Sebuah Awal

 Sebuah awal yang tidak disangka, bismillah

Apakah ini akhir dari sebuah upaya? Bukan

Ini adalah akhir dari upaya yang entah keempat, kelima, atau jangan-jangan keenam

Tapi ketika sebuah frase "akhir" tiba, artinya frase "awal" telah mengetuk pintu

Bismillah 

Kreatifa Hudzaifa Gandhufa

Alhamdulillah proses persalinan berlangsung lancar dan telah lahir dg sehat pula anak kedua kami, seorang lelaki tangguh bernama Kreatifa Hudzaifa Gandhifa hari ini (10 Juni 2020) 15.09 WIB dengan berat 34,3 Newton di Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Semoga Dzaif diberikan berkah n menjadi anak sholeh yg penuh kualitas dlm ibadahnya.

Arfive-Tari

13 April 2020

This landscape was captured in the beginning of this year. It was so ordinary to enjoy this view through 3202 room's window since i often spent most of my weekday in there. With free hot water, with free wifi, and (the most important thing) with free uncountable chit-chat among friends for assorted topics. For several cases, i was be the only person inside building in the middle of night to accelerate my adventure "searching the seven dragon ball".
.
.
Last time i was there, i got some bad feeling. When met a lecturer in that building, she asked to me, "Why you are still here until this afternoon?". Unconsciously, i said "as long as i can study here", a simple answer due to i had feeling that "alarm" would be ringing as soon as possible to stop entire our campus activities. That feeling was stronger when i went back to Sunday Market. Some days later, the "strawberry field" got maddening plague. As sung by KLa Project,
"I feel something that never realized 
When looked around of me 
Many happens need to be recognized 
Show us to a sign 
People sharing each other 
Loving, caring and helping in every way"
.
.
<<to be continue>>
<<lanjut mencari dragonball>>

#AsianCHISymposium

Salah satu tren "digitalisasi dadakan" adalah menjamurnya berbagai seminar daring, bahkan konferensi/seminar daring. Awalnya, iseng mendaftar sebagai peserta di Asian CHI Symposium 2020 lantaran suka dengan topik dan (nah ini nih) gratis. Ternyata dipersilakan bergabung dan menyerap banyak ilmu dan inspirasi.
.
.
Dari kuantitas makalah memang menurun, tapi dari sisi kuantitas peserta melonjak drastis hingga 70-an. Artinya, terjadi inklusivitas dalam mengakses ilmu pengetahuan. Pengalaman menarik juga satu acara daring dengan orang dari berbagai negara.
.
.

Pengalaman menarik juga seumur-umur ikitan konferensi/simposius sambil mengoperasikan mesin cuci dan menjemur baju di halaman depan rumah dengan bersarung ria :v
.
.
.
Digitalisasi mendadak ini sepertinya bakal merombak "model bisnis" perkonferensian :) kita ambil sisi positifnya :)

setelah 146 hari


5 Agustus 2020

GaNas58 Unite Vent

12 Nov 2020

#latepost📷 Angkatan kami bukan yang terbaik walau bukan yang paling kacau.
.
Ambil saja yang baik, buang yang jelek sebagaimana pepatah "ambil uangnya, buang dompetnya" #eh

Wisud Tim Riset

Satu per satu teman seperbimbingan seperguruan sepergalauan memungkasi agenda penelitiannya dengan karya-karya yang spesial. tidak sekadar berakhir di rak perpustakaan, tapi juga publikasi untuk saling menginspirasi, ada yang sudah presentasi, ada yang pekan depan, bulan depan, dan segera :)

Ibarat benih, sudah waktunya terus tumbuh, berbunga, dan berbuah lah sembari menebar manfaat dan keberkahan *beuh ini prodi komputer apa sastra ya?

Foto ini pun diambil diambil di tengah suasana kejepit. Ada bapak dosen yang memantau jalannya sebuah hajatan, ada mahasiswa yang standby di hajatan sebelahnya, ada wisudawan yang memastikan jalannya wisuda virtual lancar, ada ibu-ibu yang lagi ngurusi bayinya. Begitu lah, semaraknya hidup. Di tengah kesibukan yang beragam, tetap patut bersyukur.

