Selanjutnya

3rd ICISS sudah usai pentasnya dua hari lalu. Hampir tiga bulan persiapan untuk dua hari? Tidak juga, bagaimana pun partisipasi di agenda ini memiliki efek yang jangka panjang. Naif jika menilai hasil dari ICISS hanya di dua hari tersebut. Selanjutnya?

Hmm... apa harus ada ''selanjutnya''
Barangkali jika hanya tidak berkecimpung di dunia akademik, tidak perlulah 'selanjutnya'. Hanya saja dengan rencana, sejauh ini lho ya, di dunia riset dan akademik, maka saya perlu membidik langkah selanjutnya bagaimana. Tentu bukan faktor memperpanjang CV, tapi memperluas pengetahuan yang tidak semuanya terpenuhi hanya dengan berselancar di internet. Bukan sekedar memenuhi poin tertentu, kebetulan malah saya belum dipatok target-target seperti itu. Jadi, orientasinya saat ini adalah memproduktifkan diri, mempertajamkan kemampuan berpikir, dan barangkali Allah menitipkan pintu S3 di kesempatan ini.

Selanjutnya ya...hmmm...
Terus terang saya belum menyediakan sehari khusus untuk menginventarisasi agenda-agenda seminasi ilmiah yang bisa dijadikan sebagai incaran tahun 2017 nanti. Namun dari cari-cari mengisi waktu luang yang nggak terlalu intens beberapa kabar ada sih. Mulai dari ICoICT di Malaka hasil kerja sama Telkom University dengan Multimedia University, ICSITech di Bandung yang digalakkan oleh UPI, ICIIBMS di Okinawa yang dihelat oleh OIST, DSAA di Tokyo gelaran Aoyama. Apakah ada kesempatan untuk hadir di agenda tersebut di atas ataupun agenda di luar tadi. Wallahualam.

Paduan Masjid di Pattaya

Islam bukan hal terasing maupun mengasing di Pattaya. Hiruk pikuknya kota yang kadang diasosiasikan negatif pun tidak menyurutkan bagaimana denyut, malah dentum Islam di Pattaya. Berikut sejumlah potret masjid-masjid di Pattaya area Timur yang kebtulan tidak berjarak jauh satu sama lain.

Sebagaimana tercantum di isi foto, ini adalah Masjid Darul Ibadah

Dengan menggusung nama 'Darul Ibadah', tentu sebuah indikasi bahwa keberadaan masjid ini bukanlah sembunyi-sembunyi. Identitas Islam mampu dihadirkan tanpa ketakutan. Melihat ukuran menara yang menjulang, pun rasanya tidak salah mengambil hipotesis sederhana tersebut. Di kesempatan lain, saya sempat berkenalan dengan imam masjid ini, yaitu Mr. Faruq. Tidak banyak kami perbincangkan, namun saya menangkap siratan optimis bahwa masjid ini mampu menjadi pusat perkembangan sekaligus perlindungan keyakinan umat Islam.


Sebagaimana masjid-masjid di Pattaya, masjid ini pun berdampingan dengan sekolah ataupun madrasah. Hal ini menjadikan nafas Islam tidak sekedar ritual sholat, namun juga sinergis dengan pendidikan. Hanya saja kalau dicermati, fasilitas pendidikan ini hanya tersedia bagi pendidikan dasar. Saya belum menemukan yang madrasah/sekolah untuk sekolah menengah maupun tinggi dengan lokasi di samping masjid. Ohya, rekatnya lokasi juga mendorong masjid dapat digunakan sebagai tempat pendidikan, khususnya praktik membaca Al Qur'an. Sebagaimana di foto berikut yang momennya adalah persis saat mereka menyelesaikan sesi membaca Al Qur'an. Tentu secara tidak langsung menjadi penanaman kecintaan akan masjid juga.



