Setangkai Harmoni

Sajak menjelang final vento ala SEPM

Pinggir pinus lembah masa silam
Rebahkanlah s'gala imaji
Harta tersisa untuk melangkah

Paduan terbaik harmoniku
Rindangnya sajak itu menghentak

Bawalah petikan dawai ini
Mengalun hinggap di nadimu
Maka tiada rasa tawar jejaki lorong

Pancarkanlah arah lajur hendak ditempuh
Mendekap asa tanggalkan kecewa
Maka tiap frase kian memesona

Prasangka tiba di hadapku
Hunuskan tabukan rintik
Garis nila basahi cempaka

Sampaikan jangkarmu
Kiaskan sayapmu
Biarlah angin membarat
Padahal selangkah bait ke utara

Waaahh Kungfu Boy

Ceritanya sekitar Sabtu akhir Mei lalu dateng ke Jakarta Book Fair di Istora Senayan. Ya siapa tahu nemu buku tentang CMMI, COBIT, Artificial Intelligence, *ketauan bo'ongnya wkwkwk*... Bisa dibilang antara mengisi waktu senggang dengan emang beneran niat nyari buku hehee...
Dan saya menemukan (walau nggak beli) sebuah komik legendaris yang jadi salah satu favorit saya, yaitu Kungfu Boy *dedaunan jatuh dari langit :p*

Saya bukan tipikal yang gemar membeli komik, tapi beda cerita kalau dibelikan hehee. Pertama kali saya kenal komik Kungfu Boy ini sekitar SD, kalau nggak salah kelas V, pokoknya jaman belum ngenal apa itu C#, Java, MySQL. Diceritakan seorang Chinmi, pemuda yang belajar kungfu untuk melindungi ornag-orang di sekitarnya, sempat galau karena hilang arah atas berbagai tantangan pergulatan hidup, akhirnya dia menemukan hakikatnya kekuatan yang sedang dia pelajari itu untuk apa.

Fragmen paling inspiratif adalah Chinmi diundang oleh Jenderal Owlin untuk mengikuti sebuah turnamen bela diri di ibu kota. Bukan turnamen biasa karena ada misi terselubung yang mengharuskan Chinmi menjadi juara untuk memastikan keselamatan kaisar. Lho kok bisa? Jadi ceritanya ada komplotan yang mengincar nyawa kaisar dengan cara memenangkan turnamen ini sehingga bisa tampil menemui kaisar langsung dan di situlah rencananya mereka menjalankan rencana itu.

Tanpa disangka yang menjadi petarung yang mewakili komplotan itu adalah Sie Fan, kawan Chinmi di kuil Dairin, bahkan mereka pernah bertarung mati-matian di tengah hutan melawan srigala. Jelas sebuah pertanyaan mengapa Sie Fan kini jadi perwakilan mereka? Ternyata itu bukan Sie Fan yang dulu *ceilee*, melainkan Sie Fan yang telah hilang ingatan karena diserang para penjahat dengan teknik jarum yang sudah punah. 

Laga menuju puncak penuh deraan karena Chinmi harus berhadapan dengan Iryu dan berbagai petarung lainnya hingga mencapai final kategori tanpa senjata. Oh ya, turnamen ini membagi peserta ke dalam kategori tanpa senjata serta kategori bersenjata. Juara masing-masing kategori akan berlaga memperebutkan gelar juara umum. Di final kategori tanpa senjata Chinmi berhadapan dengan Tan Tan. Sedangkan Sie Fan juga lolos ke final kategori bersenjata versus Siba. Chinmi sudah jelas alasan mengapa harus juara, begitu pula Sie Fan (walau bukan Sie Fan yang dulu *ceilee masih aja dibahas*), lantas siapakah Tan Tan dan Siba? Tan Tan merupakan penganut kungfu tanpa tangan, alias cukup kaki. Namun dia sering diejek karena dianggap sia-sia memlajari aliran tersebut. Sedangkan Siba merupakan mantan polisi yang kini menjadi pemburu hadiah. Keluarganya dibantai oleh penjahat dan tinggal dirinya serta adiknya yang mengalami trauma berkepanjangan. Maka bisa disimpulkan Tan Tan memiliki motif pembuktian alirannya, sedangkan Siba untuk membentuk hidup baru bersama adiknya bermodalkan hadiah bagi juara umum. 4 finalis dengan motif yang berbeda-beda.

