Menikah sebagai Manifestasi Rukun Iman [6]

Qada dan Qadar...
Dua hal yang paling sukar dicerna karena memang mmm... gimana ya? Keberadaannya sulit dipahami dengan akal sehat yang cuma bersandar pada nalar. Padahal mengimani qada dan qadar lebih dari urusan otak berlogika.

Kita mengenal takdir mubram dan takdir muallaq. Yang satu sifatnya fix dan satunya lagi masih bisa berubah. Contoh yang fix adalah usia dan contoh yang masih bisa berubah sesuai ikhtiar adalah kecerdasan akademik, IPk dll. Bagaimana dengan jodoh? Bagaimana pula dengan masuk surga ataukah neraka?

Ada yang mengelompokkan jodoh sebagai takdir mubram, ini mayoritas. Walau demikian dengan sejumlah argumen, ada pula yang mengelompokkannya ke takdir muallaq.

Terlepas dari klasifikasi itu, ada yang jauh lebih penting, yaitu tentang hak dan kewajiban kita pada Allah terkait qada dan qadar.
Kita punya hak untuk berikhtiar
Namun kita juga punya kewajiban untuk tawakal pada ketetapan-Nya.

Bagaimana dengan perkara menikah?
Kita mulai dari... siapa sih jodoh kita? Si itu kah?
Allah merahasiakan siapa jodoh kita tentu ada nilai positif yang penuh kebaikan.  Sepatutnya kita menyimpan rapat-rapat kegundahan kita dan mengisi waktu dengan ikhtiar. Ikhtiar yang bagaimana?
Jika memang kita mengharapkan pernikahan kita untuk-Nya, maka lakukan dengan cara-Nya. Jangan mau bengong menunggu, pergunakan hak kita dalam berikhtiar sebaik mungkin.
Apakah ikhtiar itu urusan "mencari" dan me ikat lawan jenis?  Itu sama saja mencari muka di air keruh *berasa nggabungin dua peribahasa.

Ikhtiar juga seputar kita memperbaiki diri sendiri. Kenapa kita harus memperbaiki diri sendiri? Tentu bersinggungan dengan komitmen kita mengabdi pada-Nya. Jika kita mengabdi pada-Nya, maka jangan mau berpuas diri dengan keimanan yang hanya baik di versi sendiri.

Kembali malah ke pertanyaan "mau ke surga apa neraka?" yang ternyata terkait dengan urusan menikah, kok bisa?
Menikah tidak hanya untuk hari H, tapi juga investasi akhirat yang ujung-ujungnya pertanyaan untuk diri kita sendiri "mau pernikahan yang mengantarkan ke surga atau neraka?" Begitu pula kita mulai tergelayuti galau tentang kekokohan dalam pernikahan, termasuk rasa was-was tatkala cita-cita keluarga yang sakimah, mawadah, warokhmah tidak terwujud. Kita kembalikan pada "kewajiban" kita tadi, yaitu berikhtiar.

Maka...
Raihlah pernokahan yang menjadi manifestasi iman terhadap qada dan qadar^^

Jangan mau jadi suami, jika...

Pernikahan merupakan momen yang sakral. Mengapa sakral?

Ketika seorang laki-laki menjadi suami dari seorang perempuan, maka laki-laki itu bersedia menjadi bagian dari "pasukan 4", lho apa itu "pasukan 4"? Pasukan 4 bisa dibilang sebagai julukan kepada para kaum adam yang berstatus sebagai orang yang memiliki ikatan keluarga inti dengan seorang perempuan, yaitu ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, dan tentunya suami. Keempat inilah yang memiliki tanggung jawab dunia dan akhirat terhadap bagaimana si perempuan tersebut.

Sebaliknya bagi kaum adam, seorang laki-laki yang belum menikah maka memegang tanggung jawab terhadap ibu dan saudara perempuannya (jika tidak ada saudara perempuan maka hanya ibunya). Nah jika si laki-laki itu menikah maka bertambahlah perempuan yang harus ditanggungjawabinya, yaitu istri, dan terbukalah pula kemungkinan hadirnya anak perempuan, sosok yang akan menjadi perempuan yang wajib ditanggungjawabinya.