Potret masjid Darul-Ibadah beserta madrasahnya

Alhamdulillah sore harinya saya berkesempatan jalan-jalan sore dengan tujuan sederhana, yaitu menyinggahi beberapa masjid di Pattaya. Di bawah ini merupakan cuplikan fotonya. Lokasinya tersebar di sejumlah titik di sekitar Sukhumvit Road. Semuanya ramah dan sejuk.




Ini merupakan pasar kecil yang menyediakan berbagai kuliner halal.

Mengitari Nong Nooch Garden

Objek wisata yang sangat bagus dan recommeded  di sebelah selatan jauh Pattaya. Lokasi yang jauh membuat banyak travel agent mematok harga tinggi sebagai akomodasinya, padahal dengan numpang 'angkot' lokal pun kita bisa ke sini sekitar 40-50 bath, cuma ya jalan kaki dari Sukhumvit Road ke TKP-nya agak jauh hehee, tapi kalau kalian backpacker tentu ini bukan opsi yang aneh. Harga tiket masuknya sebetulnya agak mahal, yaitu 800 bath, karena itu berlama-lamalah di sini. Oh ya satu lagi, ini wisata yang sangat cocok untuk tiga tipe orang, pertama seneng piknik bareng keluarga, kedua orang seneng ilmu hayati, orang seneng fotografi. Jika kalian tidak termasuk salah satunya, objek ini bisa di-skip. Kenapa/ Karena memang objek wisata ini bagus banget dan bakal memuaskan ekspektasi atas tiga hal tersebut.

Sepertinya kalau malam ini tempat makan yang bisa romantis, bisa juga ramai

Perbatasan taman anggrek dengan taman guci, paduan seni dengan botani

Entah SD/TK mana yang sedang piknik ini

Kalau yang ini alumni SD 14 tahun yang lalu

Pemandangan dari bagian atas butterfy hill yang ga tau mana kupu-kupunya

Jika kawan-kawan jeli, tentu agak heran dengan adanya singa pada foto taman di atas. Tenang, sosok singa di situ hanyalah patung. Ya, baru kali ini saya mengunjungi taman dengan jumlah patung fauna yang tidak terhitung jumlahnya. Mulai dariyang ukurannya sesuai aslinya seperti patung singa, patung flamengo, sampai dengan yang ukurannya hiperbolik seperti patung serangga. Barangkali ini rekor taman dengan patung fauna terbanyak di dunia hehee.

Di sini ada juga beberapa fauna 'asli' yang menjadi penghuni Nong Noch, diantaranya burung merak yang tampil anggun ini.

Oh ya, kebun fauna yang ada di sini juga menerapkan konsep yang belum pernah saya jumpai di Indonesia, cmiiw. Beberapa satwa memang disimpan di kandang, namun bagi pengunjung yang ingin lebih dekat, mereka dipersilakan masuk ke kandangnya. Tentu ini hanya berlaku bagi satwa tipe unggas, misalnya merak di atas. Beda cerita dengan yang jenis karnivora, walau memang di sini hanya ada beberapa macan dengna penjagaan ketat.

Ini salah satu spot favorit saya, yaitu taman Prancis, tata letak tamanannya yoii banget

Kekuatan yang menjadi kedigdayaan Nong Nooch adalah keanggunan tamannya. Salah satunya tentu taman yang ada di foto sebelumnya. Rupa yang geometris sederhana dengan warna-warni bunga yang kontras malah dipermanis dengan beberap astupa di seberangnya. Praktis stupa tersebut memberikan kesan Thailand banget.

