Meraki

Meraki itu ...
Tidak melulu realita sejalan rencana
Namun pada kesigapan menyalami tiap risiko
Dan menautkan asa walau masih gulita

Meraki itu ...
Sadar durasi di bumi tak pernah lama lagi
Lantas jemari menarikan hitungan langkah
Derap strategi untuk gapai efisiensi

Meraki itu ...
Tidak terikat pada kesal dalam tunaikan yang wajib
Melainkan berdansa atas suka cita
Sebagaimana Gibran berujar 'sebar benih penuh kemesrahan, hingga panen tiba kita tuai kegirangan'


Blogger Tricks

SPIS this Semester

Kejutan di awal tahun syamsiyah ini adalah kesempatan berbagi ilmu tentang Perencanaan Strategis Sistem Informasi di prodi S1 Teknik Informatika. Persis kesempatan ini hadir di pinggir waktu registrasi. Allah punya rencana unik yang memang penuh kejutan dan ujung-ujungnya 'menagih' seberapa kita ber-khusnudzon atas skenario-Nya yang penuh misteri.

Dulu saya diajar oleh bu Shaufiah feat pak Erda Guslinar saat S1, kalau tidak salah di tahun 2011. Sempat pula menerapkannya dalam proyek magang plus SNATI bareng bu Angelina Prima Kurniari. Saat 2014 dimana jenjang S2 mengembleng saya, pak Zainal Arifin Hasibuan lah yang mendorong say amengkiritisi konsep ini dibantu mas Imam Maliki dan mas Faris. Alhamdulillah teoritis di kuliah diganjar kesempatan mempraktikkan secara detail di dunia kerja saat proyek bareng Pak Yudho Giri Sucahyo. Semoga bekal tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik



Semester ini tidaklah mudah karena saya tidak sekedar 'ngomong' di kelas. Saya juga musti menyiapkan materi dengan berbagai referensi akademik. Jelas hal yang sulit dengan keterbatasan waktu serta amanat baru 'menemani tesis istri' hehee, tapi optimislah bahwa ada kemudahan di balik kesulitan. Target saya dalam mengajar mata kuliah ini sederhana, yaitu menyampaikannya dengan bahasa yang 'membumi'. Ini bukan target yang mudah karena PSSI merupakan mata kuliah yang tidak begitu kental unsur informatikanya, bahkan agak berbau manajemen. Bagi anak prodi Sistem Informasi, tantangan ini mungkin relatif ringan tapi tidak dengan mahasiswa Informatika/Ilmu Komputer. Apalagi jika mahasiswanya lebih akrab dengan istilah agregasi, VoIP, RAID, NDFA, algoritma ini itu hehee.

Bismillah

Menulis Paper itu tidak pernah Mudah

Sebagaimana judul di atas...
Memang tidak mudah untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas, apalagi jika didorong dalam bentuk paper. Banyak dan memang akan selalu ada ganjalan yang menguji konsistensi kita. Itu baru urusan memproduksi tulisannya lho. Belum lagi jika harus mengurusi "dapur" alias birokrasi ke institusi, registrasi ke penyelenggara, reservasi ke penyedia akomodasi. Mau seberapa pun pengalaman yang ada, tantangan akan terus membuntutit. Tinggal yang pertanyaan sejauh mana kita bisa mengendalikan tantangan yang ada, terutama strategi menulis dan juga mengelola tenggat waktu.

Dari sisi kemasan, kuantitas 4 s.d. 6 halaman menjadi tantangan tersendiri selain tentunya ukuran gambar dan tabel yang perlu siasat agar tersampaikan dengan memadai. Urusan bahasa juga tidak pernah kalah penting. Karena itulah banyak penyelenggara mencantumkan evaluasi bahasa saat menentukan penerimaan paper. Pengalaman saya, website thesaurus menjadi situs yang akrab dibuka. Tujuannya sederhana, kita bisa mencomot terminologi yang lebih beragam. Dari sisi substansi? Wah lebih rumit lagi...

Data mungkin tersedia gamblang, pun dengan tinjauan pustaka. Tapi "meramu" mereka menjadi sajian yang layak baca dan mudah dipahami tidaklah mudah. Jangankan menyinggung kecanggihan metode yang dipakai, sajian bagian inti madalah dan tujuan penelitian saja kadang sering membuat kita kalap. Padahal dua hal ini seharusnya bisa disuguhkan dengan nyaman terlepas apapun latar belakang pembacanya.

Well, waktu terus berputar sesuai arah jarum jam. Tenggat waktu kian membayangi selama sepekan ke depan. Walluhualam dengan hasil, fokus kita selaku peng-ikhtiar, fokus itu dulu saja.

Provinsi ke-35 itu [Kemungkinan] Sulawesi Timur

Status Kalimantan Utara selaku provinsi termuda kemungkinan akan ditanggalkan tidak lama lagi. Penyebabnya tentu sederhana, ada provinsi baru di Indonesia. Dan yang akan menjadi 'adik' dari 24 provinsi yang ada nantinya adalah Sulawesi Timur, sebuah kawasan baru yang mekar dari Sulawesi Tengah sebelah Timur.

