Provocative Matchday

FC Barcelona versus Athletico Bilbao di Camp Nou
Jelas dari tajuk laga ini sudah bisa dipastikan bahwa Barcelona bakal mengenakan kostum home merah-biru (yang khas kota Barcelona) dan Bilbao mungkin mengenakan away atau boleh home. Dalam beberapa musim belakangan, malah laga tersebut ketika dipentaskan di Camp Nou pun tetap membuat Bilbao memakai jersey home mereka merah-putih (dan celana hitam). Faktor kebanggaan sebagai bagian dari 3 klub paling bersejarah di La Liga agaknya membuat FC Barcelona, Real Madrid, dan Athletico Bilbao ketika berlaga di kandang siapapun bakal tetap memakai jersey home.

Namun pertama kalinya pula dalam sejarah di stadion ini, Barcelona mengenakan jersey away di laga home mereka. Walau demikian, pemilihan jersey away ini sangat mengundang kontroversi, kenapa demikian??

Sumber: dailymail.co.uk


Musim ini Barcelona tetap mempergunakan merah-biru vertikal sebagai warna utama di jersey home-nya, kemudian merah jambu jenis "peachy" sebagai warna away, dan jersey third sendiri berwarna kuning. Tapi yang dipilih Barcelona untuk laga ini justru merah-kuning yang notabene jersey musim lalu. Jelas sebuah opsi yang sangat berisiko mengingat warna itu merupakan "implementasi" dari bendera senyera yang merupakan lambang pergerakan otonomi Catalan terhadap kerjaan Spanyol, bahkan bukan rahasia lagi bertujuan mendirikan negara merdeka lepas dari Spanyol.

Nuansa provokatif makin kental menyaksikan Bilbao yang justru memilih memakai jersey away mereka, yaitu warna hijau. Ada apa dengan Bilbao dan hijau? Sudah bukan rahasia lagi pula bahwa dataran Basque yang berbatasan dengan Prancis juga memiliki kepentingan yang sama dengan eprgerakan di Catalan, yaitu otonomi, bahkan mengarah ke arah kemerdekaan. Silakan pula cari sejarah tentang dua tim yang berstatus (nyaris) negara walau tidak diakui PBB dan FIFA, yaitu tim nasional Catalan dan Basque? Kedua tim ini masing-masing memiliki jersey home berwarna merah-kuning dan hijau. Dan kedua tim ini walau terhitung rival, namun jangna tanyakan solidaritasnya, sangat kompak dan saling mendukung.

Jelas bukan kebetulan jika yang dipertontonkan adalah jersey merah-kuning yang notabene jersey away (tepatnya away musim lalu) oleh Barcelona di kandang mereka sendiri dan jersey hijau hijau oleh Bilbao.

Usut punya usut, memang hal ini dikarenakan memperingati sebuah momen bersejarah di wilayah Catalan pada 11 September sebelumnya. Silakan dicari sendiri ada apa di 11 September itu o_O

Blogger Tricks

Desk Research

Terdapat dua jenis riset berdasarkan proses perolehan datanya, yaitu:

  • Primary research, yaitu riset yang sumber datanya diperoleh dari sumber di lapangan, baik yang bersifat positivist maupun interpretive.
  • Secondary research, yaitu riset yang sumber datanya diperoleh dari pihak lain. Beberapa metode yang menjadi representasi jenis ini antara lain literatur pustaka, publikasi ilmiah, browsing dari internet. Jenis riset inilah yang sering pula disebut sebagai Desk/Library Research.


Secondary research memiliki kunci pada kemampuan peneliti dalam melakukan analisis. Selain itu validitas informasi dan kredibilitas lembaga yang memublikasikannya turut memberi kontribusi kualitas secondary research. Riri Satria mengungkap sebuah analogi unik untuk Secondary Research, yaitu "research (is) above researches". Contoh yang jamak dijumpai di berbagai perguruan tinggi adalah proses generalisasi berbagai riset yang memiliki kemiripan sehingga terdapat pola umum yang berlaku. Generalisasi sajakah? Eiits, setidaknya terdapat tiga konsep


