ConGratduation Feb'16

Blogger Tricks

:)

Semoga Allah melindungi kami sekeluarga menggapai izin-Mu menjemput tiket ke surga

Review Ketika Mas Gagah Pergi

Sebuah film yang kental dengan darah muda semakin mewarnai belantika industri film tanah air. Tidak melulu tidak cinta yang identik antara hubungan laki-laki dengan perempuan, namun lebih luas berupa kepedulian sosial. Film ini bertajuk "Ketika Mas Gagah Pergi", judul yang menggusung nama yang Indonesia banget. Sempat ada percandaan "kalau ampe pas nonton tiketnya abis, beuhh gokil juga orang pergi bisa ampe sold out filmnya, gimana kalo orangnya balik lagi".

Titik cerita film ini terletak pada konflik internal di sebuah keluarga lantaran salah seorang diantaranya kurang disukai cara berpikirnya tentang Islam. Sosok abang yang menemukan "jalan baru" ditentang oleh sang adik yang tidak nyaman dengan perubahan si kakak. Si abang sendiri menemukan "jalan" tersebut setelah melalui sebuah perjalanan ke Ternate. Seperti apa perjalanan di Ternate itu sendiri hanya diulas sepintas dan akan didetailkan di sekuelnya. Yang pasti, kalo betulan syutingnya di Ternate, kenapa nggak ketemu saya ya? Oh mungkin syutingnya pake mobil, bukan jalan kaki. Kembali ke topik, ada beberapa hal menarik yang menjadi pelajaran bagi kita semua dari film ini (bukan spoiler lho y).

Posisi ibu dalam menangani konflik kakak vs adik
Entah kenapa saya justru lebih termenung dengan sosok ibu (sekaligus ayah) yang berupaya meredam konflik antara si kakak dengan adiknya. Ketegaran sebagai single parent ternyata tidak serta merta memaksa dia tegar 100%. Dia berupaya sebisa mungkin menutupi kerapuhan yang sempat terjadi. Mungkin karena bukan sentral permainan, tidak terlalu banyak adegan yang menjelaskan secara dalam bagaimana si ibu itu menangani konflik yang terjadi. Ini akan jadi nilai moral tersendiri menurut saya.

Membantu ayah di "dalam" vs berkarya di "luar"
Ini juga konflik yang menarik walau tidak terlalu "terang" asal muasalnya bagaimana. Di sini ceritakan seorang ayah yang kecewa lantaran anaknya lebih memilih berkarya di luar daripada membantu organisasi perusahaan ayahnya. Watak keras sang ayah beradu hantam dengan pendirian keras si anak. Hanya memang, sejauh ini si anak lebih memilih mengiyakan instruksi ayahnya dalam lisan, namun masih curi-curi waktu untuk melanjutkan karyanya di luar. Sebuah cara yang sebetulnya terkesan mengulur konflik, namun ini menjadi "simpul" yang menjadi daya tarik bagi kita untuk melanjutkannya di bagian sekuel.

Sebuah fenomena dalam mengubah diri
Paradoks kerap meliputi kita yang berupaya untuk memperbaiki diri bisa saja hadir dari orang terdekat kita, entah itu suami/istri, orang tua, saudara, atau bahkan teman dekat. Akan sangat mungkin muncul ketidaksetujuan yang mempertaruhkan ikatan kekeluargaan. Tak jarang seorang yang ilmu agamanya semakin mumpuni dan kerap menyeru kebaikan justru mendapati keluarga terdekatnya menolaknya, padahal di saat bersamaan orang-orang lain (yang tidak ada hubungan keluarga) justru menerima seruan tersebut. Barangkali ini pelajaran paling inti dari film ini, yaitu kesabaran dan kesadaran untuk sombong walau telah sukses "hijrah".

Review Kajian Tauhid BI 25/1

Sedikit catatan dari Kajian Tauhid di Masjid BI akhir bulan lalu, semoga bisa menjadi pengingat untuk membenahi diri. Dalam kajian ini, tema yang diulas tidak terlalu luas, justru fokus namun mendalam, yaitu tentang menundukkan diri kepada Allah. Sebuah kalimat di awal kajian ini sangat memberi tamparan tentang cara berpikir kita dalam menghadapi masalah. Kalimat tersebut adalah "kita tidak dirancang untuk menyelesaikan masalah tanpa Allah". Ya memang tepat ungkapan tersebut. Allah SWT itu Maha Penolong, hanya saja ego kita yang terlampau sombong hingga kerap lupa (atau bahkan sengaja) tidak mengharap bantuan-Nya dalam menghadapi masalah. Kita malah lebih asyik dengan pendirian kita tanpa melibatkan doa-doa mengharapkan solusi dari Allah SWT. Prasangka baik kepada Allah pun kerap alfa dari benak kita.