Isu pemekaran ini bukanlah sesuatu yang baru, bahkan jauh labih menggebu dibandingkan isu munculnya provinsi baru di Madura dan Cirebon. Hanya saja faktor Pulau Sulawesi yang relatif jauh dari 'telinga' media nasional memuat tidak banyak yang membahasnya. Padahal, dari sisi legalistas, usulan pemekaran ini sudah 'diketuk palu' oleh DPRD Sulawesi Tengah serta tinggal menunggu pengesahan pemerintah pusat melalui undang-undang. Kondisi serupa pula yang terjadi saat pengesahan Kalimantan Utara.

Enam kabupaten/kota di Sulawesi Tengah akan mejadi area Sulawesi Timur nantinya, yaitu Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan, Banggai Laut, Morowali, Morowali Utara dan Tojo Una-una, baca di tauran ini. Kabupaten Banggai disebut-sebut akan didapuk menjadi ibu kota provinsi. Walau demikian, pemekaran ini masih menyimpan 'bara' berupa potensi kecemburuan oleh kabupaten/kota yang tidak dibawa 'mekar'. Memang dari berbagai media, ada kabupaten yang diisukan 'kecewa' lantaran tidak menjadi 'paket pemekaran' lantaran di saat penggodokan isu cenderung 'keukeuh' harus menjadi ibu kotanya.

Pemekaran sendiri memiliki pro maupun kontra. Ditinjau dari aspek ekonomi, sosial, budaya, hingga politik, selalu saja ada plus maupun minusnya. Tentu kita tidak bisa serta merta berharap pembangunan pasca-pemekara bisa sepesat Banten ataupun Bangka-Belitung. Alih-alih berkembang, tidak jarang kabupaten/kota yang relatif baru dimekarkan justru terperangkap dalam perebutan dominasi kekuasaan. Beruntung memang hal ini sangat jarang terjadi dalam konteks pemekaran provinsi, namun tetap saja ada ancaman mengintai. Kembali lagi ke rencana pemekaran Provinsi Sulawesi Timur ini nantinya. Modal apa yang bisa menjadikan provinsi 'bungsu' ini bisa mengejar pembangunan 'kakak-kakaknya', minimal bisa menyamai pesatnya infrastruktur dan layanan pemerintahan diantara 5 provinsi lainnya di Pulau Sumatera. Sektor pariwisata barangkali bisa menjadi alternatif yang tidak salah untuk digali sebagaimana Sulawesi Tenggara yang belakangan kerap dibanjiri wisatawan lewat Wakatobinya.

Semoga nantinya Sulawesi Timur bisa berkembang lebih baik lagi

4 Tahun dan Migrasi Posisi

4 tahun harus menjalani fase wajib berupa sidang Tugas Akhir yang alhamdulillah berbuah manis. Kini seiring kalender berganti, ya walaupun saya belum mengantongi kalender tahun 2017 hehee, ekosistem kini berubah. Saya menjalani salah satu profesi saya sebagai pengajar, insyaAllah juga pendidik di kampus ini. Kampus yang dulu biru muda kini berganti kulit dan papan nama menjadi merah marun. Duo pembimbing saya, bu KAL dan APK kini sedang melanglang buana di dunia doktoral.

Ada juga Margasari di Sini

Masih "Ampuh" kah Website?

Beberapa hari lalu, saya berkesempatan silaturahim dengan Bang Bilhasry Ramadhony, senior di Informatika IT Telkom. Kebetulan beliau merupakan "pakar" pengembangan website serta strategi pemasaran di duia digital. Berhubung latar pendidikan sesama informatika dan masih konsistensi di bidang TIK, khususnya bisnis digital, maka tidak aneh diskusi kami mengalir deras tentang bagaimana membangun nilai bisnis melalui strategi digitalnya. Barangkali jika bukan karena agenda masing-masing, obrolan kami bisa panjang kali lebar kali tinggi.

Salah satu pertanyaan saya lontarkan kueang lebih tentang seberapa laku dan efektifkah website dibandingkan social media (dalam arti memiliki fan page atau jenis akun socmed lainnya). Pertanyaan yang buntutnya panjang sih sebetulnya. Kenyataannya banyak pelaku bisnis digital memilih membuka akun di media social serta "gerai" di marketplace alih-alih menggelar website sendiri. Saya sendiri melihat hal tersebut karena di social media dan marketplace sudah ada pembaca atas konten yang kita unggah. Dalam hal ini, website mengalami kekurangan lantaran harus adanya "pemantik" agar bosa dikunjungi. Namun sudut pandang lain doutarakan oleh  Bang Bil.

Fleksibilitas dalam mengembangkan proses bisnis, inilah yang menurut beliau menjadi kunci website bakal terus didaulat sebagai media dalam bisnis digital. Dengan bergamnya proses bisnis antara pelaku yang satu dengan lainnya, maka berbeda pula pengoperasian dan fitur yang dipunyai. Untuk skala tertentu, website mampu menyuguhkan alternatif  dalam pengembangan dan otomatisasi proses bisnis. Belum lagi tren kecepatan akses inernet yang semakin baik, bukan tidak mugnkin teknologi di internet bakal lebih jor-joran bakal membuat fitur-fitur futuristik.