  • Generalisasi, yaitu penarikan model dari berbagai penelitian spesial/unik ke dalam pola universal
  • Korelasi, yaitu penelusuran hubungan antara suatu penelitian dengan penelitian lainnya sehingga ditemukan sebuah pola pengaruh
  • Komparasi, yaitu perbandingan kondisi antara sebuah penelitian dengan penelitian lainnya melalui karakteristik unik

Riset dan Lebih Dekat denganmu

Akhirnya masa-masa itu tiba juga. Eitss, ntar dulu, ini bukan ngomongin tentang romantika anak muda lho ya. Namun tentang upaya seorang butiran debu yang terus mencoba optimis untuk menggaet pendidikan di tingkat magister. Sebuah penelitian menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar dalam rupa karya akhir. Secara struktur kurikulum, pengerjaan karya akhir baru kick-off di semester 4, itu normalnya. Dan berhubung saya menjalani pendidikan dalam kondisi selalu di luar normal, maka saya akan meneruskan tradisi tersebut dalam konteks, bismillah, 3 semester. Padahal kondisi normalnya, semester 2 menentukan peminatan/stream plus topik. Penguatan pemahaman tentang dua hal tersebut dilakukan di semester 3 sehingga semester 4 barulah mulai proses implementasi, analisis, hingga pada akhirnya siap sidang karya akhir. Namun menginat 3 faktor, pertama biaya SPP yang relatif mahal (bagi saya), persiapan menuju sebuah rencana, dan tentunya akselerasi target kembali ke Bandung, maka saya menargetkan 3 semester sebagai durasi kuliah. Overekspektasi? Bukan, ini optimis. Menyiksa diri dan mengurasi waktu? Well, semua saya kembalikan pada Maha Kuat yang juga Memberi Kekuatan.

Hampir tiap hari gulang-guling, baik di kost, kantor, kampus Salemba, kampus Depok, tentu saja dengan teknis yang menyesuaikan kondisi tempat menggalau hahaa..
Beberapa target mulai mengerucut walau masih abstrak juga. Tentu dengan keunggulan dan kekurangan masing-masing. Sebenarnya gejolak dalam menentukan topik ini terkendala di beberapa aspek, diantaranya:
1. Masih belum yakin apakah akan tetap di Probindo Artika Jaya sehingga kecil kemungkinan mengambil studi kasus di Probindo AJ
2. Area yang diidamkan adalah antara software engineering atau data mining, namun sangat secuil dua area itu disinggung di dua semester ini. Palingan dikupas secara minor di SEPM dan DBT.
3. Goal akhirnya ingin menjadi dosen, dan masih sehingga agak condong ke area di nomor 2, namun isu area information system masih terlalu "romantis" untuk dibicarakan :) wah ada kemungkinan "dimutasi" ke FRI donk nantinya? wallahualam
4. KK berdasarkan mata kuliah pilihan dan skripsi tentang SIDE, khususnya COBIT, nah agak ragu nih apa mau "topik lama bersemi kembali" atau "move on" ke bidang lain yang lebih menantang dijelajahi.

Walhasil beberapa alternatif muncul sebagai opsi judul, diantaranya:
- standardisasi SI/TI di perguruan tinggi --> bisa dari human, data, app, dll
- SI/TI sebagai solusi utk ekonomi kreatif
- metode SE di dalam gave development
- SI/TI terkait dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN

Melalui pencarian data pendukung yang berkepanjangan, baik komunikasi intrapersonal (kebiasaan unik saya) dan juga ke beberapa teman kelas, justru sebuah ide mengpaung memancing mata saya yang sedang berenang-renang di tepian lautan riset. Pancaran saya itu justru bersumber dari sebuah perguruan di Selatan kota ini, sebuah perguruan tinggi yang (formasi dahulunya) merupakan tempat saya tumbuh, yaitu Telkom University. Apa yang menarik dari situ? Well, sistem informasi (baik akademik, perkaryawanan, keuangan dll) tentu beragam (hampir mustahil menemukan sistem informasi yang benar-benar identik, toh kondisi manusia dan dinamisnya lingkungan tentu memberi efek perbedaan). Nah ketiga terjadi penggabungan tentu perlu berbagai strategi yang kemudian diimplementasi (baik yang maish sesuai rencana maupun tidak). Nah di situlah potensi riset yang menjadi sasaran saya.

