Achtung Drei

Galau hampir sepekan yang akhirnya tuntas. Setidaknya hingga menjelang kick off semester tiga. Semester 3 ya?
Semester yang sedaaaaappp banget tantangannya.
*fyi: semester dua itu ibaratnya masakan ayam betutu

Bentrok yang paling ditakutkan antara TKTI dengan DMBI akhirnya ditamatkan dengan memilih TKTI, matkul yang sold out 3 jam pertama masa-masa input IRS. Alhasil di luar dugaan MR dan BE jadi opsi yang di luar digaet oleh aaya akhirnya.

Mata kuliah pling sakral itu akhirnya diambil. Sesuatu yang setahun lalu tidak direncananan. Tapi satu dan lain hal akhirnya mengarahkan KA diambik semester
Sejauh ini stiker #SalamDuaTigaFebruari patut dipajang.

Bismillah...
Achtungg...
Dreiii

Blogger Tricks

SFC Riwayatmu Kini

Sriwijaya FC, klub dengan unik, baik dari sisi sejarah (tengoklah Persijatim), hingga kostum yang unik (pelopor kain khas di dalam jersey). Klub ini patut dilabeli sebagai klub papan atas yang cukup ababil. Ketika awal perjuangannya tahun 2005, Sriwijaya FC masih bercokol di papan tengah, tepatnya peringkat 9 dari 14 klub wilayah Barat Ligina XI. Begitu pula di tahun 2006 alias Ligina XII dimana capaian Sriwijaya FC adalah peringkat 6 dari 14 klub wilayah Barat. Capaian yang sebenarnya agak "mendingan" karena di era Persijatim dan Persijatim Solo FC (10 edisi Ligina sebelumnya), mereka sempat degradasi. Musim 2007, target mulai dinaikkan, yaitu lolos 8 besar. 8 besar sendiri merupakan capaian tertinggi Persijatim di musim 2000 saat masih diperkuat Gendut Dony dan Michael Pao. Skuad yang agak heboh menjadi modal di tahun 2007 dimana nama-nama beken menjejali Sriwijaya FC. Sosok Rahmad Darmawan, eks pelatih Persipura yang juara di tahun 2005 sempat memboyong Persipura connection dalam wujud Christian Warobay dan Christian Lenglolo, ditambah sosok-sosok yang pernah dan sedang menghuni timnas seperti Isnan Ali, Firmansyah, Charis Yulianto, Ferry Rotinsulu plus legiun asing berupa Zah Rahan Krangar, Renato Elias, hingga Anoure Obiora. Double winner dicaplok di musim itu, musim yang diperpanjang dari tahun 2007 saja menjadi plus 2008. Saya sendiri mulai menyenangi klub ini justru gara-gara jersey-nya yang menyertakan songket.
<br>
Dua musim berikutnya Sriwijaya FC mengalami kemerosotan di peringkat akhir klasmen ISL 2009 dan 2010, yaitu 5 dan 8. Prestasi konsisten di ranah Copa Indonesia tidak menghalangi dilengserkannya coach RD di akhir musim 2010. Pasang surut secara berturut-turut memayungi klub satu ini. Sebuah prestasi juara ISL 2012 sempat ditorehkan oleh Sriwijaya FC di tengah konflik PSSI-KPSI. Di luar itu, harus diakui bahwa Sriwijaya FC masih bisa disebut agak ababil mengingat setelah juara, justru SFC kembali melorot di peringkat 5 dan 6. Walau demikian, yang perlu dicatat dari kurun waktu 10 tahun ini adalah warna konflik serta status "kuburan" bagi sejumlah pemain adalah sisi kelam Sriwijaya FC.
<br>
Konflik antara 4 orang pemain dengan sekelompok suporter menjadi konflik terdahsyat yang benar-benar memunahkan nyaris semua skuad di musim 2010. Padahal sebelum terjadi konflik, hubungan antara manajemen dengan staf kepelatihan sedang memburuk. Tak ayal, lengsernya coach RD seolah membabat habis skuad SFC saat itu. Konflik dahsyat juga bergulir di akhir musim 2013. Status juara bertahan ternyata menjadikan tuntutan manajemen semakin tinggi terhadap pemain. Di sisi lain, hak-hak pemain berupa gaji mengalami keterlambatan. Padahal klasmen Sriwijaya FC sendiri kian melorot. Bentrok kepentingan inilah yang menjadi pangkal mogok massal hampir seluruh pemain di laga-laga akhir SFC. Uniknya, suporter justru lebih bersuara lantang mempertanyakan keseriusan manajemen daripada menanyakan komitmen pemain. Manajemen yang kalang kabut pun melakukan genoside terhadap status pemain termasuk melego Ferry Rotinsulu (loyalis dari era Persijatim Solo FC), serta duo kapten Ponaryo Astaman dan Firman Utina, yang dianggap sebagai motor aksi mogok massal. Musim berikutnya, Sriwijaya FC lebih memilih pemain-pemain yang secara nama belum bersinar, namun yang menjadi tanda tanya bukan pada kualitas, namun lebih ke arah alasan manajemen yang menyebut komitmen sebagai alasan pemilihan pemain. Alasan yang disebut banyak orang sebagai alibi atas buntut insiden mogok massal tersebut.
<br>
Bagaimana dengan status kuburan? Silakan cek nama-nama besar yang pernah mengenakan kostum Sriwijaya FC. Ada yang benderang ada pula yang mengalami getir mendalam. Siapa yang tidak mengenal Ilham Jayakusuma, pemain terbaik Ligina VIII sekaligus top scorer dari klub Persita di musim itu, plus top scorer Piala AFF 2004. Ada yang kenal Aliyudin, sosok yang disebut sebagai partner terbaik Bambang Pamungkas di Persija. Nama besar Rahmat Rivai, maskot Persiter dan Persitara, Maman Abdurrahman, pemain terbaik Ligina XII dari PSIS Semarang. Jangan lupa pula dengan nama-anam seperti Oktavianus Maniani, Jajang Mulyana, Rizky Novriansyah, Mahadirga Lasut, dan Syamsir Alam, para pemain muda Indonesia yang digadang-gadang sebagai bintang masa depan Indonesia di tiap periode saat masuk SFC. Belum lagi sosok pemain asing seperti Dzumafo Herman, legenda PSPS, Diogo Santos, bintang Timor Leste, Erik Lewis Weeks, icon Persiwa.  kesamaan nama-nama di paragraf ini? Semuanya justru terpuruk karirnya di Sriwijaya FC.
<br>
Satu hal yang mungkin menjadi PR terberat Sriwijaya FC, khususnya jika berhadapan dengan Persib Bandung dan Persipura Jayapura. Siapa sih bintang asli Sumsel di Sriwijaya FC. Nyaris sulit ditemukan. Sosok Rizky Novriansyah malah redup dan dilego, sedangkan legenda timnas bernama Ilham Jayakusuma yang asli Palembang juga hilang dari peredaran. Musim lalu, nama Rizky Dwi Ramadhan dan Jeki Arisandi mulai diperhitungkan, semoga menjadi titik cerah.
<br>
Kini suasana terasa seperti membuka lembaran baru. Pelatih matang bernama Benny Dollo dipercaya menukangi Sriwijaya FC. Nama-nama papan atas pun sukses digaet, yaitu Titus Bonai,  bintang naik daun asal Persipura, Pattrick Wanggai, pemain muda yang lumayan sukses merantau di Malaysia, hingga pemain terbaik ISL 2014, Ferdinand Sinaga. Suasana penuh optimis mulai tersaji di SCM Cup lalu, walau harus sad ending karena SFC mengalami kenaasan lantaran tumbang di final versus Arema Cronus. Tantangan SFC cukup berat di musim depan. Target juara atau peringkat berupa belum dicanangkan. Hanya saja dengan skuad yang ada, tentu aroma ambisius wajar saja diumbar para suporter. Belum lagi jika mengendus nilai kontrak yang sudah pasti membludak. Saya sendiri optimis Sriwijaya FC mampu masuk 3 besar. Alasannya?
<br>
Kembalinya nama-nama yang pernah/sedang menikmati kostum timnas. Memang sejak tahun 2007, gelaran AFF Cup 2014 kemarin merupakan turnamen yang kedua kalinya tidak ada pemain Sriwijaya FC di dalamnya. Turnamen Asian Cup 2007, AFF 2006, AFF 2008, World Cup-qualfication 2010, AFF 2010, Asian Cup-qualfication 2011, World Cup-qualfication 2014, dan Asian Cup-qualfication 2015, pasti ada setidaknya seorang pemain SFC. AFF Cup 2012 memang pengecualian karena ada konflik PSSI-KPSI.  Jelas agak nyelekit karena di lapangan masih ada sosok M. Ridwan, Supardi, Firman Utina, Ahmad Jufriyanto sebagai punggawa timnas sekaligus punggawa Persib yang jaura ISL musim lalu.
<br>
Ada putra daerah
nama Rizky Dwi Ramadhan dan Jeky Arisandi merupakan modal untuk membangkitkan kepercayaan diri dari masyarakat Sumsel yang haus idola asli putra daerah Sumsel.
<br>
Saingan SFC, jika dilihat dari kesiapan dan kedalaman skuad maka nama Persib, Arema, Persija, dan Pesipura patut diperhitungkan. Sosok kuda hitam macam Mitra Kukar dan Persela juga patut diwaspadai.

