10 Kiat yang Ciat Ciatt Ciattt

Disarikan dari kajianislam.net karya Abdullah Hadrami, 18 November 2012 :)

1. Mempergauli istri dengan cara yang ma’ruf (baik)
Allah berfirman, artinya, “Dan bergaullah dengan mereka(para istri) dengan baik.” (QS. an-Nisa’: 19).
Ibnu Katsir berkata, “Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagaimana kalian suka jika istri kalian bertingkah laku demikian.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir).

2. Memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal yang baik
Allah berfirman, artinya, “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara ma’ruf.” (QS. al-Baqarah: 233).

Dalam firman-Nya yang lain, artinya, “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. ath-Thalaq: 7).
Rasulullah shallallohu ‘laihi wasallam bersabda, ketika haji wada’,

“Bertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. (sampai perkataan beliau) Kewajiban kalian kepada istri kalian adalah memberi mereka nafkah dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.” (HR. Muslim no. 1218).

3. Mengajari istri ilmu agama
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Qs. at-Tahrim: 6).

‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah mengatakan, “Ajarilah adab dan agama kepada mereka.”
Ibnu ‘Abbas berkata, “Lakukanlah ketaatan kepada Allah dan hati-hatilah dengan maksiat. Perintahkanlah keluargamu untuk mengingat Allah (berdzikir), niscaya Allah akan menyelamatkan kalian dari jilatan neraka.”
Adh-Dhahak dan Maqatil berkata,“Kewajiban bagi seorang muslim adalah mengajari keluarganya, termasuk kerabat, budak laki-laki atau perempuannya perkara wajib yang Allah perintahkan dan larangan yang Allah larang.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir).

Mungkin Anda bertanya, “Bagaimana jika kita tidak bisa mendidik istri, karena kita sendiri kurang dalam hal agama?”
Jawab, hendaklah Anda memperbaiki diri. Berusaha untuk mempelajari Islam lebih dalam sehingga Anda bisa memperingatkan dan mendidik istri. Jika tidak bisa, hendaklah mengajaknya datang ke majelis ilmu sebagaimana Anda pun demikian. Atau, cara lain yang dapat meningkatkan keberagamaan Anda dan istri lebih baik dari sebelumnya.

4. Meluangkan waktu untuk bercanda dengan istri tercinta
Inilah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad sebagaimana yang diceritakan oleh istri beliau, ‘Aisyah, Ia pernah bersama Nabi dalam safar(bepergian). ‘Aisyah lantas berlomba lari bersama beliau. ‘Aisyah berkata, Akupun mengalahkan beliau. Tatkala aku sudah bertambah gemuk, aku berlomba lari lagi bersama Rasul, namun kala itu beliau mengalahkanku. Lantas beliau bersabda, “Ini balasan untuk kekalahanku dahulu.” (HR. Abu Daud no. 2578).

5. Mengajak istri dan anak untuk rajin beribadah
Allah berfirman, artinya, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” ( QS. Thaha : 132).
Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Dan pukullah mereka jika telah berumur 10 tahun.” (HR. Abu Daud, no. 495).

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya lalu si istri mengerjakan shalat. Bila istrinya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah istrinya…” (HR. Abu Daud, no. 1450).

6. Melihat sisi positif istri Anda
Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika sang suami tidak menyukai suatu akhlak pada sang istri, maka hendaklah ia melihat sisi lain yang ia ridhai.” (HR. Muslim, no. 1469).

7. Jangan memukul wajah istri dan jangan pula menjelek-jelekkannya
Mu’awiyah al Qusyairi, pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah bersabda,
“Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan jangan engkau memukul wajah, dan jangan pula menjelek-jelekkannya serta jangan pula mendiamkannya(dalam rangka nasihat) selain di rumah.” (HR. Abu Daud, no. 2142).

8. Jangan meng-hajr (pisah ranjang dalam rangka mendidik) selain di dalam rumah
Allah berfirman, artinya, “Dan hajr-lah (pisahkanlah mereka) di tempat tidur mereka.”(Qs. an-Nisa: 34).
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di mengatakan bahwa maknanya adalah tidak satu ranjang dengannya dan tidak berhubungan intim dengan istri sampai ia sadar dari kesalahannya (Taisir al-Karimir Rahman, ibn Sa’di).

9. Membenahi Kesalahan Istri dengan Baik
“Dan berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan, karena sesungguhnya dia diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok adalah tulang rusuk yang paling atas, jika kamu berusaha untuk meluruskannya, niscaya akan patah, jika kamu membiarkannya, niscaya tetap bengkok, maka berwasiatlah terhadap wanita dengan kebaikan.” (HR. Muslim, no.3720).

10. Memberikan nafkah batin
Inilah salah satu pelajaran dari hadits Abu Darda’ berikut ini.
Nabi mempersaudarakan Salman dan Abu Darda’. Suatu saat Salman mengunjungi –saudaranya- Abu Darda’. Ketika itu Salman melihat Ummu Darda’, dalam keadaan tidak gembira. Salman pun berkata kepada Ummu Darda’, “Kenapa keadaanmu seperti ini?” “Saudaramu, Abu Darda’, seakan-akan ia tidak lagi mempedulikan dunia”, jawab wanita tersebut. Ketika Abu Darda` tiba, dia membuatkan makanan untuk Salman lalu berkata, “Makanlah karena aku sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan hingga kamu ikut makan.” Akhirnya Abu Darda’ pun makan.

Ketika tiba waktu malam, Abu Darda’ beranjak untuk melaksanakan shalat namun Salman berkata kepadanya, ‘Tidurlah.’ Abu Darda` pun tidur, tidak berapa lama kemudian dia beranjak untuk mengerjakan shalat, namun Salman tetap berkata, ‘Tidurlah.’ Akhirnya dia tidur. Ketika di akhir malam, Salman berkata kepadanya, ‘Sekarang bangunlah,’ Abu Juhaifah berkata, ‘Keduanya pun bangun dan melaksanakan shalat, setelah itu Salman berkata, ‘Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak, dan badanmu memiliki hak, istrimu memiliki hak atas dirimu, maka berikanlah hak setiap yang memiliki hak.’” Selang beberapa saat Nabi datang, lalu hal itu diberitahukan kepada beliau, Nabi bersabda, “Salman benar.” (HR. al-Bukhari, no. 968).