Kebetulan saat mengetik post ini, lagu Juwita-nya Yovie and The Nuno ter-play. So ikuti saya reffain-nya sebagai inspirasi
"Risetku tak sekedar riset yang sesaat... Berikan kesempatan lebih dekatmu...
Risetku tak sekedar riset yang sesaat... Berikan kesempatan lebih dekat denganmu...nanti :) "

Sekarang sih Cenderung Visual

Visual atau audio? Pertanyaan yang agak sulit dijawab kalau ditanya cenderung yang mana kecerdasan saya. Kenapa sulit?

Saya bukan orang yang cerdas-cerdas amat. Sewaktu kelas X IQ sekitar 100, saat kelas XI sempat mencapai angka 140, sebuah fenomena yang masih kurang saya percayai hingga saat ini. Bahkan IPK saya saat S1 lalu hanya tiga koma lebih sedikittt banget, bukannya nggak bersyukur tapi memang saya bukan orang yang memiliki bakat intelejensia di atas rata-rata. Selain itu kalau dituduh cerdas secara visual maka saya jadi inget bahwa menggambar adalah sebuah mata pelajaran yang identik dengan angka 60 karena hampir di setiap tugas menggambar, sejak SD hingga SMP selalu meraih nilai itu. Saat SMA nilainya agak jadi 75 karena memang standar minimum kelulusannya jadi 75 hahaa. Pokoknya saya kalau nggambar, khususnya memainkan paduan pulas dna pensil sangat payah. 11 12 dengan kemampuan saya mengolah audio diri ini. Seni meusik adalah momok saya sejak SD walaupun secara kenyataan saya sangat menggemari musik, lebih khusus karakter vokal Katon KLa, Armand Gigi, Hyde L'arc en Ciel, hingga Ari Lasso dan Pasha Ungu. Tapi urusan menapaktialsi cadasnya suara mereka, walah jauh api dari panggang.

Sempat saya cenderung memiliki kecerdasan audio yang agak lebih karena kerap belajar sambil mendengarkan musik. Selain itu di ekskul Pramuka dan KIR, saya banyak melakukan diskusi personal sehingga dituntut segera mengolah informasi yang masuk melalui telinga alias format audio untuk ditindaklanjuti. Khusus KIR, segala penumpahan ide justru dilakukan di dalam format tulisan rapi dengan balutan ejaan yang (entah kenapa terus?) disempurnakan. Bagaimana dengan kecerdasan visual? Menggambar grafik sering salah, menafsirkan gambar ilustrasi di soal fisika dan biologi juga sering salah, mmmm, maklum aktivis remidi :) Bahkan di kelas XII, tugas Gambar Teknik membuat saya puyeng tak karuan. Ide ada namun implementasi melempem wkwkwk. Itu juga alasan saya tidak jadi melanjutkan pendaftaran online di sebuah jurusan teknik bangunan yang bakal sering ngegambar.

Namun kondisi justru berbeda saat saya kuliah S1. Karakter introvert saya mencapai klimaksnya. Jauh dari lingkungan keluarga serta teman-teman yang selama ini kerap asyik diajak suka dan duka. Boleh jadi di situ karakter kecerdasan audio saya mengalami penurunan. Walau demikian kesensitivan saya atas apa yang diutarakan orang masih kuat hahaa. Sebaliknya di S1, banyak kondisi yang menuntuk saya berpikir secara runut dan fokus sehingga perlu mempersiapkan ide secara matang melalui mind-map yang digambarkan secara visual. Begitu pula konten perkuliahan yang sarat dengan gambar-gambar penuh nilai filosofi, mulai dari Entity Relationship Diagram, Context Diagram, Use Case beserta komplotan UML-nya, Gannt Chart, hingga ranah-ranah implementatif macam TOGAF, Zachman dll. Sehingga kebiasaan menggambar yang sifatnya mengedepankan esensial, bukan artistik, mulai terbangun.

