Jeruji kawat menahanku
Denyut nadiku sahut meredup
Kemarau yang kerontang
Hujan bersemayam badai
Busur yang kupanggul
Terarah pada kabut
Pantang kupulang
Ataupun lenyap seketika
Anganku terperangkap cacian
Ilusi bermuram durja
Senyumku terbasuh lumpur
Biar keringatku menyapunya
Bertuba pembuluh visiku
Berkabung naluriku untuk tegap
Terkadang merangkak demi bertahan
Tersisa aku di lorong jalanan
T'lah kutaburkan benih suka cita
Hingga tiada tersisa di kantung hatiku
Aku di Lorong Jalanan
Celoteh Kaderisasi
Lagu Himno del Heroico Instituto Vidal berdencang di telinga saya. lagu apa itu? Ya bisa diibaratkan Mars SMA 1 Slawi ataupun Mars IT Telkom, dibawakannya dengan Con Bravura, pokoknya berwibawa banget selama 38 detik, namun tiba-tiba permainan gitar dan keyboard "mengacaukan" telinga. Vokal masih tegap berwibawa tapi irama instrumen tadi sudah terlanjur meracuni lagu ini. Sungguh kombinasi yang (hingga detik ini) takkan terpikirkan dalam lembaga pendidikan formal manapun di Indonesia.
I always think about develop creativity, sometimes my innovative idea come after event happened #hahaaa...kadang modem kreativitas ini perlu diisi ulang dengan mendekatkan diri pada Yang Maha Memberi (kreativitas)
Kali ini celoteh saya tentang kaderisasi. Sesuatu yang dianggap sakral, yang diagungkan, yang disucikan, yang dianggap keramat, bahh.. pusaka macam apa sih kaderisasi? Ampe-ampe dibikin PUK (Pola Umum Kaderisasi). Kaderisasi memang kerap membuat kita keder dalam mengkader.
Apa itu kaderisasi? mari kita analogikan dalam sebuah tugas pemprograman ataupun Desain Analisis Algoritma. Kaderisasi ibarat algoritma yang merancang input agar menjadi output. Namun apakah perumapamaan ini sangat tidak relevansi? Terserah kisanak :D
Namun akan jadi suatu kebodohan bila algoritma (baca : kaderisasi) menjadi sesuatu yang "haram" untuk diutak-atik (bahkan ketika sudah ada mekanisme pengubahannya pun masih ada segerombolan kolot yang menutup mata terhadap perubahan sekitarnya). Jangan tutup mata bung, kaderisasi di KBM ini tujuan untuk apa? Mempertahakan hegemoni ataukah sekedar puisi romantis yang mengidam-idamkan mahasiswa yang "perfecto"?
Kembalilah kita pada hakikat kita sebagai input dan output. Kita adalah mahasiswa (at least saat gue nulis postingan ini, gue masih diakui sebagai mahasiswa ITT walau KTM ilang :p). InsyaALLah kita akan (segera) bermuara menjadi alumni. Nah, seperti apakah lulusan IT Telkom yang dibutuhkan dunia kerja dan masyarakat Indonesia? Lakukan analisis terhadap kebutuhan dunia luar atas alumni kita. Misalnya, alumni ITT dikenal tukan bolos, berarti kaderisasi perlu ditingkatkan di sektor kedisiplinan.
Jangan lupa analisis pula kondisi input saat ini. Mempergunakan rujukan mahasiswa sekian tahun lalu sebagai panduan karakter si inputnya baru jelas memperlihatkan ketidakcerdasan dalam berpikir. Janganlah sampai saking terburu-buru kejar deadline maka lupalah mengadakan analisis input. Mungkin bila event-nya PDKT sih tinggal nunggu si mahasiswa baru dateng, lha kalo yang kayak LKOD, LKOL? Bisa-bisa pesertanya yang punya "kepentingan karier". Bermanfaat sih bermanfaat nama sayang banget ya panitia susah-susah namun yang diincar sertifikatnya, bukan konten acaranya.
