Cuplikan Kajian Tauhid @BI

Berikut ini rangkuman singkat dari kajian tauhid yang diselenggarakan MM Baitul Ihsan dan Daarut Tauhid Jakarta 25 Juli 2016 lalu. Kajian ini dipimpin oleh Ust. Shoffar Mawardi dan Ustad Edi Abu Marwa. 

Ampunan Allah tidak diketahui secara persis wujudnya, namun ada tanda-tanda yang mengindikasikan apakah seseorang diliputi ampunan Allah atau tidak.

  • Tidak putus asa meraih rahmat ampunan Allah SWT, disampaikan pada surat Az Zumar ayat 53 sebagai berikut

“Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'“


  • Tidak putus asa meraih rahmat pertolongan Allah SWT, salah satu bukti pertolongan Allah dapat disimak pada surat Al Imron 140 yang menceritakan bagaiamana Allah menjanjikan pertolongan bagi kaum muslimin dalam peperangan

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim“
Syarat pertolongan Allah dipaparkan dalam surat Muhammad ayat 7
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.“


  • Memiliki cita-cita tinggi dan mulia

Blogger Tricks

Ada yang Baru di Kurikulum MTI UI 2016

Perubahan merupakan sebuah kemutlakan yang pasti terjadi pada apapun yang manusia ciptakan. Begitu pula yang terjadi pada tatanan mata kuliah sebagai bagian dari kurikulum di program Magister Teknologi Informasi atau MTI, Fasilkom UI. Saya kurang tahu persis siklus pergantian kurikulum. Sebagai perbandingan, di IT Telkom s/k Universitas Telkom dijalankan siklus evaluasi dan pengubahan kurikulum tiap 4 tahun.

Sebagai gambara umum, MTI merupakan program magister yang sifatnya terapan dengan area keilmuan pada industri TIK. Ruang lingkup TIK di sini menjangkau information technology dan information system sebagai dominator serta software engineering dan computer science sebagai unsur minoritasnya. Dari karakteristik tersebut, sudah terlihat bahwa MTI dituntut responsif terhadap perkembangan TERKINI pada industri TIK. Sifat terapan mengharuskan kurikulum di MTI harus relevan dengan apa yang terjadi di luar kampus. Jenjang magister yang sifatnya spesialisasi juga mendorong relevansi yang tinggi. Apa yang 'dianggap' cocok diajarkan 3-4 tahun yang lalu barangkali sudah 'expired'. Alhasil para pejabat dan tenaga pengajar harus pandai mengolah dinamisnya industri TIK dan mengonversinya ke dalam kurikulum di MTI. Beruntungnya di MTI ini, pejabat dan tenaga pengajar kerap terlibat dengan proyek-proyek TIK yang mberdampak positif pada tingkat 'kegahoolan' mereka atas perkembangan teknologi serta kebutuhan industri yang dinamis. Faktor lain yang turut menguntungkan adalah latar belakang para mahasiswa yang notabene karyawan ataupun pejabat dari berbagai bentuk organisasi, baik yang pemerintahan maupun swasta. Faktor ini menyebabkan antara tenaga pengajar, termasuk juga dosen pembimbing dan penguji karya akhir, dengan mahasiswa dapat interaktif membagi pengetahuan tentang dinamisnya industri TIK.

Untuk kurikulum 2016 ini, MTI menetapkan 9 mata kuliah wajib, termasuk karya akhir. Kesembilan mata kuliah tersebut adalah Infrastruktur TI (gabungan Jaringan Komputer dan Komunikasi Data serta Perancangan Infrastruktur TI), Analisis Kebutuhan & Perancangan SI (d/h Perancangan SI), Manajemen Data (d/h Teknologi Sistem Basisdata), Sistem-Sistem Perusahaan (baru, apa ini penjelmaan dari Arsitektur Perusahaan alias Enterprise Architecture), Metodologi Penelitian & Penulisan Ilmiah (masih harus dilestarikan ini), Manajemen Perubahan & Proyek TI 3
IT Change & Project Management (masih), Manajemen Strategis SI (d/h Perencanaan Strategis SI), Dinamika Tim Perangkat Lunak (d/h Proses dan Manajemen RPL),
Strategi & Manajemen Informasi Korporat (d/h Manajemen Informasi Korporat), dan Karya Akhir (naaah ini diaaa). Bisa dibilang, situasi di 8 mata kuliah (di luar karya akhir) tidak terlalu banyak perubahan selain merger JKKD dengan PITI serta mata kuliah baru SSP. Tentu perubahan nama sifatnya hanya kemasan, bagaimana dengna substansi, itu akan jadi ulasan menarik. Saya tidak tahu sesignifikan apa pengubahan di ranah substansi hehee.

