Universitas Ramadhan

Dalam Ramadhan kita belajar tentang manajemen waktu
Betapa rencana seberapa memegang kendali bagaimana visi kita mengisi waktu sebulan kemarin
Betapa berbagai kendala yang ada kita sikapi dengan bijak agar yang ktia targetkan tetaplah terpenuhi
Sungguh 24 jam itu terlampau sedikit atau banyak itu relatif
Namun kualitas akan menjadi penilaian tersendiri bagi Allah

Dalam Ramadhan kita belajar tentang semangat memperdalam pandangan
Momen yang tepat untuk mengeruk ilmu-ilmu berharga
Satu per satu nutrisi berupa luasnya pengetahuan kita jumpai
Pada akhirnya kita sepakat bahwa kita ingin menjadi pribadi yang lebih dan semakin baik lagi

Dalam Ramadhan kita belajar tentang ...
SubhanaAllah banyak sekali...
Pengendalian diri, manajemen kalbu, hingga manajemen cinta
Semua itu berpulang pada akan bagaimana kita memrioritaskan orientasi pada Illahi ataukah pada hawa nafsu

Ramadhan mungkin usai,
Tapi tidak ada tamat dalam berlomba-lomba dalam kebaikan
Tidak ada pula kata terlambat dalam keikhlasan mengoreksi diri

Belum tentu Ramadhan berikutnya bisa kita dapati,
Tapi apakah menjadi baik itu harus menanti Ramadhan

Terlepas dari subjektifnya kita menilai sukses tidaknya Ramadhan kali ini,
Tentu kita sadari "persiapan" jadi salah satu faktor penentu.
Jangan berhenti menjadi muslim yang spesial pasca-Ramadhan Jangan berhenti belajar pasca-Ramadhan
Jangan berhenti menyebar kebaikan pasca-Ramadhan 

Yuk kita persiapkan yang "semakin baik" pasca-Ramadhan ^^

Blogger Tricks

Amazing Meeting

Pertemuan direncanakan sepekan lalu
26 Juli 2014 bada'Ashar kami berkumpul di rumah Mba Falah, buka puasa bareng (dimanapun lokasi makannya) dilanjutkan berbagai obrolan yang makin mengeratkan kami.

Sepakan dari kesepakan itu alias di hari H, semua mulai berguncang khususnya pada saya sendiri, posisi yang hingga kisaran adzan Ashar masih di Indramayu jela sbukan sinyal positif. Ikhlas berlapang dada menjadi alternatif final kala itu. Ternyata satu dan lain hal agenda ditunda hingga jam 8 malam. Nglirik ke jam, ngelirik ke kemacetan di jalan. Hmmm, kurang realistis untuk memaksakan diri. Pesan berisi pamit dan minta maaf tidak bisa datang pun sudah terkirim.

Bada' Maghrib setitik asa muncul di pinggir jalan Ketanggungan. Dibelokkannya bus yang tidak jadi melewati Slawi sepintas menjadi "sayounara message". OK, harapan itu agaknya sirna, tapi, bentar, entah kenapa ada ide untuk turun di situ dan naik kendaraan apapun untuk menuju ke Slawi. Kurang dari 10 detik saya putuskan untuk dari bus dan klausul jelas "bsia jadi saya malah menggelandang di jalanan Brebes". Beruntungnya Allah memberi jalan berupa bertemu seorang ojek yang berkenan menerima request diantar hingga ke Slawi walau dia sendiri sempat kaget.

Sesampainya di Slawi, langsung ke kediaman Mba Falah, suasana hening. Mmmm, apakah acaranya dibatalkan. Nglirik HP, udah mati, Aduh kebelet pipis. eh, anjing sebelah rumah beliau menggonggong. Opsi terlogis, cari warnet, numpang nge-charge dan kontak tentang kepastian agenda ini. Alhamdulillah ya Allah, ternyata mereka semua ontheway. Kembalilah saya ke depan rumah Mba Falah, di situ sudah ada Mas Arief yang tercengang dan makin melongo begitu saya ceritakan petualngan barusan. Tak berselang lama, Mas Esa, Mba Eka, dan tentunya tuan rumah, Mba Falah bergabung di forum tidak resmi ini hehee.