Jadi, kapan saya wis (dan) sudah? Wallahualam :)

#WorkshopEBusiness

12 Des 2020

Menemukan banyak inspirasi dan pelecut untuk terus produktif di masa studi yang tengah dirundung sepasang problema. Tetap semangat dan menyemangati.

Tren tengah didominasi penelitian eksperimen, bukan hanya eksplorasi faktor semata. Ide-ide yang mereka paparkan sederhana dan mudah dipahami, namun penuh nutrisi dan "novelty". Ada yang eksperimen manipulasi berita dan menguni seberapa akurat orang mengenalinya. Ada yang mengevaluasi seberapa "manusiawi" sosok chatbot dalam berinteraksi.  Ada yang bahas gig economy juga hehee..

#WorkshopEBusiness #preICIS

WorkshopSIGHCI2020

12 Des 2020

Masih tentang malam Minggu yang berjelaga dan berselotip. Lokakarya (workshop) kali ini tentang Interaksi Manusia dan Komputer. Berjumpa secara virtual dengan orang-orang yang punya portofolio kece (selesai ngobrol, iseng ngecek di Google Scholar, woww gokil rekam jejaknya, padahal tadi kalau ngomong bersahaja banget hehee).

Isu yang banyak dikupas kali ini adalah penyelenggaraan kuliah daring (entah kenapa dosen di bidang HCI rata-rata spesialis e-learning). Ada yang membahas etika penelitian eksperimen, ada yang berbagi pengalaman gamifikasi, dan yang paling menarik adalah eksperimen kesadaran keamanan informasi selama kerja dari rumah (work from home) dengan teori inokulasi. 

Acara gratis tapi keren habis
#WorkshopSIGHCI2020 #preICIS #tapikagakikutICIShikss

Kita Butuh Waktu untuk Memahami Kebaikan-Nya

Ada sebuah cerita yang tidak banyak orang tahu. Bahkan mungkin, orang-orang yang saya maksud dalam cerita ini. 

Kisaran bulan yang ada ~ber ~ber di tahun 2007, sebuah kompetisi menggiurkan mulai diperbincangkan (kalau terjadi tahun 2020, tentu jargonnya "lagi viral"). Apanya yang menggiurkan? Karena lima besarnya nanti diganjar tiket masuk sebuah perguruan tinggi. Bagi anak kelas XII SMA, tentu hadiah itu sangat berharga (tahu 'kan ya anak XII itu kegalauannya dua: UN dan memilih kampus). Apalagi, kampus ini salah satu dari target saya. Singkat cerita "seleksi alam" hanya menyisakan tiga orang: dua orang kawan beserta saya. Masing-masing menjalankan berbagai upaya untuk merealisasikan ide, tentunya dengan khas lugunya anak SMA. Sebagaimana biasa menjelang tenggat pengumpulan, tiap sore kami dikumpulkan untuk ritual mengebut bahan lomba (semacam rituro ala klub Serie A). Saya sendiri berhasil menyelesaikan lebih awal dibandingkan dua rekan saya yang memang lebih rigid olah datanya. Atas nama kolektivitas, saya menunggu mereka selesai, bahkan turut berdiskusi. Secara manusiawi, rasa kesal dan toleransi tengah adu dominasi. 

Fatalnya, dua kawan saya ini baru selesai di hari H pengumpulan, lebih spesifik jam 3-an sore. Masalahnya, teknis pengumpulannya adalah versi cetak yang dikirim pos. Hah? Cetak? Pos? Ya iyalah, tahun 2007 itu penetrasi internet di Kabupaten Tegal masih "gersang", pun halnya dengan layanan yang masih bersandar pada jasa pos. Urusan cetak naskah dan segala pernak-pernik baru selesai jam 5 sore dan kisah dramanya justru baru masuk klimaks.