Itu bagi dari sepasang aspek, bagaimana dengan aspek lain, keluarga misalnya...

Pernahkah kalian membayangkan betapa dahsyat dua keluarga yang harus disambung silaturahimnya melalui sepasang suami-istri? Kenapa harus kita singgung hal ini? Banyak ayah dan ibu yang merasa "dirampas" anaknya oleh anak orang lain. Si pasangan baru ini merasa terlalu mandiri sehingga silaturahim dengan keluarga "akar"-nya justru tergerus. Atau bahkan kasus rasa di-orangtuatiri-kannya lantaran merasa suami-istri condong ke salah satu keluarga.

Menikah bukan hanya persoalan membawa anak orang untuk diakui sebagai pasangan hidup. Lebih dari itu :) Menikah merupakan pintu awal silaturahim diantara dua keluarga, maka menjadi kewajiban, khususnya bagi suami-istri tersebut untuk aktif menyambung silaturahim. Kabarnya ini bukan perkara mudah lantara membina kerukunan antarbesan sering terkendala gengsi ataupun kompetisi aneh-aneh. Oleh sebab itu, ketika memulai pintu pernikahan, wajib hukumnya untuk menciptakan ide-ide agar kedua belah keluarga bisa saling mengisi, bisa saling memberikan peran, dan tentunya meningkatkan kualitas iman. Dan ngomong-ngomong, peran suami sebagai komandan dalam rumah tangga dituntut untuk mewujudkan hal tersebut.

Menikah juga bukan hanya menjadi suami. Status "hanya suami" insya Allah akan direvisi menjadi "ayah" ketika hadirnya si buah hati. Maka di situlah investasi akhirat dimulai. Anak merupakan investasi yang sangat berharga. Saking berharganya, janganlah laki-laki merasa sok mampu untuk mengerdilkan peran istri dalam mendidiknya. Tidak ada kosakata "bos" di kamus suami-istri, lebih khusus untuk urusan mendidik anak. Maka, jauhkanlah pemikiran untuk memisahkan peran antara laki-laki dengan perempuan untuk urusan mendidik anak, karena yang semestinya dilakukan adalah berbagi peran dan saling mengisi.

Ah, memang betul kata orang, jangan mau jadi suami jika ...
Jika hanya sekedar gengsi
Jika hanya bisa menunggu dan menunggu tanpa pernah mau mengisi waktu untuk menjadi pribadi yang semakin baik dan berkualitas :)

Simple but Awesome Flag

Masih bau kebun pekarangan, ditambah ga punya seragam apa-apa sehingga pakai kaos timnas, plus nyesep di kerumunan warga
Begitu siku dan telapak tangan diangkat membentuk sikap hormat, rasanya syahdu banget.
Bendera yang simpel, tapi ada kekuatan hebat yang membuat bangga untuk trrus membanggakan Bangsa Indonesia ini, rasa itu bernama "cinta tanah air" ;)

Best Jersey 2014/2015


Seluruh gambar bersumber dari footballfashion.org

Arsenal Home
Tidak ada lagi garis lurus kaku di jersey ini. Kesan kekar sangat ditonjolkan.

AC Milan home
Permainan gradasi dari merah ke hitam dan sebaliknya ditampilkan dalam konsep yang perlahan namun sangat tegas dan elegan.  Kesan futuristik juga dapat mudah dicerna dari jersey yang masih menggusung khasnya julukan Rossoneri.