Bagaimana dengan dunia kerja serta lingkungan S2? Kurang lebih ekosistemnya seperti di S1? Ya iyalah jobdesc dan jurusan masih mirip dengan disiplin ilmu di Indonesia
Dan lambat laun, tiap kali ingin mengutarakan berbagai pendapat, ide, rencana, hingga hal-hal yang konseptual maupun teknis maka kerap saya gambarkan terlebih dahulu dalam desain visual. Bagi saya sendiri, kecerdasan audio ataukah visual itu bukan hal yang tidak usah dilebih-lebihkan. Yang paling utama tentunya kecerdasan untuk saling memahami. Tentu sangat tidak relevan menolak opini orang yang berbeda karakter visual ataukah audionya. Akan lebih memang ketika kita bisa mengetahui kecenderungan yang mana pada lawan biacara ktia sehingga bisa saling memahami kreativitas yang ingin diutarakan.

Poris van Java

Saya punya sayap, sayap itu merupakan sirit yang "kasat mata" dan melayangkan saya ke langit penuh optimisme. Dan thaukah kau kawan apa yang kumaksud dengan "sayap" itu? Kesederhanaan dan memesonanya silaturahim. Dan beruntungnya saya karena Allah memberi saya kesempatan mengenal orang-orang hebat yang sangat menghargai persahabtan dan senantiasa melestarikan silaturahim yang telah terbina itu.

Terima kasih Mas Esa dan Mba Aas yang udah mengajak untuk silaturahim ke rumah Mas Bayu Lesmana dan Mba Hezti Wiranata. Sebuah kesempatan yang spesial karena memang bagi saya kespesialan sebuah persahabatan itu kerap terjadi ketika seseorang sudah membukakan pintu rumahnya. Bahkan walau ada orang tipikal tertutup tingkat akut, ketika dia sudah mempersilakan orang lain berkunjung maka itu ada lah undangan spesial yang menunjukkan komitmen dia dalam bersilaturahim.

Terima kasih pula Mas Bayu Lesmana dan Mba Hezti Wiranata atas jamuannya. Tak lupa aku kirimkan doa agar diberi kemudahan, kekuatan, serta barokah pada saat nanti proses kelahiran putri pertamanya :)

Flood Color

Lagi ketagihan game ini...
Simpelnya itu lho yang saya demen...

It's about Dashboard

Berawal dari proses riset mengenai pengembangan Dashboard sebuah Portal yang sedang tim saya kembangkan maka saya menemukan beberapa panduan baik yang bersifat teknis maupun konseptual terkait desain visual dahboard di sebuah sistem informasi (pada tataran aplikasi).

Secara konseptual, perumusan dashboard perlu memperhatikan hal-hal berikut:
Latar belakang
Apa yang menjadikan dashboard perlu ada. Apa benar harus ada? Kalau iya, apakah akan "lebih" memudahkan user?

Profil pengguna
Di dalam sebuah websit etentu ada berbagai jenis pengguna, mulai dari visitor, pemilik akun, kontributor, editor, adminsitrator, hingga executive management. Nah masing-masing jelas punya otoritas dan kebutuhan informasi yang berbeda-beda. Nah, perlu ada modifikasi tampilan serta keamanan agar dashboard bagi masing-masing level tadi dapat sesuai kebutuhan

Ruang lingkup
Apa saja yang ingin di tampilkan? Reporting/KPI sajakah? Fitur apa sajakah? Archiving-nya perlu nggak? Kompilasi link dibutuhin kagak?

Dashboard != Portal
Jangan sampai konten di dalam Dashboard malah nyaingi Portal. Jika yang terjadi adalah ambiguitas konten, mending bikin aja Portal yang akan memunculkan fitur tertentu bagi yang sudah login tanpa memakai dashboard. Beres tuh. Artinya pahami apa bedanya, bedanya apa? Monggo di-searching dan dipahami dengan melihat berbagai aplikasi yang banyak kita jumpai di dunia maya :)

Dashboard pada WordPress.org

Dasboard pada aplikasi cPanel

Dashboard pada Google Analytics (konsep dashboard favorit saya)


