Langit Legam

Langit legam
Tanpa bintang temaram
Duka dan suka sama saja dinginnya
Terbedakan hangatnya dalam kalbu

Langit legam
Awan pun enggan berloncatan
Tampak malu 'tuk menyapaku
Hingga bergulirnya mengerek pagi

Damai ... syahdu aku sendiri
Tiada ampun mengobati senyap ini
Semilir ... ketentraman saraf

Jadi pengikat asa di jembatan sana
Menghunuskan syair sajak kerinduan
Tentang dinamika romansa hikayatku

Blogger Tricks

Berlembar Kisah Non-fiksi

"eh mas, K-nya KIR itu Kelompok atau Karya ya?" Itu pertanyaan paling sulit untuk disepakati jawabannya, karena emang dari jaman ber-romusha mengerjakan karya tulis di komputer SMA hingga kini di laptop masing-masing terus ada perdebatan itu. OK sip, aku ora arep ndebat perkara kui. Hanya sekedar menulsi bebas san lepas (khas gue banget nih :p) tentang sebuah ekstrakurikuler yang punya kespesialan tersendiri (ya sebenarnya Pramuka dan Karate juga punya kespesialannya juga lho). Singkat kata ada beberapa faktor yang menjadikan ekskul inni punya "space" tersendiri di sini (nunjuk ke jantung).

  1. Ekskul apa yang bikin saya pulang dari Slawi jam 9 malem? Cuma KIR lho. FYI: kalau Pramuka pasti langsung gelar tenda, bukan pulang malem-malem malah
  2. Ekskul apa yang bikin saya lembur ampe nginep di rumah pembinanya? Cuma KIR lho.
  3. Ekskul apa yang bikin saya ikut lomba tapi nggak pernah pulang bawa piala? Ya KIR doank.
  4. Ekskul apa yang bikin saya merasakan getirnya Bandung Bondowoso? Ya KIR doank. Beri saya satu malam, akan saya selesaikan karya tulis ini... Dan pada akhirnya di sore hari esoknya baru mau ke tukang penjilidan. Nanti ada cerita khusus di bawah tentang hal ini wkwkwk
  5. Ekskul apa yang bikin saya diledek "udah bisa naik motor?" Ya cuma KIR *kalau di Pramuka cuma ada pilihan "lari" atau "jalan kaki" :/
  6. Ekskul apa yang bikin saya nulis nama orang di lembar persembahan ? Mmmm, langsung skip ke nomer 7 aja lah ya *dan kalau Bu Narni baca ini pasti langsung bilang "oh si itu ya" =____=
  7. Ekskul apa yang bikin saya akhirnya mau belajar nulis ilmiah? Tentu saja KIR donk. Namanya juga KIR, masa bikinnya isu ama gosip
  8. Ekskul apa yang bikin saya mau beratem ama penjahit? Ya KIR doank *mana jas kebanggaan kita nih??

Hahaa, 8 poin yang masih terlalu dangkal untuk menjelaskan betapa KIR memiliki histori yang spesial.

Bergabungnya saya di ekskul ini tak lepas dari kepenasaranan yang hasrat *beuh berat nih bahasanya* untuk mengikuti lomba, suatu hal yang tidak pernah saya gapai di bangku SD dan SMP *maklum siswa medioker :/* Katanya sih KIR sering ikut lomba dan meraih predikat juara. Ya siapa sih nggak tergiur, tapi apa saya bisa ya? Ya daripada bengong sepulang sekolah dan ikutan genk-genk kayak di CrowsHero maka akhirnya saya mendaftarkan diri. Sempat minder dengan senior-senior yang dari tampang saja udah punya aura yang bikin grogi, yaitu Mas Firman (tampangnya itu intelek banget), Mas Agung (senior yang sukses meng-genoside kelas saya saat MOS), Mba Siti Amaliya, Mas Hiang (konon maestro fisika di SMA), Mba Ari Prihartini (sosok paling menggelegar dalam urusan debat, hampir satu angkatan ucma bisa diem saat beliau bicara di GMB III), Mba Yani Sanwaty, aduh banyaklah pokoknya. Eh eh eh, ko isinya anak Imersi ya? Jangan-jangan yang boleh ikutan KIR cuma anak imersi. Ternyata nggak karena banyak juga kok pendaftar yang bukan anak Imersi. FYI pendaftarnya itu ampe membludak, bahkan ketika pengumuman pembagian kelompok untuk pelantikan, itu mencapai satu setengah HVS, banyak banget kan (info: di SMA 1 Slawi, kertas A4 masih jarang saat itu). Dan tebak di hari H pelantikan ada berapa orang? Kurang dari 25 orang?

Gubrakkk eduunn ini ketat banget seleksi alamnya.

Yaps, KIR memang dikenal sebagai ekstra yang menganut sistem seleksi alam yang sangat ketat. Beruntung memang ada rekan-rekan kecee banget yang membuat saya termotivasi untuk "mengintil" alias mengikuti jejak mereka. Mereka berwujud Norma Etika FA, Dewi Agita P, Noorlita Anitami, Dian Dwi A, M Alvian Z, Albert Andika, Rani Fery A, Aveny Septi A, Eka Fitri A, Ika (aduh lalu jeneng lengkapmu sopo yo?). Semangat mereka, terkhusus dua nama paling awal itu masya Allah sangat keren banget.
Setahun pertama di KIR tidak banyak yang saya lakukan selain ikut pelantikan, dlongap-dlongop liat pengumuman senior dapet prestasi ini itu. Maklum saat itu masih cupu (ya padahal ampe lulus juga terus-terusan cupu). Eh nggak tahu kenapa di awal semester 3 malah ditunjuk jadi ketua panitia rekruitasi dan pelantikan. Di sini saja sudah mulai terasa bahwa kaderisasi merupakan hal yang sangat sulit dibangun. Memikirkan konsep sudah menguras separuh otak lebih, dan masih pula harus memberesi segala persoalan administratif terkait pelantikan. Many thanx for kawan-kawan panitia :)