Penasaran kelanjutannya?? Mending cek aja langsung di komiknya :) hehee
Yang pasti di akhir cerita mereka berempat menjadi pahlawannya :)

#AmigosXSiemprè

Tak banyak ysng krnal Martin Ricca, Belinda Peregrin, C. Uckerman, Ernesto Laguardia. Wajar...mereka hanya dempat mehgudi layar kaca di era 2001-2003, sudah satu dekade lebih. Dan agaknya kita lebih ngeh jika disebut Pedro, Anna, Santiago, dan Salvador. Acara apa hayoo? Yuppss Amigos X Siempre
Bisa dibilang ini satu-satunya telenovela yang saya ikuti dengan cermat. Jangan tanya macam Rosalinda dkk-nya wkwkwkk. Awalnya fikenalkan saudara jauh saya, Yogi, penasaran dam semakin disimak menarik juga... memang ada bimbu khas telenovela yaitu cinta, tapi di Amigos X Siempre lebih mengutamakan sisi kreativitas dalam bersekolah.

Film sangat mengumbar pesan untuk melihat karakter orang dari berbagai sudut, khususnya pendekatan pribadi. Sosok Gilberto yang mengalami kegagapan dalam berbicara, bahkan orang tuanya sendiri kurang mengakui eksistensi si anak. Namun Salvador, justru mampu mendekati dia dan memberikan perhatian ekstra melebihi si orang tua. Perlahan kepercayaan diri serta senyum Gilberto meningkat pesan. Di forum dia lebih berani tampil menyampaikan pendapat walau harus terengah-engah diri air mata bahagia.

Tak cukup di situ, tokoh utama Anna yang dikisahkan pengalami tekanan batin oleh ayahnya karena terus dipersalahkan atas kematian ibunya. Tiap hari dia terus dan terus mengurung diri di kamar dan hanya ditemani piano. *ngomong-ngomong piano, lagu Mi Angel de Amor di alum soundtrack-nya asik banget dah*. Dalam mengembalikan kepercayaan diri, sosok Salvador selaku guru sekaligus paman ternyata tidak cukup membuka keceriannya. Tampillah Pedro, si rambut belah dua yang inovatif dan hiperaktif yang mampu mengajak Anna melihat jendela dunia.

Kemudian sosok Neftali yang dikisahkan sebagai karakter yang kejam dan memiliki permasalahan pribadi dimana tidak ada orang lain yang memberikan perhatian kepadanya kecuali rasa takut dan segan. Permasalahan pribadi pula yang menjadikan perpecahan di sekolah Vidal dimana Gilberto sebagai kawan karib Pedro malah membelot keluar. 

Kisah perbedaan latar belakang ekonomi juga diapungkan lewat penggambaran rumah tangga yang beragam antara keluarga Gilberto-Lourdes, Rafael, Pedro-Anna, Santiago, hingga Carlitos. Boleh jadi ini merupakan shock terapi yang memaparkan bahwa Meksiko bukanlah negara yang gemerlap sebagaimana citra industri telenovelanya. Masih banyak kesenjangan sosial di dalamnya. Ngomong-ngomong industri telenovela Meksiko saat ini benar-benar mengalami kemerosotan dari sisi ekspor karya. Nasib yang lebih ditampilkan India yang masih mampu berdiri dalam tonggak Bollywood. Silaunya Korea memang turut menjadikan tayangan telenovela sedang "punah" dari layar kaca.