Sevilla Home
Permainan artistik mozaik merah marun dan hitam di atas jersey merah menjadikan keunikan yang elegan. Cerminan khas budaya Mediterania

Granada Home
Aksen biru benar-benar menjadi pemanis di antara kombinasi merah dan putih dan secara halus disajikan gradasinya

Bordeaux Third
Paduan biru dongker, putih gading, dan merah marun yang juga menggabungkan konsep simetri di bagian atas jersey namun asimetri di bawahnya jadi daya tarik tersendiri

Hellas Verona Home
Sederhana, rapi, dan memberi kesan badan lebar yang membuat wibawa pemakainya meningkat

Juventus away
Secara gradasi dan kecerahan tampak ada bintang di dalam bintang pada kaos ini dan pusat dari seluruh bintang itu adalah logo Juventus. Harus diakui permainan warna ini menjadikan kita lebih berpaling ke logo Juventus ketimbang perisai tanda juara bertahan khas Serie A.

Valencia away
Berani mengambil risiko dengan mencomot oranye yang mencolok dipadu biru muda yang juga mencolok. Hanya memakai dua warna itu, termasuk logo dalam versi dua warna tadi. Membuat kita berada di dimensi yang lain

Galatasaray home
Tidak terlalu muluk-muluk bermain warna dan model kerah. Cukup kuning emas dan merah secara horisontal. Untuk urusan aksen, garis-garis tipis merah pada pergantian warna sudah cukup mengambil peran.

Borussia Dortmund home
Agaknya jarang ada klub yang mengambil ide jersey demikian. Sebelah kanan berisi loreng-loreng dua warna yang agak miring, namun di sisi lainnya memakai warna polos. Dari kejauhan konsep unik ini langsung membuat kita mengenali bahwa ini kaos Dortmund, padahal warna serupa juga dipakai banyak klub, hanya saja keberanian Dortmund menjadikan orang banyak mengidentikkan konsep ini dengan klub asal lembah Ruhr tersebut.

Real Madrid third
Warna hitam bukan pertama kalinya dipakai Madrid sebagai kostum away ataupun third. Namun yang mennjadi spesial tentunya sebuah logo naga dalam ukuran "raksasa". Uniknya naga ini tidak secara gamblang dimunculkan, melainkan mempergunakan pilihan warna abu-abu sehingga agak samar dan malah membuat penasaran ornag yang memandanginya. Kesan naga seperti kita tahu merupakan cerminan kekuatan dan tradisi yang tangguh.

Inter Milan home
Selama ini identik dengan warna biru dan hitam secara seimbang. Tapi di musim ini, Inter Milan dicitrakan sebagai klub dengna warna dasar hitam simbol ketenangan dan ketegasan. Warna biru, tampil dalam wujud tipis yang menyiratkan kefektifan dan kejeniusan tersendiri.

Chelsea away
Riangnya garis-garis vertikal dengna ukuran berbeda di bagian bawah jersey menjadikan kita teringat konsep visual irama musik. Pembawaan riang pun tak bisa dilepaskan dari jersey ini walau mengambil warna dasar biru dongker.

Chievo Verona third
Hitam dengan pilihan lengan putih jelas memberi suasana klasik yang santai, namun sebuah garis tebal berwarna biru pada bagian kiri yang bertepikan warna kuning menjadi pemanis yang enak ditonton. Keempat warna itu makin semarak dengan logo klasik warna merah marun. Walau demikian kelima warna itu (yang biasanya bisa dibilang kelewat ramai) justru selaras dan menjadi citra klasik yang sedap dipandang.

CSKA Moskva away
Memberi imaji tentara yang siap bertempur namun masih dalam koridor kalem secara warna. Banyak klub yang gagal mengadopsi motif tentara ke dalam jersey-nya, tapi untuk jersey ini sentuhan yang proporsional mampu diperoleh

Bordeaux away
Sentra kaos ini adalah motif urban yang melatarbelakangi bentuk V yang juga diadaptasi dari logo Bordeaux. Sangat merepresentasikan kota Bordeaux yang memang dikenal dengan nuansa urbannya.

Bayern Muenchen away
Dengan pilihan 5 bagian melintang secara beruntun putih-merah marun-putih-biru toska-putih, ternyat amalah menjadi keunggulan tersendiri di balik kesederhanaannya.

Zenit Petersburg away
Sangat berani mengambil konsep garis diagonal yang kalau diperhatikan terbagi dua, yaitu biru dongker di sisi kanan dan biru muda di sisi kiri. Malah garis ini menjadi ilusi yang membuat kaos (dan pemakainya) memiliki badan yang lebih kekar.

