.ppt screen in Khotbah Jumat

Agak surprise juga khotbah Shalat Jumat tadi dimana, di atas khotib terpampang layar putih besar tempat materi kotbah versi digital disampaikan berbarengan dengan khotib mengutarakan khotbhnya. Kabarnya di beberapa tetangga hal ini kerap dilakukan, tapi bagi saya, ini pengalaman pertama. Sebenarnya beberapa kali pula berpikir dengan banyaknya buku, blog, video youtube dll berisi public communication maka sudah seharusnya ada ide-ide kreatif untuk berkhotbah. Tentu harus dalam ranah adab yang sudah ditentukan.

Tentu saya perlu mendalami lagi sejauh mana alat penunjang seperti materi powerpoint itu diperkenankan. Apakah cukup konten powerpoint yang statis atau malah hingga animasi visual.

Mengenai isi khotbahnya, beliau, Pak Abdur Ramhan, mengemukakan berbagai simplikasi dan dramatisasi seputar puasa dan lebaran. Mulai dari asal usul nama, konflik kepentingan selama vs setelah Ramadhan, makna bulan "suci", hingga makna Idul Fitri.

Blogger Tricks

Islam dan Riset, bukan "versus"

Beberapa hari lalu sebuah sajian menarik dipetik dari ceramag tarawih di MUI. Menarik karena 50% pembahasannya menyinggung tentang ilmu pengetahuan sebagai caraa mewujudkan peradaban Islam. Padahal kita sering tergiring opini bahwa Islam itu kolot di masjid sedangkan pengetahuan identik dengan pakaian rapi berjas di mimbar akademik. Nah sebetulnya apakah dua hal itu bertentangan?

Mari kita tinjau berbagai "clue" yang ada di Al Qur'an berupa perintah agar kita berpikir.

Ada frase "la'allakum tafakkarun", misalnya pada Al-Jāthiyah:13
"Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir."

Kemudian ada pula frase "afala ta'qilun", contohnya pada Al-Baqarah:44
"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?"

Masih banyak clue-clue lain yang memerintahkan untuk senantiasa berpikir. Dari keberpikiran itulah kita akan lebih memahami kekuasaan Illahi dan bersemangat untuk membangun peradaban yang bermanfaat dan sesuai perintah-Nya.

Banyak hasil peradaban yang ditorehkan oleh manusia bersumber dari kesadaran ataa perintah berpikir. Tentu kita ingin jadi bagian daro orang-orang yang berpikir.

Alhamdulillah menemukan satu alasan yang menguatkan diri ini menyelami riset dan dunia pendidikan^^

Inspirasi Mendadak dari Seorang Tunanetra

Sengaja atau tidak, tentu ada pelajaran positif yang bisa dipetik. Begitu juga dengan inspirasi satu ini yang berawal dari suasana kebetulan. Selepas acara di Bandung, saya mnyempatkan diri menikmati keheningnya suasana Masjid Ukhuwah Islamiyah, UI. Eh kok suasananya lagi ramai y? Ternyata ada Buka Puasa PAY n DoIT (Pecinta Anak Yatim) oalah, menarik juga ikut mendengarkan ramainya acara yang penuh semangat keceriaan walau dari jarak jauh. Di salah satu sesinya, ada yang mematik perhatian saya, apa itu?

Seorang yang penuh semngat langsung membuat saya penasaran. Nama beliau Ramaditya Adikara, seorang tunanetra yang amazing bangettt. Rama, itu panggilannya bukan seorang biasa. Beliau ternyata telah menyelesaikan pendidikan magisternya (yoiii), jurnalis di detik.com (yoiii bangettt), seorang blogger (beuhhh) seorang trainer (subhanaAllah). Dan yang paling membuat saya kagum adalah bagaimana menyikapi berbagai yang terjadi secara optimis. Kondisi mata yang tidak seperti normal lazimnya, menurut beliau merupakan anugerah tersembunyi karena dia tidak mempergunakan mata untuk hal-hal yang negatif.

Kurang terlalu fokus y fotonya :v


Semangatnya yang "membahana" di sepanjang sesinya benar-benar membuat saya terpukau. Keren juga aktivitasnya seorang blogger dan jurnalis plus aktif di social media. Walau tunanetra, gimana caranya ya? Ternyata dia memanfaatkan perkembangan zaman seperti voice guider pada laptop. Menariknya pula, dia sangat menyenangi dunia pendidikan sehingga aktif di dalam kegiatan yang bersifat edukatif.