Kembali ke Amigos X Siempre
Bicara kesenjangan sosial, di sini dipaparkan bahwa sikap egaliter dalam bersahabat merupakan cara untuk mencegah rasa iri dengan latar belakang antar-teman. Sosok sederhana macam Lourdes, tengil macam Patricia, tajir macam Renata, hingga anak tukang kebun Juan. Salutlah nilai filosofisnya. Tema remaja yang digusung memang segar dan riil. Tidak ada bumbu cinta yang hiperbolik. Konflik Pedro vs Santiago pada akhirnya reda (walau agak antiklimaks). Lantas apa yang paling spesial dari telenovela satu ini?

Inovasi ala Salvador...
Bayangin sekolah yang tadinya menjunjung disiplin kok malah disodorin konser di tengah lapangan.
Orientasi belajar di bangku kelas mampu didobrak dengan kegiatan softskill macam sepakbola dan musik.
Dinding antara siswa dengan guru yang mampu dienyahkan dengan keakraban tanpa takut wibawa jatuh.

Satu lagi, 12 lagu yang jadi soundtrack-nya asik banget buat didenger :) Favoritnya ada dua, yaitu El Ritmo de la Vida serta Pacto de Amor.

ASEAN di AFC Cup

Iseng-iseng ngepoin sejarah sepak bola di benua Asia dan menemukan fakta bahwa negara-negara di ASEAN masih berstatus inferior di kancah Piala Asia. Hal ini tercermin dari tingkat partisipasi yang semakin menurun. Oh ya?

Di awal perintisan turnamen, negara Vietnam Selatan mampu dua kali beruntun masuk 4-besar, bahkan Burma (kini Myanmar meraih peringkat kedua di gelaran keempat alias Piala Asia 1968.

Tahun 1972 Thailand meraih kehormatan sebagai tuan rumah dimana selain mereka, negara Asia Tenggara juga diwakili Republik Khmer. Sayang kedua negara ini kandas di putaran grup. Dua gelaran berikutnya malah hanya menyisakan Malaysia di tahun 1976 dan 1980, namun negeri Jiran ini juga terdampar di putaran grup. Tahun 1984 malah hanya menempatkan Singapura yang sebenarnya berstatus tuan rumah. Makin menukik di 1988 karena tidak ada satupun negara Asia Tenggara di Piala Asia.



Angin kebangkitan menyeruak di 1992 ketika Thailand kembali berlaga di turnamen ini. Bahkan secara kontinu negeri Gajah Putih menjadi peserta di gelaran 1996, 2000, 2004, dan 2007. Dan di tahun 1996, Indonesia (negeri tersayang memulai debutnya) yang kontinu berlanjut juga di 1996, 2000, dan 2007. Secara statistik, Thailand dan Indonesia menjadi negara teraktif di rentang Piala Asia pada masa itu. Hanya ada dua negara lain yang mampu ikut berpartisipasi di tahun 2007, yaitu Malaysia dan Vietnam. Hal ini berarti ada 4 negara ASEAN di Piala AFC 2007, presensi terbaik yang ternyata "diuntungkan" status tuan rumah bersama. Ya tepat Piala Asia 2007 diselenggarakan di empat tuan rumah. Luarrr biasa banget kan??

Namun sayang, selama kurun waktu 1992 s.d. 2007 itu hanya mengapungkan Vietnam sebagai satu-satunya negara ASEAN yang pernah lolos di fase knock-out. Sisanya? Terjerembab di kubangan fase grup. Kian ironis karena di Piala Asia 2011 dan 2015 tidak ada satupun wakil negara ASEAN di hajatan terbesar ini.

Piala Asia 2009? Semoga ada asa bagi Bangsa Indonesia untuk menjadi delegasi terbaik :)


Orientasi, Definisi, dan Perspektif

Seorang anak yang punya bakat public speaking yang luar biasa, tangkas dalam kegiatan outbond, hingga lihai mempraktikkan tarian daerah, akan tetap saja dianggap "tidak lebih cerdas" dari jika IP-nya berkutat di 1 koma ,sedangkan teman-temannya yang lain ber-IP 3 koma.