Ini buah raksasa pengin banget dibawa pulang

Karena Sudut Pandang

Do what make you're comfort and be comfort with what you do
Slogan mudah yang ah susah diterapkan. Waswas, pasangka, ga enakan, dan yang sejenisnya. Hal-hal yang seperti kerap membuat kita selalu janggal dalam mengambil sikp. Kadang ego setipis kertas dengan yang namanya legowo. Itulah dinamisnya hidup. Dimana kompromi atas kecewa kerap tak bisa dihindari. Itulah asam basa dalam ekosostem alam.

and it's about ICISS

Desember ini tidak bisa diasosiasikan dengan masa beristirihat. Bahkan Desember relatif berisik dengan berbagai target yang harus dicentang, baik itu proyek, akademik, dan juga riset, plus tak lupa keluarga. Perjalanan ke Thailand menjadi titik nadir yang memerlukan pemikiran matang. Inilah ICISS, konferensi internasional yang menyeret saya meninggalkan Asia ''kepulauan'' menuju Asia ''daratan''. Pattaya, terus terang saat saya belum pernah mendengar nama itu. Praktis saya baru mencari tahu tentang kota ini baru di saat saya memutuskan mengirimkan usulan publikasi ke sini. Itu pun tidak berani berharap banyak karena tahu diri. Kawan saya yang alumnus MIK sampai berujar ''wuihh itu di Pattaya ya ve'' saat saya ikut menyebarkan informasi tentang ICISS. Saya cuma balas ''iya'' tanpa tahu detail, mungkin karena saat itu lagi penat tenggat pekerjaan yang lainnya.

Saat konfirmasi penerimaan pun, PR langsung menggerayangi saya lantaran saya harus melakukan revisi super duper mayor. Bisa dibilang hanya menyisakan 10 persen dari substansi awal. Perjuangan merevisi agaknya menjadi sinyal bahwa nanti menjelang hari H tidak gampang lho. Dan memang benar keberangkatan saya ke Pattaya jauh dari kata ''tersiapkan''. Saking tidak rapinya, saya sampai mengecek benar tidaknya acara ini ke TKP di Mercure Ocean Resort, iya saking was-was jangan-jangan acaranya fiktif. Alhamdulillah acaranya beneran ada. OK, artinya saya tujuan jelas di kota ini hehee.

suasana tribun peserta saat salah satu pembicara sedang memaparkan materi


Tidak banyak peserta konferensi ini, mungkin karena akhir tahun sehingga banyak institusi yang 'tutup buku', bisa juga karena fokus keilmuannya yang relatif spesifik. Praktis kisaran 30-an menjadi peserta sehingga tidak ada istilah 'paralel session' di sini, semua tampil secara seri. Artinya bisa jadi saya 'dikeroyok' semua peserta hohoo.


Saya sendiri diberi kesempatan Allah untuk mengulas tentang hasil riset per-CP-CPS-an bersama Pak Yudho Giri Sucahyo dan Bang Tomi Sirait. Saking banyaknya 'list to do' di berbagai agenda, saya baru bisa menyelesaikan materi presentasi sekitar jam setengah 7 setelah lembur 3 malam, padahal acaranya dimulai jam 9, belum lagi jalan kaki 30 menit. Alhamdulillah presentasi lancar, walau memang jauh dari sempurna. Beruntung saya berhasil mengendalikan tempo dan nafas yang kerap membuat saya terburu-buru.

thanx Mr. Ali for nice shoot

Sejumlah peserta yang masih eksis di sesi 6 dengan topik Information Security

Para peserta di konferensi ini relatif beragam. Bahkan porsi peserta asal Korea, negeri si penyelenggara, maupun Thailand, negeri lokasi, pun tidak sedominan peserta Indonesia pada agenda serupa di Indonesia. Ada peserta dari Afrika Selatan, Kanada, Prancis, Australia, Malaysia, Turki, hingga Indonesia. Topik-topik yang diulas pun menarik, khususnya terkait keamanan informasi, area yang saya tekuni di kurun dua tahun ini. Saya juga belajar bahwa ternyata yang namanya kemahiran mempresentasikan hasil riset ternyata tidak identik dengan asal negara. Ada juga kok negara yang relatif maju intelektualnya namun individu yang tampil terlalu 'monitor oriented'. Jadi, jangan keburu 'ngeper' jika berhadapan dengan orang dari negara lain, terutama yang negaranya relatif maju.