Menjelang akhir tahun 2006, suksesi kepengurusan dimulai. Nah pemilihan ketua KIR sendiri bernuansa deja vu ketika ada dua nama bersaing (tapi nggak pake anarki ataupun demo ke MK lho y). Kenapa deja vu? Ya iyalah, 2 orang di tahun 2003 pemilihan ketua OSIS SMPN 1 Margasari kembali berkompetisi. Dan akhirnya terpilihlah Norma yeyyyyy Deja vu masih kentara ketika saya diajak menjadi wakil dengan alasan yang nggak pernah saya tanyain (dan males juga nanya :p). Penyusunan program kerja mulai agak menggoncang manajemen waktu mengingat ada amanat juga di OSIS sebagai koor sekbida paling "berisik", yaitu sekbid 5 *langsung nabuh kentongan* plus kerani putra (kerani putra paling di-bully sepanjang sejarah). Beruntungnya Norma selaku ketua KIR, Arief Adityo selaku pradana putra, dan bos Aditya Setiaji selaku ketua OSIS bisa memahami hal itu. Kepengurusan ini sendiri tidak terlalu gemuk, sangat ramping karena memang banyak personelnya yang tersedot ke amanat lain.

Nah, ini nih yang paling jebreddd jika bicara KIR, yaitu pengalaman membuat karya tulis.

Project pertama dimulai di sebuah event berupa kompetisi ide kreatif menangkas rokok yang diadakan oleh BEM FK UGM. Kompetisi ini pengumpulannya sekitar akhir November 2006 dimana oleh Bu Narni (pembina KIR) di-plot-kan satu kelompok dengan Mba Ari Prihartini dan Norma. Sebelumnya saya hanya tahu dan kenal dengan Mba Ari tapi nggak pernah banyak ngobrol. Hingga akhirnya project nulis inilah kami bertiga mulai menanggalkan kecanggungan. Ternyata keren banget Mba Ari. Walau dalam suasana lelah, selalu mengerahkan kemampuan bicara yang 200%. Tak hanya itu, dia tidak sombong sebagaimana diisukan ornag-orang. Dia sosok yang humble (humble kuwi opo??) dan sangat terbuka terhadap masukan orang lain.

Komposisi yang sebenarnya sangat meminderkan saya, tapi karena cowo masa minder sih hahaa. Beruntungnya kami bertiga saling melengkapi. Norma memiliki kemampuan konseptual yang yoii banget, Mba Ari memiliki daya jelajah orasi yang luas dan mampu mengkritisi ide secara kolektif, dan saya memiliki kemampuan administratif yang agak unggul hehee. Ternyata ada 4 tim dari Smansawi yang lolos ke final. Eduun, gokil tingkat dewa nggak sih? Namun apa daya, kami bertiga bertangan hampa sepulang dari Yogyakarta. Event yang dihelat 17 Desember 2006 itu ternyata menyingkap rasa pantang menyerah yang berharga banget di masa-masa berikutnya.

Project kedua hingga satu proyek sebelum proyek terakhir cukup beragam dan penuh liku-liku. Mulai dari yang hanya mencapai komentar diplomatis "event-nya bagus tapi lagi sibuk ey", ada pula yang mulai terpkirkan berhari-hari dilanjut diskusi namun nggak bisa move on statusnya dari "wacana", hingga yang menempatkan penulisnya menuju kondisi "nyaris menang". Yups, etaa pisan ieu, saya banget tuh tiga kondisi tersebut. Mulai dari mana ya? Seingetnya lah ya..

Topik transportasi menghentak karena bukan hal yang dibincangkan tiap hari sebagaimana topik lingkungan, kesehatan, dan pendidikan. Penyelenggaranya dari Astra dan tingkat nasional. Kebetulan ada tiga orang yang ikut dari KIR Smansawi, yaitu saya, Dewi, dan Norma. Kebersamaan bertiga dalam urusan bahu-membahu tidak perlu didetailkan, selain sebaya sehingga tidak canggung untuk saling meminta maupun memberi pertolongan, kondisi senasib alias masih kelabakan hingga dateline menjadikannya memori keren. Namun apa daya hanya Dewi dan Norma yang sukses diboyong ke Jakarta dan saya tidak hehee. Peringkat 4 yang diraih Norma keren bangetlah. Eh bentar kok saya mulai ragu, itu Dewi Agita ikut nggak ya yang lomba Astra? Ko jadi bingung ya? Ah tahulah..udah malem males memulai lagi mikirlah, lanjut sajalah ya. maaf ya Dewi kalau ternyata nggak ikut, setidaknya sempat terkesan keren lho udah masuk final.

Topik pembangunan juga sempat jadi ajang pemenuhan hasrat penasaran yang ternyata masih belum menemui hasil positif. Kandas di penyisihan dan tidak memperoleh undangan final. Mungkin karena kurang akrab ama Allah :)

Oh ya, project kolaborasi juga pernah terjadi antara Pramuka dengan KIR, tepatnya di TKPP GSKB V. Kebetulan ada dua anak Pramuka yang juga ikut KIR, yaitu saya dan Rani. Nah cocok nih buat ikut lomba karya tulis aplikatif yang merupakan cabang lomba di TKPP kali ini. Walau secara hitung-hitungan tidak bisa diklaim sebagai prestasi KIR, Bu Narni tidak menolak untuk membimbing kami berdua. Banyak masukan berharga yang turut mempermatang persiapan, khususnya dalam menyikapi kejelasan konsep.