Dan tak lupa percantiklah proses di dalamnya. Waterfall saja sekarang sudah "diamandemen" menjadi Neo Waterfall, itu yang udah jadi rujukan metode pengembangan website tingkat internasional lho.. Bila hanya menjadi warisan tanpa dipikir esensinya maka percayalah ketika berpotensi pula mewariskan budaya korupsi di negeri ini. Eh, pemasarannya gimana atuh kang? Lha kiye keh sing susah temen. Coba data siapa saja calon "pembeli" tiket masuk event kaderisasi, bagaimana karakternya, apa latar belakang organisasi (UKM dan labnya), cari tahu yang dibutuhkan organisasi mereka (jangan cuma kebutuhan 1 2 ormawa), cari tahun apa yang sedang menjadi trend saat ini.
Di kampus ini masih ada "dogma jahanam" berupa kaderisasi milik segelintir oknum dan kemudian para penganut aliran kebatinan itu "mengembargo" event kaderisasi di kampus, tak hanya mengembargo, tapi juga rajin membuat fatwa yang mencela kaderisasi di kampus ini. Kalau dipikir-pikir "embargo" dan "fatwa" buata mereka kepada mahasiswa lain tersebut ya sebenarnya proses kaderisasi juga lho, hanya saja bersifat kontra-petahana. Yapz, fenomena ini merupakan contoh meniru politik kotor, padahal seperti kata mas BP di blognya, "kita tidak perlu membunuh untuk menunjukkan bahwa membunuh itu salah". Lantas harusnya bagaimana?
Bagian penutup ini sengaja saya "anehkan" dimana tidak ada kesimpulan maupun kalimat mutiara, tujuan agar celoteh yang (harapannya) memasuki titik klimaks tidak begitu saja seenaknya saya akhiri dengan kalimat manis, namun "nuansa gerah" itu masih hangat di otak pembaca sehingga muncul ide-ide yang semoga menjadi kenyataan. Semngatlah untuk membangun peradaban bermutu di kampus berkualitas ini.
Dining Philosopher
Judul di atas bukan tentang konsep dining philosopher yang materi Operating System semester 5, bukan, ini tentang sajian "makan malam" yang penuh dengan filosofi 1,5 hari yang lalu, kenapa 1,5? Karena diadakan malam hari diantara pergantian tahun. Ya ya yapzz.. Ketika hirup pikuk petasan dipersiapkan di pusat Kota Bandung Karate Telkom memutuskan meninggalkan nikmat duniawi menuju sengsara duniawi ke Oray Tapa, sebuah buper di Utara Kota Bandung. "Sengsara"? Hahahaa, gimana gak sengsara, cara menelusuri sawah sudah nyaris mirip gerilyawan Macan Tamil Sri Lanka dan ketika sampai di TKP hampir mirip pengungsi dari Rohingya. Well, satu kita culik satu per satu hikmah di balik "sengsara" yang menjadi santapan makan malam kami dimana hidangan penutupnya berupa berbagai merk mi rebus/goreng dan tidur beratapkan saung dan langit.
Sengsara itu ibarat persimpangan mengenai cara kita menyikapi rintangan, pilih jalur mengeluh, jalur tetap diam datar tanpa ekspresi, ataukah jalur berdoa. Namun, apakah dengan keluhan kita mendadak akan turun nasi goreng dari langit? Apakah cara lain akan memberi efek bagi kita? Ibarat UTS multiple choise, ada banyak pilihan dengan berbagai efek yang bisa kita nikmati
Tiket menuju TKp adalah membawa tenda, terpal, rangka, dan berbagai alat masak dan bekal. Ya seperti itulah latihan Karate. Kita merasa capek luar binasa tertatih membawa barang-barang tersebut, namun itulah yang akan menjadi modal kita "survive" di TKP. Dalam latihan Karate, kita seringkali merasa capek, jenuh, bosan, letih, lesu, lemas, lunglai, lebay terhadap porsi latihan yang kadang kita sendiri lupa "apa manfaatnya", namun itulah modal yang menjadi "senjata" kita survive dalam pertandingan/turnamen/maupun tujuan lainnya
Sementara dua itu dulu saja yang hendak saya tulis di blog tersayang ini. Nanti kalau sudah dapat dokumentasi event kemarin, segera saya tambahkan.