Aduh jadi malu ey masih leyeh-leyeh dalam ber-S2 serta mengejar cita-cita nge-dosen hehee... ^^
Walau saya tidak menjadi peserta di event itu, namun terima kasih atas motivasinya :)

Palestina iya, Kok Papua mmm??

Lagi-lagi isu ini diangkat dengan berbagai perembetannya, baik yang masuk akal maupun tidak. Singkatnya, terdapat beberapa ujar-ujar perbandingan berikut:
Kenapa sih pada sibuk menggalang bantuan dan dukungan ke negeri seberang yang jauh beribu-ribu kilometer? Eh cuy, di negeri kita sendiri tuh ya, di Papua, provinsi paling Timur kita punya, kok ditelantarin begitu sih?
Munafik banget ya bilangnya itu bukan isu agama. Kalau bukan isu agama kenapa saudara sebangsa setanah air sendiri (merujuk ke Papua) nggak pernah diurus
Ah dasar cuma bisa ngikutin pimpinannya. Pimpinannya cuma mikirin negara Arab yang muslim-muslim sih, jadi kalau negeri sendiri kalau orangnya bukan muslim dibiarin begitu saja

Terhadap isu demikian, bagi saya sendiri, anggap saja berfungsi sebagai dua hal.
Pertama sebagai peringatan agar kita juga responsif terhadap saudara se-Indonesia. 
Kedua, ujian keikhlasan, apakah yang kita lakukan orientasinya mengharap ridho Illahi ataukah sekedar latah di social media. 

Saya sendiri bukan orang yang tahu banyak terkait apa-apa yang sudah dikontribusikan sesama Indonesia, antara seorang atau sekelompok warga negara Indonesia terhadap warga negara Indonesia lainnya di berbagai penjuru tanah air, kecuali yang diberikan di media massa. Sekali lagi, ini dalam konteks melepaskan identitas latar belakang agama. Kalau seperti Indonesia Mengajar, Aksi Tanggap Bencana, SAR, Ubaloka, Wanadri, Gerakan Pramuka dll. Bila menyinggung latar belakang agama organisasinya, tentu akan sangat beragam. Di sinilah ketidaktahuan saya, kelemahan saya, dan tentunya sudah lebih dari cukup untuk jadi alasan agar tidak sok tahu dan tidak asal memvonis sejauh mana kepedulian orang lain terhadap sesama Indonesia.

Dan lagi-lagi harus diakui, ada dua faktor kunci yang menyebabkan hebohnya bantuan dan dukungan terhadap saudara kita di Palestina, bahkan (jika hrus terpaksa) membandingkannya dengan bantuan dan dukungan terhadap saudara se-Indonesia lainnya. Yang pertama tentunya kedahsyatan pemanfaatan social media sebagai media untuk mengkampanyekan solidaritas, sungguh sangat-sangat masif, bahkan mampu menggoyahkan dominasi berita copras-capres (padahal Piala Dunia saja gagal mengkudeta topik copras-capres). Kalau sudah ramai di media, siapa yang pada akhirnya tidak ikut tersentuh. Faktor lainnya adalah keterorganisasiannya komunitas-komunitas yang mampu menggerakkan massa untuk peduli.

Dengan demikian, pada akhirnya kita harus meramaikan kampanye-kampanye positif yang menggugah kepedulian terhadap saudara-saudara se-Indonesia yang masih dirundung berbagai kekurangan. Saat itu simpul bermuasal dari media. Bahkan mau sekompak apapun komunitas-komunitas yang ada, sekali lagi peran media yang ujung-ujungnya menjadi pemicu gerakan-gerakan komuntas yang tampil sebagai motornya.

Seberkas pemikiran pagi hari :)

Meet n Greet IF3201 (again???)