(re)Branding Terminal, hmmmm

Apa yang ada di benak Kawan ketika mendengar kata terminal?
Seram, tidak ada yang bisa dipercaya, kotor, lelet
Wah mungkin (atau malah pasti) yang timbul adalah kosakata-kosakata yang bermakna negatif. Kira-kira kita yang terlalu berlebihan atau gimana ya? Rasanya tidak karena memang begitulah kenyataannya. Kita menganggap terminal adalah tempat yang seram dengan berbagai kasus kriminal, pencopetlah, tukang palaklah, calolah dan masih banyak lagi. Keberadaan orang-orang yang (secara subjektifnya kita) dianggap kurang baik itulah yang menjadikan terminal sebagai tempat yang sulit dipercaya. Banyak orang memilih berlapar dan kehausan daripada mengonsumsi sajian di terminal. Takut sudah kadaluarsa, khawatir berformalin, riskan sudah membasi dan ah entahlah. Mungkin terkait juga kesan kotor. Jika bukan kepepet, ornag pun memilih menahan kebelet ketimbang pipis di toilet terminal.
<br>
Bukan hal yang mudah untuk mengubah kesan-kesan tadi. Boleh jadi kita membandingkannya dengan kondisi stasiun yang mulai sukses menanggalkan kesan kumuh menjadi elegan. Namun jangan lupa bahwa waktu yang diperlukan PT KAI beserta pemangku kepentingan terkait sangat lama, mulai dari pewacanaan, perancangan strategi, hingga penerapan dan tentunya pengawasan. Jangan lupa pula bahwa jumlah stasiun di Indonesia yang relatif sedikit dibandingkan terminal. Walau demikian, tidak alasan untuk membiarkan terminal suasananya stagnan seperti itu.
<br>
Permasalahan pangkal terletak pada dua kata kunci, yaitu kebersihan dan keamanan. Dua kata kunci ini merupakan faktor yang dibutuhkan kualitasnya oleh masyarakat. Konsistensi, pengawasan, dan kepedulian juga patut dimunculkan untuk melahirkan kebersihan dan keamanan. Bukan rahasia bahwa banyak oknum yang (sok) menjadi mafia dengan berbagai pungutan liar dan pengomersilan segala layanan. Ketika memasuki terminal kita kerap dikerubuti oleh orang yang kemudian menggiring kita ke sebuah bus. Tentu bukan jasa yang gratis dan snagat menggerogoti kenyamanan. Kadang ketika kita menolak dan menghindari justru umpatan yang dilontarkan. Ngeselin memang, namun yaudah sih, nggak ada manfaatnya juga diladenin. Calo juga menjadi aktor yang suit diberantas karena jaringannya yang sudah terlalu kuat.
<br>
Dalam beberapa kasus tertentu kita sering menyaksikan kerumunan calon penumpang di luar terminal. Ternyata kerumuman ini merupakan penumpang yang lebih memilih tempat duduk sisa, atau bahkan lebih ihlas berdiri, asalkan kita ikut menjadi korban percaloan. Maka tidak heran Pasar Rebo menjadi terminal tidak formal karena ya gitulah... Butuh keberanian untuk memangkas adanya oknum-oknum nakal di terminal. Jaringan yang solid menjadikan mereka masih bisa lestari dan mengkader oknum-oknum baru.