Eh Lilinnya Bagus

Betul juga kalimat "sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang sholehah". Kenapa? Well, karena saya belum menikah jadi ini opini yang berdasarkan kajian teoritis, istilah desk research.

"Loe punya perhiasan nggak? Kalo iya, bisa ngasih apa perhiasan loe?" Agaknya analogi tadi terlalu lugu. Tapi jujur saja harta perhiasan yang kita punya hanya menjadi simbol kekuatan ekonomi dunia kita saja. Namun bagaimana dengan istri yang sholehah? Silakan dijawab :)

"Kemana kita musti menjaga perhiasan kita?" saking berharganya perhasan, kita menyimpannya di brankas. Namun intinya justru mmbuat kita tidak tenang memilikinya. Justru waktu kita habis mengurusi perhiasan yang sekedar benda. Istri yang sholehah? Jelas berbeda. Dia adalah makhlul hidup yang dipercayakan kepada kita untuk menjaganya dan dia pun diberi kepercayaan oleh-Nya untuk menjaga kita. Saling jaga..saling asah...asih...asuh

Silaturahim Himmpas UI

Wadah muslim untuk mahasiswa S2, merupakan organisasi yang saya cari ketika awal masuk di Fasilkom UI. Lantaran tidak menemukan dan malah berpapasan dengan info rekruitasi FUKI Fasilkom, maka saya pun mantap bergabung dengan FUKI walau di dalam ekosistem tersebut, hanya saya seorang yang ber-S2, lainnya S1. Seiring proses adaptasi penuh keceriaan nan memesona (biar pas ama taglina FUKI 2014 #CintaMemesona), muncullah sebuah tantangan bersama untuk membuat film pendek oleh Media FUKI. Film pendek ini merupakan request dari Himmpas UI yang akan mengadakan Grand Launching di medio April 2014 lalu. Eh bentar-bentar, Himmpas? Kayak pernah dengar. Kalo nggak salah itu nama yang lazim dipakai oleh himpunan mahasiswa muslim yang lagi S2 ataupun S3 di beberapa perguruan tinggi, misalnya UGM, tempat Kang Fachrie menimba ilmu S2 Ilmu Komputer. Dan ternyata benar itu Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana Universitas Indonesia #jrengjengjenggg

Sempat bingung tapi pada akhirnya tetap bulat untuk berada di FUKI karena bagaimanapun juga niat saya bergabung adalah sebagai ladang amal dan ketika ladang amal itu berkenan menerima saya maka saya pun harus memegang teguh komitmen itu. Wallahualam

Di dalam proses pembuatan film pendek itu berkenalan kami (Media FUKI) dengan Kak Bayu, Ketua Himmpas yang berasal dari FKM. Proses pembautan video ini terbilang kocak karena dikisahkan "sesosok manusia" yang sedang melakukan perjalanan menuju ke sebuah tempat. Kenapa "sesosok manusia" ini saya beri tanda kutip? Karena terdapat tiga orang yang memerankannya, termasuk saya hahaa. Lalu kenapa pula saya singgung proses pembuatan film pendek ini?

Well, time flies and we'll never know exactly what/who will we meet...

Hari ini bertempat di aula Selatan MUI, sebuah silaturahim bagi mahasiswa muslim diselenggarakan oleh Himmpas UI. Agak surprise sekaligus deja vu juga ketika kembali bertemu dengan Kak Bayu. Himmpas ini sendiri baru diinisiasi tahun ini dan masih menginduk ke Salam UI. Wajar jika di awal tahun ini saya belum memperoleh informasi eksistensinya. Nah apakah nantinya saya akan terdaftar sebagai anggota ataukah tidak itu perkara formalitas. Secara organisasi formal prioritas organisasi saya saat ini adalah FUKI. Kalaupun nantinya terdaftar ataupun mendaftarkan diri sebagai anggota, it doesn't matter (mbuh iki opo artine :p). Yang pastinya harapan saya adalah bisa membuka pintu-pintu amalan baik di manapun saya bertempat.

Dan saya sangat tidak menyangka bahwa saya menonton film pendek tersebut di momen ini. Nuhun buat Kang Elka, Kang Ian, Kang Albab, Kang Acad, Kang Aril, dan Kang Acid yang udah bersusah-susah payah membuat film pendek ini.

Silaturahim ini sendiri menghadirkan pembicara, yaitu Manajer Pendidikan dan Kemahasiswaan FHUI, Pak Heru Susetyo dan moderator Kak Faiz Husnayain. Banyak inspirasi yang dihelat dan berseliweran sepanjang diskusi berkualitas ini.

Pertama mengenai prestasi mahasiswa muslim yang belakangan mulai meminor tatkala mahasiswa non-muslim dengan kesungguhannya justru mulai mendominasi deretan mahasiswa berprestasi akademik dan non-akademik. Kemudian dipaparkan pula harapan dia bagi Himmpas UI sebagai wadah yang mengakomodasi kebutuhan mahasiswa pascasarjana dari berbagai fakultas untuk bisa mengembangkan potensi dirinya, terutama terkait berkarya bagi Indonesia. Tak lupa pula dia memberi tips yang sangat penting, termasuk bagi saya, yaitu tentang perjuangan meraih beasiswa.