Berjumpa dengan Mr. Sapiee Jamel, dosen kriptografi keren dengan wawasan luas asal Malaysia

Saya belum tahu apakah ada rezeki 'mendadak' untuk bisa berlaga di acara seminasi seperti ini lagi. Sebagaimana ujar-ujar bijak, bermimpilah dan raihlah mimpi itu, namun bersikap realistislah dalam mewujudkannya.

Peringkat 4, lalu

Laga ke-34 akhirnya dilalui dengan kemenangan atas Pusamania Borneo FC. Sriwijaya FC pun akhirnya dipersilakan memanjat ke peringkat 4 setelah di pekan yang sama PSM dan Bhayangkara tumbang sedangkan Persib imbang. Rasa-rasanya hasil akhir ini kurang memuaskan, bukankah Sriwijaya sempat mencaplok pucuk klasmen dari Arema, Madura, dan malah Persipura. Tak lupa bahwa hanya Arema yang gagal dikalahkan di dua kesempatan, sementara itu Persipura sempat dipecundangi di Jakabaring, pun dengan Madura. Namun itulah format liga. Tanpa memandang klasmen, konsistensi merupakan kunci untuk bisa bertahan.

sumber indonesiansc.com


Sriwijaya harus kehilangan banyak poin di dua aspek, yaitu menit-menit akhir serta melawan tim yang secara peringkat jauh di bawah mereka. Kisan bagaimana Sriwijaya kehilangan sekian poin di putaran pertama pernah saya singgung sebelumny. Ternyata di putaran kedua, penyakit itu masih kambuh. Persela adalah contoh nyata tim papan bawah yang hanya bisa diimbangi Sriwijaya dalam dua kesempatan bersua. Begitu juga dengan Barito Putera yang sempat membuat suporter geram lantaran Sriwijaya nir-kemenangan di beberapa laga. Alhasil Sriwijaya sempat melorot ke peringkat 9, walau ada faktor minus 1 laga.

Musim depan, Sriwijaya perlu memagari pemain-pemain saat ini, khususnya yang punya mental petarung seperti Supardi Nasir, Muhammad Ridwan, Achmad Jufriyanto, Alberto Goncalves, Hilton Moreira, Ichsan Kurniawan, Fachrudin Aryanto, Yohanis Nabar, Talaohu Musafri, Airlangga Sucipto, hingga Teja Paku Alam. Mereka perlu dilengkapi dengan pemain pelapis yang mampu mempertahankan konsistensi permainan.

Thailand 5 per 8

Angka pojok laptop menunjukkan 20/12/2016, artinya sudah 5 hari aku berpetualang di dua kota, yaitu Bangkok serta Pattaya. Naif jika menyebut saya biasa saja dengan situasi yang saya alami selama lima hari. Suasana di dua kota ini berbeda dengan yang saya jumpai di Bandung-Jakarta-Depok. Kalau Bangkok saya praktis saya risih lantaran insiden dikepung anjing. Dari sisi sosial, tidak ada masalah. Problem barulah melanda ketika say canggung, bahkan pusing, dengan nuansa Pattaya yang hmm, intinya saya hanya ingin fokus dengan apa yang jadi tujuan saya ke sini. Bolehlah berwisata selama tidak menjadikan diri ini lalai dari-Nya.

written from 18 coins hostel

Tim Gurem Namun Berkontribusi bagi Timnas

PS TNI dan Barito Putera merupakan dua klub yang berkutat di papan bawah ISC. Prestasi mereka relatif minor karena hanya menjadi penjegal raksasa dalam beberapa kesempatan, misalnya saat Barito mengganjal Sriwijaya FC, PS TNI menjungkalkan Arema. Secara keseluruhan, dua klub ini menyuguhkan performa yang memprihatinkan sehingga banyak berkubang di zona merah. Tapi, dua klub ini mampu menunjukkan kontribusi luar biasa bagi Timnas Indonesia. Berbekal kuota maksimal dua pemain per klub, keduanya menyumbang 4 nama, yaitu Manahati Lestusen dan Abduh Lestaluhu serta Hansamu Yama Pranata dan Rizky Rizaldi Pora. Nama pertama dan ketiga merupakan jebolan timnas junior, bahkan Hansamu sempat mengorbit sebagai skuad emas U-19 pada AFF junior 2013. Nama terakhir merupakan sosok yang sempat mengenyam AFF 2014.

