Jangan mau Menyakiti Orang Lain
Seorang muslim (yang baik) adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain( HR Bukhori)
Kalimat itu sederhana tapi realisasi tentu panjang pembahasannya. Tadi pagi sendiri sebuah cerita dari kawan satu meja makin membuat saya yakin bahwa cara menyampaikan maksud dapat lebih penting daripada isi informasinya. Dia bercerita tentang dua temannya adu argumentasi tentang pacaran vs ta'aruf.
Tiap orang tentu punya sudut pandang sendiri yang bermuara pada sikapnya, baik tegas akan pro ataukah kontra, atau malah ragu-ragu. Hanya saja keasyikan debat menjadikan kita malah lupa hakikat/esensi apa yang didiskusikan. Gengsi sudah jadi prioritas. Maka tak heran jamaknya debat buta yang lebih kekanak-kanakan daripada anak SD.
Terlepas dari apa yang jadi pendirian individu, berhati-hatilah dalam menyampaikannya. Mungkin maksud hati melucu, tapi bukan nggak mungkin cara menyampaikan malah membuat orang lain illfeel. Maksud kita baik mengingatkan kewajiban berkerudung, tapi akan menimbulkan rasa sakit hati ketika cara menyampaikannya dengan cara meledek, menyindir dll yang membuat kita seolah paling suci.
Orang kita ledek, sindir, tertawakan sangat mungkin di masa mendatang nanti justru lebih baik dari kita. Malahan, nggak ada asuransi bahwa kita masih lebih baik dari orang lain di beberapa menit ke depan.
Nyindir orang lain yang sedang berpacaran dengan berbagai perumpamaan. Memang awalnya ke orang lain, nah kalau ada teman yang tersinggung dengan cara mengajak kebaikan bagaimana?
Cara berdakwah yang mengumbar penjelek-jelekan justru membuat orang menganggap Islam itu jelek. Memang benar di neraka itu penuh siksaan, tapi apa nggak ada kisah manisnya surga yang bisa dibahas?
Yuk perbaiki cara kita menyebar kebaikan :))
Harga Website
Selama lebaran kemarin, sejumlah pertanyaan dilontarkan kepada saya dan rekan-rekan saya yang berprofesi di bidang IT. Singkat kalimat "bikin website berapa harganya?". Bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Tidak berarti kami yang di dunia IT ini plonga plongo tapi penentuan harga pembuatan website merupakan mekanisme pasar yang tidak mudah.
Bahan Baku
Jika kita ditanyai harga jual sebuah kursi tentu yang kita jadikan patokan adalah harga bahan bakunya, yaitu kayu, serta material penunjang, seperti paku, cat, plistur. Dalam hal ini website sifatnya agak "gaib". Bahan baku website itu apa ya? Hmm... Tentunya code alias rangkaian karakter yang diolah komputer menjadi objek (yang agak gaib) sesuai permintaan. Tidak seperti bahan baku kayu yang semakin banyak semakin mahal, code justru ada kalanya bisa diperingkas jumlah file maupun jumlah barisnya untuk efisiensi. Semakin efisien harganya makin tinggi, tapi sulit mengukur kuantitas yang layak dan standar dalam proses ini.
Ada code yang beli nggak
Dalam membuat website bisa jadi dipakai code. buatan orang yang didapatkan dengan cara membelinya, tentu opsi ini akan berdampak pada harga website itu sendiri. Dampaknya bagaimana? Lagi-lagi sulit menjustifikasi apakah website yang menggunakan code 100% buatan si programmer patut dihargai lebih mahalkah daripada website yang code-nya hasil beli.
Fitur yang disediakan
Sama seperti menanyakan harga sebuah kamar kos yang tentu bakal ditanya balik "mau yang isi apa saja?". Begitu pula harga website, "mau yang fiturnya apa saja". Ambil contoh website milik sebuah toko. Website yang hanya menampilkan produk tapi urusan tetek bengek transaksi di luar web akan lebih murah dibandingkan website yang juga dipakai untuk proses transaksi.
Proses pembuatan
Ini terkait poin sebelumnya. Ketika fitur yang diminta semakin banyak maka makin lama pula waktu yang dibutuhkan. Ibaratnya mengerjakan 7 item yang lebih cepat daripada 20 item.