Untuk mata kuliah pilihan, di sini terjadi perubahan yang cukup signifikan. Jika sebelumnya terpapar 4 peminatan, yaitu Rekayasa Perangkat Lunak, Sistem Enterprise
Tata Kelola, dan Manajemen Informasi. Bisa dibilang, peminatan RPL menjadi yang paling kurang laku lantaran selalu kalah kuota sehingga ditiadaka mata kuliahnya, sedangkan peminatan tata kelola kerap menjadi top-scorer dengan eksistensinya yang paling banyak dieksplorasi untuk kebutuhan kerja tiap karyawaran, termasuk saat menggarap topik karya akhir. Bagaimana dengan klasifikasi peminatan di kurikulum 2016 ini/ Masih dengan 4 peminatan, mereka adalah Solusi Perangkat Lunak Perusahaan, Aplikasi TI Strategis, Tata Kelola, serta Analitika Bisnis. Alhasil, beberapa mata kuliah baru pun menyeruak ke SIAK mulai semester ini, misalnya Kesehatan Elektronik, Perdagangan Elektronik (d/h Bisnis Elektronik), dan Analitika Media Sosial dan Digital. Berikut ini hamparan detail mata kuliah di tiap peminatan. Yang menarik mata kuliah pilihan di peminatan Tata Kelola paling panyak stoknya dengan 4 mata kuliah, yaitu Tata Kelola TI, Manajemen Investasi TI, Manajemen Risiko TI, dan Keamanan Informasi. Saya penasaran apakah mungkin keempat-empatnya digelar sekaligus megingat peminatny selalu 'sold-out'.



Yang pasti, saya optimis bahwa penyusunan ini sudah mengakomodasi berbagai kebutuhan yang ada semaksimal mungkin. Termasuk konversi mata kuliah bisnis elektronis menjadi perdagangan elektronik. Sudut pandang sebagai mahasiwa yang pernah ngambil serta asisten dosen semester lalu, saya melihat  pengembangan industri TIK di Indonesia memang lebih menyita atensi dan potensinya di hal-hal yang bersifat komersial. Perilaku konsumtif yang tinggi menjadikan perdagangan elektronik jauh lebih menggiurkan daripada bisnis elektronik yang sifatnya non-komersil. Hehee

Best Jersey 2016/2017

Berikut ini 10 jersey pilihan untuk musim 2016/2017. Tentu ada yang setuju ada yang tidak. Hehee


FC Barcelona away
Warna ungu menjadi keelokan tersendiri dengan aksen garis merah jambu. Paduan yang memberi kesan anggun tapi tetap terasa macho. Memang pola jersey ini 'template' dari Nike, tapi Barcelona beruntung karena paduan warna mereka tidak terlalu menunjukkan template tersebut.

Girondins Bordeaux third
Sangat gahoool. Bayang-bayang suasana Bordeaux tergambar di sini dengan sangat mencolok, apalagi salah warna yang dipilih adalah merah jambu. Kekurangannya hanya satu, tidak digambarkan suasana sepak bola di kota Bordeaux.

Lille third
Sangat berani memilih biru dongker dan kuning pastel sebagai warna jersey ketiga. Seharusnya desainnya biasa saja. Tapi berisan garis biru, yang lebih terang, membentuk siku asimetris sangat memancing perhatian. Sederhana, namun sangat nyaman dipandang.

Atalanta BC home
Kembali klub ini mengumbar motif khas belang-belang vertikal biru versus hitam. Tapi untuk jersey ini mereka memainkan efek gradasi dimana bagian atas dikuasai hitam, sedangkan bagian bawah didominasi biru. Jersey ini makin rapi lantaran warna tulisan sponsor putih. Penempatan logo di tegah menjadikan orang justru melirik logo sehingga bisa langsung mengenali ini adalah jersey Atalanta, alih-alih klub dengan warna serupa di Serie A.

Ajax Amsterdam away
Ciri khas kota Amsterdam dipaparkan jelas lewat ikon tiga logo silang. Uniknya, ikon tersebut tidak digambarkan dalam wujud warna yang solid, melainkan diberi efek grafiti. Paduan warna biru muda di logo Ajax, aksen trio-garis khas Adidas dan logo sponsor merupakan warna yang pas. Salut.



Sampdoria away
Entah dari tahun berapa jersey Sampdoria, baik kandang, tandang, hingga ketiga, dihinggapi rentetan garis horisontal biru-putih-merah-hitam-putih-biru. Yang pasti, siapapun vendornya, rentetan garis itu sudah pasti melekat tapa bisa diganggu gugat. Tapi bagaimana dengan musim ini hehee. Joma masih membiarkan 'tradisi' itu lestari dengan rupa yang agak 'nyeleneh', yaitu efek grafiti. Kreatif kah, lumayan juga. Yang cukup disayangkan rupa 'agak nyeleneh' ini tidak berlangsung penuh karena perlahan sirna di bagian kiri.

SS Lazio third
Jersey ini tampak mengingatkan bahwa Lazio itu 'seharusnya' dominan putih karena julukannya diawali 'bianco' barulah 'celeste'. Menarik memang karena ditayangkan dalam rupa horisontal. Ditambah komposisi warna biru muda di sini tidak serta merta solid, justru disusun bervariasi ketebalannya.

Manchester United home
Satu-satunya keunikan jerey ini adalah permainan motif segi enam yang menjadi peralihan antara warna merah tua menuju merah terang. Belum ada permainan motif segi enam di jersey klub-klub lain. Sangat berani di saat klub-klub lainnya 'latah' dengan 'template' dari vendor. Sayangnya, makna segi enam ini masih saya ketahui maksudnya.