Dalam hidup kita akan membatasi diri ataupun dibatasi dengan adanya berbagai hal yang menjadi orientasi, definisi, serta perspektif. Orientasi apa yang jadi acuan kita dalam menargetkan akan menjadi seperti apa kita. Definisi apa yang kita gunakan untuk membedakan dengan jelas mana yang sesuai orientasi kita, mana yang tidak, serta bagaimana hal-hal yang sifatnya abu-abu bisa kita condongkan warnanya. Perspektif sebagai gaya melihat suatu gejala bagaimana yang kita pilih.

Bagi orang yang (maaf) atheis, maka orientasi untuk memenuhi perintah agama sudah punah sehingga baik buruk suatu hal akan didasarkan pada nalar. Hal yang berbeda terjadi ketika seorang yang beragama mempunyai pegangan perintah Tuhan dalam kitab suci-Nya sehingga kita akan mengesampingkan egoisme berlogikanya. Selama agama melarang, maka itulah pantangan baginya. Apakah berarti agama kolot? Bukan kolot, tapi kemampuan berpikir kita saja yang terbatas dan kita juga yang lemah sehingga mudah diperdaya sikap membangkang. Bahkan dua argumen terakhir pun bagi saya merupakan cerminan seorang yang beragama.

Korea Utara dengan doktrin yang kuat dari penguasanya tentu menjadikan mereka mengidolai presiden mereka hingga berteriak histeris tatkala melihatnya. Hal yang tentu berbeda di negeri ini ketika di berbagai social media justru muncul komik ataupun meme mengambil topik sang presiden. Padahal sama-sama presiden, kok beda perlakuan ya? Tentu ini dikarenakan cara berpikir yang sudah tertanam dan diajarkan lingkungan sekitarnya. Dengan demikiann orientasi, definisi, hingga perspektif erat kaitannya dengan budaya berpikir yang ada wilayah tersebut. Fenomena blusukan saat ini sangat nge-trend tentu karena menjadi hal yang unik di tengah kebiasaan pejabat daerah yang sering digambarkan berkarakter glamor dan jauh dari masyarakat. Ketika ada seorang pemimpin daerah yang sering mendatangi warganya maka akan jadi fenomena.

Pasca perang dunia II, ada dua berpikir yang saling berebut pengaruh di bumi ini, yaitu liberalisme atau sosialisme. Masing-masing mempunyai cara berpikir yang mengagungkan apa yang menjadi standar terbaik versi mereka masing-masing. Ujung-ujungnya akan ada pembagian tiga kelompok negara, misalnya bagi negara liberalis memandang tiga kelas, yaitu yang maju (diisi oleh negara yang sama-sama liberalis), negara agak maju (diisi negara yang tidak liberalis maupun tidak sosialis), serta negara yang tidak maju (diisi negara sosialis). Begitu pula sebaliknya bagi negara sosialis. Untuk lebih memperkuat cara pandang maka berbagai publikasi ilmiah tentang cara pandang mereka masing-masing pun diterbitkan. Keduanya saling beradu hingga akhirnya Soviet, si penyangga sosialisme dunia pun tumbang. Dengan demikian cara berpikir liberalisme mengambil alih orientasi berpikir di dunia ini. Melalui perdagangan, politik, hingga hiburan kini mengacu pada apa yang menurut negara Amerika Serikat benar. Kebebasan pers saat ini mengacu pada lingkungan pers di negara itu. Musik pun kini berkiblat ke negara yang sama.