Yang lumayan terkenang spesial tentu dua project menulis yang terakhir kali saya ikuti. Yang satu tentang teknologi lokal dari Undip dan satunya lagi tentang statistik dari BPS. Teknologi lokal, jujur saya nge-blank ketika diundang Bu Narni ke perpus untuk brainstorming-nya. Selain bureng karena topiknya yang berat, saat itu habis berantem dengan orang-ornag di OSIS. Dan saking buremnya H-2 pengumpulan belum ada selembar pun draft-nya. Sungguh pembandel yang patut diapresiasi dengan jeweran hahaa. Saat itu kebetulan ada Dewi juga yang ikut kompetisi ini. Langsunglah tanpa basa-basi, saya dan Dewi (yang juga belum selembar pun draft-nya, namun jauh lebih tidak bureng) dipertanyakan keseriusannya :/ Lantaran masih yakin untuk ikut, akhirnya kami pun diwajibkan romusha menyelesaikan karya tulis yang benar-benar saya sendiri tidak percaya bisa diselesaikan di menit-menit akhir. Sebulan berselang akhirnya muncullah undangan final *alhamdulillah akhirnya mengakhiri paceklik final :p) bagi saya dan juga Dewi. Langsunglah digeber pembuatan file dan teknik presentasi. Kesungguhan secara konkret, itu jadi pelajaran berharga yang membuat saya banyak merenung sebagai pembeda antara orang yang sukses dengan yang secara sengaja menghindari kesuksesan. Ekspedisi ke Undip benar-benar membuat saya bersyukur bisa menemukan pelajaran tersebut. Bahkan peringkat 5 pun tidak membuat saya berkecil hati, eh peringkat 5 apa 6? Pokoknya persis satu peringkat di bawah Dewi. Juara satu di kompetisi itu membahas Zeolit, sebuah zat kimia yang baru kali itu saya dengar o_O

Dan kompetisi pamungkas yang saya ikuti adalah penyisihan Olimpiade Statistik yang berupa project riset statistika. Di sini ada 2 pelajaran spesial yang nanti saya sebutkan gamblang. Di kompetisi ini selain saya, ada pula Dewi dan Norma, dua sosok yang bisa disebut sebagai top scorer partisipasi dalam kompetisi hehee. Kompetisi ini sendiri sangat berharga bagi saya kala itu, kenapa? 5 besarnya cukup mengikuti tes kesehatan untuk bisa berkuliah di STIS, sebuah perguruan tinggi yang saya idamkan, boleh jadi hal itu berlaku pula bagi Norma dan Dewi. Karena itulah, kami benar-benar totalitas di situ. Bahkan saya yang biasanya agak lelat lelet mengumpulkan data mendadak rela bergerilya, berburu, dan mengais data ke berbagai narasumber.

Motivasi saat itu bulat, yaitu sebagai cara masuk ke STIS (padahal kalau mau masuk STIS tinggal naik angkot 16 jurusan Ps. Minggu - Kp. Melayu). Kami bertiga benar-benar dalam tekanan yang yoii bangetlah kenapa? Kembali ke nomor 4 dari 8 nomor yang saya sebutkan di atas. Besoknya itu dateline pengumulan karya, saat itu masih memakai pengumpulan hardcopy, belum melalui email yang lazim dipakai saat ini. "Sekali lagi batas pengumpulannya itu besok", kurang lebih begitulah peringatan keras dari Bu Narni saat H-1 kisaran Maghrib. Tidak ada pilihan lain selain mengiyakan, tidak ada pula opsi untuk berdebat. Kalau boleh jujur, tidak ada opsi untuk mundur, kenapa? Simpel saja alasannya, karena kondisi saat itu benar-benar riweh sehingga walau sifatnya individu namun jika ada satu orang mundur maka konsentrasi 2 lainnya bakal amburadul dan terancam menggagalkan semuanya ikut kompetisi ini. Jam terus berputar hingga akhirnya adzan Ashar di hari H, ya di hari H. Dan tebak ada dimana saat itu? Baru memutuskan untuk mengakhiri penulisan dan ikhlas terhadap penilaian tulisan yang harus dikirim saat itu juga.

Jam 5 sore jadi saksi tiga buah karya kami masing-masing selesai dijilid. Bagaimana dengan pengumpulan? Kantor pos Slawi jelas bukan opsi yang tepat karena sudah tutup, jasa kurir belum ada dan opsi terakhir adalah mendatangi kantor pos Kota Tegal yang termasuk skala besar layanannya. Karena transportasi umum ke sana tidak ada, maka diputuskanlah cukup saya saja yang menuju ke kantor pos Kota Tegal, pertimbangannya jelas, kondisi fisik saya yang masih on, Norma dan Dewi tepar. Sesampainya di Kota Tegal kurang lebih 20.30, kantor sudah tutup. Berbekal cerita dari mba Yani bahwa jika kantor pos tutup, coba lewat belakang dan ceritakan urgensinya, kemungkinan besar akan dibantu. Tapi... petugas dengan wajah penuh simpati hanya bisa memperlihatkan urangan besar kantor itu yang sudah tidak ada orang.

Akhirnya saya pun kembali dengan penuh penyesalan dan pengandaian. Andai saja kami lebih siap jauh-jauh hari..andai saja...ah sudahlah.

Pandangan kosong itu pun sepakat kami konversi menjadi optimisme ketika rencana baru disiapkan. Tetap mengirim di esok harinya dengan sikap nothing to lose plus konfirmasi permasalahan sebenarnya yang kami hadapi. Dari bahasa panitianya saat kami telpon untuk konfirmasi sih agak diplomatis, tapi sekali lagi tidak ada yang perlu diratapi karena yang kami lakukan adalah buah perilaku kami sendiri di masa lalu. Ikhtiar dan tawakal, itulah pelajaran pertama di kompetisi ini.

Pelajaran kedua? Tentunya terkait muara hasil penyisihan yang menyisakan nama saya seorang sebagai peserta yang tidak lolos dari kami bertiga. Norma dan Dewi lolos, bahkan menduduki peringkat pertama dan ketiga di final alias tiket masuk ke STIS digapai. Honestly, itu adalah masa terberat selama ada di SMA 1 Slawi, apalagi untuk mencegah adanya rasa dengki, owh meeen sungguh berat menjaga hati ini. Tapi sekali lagi, Allah punya rencana terhebat yang sering kita keluhkan dengan rasa sok tahu. Ternyata Allah mengganjar saya beberapa bulan kemudian dengan tiket ke S1 Teknik Informatika IT Telkom. Sebuah pilihan program studi/jurusan serta perguruan tinggi yang sangat tepat dan tidak saya sesali. Boleh dibilang ketidaklolosan saya adalah kemenangan dalam kekalahan. Mungkin saya lebih sakit hati jika lolos ke final tapi tidak masuk  besar, ya kali aja lah yaa hahaa.