Sebuah kalimat menarik dilontarkan moderator di penghujung diskusi ini, yaitu "Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan .... silahkan diisi sendiri". Ya, sebuah pertanyaan yang hanya perilaku kita sendiri yang bisa menjawabnya. Kita tidak bsia menggeneralisasinya dengan "prestasi", "warisan", "hutang" atau apapun. Apapun yang kita tinggalkan itu adalah cerminan kualitas hidup kita

:)

Virtual Money

Ekonomi identik dengan kosakata "uang", sebuah benda yang menjadi pula pembeda antara si kaya dengan si miskin. Sederhananya ilmu ekonomi ya seperti itu. Perkara pajak, saham dll itu berakar dari uang, kadang dipanggil juga fulus, money hingga duit. Kita pun agaknya sepakat bahwa teori ekonomi menyatakan bahwa uang memeiliki fungsi sebagai alat pembayaran. Ada yang ingin menyanggah pendapat ini? Dalam teori ekonomi yang saya dapatkan di semester 5 SMP dulu, ada dua jenis uang berdasarkan wujudnya, yaitu uang kartal dan uang giral.

Uang kartal merupakan uang dengan kondisi jelas berupa benda yang diakui oleh negara sebagai alat untuk jual-beli. Saat ini uang tidak lagi diwujudkan dalam kertas yang diterbitkan oleh Bank Indonesia ataupun potongan logam melingkar yang dijuluki "receh". Menurut UU No. 7 tentang Perbankan tahun 1992, definisi uang giral adalah tagihan yang ada di bank umum, yang dapat digunakan sewaktu-waktu sebagai alat pembayaran. Bentuk uang giral dapat berupa cek, giro, atau telegrafic transfer.

 Namun dalam perkembangan teknologi informasi, agaknya eksistensi uang dalam wujud virtual atau digital perlu dipahami dan diakui karena era digital sudah benar-benar melanda peradaban manusia, termasuk NKRI.

Pernahkah terlibat dalam transaksi mempergunakan e-banking?
Pernahkah membeli "ringtone" dengan memotong pulsa?
Pernahkah mempergunakan KRL sebagai transportasi?
Pernahkah mendengar istilah "bitcoin"
Keempat kasus di atas merupakan wujud dari uang yang tidak berwujud alias abstrak tersebut.

Lebih jauh lagi definisi uang menurut saya sendiri sudah tidak relevan lagi dipahami sebagai benda khusus, melainkan sebuah kemampuan atau daya untuk melakukan aktivitas ekonomi.

Bisa jadi ke depannya saya memperoleh gaji sekian juta lalu yang dislaurkan melalui rekening bank saya. Dalam langkah ini berarti saya tidak memperoleh uang secara nyata. Yang terjadi adalah deposito perusahaan saya dikurangi sebesar gaji saya dan deposito saya di bank ditambahkan sebesar gaji saya. Atau dalam kata lain, kemampuan perusahaan saya bertransaksi dipindahmilikkan kepada saya. Bagaimana kehidupan saya untuk mencari makan, naik angkot, atau bahkan ketika saya menyalurkan infaq? Sangat mungkin ke depannya saya hanya mempergunakan suatu kartu yang berisi kemampuan jual-beli saya yang akan berkurang ketiak saya mengambil hak milik berupa makanan, jasa naik angkot.

Namun akan timbul pertanyaan bagaimana dengan infaq? Jika sudah masuk ke ranah ini, saya mengambil sikap berhati-hati. Untuk proses transfer ATM mungkin masih mudah dilakukan karena cukup jelas pemindahan hak milik dengan satuan yang disepakati, yaitu Rupiah. Bagaimana dengan zakat? Bagaimana perhitungan nisabnya? Saya yakin bahwa saya memerlukan saran dan nasihat dari kawan-kawan yang memahami konsep dan implementasi syari'ah jika berhadapan dengna kasus-kasus itu, kasus yang bukan tidak mungkin ke depannya bakal terjadi.

8-Besar dan 16-Besar

Akhirnya proses seleksi tahap awal di ISL dan Divisi Utama Liga Indonesia telah selesai. Dari 22 dan 61 kontestan di masing-masing kompetisi tersebut, kini tinggal menyisakan 8 dan 16 tim saja yang masih memiliki harapan untuk memperpanjang nafas mereka. Gelar juara, tiket ke ISL sebagai kompetisi di atas mulai terbayang bagi 16 tim terbaik di divisi utama. Bagi 8 tim terbaik ISL, mahkota ISL serta tiket ke Liga Champion Asia/Piala AFC jelas menjadi hal menggiurkan yang patut diperjuangkan.

Sebelum memasuki libur Pemilu 2014 ini, masing-masing wilayah sudah mulai menyodorkan calon-calon penghuni yang berpeluang besar lolos ke 8 besar. Mitra Kukar, Persebaya, dan Persipura di wilayah timur serta Arema Cronus dan Semen Padang menjadi 5 tim di garda terdepan. 3 tiket tersisa musti dipertaruhkan hingga pekan-pekan akhir. Menjelang pekan terakhir Persib menjadi tim keenam dan disusul Pelita Bandung Raya dan Persela yang menggenapi kuota 8 klub ini. Beberapa tim yang masih menyisakan peluang hingga menit-menit akhir harus mengubur impiannya, yaitu Persija, Putra Samarinda, Persiba Balikpapan, dan PSM. Yang cukup nyelekit tentu nasib Persija yang mengalami kemenangan sia-sia atas Barito Putra karena berjarak sekian puluh kilometer di Timurnya, Pelita Bandung Raya memetik poin penuh atas Persita, tepatnya di Karawang (tempat bermusafirnya Persita). Kenyelekitan ini bukan sekedar selisih 1 poin di klasmen akhir, melainkan faktor BEPE20.

Lho kok bisa? Yups, bukan rahasia lagi jika nickname itu merupakan simbol kejayaan Persija sekaligus representasi kebertepuksebelahtanganan pemain dengan loyalitas tinggi namun tidak diperpanjang kontraknya. Dua kali "derby pribadi" antara Pelita Bandung Raya versus Persija berakhir imbang (2-2 dan 1-1) dan 3 gol Pelita diborong oleh Bambang Pamungkas. Menilik daftar pencetak gol, BEPE20 melesat dengan koleksi 9 golnya, bagaimana dengan pemain Persija? Butuh seorang gelandang bernama Ramdani Lestaluhu dengan 7 golnya sebagai pengumpul gol terbanyak di Macan Kemayoran.