Sementara itu, terkait hal-hal yang bersifat teknis, berikut beberapa panduannya, semoga bermanfaat:
Keep it Simple
Alasannya sederhana. Dashboard merupakan gerbang masuk yang intensitas penggunaannya relatif tinggi dibandingkan halaman lainnya. Artinya kesan pertama sekaligus doktrin kenyamanan website akan melekat erat dari bagaimana desain dashboard dibuat. Tidak perlu muluk-muluk dalam menumpahkan berbagai desain secara jor-joran. Tujuan utama dashboard adalah sebagai "kotak" yang berisi "catatan" apa saja yang bisa diperbuat dan dimiliki oleh pengguna di dalam aplikasi ini. Maka fokus kepada tujuannya dan sampaikan melalui desain visual yang sederhana dan langsung menuju ke fokus utama "catatan" tadi. Bandingkanlah website-website yang ternama seperti Google Analytics, MailChimp dll yang sangat memanfaatkan white space sebagai taktik untuk membuat user lebih nyaman mencerna informasi. Desain keduanya pun tidak muluk-muluk dan pemakaian animasi hanya seperlunya. So, fokus pada bagaimana informasi bisa dicerna tanpa berlebih-lebihan dalam menayangkannya.

Permainan Tab
Dengan keterbatasan yang dimiliki oleh layar beserta keterbatatas mata kita menerima informasi yang disajikan, maka kita perlu membagi informasi ke dalam dua bagian yaitu active serta inactive. Pembagian ini bukan cuma nambahin "in" doank lho ya... Maksudnya tentukan mana yang bakal langsung muncul ketika pengguna masuk dan mana yang disembunyikan dulu dan baru muncul ketika user memintanya, yang pertama itulah active dan yang kedua adalah inactive. Pergunakan strategi tab untuk memudahkan user memilih mana yang active dan mana yang inactive. Tab dapat berwujud susunan vertikal maupun horisontal. Lakukan analisis berupa pengelompokan fungsionalitas ke dalam tab-tab yang sesuai serta rencanakan tampilan visual yang membuat user dapat menggunakannya dengan baik. Definisi baik meliputi:
-Tahu isi dari masing-masing tab apa walau belum pernah memakainya
-Bisa membedakan mana yang statusnya active, inactive, plus hover-nya

Penayangan Informasi
Ada banyak hal yang bisa dimuat di dalam dashboard, tapi sekali lagi dashboard bukanlah kamus lengkap yang memiliki semua yang diperlukan. Pilih kebutuhan masing-masing user, pahami karakter masing-masing jenis user dalam mencerna informasi, kemudian pilih jenis visualisasi yang cocok. Salah satu yang sering dimunculkan di dalam dashboard adalah pertumbuhan statistik. Dalam kasus tertentu, line chart akan lebih cocok dipergunakan, namun apabila informasi yang disampaikan adalah komposisi konten ataupun distribusi informasi maka jenis pie chart ataupun map chart justru lebih cocok. Dan jangan lupa warna dengan segala permainannya (tebal, kontras, hingga porsinya) akan memegang peranan terkait kenyamanan user.

Sesuai Brand
Sebuah website yang baik pastinya dan harus memiliki pola desain yang sudah standar. Proses standardisasi ini biasanya tertuang di dalam GSM (graphic standard manual) yang berisi panduan bagaimana desain-desain khas dari organisasi tersebut. Kalau tidak memiliki GSM, sebaiknya segera buat standar desain visual yang berlaku di dalam website dengant ujuan agar ada spirit yang kokoh ketika website ini akan terus dikembangkan fungsionalitasnya, misalnya bagaimana button warna dan ukurannya, bagaimana font-nya dll. Pergunakanlah standar tersebut di dalam mengembangkan desain visual pada Dashboard yang akan dibuat.

Dapat Dikembangkan untuk Masa Depan
Aplikasi website merupakan komoditas yang akan terus berkembang. Itu adalah persyaratan website yang baik menurut saya, kenapa? Penggunanya saja terus berkembang maka ada tuntutan untuk ikut berkembang sesuai kebutuhan manusianya selaku pengguna. Selalu ada potensi untuk memunculkan fitur baru ataupun parameter baru yang perlu ditampilkan di dalam dashboard. Maka rancanglah dashborad yang memungkinkan penambahan informasi yang bisa ditayangkan. Jelas suatu blunder kita penambahan sedikit informasi saja mengharuskan pembuatan dashbaord dari awal.