Layanan penunjang
Website bisa diibaratkan kita membeli HP. Kita perlu pulsa, sinyal, nomor kontak orang lain, kartu SIM, hingga memori eksternal. Untuk jaringannya kita perlu bandwidth. Untuk penyimpanan konten dan database kita perlu hosting. Ada jasa pembuatan website yang meng-include-kan layanan penunjang, ada pula yang tidak.
Keamanan
Kenapa saya pisahkan poin ini tersendiri? Karena ini termasuk faktor yang terlihat sederhana namun bisa bikin runyam jika terjadi masalah. Keamanan yang tinggi tentunya menuntut penanganan yang spesial, sehingga wajar jika harganya melonjak.
Nama Si Penyedia Jasa
Ini "nama" bukan berarti makin panjang nama perusahannya makin mahal lho ya...
Maksudnya adalah seberapa tingkat kematangan organisasinya. Untuk jasa pembuatan website yang dikelola 1-beberapa orang sebagai sambilan jelas tidak punya daya tawar yang besar untuk mematok harga tinggi. Begitu pula organisasi yang masih tumbuh dan berorientasi pada portofolio, harga yang sedang akan jadi prioritas kesekian karena fokusnya adalah menambah jam terbang.
Kemampuan Mengemas
Dipakai atau tidaknya serta sedikit atau banyaknya pemakaian sebuah website tidak ditentukan dari seberapa banyak nan canggih fitur di dalamnya. Justru yang paling utama adalah kesesuaian dengan kebutuhan calon penggunanya. Selain itu, desain visual yang menarik serta pengemasan promosi yang berkualitas akan menjadikan suatu website nominal harga jualnya dapat meningkat.
Setelah menyimak berbagai faktor tadi, maka jangan heran jika ada web yang cukup dengan 150 ribu tapi ada yang sampai puluhan juta.
Complaint Handling
Pertama kali mendengar istilah "complaint handling system" adalah saat KP di PT Angkasa Pura II Bandara Ahmad Yani, Kota Semarang. Intinya adalah bagaimana sebuah korporasi dapat mengelola keluhan customer-nya. Sepintas simpel, namun untuk urusan kompetisi antar-korporasi, keluhan aeorang customer akan berdampak panjang terhadap nama baik korporasi ini.
Kasus sebuah rumah sakit di Jakarta yang bermasalah terkait pembiayaan dengan seorang pasiennya sudah terlanjur jadi aib yang tersebar di seluruh Indonesia. Media cetak dan elektronik turut andil di dalam "pencemaran" nama baik rumah sakit itu. Siapa yang salah sebenarnya? Kita sudah tahu. Padahal cuma satu lho. Istilahnya prestasi melayani beribu hingga berjuta pasien lainnya seolah tidak dianggap.
Era keterbukaan informasi telah memberi hak berkomentar yang lebih menguntungkan konsumen. Diawali dengan rubrik surat pembaca di berbagai koran, saat itu kita cukup menuliskan ketidakpuasan kita via surat ke redaksi koran. Tapi di sini masih ada filter, bisa jadi isi surat kita diedit, bisa pula surat kita kalah bersaing dengan surat lain, bisa jadi tidak pernah terbit karena subjektivitas redaksi. Walau demikian, eksistensinya sudah jadi momok tersendiri.
Era website yang kontennya diserahkan pada pengguna alias User Generated Content mulai mengubah iklim perilaku masyarakat. Termasuk cara menyampaikan keluhan. Tiap orang bisa menulis di blog tentang opini mereka terhadap produk/jasa tertentu. Konsep ini memudahkan masyarakat menyampaikan namun kemungkinan korporasi mengetahuinya justru mengecil.
Periode social media jadi tonggak yang menengahi kemudahan penyampaian keluhan oleh customer dan proses penyerapan keluhan oleh korporasi. User social media dalam hitungan detik bisa mengetik keluhan mereka dan dalam satuan detik pula seluruh penjuru dunia bisa tahu. Sinyal provider jelek, kasir yang ketus, parkir yang tidak aman adalah contoh cacatnya korporasi yang sangat gampang diumbar.