Ternyata kantor pos Slawi sudah tutup dari jam 4 sore. Maka alternatif yang masih mungkin dicoba adalah kantor pos Kota Tegal (yang relatif lebih besar dan sentral). Kebetulan pula kami bertiga tidak ada yang punya motor maupun SIM. Padahal, kantor pos Kota Tegal tidak dilewati kendaraan umum. Pun, kurang etis juga kalau sampai lewat larut malam dua teman saya ini masih di luar rumah. Yang paling realistis adalah saya sendiri yang ke situ. Eh, ndilalah sampai di sana sudah jam 9 malam (karena harus berganti kendaraan umum dan jalan kaki). Jam 9 malam sudah tinggal satpam yang berujar "truknya sudah lewat sekian menit lalu". Nyesek? Tentu? Sudah sampai di sini? Belum...

Besoknya, coba menghubungi panitia meminta kelonggaran dan alhamdulillah diberi, akhirnya langsung ke kantor pos Tegal kembali, itu pun saya sendiri lagi yang ke sana. Hingga kemudian tiba pengumuman finalisnya yang mengecewakan saya, tapi tidak bagi dua kawan saya. Saya tidak lolos, sedangkan mereka melaju ke final. Dan di final nanti mereka diganjar juara 1 dan 3. 

Iya, dua orang yang selesainya "injury time", nitip teman, dan belum berminat kuliah di kampus tersebut justru yang bawa oleh-oleh trofi plus "tiket" masuk kampus tersebut. Lah saya suvernirnya cuma resi bukti kirim untuk reimburse. Kalau kata Abdel, "gw yg jalan-jalan, lu yang jadian"

Sudah bisa menebak perasaan berkecamuk di benak saya kan? Ada rasa bangga, kecewa, senang, cemburu, dan "biasa bae" yang berpadu. Lho, kok ada rasa "biasa bae"? Ya mereka sebelum kompetisi ini juga langganan menang lomba. Butuh waktu dan kesibukan lain (baca: nge-gabut hingga tahu-tahu Maghrib di SMA) untuk mengeliminasi rasa kecewa dan cemburu. 

Selang sekian bulan, saya bulat tidak mendaftar seleksi masuk di kampus itu. Bukan karena dendam, melainkan menemukan jalur yang lebih cocok (walau setahun dua tahun kemudian saya babak belur di kampus pilihan saya). Dan memang, Allah punya pilihan yang terbaik dan itu versi-Nya yang Maha Mengetahui, bukan versi kita yang tidak bisa membedakan mana mampu dan mana mau.

Waktu bergulir, masing-masing dari kami bertiga sudah berkeluarga. Uniknya, dua diantara kami bertemu jodoh di kampus masing-masing. Masing-masing dari kami juga masih di jalur keilmuan sesuai S1-nya. Dan saya juga bersyukur tidak jadi memilih kampus "itu" (kampus yang yang jadi motivasi saya ikut kompetisi tersebut). Ya bayangkan saja, di kampus S1 dulu materi XYZ cuma ketemu 3 SKS di satu semester (mungkin 2-3 bagi yang spesial), eh di kampus "itu" seumur kuliah.

Akhir kata, saya kerap mengingat momen sakit hati itu bukan dalam rangka dendam maupun menjelekkan upaya keras dan berkualitas dua rekan saya. Justru saya mengapresiasi bagaimana mereka mau bekerja keras di bawah tekanan hingga penghujung waktu. Lebih dari itu, saya belajar bahwa kalau memang rezekinya, maka jalur tercapainya ada macam-macam. Boleh jadi, kita ini menjadi "tempat lewat" rezeki kawan/saudara kita. Dan kalau Allah menggariskan itu sebagai rezeki buat mereka, kita harusnya turut bersyukur bisa memberi manfaat walau sekadar numpang lewat. Tujuan saya mengingat momen itu adalah sebagai pelajaran juga bahwa Allah itu punya skenario dahsyat yang baik dari segala penjuru, maka banyak-banyak lah berprasangka baik dan bersyukur.