KAP: Kajian Ketahanan Keluarga (25/1)

Disarikan dari Kajian Ahad Pagi di MUI, 25 Januari 2015
Peran Suami

  • Memberi nafkah kepada keluarga
  • Membina keislaman istri, anak-anak serta asisten rumah tangga
  1. komitmen dengan norma dan adab-adab Islam
  2. membangun kecintaan kepada Allah dan rasul
  3. membiasakan untuk selalu menyukai kebaikan/kemuliaan dan membenci kehinaan
  4. menumbuhkan ruh keberanian, kesungguhan dan kesabaran
  5. menanamkan loyalitas terhadap IslamMelindungi keluarga dari unsur-unsur perusak dari dalam dan luar
  • Sikap baik terhadap istri An Nisa 19




Teamwork suami istri

  • Berbagi peran
  • Saling menghargai (4:19)
  • Sholat berjamaah
  • Makan bersama
  • Menjadi teladan bagi anak-anak


Nasihat ulama untuk kita semua

  • Jangan terlalu fokus pada sebab-sebab materi untuk mencapai kemenangan tapi kurang pada Robbul asbaab, yaitu Allah sebagai pemilik segala sebab
  • Jangna terlalu fokus dengan manajemen dan perencanaan tapi kurang fokus dalam hak-hak Allah. Perencanaan dan manajemen efektif jika dilakukan oleh tangan-tangna yang basah air wudhu, kening yang banyak sujud, jiwa yang khusyu, hati yang tenang dan tunduk kepada Allah
  • Senjata yang utama ada dua, yaiitu hubungan baik kepada Allah SWT dan akhlak kepada manusia

BEM dan HIMA itu Sekuler?

Pernah di suatu ketika menyaksikan debat kebijakan yang dibuat oleh pengurus BEM di sebuah kampus dimana dibantah oleh mahasiswa yang bukan pengurus. Debat berakhir dengan sebuah statement dari si mahasiswa yang bukan pengurus "ah dasar organisasi sekuler sih, seenak gitu bikin kebijakan". Kebetulan mahasiswa ini sebelumnya sudah mengklaim diri sebagai perwakilan organisasi eksternal yang mengatasnamakan keagamaan. Nah pertanyaan bagi saya? Apakah organisasi berwujud BEM, ataupun yang serumpun macam DPM, HIMA (himpunan mahasiswa), BPM, hingga unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang tidak berlabel suatu agama tertentu maka otomatis patut dikategorikan sebagai sekuler?

Menengok Definisi
Sebelumnya, ayo simak definisi sekuler di KBBI, yaitu "bersifat duniawi atau kebendaan (bukan bersifat keagamaan atau kerohanian)". Tak lupa sedikit mencomot artikel dari wikipedia Indonesia berikut: Sekularisme atau sekulerisme dalam penggunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. Sekularisme dapat menunjang kebebasan beragama dan kebebasan dari pemaksaan kepercayaan dengan menyediakan sebuah rangka yang netral dalam masalah kepercayaan serta tidak menganakemaskan sebuah agama tertentu.

Melirik Sisi Formalitas
Berdasarkan definisi itu maka tanpa perlu mengupas dasar, asas, falsafah, dll dari suatu organisasi maka bisa dilabelkan sekuler. Mengapa? Dari nama saja sudah bisa dipahami bahwa organisasi tersebut tidak berurusan dengan agama tertentu. Sekalipun ada BEM Universitas Muhammadiyah, BEM Universitas Katholik Parahyangan, tetap saja nama organisasi yang tidak mengacu ke agama tertentu maka bisa dikategorikan sebagai sekuler, tentunya mengacu ke definisi pada paragraf sebelumnya. Namun, jangan pula selesai menilai hanya dari nama. Vonis sekuler atau tidak perlu dilihat pula dari identitas formal pada Anggaran Dasar - Anggaran Rumah Tangga (terutama bagian asas, landasan, falsafah, sifat) maka kita dapat mengetahui apakah organisasi tersebut (baca: KBM, KM, Rema, IKM, BEM, HIMA dkk) tergolong sekuler atau bukan. Sebagai contoh ada beberapa BEM yang mencantumkan asas "Ketuhanan" di dalam semangat berorganisasinya, bahkan saat asasnya bersifat jamak atau beberapa maka asas tersebut diletakkan di nomor paling atas. Artinya secara formal organisasi tersebut mengakui secara terang-terangan bahwa semangat beraktivitas mereka akan selalu menepati perintah agama dan tidak bertentangan dengan agama.