Akhirnya, ya akhirnya...besok saya harus kerja, sudah kebayang berbagai tumpukan agenda menanti. Sungguh memang saya tidak menyesali masuk KIR. kalaupun ada rasa sesal, mungkin itu terkait ketidakseriusan dalam menulis di berbagai project yang saya ikuti maupun tidak jadi saya ikuti. Tapi sekali lagi boleh jadi itu cara Allah menumbuhan dini dengna menyesali sikap kita di masa lalu dan berjanji memperbaikinya :)

Pas HbH tahun berapa y? kalau nggak 2010 ya 2011

Sekali lagi...terima kasih kepada seluruh ciptaan-Nya yang dikirimkan melalui KIR Scientist SMA Negeri 1 Slawi :)

Jika Aku Boleh Melirik Wisuda

Jumat sore, akhirnya kesempatan untuk "kabur" dari segala penatnya Studio Indonesia Kreatif pun tiba. Antara nggak tahu mau kemana, iseng, dan juga salah baca agenda, saya menuju ke kampus UI area Depok. Lho kok rame banget, ada apa gerangan?

Oalah, ternyata ada wisuda. Ya daripada langsung balik coba deh ngeliatin yang lagi wisuda. Eitsss, bukan nyari cewe lho y...bisa dilempar badik+mandau+rencong+kujang+keris satu lusin kalo ampe ada motif begituan wkwkwk. Simpel saja alasan untuk nimbrung di tengah keramaian, tentunya dengan wajah sok ada agenda di situ hahaa.

Wisuda, bagi saya selalu ada kenangan yang spesial.
Dulu saya saat tahun pertama s.d. tahun keempat tiap kali ada wisuda selalu berupaya ikut nimbrung karena ada orang yang ditunggu, mulai dari kakak kelas macam Bang Bil, Kang Hilman, Kang Fachrie, Mas Ucup, dll (saking banyaknya kakak kelas yang inspiratif. Begitu pula dengan rekan-rekan seangkatan yang saat tahun 2012 sudah berhasil mengenakan toga, baju aneh yang diidamkan banyak mahasiswa. Namun di penghujung 2013 pula saya bulatkan tekat hanya untuk sidang, lulus yudisium sidang akademik, dapet ijazah lewat BAA, udah cukup begitu saja. Wisuda? Nggak lah, sudah tidak berharap wisuda karena memang tidak merasa perlunya selebrasi yang spesial. Hingga akhirnya di hari-hari akhir pendaftaran, ibu saya mengetahui bahwa saya masih belum daftar. Karena nggak enak untuk menolak akhirnya saya pun turuti keinginan beliau untuk wisuda, nyerah juga akhirnya saya hahaa.

Lebih dari sekedar prosesinya, saya menilai ada yang spesial dalam hal efek wisuda bagi orang di sekitarnya. Mungkin itulah mengapa di IT Telkom (s/k Universitas Telkom) wisuda sering diadakan di hari Sabtu dimana lusa harinya adalah Senin hari pertama UTS/UAS, barangkali sebagai motivasi bagi para peserta UTS/UAS agar segera menjadi peserta wisuda.

Bahkan, tanpa sepengetahuan rekan-rekan saya, ada yang spesial di wallpaper laptop saya di semester 9. Sebuah poster yang memang saya buat spesial isinya. Gambar  di dalamnya lebih menjetak saya ketimbang tulisan-tulisan rencana "deadline" riset saya di skripsi tersebut. Gambar itu merupakan kompilasi beberapa rekan akrab saya yang diimpun dengan kostum toga dari berbagai berguruan tinggi, antara lain Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang, Universitas Negeri Semarang, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Sebelas Maret, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Politeknik Kesehatan Bhamada, dan tentunya Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Kenapa tidak ada Institut Teknologi Telkom? Alasannya sederhana. Di kampus yang saya sebutkan tadi, lulus di semester 9 ke atas bukan hal yang lazim, sebuah kondisi yang agak berbalik dimana di IT Telkom lulus di semester 9 s.d. 11 masih diwajarkan. Selain itu, proporsi gambarnya nanti jadi agak ramai. Malah nggak fokus ama jadwalnya malah :para

Dan kembali ke paragraf paling awal di artikel ini. Menyaksikan para wisudawan beserta orang tuanya (yang tentu tidak saya kenal) hahaa) memberi energi khusus bagi saya untuk segera mengakhiri petualangan di MTI dengan manis, barokah, dan membahagiakan orang-orang yang patut saya bahagiakan (termasuk saya sendiri donk tentunya hehee).



Baju dasar hitam khas wisudawan dengan selimut kuning di bagian pundak dan separuh badan khas Universitas Indonesia serta sepasang warna berupa pita merah-bitu melekat di tepi selimut  itu sebagai khasnya Fakultas Ilmu Komputer hingga dua helai pita dengan kombinasi warna sesuai fakultas sebagai pertanda 'magister'. Sungguh busana aneh kedua yang semoga bisa jadi kado tahun depan.

Untuk orang tuaku
(mungkin pula) Untuk orang yang sudi mendampingi dan juga orang tuanya
Dan juga kepada dua saudara terhebatku yang terus memberi inspirasi

Rearansemen AdArt

Beuh akhirnya kembali menyantap diskusi serius berwujud AD ART. Kali ini di organisasi yang sudah bersedia "menampung" saya di tahun 2014 ini, yaitu FUKI. Baru kali ini saya mengikuti agenda pembahasan AD ART di organisasi yang berstatus LD, bukan UKM, himpunan ataupun KBM maupun organisasi kepanduan. Ada dimensi berbeda yang membuat say harus beradaptasi dengan frekuensi yang didengungkan di agenda ini.