Sebuah doa dari Nabi Yunus as menjadi inti pembelajaran pada kajian ini, yaitu sebuah doa yang dipanjatkannya saat mengalami ujian yang luar biasa hebatnya. Ujian tersebut berawal dari kekecewaan beliau lantaran umatnya yang sulit untuk didakwahi, lantas dia meninggalkan kaumnya hingga di tengah lautan dia "terpilih" untuk menceburkan diri ke laut agar kapal yang ditungganginya tidak karam. Di tengah laut Nabi Yunus as ditelah seekor paus. Pada momen di dalam perut ikan paus inilah Nabi Yunus memanjatkan sebuah doa yang kemudian dituangkan pada Al Qur'an pada Surat Al Anbiya 87 s.d. 88
"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap" 'Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim'. 
Maka kami perkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkanya orang-orang yang beriman"

Doa ini memiliki tiga bagian yang merupakan rangkaian kesadaran diri akan kebesaran Allah SWT sebagai pencipta
1. Mengakui kelemahan diri atau bisa disebut pula sebagai kepasrahan atas kehendak Allah SWT
2. Khusnudzon kepada Allah yang akan selalu ada untuk menguatkan kita
3. Pengakuan, yaitu introspeksi atas kesalahan diri

Akhir dari kajian ini, sebuah pesan menjadi bekal untuk menjalankan hidup (yang kerap kita sebut rumit karena cara pandang kita sendiri).
Apabila dirundung masalah, jadikan sholat dan sabar sebagai pelindung, sehingga dapat dibedakan antara menangisi masalah dengan menangisi penyebab masalah.

Dari Janin pun Sudah Menjadi Ujian

Ada yang banyak berubah, baik tampak maupun tidak tampak, dalam menjalani pernikahan ini sejak mengetahui istri alhamdulillah dianugerahi kehamilan. Sebuah siklus kehidupan yang patutdilaluo dalam lajur yang halal dan penuh tanggunh jawab. Aku masih banyak perlu belajar menjadi calon ayah. Ya, bahkan dalam status calon ayah pun aku wajib membuka keran atas berbagai saran dan masukan yang muaranya ada pada perbaikan diri. Salah satu yang aku pelajariadalah si janin ini sudah memegang peran sebagai ujian.

Ujian bukan bermakna negatif. Justru peran ujian yang dijalankannya mengandung makna berharga, yang jika mampu dilewati maka kami akan meeroleh kesempatan yang lebih lebar menuju surga. Sungguh, aku ingin memainkan peran sebagai "yang diuji" ini dengan penih keikhlasan dan ikhtiar.

Pertama tentu soal manajemen waktu. Aktivitas saat sebelum istri hamil tentu berbeda setelah hamil. Di situkita diuji bagaimana mengelola waktu dengan memilih dan memilah prioritas waktu. Apakah realitasnya kita masih menempatkan Allah sebagai pangkal dari semua niat?

Kedua soal memadukan rencana masa depan si anak versi ayah, versi ibu, bahkan versi keluarga besar. Semua punya gagasan yang didasari bahwa milik mereka lah yang lebih baik. Sebagai ayah, saya diuji untuk memadukan segala ragam masukan tersebut. Memadukan bukan berarti menyeragamkan, bukan pula menjalanannya berselang-seling tanpa alasan jelas.

Aku menikmati ujian ini, semoga Allah menguatkan ibadah ini

S2 Nggak Cukup Gelar

Pasca menjalani perkuliahan S2, saya menemukan banyak hal yang mendorong saya berpikir secara lugas tentang sebuah keniscayaan. Keniscayaan bahwa lulus S2, hanya ada dua warisan yang akan dapatkan. Yang pertama sudah barang tentu adalah gelar M.XYZ. alias gelar magister di bidang tertentu. Gelar ini dalam konteks lingkungan akademik dan profesi menjadi sebuah kebanggaan yang berhak dicantumkan (kecuali dokter yang dalam konteks lingkungan apapun wajib mencantumkan "dr."-nya karena itu amanat profesi mereka). Hanya kejadian luar biasa (dan dikategorikan aib) yaitu diskualifikasi dan pencabutan gelar karena plagiarism ataupun pelanggaran kode etik, yang membuat kita harus menanggalkan gelar magister kita. Warisan kedua belum tentu kita dapatkan, bahkan jika bisa didapatkan pun, tidak otomatis 100%. Warisan ini adalah cara berpikir.