[ide] Taktik Deketin Warga
Masyarakat dan mahasiswa, tak hanya di kampus ini tapi juga di berbagai kampus di penjuru Indonesia mempunyai fenomena jamak yang kronis, yaitu hubungan yang beku. Kadang panas, kadang adem ayem, kadang garing, kadang geje.
Nah, berhubung dalam hitungan pekan ke depan bakal muncul kabinet baru di BEM, DPM, himpunan, dan (sebagian) ormawa, maka saya ingin share mengenai ide mendekatkan mahasiswa dengna warga.
First, teori "datang kalo butuh" masih kental dalam kehidupan kita,
Raida Jabar emang Beda
Pekan lalu saya berkunjung ke Bumi Perkemahan Kiarapayung, Sumedang. Hendak apakah saya? Tak lain dan tak bukan saya sengajakan diri menerjang hujang badai dan banjir dari bumi Dayeuhkolot (yg sekian hari kemudian terendam banjir) hingga Jatinangor untuk menyaksikan Raimuna Daerah Jawa Barat 2012.
Kembang Putih-Kuning
Sejenak embun diterpa jemari yang menyusuri hutan pinus
Dalam belantara kealfaan aku didepak anganku sendiri
Temaram lusuh renta hanya termangu kicau tak berpenghuni
Rindangnya lembayung tak setegar akar anggrek
Tamparan yang Manis
Nak, tidak salah kau menghabiskan waktumu untuk skripsi dan organisasi, tapi apa yang membuatmu rajin di dua hal itu? Jangan-jangan kau taat pada dosen, tunduk pada rekan kerja, tapi kau lalai pada kewajiban memperhatikan orang tua, dan bahkan kau lalai pula pada Allah yang menciptakanmu.
Masihkah berasumsi skripsi dan organisasimu diridhoi??
#jleb....cuma bisa ndengkluk denger "tamparan" ini
Don't Stop me Now [1]
Judul di atas lagu dari band Queen dimana teknik di vokal di lagu tersebut terhitung sulit. Dan menurut saya, itulah filosofisnya kita untuk mempertahankan diri dari segala tekanan intern dan ekstern terhadap pergerakan kita.
Saya punya tekad untuk menjadi penulis, setidaknya ALLah sangat berbaik hati memberi kesempatan saya mencantumkan nama saya sebuah event menulis ilmiah nasional, baik di Jakarta, Yogyakarta, Denpasar, maupun Bandung, namun please don't stop me now, someday, I want to write paper in international
Summer Sunshine : Fragment to Remember [1]
Kalau dalam kompetisi sepak bola Eropa, pertengahan tahun ini adalah libur musim panas dimanna terdapat berbagai macam transfer pemain. Namun, bagi saya musim panas (yg kadang tiba-tiba ujan) ini saya direkrut oleh sebuah jamaah yang mengadakan Walimahan Wilujeng Sumping di kampus IT Telkom.
Sebelumnya mari saya perlihatkan foto fenomenal sebuah event "sakral" di tahun 2008 pasca Spanyol merajai daratan Eropa
Setelah melalui berbagai tes yang cukup ketat dimana pada akhirnya rambut saya berguguran, akhirnya saya ditempatkan di sebuah, di sebuah, sebuah apa ya? dibilang tim bukan, disebut klub bukan, dilabeli fraksi ya kagak, dipanggil divisi yo sanes... Lha terus apa y? tapi beneran ada lho... ataukah keberadaan kami hanya "mengada-ada"?? :p
Template Matching