Fiorentina home
Pilihan yang tepat ketika ungu ditautkan dengan emas. Menggusung berbagai aksen lengkungan turut menjadi kaos ini memiliki efek kokoh bagi penggunanya

Torino away
Kontras yang pas antara biru muda dengan merah marun. Siluet Il Toro ditambahkan aksen merah marun di berbagai tepi menjadikan kita bisa langsung tahu ini jersey Torino walau warna utama jersey ini bukan khas warna Torino

Arsenal third
Efek visual jersey yang terpilin dari bawah dengan meramu biru tua dengan biru muda. Garis tipis berwarna hijau muda tampil sebagai pemanis yang melentikkan keanggunan kaos ini.

Itu tadi versi saya, monggo jika berbeda opini :)

Happy Gita-Ilham

Alhamdulillah salah satu saudara saya telah menuntaskan prosesi sakralnya dan kini memasuki jenjang kehidupan baru.

Kawan satu ini merupakan orang kece yang sudah saya kenal sejak TK. Dari TK lanjut SD hingga SMP kita orang satu kelas mulu. Kebetulan pula kami (dan tentunya satu orang lagi bernama Norma Etika) adalah kawan di OSIS, Karate, dan Pramuka. Kami bertiga bersaing dalam berbagai konteks, tapi tentu saya adalah yang paling tertinggal. Di jengjang SMA dan perguruan tinggi kami berbeda lapak hehee. Walau demikian dia merupakan sahabat yang asyik, rendah hati dan banyak memberi saran yg membangun. Kalau mencari teladan orang yang gigih dan konsisten berjuang meraih cita-cita, saya mention dia sebagai sosok teladan itu.


Kindan no Kajitsu

Ringkasnya, aku takut salah berucap, apalagi tergelincir dalam menata niat

Simpelnya, aku lemah dan sudah pasti gampang dijebak permainan tak guna yang orang menyebutnya "asmara anak muda"

Diam agaknya solusi yang paling baik dan membaikan.

Piramida Batu Nisan

Sebuah Tantangan Kemakmuran Masjid
#tulisan ini tidak bermaksud menggurui, tapi sebagai ajakan kepada kaum muslim, khususnya pemuda, dan lebih khusus kepada diri sendiri, untuk mengikatkan hati kepada masjid

Piramida penduduk merupakan sebuah metode penyajian informasi secara grafis mengenai komposisi pendudukan berdasarkan jenis kelamin dan usia. Grafik dibagi dua berdasarkan kategori gender, umumnya laki-laki sebelah kiri pembaca, dan perempuan sebelah kanan pembaca. Kemudian ditampilkan diagram batang dengan isi kelas berupa usia tertentu, bisa pula rentang usia tertentu. Melalui piramida penduduk dapat diketahui secara umum dominasi kategori tertentu dalam suatu populasi. Ada tiga jenis piramadia penduduk secara umum, yaitu piramida segitiga (usia semakin tua jumlahnya semakin sedikit), granat (usia muda dan dewasa  relatif seimbang, namun usia tua lebih sedikit), dan batu nisan (usia tua mendominasi jumlah). Lebih lanjut, melalui piramida penduduk dapat dilakukan sejumlah analisis, misalnya

  • ketersediaan generasi penerus
  • keseimbangan gender
  • kebutuhan stok bahan pangan
  • kebutuhan infrastruktur
  • dll