Efeknya bagi negara seperti Indonesia mulai terasa dimana mau tidak mau akan menghadapi pasar global. Malah, berbagai minuman beralkohol yang tidak haram bagi mayoritas masyarakat Amerika Serikat pun kini sudah memasuki gerai-gerai minimarket di Indonesia. Untuk urusan bahasa pun kini tak bisa disangkal bahwa Bahasa Inggris sudah memperoleh pengakuan sebagai bahasa internasional, bukan Bahasa Jepang, Mandarin, Arab, Spanyol dll. Walaupun Brazil, Italia, dan Spanyol juara piala dunia di 3 edisi terakhir namun kita tentu sepakat tidak menjadi acuan kita memilih bahasa asing.

Pola pikir tentang definisi sesuatu pun kerap diidentikkan dengan objek tertentu.
Demokrasi itu ya Amerika Serikat
Khalifah itu negara jazirah Arab
Komunis itu Kuba
Mau kayak apa kondisinya kalau demokrasi ya standarnya negara Amerika Serikat, titik.

Pencitraan sebagai Branding KM

Pencitraan, terlepas dari hiruk pikuknya Pemilihan Presiden, ternyata merupakan hal yang harus dipikirkan matang oleh sebuah organisasi dalam lingkungan bersosial. Contoh pencitraan yang paling sukses (selain salah satu kandidat presiden) adalah Wali Kota Bandung, Kang Emil. Berbekal kemampuan melek informasi (dna tentunya didukung orang-orang sekitar), dia mampu membangun citra positif pada dirinya serta Kota Bandung versinya. Menariknya lagi, banyak karya beliau yang pada akhirnya mudah diketahui masyarakat karena citranya sudah terlanjur positif. Tentu jadi pelajaran berharga bagi Keluarga Mahasiswa (d/h Keluarga Besar Mahasiswa) maupun Ikatan Keluarga Mahasiswa untuk mengadopsi konsep tersebut. Cukup dengan ber-socmed kah? Kok gampang banget sih?

Citra erat kaitannya dengan visi serta ekspektasi.
Setiap pemimpin tentunya memiliki visi serta ekspektasi. Itu wajib. Pencitraan sebagai branding KM merupakan strategi yang harus dibangun di awal sehingga semangat yang tertuang di dalamnya dapat lebih mudah diwujudkan. Optimis, penuh kreatif, kritis, ceria, penuh cinta, persahabatan, darurat dll itu semua merupakan citra ketika sejak terpilihnya seorang ketua maka harus segera dibangun. Gebrakan pencitraan di awal menjadi hal yang penting sehingga apa yang ditawarkan lebih jelas.

Tentu kita lebih mudah mengetaui seperti apa Kota Bandung yang ditargetkan oleh wali kotanya sekarang karena citranya jelas dan positif. Tak heran respon positif untuk ikut serta lebih mudah didapat. Hal ini patut ditiru oleh KM.

Yang penting kerja nyata
Namun seringkali kesuksesan di lapangan tidak semua orang tahu. Ada progja pembangunan sarana publik untuk masyarakat, ada advokasi beasiswa, hingga pencerdasan anti-korupsi. Namun ujung-ujungnya keberpihakan mahasiswa di dalam KM akan kembali pada apa yang mereka ketahui. Di sinilah peran pencitraan, bukan sebagai riya tetapi metode untuk membangun kepercayaan publik.

KM saat ini dalam keadaan genting
Satu per satu rekruitasi diperpanjang karena kekurangan SDM disertai alibi yang diplomatis
Tingkat partisipasi terhadap kegiatan yang melibatkan KM anjlok drastis.
Pucuk penggerak KM punya visi apa pun entah apa yang ditangkap /dimengerti oleh yang menjadi anggota biasa KM
Sudah saatnya bekerja lebih terbuka
Sudah waktunya membangun citra KM sebagai awal untuk mewujudkan jalinan penuh rasa percaya
Dengan demikian apa yang dicitrakan tak lagi hanya pencitraan tapi kenyataan