Mengapa tidak saya sertakan ilmu sebagai warisan. Karena ilmu yang dipelajari di jenjang pendidikan, khususnya bidang komputer, sangat dinamis. 8 tahun lalu, saya belajar berdarah-darah tentang programming di awal S1, namun nyatanya, sekarang menjelang lulus S1 (3 tahun lalu) terlalu banyak anak SMK yang mampu memainkan codingan melejit dan melebihi saya. Begitu pula saat awal kerja justru beajar ngoding dari seorang mahasiswa FEB di sebuah perguruan tinggi. Ilmu komputer sudah banyak tersedia materinya di internet. Karena itulah, bukan tidak mungkin slide kuliah S1, bahkan S2 saya, terlalu jadul untuk beberapa tahun mendatang.

S2 adalah cerminan sebuah cara berpikir. Berpikir mengenai bagaimana memecahkan masalah dengan mengedepankan kerendahan hati dalam berintelektual.

S2 adalah cerminan sebuah sikap yang terus kelaparan. Kelaparan atas kepenasaran diri menggali ilmu lebih dan lebih dalam.

S2 adalah cerminan bersikap kritis. Kritis untuk menelusuri sebab dan akibat, bukan sekedar menyajikan grafik dan angka.

Gelar nggak cukup digunakan sebagai "fitur" untuk "menjual" diri di dunia industri. Perlu pembuktian bahwa kita memiliki cara berpikir yang semakin tinggi kritisnya, namun semakin rendah hatinya. Tidak bisa kita mengandalkan pengalaman-pengalaman sewaktu bangku kuliah S2. Pengalaman ber-S2 telah menuntut kita mengamalkan ayat-ayat dari Surat Al-Alaq "bacalah". Sebuah perintah bagi kita untuk terus dan terus menyediakan waktu secara rutin dan konsisten untuk belajar belajar dan belajar.

Saturday Happy Saturday

Jangan Kalah dengan Fauna

Fauna, satwa, hewan, hingga binatang. Semuanya mengacu ke kingdom Animalia yang sangat ilmiah banget bahasanya dalam konteks sains. Namun saya lebih suka menyebut "fauna" karena kesannya yang halus. Cocok untuk cerita singkat yang terinspirasi (kebetulan lagi-lagi) dari Ust. Salim A. Fillah pada MJN Sabtu (23/1) lalu. Tentang beberapa fauna yang mampu menorehkan "prestasi' berupa di-mention dalam Al Qur'an, sebuah kitab suci yang sangat sucinya sampai-sampai hingga saat ini penyimpangan redaksional pun dapat diidentifikasi. Prestasi tersebut, (jika mengacu istilah Twitter, social media yang juga berlogo sebuah fauna) bukan di-mention biasa. Apa yang mereka ucapkan telah di-RT sebagai pelajaran yang berharga bagi manusia, sebuah insan yang dikatakan sebagai sebaik-baiknya makhluk ciptaan Allah.

Semut di era Nabi Sulaiman as, burung hudhud juga di era Nabi Sulaiman as, serta anjing di era Ashabul Kahfi, apa yang mereka lakukan menjadi sesuatu yang spesial sehingga tertuang di dalam Al Qur'an. Ingatkah cerita semut yang saling berlarian ketika akan ada manusia yang lewat. Lantas ada diantara mereka yang saling mengingatkan satu sama lain. Peristiwa ini menjadi isi dari Surat An-Nahl. Sebuah contoh kepedulian sesama spesies yang memberi pelajaran bagi manusia, spesies yang selama berabad-abad telah saling menghabisi. Pelajaran yang berharga dari semut yang sebetulnya kita pun tidak tahu apakah mereka nantinya akan menjalani alam kubur hingga nantinya ditempatkan diantara surga ataukah neraka. Terlepas dari ketidaktahuan tersebut, maka cobalah kita berkaca betapa kita yang sudah dijanjikan "prosedur" pasca-meninggal itu bagaimana.