Pertimbangkan Versi Mobile
Era mobile phone, dari kosan, dari KRL, dari pelabuhan kita bisa masuk ke Dashboard. Artinya perlu diperhatikan rancangna desain visual yang cocok untuk dashboard pada versi mobile. Ini berarti kita memperhitungkan pula prioritas informasi, resolusi tiap objek dll.

Referensi: 

  1. support.gooddata.com, Design Tips for Best in Class Dashboards
  2. geckoboard.com, Designing and Building Great Dashboards - 6 Golden Rules to Successful Dashboard Design - Data Dashboards for Businesses
  3. designrope.com, 15 Inspirational Dashboard UI Designs

Policy Research, Ngopo Kuwi??

Kuliah yang impresif dan interaktif plus menarik dari Pak Riri Satria dalam kemasan Research Methodology and Scientific Writing. Kebetulan pekan kedua ini mengupas tentang Policy Research. 
Kenapa saya sebut emnarik karena ada beberapa hal yang membuat saya langsung terkilasbalikkan atas berbagai memori era skripsi di IT Telkom.

Policy Research, kira-kira diterjemahkannya riset kebijakan atau kebijakan risetnya? Sepanjang awal pengantar kuliah saya hanya bengong memikirkan terjemahan yang tepat. Beruntungnya momen saya terngantuk tidak sempat terpantau beliau (atau mungkin dia sadar namun tidak enak untuk menegur saya saking kasihan pada saya :( ) Oh ya, policy research diterjemahkan sebagai "riset kebijakan", maksudnya penelitian yang bertujuan menghasilkan rumusan strategi yang berkaitan dengan kebijakan, baik menginisiasi maupun mengevaluasi.

Oleh Pak Riri sendiri, disebutkan sebuah definisi singkat berupa "Research that aimed to create alternatives for decision making" serta definisi output berupa alternatif untuk pengembangan, baik organisasi maupun publik) Dengan demikian, ada dua jenis policy research, yaitu Policy making yang bertujuan menghasilkan produk kebijakan yang lebih baik, serta Policy analysis yang bertujuan menguji apakah kebijakan yang sudah ada bekerja sebagai rencana awal atau tidak.

Beliau mengutarakan tentang dua mazhab mayoritas tentang riset:
Pertama adalah Positivist Research, poin-poin utamanya:
  • Bersifat eksakta dimana data kerap direpresentasikan dengan konsep statistik
  • Proses prediksi data didasarkan pada data masa lalu dengan kondisi statis (tidak ada campur tangan pengubahan oleh manusia)
  • Menempatkan objek nyata sebagai data sehingga "wajib" dapat diamati


Kedua adalah Interpretive Research, poin-poin utamanya
  • Bersifat non-ekstakta (iki piye maksude yo? aku nambahi dewe' keto'e :v), ya intinya banyak informasi yang bersifat deskriptif
  • Kondisi dinamis sangat mempengaruhi prediksi masa depan
  • Menempatkan gagasan atau ide manusia sebagai data yang patut dikumpulkan dengan karakter kualitatifnya.

Contoh simpelnya dapat disimak ketika kita menebak skor pertandingan di sebuah liga. Sebuah tim yang di seluruh pertandingan sebelumnya tidak pernah menang maka tidak dapat diprediksi menang berdasarkan positivist research. Nah, kalau interpretive research maka kemenangan sangat mungkin terjadi berdasarkan strategi yang dipersiapkan oleh pelatih.

Kembali ngomongin Policy Research...
Dimanakah letaknya riset di dalam pembuatan sebuah kebijakan?

Sumber: Riri Satria, 2014

Di dalam perkualiahan dijelaskan tiga "step" di dalam pembuatan kebijakan umum, yaitu Policy research, Policy design, dan Finalize the policy. Ketiganya memiliki spesifikasi tahapan sebagai berikut.