Oh ya, ada yang unik seputar AD ART FUKI, yaitu satu-satunya organisasi di IKM Fasilkom yang memiliki AD/ART tersendiri padahal BSO lain plus BEM dan DPM tidak karena AD ART IKM sudah dianggap cukup. Namun dibandingkan LDF-LDF lainnya, justru kondisinya mereka sudah memiliki AD/ART tersendiri.

Tentu ada plus minusnya organisasi jika memiliki ataupun tidak memiliki AD ART. Semua bergantung pada kebutuhan masa kini serta bagaimana organisasi tersebut akan dikembangkan di masa depan. AD ART sendiri banyak mengupas sistem kepemerintahan dan keanggotan di sebuah organisasi serta hirarki produk hukum yang berfungsi sebagai regulator terhadap ketahanan organisasi dalam menyiasati berbagai problema yang sudah pasti bakal bermunculan.

Khusus di FUKI ini, akan disahkan AD/ART-nya di event Rekursif 13 September 2014 mendatang. Semoga bisa menghasilkan masa depan yang makin barokah dengan AD ART ini. Aamiiiin

Cieee Yang Makan Es Krim Bareng

Cinta itu patut ditanamkan antara kakak kelas dengan adik kelas. Karena pada dasarbya kita ingin almamater ini semakin baik dan orang-orang di dalamnya punya karakter yang baik pula.
Memesona juga cara ini
Semacam talkshow yang menggusung suasana riang dan asyikny ukhuwah.
Es krim hanya sarana untuk mengawali keakraban diantara muslim di sini

Games dulu
Pas ngariung sambil santap eskrim malah lupa difoto hahaa

Fight Forever or Flight Forever

Yeeyy, 5 gol, not bad lah untuk pemain medioker macam saya di PAJ hehee, setidaknya jadi memori tersendiri. Jika ada invitasi futsal lagi maka sampai jumpa akhir Desember nanti (kecuali tiba-tiba saya sudah tidak di sini lagi). Ok, sekarang masuk ke inti topik artikel kali ini yang jangan tanya korelasinya dengan judul, itu mah iseng wae terlintas mendadak untuk menamai artikel ini. Jadi ceritanya mendadak ada kawan ngajak share tentang (bahasa kerennya) membagi waktu antara kuliah dengan kerja. Wah sebenarnya saya bukan orang yang layak memberikan petuah bijak karena saya sendiri hanya butiran debu dalam urusan membagi waktu. Manajemen waktu saya masih kacau untuk dijadikan teladan. Maka yang nanti saya utarakan anggap saja sebagai reminder yang orang yang sempat menemui beberapa trouble dan belajar untuk memperbaiki, moga-moga pembaca bisa belajar untuk lebih dini agar bisa meraih pengalaman yang lebih baik aamiiin...

Kita mulai dari apa ya? Karena diajaknya mengupas menyandingkan kuliah dengan kerja maka kita awali dengan abstraksi, #ceileh... Maksudnya abstraksi di sini kurang lebih berisi niat dalam mengikuti dua hal tersebut. Wah kalau masih disambi dengan ikutan organisasi artinya ada 3 (bahkan lebih) hal yang musti diurusi, sebagai catatan, masih ada tanggung jawab sebagai anak dari orang tua atau bahkan pula orang tua dari anak-anak. Buat daftar (akan lebih baik jika dituliskan) mengenai latar belakang dan tujuan secara umum yang melandasi kerja, kuliah dll.

Misalnya kita punya target kerja sebagai penyambung hidup mencari nafkah, termasuk menambal biaya kuliah (seandainya belum meraih rezeki beasiswa), maka motif bekerja sudah barang tentu urusan "nominal", ya nggak sih? Jika motifnya karena nominal maka jangna terlalu ngeyel dengan bidang kerja, fokuslah pada "salary" yang dicapai di tiap bulannya (pastinya halal lho ya..). Lain cerita jika bekerja sebagai media untuk mulai menerapkan ilmu. Untuk kasus demikian maka utamakan bekerja yang nyambung dengan bidang kuliah, urusan nominal jadi prioritas kesekian. Artinya jika makin banyak yang ingin dikejar maka makin banyak pula aspek yang perlu dipertimbangkan. Pandai-pandailah mengatur prioritas.

Misalnya juga disambi berorganisasi. Pikirkan pula kenapa ikutan organisasi tersebut dan apa sih yang diharapkan dari organisasi tersebut. Apalagi jika menginjak program magister, timbang matang-matang apakah organisasi itu diikuti karena passion ataukah ada tujuan lain.

Ada tipikal orang tertentu yang terbiasa menuliskan target, jika pembaca termasuk yang demikian, jangan malu-malu menggoreskan pena atau mengetikkan dengan penuh keyakinan apa target yang diharapkan. Ini akan jadi alat ukur yang membedakan apakah kita di masa depan nanti menjadi orang yang kita sendiri harapkan atau tidak :)

Nah udah kayak gimana abstraksinya?
Jika sudah, selamat Kawan :) satu langkah fundamental insya Allah lebih terang. 
Jika belum, coba renungkan lagi dengan terus berintrospeksi diri, sepahit-pahitnya alasan berkuliah (apalagi magister) adalah ikut-ikutan.

Selanjutnya kita bincangkan yang terkait urusan teknis. Yang beginian ini sifatnya relatif, maksudnya di beberapa karakter orang sesuai, di beberapa karakter lainnya perlu modifikasi. It's OK, manusia memiliki spesialisasi yang menjadi daya tarik dalam mengelola waktu.

Cari Pendengar dan Pemberi Masukan
Carilah seseorang/beberapa orang yang mampu menjadi pendengar kita maupun pemberi masukan terhadap kita dalam kaitannya kerja, kuliah, dan keluarga (dan atau mungkin kolaborasi organisasi). Saat mengisi waktu berhari-hari dengan kuliah, kerja dll tentu ada banyak berbagai problema. Sebagai manusia sosial, kita perlu orang lain yang sukarela mendengarkan keluh kesah kita. Jangan terlalu banyak mengempet stress, apalagi malah ngeluarin boneka ama jarum #wadawww. Pastikan pula orang tersebut bisa memberi masukan serta peringatan ketika kita mulai kacau dalam membagi waktu.