Komposisi 8 klub itu memiliki makna yang nyaris unik, kenapa? Mari tengok sejarah Liga Indonesia dari tahun 1994 s.d. ISL (plus IPL) musim lalu. Persib Bandung juara Ligina 1994, Bandung Raya (dulu bergelar Mastrans, sekarang Pelita) juara Ligina 1995, Semen Padang juara IPL 2012, Arema Cronus juara ISL 2010, Persipura juara Ligina 2005, ISL 2009, 2011, 2013, Persebaya juara Ligina 1996 dan 2004. Artinya hanya Mitra Kukar dan Persela yang merupakan tim yang belum pernah menggapai titel juara. Bagaimana dengan para mantan juara? Ada Persik Kediri, Sriwijaya FC, dan Gresik United (dulu Petrokimia) yang terdampar di ranking 8, 6, dan 9 wilayah Barat. Sedangkan PSM Makassar hampir saja mencaplok tiket Persela namun trend dahsyat di pekan-pekan terakhir malah antiklimaks di Stadion Aji Imbut lantaran keok atas Mitra Kukar.

Bagaimana dengan 16 besar Divisi Utama

Pertama-tama selamat bagi Pro Duta, PSIS Semarang, PSCS Cilacap, Persikabo Kab. Bogor, PS Bangka, PSPS Pekanbaru, PSGC Ciamis, Persis Surakarta, PSS Sleman, Martapura FC, Persigubin Gunung Bindang, Persewangi Banyuwangi, Borneo FC, Persiwa Wamena, Persnga Ngawi, Persebo sebagai kontestan di grup J s.d. M babak 16 besar Divisi Utama.
Secara geografis provinsi, keberagaman "agak" lebih berwarna dan terpampang di komposisi 16 klub ini. Jika 8 klub ISL hanya bersumber dari 5 provinsi alias 5:8, maka tercatat 16 lub divisi utama di atas bersumber dari 10 provinsi berbeda. Artinya walau jumlah provinsi lebih banyak namun perbandingannya mirip.

Membandingkan kondisi finansial dan kekayaan skuad maka harus diakui bahwa Borneo FC dan Pro Duta berada di garda terdepan. Walau demikian, ada beberap aklub "mantan" ISL yang tentu memiliki motivasi untuk kembali ke hunian lama mereka, yaitu PSIS Semarang, PSPS Pekanbaru, dan Persiwa Wamena. Khusus Persiwa, tudingan "skandal" musim lalu tentu masih terngiang. Ya, kala itu sebuah rumor bahwa klub-klub lain berusaha "mengeroyok" Persiwa agar terdegradasi. Pengeroyokan  ini kabarnya lantaran Persiwa mempergunakan homebase di Kab. Wamena, sebuah wilayah di pegunungna Jaya Wijaya sehingga memakan biaya yang sangat besar dan sesampainya di sana justru Persiwa yang sering menang. Jika rumor itu benar tentu sebuah sikap yang tidak sportif.

Spirit unik juga digusung oleh Persikabo dan PSGC sebagai tim asal Jawa Barat. Jika mereka berdua bisa lolos ke ISL maka mereka akan menggenapi jumlah klub asal Jawa Barat menjadi 4 klub, artinya dominasi Jawa Timur yang menghadirkan 5 klub di ISL akan mulai tersaingi. Dan yang perlu dibayangkan kelolosannya bakal menghadirkan cerita unik tentu Borneo FC, sebuah klub yang justru didirikan oleh suporter Persisam (sekarang Putra Samarinda).

Ctrl+F Batam+IT

Ceritanya dikasih assignment untuk mencari nama yang cocok diundang ke acara Sosialisasi Portal IK di Kota Batam dengna constraint berupa subsektor teknologi informasi. Batam ya? Emang ada apa ya di sana? bidang IT ya? Kenapa nggak Bandung, Jogja, atau Surabaya? Kurang lebih begitulah gugam saya di awal assignment ini. Dengan demikian beberapa alternatif yang bsia diambil adalah dari kalangan bisnis, baik korporasi mapan maupun start up, bisa juga dari kalangan akademisi, bisa pula riset.

Hari pertama searching dengan kata kunci "IT" dan kota Batam. Nemu berbaga website yang memeprtemukan kata-kata kunci tadi, diantaranya direktori penanaman modal, dinas komunikasi dan informatika, dan berbagai direktori perusahaan yang berdomisili di Kota Batam. Mulai absurd, ketika coba menyusun mind map (lama kelamaan saya makin menyadari bahwa kecenderungan say aadalah kecerdasan visual, aya walau saya nggak cerdas-cerdas amat :v). Mind map itu berisi garis besar antara potensi, arahan strategis, kebutuhan dan penawaran antara Cetak Biru Ekonomi Kreatif, Kota Batam, perkembangan TI di Indonesia. Masih buntu juga, apalagi dateline ngoding juga memenuhi sticky notes saya, khususnya terkait lomba klip yang bakal dihelat di Showcase IK. Ah coba cari di YouTube dengan kata kunci yang sama. Aduh rekomendasi yang kelaur adalah berbagai pagelaran "ajeb-ajeb" di Kota Batam, lhaaaa =___________=

Esoknya mendadak tanpa sengaja saya menyadari bahwa trend IT saat ini yang menjadi keunggulan di Indonesia ada di dua poin, pertama mobile phone dan yang kedua adalah konten. Mobile phone hmmm... konten ya? hmmm. Eh kenapa nggak coba ngelacak ada nggak ya karya orang Batam di bidang mobile phone atau at least produk IT di mobile phone (khususnya Android, Win-Phone, iOS, dll) yang kontennya tentang Batam. Jreng jreng jrengggg. Langsung hajar bleh... Kenapa mendadak kepikiran hal itu? Untuk opsi pertama (orang Batam yang berkarya di bidang mobile phone) merupakan inspirator bahwa kalau mau tekun maka sangat bisa lho Indonesia merajai mobile phone sebagai produsen aplikasi. Sedangkan di opsi kedua lebih menyoroti adanya kreativitas konten yang mengangkat Kota Batam dengan seagala potensinya untuk dipromosikan.