Berbagai obrolan digelar, mulai dari suasana MOS, persiapan GMB yang melibatkan adik Mba Falah, bagaimana per-bintal-an di Ambalan, termasuk juga telenovela cinlok di Ambalan ini #parahhhh. Untuk bagian ini tiada ampun bagi siapapun dan apapun alibinya. Semua kena hahahahaa

semua (ternyata) nggak bisa jadi macan wkwkwkw

Obrolan masa depan pun sedikit demi sedikit terlontarkan, mulai dari saya yang minta restu untuk nge-dosen, rencana Mba Falah tahun depan ituuu, ah banyak kali, lupa dinotulensikan. Btw, ternyata kini kami (diwakili 5 orang yang hadir) punya kegemaran yang sama lho, mendengarkan lelucon ala standup comedy.

Oh ya, tanpa diduga, Mba Tri langsung menelpon untuk ikut mengobrol langsung dari Yakuhimo..yoiiiii

Malam itu saya disadarkan paduan terbaik untuk memenuhi komitmen, yaitu ikhlas dan ikhtiar ^^

28 jam Jakarta Timur-Slawi

Benar memang manusia hanya bisa berencana, Allah-lah yang menentukan. Kalimat itu terbukti erat di dalam ekspedisi kali ini. Awalnya, saya bermaksud mengadopsi konsep tahun lalu, bada Jum'at-an ke Kp. Rambutan bebas macet malemnya sekitar jam 12 malam sampai di Margasari, tapi weitssss nihil pisan tahun ini.

Sekarang mau berangkat, si supirnya dites kesehatan dulu

Awal perjalanan memang menggiurkan namun mulai terjadi kemelut ketika mencapai kawasan Karawang di sekitar jam 5 sore hari Jumat (25/7). Berbuka puasa di jalan dimana kecepatan bus sekitar 4 km/jam terus menghadirkan kegelisahan yang mendalam. Masih di Cikampek, tidur... masih di Cikampek, bangun masih di Cikampek.. tidur... masih di Cikampek... bangun... masih di Cikampe hingga kisaran jam 10 siang Sabtu siang (26/7) masya Allahuakbar o_O

Baterai HP dan tablet sudah kolaps, bahkan ampe ngecharge via laptop hingga habis baterainya. Benar-benar perjalanan sendirian dengan bekal sebuah buku BEPE20: PRIDE, Hp dengan secuil baterai untuk tetap bercengkrama dengan rekan-rekan di social meda, tablet dengan baterai seadanya untuk mendengarkan musik, hingga sekeresek konsumsi isi 2 botol minuman rasa (rasa yang kini menghantui #eaa) dua bungkus mie instan, dan sebuah biskuit. Isi keresek itu hanya menyisakan 1 bungkus mie instan karena sudah habis untuk buka puasa. "lah kan ente musafir, nggak usah puasa gih..." "lha, musafir apanya yang cuma diem di kursi paling belakang ngedengerin musik??" Beruntung memang masih diberi kekokohan mental untuk melanjutkan puasa hari itu.


Kisah dramatis ini mencapai klimaksnya di sore hari. Keluar dari tol Palimanan-Pejagan ternyata busnya belok kanan arah langsung Purwokerto, bukan belok kiri yang arah Brebes kota, Kota Tegal, Slawi dll. Sempat panik apalagi sempat ribut debat beberapa penumpang dengan kondektur. Bimbang, galau, dan sejenisnya mulai melanda. Hingga akhirnya sebuah keputusan berani saya ambil persis ketika bus stop depan pintu rel karena ada kereta api lewat. Bermodal optimisme dan yakin tadi melihat plang "Slawi arah kanan" maka saya beranikan diri turun di Ketanggungan. Dan padahal jujur saya tidak tahu apakah ada kendaraan arah Slawi atau tidak. Alhamdulillah seorang tukan ojek bersedia mengantarkan hingga ke Slawi. Berapa kilometer kurang tahu, namun sekitar 1 jam lebih perjalanan kami tempuh. Mungkin di angka 40km-an.

Kenapa harus ke Slawi?
1. HP mati, tidak tahu apakah ada orang di rumah dan tidak tahu pula ibu-ayah-ade yang dari Semarang pulangnya sampai mana
2. Sore itu rencananya ada bukber GaNas58, karena satu lain hal di-pending jam 8 malam, masih ada kemungkinan datang
3. Walau bisa akses jalan Klonengan-Margasari, namun di sananya macetnya parahhhh

Dengan demikian pilihan terlogis, cari kendaraan (yang akhirnya ojek) menuju Slawi, menanti kehadiran ibu-ayah-adek di Slawi sambil ikut ngumpul GaNas58.

Rencana manis (hasil revisi) ternyata harus menemui kenyataan "masih panjang" karena ibu-ayah-adek belum pulang malam itu juga, masih ada keperluan di Semarang. Dengan demikian, malam tadi saya mengungsi ke rumah Mas Arief Adityo. Nuhun pisan kang Arief sudah berkenan menampung.