Tinjaulah roadmap KM melalui visi dan misi penggeraknya
Sinergikan seluruh elemen di dalamnya
Gaet kepercayaan melalui pesan-pesan kreatif di social media
Galang kebersamaan yang tidak dibatasi program kerja
Tapi ingat bahwa pencitraan sebagai branding KM tidak cukup, pencitraan hanya trigger/pemancing di awal... Komitmen untuk realisasi itu jadi kuncinya

1 Grup 4 Negara 4 Konfederasi

Trivia Piala Dunia 2014
Ada tiga grup di Piala Dunia yang bersumber dari 4 konfederasi yang berbeda, yaitu:

  • Grup A yang diisi Brazil (COMNEBOL), Kroasia (UEFA), Meksiko (CONCACAF), dan Kamerika (CAF)
  • Grup C yang diisi Kolombia (COMNEBOL), Yunani (UEFA), Pantai Gading (CAF), dan Jepang (AFC) dan secara geografis persis dari 4 benua
  • Grup F yang diisi Argentina (COMNEBOL), Bosnia-Herzegovina (UEFA), Iran (AFC), dan Nigeria (CAF) dan ini juga persis dari 4 benua.


Apakah ini pertama kali terjadi?

Di Piala Dunia 1930 s.d. 1938 tidak ada sistem grup maka jelas tidak terjadi satu grup diisi kontestan yang benar-benar berbeda benua. Sedangkan di rentang 1950 s.d. 1982 grup yang terjadi masih mempertemukan negara satu konfederasi/benua yang sama, tidak ada yang benar-benar unik.

Sejarah mencatat Piala DUnia 1986 di Grup B sebagai momen pertama kalinya sebuah grup diisi 4 negara berbeda asal konfederasinya, yaitu Meksiko (CONCACAF), Paraguay (COMNEBOL), Belgia (UEFA), serta Irak (AFC).

Dan perlu 12 tahun untuk memunculkan kondisi serupa dimana pada Piala Dunia 1998 di grup H berkumpullah Argentina (COMNEBOL), Kroasia (UEFA), Jamaika (CONCACAF), serta Jepang (AFC). Empat tahun berselang Piala Dunia 2002 di Korea Selatan-Jepang menghadirkan kisah dimana Brazil (COMNEBOL) menjajal Turki (UEFA), Kosta Rika (CONCACAF), serta Tiongkok (AFC).

Gejala ini kembali berlanjut tatkala Portugal (UEFA) memuncaki klasmen Grup D Piala Dunia 2006 di Jerman setelah memngangkangi Meksiko (CONCACAF), Angola (CAF), serta Iran (AFC). Tak cukup di grup D, di grup F pun jadi lahan bagi Brazil menjamu Australia (OFC), Kroasia (UEFA), serta Jepang (AFC). Ini berarti terdapat dua grup dengan komposisi persis 4 klub asal 4 konfederasi berbeda.

Frekuensi fenomena demikian meningkat di Afrika Selatan 4 tahun silam dengan jumlah 3 grup. Pertama grup A yang dihuni Uruguay (COMNEBOL), Meksiko (CONCACAF), Afrika Selatan (CAF), serta Prancis (EUFA). Disusul grup B berisikan Argentina (COMNEBOL), Korea Selatan (AFC), Yunani (UEFA), serta Nigeria (CAF). Dan terakhir grup G yang membaurkan Brazil (COMNEBOL), Portugal (UEFA), Pantai Gading (CAF), serta Korea Utara (AFC). Khusus grup B dan G, keempatnya murni dari 4 benua berbeda hehee.

Sebagai catatan, komposisi negara di tiap grup yang disampaikan tadi (kecuali untuk Piala Dunia 2014 tentunya) berdasarkan peringkat akhir. Artinya Di Piala Dunia 1986 s.d. 2006 benua Asia alias AFC selalu tampil sebagai juru kunci ketika bersaing dengan negara-negara dari benua/konfederasi lain. Pengecualian terjadi di 2010 dimana Korea Selatan tampil sebagai runner up Grup B Piala Dunia 2010.