Secara umum, riset perlu dilakukan sepanjang pembuatan kebijakan. Walau demikian apabila penelitian yang dilakukan berkaitan dengan perancangan  rencana strategis, maka riset akan banyak ditekankan pada ranah pertama alias Step 1, yaitu Policy Research. Mengenai langkah "taktik" agar perencanaan strategis tersebut mampu diterima oleh stakeholder serta realistis diterapkan dan ditetapkan melalui kebijakan formal, akan dimodifikasi agar itu dipersiapkan di Step 1 tersebut.

Oh ya, terkait riset, ada secuil kisi-kisi penelitian yang baik, apa saja hayo??

  • Theoritically/Conceptual Accepted, artinya ada dasar/kerangka pemikiran yang jelas dan berlogika serta tidak mengada-ada alias khayalan semata.
  • Politically Accepted, maksudnya riset ini merupakan payung untuk  kepentingan banyak pihak dan diterima oleh sebagian besar pihak yang terkait.
  • Legally (regulation) Accepted,  yakni sesuai dengan aturan hukum yang lebih tinggi dan tidak bertentangan dengan aturan hukum lainnya

10 Kiat yang Ciat Ciatt Ciattt

Disarikan dari kajianislam.net karya Abdullah Hadrami, 18 November 2012 :)

1. Mempergauli istri dengan cara yang ma’ruf (baik)
Allah berfirman, artinya, “Dan bergaullah dengan mereka(para istri) dengan baik.” (QS. an-Nisa’: 19).
Ibnu Katsir berkata, “Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagaimana kalian suka jika istri kalian bertingkah laku demikian.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir).

2. Memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal yang baik
Allah berfirman, artinya, “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara ma’ruf.” (QS. al-Baqarah: 233).

Dalam firman-Nya yang lain, artinya, “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. ath-Thalaq: 7).
Rasulullah shallallohu ‘laihi wasallam bersabda, ketika haji wada’,

“Bertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. (sampai perkataan beliau) Kewajiban kalian kepada istri kalian adalah memberi mereka nafkah dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.” (HR. Muslim no. 1218).

3. Mengajari istri ilmu agama
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Qs. at-Tahrim: 6).

‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah mengatakan, “Ajarilah adab dan agama kepada mereka.”
Ibnu ‘Abbas berkata, “Lakukanlah ketaatan kepada Allah dan hati-hatilah dengan maksiat. Perintahkanlah keluargamu untuk mengingat Allah (berdzikir), niscaya Allah akan menyelamatkan kalian dari jilatan neraka.”
Adh-Dhahak dan Maqatil berkata,“Kewajiban bagi seorang muslim adalah mengajari keluarganya, termasuk kerabat, budak laki-laki atau perempuannya perkara wajib yang Allah perintahkan dan larangan yang Allah larang.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir).

Mungkin Anda bertanya, “Bagaimana jika kita tidak bisa mendidik istri, karena kita sendiri kurang dalam hal agama?”
Jawab, hendaklah Anda memperbaiki diri. Berusaha untuk mempelajari Islam lebih dalam sehingga Anda bisa memperingatkan dan mendidik istri. Jika tidak bisa, hendaklah mengajaknya datang ke majelis ilmu sebagaimana Anda pun demikian. Atau, cara lain yang dapat meningkatkan keberagamaan Anda dan istri lebih baik dari sebelumnya.

4. Meluangkan waktu untuk bercanda dengan istri tercinta
Inilah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad sebagaimana yang diceritakan oleh istri beliau, ‘Aisyah, Ia pernah bersama Nabi dalam safar(bepergian). ‘Aisyah lantas berlomba lari bersama beliau. ‘Aisyah berkata, Akupun mengalahkan beliau. Tatkala aku sudah bertambah gemuk, aku berlomba lari lagi bersama Rasul, namun kala itu beliau mengalahkanku. Lantas beliau bersabda, “Ini balasan untuk kekalahanku dahulu.” (HR. Abu Daud no. 2578).

5. Mengajak istri dan anak untuk rajin beribadah
Allah berfirman, artinya, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” ( QS. Thaha : 132).
Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Dan pukullah mereka jika telah berumur 10 tahun.” (HR. Abu Daud, no. 495).

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya lalu si istri mengerjakan shalat. Bila istrinya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah istrinya…” (HR. Abu Daud, no. 1450).