Di browser sudah terbuka satu tab pencarian aplikasi Windows Phone, satu tab pencarian di Android, dan satu pencarian di iOS. Kali ini fokus di kata kunci Batam dengna harapan ruang lingkup pencariannya kalau nggak asal usul developer-nya yang dari Batam ya nama aplikasi/kontennya tentang Batam. Dan hasilnya yeaaaayyy Alhamdulillah dapat banyak sekali aplikasi dengan nama "Batam bla bla bla". Dikepoin satu per satu aplikasi itu oleh saya *naluri kepo saya agak tinggi*. Ada produk lokal ada pula produk asing. Dan munculs ebuah nama berinisial AS.

Si AS ini ternyata produktif banget menciptakan aplikasi di Windows Phone dan Android, dua produk mobile phone yang sedang meraja di Indonesia. Ternyata banyak produknya yang memiliki konten Batam dan Kepulauan Riau. Nyari profilnya di linkedin dan Google ternyata dia orang Batam yang pernah kuliah di Malaysia dan sangat gemar riset di bidang IT, khususnya perceptual computing. Produsen aplikasi IT tentang Batam dan asalnya dari Batam. OK klop banget dan langsung saya buat resume profilnya. Semoga di-acc dan bisa memperoleh kesempatan untuk mengontak dia lebih lanjut.

Hikmah dari pencarian ini:

  • Miliki profil yang baik agar ketika ada yang membutuhkan personal dengan kemahiran yang kita punya, maka orang itu bisa menemukan kita. Dan harus diakui si AS ini memiliki portofolio yang jelas dan terstruktur rapi.
  • Dalam mencari tokoh untuk sebuah acara, tentukan ruang lingkup, tujuan serta hal-hal lain yang menentukan kecocokan spesifikasi tokoh tersebut.
  • Uletlah dalam berupaya, yakinlah Allah akan menghadirkan solusi yang spesial.

Glori Glori UGC

User Generated Content saat ini mengalami masa kejayaan yang benar-benar cemerlang. Kenapa bisa dikatakan demikian? Alasannya ada pada dua alasan simpel.

Konten adalah raja
Yang menentukan website akan bertahan lama atau hanya seumur jagung (dan tamat riwayatnya ketika domain-nya habis) adalah bagaimana konten terus berkembang.

Visitor juga raja
Ini juga sama saja dengan alasan di atas. Keberhasilan sebuah website dalam parameter terukur terletak pada banyaknya visitor. Karena itulah ujung-ujung yang patut diperlakukan sebagai raja yang patut dilayani dengan sebaik mungkin, jika tidak makan sang raja akan mencari "pelayanan" yang lebih memenuhi kebutuhan informasi mereka.









Sedapnya Malam Soto

Wah, baru sadar bahwa saya belum pernah mempromosikan (btw yg bener 'memromosikan' atau 'mempromosikan' ya?) santapan lezat yang jadi menu wajib saya jika pulang ke Tegal raya, yaitu Soto Sedap Malam. Saya sendiri agak bingung apakah "sedap malam" merupakan jenis sotonya atau nama merknya. Di Tegal sendiri, khususnya kawasan Butak, terdapat banyak kedai yang mempergunakan nama "sedap malam". Apabila kita mengajak teman kita makan soto sedap malam maka kita langsung beranggapan yang akan disajikan adalah soto yang nantinya akan saya ulas di bawah. Justru jika kita menyebutnya "soto tegal" malah agak kikuk dan boleh jadi membalas tanya "emang ada ya 'soto tegal'?"


Hampir seperti soto-soto lainnya (agaknya) memiliki keseragaman sebagaimana framework masyarakat Indonesia terhadap definisi "soto", yaitu sajian kuliner yang berwujud sup dengan isi sayuran serta daging. Nah, terus apa yang membuat soto sedap malam ini "nendanggg" banget?


Pertama dari bumbu yang kita sebut "tauco", yaitu sambal yang dibuat dari kacang dan terasi *cmiiw

Kedua, sebelum disajikan daging, sayuran, dan nasinya direndam dulu di kuah/kaldu soto lantas diangkat kaldu tersebut dan diangin-anginkan sehingga cita rasa kaldunya terlebih dahulu meresap.

Ketiga, terkait krupuk ternyata tidak ada krupuk di soto sedap malam, ya tentu saja tidak ebrarti soto sedap malam pantang disajikan dengan krupuk, hanya saja sangat jarang idtemui komposisi soto sedap malam disandingkan dengan krupuk. Nah, tapi ada "pemeran pengganti" krupuk, yaitu tulang lunak yang telah dimasak dengna bumbu krispi. Gurihnya beuhhhh, kalau meminjam istilahnya Pak Bontan "maknyuss".

Terus terus terang sajian soto sedap malam merupakan hal yang saya rindukan sejak merantau di Bandung dan Jakarta. Belum nemu cabangnya di dua daerah ini, kurang tahu apakah memang tidak ada atau kurang apdet info :v.

Langit Legam

Langit legam
Tanpa bintang temaram
Duka dan suka sama saja dinginnya
Terbedakan hangatnya dalam kalbu

Langit legam
Awan pun enggan berloncatan
Tampak malu 'tuk menyapaku
Hingga bergulirnya mengerek pagi

Damai ... syahdu aku sendiri
Tiada ampun mengobati senyap ini
Semilir ... ketentraman saraf

Jadi pengikat asa di jembatan sana
Menghunuskan syair sajak kerinduan
Tentang dinamika romansa hikayatku

Berlembar Kisah Non-fiksi

"eh mas, K-nya KIR itu Kelompok atau Karya ya?" Itu pertanyaan paling sulit untuk disepakati jawabannya, karena emang dari jaman ber-romusha mengerjakan karya tulis di komputer SMA hingga kini di laptop masing-masing terus ada perdebatan itu. OK sip, aku ora arep ndebat perkara kui. Hanya sekedar menulsi bebas san lepas (khas gue banget nih :p) tentang sebuah ekstrakurikuler yang punya kespesialan tersendiri (ya sebenarnya Pramuka dan Karate juga punya kespesialannya juga lho). Singkat kata ada beberapa faktor yang menjadikan ekskul inni punya "space" tersendiri di sini (nunjuk ke jantung).