Namun dua paragraf terakhir tadi sifatnya hitam di atas putih. Bagaimana jika kita membaca situasi di lapangan? Dan bagi saya sebagai muslim, apakah BEM, HIMA, dan sejenisnya itu sekuler?

Membaca (Situasi di) Lapangan
Definisi dan formalitas sifatnya teoritis, sedangkan situasi di lapangan sifatnya konkret. Tidak banyak yang ingin saya utarakan di sini. Karena...

Bagaimana anehnya organisasi yang mengklaim punya asas ketuhanan namun rekruitasinya tidak memperhatikan aspek agama?
(OK yang bagian barusan tentu memancing perdebatan. Tentu dasar dalam rekruitasi sebuah organisasi yang bukan LDK harusnya ya asas profesionalitas. Ya saya sepakat dengan keharusan untuk berprofesional, namun profesional yang ada tentunya harus sesuai dengan asas yang dimiliki organisasi. Jika organisasinya sudah mengklaim menempatkan ketuhanan sebagai organisasi maka proses rekruitasi perlu mempertimbangkan religi si calon pengurusnya sebagai salah satu aspek, bukan keseluruhan aspek. Sekarang jika yang menjadi pengurus (maaf) atheis, apa bukan ironi namanya? Dan menyertakan syarat religi jelas berbeda sekali dengan memilih berdasarkan latar belakang LDK atau bukan, karena kita tahu yang ikut LDK belum tentu lebih baik dari yang tidak ikut LDK)


Bagaimana anehnya organisasi yang mengklaim punya asas ketuhanan namun kegiatannya sangat jauh dari norma agama?
Emang ada? Ada ternyata, bahkan dari hal yang sepele. Contohnya mengabaikan hak-hak personal untuk beribadah, bahkan kegiatannya mengganggu orang lain yang sedang menunaikan ibadahnya.

Bagaimana anehnya organisasi yang mengklaim punya asas ketuhanan namun pura-pura nggak tahu tentang masalah terkait agama yang terjadi di masyarakat?
Kontribusi tetap bagi masyarakat dimana permasalahan agama, hanya memang perlu dibedakan antara kontribusi dengan ditunggangi.

Bagaimana anehnya organisasi yang mengklaim punya asas ketuhanan namun alumninya jauh dari agama?
Lho, bukannya tujuan di organisasi ini 'kan bukan untuk mencetak da'i. Udah gitu 'kan kalau sudah keluar ya masa masih dikontrol gitu, aneh banget lah. Hehee, bukan begitu gaes (gaya Pak BR). Maksud di sini adalah peran sebuah organisasi dalam membentuk karakternya secara jangka panjang (walau keterlibatan aktif di organisasi hanya sebentar). Beberapa orang kece memakai istilah "kaderisasi", ya pada intinya "pendidikan". Ciri kaderisasi yang sukses (secara jangka panjang) adalah tetap lestarinya nilai-nilai positif yang ada di organisasi tersebut, yang tentu bersumber dari asas yang dimilikinya. Dan jika ketuhanan merupakan (salah satu) asas organisasi tersebut, maka nilai berketuhanan menjadi hal yang patut diwujudkan. Maka ketika di kemudian hari alumni organisasi tersebut jauh dari nilai-nilai organisasi itu, salah satunya ketuhanan, maka ada indikasi kaderisasi kurang efektif (gw nyoba nggak bilang gagal hehee, upsss)

Secara pribadi, saya punya beberapa opini tambahan terkait tudingan apakah BEM dan HIMA (plus organisasi serupa) patut disebut sekuler atau tidak.

Sebagai muslim, sebenarnya pemisahan antara aktivitas berorganisasi dengan aktivitas religi agak membingungkan. Dan secara pribadi, yang saya kenal adalah amalan yang bersifat hablumminallah (vertikal kepada Allah) serta amalan yang bersifat hablumminannas (horisontal kepada sesama manusia). Kedua jenis amalan itu adalah ibadah dan wujud nyata sebagai muslim yang mana jelas sekali bahwa identitas muslim akan melekat kemana pun melangkah (kalau kata RAN, "bagai detak jantung yang kubawa kemana pun kupergi"). Ketika diamanatkan sebagai pengurus sebuah organisasi maka status muslim tetap berlaku. Segala perilaku akan dicatat oleh malaikat, dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti (kalau pengurus HIMA palingan dicatat ama Badan Legislatif Mahasiswa lalu di-LPJ-kan trus udah bubar beres :v). Maka ketika diamanatkan sebuah tanggung jawab, niatkan sebagai ibadah, tunaikan sebagai ibadah, dan tanggung jawablah.

Credit photo from: mba Rahma Djati

Namun tentu saja ada rambu-rambu untuk menjaga perasaan rekan-rekan yang berbeda keyakinan. Menghormati perbedaan sebagaimana ayat terakhir Al Kafirun merupakan suatu kewajiban "lakum dinukum waliyadin".