Simple but Happy Afternoon

Senang rasanya bisa menghabiskan banyak sore waktu di sini.
Sebuah tempat yang menentramkan hati dan membekali pribadi

Tentang Dito dan Sepotong Foto Tahun Lalu

Dito...
Begitu nama panggilannya, seorang putra dari paman saya, Setia Budi. Dengan perawakan jangkung persis ayahnya, layak pula dia memiliki cita-cita yang tinggi pula. Bukan kebetulan pula Dito juga menjadi Kerani Putra di angkatannya, memang posisi ini kerap diisi oleh orang-orang spesial. Sepupu, junior, serta akrab dengan adik saya, tiga kesamaan itu sudah lebih cukup menjadikan kami sangat nyambung saat bercengkrama. Saya banyak hutang bantuan karena selama di SMA1 Slawi dia banyak menjaga adik saya.

Sejak kelas XI dia sudah menargetkan Institut Teknologi Bandung sebagai tempat berkuliah S1. Soal jurusan? Tentu incaran utamanya teknik sipil, mungkin ingin mengikuti ayahnya hehee. Bukan hal mudah menjadi mahasiswa ITB. Tapi itulah Dito, yang di tengah sibuknya menjadi Kerani Putra hingga status senior aktif (walau kelas XII), dia tetap menyalakkan spirit tak kenal putus asa.

Tanggal 17 Juli lalu sebuah kabar spesial muncul dari adik saya, yaitu Dito lulus seleksi ITB. Alhamdulillah...
Teringat juga sebuah foto yang diambil setahun lalu. Foto itu ber-background kampus ITB area Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan. Kami sekeluarga plus Dito main ke ITB pasca agenda wisuda saya. Alhamdulillah foto itu beralih status dari"target" menjadi "identitas".



Dan di 19 Juli kemarin karena saya sedang di Bandung, maka diajak pula menemani Dito bareng Um Budi n Tante Ita mencari kos di kawasan Cisitu Lama.
Semoga barokah karir akademikmu Dito..

YukRaihLailatulQodr

YukRaihLailatulQadr
by Fuki Ui

10 hari terakhir dibulan Ramadhan dikenal dengan hari pembebasan dari api neraka. diriwayatkan oleh Salman Al Farisi: “Adlh bulan Ramadhan, awalnya rahmat, prtengahannya maghfirah dan akhirnya pmbebasan dari api neraka” #ramadhanMemesona
Di 10 hari terakhir dibulan Ramadhan, Rasulullah SAW melebihkan ibadahnya dari malam-malam sebelumnya ..#ramadhanMemesona
... “Adalah Rasulullah SAW jika telah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari-Muslim) #ramadhanMemesona

Rasulullah Saw sangat memerhatikan 10 hari terakhir bulan Ramadhan karena di dalamnya begitu banyak keutamaan, diantaranya :

Pertama, 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan adalah turunnya lailatul qadr, malam penuh kemuliaan #ramadhanMemesona
Rasulullah SAW bersabda “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)
Pada malam lailatul qadr, barang siapa bribadah kpada Allah dngan penuh iman & pengharapan maka ibadahnya senilai dengan beribadah 1000 bln
Kalau dihitung-hitung 1000 bulan = 83 tahun 4 bulan, bagaimana sobat Fukis? ayo kita berlomba-lomba mencari malam lailatul qadr

Kedua, karena 10 hari terakhir ini mrupakan pnutupan bulan Ramadhan, sedangkn amal prbuatan itu tergantung pada penutupannnya atau akhirnya

Berikut merupakan beberapa amalan-amalan yang dapat sobat Fukis tingkatkan di 10 hari terakhir Ramadhan: #ramadhanMemesona

1. Menjaga shalat lima waktu secara berjama’ah di masjid, 2. Melaksanakan shalat tarawih dan witir, diutamakan berjamaah
3. Bersungguh-sungguh dalam mengisi waktu malam dan siang dengan memperbanyak ibadah, 4.Memperbanyak sedekah dan infak
5. I’tikaf, 6. Tadarus Al-Quran, 7. Umrah, 8. Jihad di jalan Allah Ta’ala

Jadi mari kita tingkatkan kebaikan kita di penghujung bulan suci ini, dengan mencurahkan daya dan upaya untuk meningkatkan amaliyah ibadah