So, menarik untuk disimak apakah Iran 2014 dan Jepang 2014 akan mengulangi nasib Irak 1986, Jepang 1998, Tiongkok 2002, Iran 2006, serta Jepang 2006 ataukah melanjutkan kisah inspiratif Korea Selatan 2010?

Review X-Men The Days of Future

Review X-men
Salah kartun favorit walau tidak bisa konsistensi mengikutinya. Dan harus diakui nuansa "dark" sangat melekat di berbagai versi movie film ini. Khususnya di X-men The Past of Future. Dari judul kita sudah bisa menebak bahwa akan ada dua alur, yaitu masa lalu dan masa depan.

Film ini dibuka dengan aksi survival sejumlah mutan yang tersisa dimana harus diakhiri dengan genoside oleh robot-robot Sentinel pemusnah mutan. Kekuata yang berubah-ubah nan kebal menjadi titik pembeda kekuatan saat perang tanding . Satu per satu mutan bertumbangan, hingga dimulai petualangan kilas balik yang dilakukan oleh Wolverine.

Lagi-lagi kita tentu bertanya kenapa harus Wolverine yang jadi tokoh sentral? Dan lagi-lagi pula jawabannya ada pada kemampuan menyembuhkan diri yang sangat cepat sehingga dia dianggap mampu bertahan dari tekanan batin saat kembali ke masa lalu. Sebuah hal yang tak mampu dilakukan oleh Profesor Xavier maupun Magneto (Erick) yang diceritakan sudah berdamai dan kehabisan strategi untuk menyelamatkan nasib mutan dari pembantaian.

Apa ya yang spesial dari film ini?

Sebelumnya harus diingat bahwa skenarionya didasarkan pada komik aslinya terbitan era 60-an 70-an, sebuah masa dimana komik Marvel merupakan senjata propaganda Amerika (Bintang Putih-Biru) dalam mencitrakan keburukan Uni Soviet (Bintang Merah). Dan hahahaa kita dicekoki kurikulum yang justru saat ini Uni Soviet sudah bubar.

OK kembali ke pertanyaan sebelumnya.

Film ini megisahkan tentang karakter. Ada watak  konsisten ala Wolverine yang harus sabar menghadapi Prof. Xavier muda yang sangat bengal dan sudah putus asa. Kemudian sosok Erick yang entah mengapa kok bisa cerdas banget menyusupi robot-robot Sentinel dengan besi mikro sehingga bisa ia kendalikan. Tak lupa Mystique yang diceritakan akhirnya legowo tidak membunuh presiden serta si dokter ble'e. Padahal si Mystique udah ampe nangis-nangis liat foto-foto mutan lainnya dibunuhdna dijadikan bahan eksperimen robot.

Sejumlah adegan slow motion yang ada di momen yang pas. Pertama saat Xavier, Erick, Morgan dikepung pasukan Pentagon tanpa disangka QuickSilver langsung bergerak sangaaaat tangkas membelokan arah peluru sambil iseng mengatur "koreografi" pasukan lawan sehingga terjadilah peluru nyangsang dan pasukan mendadak bertumbangan tanpa alasan yang (tidak) jelas. Yang kedua di adegan tragis dimana Storm, salah seorang loyalis X-men ditikam robot Sentinel dari belakang dan dilempar ke jurang. Entah kenapa di bagian ini rasanya agak merinding. Adegan tak kalah merinding juga dipetik ketika Wolverine dililiti kawat tebal dari kaki hingga dada dan dililitinya bukan di luar tubuh, elainkan menembus kulit, oto, dan tulangnya. Walau dia punya kemampuang menyembuhkan diri secara cepat tetap saja agak ngilu melihatnya.