AG, in Q.14 period (2020.12.17)

Sebuah Refleksi

 Dalam tiap akhir sebuah periode/momen (misalnya akhir tahun kalender, akhir Ramadhan, lebaran, masa bakti, dll), saya sering merenungkan apa yang sudah tidak ada lagi. Salah satunya tentang siapa saja yang tidak bisa lagi kita jumpai karena beliau-beliau sudah tutup usia. Ada keluarga, kerabat, guru, maupun kenalan lainnya.

Kepergian mereka sepatutnya jadi refleksi berapa lama lagi waktu yang tersedia bagi kita yang masih hidup sekaligus bekal apa yang bisa kita ais dalam sempitnya waktu. Semoga kepergian orang-orang di tahun ini, tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran bagi kita ...

Tidak Ada Jumatan Jumat ini

Setelah dua kali ada Jumatan, maka pekan ini sholat Jimat ditiadakan

Sedih? Iya
Tapi patuh harus kedepankan berinringan dengan ikhlas

Ketidakpastian

Entah, aku masih di persimpangan sarat ketidakpastian

#EkspedisiKinabaluBrunei Obrolan Mendadak di Kedai Kopi Kota Kinabalu

'Logo kampusnya macam pernah lihat dimana ya'
Itulah yang ada di benak saya saat dua orang itu presentasi pada hari pertama ISCAIE. Oalah, orang Indonesia ternyata. Logo kampus yang saya maksud dan akhirnya saya ingat itu adalah Institut Teknologi Kalimantan. Saya suka logonya karena unik hehee, btw. Lebih terkejut lagi lantaran mereka masih S1, wowww mantap parah lah ya, duo yang bernama Iman dan David ini. Kebetulan yang satu nama vokalis J-Rock, satunya lagi Naif hehee



Ajakan untuk berbincang masuk ke ponsel saya pada sore menjelang Maghrib esok harinya. Setelah kebingungan mencari tempat nongkrong, akhirnya kami memutuskan bersua di kedai kopi di dekat hostel saya. Berbagai obrolan mengalir begitu saja, tanpa skenario maupun protokol tertentu. Topik berseliweran dengan saling sambar hal-hal unik. Barangkali karena saya juga dosen dengan usia tidak terlampau jauh dari mereka, kami bisa 'nyambung' dalam berdiskusi. Kisah-kisah ajaib mereka patut saya saluti, terutama proses partisipasi mereka di ISCAIE ini yang tergolong nekat banget, kalau perlu 'nekat banget sekaliiii'. Saya pernah berpartisipasi di dua buah konferensi saat S1, tapi jenjangnya hanya nasional pun ditalangi dosen pembimbing hehee. Nah, mereka tidak seberuntung itu prosesnya, tapi mereka tetap maju melangkah untuk mejemput apa yang menjadi target mereka.

#EkspedisiKinabaluBrunei Eksplorasi Pusat Kota Kinabalu [3]

Kota Kinabalu sebagai ibu kota alias bandar raya dari negara bagian Sabah, menyediakan tata letak yang unik. Selain objek wisata alam, hampir objek-objek menarik di Sabah berlokasi di Kota Kinabalu. Di luar area Kota Kinabalu, sepi banget [lho kok tahu, hehee, sedikit bocoran episode mendatang]. Objek wisata alam yang melegenda di sini adalah Gunung Kinabalu serta berbagai pulau kecil di sekitar Kota Kinabalu. Keduanya bukan opsi yang realistis mengingat keterbatasan waktu dan tenaga. Dari berbagai objek yang menarik untuk ditelusuri di pusat kota ini tentunya kawasan dermaga yang membentang luas. Sejumlah titik menarik perhatian untuk didokumentasikan.


Kota Kinabalu itu panasnya poooool, udah macam Semarang lah. Secara suhu sih menyaingi Jakarta, tapi panas di sini murni faktor kawasa tropis dan pantai, bukan 'jebakan' kalor gedung-gedung dan kendaraan bermotor. Tapi, musim penghujan masih melanda pada saat saya di sini, alhasil suhu bisa berbalik nasib secara mendadak. Dan itu yang terjadi di tengah terik panas mendatang rintik hujan keroyokan hadir.