  1. Ekskul apa yang bikin saya pulang dari Slawi jam 9 malem? Cuma KIR lho. FYI: kalau Pramuka pasti langsung gelar tenda, bukan pulang malem-malem malah
  2. Ekskul apa yang bikin saya lembur ampe nginep di rumah pembinanya? Cuma KIR lho.
  3. Ekskul apa yang bikin saya ikut lomba tapi nggak pernah pulang bawa piala? Ya KIR doank.
  4. Ekskul apa yang bikin saya merasakan getirnya Bandung Bondowoso? Ya KIR doank. Beri saya satu malam, akan saya selesaikan karya tulis ini... Dan pada akhirnya di sore hari esoknya baru mau ke tukang penjilidan. Nanti ada cerita khusus di bawah tentang hal ini wkwkwk
  5. Ekskul apa yang bikin saya diledek "udah bisa naik motor?" Ya cuma KIR *kalau di Pramuka cuma ada pilihan "lari" atau "jalan kaki" :/
  6. Ekskul apa yang bikin saya nulis nama orang di lembar persembahan ? Mmmm, langsung skip ke nomer 7 aja lah ya *dan kalau Bu Narni baca ini pasti langsung bilang "oh si itu ya" =____=
  7. Ekskul apa yang bikin saya akhirnya mau belajar nulis ilmiah? Tentu saja KIR donk. Namanya juga KIR, masa bikinnya isu ama gosip
  8. Ekskul apa yang bikin saya mau beratem ama penjahit? Ya KIR doank *mana jas kebanggaan kita nih??

Hahaa, 8 poin yang masih terlalu dangkal untuk menjelaskan betapa KIR memiliki histori yang spesial.

Bergabungnya saya di ekskul ini tak lepas dari kepenasaranan yang hasrat *beuh berat nih bahasanya* untuk mengikuti lomba, suatu hal yang tidak pernah saya gapai di bangku SD dan SMP *maklum siswa medioker :/* Katanya sih KIR sering ikut lomba dan meraih predikat juara. Ya siapa sih nggak tergiur, tapi apa saya bisa ya? Ya daripada bengong sepulang sekolah dan ikutan genk-genk kayak di CrowsHero maka akhirnya saya mendaftarkan diri. Sempat minder dengan senior-senior yang dari tampang saja udah punya aura yang bikin grogi, yaitu Mas Firman (tampangnya itu intelek banget), Mas Agung (senior yang sukses meng-genoside kelas saya saat MOS), Mba Siti Amaliya, Mas Hiang (konon maestro fisika di SMA), Mba Ari Prihartini (sosok paling menggelegar dalam urusan debat, hampir satu angkatan ucma bisa diem saat beliau bicara di GMB III), Mba Yani Sanwaty, aduh banyaklah pokoknya. Eh eh eh, ko isinya anak Imersi ya? Jangan-jangan yang boleh ikutan KIR cuma anak imersi. Ternyata nggak karena banyak juga kok pendaftar yang bukan anak Imersi. FYI pendaftarnya itu ampe membludak, bahkan ketika pengumuman pembagian kelompok untuk pelantikan, itu mencapai satu setengah HVS, banyak banget kan (info: di SMA 1 Slawi, kertas A4 masih jarang saat itu). Dan tebak di hari H pelantikan ada berapa orang? Kurang dari 25 orang?

Gubrakkk eduunn ini ketat banget seleksi alamnya.

Yaps, KIR memang dikenal sebagai ekstra yang menganut sistem seleksi alam yang sangat ketat. Beruntung memang ada rekan-rekan kecee banget yang membuat saya termotivasi untuk "mengintil" alias mengikuti jejak mereka. Mereka berwujud Norma Etika FA, Dewi Agita P, Noorlita Anitami, Dian Dwi A, M Alvian Z, Albert Andika, Rani Fery A, Aveny Septi A, Eka Fitri A, Ika (aduh lalu jeneng lengkapmu sopo yo?). Semangat mereka, terkhusus dua nama paling awal itu masya Allah sangat keren banget.
Setahun pertama di KIR tidak banyak yang saya lakukan selain ikut pelantikan, dlongap-dlongop liat pengumuman senior dapet prestasi ini itu. Maklum saat itu masih cupu (ya padahal ampe lulus juga terus-terusan cupu). Eh nggak tahu kenapa di awal semester 3 malah ditunjuk jadi ketua panitia rekruitasi dan pelantikan. Di sini saja sudah mulai terasa bahwa kaderisasi merupakan hal yang sangat sulit dibangun. Memikirkan konsep sudah menguras separuh otak lebih, dan masih pula harus memberesi segala persoalan administratif terkait pelantikan. Many thanx for kawan-kawan panitia :)

Menjelang akhir tahun 2006, suksesi kepengurusan dimulai. Nah pemilihan ketua KIR sendiri bernuansa deja vu ketika ada dua nama bersaing (tapi nggak pake anarki ataupun demo ke MK lho y). Kenapa deja vu? Ya iyalah, 2 orang di tahun 2003 pemilihan ketua OSIS SMPN 1 Margasari kembali berkompetisi. Dan akhirnya terpilihlah Norma yeyyyyy Deja vu masih kentara ketika saya diajak menjadi wakil dengan alasan yang nggak pernah saya tanyain (dan males juga nanya :p). Penyusunan program kerja mulai agak menggoncang manajemen waktu mengingat ada amanat juga di OSIS sebagai koor sekbida paling "berisik", yaitu sekbid 5 *langsung nabuh kentongan* plus kerani putra (kerani putra paling di-bully sepanjang sejarah). Beruntungnya Norma selaku ketua KIR, Arief Adityo selaku pradana putra, dan bos Aditya Setiaji selaku ketua OSIS bisa memahami hal itu. Kepengurusan ini sendiri tidak terlalu gemuk, sangat ramping karena memang banyak personelnya yang tersedot ke amanat lain.