Untuk efek berantem maupun ledakan bisa dibilang sudah sesuai SOP-nya Marvel. Yang jelas, suasana kelam di masa depan sangat terasa sekaligus memberi peringatan tentang bahaya perang, terlepas apakah itu manusia vs mutan ataupun manusia vs manusia.

Oh ya, kalau dengan suksesnya misi Wolverine ke masa lalu yang akhirnya masa depan berubah, bahkan om Cyclopse dkk hidup kok muncul pertanyaan "Lha terus iku nggawe film X-men nganti pirang-pirang episode men go' opo??" (translate "Lha terus membuat film X-men macam-macam episode buat apa?") wkwkwkwk

IF3201 Ngondang ka Tasikmalaya

Sebuah gerombolan pelajar dipertemukan di sebuah kelas perkuliahan dengan titel resmi "IF-32-01". Berbagai kisah klasik tentang pergulatan baris-baris coding-coding-an menjadi warna tersendiri di samping sebuah telenovela manis tentang "Constraint". Istilah yang terakhir terinspirasi dari sebuah termonologi di dunia basis data, tapi diadopsi ke dalam sapaan kelas untuk berlaga di Liga IF dan Olimpiade KBM. Double winner di Liga IF 2010 dan 2011 merupakan era yang tak hanya manis secara prestasi tapi juga soliditas kelas.

Seiring berjalannya waktu tak terasa satu per satu memasuki jenjang pernikahan dan kali ini giliran tiba bagi Febriyana Sudrajat, jejaka yang merupakan pakar basisdata plus gelandang bertahan Constraint. Hubungan yang telah dibina sejak SMA *cmiw* akhirnya berhasil dimuluskan di ranah pelaminan. Dan sekedar info, di Sabtu depan, salah satu kawan karib di Constraint yang gokil asal Denpasar, yaitu Primaditya Fajar Baskoro akan menjalani hal yang sama dilanjutkan Ika Sofiana sepekan berselang. Kok rodo ungsum yo?

Walau jauh di selatan Tanah Pasundan, tak menghalangi komitmen persahabatan untuk mencapai lokasi. Dua mobil menampung para pemuda harapan Bangsa (dan mertua) merengkuh perjalanan yang masyaAllah nyasarnya lumayan ble'e hehee.

For 3 Nice Friends

Dua pekan yang mmm...nggak disangka...
Tiga personel PAJ Group menutup bab karirnya di Jalan Samali 3 ini. Mereka adalah Mba Hafifah, Mba Rani Rusliana, dan Bang Eri Dariato. Agak kaget, terutama dua yang terakhir. Masing-masing ketiganya sudah melewati dua tahun yang kece fi tiga departemen berbeda. Ipeh di Finance, Ran di Analyst serta Gezo di IT.

Hafifah... Nama yang unik karena kalau dibalik ya sama saja. Dengan panggilan "ipeh" (logat betawi) tentu tak sulit untuk membingungkan personel lain dengan panggilan saya, ive. Awal kenal beliau ya pendiem dan lebih akrab dengan personel perempuan. Boleh jadi dia salah satu yang paling sabar menangani orang macam saya yang gemar menukar jatah lunch package dengan dana segar hehee.

Rani Rusliana
Si otak matematika yang gemar k-Pop hahaa. Awal saya di lantai 1 dia jadi rekan satu meja bersama Mas Nanda dan Mas Bandung. Karakternya enerjik dan simpatik. Tak heran nyambung dengan personel di berbagai bagian. Sukses buat keluarga yang sedang dibangun.

Eri Dariato
Striker yang tak pernah kehabisan akal dan pantang menyerah. Saya masuk ke IT Telkom eh dia udah lulus. Saya masuk UI dia udah lulus. Koplaklah...

Nama pertama sempat denger slentingan mau hengkang. Yang ketiga H-1 baru tahu via socmed dan koplaknya nama kedua baru saya sadari setelah sepekan beliau tidak masuk wkwkwk

Barokallah utk kalian dan jaga silaturahim y^^