Belajar Manajemen Keuangan

Kalau bicara akuntansi ah sungguh mending kita meng-coding. Bukan perkara apatis njelimetnya itu beuhhhh macam ikatan organik protein laktat yang wuihhh pusinglah pokoknya. Jaman kelas 1 SMP, ada pelajaran Administrasi Pembukuan dimana puyengnya mengelola buku kas 2 lajur, buku kas 3 lajur dan semacamnya. Naik kelas 3 (tentunya setelah kelas 2, nggak langsung jemlukudug kelas 3) di pelajaran Ekonomi puyenge podo, ada membahas pajak, komisi, ah bahkan saya pun sudah amnesia ada kosakata apa saja di situ. Jaman kelas XI SMA sudah mendiskriminasikan diri nggak akan masuk jurusan akuntansi atau semacamnya. Era kuliah pun masih sempoyongan saat asisten dosen menceramahi tentang ROI dll. Intinya yang berbau perhitungan uang bukan kepakaran saya.

Bergulirlah waktu ternyata dunia kerja menyeret saya ke sebuah proyek bertemakan pengelolaan arus kas sebuah travel agent dengan basis OpenERP. Ada istilah sales order, purchasing, invoive, quotation dsj. Setelah bosan mencakar-cakar kuku saat pembuatan modul dan SOP, akhirnya tinggal proses pendampingan alias ToT. Sempat berpikir 'ah cukup inilah terakhir kali mengelola keuangan'. But, pada akhirnya tergugah juga diri ini untuk memperbaiki diri dalam belajar manajemen keuangan. Makin terdorong belajar tentang hal ini pula ketika sebuah topik manajemen keuangan keluarga disajikan pada Kamis (17/7) lalu. Terima kasih Bapak Badru Muhammad atas share pengetahuannya.

Dan kalau dipikir-pikir memang betul. Kita akan optimal menjalankan seluruh rukun Islam saat dipersiapkan dengan matang, termasuk di dalamnya berzakat, berpuasa, hingga berhaji.

Urgensi manajemen keuangan dalam berkeluarga:
- Tiap rupiah akan dipertanggungjawabkan di akhirat
- Setiap kebutuhan utk transaksi
- Hidup nyaman tanpa hutang
- Tiap keluarga punya rencana ke depan. Yups, punya anak tentu beranjak tumbuh kan hehee

Mengelola uang dalam rumah tangga sakinah dapat dimulai pula dengan memahami hal-hal berikut:
- Income, pemasukan kita darimana saja sih
- Outcome, pengeluarannya buat saja
- Surplus dan alokasi, bagaimana kalau ada kelebihan
- Defisit dan solusi, bagaimana kalau kekurangan dana
- Asset, aktiva lancar dan aktiva tetap yang jadi hak milij

Di dalam cashflow, tentu ada pemasukan serta pengeluaran. Apa saja sih pengeluaran dalam sebuah keluarga secara umum:
- ZIS arau zakat-infaq-shodaqoh (hak Allah SWT), dijelaskan pada 2:261
- Hutang (hak orang lain)
- Tabungan/investasi (hak sndri masa depan)
- Kebutuhan hidup (hak sendri sekarang ini), janga berlebihan namun jangan pula kikir

Tips dasar manajemen keuangan keluarga:
- Upper income alias tingkatkan pemasukan, dengan cara halal tentunya
- Lower outcome, alias kurangi pengeluaran, terutama yang kuranf prioritas
- Tercatat, harus gitu? Kalau bisa dicatat, kita akan tahu kualitas diri kita mengelola keuangan. Mana yang ke depannya bisa dihemat, kapan harusnya mengeluarkan ini itu dan berbagai evaluasi positif lainnya.
- Jangan menyisakan uang di akhir bulan karena memicu belanja tidak penting. Berarti pastikan habis? Nanti dulu. Maksud di sini adalah segera tabung dari awal uang yang mau ditabung agar lebih terjamin "kelestarian" n ke-"istiqomahan"-an tabungan kita.
- Kelompokan pos-pos keuangan sehingga tahu bagaimana efisiensinya
- ZIS dan hutang/tagihan diprioritaskan karena kewajiban terhadap Allah serta orang lain.