Cari Koalisi di Masing-Masing Lapak
Udah lah, nggak usah sok hebat, kuliah itu nggak semua tugasnya individu yang harus plek sendirian ngerjain, kerjaan di kantor juga nggak semuanya harus dikerjakan sendirian kan? Carilah kawan yang bisa berkolaborasi untuk sama-sama mengerjakan amanat di masing-masing lapak. Kalaupun memang tugas yang dikerjakan masing-masing berbeda jauh maka carilah kawan yang bisa mengingatkan dengan cara yang baik-baik dalam memenuhi tugas tersebut. Jangan sampai di kampus nggak punya temen sehingga kita nggak tahu ada tugas apa dan dateline-nya kapan. Begitu pula di tempat kerja, carilah orang yang siap nagihin tugas-tugas kantor ataupun bareng-bareng mengerjakan. Kendur di kemudian hari itu wajar, itulah gunanya teman yang membuat kita walnya serba nggak enak untuk melalaikan tugas, tapi ujung-ujungnya kita bisa memenuhi amanat dengna tanggung jawab

Takar dan Penuhi Kebutuhan Nutrisi
Kebutuhan gizi orang yang cuma anteng di depan laptop 9 jam dengan orang yang ber-coding di depan laptop 8 jam lalu dilanjut naik angkot dan KRL bolak-balik 2 jam plus mendengerkan dengan seksama orang memaparkan slide tentu jauhhh berbeda. Nah kalau tahu berbeda ya jangan segan-segang untuk mulai berpikir ilmiah untuk menakar kebutuhan gizinya berapa dan bagaimana makanan yang dikonsumsi bisa memenuhinya, sekali lagi berpikir ilmiah, bukan mengawang-awang.

Buat Jadwal
Akan sangat berbeda isi dari 24 jamnya mahasiswa, 24 jamnya karyawan serta 24 jamnya karyawan yang sambil kuliah, apalagi 24 jamnya karyawan yang sudah berkeluarga dan sedang kuliah. Durasinya sama 24 jam masing-masing, yaitu 24 x 60 menit alias ada 1440 menit dalam sehari, tapi list to do-nya jelas jauhh berbeda. Atur jadwal dengan penuh kematangan. Pertimbangkan pula hal-hal yang sepele seperti nunggu angkot, kemungkinan tidur siang, waktu nyuci, hingga jam tidur malam.

Catat Agenda-Agenda Baru yang Bermunculan
Teorinya sih gampang dalam menulis jadwal. Tapi apa iya segampang itu? Weitsss, coba diinget-inget, dalam sebulan terakhir ada agenda mendadak apa saja hayoo? Dateng ke undangan si ini, dateng ke walimahan si itu, jalan-jalan ke sana, walah sibuknya udah nyaingi presiden aja nih. Nah itu tuh, agenda-agenda non-rutin yang bermunculan harus segera dicatat. Kenapa harus dicatat, macam anak kecil aja. Justru anak kecil itu kalau ada agenda baru cuma diya-iyain nggak jelas kenyataannya. Coba cek tuh artis-artis yang manajemennya udah matang, pasti jelas hari ini jam segini ngapain. Yuk belajar menepati amanat, termasuk janji ini janji itu :)

Siapkan Sabtu dan Minggu sebagai Mmmm...
Lazimnya orang bekerja di hari Senin s.d. Jumat. Namun ada pula mahasiswa yang berkuliah di Senin s.d. Jumat, tapiiii ada juga yang di Sabtu dan Minggu. Untuk jenis mahasiswa yang pertama bila disambi dengan kerja maka kuliahnya dilaksanakan di sore/malam hari. Walau demikian, ada kesamaan dari keduanya, yaitu mahasiswa yang sambil kerja kerap memakai hari Sabtu dan Minggu untuk mengerjakan tugas kuliah yang beuhhh udah macam romusha =_____= Mereka berasumsi bahwa Sabtu dan Minggu itu avaible. Maka (re)prepare your weekend :/

Rajin Introspeksi dan Memperbaiki Diri
Yang namanya teori, seperti diungkapkan tadi, gampang direncakan tapi sukar diterapkan. Nahh eta pisan ieu... Kita harus sering introspeksi diri dalam urusan pembagian waktu kita. Memang betul niat kita mengerjakan sesuatu itu baiknya untuk Allah semata, bukan mengharapkan pujian orang, tapi jangan naif pula bahwa jika ketika seenaknya (dan mengatasnamakan tagline 'cukup Allah yang menilai) berperilaku maka orang lain akan terganggu sehingga apa yang kita lakukan, baik di tempat kerja maupun kuliah akan berantakan secara perlahan. Memperbaiki diri juga artinya kita harus cerdas berpikir hal-hal apa saja yang sudah sesuai rencana maupun kekurangan yang perlu dibenahi.

Jangan Mengemis Belas Kasihan tapi Jangan juga Buta Risiko
Untuk dua frase terakhir ini tidak banyak yang perlu diungkapkan, intinya jangan seenaknya mangkir dari amanat lantaran suatu kesibukan di suatu tempat namun jangan pula seenaknya diri menelantarkan amanat lainnya tanpa menimbang risiko yang mungkin terjadi. Berterus teranglah tentang kapasitas diri dan komunikasikan dengan baik mengenai sanggup tidaknya kita dalam manajemen waktu.

Beri Aura Positif tentang Manfaat Kuliahmu bagi Tempat Kerja
Percaya atau tidak, ada sikap sensitif di tempat kerja jika ada karyawannya yang melanjutkan studi, memang tidak semua tempat kerja, namun di beberapa curcol kawan saya, hal itu sempat terjadi. Penyebabnya simpel, yaitu terkait beban kerja yang dianggap jadi berkurang, potensi minta gaji naik jika sudah lulus, serta potensi hengkang jika sudah lulus. Opini ini di luar kendali kita karena itu urusan kepala dan hati orang lain yang tidak bisa kita campuri. Fokus saja pada memenuhi list to do serta menjaga komunikasi secara baik-baik. Dan tak lupa beri aura positif tentang manfaat berkuliah terhadap tempat kerja. Misalnya, kembangkan pola pikir sistematis dan ilmiah dalam pengambilan keputusan, peningkatan kematangan proyek dll.