Alhamdulillah pagi harinya bisa menuju Margasari, sebuah kediaman spesial di selatan Kabupaten Tegal

ini cerita (agak garing sih) tentang mudikku
apa ceritamu??

.ppt screen in Khotbah Jumat

Agak surprise juga khotbah Shalat Jumat tadi dimana, di atas khotib terpampang layar putih besar tempat materi kotbah versi digital disampaikan berbarengan dengan khotib mengutarakan khotbhnya. Kabarnya di beberapa tetangga hal ini kerap dilakukan, tapi bagi saya, ini pengalaman pertama. Sebenarnya beberapa kali pula berpikir dengan banyaknya buku, blog, video youtube dll berisi public communication maka sudah seharusnya ada ide-ide kreatif untuk berkhotbah. Tentu harus dalam ranah adab yang sudah ditentukan.

Tentu saya perlu mendalami lagi sejauh mana alat penunjang seperti materi powerpoint itu diperkenankan. Apakah cukup konten powerpoint yang statis atau malah hingga animasi visual.

Mengenai isi khotbahnya, beliau, Pak Abdur Ramhan, mengemukakan berbagai simplikasi dan dramatisasi seputar puasa dan lebaran. Mulai dari asal usul nama, konflik kepentingan selama vs setelah Ramadhan, makna bulan "suci", hingga makna Idul Fitri.

Islam dan Riset, bukan "versus"

Beberapa hari lalu sebuah sajian menarik dipetik dari ceramag tarawih di MUI. Menarik karena 50% pembahasannya menyinggung tentang ilmu pengetahuan sebagai caraa mewujudkan peradaban Islam. Padahal kita sering tergiring opini bahwa Islam itu kolot di masjid sedangkan pengetahuan identik dengan pakaian rapi berjas di mimbar akademik. Nah sebetulnya apakah dua hal itu bertentangan?

Mari kita tinjau berbagai "clue" yang ada di Al Qur'an berupa perintah agar kita berpikir.

Ada frase "la'allakum tafakkarun", misalnya pada Al-Jāthiyah:13
"Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir."

Kemudian ada pula frase "afala ta'qilun", contohnya pada Al-Baqarah:44
"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?"

Masih banyak clue-clue lain yang memerintahkan untuk senantiasa berpikir. Dari keberpikiran itulah kita akan lebih memahami kekuasaan Illahi dan bersemangat untuk membangun peradaban yang bermanfaat dan sesuai perintah-Nya.

Banyak hasil peradaban yang ditorehkan oleh manusia bersumber dari kesadaran ataa perintah berpikir. Tentu kita ingin jadi bagian daro orang-orang yang berpikir.

Alhamdulillah menemukan satu alasan yang menguatkan diri ini menyelami riset dan dunia pendidikan^^

Inspirasi Mendadak dari Seorang Tunanetra

Sengaja atau tidak, tentu ada pelajaran positif yang bisa dipetik. Begitu juga dengan inspirasi satu ini yang berawal dari suasana kebetulan. Selepas acara di Bandung, saya mnyempatkan diri menikmati keheningnya suasana Masjid Ukhuwah Islamiyah, UI. Eh kok suasananya lagi ramai y? Ternyata ada Buka Puasa PAY n DoIT (Pecinta Anak Yatim) oalah, menarik juga ikut mendengarkan ramainya acara yang penuh semangat keceriaan walau dari jarak jauh. Di salah satu sesinya, ada yang mematik perhatian saya, apa itu?

Seorang yang penuh semngat langsung membuat saya penasaran. Nama beliau Ramaditya Adikara, seorang tunanetra yang amazing bangettt. Rama, itu panggilannya bukan seorang biasa. Beliau ternyata telah menyelesaikan pendidikan magisternya (yoiii), jurnalis di detik.com (yoiii bangettt), seorang blogger (beuhhh) seorang trainer (subhanaAllah). Dan yang paling membuat saya kagum adalah bagaimana menyikapi berbagai yang terjadi secara optimis. Kondisi mata yang tidak seperti normal lazimnya, menurut beliau merupakan anugerah tersembunyi karena dia tidak mempergunakan mata untuk hal-hal yang negatif.