Ingatkah perjalanan seekor burung hudhud yang melintasi jarak yang sangaaaaat panjang hanya untuk emnyampaikan amanat dari Nabi Sulaimana kepada Ratu Balqis, penguasa sebuah negeri yang makmur luar biasa namun menyembah matahari. Sedemikian dahsyatnya burung hudhud memegang teguh amanatnya untuk menyeru pada kebaikan walau sebetulnya negara yang menjadi sasaran dakwah Nabi Sulaiman tersebut sudah makmur, tidak ada penderitaan secara langsung. Namun sekali lagi, kita patut malu. Malu saat kita terlalu asyik menggenggam keyakinan kita tanpa mengajarkannya kepada sesama.

Terakhir seekor anjing, fauna yang konon liurnya tergolong najis berat. Tapi kok bisa-bisanya dia menjadi salah satu makhluk yang disanjung atas perjalanan hebatnya bersama para majikannya untuk mempertahankan diri dari serangan orang-orang yang berbuat kemunkaran. Di sini kita pantas untuk terlecut atas fenomena tertindasnya umat Islam, saudara seiman kita, yang nyatanya terlalu kecik niat kita untuk sekedar peduli.

Semoga bermanfaat.

Bersabar di Lingkungan yang Gusar

Ini merupakan cuplikan kisah seorang Rasul yang diulas olrh Ustadz Salim A. Fillah di MJN, Sabtu 23 Jan lalu. Rasul ini barangkali lebih identik dengan ketampanannya daripada kesabarannya, bahkan kita lebih mengenal kesabaran Nabi Syu'aib as dan pula Nabi Muhammad saw. Kebetulankisah kesabarannya sangat gamblang dimuat dalam Al Qur'an secara detail, termasuk perkataan orang-orang di sekitarnya yang mengiringi kiprah keteladanan beliau. Beliau adalah Nabi Yusuf as. Rasul yang juga putra dari seorang Rasul lainnya, Nabi Yakub as.

Banyak lika-liku hidup beliau yang jika diperhatikan sebetulnya jamak terjadi di pada era saat ini. Hanya saja jika kita memadankannya istilah berbahasa Inggris lah, baru kita berbugam "iya juga ya". Bahkan cobaan-cobaan beliau sifatnya kompilasi yang sebetulnya jauh lebih menarik daripada keelokan paras beliau.

Sibling rivalry, istilah ini mengacu pada persaingan antarsaudara di berbagai aspek. Kisah Qabil dan Habil tentu menjadi contoh paling kentara. Era saat fenomena tersebut banyak terjadi, khususnya menyangkut perebutan kasih sayang orang tua dan harta. Nabi Yusuf as saat kecil hasil berhadapan dengan rasa iri dan dengki dari sebagian saudara-saudaranya. Bahkan dia "dijebloskan" ke sebuah lubang yang gelap dan sempit. Jelas wujud "bullying" yang rentan terhadap rasa trauma mendalam. Istilah bullying tentu tidak terlalu asing di era saat ini.

Setelah ditemukan oleh kaum musafir, dia dijadikan statusnya sebagai budak dan kemudian diperjualbelikan. Sebuah tindak kriminal yang pada hari ini kerap dilabeli "human trafficking". Sejauh ini kita patut mencermati mental Sang Nabi yang tidak lantas ikut serta terjerembab di dunia kriminal tersebut. Contoh yang patut diteladani mengingat pelaku kriminal saat ini ternyata banyak dijumpai memiliki status "korban" kasus kriminal di masa lalu. Yes, they've chosen the "dark side".

Masa perbudakan akhirnya mempertemukan Nabi Yusuf ke ujian yang paling didetailkan dalam Al Qur'an. Rayuan si istri majikan menempatkan Nabi Yusuf sebagai korban "se*sensor* abusement". Ternyata itu bukan klimaksnya, beliau lantas didudukkan sebagai pelaku dalam insiden tersebut, bukan korban. Fitnah yang tidak terlalu asing kita lihat kemiripannya di era saat ini. Bahkan ketampanannya malah dipertontonkan oleh si istri majikan di kawan-kawan dekatnya. "Physical exploitation" jika kita mencari padanan istilah di hari ini.  Sederet peristiwa lantas menghigapi beliau di penjara hingga akhirnya melesat karirnya sebagai salah seorang "birokrat" ulung di negeri tersebut, apalagi pasca gagasannya menanggulangi bencana kekeringan.