Teorinya masih panjang. Realisasinya pun jauh lebih menantang. Yuk belajar sedikit demi sedikit^^

Share n Care EK Pekan 2 (bagian 1)

Nah jika sebelumnya yang dikupas itu Share n Care Ekonomi Kreatif pada pekan ketiga, maka berikut ulasan (walau masih terlalu ringkas ,V,,) tentang obrolan di pekan kedua. Ruang lingkup pada kesempatan ini adalah subsektor musik, kerajinan, seni rupa, seni pertunjukkan, mode, serta kuliner. Nah yang terakhir agaknya sedap nih...Ngabuburit sambil mbahas kuliner? Kayaknya sih iya, padahal ya iya...

Dimulai dari mana ya? Mmmm, OK let's stand on the  Kuliner Side yang menghadirkan Pakdhe Maknyus, Bondan Winarno, Winarno lho ya...bukan Prakoso, kalo Prakoso ntar malah mainan bass. Sebuah kritik positif dilontarkannya mengenai data statistik tentang jumlah usaha, jumlah tenaga kerja, hingga kontribusi nominal rupiah di dalam ekonomi kreatif yang berkaitan dengna subsektor kuliner yang menurut beliau perlu ditingkatkan keakuratannya karena kenyataannya di lapangan sudah tentu melebihi angka-angka di tabel statistik. Selain itu, beliau juga mengungkapkan keheranannya mengapa tidak ada stupun kota di Indonesia yang ditetapkan oleh Kota Gastronomi di dunia oleh PBB. Padahal banyak ktoa di Indonesia yang memiliki kuliner khas yang snagat spesial, bahkan menurutnya bisa lebih dari 10 kota, misalnya Semarang, Bandung, Palembang, Makassar, Denpasar, Padang, Medan, Banda Aceh, Surabaya, Yogyakarta, Manado dll. Dan memang benar yang diujarkannya ini. Menurut saya sendiri, pengakuan internasional mau tidak mau terkait tingkat popularitas di mata dunia dan popularitas demikian akan erat kaitannya dengan pariwisata dan harus diakui kota di Indonesia yang dikenal dunia karena wisatanya masih berkutat di Denpasar (atua bisa juga disebut Bali karena satu paket provinsi) serta Yogyakarta. Barangkali yang perlu dibenahi ke depannya adalah bagaimana kolaborasi ekonomi kreatif subsektor kuliner dipadukan dengan sektor pariwisata.

Selain itu, kelemahan yang mendasar di dalam subsektor kuliner adalah masih kurangnya literatur berkualitas sebagai khasanah yang membngun kompetensi para pelaku di dalamnya. Jika boleh jujur, di beberapa masa lalu, kuliner kerap dipandang sebelah mata dengna reputasi hanya sebagai profesi yang berorientasi pada finansial. Namun belakangan ini, kuliner menjadi area yang menarik untuk dieksplorasi karena mampu menunjukkan potensi sebagai sarana berkreatif dan memberikan banyak nilai lebih yang tidak sekedar nominal, misalnya sebagai konten kepariwisataan hingga konten dunia hiburan. Hal ini juga didukung dengan makin menjamurnya berbagai event kuliner yang mengakomodasi kebutuhan masyarakat sebagia konsumen serta produsen. Walau demikian, ada PR besar yang memerlukan perhatian besar juga, yaitu bagaimana apresiasi yang layak berupa penghargaan khusus di subsektor kuliner yang mampu memacu kreativitas pelakunya.

Sementara itu, terkait subsektor mode, perlu diketahui bahwa terdapat klasifikasi mengenai produk mode

  • Kelas made to order, meliputi high fashion, tailor made, dan uniform
  • Kelas ready to wear, meliputi deluxe dan mass product.

Secara kuantitas, produk mode di Indonesia didominasi kelas ready to wear, khususnya mass product, sehingga pembuatan sifatnya bersifat kontinu tanpa kebergantungan terhadap seberapa banyak pesanan konsumen.

Saat yang yang menjadi program pengembangan terbagi ke dalam 3 tahap sebagai berikut ini:

  1. Segi pendidikan subsektor mode masih harus diperbaiki, terutama untuk kualitas kurikulum pendidikan formal dan non-formal serta para tenaga pengajar, sehingga dapat menghasilkan value creation dalam industri kreatifnya.
  2. Peningkatan brand equity para pelaku mode yang juga menghasilkan turunan produknya agar dapat bertahan dalam roda bisnis, sekaligus penguatan jiwa entrepreneurship pelaku mode tersebut.
  3. Perbaikan saluran distribusi industri kreatif mode yang terkait dengan bahan baku, produksi, promosi, pemasaran dan penjualan sehingga dapat mempersingkat proses supply chain-nya.