Akhir dari opini saya adalah:

  • Organisasi itu benda mati, mau dilabeli agama tertentu atau tidak ya dia tetap benda mati, mau ditulisi asas ketuhanan atau tidak ya dia tetap benda mati. Perilaku manusia di dalamnyalah yang menghidupkan karakter si organisasi.
  • Jangan banyak berdebat yang tidak penting, terutama jika tujuannya hanya sombong.
  • Identitas sebagai muslim tidak akan tanggal walaupun ada di organisasi yang tidak mengacu ke agam tertentu ataupun anggotanya berbeda keyakinan. Apa yang kita lakukan akan selalu dihitung sebagai amalan serta ibadah. Namun hormatilah perbedaan yang ada dengan bersikap toleran sesuai aqidah.

Minta maaf bila ada kalimat yang kurang berkenan

Observasi Web Klub ISL 2015

Menjelang ISL 2015 bergulir mendadak ramai berbagai turnamen dan uji coba di berbagai penjuru Indonesia. Di pantai Barat Pulau Sumatera dihelat Piala Wali Kota Padang dengan Persib Bandung menjadi penguasa di tanah Urang Awak, sementara itu turnamen penuh tradisi dari Timur Jawa, yaitu Piala Gubernur Jatim menampilkan Persik Kediri sebagai kampiun. Disusul SCM Cup dengan 4 semifinalis, yaitu Sriwijaya FC, Arema Cronus, Persela Lamongan, dan Persebaya Surabaya. Dan di pusat negeri ini, PSSI sedang sibuk memverifikasi klub-klub ISL. dua klub sudah tumbang dari percaturan sebelum kompetisi dimulai, yaitu Persiwa Wamena dan Persik Kediri dengan faktor infrastruktur dan keuangan sebagai alasan. Masih tercatat pula nama Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Pelita Bandung Raya, Arema Cronus, dan Gresik United yang masih terancam untuk dijegal karena isu tunggakan gaji. Jika untuk kasus Persiwa dan Persik langsung lengser, maka sanksi yang menggentayangi 6 klub tadi adalah embargo pemain asing. Jelas pukulan telak bagi mereka yang kebetulan menyandang setidaknya satu bintang di atas logo klubnya sebagai tanda pernah juara Liga Indonesia atau ISL sejak 1994, termasuk PBR tatkala masih berwujud Mastrans Bandung Raya ataupun Gresik United saat berupa Petrokimia Putra.


Sebagai bocah yang juga menggemari bidang IT, saya ingin mengulik sisi lain klub ISL, yaitu pengelolaan konten website-nya. Penelitian di depan laptop yang gampang-gampang sudah. Gampang karena tidak ada tekanan untuk salek pada suatu pola pikir penilaian. Toh tidak ada "titipan sponsor" dan tidak ada reward bagi klub terbaik versi website-nya. Bukan hal yang mudah mengingat tidak semua klub memiliki website-nya. Apa saja parameternya akan diulas di paling bawah nanti. Tujuh diantara 18 klub ISL 2015 tidak memiliki website, yaitu Pelita Bandung Raya, Persiba Balikpapan, Bali United Pusam, Persela Lamongan, Perseru Serui, PSM Makassar, dan Gresik United. Sebagai catatan, penilaian saya ini melihat aspek-aspek berikut ini.



Berita
Kegunaan website bagi sebuah klub tentu berita terkini tentang aktivitas klubnya, baik yang bersifat kompetisi di lapangan maupun hal-hal lain yang bersifat interaktif dengan pengguna internet. Cukup membanggakan karena 9 dari 11 klub yang ber-website memiliki berita yang update. Ada yang mengulas aktivitas di pra-musim ini ada pula yang masing memasang berita di akhir tahun lalu. Namun agak menyesakkan karena Sriwijaya FC dan Persiram Raja Ampat masih belum memasang berita terbaru di website masing-masing. Khusus Sriwijaya, apakah grasak-grusuknya di transfer musim ini plu tren positif di SCM Cup kurang layak sebagai berita? Dan khusus Persiram, mengapa justru di website Liga Indonesia galeri aktivitas latihannya lebih lengkap dibanding di website Persiram?


Tim
Siapa lagi komponen utama sebuah klub jika bukan timnya alias para pemain yang menghuni klub. Penyajian profil pemain jelas memerlukan teknik khusus agar enak dipahami. Ada klub yang menuliskan apa adanya profil pemain tnapa penataan layout, ada pula yang lebih memanjakan pemain lewat tampilan yang elegan. Ini aspek ini sendiri patut ditinjau lagi 2-3 bulan ke depan untuk mengetahui tingkat mutakhir list pemain yang disajikan. Setidaknya hampir semua klub memajang foto dan profil pemainnya, baik musim lalu maupun menjelang musim paling gres ini.

 

Jadwal
Pertanyaan terbesar mengenai agenda klub tentu kapan pertandingannya. Maka, keberadaan jadwal pertandingan menjadi harga mati di sebuah website. Untuk parameter ini, seluruh 11 klub telah menayangkan jadwal terdekat yang akan dihadapi. Memang ada yang masih menghamparkan jadwal ISL musim lalu, ada pula yang lebih memilih menempel jadwal pertandingan pra-musimnya.