Menariknya, empat nama itu justru memberikan kontribusi masif yang sangat signifikan atas pencapaian skuad Garuda di AFF 2016 ini. Di awal kompetisi, tepatnya di putaran grup, praktis hanya Lestaluhu dan Pora yang mampu menembus 11 nama yang berlaga di lapangan. Barulah di babak semifinal dan final, keempatnya mampu menyeruak sebagai pilar inti yang tidak tergoyahkan di empat laga tersebut. Puncaknya tentu sepasang final menempatkan keempat nama tersebut sebagai starting line-up. Tak lupa bahwa Lestusen merupakan pencetak gol penyeimbang di Hanoi untuk mengamankan tiket ke final. Pun dengan duo Barito, Pora dan Hansamu yang tampil heroik di final pertama melalui dua gol pembalik keadaan sekaligus menghidupkan asa juara. Bahkan Hansamu pula lah yang mencetak gol pertama saat Indonesia bersua Vietnam di Jakarta. Praktis empat gol lahir dari tiga pemain yang klubnya terpuruk di ISC. Keempat nama tersebut mampu menepikan nama-nama yang lebih diunggulkan secara individu maupun asal klubnya. Andritany, Gunawan Dwi Cahyo, Evan Dimas Darmono, Rudolf Yanto Basna, hingga Bayu Gatra Sanggiawan praktis hanya memiliki opsi menerima dengan sportif situasi tersebut.

Rizky Rizal Pora merayakan gol yang dicetak oleh Hansamu Yama Pranata
sumber affsuzuki.com


Praktis cacat yang mengganjal dari kontribusi empat pemain tersebut adalah insiden kartu merah Lestaluhu saat injury time final di Bangkok. Bagi saya, tendangan bola ke bench Thailand adalah hal yang lumrah wlaau harusnya bisa dihindari. Justru perilaku jari tengah saat Lestaluhu melewati tribun itulah yang mengecewakan. Sebagai tentara, seharusnya Lestusen memahami bahwa perilaku di luar lapangan tersebut tidak layak.

Well, terima kasih PS TNI dan Barito Putera atas kontribusi mayor walau prestasimu minor di ISC

Bismillah ICISS 2016

Laga tandang akhir tahun yang penuh gemerlap di depan, peluh di belakang.
Alhamdulillah ini karunia Allah
Terima kasih bantuan dan dukungan Pak Yudho Giri selaku supervisor, Prati Hutari selaku suporter paling utama, bang Tomi Sirait selaku partner riset.

Takjub di Sanctuary of Truth


Untuk ke sini bukan hal yang mudah
Harus unggah nilai Literasi TIK 3 kelas dulu, musti lanjut mengoreksi TBA, dan yang paling penting adalah jalan kaki 6,6 km. Kolaborasi kebiasaan sejak ikut Ambalan plus Paket Kebijakan Ekonominyg harus efektif, itulah alasannya. Alhamdulillah


Sanctuary of Truth merupakan bangunan eksotik yang dibuat dari kayu dengan bentuk berupa kuil dengan berbagai stupa. Dari kayu saudara saudara sekalian. Yoi banget kan. Belum lagi ukurannya yang raksasa. Takjub juga melihat bagaimana upaya manusia bisa menghasilkan karya ini.

Suasana serius pada pengukir yang terus memproduksi karya-karya untuk megisi tiap sisi bangunan ini

saluttt