Sebuah titik yang sangat foto-able. Mirip dengan I Love KL, yang ada di Kuala Lumpur, kalau yang ini KK-nya tentu Kota Kinabalu.

 Ikan merlion, simbol tidak resmi kota ini yang merepresentasikan dunia laut sebagai sumber ekonomi masyarakat di sini.

Hotel Capital, warnanya yang unik jelas sayang untuk dilewatkan begitu saja. Entah bagaimana mengarahkan tukang-tukang catnya.

Di tengah terik panasnya Kota Kinabalu, saya menyempatkan diri masuk ke sebuah psuat perbelanjaan. Bisa dibilang semacam BIP-nya Kota Kinabalu. Tapi, jelas namanya bukan KKIP, Kota Kinabalu Indah Plaza, lho ya. Ternyata sedang ada pentas seni tingkat nasional. Entah apa nama acaranya, yang pasti sajian tari budayanya memantik minat saya untuk menikmati eksotika budaya negara tetangga ini. Beberapa ritme musik maupun busana yang dikenakan mirip dengan yang ada di Indonesia.


Ya iyalah, Malaysia semenanjung memiliki kedekatan kultur dengan masyarakat di Riau, Kepulauan Riau, bahkan Sumatera Barat sesama rumpun Melayu. Sementara itu, Malaysia bagian Timur satu pulau dengan lima provinsi Indonesia dalam bingkai Pulau Kalimantan alias Borneo. Suku Dayak pun tersebar pula di Sabah dan Serawak. Wajar jika ada kemiripan, yang penting saat dicek dengan Turnitin kurang dari 20 persen lah.

 Lantaran siang hari, jelas objek ini tidak berpenghuni. Namun bisa ditebak ini tempat 'nongkrong' anak muda di pagi dan sore atau malah malam hari.

 Bangunan klasik ini saat ini menjadi kantor dewan pariwisata Sabah. Jelas eksteriornya seolah berbisik bahwa bangunan ini sudah ada sedari era kolonial.

Sebuah masjid yang lokasinya relatif tinggi, yaitu perbukitan agak menepi dari keramaian Kota Kinabalu.

Lantaran badan mendadak menggigil, saya putuskan kembali ke hostel untuk beristirahat s.d. malam harinya sebuah ajakan berbincang masuk ke WA saya.

#EkspedisiKinabaluBrunei ISCAIE on stage...

Hari kedua ISCAIE, alhamdulillah fisik sudah mulai pulih walau batuk masih cekikikan membayangi. Seperti yang sudah-sudah, batuk memberi dampak sistematik pada metabolisme tubuh saya. Saya menjadi 'gila' minum air putih untuk melegakan kerongkongan yang berujung pada bolak-baliknya saya ke toilet [boso Jowo'ne 'beser'] dan karya seni saya menjadi saya beninggggg. Ibarat lagu Ebiet G. Ade, 'Sebening Embun', lah kok ngelatur...

Terus terang, saya tengah menggandrungi gaya busana ini, perpaduan formal dan non-formal

Singkat cerita fisik saya masih dalam tahap pulih dan tidak ada pilihan lain, kecuali maju terus hadir ke ISCAIE untuk dua alasan. Pertama, saya tampil sebagai penyaji selama sekitar 15 menit atas materi yang saya mulai rintis substansinya sejak satu semster sebelumnya dalam SM2 saya. Kedua, saya pun tampil sebagai moderator [bahasa gaholnya Session Chair] selama kurang lebih 3 jam. Alasan kedua ini menuntut saya banyak konsentrasi mengingat saya selaku 'supir' dari jalannya sesi paralel dimana ada sekitar 10-12 penyaji tampil dengan berbagai kondisi.

Persiapan sebelum 'manggung'

Beberapa kejadian di luar rencana terjadi dan malah menjadi pengalaman berharga bagi saya. Tak lupa kesempatan berbicara di muka umum dalam bahasa Inggris tentu momen langka yang patut disyukuri. Kalau boleh jujur, saya tidak memperoleh honor sebagai moderator karena memang sifatnya sukarela dan memang tidak ada orientasi finansial di sini. Saya terinspirasi dari Mr. Gurdel Ertek asal Uni Emirat Arab yang saya temui pada ICIT 2017 di Singapura. Beliau bisa membawakan sesi paralel dengan sangat luwes melalui berbagai obrolan kilat namun cukup mencairkan suasana. Di tengah obrolan seusai acara ICIT tersebut, beliau berpesan untuk teruslah mengeskalasi diri atas berbagai tantangan.