Sejarah
Kekayaan yang harus dibanggakan dari klub sepak bola di Indonesia adalah sejarah yang panjang dan berliku. Sebagai contoh, fenomena Persija Timur (Jakarta Timur), Putra Mahakam (Samarinda), Pelita Jaya (Jakarta Pusat), Niac Mitra (Surabaya), yang masing-masing kini bertajuk Sriwijaya FC (Palembang), Bali United Pusam (Denpasar), Pelita Bandung Raya (Kabupaten Bandung), dan Mitra Kukar (Kutai Kartanegara), jelas merupakan perjalanan yang panjang. Bahkan dari sisi kompetisi pun jelas betapa Perserikatan, Galatama, Ligina (dengna berbagia sponsornya), Indonesia Super League, Liga Primer Indonesia, Liga Nusantara, ah bakal kompleks cerita yang tersaji. Jangan lupakan dualisme yang sempat melanda Arema, Persebaya, dan Persija. Jelas sejarah pahit patut diingat sebagai peringatan ancaman perpecahan. Selain itu prestasi bersejarah klub juga banyak yang dilupakan. Seingat saya, hanya Persipura dan Persebaya yang manayangkan detail pencapaian tiap musimnya. Malah Sriwijaya FC yang mengklaim sebagai tim paling produktif piala juga luput dalam menayangkannya.

Galeri
Dengan aktivitas utama berupa pertandingan di lapangan maka jelas keberadaan file-file multimedia yang disusun rapi menjadi daya tarik yang penting, dan itulah galeri. Maka sudah jadi barang wajib tiap website klub sepak bola menghidangkan galeri pertandingan, atau bisa jug aaktivitas klub lain. Selain membuktika bahwa klub masih hidup, pendukung juga dapat memperoleh foto-foto resmi dari klub dengan kualitas yang bagus.

Manajemen
Kenapa harus ada manajemen? Sebagai klub profesional tentu kita perlu tahu siapa saja yang menjadi penggerak kebijakan klub. Selain itu profil manajemen merupakan penggambaran seberapa serius klub dalan menarik pihak sponsor.


Sponsor
Di era industri sepak bola, sponsor memegang peranan yang signifikan di dalam keberlangsungan sebuah klub. Nah, maka tidak heran space tertentu di sebuah website pun juga "diperdagangkan" kepada sponsor sebagai paket dari kerja samanya. Keuntungan bagi sponsor adalah penambahan pintu popularitas. Bagi klub? Tentu brand sebagai lembaga yang profesional akan didapat. Permasalahannya adalah jangankan memasang di website, deal kerja sama pun susahnya minta ampun. Padahal keberadaan website (tentunya yang didukung kecantikan desain dan tingkat visitor yang tinggi) merupakan paket yang menggiurkan bagi calon sponsor. Lebih dari itu, sponsor juga tidak sekedar numpang ditempel logonya, namun juga diperkenankan mengisi rubrik secara kreatif sehingga website makin hidup.


Kontak
Sepintas keberadaannya sederhana, tapi percayalah bahwa fungsionalitas kontak masih terlalu penting bagi sebuah website. Bagaimana penggemar baru ingin mendaftar sebagai anggota, bagaiamana calon investor ingin ikut berkontribusi, atau dari yang paling sederhana bagaimana seorang pengunjung internet harus menghubungi siapa jika ada pertanyaan. Intinya kebutuhan interaksi website masih memerlukan kontak.

Social Media
Kolaborasi social media dengan website juga merupakan tren yang tengah berkembang. Maka, eksistensi fitur social media pun harus diterapkan di sebuah website. Bisa berada di home sebagai link menuju alamat social media, dan bisa juga berupa share button yang terletak di tiap berita. Khusus website, keberadaannya akan memudahkan user untuk menyebarkan konten berita di sebuah website secara cepat.


Responsif
Mengingat pengguna mobile phone yang tinggi di Indonesia, maka tuntutan untuk menyediakan akses website yang bersifat responsive jelas menjadi kebutuhan. Sayangnya tidak semua klub sadar untuk mengakomodasinya.



Dari penilaian sederhana tersebutlah, akhirnya tampil klasmen di atas. Khusus berita, galeri, jadwal, dan tim mempunyai skala 2 dimana 0 berarti tidak ada, 1 berarti ada namun tidak update, dan 2 berarti kontennya update. Social media juga memiliki skala 2 dimana 0 berarti tidak ada, 1 berarti hanya ada social media di home, dan 2 berarti ada socia media di home plus share button di tiap berita. Sedangkan parameter lainnya masih mempunyai skala 1 dimana 1 berarti ada dan 0 berarti tidak ada.



Siapa saja 5 besarnya?
Selama bagi Persib Bandung, Arema Cronus, Persebaya Surabaya, Persipura Jayapura, dan Mitra Kukar. The best rising star patut disematkan pada Pusamania Borneo FC. Tentu klasmen ini akan saya updatebeberapa bulan ke depan dengna perluasan skala dan lingkup pengamatan.

Menghalau Murung

(Al-Mā'idah:105)
Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

ISL: Dari 2014 ke 2015 [1]

Review ISL 2015
Kompetisi yang melelahkan ISL musim menyisakan berbagai kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan.

