Sajak ini ditulis saat menunggu bus/travel menuju Bangkok, ceritanya seorang suami yang kangen istri sekaligus ayah yang rindu anaknya
Asing dan tanpa daya bercakap
Hanya segelintir cahaya di ufuk barat
Jauh dari makna megah tapi bernyaman saja
Kawan sejati sisakan sejuk dan sekerdil optimis
Yang orang sebut hiruk pikuk itu fana
Ada permataku sabar bertaut kalbu
Yang tegar sepinya dipermak rindu
Yang berpeluh arsiteki masa depan si buah hati
Bila kubisikkan salam pada udara
Adakan angin menayangkan di benaknya
Mengendap perlahan kumpulkan pilar bersama
Mencentang satu demi satu target menuju surga
Menjelang 6 Sore di Sri Praphat
Batin Meluruh di Persinggahan Toatillah Pattaya
Toatillah merupakan sebuah masjid yang terletak di Pattaya Selatan, agak jauh dari Pantai Pattaya. Sebagaimana masjid pada umumnya, suasana di sini sangat sejuk. Masjid ini tidak semegah masjid-masjid di Indonesia. Bahkan, sekitar 2 per 3 masjid ini sedang dalam proses pembangunan. Semoga bisa segera dilancarkan aamiiin.
Melihat semangat dan keceriaan anak-anak ini, saya merinding. Merinding pertama tentu karena menyaksikan betapa riangnya masa kecil mereka bisa belajar bareng Al Qur'an. Merinding kedua karena lokasi masjid ini hanya berjarak 30-60 menit jalan kaki ke kawasan yang begitulah. Artinya, masjid ini merupakan benteng umat muslim yang sangat vital dari gempuran dan godaan syahwat yang begitulah. Semoga para muslim di sana, termasuk anak-anak yang masa depannya masih panjang ini, bisa bertahan atau bahkan mengubah peradaban di Pattaya. Aamiin
17 Desember 2016
Tiap tahun, 17 Desember selalu istimewa
Selalu ada momentum yang tidak terduga
Begitu pula tahun ini
Tidak pernah terduga hari ini akan saya habiskan di kota nun jauh dari pangkalan hidup
Bangkok, hari ini semestinya istimewa karena bisa menjadi sejarah baru
Namun sejarah rama malah berulang
Sebagai Indonesia, sedih namun tegar dan bersyukur pantang ditanggalkan
Sebagai individu yang lemah, aku bersyukur
Allah memberi bingkisan berupa secarik petualangan
Alhamdulillah
TimnasDay Final2ndLeg AFFcup
Duo 'debutan' nonton langsung Timnas Indonesia berlaga di kompetisi resmi. Kebetulan memang jebolan IT Telkom ini berjumpa di Bangkok jauh. Kebetulan pula kehadiran kami masing-masing terhitung sangat tidak direncanakan. Bang Wira baru selesai proyek pariwisata di Bangkok, sedangkan saya mau konferensi di Pattaya. Ini saya bisa dibilang blogger pemula yang beruntung bisa berbincang dengan blogger terkemuka hehee.
Bukan Prestasi
Menjelajah bumi bukanlah prestasi
Apabila itu tak ubahnya aktualisasi digdaya
Manakala terlalu jauh bermain, sejauh itu pula lupa Illahi
Bahkan jika lupa pada akar berasal
Menapaki dataran seberang bukanlah prestasi
Apabila harus tanggal ibadah dan juga kalimat-Nya
Semoga tidak termasuk golongan demikian
Karena tidak ada satu milimeter pun langkah kita tanpa izin-Nya
Sejauh mana tapak mengitari jalanan
Hingga usia menjadi batas arah pandang
Di situ pula Illahi senantiasa mengawasi
Dan memberikan perlindungan bagi umat yang sadar
Adu Mental Mutiara Hitam vs Singo Edan
Kuda pacu ISC praktis menyisakan dua kekuatan tradisional. Persipura, juara empat kali Liga Indonesia, bakal meladeni Arema Cronus, kolektor satu trofi Liga Indonesia plus satu trofi Galatama. Keduanya bersama dengan Persib dan Siwijaya FC merupakan dominator berbagai kompetisi di blantika sepakbola Indonesia dalam kurun waktu 8 tahun terakhir. Keduanya pun sudah tidak canggung berceloteh tentang kompetisi regional Asia, minimal di ajang AFC Cup. Keduanya merupakan dua representasi nasib yang menarik untuk dibahas.
Arema Cronus sejak pekan pertama mampu tampil sebagai klub yang stabil. Jarang mereka tersentuh kekalahan. Faktor sebagai tim bertabur bintang, seperti Kurnia Meiga, Gonzales, Raphael Maitimo, Esteban Vizcarra, Ryuji Utomo, Benny Wahdudi, membuat mereka senantiasa tampil kokoh. Hanya saja mereka memiliki satu catat. Gagal mendongkel Madura United dengan lancar. Pemakzulan pucuk klasmen sempat dilakukan, namun tidak bertahan lama. Singkat cerita mereka adalah tim spesialis 'bayang-bayang'. Pun saat Madura United akhirnya terjungkal di penghujung musim hingga akhirnya terpental dari jalur juara, justru Persipura Jayapura yang mengudeta.