Ragam-makna Baiturohman

Masjid ini pertama kali saya lihat di buku Pendidikan Agama Islam, persisnya SD. Saat itu saya takjub dengan lengkungan kubahnya. Barangkali faktor kultur Jawa yang lebih jamak dengan model limas alih-alih kubah. Saat itu, saya juga penasaran ujuran masjid ini berapa alias kapasitasnya. Maklum pula karena masjid terbesar yang singgahi hingga lulus SD hanya di Margasari dan Balapulang. Seiring waktu saya tahu bahwa masjid ini terletak di Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang dikenal pula sebagai Serambi Mekah.

Jujur, saya hanya pernah berharap mengunjungi masjid Baiturrohman ini sebagai penjelajah nusantara. Namun Allah menghendaki skenario lain dimana Januari tahun 2015 silam saya memasuki masjid ini bersama orang tua saya serta calon keluarga saya pasca-khitbah. Di momen itulah saya terperangah menyaksikan anggunnya masjid dengan digdaya yang masyaAllah. Praktis saya teringat pula bahwa masjid ini adalah salah satu titik paling disorot saat tsunami 2004 silam lantaran menjadi lokasi orang menyelamatkan diri karena relatif tinggi dan kokoh. Ya, masjid ini termasuk saksi bisu bagaimana Allah mengingatkan Aceh danpemerintah pusat Indonesia tentang makna damai. Sat di dalam masjid, saya membayangkan bagaimana suasana sekitar 10 tahun lalu. Mencekam? Tentu, bahkan berhari-hari masjid ini menjadi pusat pengungsian sembari banyak orang tua berharap menemukan anak mereka di sini selamat.

Rona masjid ini tidak banyak berubah lantaran "stabilnya" situasi politik dan sosial di Aceh kini. Damai dan mendamaikan, itulah bangunan tersohor ini di mata saya, refleksi dari terjemahan baiturrohman dalam Bahasa Indonesia. Malah, di masjid ini pula saya dan mertua saya melangsungkan ijab kabul.

The Day about Rings and these finger

Nulis Gratis di Tripadvisor

Sejak Oktober 2016 lalu, saya mulai menulis artikel yang bersifat non-formal ini Tripadvisor. Kebiasaan ini dipicu oleh tiga hal yang saling berkaitan. Pertama, saya suka menulis. Kedua, saya 'berhutang' banyak atas informasi yang disuguhkan oleh web ini dalam mencari lokasi objek wisata di kota-kota yang saya jelajahi. Ketiga, saya kebetulan punya pengalaman mengunjungi beberapa objek wisata. Ketiganya mendorong saya ikut 'urunan' atas pengalaman saya, memang tidak banyak sih, yang semoga bisa menularkan semangat berbagi pengetahuan.

Sebetulnya menulis di sini tidak dipungut biaya, namun tidak juga diganjar apresiasi finansial. Praktis hanya pengakuan berupa 'badge' virtual yang menjadi 'hibah' atas kontribusi tulisan/ulasan yang saya maupun kontributor lain berikan. Apakah hal ini fair. Kembali lagi tujuan website ini, motif tiap orang menulis, serta gambaran ekosistem ini dalam 'kolam' yang lebih luas, dan tentunya hitung-hitungan faktor XYZ. Faktor XYZ ini meliputi berapa besar force yang dikeluarkan untuk menghasilkan tulisan, standar peulisan yang disyaratkan, tingkat keketatan untuk ditayangkan, serta risiko atas kesalahan isi. Jika melihat jangka pendek, konsep 'sukarela, sebagai penghalus frase 'tidak dibayar' relatif wajar. Namun untuk jangka panjang, hal ini tentu kurang bijak. Penyebabnya sederhana, inovasi apa yang membuat kontributor saat ini bisa loyal.

Barangkali jika ekosistem bisnis Tripadvisor mau berdaya saing, maka mereka perlu 'memelihara' kontributor agar tetap memproduksi konten yang berkualitas. Termasuk di dalamnya adalah memberikan 'hadiah'. Hadiah ini tidak melulu berupa uang cair, karena proses serah terimanya sangat panjang plus urusan administrasi macam pajak dan tentunya perbedaan kurs. Saya malah melihat 'kado' berupa voucher perjalanan/transportasi hingga objek wisata lebih bisa diterapkan. Faktor utamanya jelas, 'kado' ini sesuai dengan kegemaran para kontributornya.

Di luar itu, Tripadvisor juga perlu berpikir mengenai strategi-strategi lainnya agar bisa 'survive'. Sejarah membuktikan ketika sebuah media tidak berinovasi maka dirinya akan terjungkal oleh dinamisnya selera pasar. Ya, perlu diingat bahwa manusia itu akan mudah bosan. Karena pembacanya manusia, dan juga kontributornya manusia, maka Tripadvisor perlu menyusun strategi jangka panjang yang inovatif.