Bradford City home
Mereka sudah identik dengan warna khas merah marun versus oranye. Sudah jadi tradisi, mereka menyuguhkan dua warna tersebut dalam jajaran belang vertikal. Tapi di edisi ini, mereka 'memaksa' kita memicingkan warna lantaran jajaran belang tersebut disajikan secara diagonal. Ide yang jarang terpikirkan oleh klub-klub dengan tradisi motif belang vertikal.

Pumas Unam home
Beragam motif khas budaya Meksiko kuno sangat kental di jersey ini. Dan yang paling spesial adalah keberadaan simbol kepala macan puma di tengah yang sederhana, namun sudah merepresentasikan identitas klub ini. Paling menarik untuk dikoleksi.

sumber gambar-gambar
footballfashion.org dan www.footyheadlines.com




Resuffle, lalu ...

Pesan berantai 'non-formal' yang dikirimkan oleh Menteri Sekretariat Negara beberapa hari lalu menjadi bukti saheh akan adanya resuffle di jajaran Kabinet Kerja. Bahkan dalam wawancara eksklusif dengan salah satu televisi swasta pun, Presiden Joko Widodo tampak sulit meyembunyikan isyarat akan adanya proses perubahan tersebut. Resuffle merupakan bentuk nyata dari hak prerogatif presiden dalam menentukan siapa-siapa yang menjadi menteri dan juga kepala badan. Di balik faktor kesenyawaan antara presiden-wakil presiden dengan para menteri/kepala badan, ada punya isu politis yang kerap mewarnai agenda resuffle. Sulit untuk membantahnya dan lebih sulit membendung opini yang berkembang dan disuarakan oleh masyarakat. Saat keran hak bicara semakin dibuka, maka pro-kontra jelas mengalir makin deras.

Jawaban diplomatis sudah diungkapkan presiden, yaitu faktor performa. Tapi sulit disanggah bahwa subjektivitas akan terus mewarnai hajatan bernama resuffle. Benarkah performa kabinet ini ke depannya akan lebih baik pasca-resuffle? Hmm, sulit untuk menyimpulkan demikian di awal. Beberapa nama yang baru, yang digeser, yang dicopot, bahkan yang dipertahankan memang memancing isu kurang sedap. Isu yang berhembus, beberapa nama memang sengaja dipagari karena faktor loyalitas terhadap sosok presiden dan wakil presiden saat ini. Ada pula yang memiliki status 'tidak tersentuh' lantaran latar belakang politis saat pemilihan presiden tahun 2014 lalu.

Menilik latar belakang beberapa nama yang menjadi wajah baru Kabinet Kerja ini, saya menaruh optimisme karena sebagian adalah praktisi yang non-partai. Pertanda adanya sikap objektif presiden dalam memilih para menteri/kepala badan? Saya tidak yakin 100 persen. Tapi saya menaruh harapan agar mereka belajar politik agar bisa menjalan kebijakan yang pro-rakyat tanpa direcoki kepentingan partai yang 'bukan rahasia' lagi sangat ugal-ugalan. Mereka juga perlu belajar manajemen isu di hadapan media karena bukan rahasia bahwa ada menteri yang memiliki kinerja bagus tapi bahasanya di hadapan media terlalu lugu sehingga dirinya kerap dikambinghitamkan atas segala masalah berbau konektivitas di negeri ini.

Yang menarik dari daftar nama yang menghuni proses resuffle ini memang didominasi oleh menteri dengan area kerja di bidang perekonomian. Barangkali ini dikarenakan kegagalan percepatan ekonomi Indonesia. Jika kita menggabungkan antara resuffle 1 dan 2, jelas tampak bahwa kursi menteri yang berurusan dengan keuangan menyandang status keramat. Mari kita tengok daftar kementeriannya di bawah Kementerian Koordinator Perekonomian yang berjumlah 8. Sudah 4 kementerian berganti pucuk pimpinan, yaitu Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian ATR/BPN. Jika ditambah Kementerian Koordinator Perekonomian, nama total ada 5. Sudah cukup menegaskan bagaimana ekspektasi yang sangat tinggi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bukan tidak mungkin kementerian-kementerian tersebut bakal berganti pucuk pimpinan di resuffle mendatang. Dan 4 kementerian yang masih 'steril', yaitu Kementerian Tenga Kerja, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian LHK, serta Kementerian BUMN, bakal menjadi korban berikutnya.

Fakta unik yang terpapar pasca-resuffle ini

  • Kementerian Koordinator Bidang Pembangungan Manusia dan Kebudayaan menjadi satu-satunya kementerian koordinator yang masih 'steril'
  • Kementerian Keuangan dan Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan bakal ditukangi 'wajah lama bersemi kembali', yaitu Sri Mulyani dan Wiranto
  • ada lagi kah?



