau bahkan komisaris perusahaan tertentu.
Lantas bagaimana dengan dosen?

Akan ada banyak fakta plus pengalaman yang bisa digunakan sebagai pembenaran, atau malah jadi penyalahan. Atau bisa jadi ujung-ujungnya dikembalikan lagi pada klausul "tergantung orangnya". Bagi saya pribadi, yang belum berkesempatan ngedosen, ada tiga faktor yang perlu diperhatikan, yaitu prioritas, manfaat, dan amanat.

Prioritas, ya secara ringkas yang menjadi "nawaitu" itu apakah "ngedosen nyambi proyek" ataukah "mroyek nyambi dosen"? Keduanya akan mempengaruhi cara berpikir dalam jangka panjang. Selain itu kita bisa lebih mantap dalam memegang idealisme berpikir diantara dualisme aktivitas seperti itu.

Manfaat, sebenarnya ini terkait dengan seberapa nyambung dan bermanfaatnya proyek yang dijalani dengan bidang keilmuan ya png dijalankan. Sebagai contoh aktif sebagai tim perumus kebijakan ekonomi kreatif di sebuah kementerian jelas akan memberi manfaat terhadap kemampuan berpikir seorang dosen FEB. Si dosen akan mampu menerapkan ilmu teoretisnya  ke dunia nyata. Sebaliknya, pengalaman baru yang empiris di dunia nyata pun malah menjadi masukan berharga bagi keilmuan yang dimilikinya. Jelas berbeda dosen yang punya sepak terjang terlibat di sana sini dengan tidak punya rekam kiprah saat kedua menjelaskan seputar keilmuan mereka. Jelas berbeda pengalaman empiris 2 jam dengan googling 8 jam. Khusus terkait karier dosen yang sarat tuntutan produktivitas yang terkait tri dharma perguruan tinggi, maka proyek yang dijalani patut memberi kontribusi pula terhadap aktivitas tri dharma perguruan tingginya.

Terakhir mengenai amanat, maka harus disadari bahwa aktivitas ngedosen dengan mroyek sama-sama dihadapkan pada tanggung jawab u tuk menjunjung amanat. Bukan perkara mudah untuk ber-multiprofesi. Ringkas kata jangan men-dzolimi orang-orang sekitar terkait amanat yang diemban.

Semoga menginspirasi walau memang masih terlampau 'cethek'.