Paparan di atas merupakan cuplikan tentang piramida penduduk. Sekarang, mari kita aplikasikan konsep itu ke dalam konteks komposisi jamaah dalam sebuah masjid. Bukan hal yang janggal ketika banyak masjid justru didominasi oleh generasi yang usianya relatif tua. Bahkan generasi muda justru "diwakilkan" oleh anak-anak belia. Agak sulit mencari pemuda, baik yang secara akademik masih SMP, SMA/SMK, mahasiswa, bahkan kalangan pekerja. Kondisi yang relatif baik masih ditemui di masjid-masjid yang berbasiskan perguruan tinggi, dimana populasi sekitar memang didominasi oleh kalangan muda usia 17 s.d. 23 tahun. Memang, hingga detik ini belum didapatkan sebuah penelitian yang mendeskripsikan komposisi jamaah suatu masjid dengan sampel yang representatif maupun data kuantitatif yang mendukung validitas argumen tersebut.
Namun, tanpa rincian dari penelitian yang mendalam pun,sulit dipungkiri bahwa keterikatan pemuda terhadap masjid mulai jarang ditemui. Bahkan ketika belakangan muncul fenomena kelangkaan kedelai, bawang merah, hingga BBM, justru kelangkaan segmen pemuda dalam barisan jamaah masjid sudah mewabah.
Saya sendiri berharap hipotesis saya salah.

Ada beberapa faktor yang (boleh jadi) menjadi faktor penghambat keterikatan pemuda pada masjid :
  • Kurangnya pemahaman mengenai manfaat bagi seorang pemuda yang terikat hatinya pada masjid
  • Kesibukan di tempat lain

Dunia sekolah, baik SMP, SMA, SMK, bahkan kuliah, memang menawarkan berbagai bentuk organisasi kepemudaan, ada yang bercorak olah raga, seni, intelektualitas, bahkan bela negara. Ketika berbagai aktivitas tersebut dikemas dengan "bungkus" yang menarik, misalnya daftar prestasi senior, maka tidak dapat dipungkiri akan menghadirkan tantangan bagi pemuda dalam mempertahankan keterikatan mereka pada masjid. Memang, bukan berarti organisasi-organisasi tersebut jelek, namun saat ini masih ada beberapa organisasi yang mengesampingkan kebutuhan rohani dimana konsep hura-hura justru mendominasi, maka semakin berlipatlah tantangan tersebut.
  • Kurangnya peran orang tua sebagai pengarah putra-putra mereka
  • Kurang dilibatkannya pemuda dalam memakmurkan masjid


Masih banyak stigma bahwa pemuda, apalagi yang latar belakang pendidikannya bukan dari sekolah (yang versi sebagian masyarakat) berbasis Islam kurang mempunyai kompetensi untuk mengisi peran dalam memakmurkan masjid. Hal ini tanpa disadari mengerdilkan kepercayaan pemuda untuk berkontribusi terhadap kemakmuran masjid. Pada dasarnya pemuda merupakan fase yang berapi-apinya semangat untuk menampilkan kemampuan dan kapasitas diri. Pada fase pemuda, ada kecenderungan ini menghindarkan diri dari segala bentuk aktivitas yang tidak membutuhkan kemampuan dan kapasistasnya. Banyak pemuda yang justru merasa lebih dihargai dan dibutuhkan di berbagai tempat lain, misalnya kompetisi ilmiah, olah raga, seni dll. Hal itu tidaklah salah karena memang pemuda yang mampu mengoptimalkan kemampuannya tentu menjadi contoh yang baik, hanya saja ketika berbagai aktivitas itu mematikan potensi mereka sebagai "kontributor" kemakmuran masjid tentu akan menjadi "bom waktu", baik bagi mereka maupun masyarakat. Alangkah baiknya ketika pemuda juga diberi kesempatan untuk berperan dalam kemakmuran masjid.

Dengan memberikan peran kepada pemuda dalam memakmurkan masjid, maka secara perlahan pemuda mempunyai kesempatan untuk menyalurkan aspirasi mereka dalam memakmurkan masjid. Pemuda, dengan berbagai kreativitasnya, tentu memiliki ide-ide untuk mengajak pemuda lainnya ikut memakmurkan masjid. Berbagai kegiatan "khas anak muda" (tentunya dalam arti positif) akan mampu diorganisasikan dengna baik ketika dimotori oleh pemuda dengan masjid sebagai pelopornya dan kemakmuran masjid sebagai muaranya, misalnya donor darah, belajar bareng, jalan sehat, training komputer dll.
wallahualam