Lirik Lagu 'Truly Madly Deeply'

Gegara nyetel playlist berisi lagu-lagu pengiring FIFA World Cup 2006 dimana lagu Celebrate the Day jadi favorit saya. Eh mendadak nemu lagu berjudul Truly Madly Deeply yang kok iramanya asyik walau memang pelan. Temponya sangat bernuansa pop dengan cengkuk vokal yang renyah hehee.. Dan saya malah jadi sering nyetel lagu ini belakangan. Berikut liriknya

I'll be your dream
I'll be your wish I'll be your fantasy
I'll be your hope I'll be your love
Be everything that you need
I'll love you more with every breath
Truly, madly, deeply do
I will be strong I will be faithful
'cause I'm counting on
A new beginning
A reason for living
A deeper meaning, yeah

[chorus:]
I want to stand with you on
a mountain
I want to bathe with you in the sea
I want to lay like this forever
Until the sky falls down on me

And when the stars are shining
brightly in the velvet sky,
I'll make a wish send it to heaven
Then make you want to cry
The tears of joy for all the
pleasure and the certainty
That we're surrounded by the
comfort and protection of

The highest powers
In lonely hours
The tears devour you

[chorus]

Oh can you see it baby?
You don't have to close your eyes
'Cause it's standing right
before you
All that you need will surely come

I'll be your dream I'll be your wish
I'll be your fantasy
I'll be your hope I'll be your love
Be everything that you need
I'll love you more with every breath
Truly, madly, deeply do

[chorus]

I want to stand with you on a
mountain
I want to bathe with you in the sea
I want to live like this forever
Until the sky falls down on me


Ada Apa dengan Chinese Super League

Beberapa tahun terakhir, terdapat dua kompetisi di Asia yang menyedot perhatian pemerhati sepak bola dunia. Dua kompetisi tersebut terletak di negara dengan ukuran 'raksasa' dari sisi penduduk maupun geografis wilayah, yaitu Tiongkok serta India. Khusus di artikel ini, saya akan menyoroti tentang kompetisi nomor wahid di dataran Tiongkok yang memang lebih menyita atensi karena sensasi transfer yang sangat menggiurkan.

Tiongkok, nama resmi dari negara Cina dalam versi Indonesia, merupakan negara yang memiliki populasi terbesar di dunia. Tidak heran negara ini sangat produktif untuk urusan industri yang ironinya belum termasuk jajaran elite di kompetisi antarnegara Asia untuk urusan sepak bola. Mereka tertinggal jauh dibandingkan Jepang dan Korea Selatan, rival mereka di berbagai aspek kehidupan Asia Timur. Selain koleksi Tiongkok untuk urusan Piala Asia yang masih nihil, mereka juga baru sekali mengecap Piala Dunia, jauh dibandingkan dengan duo Jepang dan Korea yang sudah menjadi langganan Piala Dunia. Tidak heran bahwa pemerhati sepak bola, termasuk di Indonesia, lebih akrab dengan nama-nama pemain asal Jepang, misalnya Shunsuke Nakamura, Hidetoshi Nakata, Shinji Kagawa, Keisuke Honda, ataupun Korea Selatan, misalnya Park Ji Sung dan Ahn Jung Wan. Tapi, belakangan ini negeri Tirai Bambu mulai menghentak dunia melalui kompetisinya, yaitu Chinese Super League alias CSL. Hentakan ini diwujudkan dalam kegilaan klub-klub di CSL untuk menggaet nama-nama tenar dunia untuk bergabung dengan nominal yang fantastis.

Strategi mendatangkan legiun asing sebetulnya sudah dirintis oleh Jepang dua dekade silam tatkala mereka hendak mengorbitkan kompetisi J-league. Kesuksesan yang dirasakan Jepang terhitung sukses. Pertama, keberadaan pemain asing mampu menularkan kompetensi dalam menggocek bola, hasilnya adalah dua kesuksesan berikutnya. Kedua, klub-klub Jepang mampu mendominasi kompetisi Liga Champions Asia. Ketiga, fanatisme suporter yang trengginas dalam mendukung klub-klubnya. Lebih jauh lagi, mereka bisa meningkatkan kualitas tim nasionalnya. Tapi strategi Jepang tersebut dilakukan dengan penggaetan pemain yang sudah uzur ataupun sudah berakhir era keemasannya di kompetisi elite Eropa dan Amerika Latin. Para pemain tersebut pun tidak diiming-imingi nilai transfer ataupun gaji yang menggiurkan. Praktis ini yang menjadi perbedaan nyata dengan strategi yang dilakukan klub-klub di CSL.

Berbagai nama tenar mampu digapai oleh klub-klub CSL dengan nilai transfer yang menggiurkan tatkala mereka masih dalam periode keemasan, bahkan saat mereka sedang 'on fire' di kompetisi sebelumnya. Nama Robinho, Eiður Guðjohnsen, Demba Ba, hingga Asamoah Gyan, menjadi deretan teratas nama yang sedang getolnya menghiasi jagat sepak bola Eropa. Mereka didatangkan di awal tahun 2015 menyambut kompetisi CSL musim 2015 dengan dampak yang cukup 'bising' di dataran Eropa. Banyak yang bertanya keberadaan kompetisi dan klub yang berkiprah di CSL. Tidak sedikit yang mencibir gelontoran dana sebagai satu-satunya magnet yang membuat para pemain tersebut berlabuh. Sulit untuk membantahnya karena tiap periode transfer berikutnya, yaitu medio 2015, awal 2016, dan medio 2016, lagilagi gebrakan transfer ataupun gaji menjadi aspek yang paling disorot dari tiap kepindahan pemain asing ke CSL.