6. Melihat sisi positif istri Anda
Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika sang suami tidak menyukai suatu akhlak pada sang istri, maka hendaklah ia melihat sisi lain yang ia ridhai.” (HR. Muslim, no. 1469).

7. Jangan memukul wajah istri dan jangan pula menjelek-jelekkannya
Mu’awiyah al Qusyairi, pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah bersabda,
“Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan jangan engkau memukul wajah, dan jangan pula menjelek-jelekkannya serta jangan pula mendiamkannya(dalam rangka nasihat) selain di rumah.” (HR. Abu Daud, no. 2142).

8. Jangan meng-hajr (pisah ranjang dalam rangka mendidik) selain di dalam rumah
Allah berfirman, artinya, “Dan hajr-lah (pisahkanlah mereka) di tempat tidur mereka.”(Qs. an-Nisa: 34).
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di mengatakan bahwa maknanya adalah tidak satu ranjang dengannya dan tidak berhubungan intim dengan istri sampai ia sadar dari kesalahannya (Taisir al-Karimir Rahman, ibn Sa’di).

9. Membenahi Kesalahan Istri dengan Baik
“Dan berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan, karena sesungguhnya dia diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok adalah tulang rusuk yang paling atas, jika kamu berusaha untuk meluruskannya, niscaya akan patah, jika kamu membiarkannya, niscaya tetap bengkok, maka berwasiatlah terhadap wanita dengan kebaikan.” (HR. Muslim, no.3720).

10. Memberikan nafkah batin
Inilah salah satu pelajaran dari hadits Abu Darda’ berikut ini.
Nabi mempersaudarakan Salman dan Abu Darda’. Suatu saat Salman mengunjungi –saudaranya- Abu Darda’. Ketika itu Salman melihat Ummu Darda’, dalam keadaan tidak gembira. Salman pun berkata kepada Ummu Darda’, “Kenapa keadaanmu seperti ini?” “Saudaramu, Abu Darda’, seakan-akan ia tidak lagi mempedulikan dunia”, jawab wanita tersebut. Ketika Abu Darda` tiba, dia membuatkan makanan untuk Salman lalu berkata, “Makanlah karena aku sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan hingga kamu ikut makan.” Akhirnya Abu Darda’ pun makan.

Ketika tiba waktu malam, Abu Darda’ beranjak untuk melaksanakan shalat namun Salman berkata kepadanya, ‘Tidurlah.’ Abu Darda` pun tidur, tidak berapa lama kemudian dia beranjak untuk mengerjakan shalat, namun Salman tetap berkata, ‘Tidurlah.’ Akhirnya dia tidur. Ketika di akhir malam, Salman berkata kepadanya, ‘Sekarang bangunlah,’ Abu Juhaifah berkata, ‘Keduanya pun bangun dan melaksanakan shalat, setelah itu Salman berkata, ‘Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak, dan badanmu memiliki hak, istrimu memiliki hak atas dirimu, maka berikanlah hak setiap yang memiliki hak.’” Selang beberapa saat Nabi datang, lalu hal itu diberitahukan kepada beliau, Nabi bersabda, “Salman benar.” (HR. al-Bukhari, no. 968).

Eh Lilinnya Bagus

Betul juga kalimat "sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang sholehah". Kenapa? Well, karena saya belum menikah jadi ini opini yang berdasarkan kajian teoritis, istilah desk research.

"Loe punya perhiasan nggak? Kalo iya, bisa ngasih apa perhiasan loe?" Agaknya analogi tadi terlalu lugu. Tapi jujur saja harta perhiasan yang kita punya hanya menjadi simbol kekuatan ekonomi dunia kita saja. Namun bagaimana dengan istri yang sholehah? Silakan dijawab :)

"Kemana kita musti menjaga perhiasan kita?" saking berharganya perhasan, kita menyimpannya di brankas. Namun intinya justru mmbuat kita tidak tenang memilikinya. Justru waktu kita habis mengurusi perhiasan yang sekedar benda. Istri yang sholehah? Jelas berbeda. Dia adalah makhlul hidup yang dipercayakan kepada kita untuk menjaganya dan dia pun diberi kepercayaan oleh-Nya untuk menjaga kita. Saling jaga..saling asah...asih...asuh