Di dunia mode Indonesia sendiri beberapa isu strategis yang menjadi perbincangan di dalam Share n Care ini, antara lain:

  • Kualitas dan kuantitas pengajar masih kurang dan belum mengenyam pendidikan mode dalam tingkatan yang lebih tinggi. 
  • Kurikulum pendidikan mode masih lebih banyak menekankan kepada aspek teori, dibanding praktek dan pengembangan bisnisnya.
  • Kekurangan tenaga Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan memiliki keahlian khusus secara teknis, sehingga menyebabkan terhambatnya proses produksi di industri. Hal ini juga terkait dengan daya saing yang rendah dari para SDM tersebut dalam menyambut AFTA.
  • Belum adanya pusat arsip dan pusat kajian perkembangan mode Indonesia yang representatif, sehingga berakibat pada minimnya ketersediaan arsip, buku dan dokumentasi mengenai dunia mode tersebut.
  • Penelitian terkait sumber daya budaya untuk produk mode di Indonesia dinilai masih sedikit.
  • Jiwa ketahanan entrepreneurship wirausaha di subsektor mode dinilai masih rendah.
  • Keragaman karya pelaku kreatif mode Indonesia sudah mulai banyak dan diminati oleh pecinta mode di dalam dan luar negeri.
  • Kualitas karya kreatif lokal dinilai masih kurang, akibat belum adanya standardisasi terutama dalam penentuan ukuran  dan pengendali mutu.
  • Lembaga pembiayaan (mis: bank atau non-bank) kebanyakan masih membutuhkan jaminan yang tangible, seperti: ijazah, sertifikat, emas, dan lainnya, yang belum bisa dipenuhi oleh para pelaku usaha subsektor mode.
  • Industri penunjang infrastruktur masih lemah karena belum adanya pemahaman terintegrasi yang mendukung perkembangan subsektor mode.
  • Minimnya pengumpulan data statistik modern mengenai keseluruhan aspek dalam industri kreatif mode, yang diperlukan untuk mengetahui perkembangannya.
  • Lemahnya regulasi mengenai penataan saluran distribusi dan penjualan untuk produk mode sesuai dengan koridor masing-masing, misalnya factory outlet, toko kecil, pasar tradisional, wholesaler, toko ritel besar (supermarket, department store atau hypermarket), dan pameran.
  • Permendag 70 untuk mendukung distribusi produk lokal dinilai masih berat oleh pengusaha ritel modern, karena tetap didukung oleh regulasi masuknya produk impor.
  • Para pelaku usaha subsektor mode yang belum paham mengenai regulasi pembuatan HKI dan menilai bahwa prosedurnya masih berbelit-belit disertai anggapan biaya pengurusannya mahal.
  • Jumlah organisasi dan komunitas untuk mengumpulkan aspirasi para pelaku kreatif mode sudah cukup banyak. 


Ada yang menarik di subsektor musik. Robin Malau dalam paparannya "Musik Indonesia untuk Semua", mengungkapkan 6 tantangan di subsektor musik saat ini, yaitu sumber daya, iklim usaha, pembiayaan, wirausaha kreatif, teknologi, dan perluasan pasar. Beliau juga memaparkan kunjungannya ke Inggris beberapa waktu lalu dimana dia menemukan beberapa fenomena sebagai berikut:

  1. Community Building, di Roundhouse, musisi aspiratif muda berumur 11-25 tahun (sumber daya) diberi pengalaman pra-karir dan bimbingan untuk berinovasi dalam bermusik (wirausaha kreatif).
  2. Showcase, The Great Escape festival & conference, adalah tempat musisi baru mempertunjukkan musiknya. Pendatang tidak hanya penggemar, tapi juga label, distributor, booking agency (perluasan pasar) dan investor(pembiayaan) dari seluruh penjuru dunia.
  3. Collaboration, di Tileyard Studios, pengusaha musik berkolaborasi dan menciptakan lingkungan yang mendukung menciptakan iklim usahakolaboratif dan berbagi teknologi. 


Coba dihitung, masih ada 3 subsektor yang belum saya ulas di sini. Bentar ya...kerja dulu hehee