  • Pertama kalinya ISL dihelat dengan format dua wilayah plus skema 8 besar.
  • Perjalanan menuju ISL 2014 sendiri sudah berlangsung sangat "panas". Dua kompetisi yang digabungkan yaitu ISL 2013 dan IPL 2013 mengalami pergolakan yang bertensi tinggi dan kontroversi terkait penentuan siapa yang layak berlaga di ISL 2014. Sebenarnya wacana penggabungan kompetisi IPL (saat itu masih bertajuk LPI 2011) dengan ISL 2011 sudah digulirkan sejak 2011 namun penggelumbungan jumlah peserta serta ketidaktransaparan sehingga membuat sebagian klub memboikot dan melanjutkan ISL versi mereka sendiri. Nah ketika kompetisi ISL 2013 mampu melahirkan Persipura diikuti 14 klub lainnya yang menghuni peringkat 1-15 serta LPI yang secara berantakan menghasilkan kompetisi penuh play-off (dan WO) dimana klub yang lolos pada akhirnya adalah Semen Padang, Persiba Bantul, Persijap Jepara, dan PSM Makassar. Di penghujung playoff, dua klub yang meraih pucuk klasmen, yaitu Pro Duta Lubuk Pakam dan Persepar Palangkaraya dieliminasi karena tidak lolos verifikasi. Sebagai catatan final LPI antara Pro Duta dengan Semen Padang sendiri tidak pernah terwujud karena jadwal yang terus mulur.
  • Tradisi tim non-Persipura yang berhasil juara di musim setelah tim Persipura juara.
  • Final Liga Indonesia/ISL yang dihelat di luar Senayan/Gelora Bung Karno dimana Gelora Sriwijaya Jakabaring menjadi stadion ketika yang menggelarnya setelah Stadion Klabat, Kota Manado (LI V 1999) dan Stadion Si Jalak Harupat (LI XII 2007/2008). Menariknya klub lokal penghuni ketiga stadion tersebut, Sriwijaya FC, Persma Manado, Persikab Bandung (Persib saat ini masih memakai Stadion Siliwangi) sedang terpuruk di kompetisi domestik.
  • Sebenarnya pemilihan venue final agak berat sebelah bagi Persib, mengapa? Kita tengok dari Persipura yang boleh jadi masih trauma dengan insiden  final Copa Indonesia 2009 serta sejak tahun 2007 menjalin rivalitas dengan Sriwijaya FC, penghuni stadion ini. Bagaimana dengan Persib? Hubungan dengan Sriwijaya FC bisa dibilang datar-datar saja, bahkan agak romantis mengingat beberap akali mereka "bertukar pemain". Selain itu sosok M. Ridwan, Supardi, Ahmad Jufriyanto, Firman Utina, Abdurrahman, dan Tantan merupakan (mantan) kesayangan publik Jakabaring karena pernah berkostum songket khas Sriwijaya FC, bandingkan dengan Persipura yang hanya punya Lim Jun Sik. Jangna-jangan faktor akrab dengan stadion ini pula yang menjadikan M. Ridwan sukses menceploskan gol di malam itu, Supardi dan Ahmad Jufriyanto sukses menjalan tugas segai algojo penalti, dan akhirnya Firman (bersama Atep) mengangkat trofi?
  • Keberhasilan Persib Bandung jaura ISL 2014 tentu mengingatkan pada keberhasilan Persib tahun 1994/1995 dimana ada persamaan diantara keduanya, yaitu juara di kompetisi gabungan, yaitu Perserikatan-Galatama sedangkan ISL 2014 merupakan merger dari ISL dengan IPL.
  • Menyaksikan komposisi 8 besar dimana Semen Padang sebagai pemegang tiket dari IPL dikeroyok 7 tim lain yang berasal dari ISL musim sebelumnya (plus Divisi Utama ISL), yaitu Pelita Bandung Raya, Persib, Mitra Kukar, Persebaya (tiket dari DU ISL), Persipura, Arema Cronus, dan Persela Lamongan. Artinya Semen Padang gagal mengikuti jejak Persib Bandung sebagai wakil Perserikatan satu-satunya dimana mampu mengangkangi 7 tim Galatama di babak 8 besar.
  • Masih seputar komposisi tim 8 besar yang sukses mempertemukan 8 tim dari 4 pulau, yaitu Sumatera (Semen Padang), Papua (Persipura), Kalimantan (Mitra Kukar) serta Jawa (klub lainnya). Kejadian yang sukses menyaingi babak 8 besar Ligina VI yang mampu meraup 4 pulau, yaitu Sumatera (PSMS Medan), Kalimantan (PKT Bontang), Sulawesi (PSM Makassar), dan Jawa (Persija, Persijatim, Pelita Solo, dan Persikota).
  • Djanur sebagai pelatih Persib menjadi insan sepak bola pertama "mengawinkan" gelar juara sebagai pelatih dengna gelar juara sebagai pemain
  • Derby Provinsi cukup marak di ISL kali ini, tercatat  Pelita Bandung Raya dengan Persib di Jawa Barat; Mitra Kutai Kartanegara, Persiba Balikpapan versus Putra Samarinda di Kalimantan Timur; Persipura Jayapura versus Perseru Serui di Papua; serta tentunya pergulatan Jawa Timur yang terbagi menjadi wilayah Barat antara Arema Cronus, Gresik United, dan Persik Kediri lalu wilayah Timur antara Persebaya Surabaya, Persela Lamongan, Persepam MU.
  • Rivalitas Persija dengan Persib ternyata masih berani dihadapi oleh kepolisian dibandingkan dengan Persebaya versus Arema, bahkan sejujurnya permasalahan bukan menyangkut empat tim itu melainkan suporternya. Maka jangna heran Persija dan Persib masih satu grup di wilayah Barat tapi Persebaya dipisahwilayahkan.
  • Sosok yang patut disorot di dalam kompetisi ini salah satunya adalah Bambang Pamungkas, legenda Persija yang membela Pelita Bandung Raya di ISL 2014 ini. 3 dari 9 golnya dilesakkan ke gawan Persija dimana pada perolehan akhir Persija sukses dilompati Pelita Bandung Raya di wilayah Barat. Belum cukup di situ, Bambang Pamungkas juga turut andil sebagai pencetak gol bunuh diri yang menjadi milik Persib, rival Persija, di babak 8 besar.