Persipura bukan tim yang menjalani musim ini dengan nyaman. Mereka tidak tampil meyakinkan sebagaimana dua tiga musim lalu. Sudah banyak bongkar pasang yang terjadi, termasuk kaderisasi pemain muda yang agak macet. Praktis sejak pentas di laga pembuka ISC, mereka kerap melempem hingga terjadi pergantian pelatih. Mereka pun harus merangkak sembari menyaksikan Madura United dikeroyok Arema, Sriwijaya, dan Bhayangkara United. Namun di sinilah Mutiara Hitam membukti nama besarnya. Mereka secara perlahan merayap di atas klasmen. Inkonsistensi Sriwijaya FC dan Bhayangkara mampu dimanfaatkan untuk meroket hingga akhirnya kini mereka unggul dua poin atas Persipura.
Persipura di atas angin, hasil imbang atas PSM nanti sudah cukup membuat mereka juara. Kemungkinan poin sama akan memaksa Arema gigit jari lantaran kalah head-to-head atas Persipura. Satu-satunya metode Arema juara hanyalah Persipura kalah atas PSM sementara itu Arema mampu menjinakkan Persib Bandung. Syarat yang susah.
Review Headshot
Keren
Itulah kesan ringkas saya terhadap film yang terus terang saya sendiri baru pertama kali menonton genre ini langsung di bioskopnya. Alasan mengapa akhirnya mau menonton film ini ada dua, pertama melibatkan banyak atlet bela diri, kedua film ini sudah bikin 'geger' dan diganjar sanjungan di berbagai negara. Hanya saja saya harus siap menerima konsekuensi bahwa sangat mungkin film ini bukan pertempuran tangan kosong, mungkin saja ada 'permainan' benda tajam dan senjata api yang dibumbui kesadisan, barang lumrah untuk film genre seperti ini.
Alur cerita film ini sebetulnya sederhana, bahkan relatif mudah dicerna walau ada beberapa bagian yang sifatnya 'puzzle' linimasa. Namun, keseluruhan kita mudah memahaminya. Ngomong-ngomong soal alur cerita, ada satu poin menarik yang menjadi titik logis yang jika dihilangkan akan menimbulkan pertanyaan. Yaitu saat kembalinya Ishmael alias Abdi yang amnesia ke markas Mr. Lee. Bagaimana bisa orang amnesia bisa 'pulang' ke markas lamanya, ada faktor teknologi yang membuatnya menjadi logis. Simak detailnya di bioskop ya hehee
Keunggulan film laga ini adalah porsi yang pas serta kepeduliannya terhadap etika. Porsi pas di sini meliputi banyak hal. Dialog yang seperlunya namun mampu mendeskripsikan konflik yang terjadi. Bahkan dialog antara Ishmael dengan si tukang nelayan pun menjadi jembatan mengapa tiba-tiba Ishmael ada di klinik tempat Ailin koas. Kapan ada baku pukul vs kapan ada baku tembak pun disajikan dengan komposisi yang pas. Praktis saya bisa menikmati laga yang benar-benar meguras keringat dan tentunya memancing ketegangan. Sesuai dugaan, dan seharusnya juga sih, pertarungan yang melibatkan big boss itu tangan kosong terbukti. Duel Ishmael vs Mr. Lee sangat layak sebagai klimaks dengan ending yang sangat terduga. Sebagai catatan, sosok Mr. Lee yang penuh perhitungan dalam berstrategi sudah diperlihatkan pada pembuka film yang 'dingin banget'
Oh ya, film ini juga 'cukup' bersih dari hal-hal yang mengganggu kejernihan film. Walau ini film laga, frekuensi darah tidak lebay, bahkan lebih banyak memakai 'make up' lebam dan memar untuk menggambarkan hasil pertempuran yang ada. Selain itu, ada peran anak kecil yang ternyata tidak dibunuh, ini merupakan pilihan yang cerdas dari sisi film karena menghindarkan film ini dari adegan kekerasan kepada anak. Begitu juga saat film ini melaju ke seperempat akhir. Si anak nyaris menembak musuh yang gagal sehingga gagal pula adegan anak kecil melakukan adegan pembunuhan. Saya yakin dua momen itu bukan suatu kebetulan hehee. Terakhir film ini bebas dari adegan begituan, memang ada yang sifatnya nyaris tapi itu justru dijadikan titik perlawanan perempuan terhadap kekerasan terhadap mereka.
Ngomong-ngomong soal hikmah, film ini mengingatkan kita tentang bahaya penculikan anak yang ternyata dikader menjadi pembunuh, berandal, dan sejenis. Kehidupan mereka yang sudah terjerumus sangat kelam dan sulit mencari jalan keluar. Ada hikmahnya pemirsah, nggak cuma kedebak kedubuk doank.