Nah, ini nih yang paling jebreddd jika bicara KIR, yaitu pengalaman membuat karya tulis.

Project pertama dimulai di sebuah event berupa kompetisi ide kreatif menangkas rokok yang diadakan oleh BEM FK UGM. Kompetisi ini pengumpulannya sekitar akhir November 2006 dimana oleh Bu Narni (pembina KIR) di-plot-kan satu kelompok dengan Mba Ari Prihartini dan Norma. Sebelumnya saya hanya tahu dan kenal dengan Mba Ari tapi nggak pernah banyak ngobrol. Hingga akhirnya project nulis inilah kami bertiga mulai menanggalkan kecanggungan. Ternyata keren banget Mba Ari. Walau dalam suasana lelah, selalu mengerahkan kemampuan bicara yang 200%. Tak hanya itu, dia tidak sombong sebagaimana diisukan ornag-orang. Dia sosok yang humble (humble kuwi opo??) dan sangat terbuka terhadap masukan orang lain.

Komposisi yang sebenarnya sangat meminderkan saya, tapi karena cowo masa minder sih hahaa. Beruntungnya kami bertiga saling melengkapi. Norma memiliki kemampuan konseptual yang yoii banget, Mba Ari memiliki daya jelajah orasi yang luas dan mampu mengkritisi ide secara kolektif, dan saya memiliki kemampuan administratif yang agak unggul hehee. Ternyata ada 4 tim dari Smansawi yang lolos ke final. Eduun, gokil tingkat dewa nggak sih? Namun apa daya, kami bertiga bertangan hampa sepulang dari Yogyakarta. Event yang dihelat 17 Desember 2006 itu ternyata menyingkap rasa pantang menyerah yang berharga banget di masa-masa berikutnya.

Project kedua hingga satu proyek sebelum proyek terakhir cukup beragam dan penuh liku-liku. Mulai dari yang hanya mencapai komentar diplomatis "event-nya bagus tapi lagi sibuk ey", ada pula yang mulai terpkirkan berhari-hari dilanjut diskusi namun nggak bisa move on statusnya dari "wacana", hingga yang menempatkan penulisnya menuju kondisi "nyaris menang". Yups, etaa pisan ieu, saya banget tuh tiga kondisi tersebut. Mulai dari mana ya? Seingetnya lah ya..

Topik transportasi menghentak karena bukan hal yang dibincangkan tiap hari sebagaimana topik lingkungan, kesehatan, dan pendidikan. Penyelenggaranya dari Astra dan tingkat nasional. Kebetulan ada tiga orang yang ikut dari KIR Smansawi, yaitu saya, Dewi, dan Norma. Kebersamaan bertiga dalam urusan bahu-membahu tidak perlu didetailkan, selain sebaya sehingga tidak canggung untuk saling meminta maupun memberi pertolongan, kondisi senasib alias masih kelabakan hingga dateline menjadikannya memori keren. Namun apa daya hanya Dewi dan Norma yang sukses diboyong ke Jakarta dan saya tidak hehee. Peringkat 4 yang diraih Norma keren bangetlah. Eh bentar kok saya mulai ragu, itu Dewi Agita ikut nggak ya yang lomba Astra? Ko jadi bingung ya? Ah tahulah..udah malem males memulai lagi mikirlah, lanjut sajalah ya. maaf ya Dewi kalau ternyata nggak ikut, setidaknya sempat terkesan keren lho udah masuk final.

Topik pembangunan juga sempat jadi ajang pemenuhan hasrat penasaran yang ternyata masih belum menemui hasil positif. Kandas di penyisihan dan tidak memperoleh undangan final. Mungkin karena kurang akrab ama Allah :)

Oh ya, project kolaborasi juga pernah terjadi antara Pramuka dengan KIR, tepatnya di TKPP GSKB V. Kebetulan ada dua anak Pramuka yang juga ikut KIR, yaitu saya dan Rani. Nah cocok nih buat ikut lomba karya tulis aplikatif yang merupakan cabang lomba di TKPP kali ini. Walau secara hitung-hitungan tidak bisa diklaim sebagai prestasi KIR, Bu Narni tidak menolak untuk membimbing kami berdua. Banyak masukan berharga yang turut mempermatang persiapan, khususnya dalam menyikapi kejelasan konsep.

Yang lumayan terkenang spesial tentu dua project menulis yang terakhir kali saya ikuti. Yang satu tentang teknologi lokal dari Undip dan satunya lagi tentang statistik dari BPS. Teknologi lokal, jujur saya nge-blank ketika diundang Bu Narni ke perpus untuk brainstorming-nya. Selain bureng karena topiknya yang berat, saat itu habis berantem dengan orang-ornag di OSIS. Dan saking buremnya H-2 pengumpulan belum ada selembar pun draft-nya. Sungguh pembandel yang patut diapresiasi dengan jeweran hahaa. Saat itu kebetulan ada Dewi juga yang ikut kompetisi ini. Langsunglah tanpa basa-basi, saya dan Dewi (yang juga belum selembar pun draft-nya, namun jauh lebih tidak bureng) dipertanyakan keseriusannya :/ Lantaran masih yakin untuk ikut, akhirnya kami pun diwajibkan romusha menyelesaikan karya tulis yang benar-benar saya sendiri tidak percaya bisa diselesaikan di menit-menit akhir. Sebulan berselang akhirnya muncullah undangan final *alhamdulillah akhirnya mengakhiri paceklik final :p) bagi saya dan juga Dewi. Langsunglah digeber pembuatan file dan teknik presentasi. Kesungguhan secara konkret, itu jadi pelajaran berharga yang membuat saya banyak merenung sebagai pembeda antara orang yang sukses dengan yang secara sengaja menghindari kesuksesan. Ekspedisi ke Undip benar-benar membuat saya bersyukur bisa menemukan pelajaran tersebut. Bahkan peringkat 5 pun tidak membuat saya berkecil hati, eh peringkat 5 apa 6? Pokoknya persis satu peringkat di bawah Dewi. Juara satu di kompetisi itu membahas Zeolit, sebuah zat kimia yang baru kali itu saya dengar o_O