Korporasi pun mulai menyadari perilaku masyarakat ini. Berbagai akun resmi disediakan untuk berinteraksi dengan customer, khususnya dalam menyerap keluhan mereka. Ada yang sifatnya manual, jadi mereka perlu di-mention agar dapat tahu keluhan customer. Ada pula yang berani menggelontorkan dana lebih untuk memakai sistem informasi lanjutan yang menyediakan olahan data yang lebih matang. Untuk opsi kedua ini korporasi bisa meng-custom informasi apa saja yang benar-benar dibutuhkan.
Bagaimana dengan pemerintah. Harus diakui, pemanfaatannya masih minim. Sangat jarang ditemukan akun social media milik dinas/kementerian yang benar-benar mau menyerap dan menindaklanjuti keluhan yang masuk via akun tersebut.
Saat ini social media mampu menunjukkan perannya sebagai penghubung customer dengan korporasi (dan harusnya pemerintah) dalam hal penyampaian keluhan.
Lebaran dan Berkah Promosi Pariwisata Indonesia
Lebaran memang penuh berkah, bahkan bagi pariwisata Indonesia?
Tidak percaya? Silahkan cek di social media bagaimana ramainya orang-orang memublikasikan aktivitas jalan-jalan mereka, termasuk urusan kuliner, dengan perasaan yang sama, yaitu BANGGA.
Tanyakan juga kepada para orang yang memperoleh rezeki dari ramainya objek wisata saat lebaran.
Perkembangan teknologi, khususnya social media, kini telah membentuk pola promosi pariwisata yang berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu. Sebelum teknologi berkembang, pariwisata sangat mengandalkan media cetak. Brosur, iklan di koran, sampai dengan baligo di terminal merupakan hal yang sangat jamak. Bagi objek wisata yang belum dikenal umum, tentu membutuhkan energi dan biaya promosi yang lebih besar dibandingkan objek wisata yang sudah terkenal seperti Borobudur, Danau Toba, Pulau Bali. Itu untuk urusan objek wisata, pernak-pernik lain seperti kuliner jelas bukan menjadi daya tarik utama sebuah kekhasan objek wisata. Beranjak ke periode berikutnya adalah ketika stasiun televisi semakin beragam, promosi wisata semakin menjadi hal yang jamak dilakukan. Saking rajinnya berpromosi, acara macam Miss Universe dan Miss negara tertentu, dijadikan alibi untuk keperluan promosi. Dalihnya adalah peran si wanita terpilih untuk mengangkat derajat pariwisata di negaranya. Tapi hipotesis ini tidak pernah bisa dibuktikan dengan statistik yang jelas :v Ada pula yang tidak memakai "jasa" miss-miss tadi. Tapi berupa video dengan aktor/aktris pilihan ber-make up, suasana yang diatur sedemikian rupa, yang intinya "pencitraan" #eh #gaadahubungannyaamapemilukok
Era promosi pariwisata saat ini? Ternyata lebih melibatkan para pengguna social media (lebih tepatnya pecandu social media hehee). Berbagai fitur social media saat ini, khususnya upload image menjadi sarana yang menggiurkan untuk berlomba narcis tentang pengalaman pribadi apa yang dijumpai. Pengalaman pribadi yang sering dipromosikan, khususnya pada masa lebaran, ternyata memiliki benang merah, yaitu PROMOSI PARIWISATA DAERAH.
Bagi perantau yang pulang daerah asalnya, tentu akan menjadi suatu kebanggaan ketika menunjukkan identitas daerah asalnya, baik berwujud objek wisata, sajian kuliner, landskap alam, hingga kondisi sosial. Secara individu, hal ini bisa kita sebut sebagai NARCISME, tapi secara kolektif fenomena PROMOSI PARIWISATA dalam skala yang masif dalam suatu periode. Tiap orang seolah berlomba memperlihatkan keunggulan pengalaman yang ditemuinya di dalam perjalanan berlebarannya. Tapi lagi-lagi perlombaan ini ternyata menjadi kesempatan bagi kita untuk mengetahui ada apa saja di daerah sana.