Wokey,,,
Semoga tidak puas dengan saran-saran tadi sehingga mau terus dan terus mencari trik-trik membagi waktu yang bijaksana.
Oh ya, jika ada masukan, monggo kita diskusikan :)

Apa Kabar Arsitektur Masjid

Secara umum ketertarikan orang ke masjid ada yang bersumber dari diri manusia itu sendiri, ada pula yang bersumber dari masjid. Ketertarikan yang bersumber dari masjid terbagi berbagai hal yang secara garis besar bisa dibagi menjadi dua, yaitu kegiatan yang memakmurkan masjid tersebut, serta keindahan arsitektur. Kali ini ingin saya membahas dua kata terakhir pada kalimat sebelumnya, ya "keindahan arsitektur".

Mengapa masjid harus memiliki arsitektur yang indah? Bukankah itu cuma urusan "kosmetik" alias bungkus atau kemasan ataupun hal-hal yang sifatnya formalitas. Memang betul keindahan arsitektur (sepintas hanya) berkaitan dengan urusan mata. Namun jangan salah, ada dimensi yang lebih luas yang ikut berperan menjadikan masjid memiliki daya tarik yang bermuara pada keaktifan di dalamnya. Waduh jangna-jangan ke masjidnya cuma buat narcis doank nggak ada kekhusyukan sama sekali? Eitss, nanti dulu, hayuk kita obrolkan.

Allah itu pecinta keindahan sehingga kita patut memperlakukan masjid sebagai rumah ibadah-Nya dengan spesial. Masjid memiliki fungsi sebagai tempat ibadah yang disucikan. Tentunya kita patut memperlakukannya dengan cara penuh keindahan. Tidak banyak yang perlu dipanjanglebarkan untuk menjelaskan hal pertama ini :)

Walau demikian, Allah juga tidak menghendaki bermegah-megahan, termasuk pula berlebih-lebihan.
Karena itulah kita perlu memahami batas-batas kewajaran dalam berkreativitas untuk urusan mempercantik masjid. Salah satu hal yang paling sering diabaikan adalah masjid yang justru menjadi proyek mercusuar dan adu reputasi antar-daerah. Hal demikian agak keliru (apa malah keliru banget ya? wallahualam). Sebagus apapun arsitektur masjid jangan sampai menjadikan bangunan masjid terlampau megah, bahkan hunian-huanian warga sekitarnya masih bernuansa kekurangan, kenapa? Justru mengindikasikan ketidakmampuan masjid memakmurkan masyarakat sekitarnya. Jangan pula membangun masjid yang bertujuan untuk adu gengsi ataupun ajang pembuktian bahwa daerah ini tidak mau kalah dengan daerah lain, dari niat seperti ini saja sudah tentu berbeda dengan definisi "berlomba dalam kebaikan". "Berlomba dalam kebaikan" muaranya adalah mengharap ridho Illahi, sedangkan adu gengsi membangun masjid orientasinya adalah pengakuan dari manusia, pergeseran orientasi akan membuat masjid kurang bisa memberi manfaat.

Allah memberikan kita perasaan senang keindahan
Kembali ke pada ulasan keindahan tadi. Allah telah menitipkan perasaan gemar akan hal-hal yang indah, termasuk keindahan visual. Hal ini pula yang mendorong arsitektur telah menjadi bidang yang telah berkembang dari zaman ke zaman. Berbagai situs di dunia ini telah menjadi bukti bahwa manusia memang gemar keindahan arsitektur. Dengan kata lain, membuat suatu tempat bukan urusan kokoh atau tidaknya bangunan, namun elok tidaknya dipandang. Ketika nyaman dipandang tentu akan memancing keaktifan untuk meramaikannya sebagaimana fungsinya.

Siapa sih yang nggak tertarik menyaksikan bangunan yang elok dipandang arsitekturnya seperti bangunan-bangunan di bawah ini. Bangunan-bangunan tersebut adalah masjid di berbagai daerah di dunia.

Sumber: http://issuu.com/fukifasilkom/docs/nolderajatvol2


Pemantik Keaktifan Kegiatan
Memang benar keindahan arsitektur itu urusan visual yang statis, yang lebih penting itu unsur dinamis berupa kegiatan-kegiatan yang memakmurkan. Yaps, saya pun sepakat dengan hal ini.
Arsitektur yang menawan tentunya akan memberikan daya dukung terhadap ketertarikan kaum muslim agar mau aktif dalam memakmurkan masjidnya.


Kita tidak perlu naif untuk mengabaikan adanya unsur keindahan arsitektur masjid yang mendorong kita jadi tertarik untuk ke masjid.
Walau demikian, janganlah pula kita berlebih-lebihan dalam membangun masjid.

Early Warning System versi BBM

Ada dua inspirasi menulis artikel ini

Pertama, ada proyek yang sedang temen kerjakan bertajuk Early Warning System Harga Bawang se-Indonesia. Melalui sebuah portal informasi, kita dapat mengetahui harga bawang dan stok yang tersedia di berbagai daerah di Indonesia. Di dalam sistem ini, dilibatkan juga banyak surveyor di berbagai daerah di Indonesia. Apa manfaatnya? Tentu saja banyak informasi yang dapat diproduksi dan ujung-ujungnya pengambilan kebijakan yang benar-benar berdasarkan kondisi riil di lapangan. Di Brebes harga bawang (misal) Rp 20.000,00 dan di Pemalang udah Rp 30.000,00 nah apa yang bikin jomplang? Jelas indikasi penimbunan maupun hal-hal lain yang mungkin memberatkan daya beli konsumen ataupun merugikan petani dan pedagang dapat segera diketahui

Kedua kunjungan ke Majalengka dan Sumedang tempo hari dimana di Majalengka terjadi kelangkaan bahan bakar sehingga terjadi antrean merayap hingga tumpah ruah di pinggir jalan kawasan SPBU, padahal di hari yang sama di Sumedang tidak terjadi kelangkaan serupa.