Tentang Hujan, Banjir, dan Lingkungan

Disarikan dari Kajian Ahad Pagi tentang Ilmu Bumi di Masjid Ukhuwah Islamiyah 

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit); dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami). Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya. Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur; di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebahagian dari buah-buahan itu kamu makan, dan pohon kayu keluar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan pemakan makanan bagi orang-orang yang makan. Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan, dan di atas punggung binatang-binatang ternak itu dan (juga) di atas perahu-perahu kamu diangkut. (Al Mu'minun:17-22)
Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa penciptaan semesta meliputi berbagai hal/objek, yaitu langit, bumi dimana tersedia di dalamnya tanaman, air, ternak. Secara khusus dijelaskan pula bahwa penciptaan (penurunan) air berdasarkan suatu ukuran dan terlokasi sebagaimana perintah Allah.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Al Imran:190-191)
Sedangkan di ayat-ayat ini, dijelaskan bahwa kebesaran Allah meliputi penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam.

Dengan demikian, patut disadari bahwa keberadaan hujan (proses diturunkannya air ke bumi di saat-saat tertentu) merupakan rahmat Allah sekaligus kebesarannya. Kita tentu memahami siklus air dari hujan, meresap ke tanah, lalu mengalir di bawah dan di permukaan bumi menuju ke laut, lantas menguap dan menjadi awan sehingga jadilah sumber hujan, begitulah siklus itu berlangsung. Lantas bagaimana bisa terjadi bencana alam yang secara fisik dikarenakan hujan dan jumlah air yang berlebihan?

Hal tersebut dikarenakan adanya berbagai perilaku yang menyebabkan penyimpangan terhadap lingkungan (isu lingkungan) pada area-area yang menjadi aliran siklus tersebut. Perilaku tersebut antara lain pengrusakan, alih fungsi, pembangunan rumah dan jalanan di daerah resapan, serta kurangnya kemampuan pemerintah dalam mengatur dan mengawasi pemanfaatan lingkungan.

Solusi yang perlu dilakukan

  • Perbanyak bertaubat pada Allah
  • Memperbaiki kerusakan yang telah terjadi
  • Mengembalikan fungsi daerah-daerah resapan
  • Mengisi pemerintahan dengan kebijakan-kebijakan yang peduli lingkungan dan baik dalam pengawasannya
  • Memperbaiki perilaku dan kesadaran masyarakat


Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.(Al A'raf:56)

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?".(Al Mulk:30)

wallahualam ^^

Keberanian yang Terencana

Era saat ini dimana pemikiran Eropa menjadi poros tentu perayaan tahun baru dianggap hal yang sangat wajar. Saking latahnya, terkadang masyarakat Indonesia pun sudah mulai menjadikan perayaan tahun baru sebagai ritual yang wajib dimeriahkan dengan berbagai agenda. Tiup terompet dengan berbagai pletak-pletuk mercon merupakan rutinitas yang jika kita tidak ikut malah dianggap nggak gahol. Setidaknya pengalaman merantau di Jakarta dan Bandung membuktikan hal tersebut. Bahkan pernah suatu ketika saya yang kebetulan sedang di pinggir Kota Bandung malah menyaksikan Kota Bandung nampak berawan persis di detik-detik pergantian tahun baru. Awan ini bukan awan yang menumpahkan hujan, namun setumpuk asap hasil ledakan mercon.

Nah, iseng-iseng membaca berbagai berita malah nemu beberapa artikel menarik tentang instruksi untuk meniadakan segala hal yang berkaitan dengan selebrasi tahun baru di Kota Banda Aceh. Jelas fenomena yang janggal jika dibandingkan dengan berbagai kota besar lain di Indonesia. Namun jika saya ingat-ingat belum pernah mendengar liputan di televisi mengenai perayaan tahun baru di Banda Aceh. Biasanya di televisi saat memasuki jam 10 malam WIB akan ada liputan detik-detik tahun baru di daerah WIT yang sudah memasuki jam 12 malam WIT seperti di Jayapura. Kemudian ketika jam 11 malam WIB maka giliran daerah WITA yang telah memasuki jam 12 malam WITA bergiliran diliput, terutama pusat keramaian di Pulau Bali. Sedangkan ketika menjelang jam 12 malam WIB maka liputannya tentu Jakarta, kalaupun ada liputan kota lain maka tentunya Bandung. Tidak pernah mendengar liputan mengenai semarak tahun baru di daerah Sumatera, khususnya Banda Aceh.

Ternyata memang penerapan syariah yang konsisten juga diwujudkan dengan meniadakan perayaan tahun baru mashehi. Lho bisa ya emangnya? Bagaimana caranya? Jujur saja ketika membaca artikel-artikel berikut ini agak sulit membayangkannya dan memang kesulitan itu karena terbiasa hidup di Jakarta dan Bandung yang sudah terinvasi kultur kebaratan.



Bagi masyarakat Aceh, hal tersebut mampu dijalankan karena kerja sama antarpihak yang sudah sepemahaman dan juga budaya Islam yang sudah terbangun dari lama. Aturan meniadakan selebrasi tahun baru jelas sulit diwujudkan jika dilakukan secara tiba-tiba dan tidak didukung lingkungan. Yups, lingkungan yang religi dimana (menurut cerita dari beberapa teman asal Aceh) tidak ada diskotik, bar, dan sejenisnya, bahkan bioskop pun sudah punah. Interaksi antarjenis pun cenderung dibatasi untuk menghindari fitnah dan khalwat.

Artinya komitmen untuk menerapkan suatu kebijakan akan lebih bisa diterima masyarakat jika direncanakan sejak lama dan didukung lingkungan yang budayanya seirama. Salut dengan keberanian yang terencana ini. :)