Ya, di era teknologi informasi, eksistensi social media saat ini menjadikan pengguna internet sebagai pemegang arah/trend pariwisata, tak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Orang ramai-ramai berwisata dalam bentuk pendakian gunung, apa penyebabnya? Pertama diawali film 5 cm, tapi itu hanya pintu kecilnya, pintu besarnya? Ya jelas narcisnya para pendaki gunung yang meng-upload foto pemandangan menggiurkan dari atas gunung.
Itu fenomenanya. Ternyata social media benar-benar "pisau", jika ditangani dengan tepat, akan menjadi aset untuk mengangkat popularitas dan menggerakan masyarakat.
Berikutnya tentu pertanyaan yang patut diapungkan "bagaimana berikutnya?"
Kesempatan yang menggiurkan bagi pelaku industri pariwisata dan juga pemerintah untuk menyusun program-program kreatif yang memanfaatkan karakter masyarakat Indonesia yang sangat kecanduan social media. Sebagai perbandingan pemilu yang sebelumnya identik dengan "kekolotan" di tahun ini bisa dikemas dengan kreatif melalui social media.
Bisa jadi di lebaran tahun depan akan ramai kompetisi foto selfie di objek wisata. Ada hashtag terkait pariwisata Indonesia yang menjadi TTWW, pun sangat dimungkinkan.
Pengawetan Masalah Pengawet
Judulnya mungkin agak aneh, tapi begitu memang keadaan yang terjadi di dalam industri kuliner di Indonesia saat ini.
Penggunaan pengawet dalam prose produksi dan distribusi suatu makanan merupakan hal yang (dianggap) lumrah dalam industri kuliner. Tidak perlu bertele-tele menjelaskan segala teori jenis-jenis pengawet, baik yang organik maupun sintesis. Tinggal yang jadi bahan untuk diributkan adalah seberapa bahayanya bahan pengawet yang dipakai.
Isu kesehatan tentu jadi sentra permasalahan bagi kalangan konsumen. Memang, tubuh ini punya penangkal racun pada hati, tapi tidak ada yang bisa memastikan batas kemampuan hati secara inidividu. Singkat kata "ini aman dimakan nggak ya??". Namun di sisi produsen, dan kadang juga distributor, motif pemakaian pengawet tidak berkutat pada urusan kesehatan, tapi motif ekonomi. Ujung-ujungnya ya prinsip ekonomi "maksimalkan pemasukan, MINIMALKAN PENGELUARAN". Tatkala orientasi berbeda dan tidak ada kesadaran untuk peduli, maka kasus keracunan tinggal menanti korban yang berjatuhan saja.
Saya pernah mengobrol dengan seorang lulusan teknik kimia. Beliau memaparkan betapa ngerinya campuran-campuran zat adiktif pada makanan. Secara pribadi pola konsumsi dia berubah drastis sejak memahami kengerian itu. Mi instan, makanan kalengan, hingga minuman soda perlahan jadi pantangan baginya. Jika boleh jujur, pasti akan ada rasa kikuk seandainya kita menanyakan tingkat keamanan sebuah makanan pada pedagangnya. Misal makanannya mengandung sayur, apa kita berani bertanya "ini sayurnya udah dari kapan?". Cuma dijawab kikuk masih untung, bisa jadi malah kena marah lho.
Secara kalkulasi matematis, laba pedagang makanan relatif kecil. Jika mau bersikap tegas pada diri mereka sendiri, seorang pedagang makanan bisa saja hanya menyediakan makanan tanpa bahan pengawet. Singkat kata, segala bahan pokok benar-benar diperoleh hari itu juga dari produsennya. Tapi bicara kalkulasi matematis pula, harga jualnya otomatis akan membumbung tinggi. Apa yang dijajakan otomatis menjadi lebih mahal dan timbul pertanyaan baru "peningkatan kualitas ini apakah menjamin dia bisa mempertahankan (atau bahkan meningkatkan) jumlah penjualan makanannya?". Jika daya beli masyarakat sudah mentok di harga makanan yang berpengawet, ya tentu runyam pula urusannya.
Serba dilematis memang...
Saat ini pun upaya melindungi konsumen masih di area penindakan terhadap distributor/produsen yang dilaporkan ke pihak berwajib alias menanti kasusnya. Yang belum ketahuan? Ya adem ayem jalan terus.