Dua inspirasi tersebut membuat saya berpikir (lantaran bengong bosen tidur sepanjang perjalanan) mengapa sistem Early Warning Sistem untuk bawang tersebut diperluas ke berbagai barang ekonomi yang memerlukan informasi akurat dan aktual mengenai stok serta harganya di berbagai wilayah se-Indonesia.

Salah satunya ya tentu saja harga bahan bakar minyak.
Mengapa harga bahan bakar minyak saya beri penekanan di paragraf sebelumnya? Karena bahan bakar minyak merupakan benda yang kenaikan 100 rupiahnya saja dapat membengkakkan harga berbagai barang dan jasa di seluruh aspek kehidupan. Malam ini BBM naik maka tinggal hitung saja dalam satuan jam maka biaya makan di warteg bisa langsung melonjak tajam. Permasalahan yang ada di kasus BBM banyak sulit dikendalikan pemerintah, diantaranya:

  1. Kita tahu bahwa yang ditetapkan pemerintah adalah harga resmi di SPBU dan gerai-gerai yang mengikuti standar nasional, bagaimana dengan harga eceran di kios/lapak privat?
  2. Lanjutan dari nomor 1, yang ditentukan itu harganya, bukan stok. Urusan stok jelas perkara yang sulit. Banyak praktik penimbunan yang bermotifkan ekonomi. Nah, ketika penimbunan jamak sehingga stok melangka alias permintaan melambung tinggi namun penawaran menurun maka yang terjadi adalah penentuan harga yang "seenaknya" dari para penimbun.
  3. Kalau nomor 2 itu penimbunan terkait stok maka yang jadi inti dari nomor 3 adalah adanya motif penimbunan (dan juga permainan harganya). Kasus di Majalengka kemarin ternyata diikuti di berbagai daerah termasuk Tegal. Mau tidak mau kita akan menarik rekam jejak isi koran belakangan ini, ada apa ya? Oh ya, kemarin baru selesai pemilu. Boleh jadi ada permainan "titipan" para politisi pengecut yang menjadikan penimbunan BBM sebagai mainan yang menggiring masyarakat ke opini tertentu. Ini yang agak susah karena kedua belah pihak yang berival di pemilu lalu sama-sama punya potensi sebagai pelaku penimbunan. Ah entahlah urusan politik ini selalu saja menumbalkan tabungan pribadi rakyat
  4. Pemerintah sejauh ini masih keteteran untuk menjaga harga dan stok BBM stabil. Bagaimana dengan urusan harga dan stok barang/jasa lain yang riskan ikut melonjak tajam? Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk dampak yang terlalu domino


Lantas bagaimana sistem early warning system ini dapat dikembangkan?
Kebutuhan utama ada pada bagaimana arus informasi masuk dan ditindaklanjuti menjadi faktor penentu keberhasilan ide ini.

Arus masuk informasi masuk didapatkan dari surveyor yang disebar di berbagai daerah. Proses input melalui telepon seluler serta besaran data yang relatif kecil patut jadi pertimbangan untuk mempercepat diperolehnya data masuk. Informasi masuk ini juga akan lebih baik lagi ketika dilengkapi pemetaan yang memudahkan analisis sebab-akibat.

Selanjutnya tentang proses penindaklanjutan informasi. Diperlukan SDM yang mampu melakukan analisis atas berbagai nilai variabel yang muncul dari pemetaan tersebut. Hasil analisis tersebut kemudian diolah menjadi kebijakan taktis yang bersifat dua macam, yaitu front-end policy dan back-end policy. Front-end policy maksudnya kebijakan yang dihadapkan pada masyarakat selaku konsumen, misalnya penambahan stok. Sedangkan back-end policy merupakan kebijakan dari balik layar yang diarahkan kepada pemangku kepentingan yang berada di balik layar, misalnya investigasi terhadap arus distribusi, pendampingan terhadap pemerintah daerah.

Mengingat era saat ini adalah keterbukaan informasi tentu jadi pertanyaan apakah sistem yang diusulkan ini sebaiknya ditampilkan terbuka kepada publik ataukah cukup privasi pemerintah?
Jawabannya ada analisis risiko
Sebagai gambaran ketika informasi ini dapat diakses masyarakat, maka dampak apa saja yang mungkin terjadi? Misalnya migrasi konsumen secara massal, peretasan sistem informasi, hingga hal-hal lain yang sifatnya relatif positif maupun negatif.

Barokallah WP-Yusri

4 Ciri Taqwa menurut Ali

Ada yang menarik dari khotbah Sholat Jumat hari ini. Topiknya berangkat dari hal yang sederhana  dengan penyampaiannya yang singkat dan bahasa yang efektif namun berbobot isinya, yaitu tentang taqwa dimana definisi yang diambil kali ini adalah bersumber dari sepupu sekaligus menantu Rasulullah, yaitu Ali bin Abi Tholib.

Dalam bukunya Ahlur Rahmah,Syeikh Thaha Abdullahal Afif mengutip ungkapan sahabat Nabi Muhammad saw yakni Ali bin Abi Thalib ra tenteng taqwa, yaitu :Takut kepada allah yang Maha Mulia, mengamalkan apa yang dimuat dalam at tanzil (Al-Qur�an), mempersiapkan diri untuk hari meninggalkan dunia dan ridha (puas) dengan hidup seadanya (sedikit).

Ada empat ciri-ciri orang yang bertaqwa, yaitu
- Memiliki rasa takut kepada Allah sehingga apa yang diperbuat semata untuk Allah bukan sekedar menopengi diri atas opini orang lain. Dan puasa di bulan Ramadhan lalu menjadi salah satu momen untuk menguatkan ciri pertama ini
- Memiliki dasar dalam beramal. Jadi yang tepat adalah mencari dalil lalu bertindak, bukan bertindak dan baru cari tahu dalil yang memperbolehkannya.
- Visioner terhadap masa depan
- Tawakal terhadap apa yang direzekikan kepada dirinya