Alhamdulillah


Ada pembeda yang signifikan antara konferensi dibandingkan dengan jurnal. Dari sisi kualitas proses seleksi dan produksi, jelas jurnal lebih ketat sehingga hasilnya pun patut diklaim [relatif] lebih sahih. Tapi, konferensi menawarkan fitur ekspansi relasi/koneksi yang tidak mudah didapatkan. Kesempatan yang langka bisa menjalin relasi-relasi baru dari berbagai asal kampus, bahkan negara. Pada konferensi-konferensi sebelumnya, saya berkesempatan kenal dengan Mr. Sapi'ee [Malaysia], Mr. Leonel Hernandez [Kolombia], Mr. Ertek [UEA], Mr. Alhassan Enagi [Afrika Selatan], Mr. Kosin Chamnongthai [Thailand, legenda elektronya Thailand]. Malah, berapa kali saya dan Mr. Hernandez saling berbalas komentar di laman Facebook, hehee. Pun dengan konferensi kali ini. Ada Mr. Linh Pham [Vietnam dan Australia], Mr. Shaiful Bakhtiar [Malaysia], Mr. Riady Siswoyo [Indonesia, tapi tengah ber-diaspora di Sarawak], Mr. Elmer Magsino [Filipina], Mr. Chrishanton V. [Malaysia], serta duo mahasiswa 'nekat parah' asal Institut Teknologi Kalimantan, yaitu Iman L. Hakin [mirip nama dosen saya] serta David Christover. Masing-masing memberi kesan tersendiri dengan berbagai menu obrolan. Termasuk diantaranya sudut pandang orang luar negeri terhadap apa yang terjadi di Indonesia, hehee.

Mr. Chrishanton dari Selangor, Malaysia



Kisaran jam 3 siang [alias jam 2 WIB], acara usai dan waktunya bagi saya mengitari apa yang patut dijelajahi di Kota Kinabalu di waktu yang semakin terkuras lantaran perlunya saya beristirahat. Tambahan, perjalanan ini [insyaAllah] belum berakhir di hari ini maupun besok sebagaimana peserta lainnya. Sebuah ekspedisi gila 'memaksa' saya banyak menghemat tenaga.

Iman dan David, duo anak ajaib dari Balikpapan


#EkspedisiKinabaluBrunei Eksplorasi Pusat Kota Kinabalu [2]

Eksplorasi terus berlanjut di tengah rintik hujan. Kondisi fisik yang terasa makin anjlok, ditandai dengan batuk yang makin kencang dan kering, membuat saya tidak punya opsi lain kecuali pulang. Tapi sebentar, ada beberapa lokasi menarik yang masih sempat saya jelajahi dalam satuan belasan menit sebelum rintik-rintik itu tiba.

Atkinson Tower Clock

Tanpa bermaksud meremehkan, namun jam gadang di Kota Bukittinggi lebih besar dan melegenda. Tentu tidak berarti jam yang ini jelek, pasti ada daya tarik tersendiri. Dari sisi histori, keberadaan menara-menara jam seperti ini pada era/zaman dulu adalah sebagai pusat standardisasi waktu di daerah masing-masing. Kita tahu bahwa pada era kolonial, jam dinding saja sudah menjadi barang langka sehingga roda pemerintahan dan perekonomian perlu standardisasi.


Bangunan model gepeng yang memancing atensi saya

Sebuah bangunan yang belum sempat saya telusuri fungsinya memancing atensi atau perhatian saya. Bentuknya yang gepeng jelas menjadi daya tarik tersendiri. Sepasang bendera Sabah dan Malaysia masih berkibar di depannya. Pertanda bangunan ini masih memiliki fungsi di masa sekarang. Sebuah ornamen seni lukis disajikan dengan gaya grafiti kekinian menandakan bahwa ada sentuhan kreativitas kontemporer turut menyemarakkan arsitektur bangunan unik ini.