Dan kompetisi pamungkas yang saya ikuti adalah penyisihan Olimpiade Statistik yang berupa project riset statistika. Di sini ada 2 pelajaran spesial yang nanti saya sebutkan gamblang. Di kompetisi ini selain saya, ada pula Dewi dan Norma, dua sosok yang bisa disebut sebagai top scorer partisipasi dalam kompetisi hehee. Kompetisi ini sendiri sangat berharga bagi saya kala itu, kenapa? 5 besarnya cukup mengikuti tes kesehatan untuk bisa berkuliah di STIS, sebuah perguruan tinggi yang saya idamkan, boleh jadi hal itu berlaku pula bagi Norma dan Dewi. Karena itulah, kami benar-benar totalitas di situ. Bahkan saya yang biasanya agak lelat lelet mengumpulkan data mendadak rela bergerilya, berburu, dan mengais data ke berbagai narasumber.

Motivasi saat itu bulat, yaitu sebagai cara masuk ke STIS (padahal kalau mau masuk STIS tinggal naik angkot 16 jurusan Ps. Minggu - Kp. Melayu). Kami bertiga benar-benar dalam tekanan yang yoii bangetlah kenapa? Kembali ke nomor 4 dari 8 nomor yang saya sebutkan di atas. Besoknya itu dateline pengumulan karya, saat itu masih memakai pengumpulan hardcopy, belum melalui email yang lazim dipakai saat ini. "Sekali lagi batas pengumpulannya itu besok", kurang lebih begitulah peringatan keras dari Bu Narni saat H-1 kisaran Maghrib. Tidak ada pilihan lain selain mengiyakan, tidak ada pula opsi untuk berdebat. Kalau boleh jujur, tidak ada opsi untuk mundur, kenapa? Simpel saja alasannya, karena kondisi saat itu benar-benar riweh sehingga walau sifatnya individu namun jika ada satu orang mundur maka konsentrasi 2 lainnya bakal amburadul dan terancam menggagalkan semuanya ikut kompetisi ini. Jam terus berputar hingga akhirnya adzan Ashar di hari H, ya di hari H. Dan tebak ada dimana saat itu? Baru memutuskan untuk mengakhiri penulisan dan ikhlas terhadap penilaian tulisan yang harus dikirim saat itu juga.

Jam 5 sore jadi saksi tiga buah karya kami masing-masing selesai dijilid. Bagaimana dengan pengumpulan? Kantor pos Slawi jelas bukan opsi yang tepat karena sudah tutup, jasa kurir belum ada dan opsi terakhir adalah mendatangi kantor pos Kota Tegal yang termasuk skala besar layanannya. Karena transportasi umum ke sana tidak ada, maka diputuskanlah cukup saya saja yang menuju ke kantor pos Kota Tegal, pertimbangannya jelas, kondisi fisik saya yang masih on, Norma dan Dewi tepar. Sesampainya di Kota Tegal kurang lebih 20.30, kantor sudah tutup. Berbekal cerita dari mba Yani bahwa jika kantor pos tutup, coba lewat belakang dan ceritakan urgensinya, kemungkinan besar akan dibantu. Tapi... petugas dengan wajah penuh simpati hanya bisa memperlihatkan urangan besar kantor itu yang sudah tidak ada orang.

Akhirnya saya pun kembali dengan penuh penyesalan dan pengandaian. Andai saja kami lebih siap jauh-jauh hari..andai saja...ah sudahlah.

Pandangan kosong itu pun sepakat kami konversi menjadi optimisme ketika rencana baru disiapkan. Tetap mengirim di esok harinya dengan sikap nothing to lose plus konfirmasi permasalahan sebenarnya yang kami hadapi. Dari bahasa panitianya saat kami telpon untuk konfirmasi sih agak diplomatis, tapi sekali lagi tidak ada yang perlu diratapi karena yang kami lakukan adalah buah perilaku kami sendiri di masa lalu. Ikhtiar dan tawakal, itulah pelajaran pertama di kompetisi ini.

Pelajaran kedua? Tentunya terkait muara hasil penyisihan yang menyisakan nama saya seorang sebagai peserta yang tidak lolos dari kami bertiga. Norma dan Dewi lolos, bahkan menduduki peringkat pertama dan ketiga di final alias tiket masuk ke STIS digapai. Honestly, itu adalah masa terberat selama ada di SMA 1 Slawi, apalagi untuk mencegah adanya rasa dengki, owh meeen sungguh berat menjaga hati ini. Tapi sekali lagi, Allah punya rencana terhebat yang sering kita keluhkan dengan rasa sok tahu. Ternyata Allah mengganjar saya beberapa bulan kemudian dengan tiket ke S1 Teknik Informatika IT Telkom. Sebuah pilihan program studi/jurusan serta perguruan tinggi yang sangat tepat dan tidak saya sesali. Boleh dibilang ketidaklolosan saya adalah kemenangan dalam kekalahan. Mungkin saya lebih sakit hati jika lolos ke final tapi tidak masuk  besar, ya kali aja lah yaa hahaa.

Akhirnya, ya akhirnya...besok saya harus kerja, sudah kebayang berbagai tumpukan agenda menanti. Sungguh memang saya tidak menyesali masuk KIR. kalaupun ada rasa sesal, mungkin itu terkait ketidakseriusan dalam menulis di berbagai project yang saya ikuti maupun tidak jadi saya ikuti. Tapi sekali lagi boleh jadi itu cara Allah menumbuhan dini dengna menyesali sikap kita di masa lalu dan berjanji memperbaikinya :)

Pas HbH tahun berapa y? kalau nggak 2010 ya 2011

Sekali lagi...terima kasih kepada seluruh ciptaan-Nya yang dikirimkan melalui KIR Scientist SMA Negeri 1 Slawi :)