53 tahun Pramuka

Coba sebutkan apa yang identik dengan pramuka?
Barangkali 3 jawaban yang paling sering disebut adalah "cokelat", "kemping", dan "baris-berbaris". OK sip, usia 53 tahun tentu membuat 3 jawaban tadi melekat di benak kita. Seraam sebagai pembungkusnya, kemping dan baris=baris sebaai agenda wajibnya. Kalau mau ditambah, hmmm, bolehlah kita sertakan SD-SMP, kenapa? Karena Pramuka identik dengan siswa di dua jenjang itu sebagai sebuah ekstrakurikuler yang wajib diikuti. Menarik memang mengupas organisasi yang satu ini. Kenapa?

  1. Pramuka merupakan organisasi formal yang ada seluruh provinsi
  2. Pramuka merupakan salah satu (jika bukan satu-satunya) organisasi kepemudaan dengan usia (paling) panjang dari organisasi kepemudaan lainnya dengan status masih aktif
  3. Pramuka merupakan organisasi yang menyertakan presiden, ubernur, hingga camat sebaai pembinanya
  4. Pramuka memiliki ruan lingkup yang terbentang dari ujung pegunungan hina palun kelautan, dari khasnya suasana pedesaan hingga hiruk pikuk perkotaan.


Seperti yang disingung di paragraf sebelumnya, Pramuka merupakan organisasi yang telah berusia 53 tahun. Usia yan sangat tua. Walau demikian, mengapa namanya tidak menjadi "Praja Tua Karana" ya? Itulah keunikan yang spesial dari organisasi ini.

Pramuka saat ini dituntut untuk mampu dan mau dikemas dengan penuh daya tarik. Mengapa harus menarik? Tak perlu naif, Pramuka butuh generasi penerus dan saat ini para pemuda lebih tertarik dengan hal-hal yang menarik seperti komik, internet, musik dll. Selain itu, pada dasarnya Pramuka itu menarik dan penuh menyenankan, tentunya dalam konteks positif.

Pramuka saat ini dituntut untuk cerdas. Kenapa harus cerdas? Dari Sabang s.d. Merauke, Pramuka memiliki permasalahan yang berbeda-beda. Tak hanya permasalahannya yang berbeda lho ya, potensi dan kapabilitasnya pun berrbeda-beda. Jelas perlu strategi yang matang agar seluruh potensi tersebut dapat dioptimalkan.

Saat ini Pramuka berkembang dengan konsep penuh otonomi. Alhasil tiap daerah berlomba dengan berbagai inovasinya. Ada yang menghentak lewat ajang kreasi musik, ada yang menggalakkan pramuka melek teknologi, ada yang memercayakan Pramuka sebagai ujung tombak tangap bencana, urusan tata kelola pariwisata pun diamanatkan pada pramuka. Ibarat pemain multitalenta, Pramuka menjadi sentra dan lumbung sumber daya yang memiliki potensi di berbagai bidang.

Pramuka saat ini dituntut solutif? Iya gitu? Tenok saja kurikulum 2013 yang mengamanatkan Pramuka sebagai media pengelola kaderisasi dari jenjang SD s.d. SMA/SMK/MA. Logikanya bila ada yang tidak beres dengan output kurikulum 2013, tentu Pramuka akan kena imbasnya. Dalamm sudut pandang positif,

Pramuka memang memiliki infrastruktur organisasi, daya dukung dari pemerintah dan masyarakat, sumber daya manusia, hingga kurikulum yang matang dan teruji lebih dari 5 dekade. Jelas sebuah pertanyaan besar sekaligus persabungan yang besar pula pada nama baik Pramuka dalam memenuhi panggilan untuk tampil sebagai solusi dalam mendidik generasi muda saat ini.