Keinginan untuk melakukan perombakan terhadap kultur penjaminan keamanan dan kesehatan terhadap produk kuliner, khususnya dari sisi pencerdasan produsen dan distributor masih berjalan di tempat.
Jika tidak ada perkembangan signifikan, industri kuliner bisa dituding sebagai pangkal malnutrisi tingkat nasional beberapa dekade mendatang :p
Ada Singapura di MSL dan Ada Malaysia di S.League
Singapura dan Malaysia merupakan dua negara yang memiliki kesamaan histori, yaitu merupakan eks-koloni Inggris di wilayah Asia Tenggara. Bahkan Singapura pun sebelumnya merupakan wilayah Malaysia pasca penjajahan Inggris. Lebih jauh lagi, kedua negara ini di masa lalu sempat menjadi wilayah dari Kekaisaran/Kerajaan Majapahit yang termahsyur itu. Uniknya, hubungan yang saling terkait diantara dua negara ini masih berlanjut dalam urusan kompetisi domestik.
Seperti Indonesia, Malaysia baru menyadari pentingnya kompetisi semi-pro di dekade 1980-an yang kemudian dikonversi menjadi liga profesional. Liga-M meupakan "plat" resmi kompetisi di Malaysia sejak 1993. Sejak 2004, kompetisi ini berganti kulit menjadi Malaysia Super League di kasta tertinggi dan Malaysia Premiere League di bawahnya. Sejak Liga-M digulirkan, Singapura perlahan memiliki andil sebagai salah satu kontestan liga tersebut. Secara perlahan pula, Singapura mampu menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di Liga-M maupun MSL.
Kesuksesan ekspansi ini di tahun 1996 menjadi tonggak berdirinya Singapore League alias S.League sebagai kompetisi mandiri profesional di Singapura. Uniknya kompetisi ini juga sempat memiliki beberapa klub "titipan" dari negara lain, diantaranya Albirex Niigata (Jepang), Harimau Muda B (Malaysia), Duli Pengiran Muda Mahkota (Brunei Darussalam), Sinchi (Tiongkok), Etoile (Prancis), Super Reds (Korea Selatan) Super Afrique FC (imigran asal Afrika). Uniknya Duli Pengiran Muda Mahkota ini merupakan klub asal Brunei Darussalam yang baru masuk di S.League sejak 2009 dan tebak apa berlaga di kompetisi mana mereka sebelumnya? Yups, Malaysia Super League.
Perhatikan pula adanya sebuah klub bernama Harimau Muda B asal Malaysia. Artinya ada klub Malaysia di kompetisi milik Singapura. Dan mari cermati Malaysia Super League pada gelaran ke 2012 dan 2013. Ada klub yang meraih gelar runner up di tahun 2012 dan juara pada 2013-nya. Klub itu bernama LionsXII. Mau tahu klub apa ini? Ternyata ini merupakan sebah klub privat milik Singapura. Wah wah wah, unik juga dua negara ini.
Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Malaysia_Super_League
http://en.wikipedia.org/wiki/S.League
Hyper Quality Time with Family
Ruang Rindu Englishmania
Ceritanya silatirahim k Pak Pri. Kemudian iseng-iseng ambil foto dari sudut gerbangnya.
Jadi inget 3 tahun yang berharga. Selama SMP pada rentang 2002-2005 saya dan sekitar 9 teman saya mengkuti les Bahasa Inggris di sini. Awalnya kecapakan berbahasa Inggris saya sangat jelek, bahkan sekedar membedakan kata 1, kata 2, dan kata 3 pun kepayahan (tahunya kata 1, kata 2, dan kata 3 yang di karate :v). Beruntung kawan-kawan saya mengajak kegiatna mengisi waktu yang in syaa Allah bermanfaat. Kebetulan jadi satu-satunya lagi-lagi di kelompok saya, lainnya itu perempuan >____<. Jadi sering di-bully, diledek, ah macam-macamlah. Tapi itu nggak penting. Yang prioritas tentunya kebersamaan yang penuh memori karena kami satu tujuan, yaitu mengasah kemahiran berbahasa Inggris.
Bisa dibilang, kegiatan 3 tahun itu adalah ruang yang sangat membuka wawasan dalam berbahasa Inggris :)