Musim ini, beberapa nama nama tenar menghiasi daftar pemain di klub-klub CSL. Sosok Burak Yilmaz, eks bomber Galatasaray, merapat ke Beijing Guoan menemani Renato Augusto. Pun dengan Jackson Martinez yang berlabuh ke Guangzhou Evergrande Taobao, klub yang ditukangi oleh Marcelo Lippi, eks arsitek Timnas Italia di gelaran Piala Dunia 2006. Mantan predator Arsenal, Gervinho memilih Hebei China Fortune yang sebelumnya sempat dibela oleh Ezequiel Lavezzi. Shadong Luneng tak mau kalah dengan mengontrak Graziano Pelle dan Papiss Cisse, sedangkan duo Brazil, Ramires dan Alex Teixeira, berhasil diseragami Jiangsu Suning. Legiun asal Brazil lainnya, Hulk memilih Shanghai SIPG sebagai klub berikutnya musim ini.

Stok uang yang belum bisa dipastikan ada berapa memang menjadi modal bagi klub-klub CSL untuk meramu skuad dengan beberapa nama tenar asal benua lain. Sejauh ini klub-klub tersebut masih dihalangi dengan kuota pemain asing 5 orang. Namun, apa jadinya jika kuota itu dihapus. Apakah akan ada 'los galacticos' dari negeri Tirai Bambu. Mungkin saja. Tapi rasa-rasanya nafsu bisnis perlu dikembalikan kepada kesukesan Jepang sebagia barometernya. Urusan pennton yang memenuhi stadion sudah bisa dicapai. Begitu pula persaingan di Liga Champions Asia yang mampu direcoki, bukti nyata tentu gelar juara Guangzhou Evergrande tahun lalu. Tapi, apakah pemain lokal bisa ikut terdongkrak kompetensinya dan lebih jauh lagi, bisakah tim nasional Tiongkok menyetarai kualitas Jepang dan Korea Selatan

Review Sabtu Bersama Bapak

Film ini diangkat dari novel yang pernah saya baca sebelumnya dengan judul yang sama. Ada rasa penasaran tersendiri dengan cerita 'sepadat' di novel itu akan bagaimana dikonversi ke dalam bentuk film. Ada empat alur yang mewakili kepentingan individu di dalam berkeluarga, relatif mudah untuk menjelaskannya dalam novel karena pembaca bisa memotong bacaannya dan melanjutkannya besok lagi, tapi tidak dengan format film. Di sinilah tantangan tersendiri untuk menghidangkan film yang mengakomodasi esensi moral tanpa menanggalkan kerangka umum yang sudah dibangun di novelnya.

Sosok yang ingin Mewariskan Pesan
Tatkala ajal mendekat, malah sibuk mendokumentasikan berbagai nasihat bijaknya melalui video-video. Ide yang barangkali anti-mainstream, karena kalaupun ada orang tua yang mempersiapkan hal seperti itu maka media yang digunakan adalah tulisan. Simbol 'video' menjadi ciri khas yang spesial, baik novel maupun filmnya. Walau fokus utamanya adalah mewariskan kontribusi bagi anak, namun si suami masih menyempatkan diri untuk mengalokasikan waktu untuk istrinya.

Sosok yang Menjaga Amanat
Ini bukan tentang loyalitas karena tidak menikah lagi hehee. Tapi tentang upaya untuk mempertahankan kekompakan keluarga serta pesan-pesan dari sang suami untuk anak-anaknya. Bahkan tatkala penyakit akut menghinggapinya, dia tetap mempertahan amanat yang dipegangnya. Memang sepintas beliau terlalu 'bermain sendiri' melawan penyakit. Namun di balik itu semua, dia memiliki niat yang baik dan mampu berpikir jauh untuk mengandai-andaikan seandainya anak-anaknya tahu di saat yang tidak tepat.

Suami yang harus Belajar
Menjadi suami bukan berarti sudah waktunya mengakhiri masa-masa belajar saat menuju pelaminan. Justru tantangan akan semakin besar. Di film ini, kita akan disuguhkan konflik yang berpangkal dari perbedaan sudut pandang antara suami dengan istri, termasuk lokasi dalam memandang serta ukuran sudut pandang tersebut. Banyak ketidaktahuan si suami mengenai kondisi rumah tangga secara detail. Justru sebagai suami, dirinya malah bertindak sebagai 'mandor' yang gemar mengevaluasi istri hanya dari standar subjektifnya. Masalah utama yang menjangkitinya adalah dirinya tidak menjadi diri sendiri, melainkan berpatokan hanya dari sudut pandang pesan-pesan sang aya yang dicerna mentah-mentah. Pada akhirnya, dia berhasil menyadari segala rupa kekeliruannya

Jomblo yang Gigih
Tatkala alur cerita tiga tokoh di atas berkutat dengan suasana serius, maka untuk sosok satu ini peranannya menjadi penebar gelak tawa. Misi 'berburu' pujaan hati dilakuka dengan teknik yang sangat garing. Sepintas sosok itu terkesan menjadi bahan tertawaan. Namun di balik itu semua, kita malah menemukan sosok yang apa adanya dan anti-pencitraan plus membumi dengan bawahannya. Melalui sosok ini pula kita akan menemukan bahwa tidak semua orang itu memiliki karakter yang itu-itu saja. Justru di balik kekakuan yang nampak selama ini tersimpan pribadi yang mengalir dan komunikatif.