Pramuka menalami ketumpulan pada jenjang perguruan tinggi. Lho kok bisa? Padahal mahasiswa di perguruan tinggi merupakan manusia-manusia yang siap terjun ke dalam masyarakat, bahkan sudah menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri secara aktif. Kenapa malah di periode ini merosot? Eksistensi gugusdepan patut disebut sebaai faktor yang memporak-porandakan estafet dari gugus depan di lingkup SMA/SMK/MA ke perguruan tinggi. Alhasil minimnya SDM pun berdampak pada kreativitas yang terancam dan OK sip keduanya berpadu menjadikan pramuka masih sukar berkembang di lingkup perguruan tinggi.

Masih banyak problematika yang menanti di usia ke-53 ini? Kita perlu merumuskan bersama solusi konkretnya. Walau begitu, jangan menunggu rumusan itu ada baru bergerak. Ayo kita bergerak untuk melestarikan kreativitas khas Gerakan Pramuka.
Selamat menyambut usia ke-53 #HUTGerakanPramuka

Ngebon Kaktus

Multilingual Web Sepakbola

Multilingual merupakan hal yang jamak dijumpai di dalam website yang pengaksesnya berasal dari berbagai negara. Coba akses website seperti UN, World Economy Forum, hingga website korporasi seperti Garuda Indonesia Airways, Sriwijaya Air, dan tentunya tidak mau kalah, yaitu Indonesia Kreatif.

Ada yang menghadirkan opsi pergantian website di halaman yang sama hanya berbeda huruf-huruf di dalamnya. Ada juga yang menyediakan domain berbeda. Masing-masing tentu punya punya analisis tersendiri yang mendasari strategi multilingual mereka.

Nah ngomong-ngomong tentang website dimana pengaksesnya dari berbagai negara, belakangan berbagai klub sepak bola mulai menjangkau sebuah bahasa yang dituturkan oleh sebuah negara dengan populasi yang sangat besar dan menjadikan sepak bola sebagai olah raga paling favorit di negara tersebut (padahal negara ini lebih berprestasi di badminton). Ya, negara yang dimaksud adalah Republik Indonesia dan bahasa yang dimaksud adalah Bahasa Indonesia.

Berdasarkan survey yang penuh kekepoan (dijelaskan pada kalimat berikutnya), trend yang disebutkan di paragraf sebelumnya ternyata memang terbukti. Survey ini mengambil 5 klub pilihan dari 5 liga mayor di Eropa. Kenapa Eropa? Karena saat ini peradaban sepak bola berkiblat ke sana dimana sudah bukan rahasia lagi klub di sana juga turut menjadikan popularitas sebagai orientasi kesuksesannya. Kenapa 5 mayor? Karena La Liga, Premier League, Bundesliga, Serie A, serta Ligue 1 merupakan kompetisi paling wahid berdasarkan koefisien Eropa. Untuk 5 klub pilihan digunakan parameter penguasa 5 besar di 3 musim terakhir.


Ternyata dari 20 klub pilihan berdasarkan survey-survey kepo tersebut, sudah mulai banyak yang menyadari bahwa Indonesia merupakan pangsa popularitas yang sangat potensial, tepatnya ada 7 klub. Jelas bukan angka yang kecil mengingat 7 klub itu sendiri merupakan tim yang memiliki popularitas yang masif. Siapa yang meragukan nama besar Barcelona, Madrid, Manchester City, Chelsea, Liverpool, Juventus, dan Inter Milan? Malahan Madrid dan Juventus merupakan top scorer juara liga domestik masing-masing kompetisinya.

Selain aktivasi offline berupa kunjungan langsung (seperti Juventus beberapa pekan lalu), ada pula aktivasi online yang bertujuan menggaet masyarakat Indonesia. Aktivasi online diwujudkan dalam social media seperti Twitter, Facebook, dan tentunya website yang mengakomodasi Bahasa Indonesia. Berikut cuplikan screenshot dari website-website tersebut.

Website Barcelona versi Indonesia

Website Madrid versi Indonesia

Website Liverpool versi Indonesia

Website Manchester City versi Indonesia

Website Inter Milan versi Indonesia

Apa sisi positifnya? Monggo pembaca ditarik kesimpulan sendiri :) Yang pasti ada berbagai nilai positif yang patut dipetik :)