Palestine Walk@Bandung

Barokallah Mas Bayu feat Mba Kiki

@gig.research


This is @gig.research . It is a "Nothing to lose" project with knowledge sharing-based
#yukdifollow #gigeconomy #gigworker#crowdsourcing #crowdwork

Tentang Qada dan Qadar

Tidak semua yang menjadi qada dan qadar itu menggembirakan bagi kita secara egoisme (termasuk rezeki, jodoh, dan juga usia). Sikap kita menanggapinya (termasuk porsi ikhtiar maupun tawakal) itulah cerminan iman kita. Pada akhirnya kita harus menyadari dunia ini sekadar permainan yang fana sekaligus ujian menuju akhirat.

Salute for ICACSIS Delegations


Para maestro #bisnisdigital #MTIUI @rossrosalia @heriosusanto @teguhbrillian @ademaulana_ mempresentrasikan hasil penelitiannya di #icacsis2018 bimbingan pak @yudhogs #hanyabisamemandangdarikejauhan

Tipisnya Statistik Kelolosan Indonesia

Pertandingan yang menegangkan, tampaknya hanya laga melawan Malaysia yang lebih deg-degan ketimbang pertandingan ini. Peluang lolos yang kecil ditambah lawan yang relatif berada sekian level di atas Indonesia. Namun, bola itu bundar. Kesempatan untuk lolos akhirnya menghampiri saat kaki Witan Sulaiman berhasil mendorong bola ke gawang UEA sepersekian detik lebih cepat daripada bek mereka. Gol yang sepintas kejadian yang 'kebetulan', tapi bagi saya tidak. Itu adalah buah gercep/gerak cepat merebut bola lawan. Ya, kecepatan dan kelincahan pemain kita menjadi pembeda di pertandingan ini. Meskipun berpostur lebih tinggi dan kokoh, nyatanya para pemain UEA kalah adu lari dengan pemain Indonesia, bahkan beberapa pelanggaran pun terpaksa dilakukan untuk mencegah lesatan pemain Indonesia. Lebih gila lagi, pemain UEA baru benar-benar mengurung permainan Indonesia saat memasuki injury time. Sebelumnya, para pemain Indonesia sesekali mengumbar serangan balik yang merepotkan dan membuat waswas UEA. 

Kenapa Indonesia lolos?
Lantaran UEA (U), Indonesia (I), dan Qatar (Q) sama-sama punya 6 poin maka diadulah hasil pertandingan diantara ketiganya (U-Q 2-1, I-Q 5-6, I-U 1-0). Selisih goal diantara ketiganya sama-sama 0, tapi Q dan I unggul jumlah gol 7 dan 6, sedangkan U cuma 2.
Pelajaran berharga, walau kemarin kalah dari Q namun 5 gol yang dilesakkan jadi penentu di kemudian hari.

Foto dari IG Labbola

Menyibak Cerah dan Derainya Teluk Bayur


Saya mengenal Teluk Bayur hanya sebatas sebagai bagian dari lagu era lama sebagaimana Widuri. Keduanya pun sama-sama tidak pernah saya tahu wujud visualnya seperti apa. Mungkin karena saya lebih menyenangi wisata alam di gunung/bukit daripada pantai. Praktis, ekspedisi ke Ternate sekitar tiga tahun lalu menjadi awal saya menemukan sisi lain eksotika pantai, terutama dari sisi humanioranya.

Teluk Bayur bukan sekadar pantai biasa. Ini adalah pelabuhan yang menjadi titik 'penghubung' para pengembara dan perantau, baik saat mereka pergi maupun kembali. Jelas ada banyak romansa haru yang berlinang di sini. Seiring melonjaknya transaksi tiket pesawat, kini Teluk Bayur kian sepi. Saya pun termasuk yang dua kali masuk ke Provinsi Sumatera Barat lewat pesawat. Walau demikian, saya yakin fungsi Teluk Bayur belum hilang, setidaknya lima hingga delapan dekade mendatang.

Menyusuri Rongga-Rongga Lorong Kampus ITB


Senin lalu, saya berkesempatan 'kembali' ke kampus ITB dalam rangka ICITSI. Ini bukan almamater saya, tapi saya punya banyak kenangan di sana. Tidak lain dan tidak bukan, yaitu menemani istri saya menyelesaikan studi magisternya di STEI ITB. Memang saat itu, istri saya bukan anak kecil lagi, malah kami sudah punya anak kecil yang atraktif nan interaktif. Tapi saat itu masa studinya yang sudah memasuki tahun ketiga, jelas fase yang krusial dimana hampir tiap hari lagu 'Menghitung Hari'-nya mba Krisdayanti kerap berdendang. Program mirip 'wajib militer' pun dijalani istri saya dan juga rekan-rekan sekelasnya, yaitu wajib hadir di lab dari pagi s.d. sore. 'Wajib militer' ini dilengkapi dengan 'wajib lapor' tiap pagi, siang, dan sore ke bagian admin. Etdaah, karyawan saja presensi cuma pagi dan sore hehee. Tujuan sederhana, yaitu mengondisikan mahasiswa agar lebih kondusif menyelesaikan sebuah buku yang dijilid rapi bersampul tebal disertai logo ITB dan tulisan gagah 'TESIS'. 

Perjuangan yang tidak mudah lantaran di waktu yang sama, anak kami baru memasuki usia setahun lebih beberapa hari/bulan. Ibu mana yang tidak bingung ketika harus meninggalkan sejenak putra/putrinya yang masih belia, yang lazimnya dipuas-puaskan bermain. Alhamdulillah Allah mengulurkan bantuan, ibu kami serta kerabat keluarga kami berkenan ikut menjaga anak kami sehingga di siang hari istri bisa menggeber laptop untuk menunaikan amanat tersebut.

Lah, terus saya ngapain di saya? Ikut download Kamen Rider dan Mahabarata kah? Atau mencari tuyul-tuyul digital dalam wujud Pokemon? Tentu saja tidak. Saya ikut ke ITB dalam rangka mengerjakan berbagai proyek [di tahun saya masih bekerja di beberapa proyek jarak jauh]. Dengan ikut mengerjakan di kampus ini, saya bisa memosisikan diri untuk mendukung langsung secara moril istri saya, termasuk ikut mengkritisi penelitian tesis istri saya. Setidaknya, saya jadi mengerti sedikit-sedikit lah apa itu Kragging dan kroni-kroninya hehee.

Lorong ITB sangat khas berupa pilar-pilar besar yang terbuat dari campuran semen dan batu ukuran besar. Sangat khas karena saya belum menemui yang serupa di kampus ini. Melihat kembali bongkahan-bongkahan pilar tersebut saya jadi teringat masa-masa berangkat dan pulang mengantar istri saya. Pada akhirnya, saya juga menemukan inspirasi bahwa kesungguhan merupakan modal berharga untuk mengatasi krisis di masa-masa yang kritis.

@ICTSI2018

Ini judul telenovelanya, "Dosen Pembimbing Tesisku kini Rekan Seangkatan Kuliahku dan Sebimbingan SM-ku"

Barokallah Uni Ika feat Uda Rezki