Tanah lapang sebagai [semacam] alun-alun Kota Kinabalu

 Kota Kinabalu juga memiliki tanah lapang luas yang berfungsi sebagai ajang seremonial dan tempat berkumpulnya masyarakat. Walau tidak tayang pada foto di atas, terdapat bendera seluruh negara bagian di Malaysia. Memang sudah menjadi budaya untuk turut serta memasang bendera negara bagian lain sebagai bentuk solidaritas dan persatuan sesama pembentuk negara federal.

Cuplikan sejarah Kota Kinabalu

Sebuah galeri dari kejauhan sudah mengekspresikan fungsinya, yaitu cuplikan sejarah Kota Kinabalu. Premis sederhaa melihat foto hitam putih ukuran besar dari kejauhan. Memang, kota ini memiliki sejarah panjang yang cukup berliku. Mulai dari bagian dari Kesultanan Brunei, di bawah kolonial Inggris, diduduki Jepang, kembali ke pangkuan Inggris, hingga akhirnya bergabung dengan Federasi Malaysia.

Tidak ada selera makan nasi, alhasil saya memilih untuk membeli dua buah mangga sebagai sumber nutrisi malam itu


#EkspedisiKinabaluBrunei Eksplorasi Pusat Kota Kinabalu [1]

Secuil dokumentasi saat berkenala di pusat Kota Kinabalu, tepatnya area kantor pemerintahan. Kalau di sini, istilah yang digunakan adalah Pusat Bandaraya. Saya kemari seusai hari pertama presentasi ISCAIE [27/4] dengan kondisi badan masih belum sehat. Sebetulnya sih masih sempoyongan demam, bahkan saya dalam durasi waktu tertentu saya harus menenggak obat batuk. Well, nikmati saja perjalanan ini.


Sebuah tugu yang didedikasikan untuk tentara-tentara Australia
Lho, kenapa ada Australia, bukankah sejarahnya Sabah [negara bagian yang menaungi Kota Kinabalu] hanya pernah diduduki oleh Inggris dan Jepang, heheee

Sebuah gerbang yang menampilkan corak menarik walau sederhana. 

Tampak depan kantor pemerintahan Kota Kinabalu dimana dua bendera berkibar, yaitu bendera Sabah dan bendera Malaysia.
Bagi yang tidak tinggal di Aceh maupun DI Yogyakarta, pemasangan dua bendera memang bukan hal yang lazim di Indonesia. 


#EkspedisiKinabaluBrunei Seaview yang Memang View-nya ber-Sea


Alasan saya memilih tempat penginapan ini sederhana, suasananya yang 'cozy'. Bahkan saat saya ceritakan ke istri saya, beliau takjub dengan fitur canggih tempat menginap yang 'eksentrik' ini. Sebetulnya, model kaman kapsul ini bukan barang baru di dunia pariwisata, saya saja yang baru berkesempatan menjajalnya. Keunggulan apa yang ditawarkan model kamar kapsul ini? Pertama, privasi yang kuat lantaran akses masuk kamar dibatasi walaupun ada kapsul-kapsul lain di kamar kita. Praktis kita tidak perlu risih saat ingin istirahat dengan tenang maupun memang ingin sendiri. Kedua, tingkat keamanan relatif meningkat. Tentu saja, dibandingkan dengan kamar model asrama. Walau demikian kewaspadaan harus tetap digalakkan hehee.

Tampak luar kapsulnya

Sebagaimana namanya, yaitu Seaview Hostel, hostel ini menyediakan panorama laut yang sangat jelas melalui akses jendela. Praktis hanya sebuah gedung pasar yang menghalangi fisik gedung ini dari pinggir laut persis. Namun, gedung itu bisa diabaikan lantaran hostel ini berlokasi di lantai 4 [eh empat atau lima ya...] sehingga tidak terhalangi si gedung. Ruang tamu dan ruang kecil untuk menyeterika dibiarkan menghadap langsung ke laut. Ini menjadi poin plus lantaran cocok bila kita untuk relaksasi pikiran namun jengah dengan suasana tertutup di kapsul.