Petuah Kepemimpinan ala Rudy Habibie

Mengangkat sebuah cerita yang 'terinspirasi' dari tokoh yang spesial di hati Bangsa Indonesia bukan hal yang mudah. Dibandingkan presiden-presiden RI lainnya, sosok Bapak B.J. Habibie relatif lebih dihormati lantaran tiga hal, pertama kecerdasan dan perannya sebagai perintis industri dirgantara Indonesia, penghubung akhir Orde Baru dengan Era Reformasi, serta tidak berafiliasi dengan partai politik. Praktis kontroversi yang menjadi kritik tajamnya hanyalah tentang keberanian menggelar adu suara terbuka masyarakat Timor Timur yang berujung pada lepasnya provinsi ke-27 Indonesia saat itu. Di film ini kita akan menelusuri penggambaran karakter beliau yang membuat kita bakal memaklumi keberaniannya yang sangat tegas dan sangat tidak berdiplomasi layaknya politisi pada umumnya. Kepemimpinan yang menjadikannya sosok unik untuk diteladani dalam menggebrak rantai dominasi. Setidaknya ada 5 nilai kepemimpinan yang tercium kuat sebagai aroma utama film ini.


Pertama tentang visioner
Cara beliau membuka mata kawan-kawannya tentang rencana jangka panjang sangat memukau. Terlalu nyeleneh untuk ukuran mahasiswa teknik. Dan status sebagai mahasiswa non-beasiswa tidak membuatnya lalai untuk berbuat sesuatu bagi Indonesia, sesuatu yang sebenarnya pun belum dibutuhkan Indonesia saat itu. Terlebih keberaniannya adu argumen tentang kelayakan idenya yang dilakukan dengan cara menyodorkan proyeksi bagaimana masa depan Indonesia. Argumen yang tidak didebat karena para pengeroyok idenya hanya bermodalkan jabatan tanpa punya kemampuan menatap jauh layaknya Rudy.

Kedua tentang ambil risiko
Sulit membayangkan kenekatan macam apa yang membuat Rudy dengan berani menyatakan akan tetap menjalankan ide-idenya di PPI walau tidak dibiayai pemerintah Indonesia. Di sini sebuah sentilan tentang keberanian mengambil risiko diumbar secara jelas. Habibie memang mengambil risiko tanpa berkonsultasi dengan rekan-rekannya, tapi dengan situasi panas macam itu, apa yang dilakukan jelas merupakan gebrakan yang mendongkrak wibawa sebagai seorang pemimpin. Karakter pengambil risiko ini juga patut dilihat sebagai sindiran bagi sikap-sikap organisasi kepemudaan di Indonesia yang terlalu manja dalam menyodorkan proposal untuk mengais APBN/APBD dan merengek sendu tatkala tidak mendapat bantuan dana dari pemerintah.

Ketiga tentang cinta tanah air
Yang ini tampaknya terlalu formal. Namun begitu lah kenyataannya dan sikap demikian yang menjadi Rudy punya visi dan alasan atas segala ide-ide yang ditelurkannya. Dan pada akhirnya ide-ide beliau menetas pecaaaah kece.

Okay, sekarang kembali ke benang merah kaitan keberanian Rudy film ini dengan keberanian Bapak B.J. Habibie di kemudian hari alias era 1999-an. Jelas ada kesamaan yang mencolok dimana Rudy dan Bapak Habibie merupakan karakter yang tidak takut dengan gertakan pihak yang mengintimidasinya. Beliau sebisa mungkin mengutarakan argumennya, namun beliau lebih gemar membuktikannya di 'lapangan'. Memang, keberanian Bapak Habibie berbuah disintegrasi salah satu provinsi. Namun dari situ justru tonggak demokrasi Indonesia mulai menemukan nafasnya. 

Kritik tentu ada karena film ini buatan manusia. Semua adegan yang dilangsung di gereja dimana hal-hal yang bersifat spiritual disinggung saya rasa terlalu 'berat' untuk dicerna sehingga bisa menimbulkan salah persepsi. Kebetulan memang sutradara film ini kerap tersandung kasus multipersepsi film garapannya, terutama dari sisi agama. Saya berharap skenario yang sifatnya sensitif seperti ini bisa dikonsutasikan dengan pihak yang berkompeten karena film ini segmennya luas. Selain itu saya menyayangkan adegan 'balon' yang sangat tidak layak menjadi lelucon, apalagi melibatkan anak kecil. Apakah ini titipan atas sebuah kepentingan, saya tidak tahu dan tidak menangkap esensi dari agedan ini.

Oh ya, sebagai 'jebolan' MTI UI, saya merasa beberapa kosakata di film ini familiar dengan mata kuliah Metodologi Penelitian dan Penulisan Ilmiah serta Karya Akhir. Beberapa kali Rudy, dan juga Ilona, menyebutkan istilah 'fakta', 'masalah', dan 'solusi'. Ketiga terminologi tersebut sangat akrab dalam menyusun sebuah penelitian hehee. Kemiripan yang membuat saya menikmati nostalgia hehee..