Terus terang, bagian melejitnya karier beliau menghadirkan sebuah renungan. Berbagai kisah inspirasi orang sukses, termasuk di Indonesia, selaku menempatkan kekurangan ekonomi sebagai "nilai jual" si tokoh yang kemudian sukses. Belum saya temukan (cmiiw) buku yang mengulas sosok yang terlumuri kenaasan sebagai korban pelanggaran HAM, dimana si tokoh mampu mempertahankan keimanannya, dan lebih jauh lagi tidak mendendam kesumat pada orang yang menjadi pangkal berbagai penderitaan yang menjajahnya.

Kesabaran beliau, dikombinasikan dengan iman dan senantiasa berprasangka baik Allah, itulah formulanya.

Naga Tundukkan Kabau, plus Singo, Macan, dkk

Turnamen tingkat nasional kembali dihelat di bumi Indonesia ini. Sebuah oase temporer yang menyejukkan insan sepak bola, walau emmang hanya untuk sementara. Di tengah badai kerontangnya ekosistem sepak bola Indonesia, dua klub di luar Pulau Jawa membuktikan kepiawaiannya untuk tampil "mengejutkan" di turnamen bertitel Piala Jenderal Sudirman 2015 (harusnya juga "2016"). Klub asal Sumatera Barat, Semen Padang berjibaku melawan Mitra Kukar, klub asal Kutai Kartanegara. Keduanya tercatat sebagai klub kedua dan ketiga yang emnginjakkan kakinya di Stadion Utama Gelora Bung Karno setelah Persib Bandung dan Sriwijaya FC, terhitung sejak pemblokiran PSSI oleh Kemenpora.

Sumber: Republika


Sangat spesial memang menilik status dan sejarah kedua tim yang bukanlah klub berbasis prestasi mentereng di Indonesia, tentu bila dibandingkan dengan Persis Solo, Persija Jakarta, Persib Bandung, Arema Cronus, hingga Sriwijaya FC dan Persipura Jayapura. Namun, kedua tim ini mampu menjadi kekuatna tersendiri yang menumbangkan dominasi klub-klub yang lebih mapan dari sisi finansial dan sokongan pemerintah. Bicara sejarah, tentu ini final yang menarik karena pertama kalinya sebuah turnamen mampu menyuguhkan final sesama "alumni" Galatama. Semen Padang adalah jebolan Galatama yang sempat terjerembab di kasta kedua Liga Indonesia sejak bergulir ISL. Saat pecah kongsi di PSSI yang menyebabkan rivalitas ISL vs IPL, Semen Padang "patuh" pada PSSI untuk berlaga di IPL. Torehan juara IPL 2012, runner up Piala Indonesia 2012, Charity Shield 2012, plus berlaga di Piala AFC membuat nama mereka mentereng dan saling berlomba dalam kejayaan dengan Sriwijaya FC. Sebagai catatan, sisa ke-Galatama-an mereka masih membekas berupa tata kelola yang mandiri menjadikan mereka jauh dari isu telat gaji. Mitra Kukar? Barangkali arek-arek Suroboyo sudah banyak yang lupa bahwa klub ini adalah jebolan Kota Pahlawan tersebut. Niac Mitra, yang kemudian berganti "plang" menjadi Mitra Surabaya sempat menantang Arsenal plus menguasai Galatama. Mereka lantas terjerembab hutang dan dilego ke beberapa apihak hingga Pemkab Kukar mengakuisisinya. Prestasi terbaik Mitra Kukar adalah peringkat 3 ISL 2011. Sejarah heroik memang. Konsep final ini juga menjadi yang ketiga kalinya mempertemukan dua klub di luar Pulau Jawa, tentu jika dibandingkan dengan kompetisi nasional ataupun Liga Indonesia (PSM vs PKT dan SFC vs PSMS).
Sumber: antara

Dan final semalam melahirkan penguasa baru di kancah sepak bola Indonesia asal Benua Etam, yaitu Mitra Kukar. Sang Naga Mekes berhasil menaklukan Kabau Sirah diiringi hujan riuh di GBK. Kedua tim mepertontonkan semangat menggebu dengan kesamaan yang sangat membangakan. Kesamaan yang membanggakan ini adalah: dominasi pemain muda, ketergantungan pemain asing masih taraf wajar, dan komposisi pemain yang telah bertahan sekian waktu.