Pemandangan sembari menikmati proses menyeterika hehee

Sebagaimana saya singgung di paragraf sebelumnya, hostel ini berlokasi di lantai 4 di sebuah gedung [yang saya tidak tahu namanya hehee]. Di sinilah tantangan yang saya temui untuk bisa mencapai hostel ini. Saya perlu mengitari gedung yang ternyata tersusun atas berbagai komponen. Mulai dari pasar dan restoran di lantai dasar, tempat parkir mobil di beberapa lantai, hingga perkantoran. Rasanya hampir sejam dan lima kali saya bertanya mengenai keberadaan hostel ini ke lima orang berbeda dengan jawaban yang berbeda. Padahal hostel ini memiliki rating cukup bagus sehingga saya asumsikan populer pula. Ternyata eh ternyata untuk menuju hostel ini, carilah pintu lift persis di pinggir jalan dengan papan 'agak kecil' bergambar logo si hostel. Fuihhh wkwkwk..

Kalau yang di 'sono' tuh nggak masuk anggarannya hehee

Sebagaimana hostel pada umumnya, tidak ada sarapan sekelas nasi, hanya roti berselai. Tidak perlu khawatir karena ada pasar dan kios di sekitar gedung ini dengna harga relatif terjangkau, termasuk kafe kopi Starbucks. Harga kapsulnya ada di rentang 150-an s.d. 200 ribu, terjangkau lah hehee..

#EkspedisiKinabaluBrunei Antara Demam dengan Harus Maju Jalan

Sempat menginap satu malam di Bandara Soekarto Hatta [25/4] dilanjutkan menanti siang di Bandara KLIA keesokannya, ini adalah salah satu perjalanan penuh rintangan yang pernah saya lalui. Sederhana, kondisi fisik saya mendadak tumbang lantaran demam yang entah bagaimana ceritanya. Sepertinya sih lantaran pada beberapa hari sebelumnya, saya 'lembur' di laboratorium untuk mengerjakan naskah paper dalam rangka Studi Mandiri 3. Memang, rencana sepekan lebih di Malaysia [dan insyaAllah Brunei] membuat saya otomatis harus menyelesaikan segala bentuk tanggung jawab perkuliahan [termasuk SM3] lebih awal.

Sampai di Bandara Internasional Kinabalu menjelang Maghrib, saya tidak punya opsi lain kecuali segera masuk ke hostel dan merevisi rencana jalan-jalan yang sudah disiapkan jadwalnya hehee. Tidak apalah, ada agenda yang lebih prioritas. Malah, kudapan yang saya peroleh dari maskapai sewaktu di pesawat pun hanya saya masukkan ke tas lantaran lidah terasa pahit untuk mengunyah makanan.



Ngomong-ngomong, bandara ini ukurannya melebihi [walau sedikit] dari Bandara Internasional Minangkabau, Kota Padang Panjang. Relatif ramai karena memang Kota Kinabalu terkenal sebagai wisata yang cukup 'ramah' bagi turis asal Asia Timur. Selain itu, Kota Kinabalu juga terkenal dengan gunungnya yang sangat melegenda untuk didaki. Alhasil, bandaranya pun harus layak dan mampu mengakomodasi arus keluar masuk. Yang menarik, di paspor saya sebuah cetakan stempel terpampang jelas 'Enter Sabah on' diikuti tanggal saat itu. Bingung juga, walau nantinya ada kisah yang lebih menggelikan lagi.

Sebagaimana saya tayangkan foto di atas, suasana pemandangan bukit memandakan bahwa bandara ini berlokasi agak menepi dari pusat kota. Untuk menuju kota, berbagai opsi transportasi tersedia. Bus menuju dan dari pusat kota melayani hampir setiap jam. Taksi luring maupun daring juga ada. Berjalan kaki, entah, yang pasti fisik saya jelas tidak memungkinkan untuk itu