Keseluruhan, film ini sangat direkomendasikan bagi rekan-rekan yang haus nutrisi berupa pelajaran kepemimpinan yang dikemas dengan ringan. Semoga film-film penuh inspirasi seperti ini bisa terus bermunculan di blantika film Indonesia. Semoga

Kalau bisa Piknik, Pengin ke sini [2]

Pulau Paskah, Cile
Ada dua faktor mengapa saya ingin ke sana. Lokasi pulau ini sangat terisolasi dari pulau besar, apalagi benua. Ya, Cile selaku pemilik pulau ini terletak beribu kilometer darinya. Jelas menjadi perjalanan yang 'gila' dan 'absurd', dalam konteks positif tentunya. Alasan kedua adalah adanya patung-patung raksasa yang bertebaran di pulau tersebut. Lho bukankah Indonesia juga punya patung-patung yag menjulang raksasa ukurannya/ Okay, kembali ke alasan pertama mengenai lokasi yang terisolasi, bagaimana proses 'pengadaan' patung-patung tersebut agar dapat menempati pulau pada era yang sebelum abad 20/ Hingga saat ini siapa yang membawa patung-patung tersebut ada di Pulau Paskah dan untuk apa, tidak ada yang tahu. Bisa dibilang ini adalah salah satu misteri yang terlalu sulit dijelaskan kemungkinan terjadinya.

sumber buzzfeed.com


Zhangjiajie, Tiongkok
Pertama kali melihat foto objek wisata ini sekitar 3 tahun lalu di sebuah web geografis antar-negara. Nama yang sulit dibaca membuat saya fokus menyaksikan foto yang bagi saya agak fiktif lantaran terlalu mirip suasana di kartun-kartun, termasuk Kung fu Panda. Apa benar pegunungan yang rupa seperti ini. Berbagai pertanyaan meggelayuti saya, misalnya memang seberapa besar ukuran masing-masing julangan itu, apakah bisa dinaiki, mungkinkah melompat dari satu julangan ke julangan lainnya/ Sebagai orang yang juga menggemari geografi, saya pun penasaran bagaimana proses pembentukan fenomena alam seperti itu. Sebagai programmer, kala itu, saya bergugam 'enak nih kalau ngoding di sana ya..' hehee.

sumber travel.nationalgeographic.com

Sørvágsvatn, Faroe
Eropa bagian Utara terlalu sering 'menghipotis' saya, terutama foto-foto tentang fyord di berbagai negara Skandinavia. Tapi baru kali ini saya melihat danau, tebing, pantai, air terjun, dan lautan dalam sebuah gambar yang sangat mengherankan. Bagaimana bisa ada yang seperti ini/ Tentu kuasa Allah, dan semoga Allah mengizinkan saya mengunjungi tempat yang sangat memukau ini.

sumber elitereaders.com by reddit

Machu Picchu, Peru
Hamparan rumput hijau membentang luas sebagai latar dari kuil-kuil yang tersusun rapi dan kelewat canggih untuk ukuran peradaban saat itu. Keduanya adalah kombinasi yang, kalau urang awak bilang, 'rancak bana'. Tidak perlu punya selera seni yang tinggi untuk memahami keelokan Machu Picchu. Terlepas dari fungsinya yang terkait kepercayaan kuno masyarakat Peru, saya lebih menyorot keelokan kuil-kuil di situ sebagai karya seni buatan manusia yang dipadu dengan ciptaan Sang Maha Pencipta, Allah swt. Tentu sajian yang spektakuler.

sumber thousandwonders.net

Petra, Yordania
Karya seni yang lahir dari upaya survival masyarakat di tengah panas kerontangnya gurun pasir khas daratan Arab. Pahatan yang mengguratkan semangat untuk bertahan hidup walau ekosistem di situ sangat 'keras'. Saya sendiri sulit memahami bagaimana berbagai pahatan itu membuat mereka betah untuk membangun peradaban di sana.

sumber medanbisnisdaily.com

Amazon, Brazil
Salah satu ekosistem alami yang paling luas dan liar di muka Bumi ini. Bentangan Sungai Amazon tidak hanya membelah Brazil, namun juga negara-negara latin, termasuk Peru, Ekuador, dan Kolombia. Ekosistem di Amazon memiliki simbol khas berupa ikan piranha yang konon tergolong ikan air darat yang terlalu buas. Selain itu, eksistensi berbagai katak beracun dan ular-ular berukuran raksasa dengna watak yang trengginas. Jelas saya tidak memiliki niatan untuk diving di Sungai Amazon, termasuk pula bersalaman langsung dengan para katak dan juga ular di sana. Alasan mengunjunginya terdapat keinginan untuk menyaksikan dahsyatnya belantara yang memiliki nilai 'keramat' dari sisi biologi dan juga sosial. Ya, Brazil memiliki kesamaan dengan Indonesia berupa keberadaan suku-suku yang masih berpendirian dengan hikayat adatnya.

sumber wikipedia.org

Pulau Socotra, Yaman
Vegetasi flora dan rupa fauna di sini sangat berbeda dengan ekosistem di belahan bumi manapun. Saya sulit mencari terminologi lain selain unik dan 'aneh', tentu dalam artian positif. Menyaksikan foto-foto yang mejelas portofolio hayatinya, saya terlempar ke imajinasi penuh khayalan, apa benar ada bentuk flora seperti itu. Lagipula untuk pulau seukurannya, keragaman hayati yang tersimpan di dalamnya terlalu kaya. Sulit membayangkan bagaimana flora dan fauna di sana bisa terjaga kelestariannya dengan lokasi yang sebetulnya tidak terlalu terisolasi di tepi jazirah Arab.

sumber wikipedia.org

Camp Nou, Spanyol
Sebagai fans FC Barcelona, apa saya perlu menjelaskan mengapa saya ingin ke sana hehee

sumber barcelona.de

Tentu saja lokasi-lokasi di atas di luar empat kota yang ingin saya kunjungi sebagai orang muslim, yaitu Mekkah, Madinah, Yerusalem, serta Istambul

Sodoran Sistem Informasi tentang Hukum

Beberapa hari lalu di sebuah diskusi kelompok terpumpun alias focus group discussion, saya menemukan sebuah gagasan yang spesial. Jujur saya belum pernah menjangkau ide sederhana yang tidak terpikirkan itu. Gagasan merupakan kolaborasi antara teknologi informasi dengan area hukum.

Secara ringkas, ide ini berupa penyajian kepada petinggi organisasi tentang perkembangan kasus hukum yang menyangkut sektor organisasi tersebut. Barangkali ide ini kerap didengungkan terkait proses perizinan maupu hal-hal yang bersifat birokratif. Namun saya belum menemukan adanya aplikasi yang menayangkan berbagai rangkuman perkembangan kasus hukum yang tengah bergulir. Sebagai contoh, seorang petinggi korporasi kereta api negara dapat memantau sengketa-sengketa terkait aset tanah yang melibatkan korporasi tersebut. Tentu ide ini sangat bermanfaat, khususnya bagi para petinggi organisasi. Mengapa?

Pertama, memudahkan petinggi organisasi memperoleh informasi yang faktual
Jelas seorang pejabat organisasi tidak punya banyak waktu luang untuk mengumpulkan informasi yang berserakan di internet. Selain waktu yang memang sempit, situasi media sosial memang kurang sehat lantaran terlalu banyak berita yang sepotong-potong, banyak berita tanpa sumber valid, banyak berita yang kurang disertai riset, singkat kata membaca berita satu per satu untuk level pejabat organisasi sangat tidak efektif. Perlu ada fasilitas yang menghubungkan mereka dengan kondisi meja/lapangan berlangsungnya kasus. Mungkin berita online masih dimungkinkan, namun perlu ada kriteria kualitas informasi di situ.

Kedua, eh stop kau tipu-tipu atasan
Bukan rahasia bahwa banyak pejabat organisasi yang mencerna informasi yang sudah terlalu direkayasa bawahannya. Mengapa terjadi demikian? Ada banyak teori konspirasi di sini, misalnya si bawahan yang terancam tekanan untuk lebih getol menyelesaikan perkara hukum yang dihadapi hingga ancaman terhadap permainan bawah tangan dengan para mafia peradilan. Dengan adanya konsep di atas, maka atasan dapat menggaet perkembangan secara langsung tanpa adanya pelintiran informasi oleh oknum tertentu.

Ketiga, mempercepat pejabat organisasi mengambil sikap
Informasi valid yang diterima secara cepat menyebabkan para pejabat lebih siap dan matang dalam menyusun rencana penanganan. Sikap cekatan jelas dibutuhkan untuk menghadapi berbagai persoalan terkait hukum yang melibatkan organisasi. Salah data bisa menyebabkan tanggapan yang dihasilkan pun salah. Lambatnya informasi juga berpengaruh pada kasus yang berlarut-larut.

Pertanyaan berikut berkecambuk pula di benak saya atas inovasi di sebuah instansi penyelenggara negara tersebut, tentunya bukan si korporasi kereta api itu. Namun karena sedang pusing mempelajari arsitektur organisasi dari sisi TI, maka pertanyaan utama yang saya gusung adalah 'Bagaimana menyisipkan gagasan tadi ke dalam aplikasi yang terpusat dan tunggal bagi pejabat organisasi?' Tentu akan tidak efektif jika gagasan seperti ini diwujudkan dalam satu aplikasi, sedangkan ada aplikasi lain dengan konsep awal mirip namun berbeda jenis informasinya, misal dari isu layanan TI, dari isu performa si organisasi, dari isu keuangan, dll. Agar lebih efisien, saya berpendapat bahwa organisasi perlu membuat inventaris apa-apa informasi yag perlu diketahui masing-masing pejabat. Hal ini nantinya diterjemahkan sebagai arsitektur data yang dikemudian dipetakan ke dalam arsitektur aplikasi. Dengan demikian, cukup satu aplikasi dengan ruang lingkup beragam sesuai kebutuhan si organisasi, tentunya termasuk gagasan tentang informasi tentang kasus hukum yang dihadapi.