Kurang terlalu fokus y fotonya :v


Semangatnya yang "membahana" di sepanjang sesinya benar-benar membuat saya terpukau. Keren juga aktivitasnya seorang blogger dan jurnalis plus aktif di social media. Walau tunanetra, gimana caranya ya? Ternyata dia memanfaatkan perkembangan zaman seperti voice guider pada laptop. Menariknya pula, dia sangat menyenangi dunia pendidikan sehingga aktif di dalam kegiatan yang bersifat edukatif.

Aduh jadi malu ey masih leyeh-leyeh dalam ber-S2 serta mengejar cita-cita nge-dosen hehee... ^^
Walau saya tidak menjadi peserta di event itu, namun terima kasih atas motivasinya :)

Palestina iya, Kok Papua mmm??

Lagi-lagi isu ini diangkat dengan berbagai perembetannya, baik yang masuk akal maupun tidak. Singkatnya, terdapat beberapa ujar-ujar perbandingan berikut:
Kenapa sih pada sibuk menggalang bantuan dan dukungan ke negeri seberang yang jauh beribu-ribu kilometer? Eh cuy, di negeri kita sendiri tuh ya, di Papua, provinsi paling Timur kita punya, kok ditelantarin begitu sih?
Munafik banget ya bilangnya itu bukan isu agama. Kalau bukan isu agama kenapa saudara sebangsa setanah air sendiri (merujuk ke Papua) nggak pernah diurus
Ah dasar cuma bisa ngikutin pimpinannya. Pimpinannya cuma mikirin negara Arab yang muslim-muslim sih, jadi kalau negeri sendiri kalau orangnya bukan muslim dibiarin begitu saja

Terhadap isu demikian, bagi saya sendiri, anggap saja berfungsi sebagai dua hal.
Pertama sebagai peringatan agar kita juga responsif terhadap saudara se-Indonesia. 
Kedua, ujian keikhlasan, apakah yang kita lakukan orientasinya mengharap ridho Illahi ataukah sekedar latah di social media. 

Saya sendiri bukan orang yang tahu banyak terkait apa-apa yang sudah dikontribusikan sesama Indonesia, antara seorang atau sekelompok warga negara Indonesia terhadap warga negara Indonesia lainnya di berbagai penjuru tanah air, kecuali yang diberikan di media massa. Sekali lagi, ini dalam konteks melepaskan identitas latar belakang agama. Kalau seperti Indonesia Mengajar, Aksi Tanggap Bencana, SAR, Ubaloka, Wanadri, Gerakan Pramuka dll. Bila menyinggung latar belakang agama organisasinya, tentu akan sangat beragam. Di sinilah ketidaktahuan saya, kelemahan saya, dan tentunya sudah lebih dari cukup untuk jadi alasan agar tidak sok tahu dan tidak asal memvonis sejauh mana kepedulian orang lain terhadap sesama Indonesia.

Dan lagi-lagi harus diakui, ada dua faktor kunci yang menyebabkan hebohnya bantuan dan dukungan terhadap saudara kita di Palestina, bahkan (jika hrus terpaksa) membandingkannya dengan bantuan dan dukungan terhadap saudara se-Indonesia lainnya. Yang pertama tentunya kedahsyatan pemanfaatan social media sebagai media untuk mengkampanyekan solidaritas, sungguh sangat-sangat masif, bahkan mampu menggoyahkan dominasi berita copras-capres (padahal Piala Dunia saja gagal mengkudeta topik copras-capres). Kalau sudah ramai di media, siapa yang pada akhirnya tidak ikut tersentuh. Faktor lainnya adalah keterorganisasiannya komunitas-komunitas yang mampu menggerakkan massa untuk peduli.

Dengan demikian, pada akhirnya kita harus meramaikan kampanye-kampanye positif yang menggugah kepedulian terhadap saudara-saudara se-Indonesia yang masih dirundung berbagai kekurangan. Saat itu simpul bermuasal dari media. Bahkan mau sekompak apapun komunitas-komunitas yang ada, sekali lagi peran media yang ujung-ujungnya menjadi pemicu gerakan-gerakan komuntas yang tampil sebagai motornya.

Seberkas pemikiran pagi hari :)

Meet n Greet IF3201 (again???)

Simple but Happy Afternoon

Senang rasanya bisa menghabiskan banyak sore waktu di sini.
Sebuah tempat yang menentramkan hati dan membekali pribadi

Tentang Dito dan Sepotong Foto Tahun Lalu

Dito...
Begitu nama panggilannya, seorang putra dari paman saya, Setia Budi. Dengan perawakan jangkung persis ayahnya, layak pula dia memiliki cita-cita yang tinggi pula. Bukan kebetulan pula Dito juga menjadi Kerani Putra di angkatannya, memang posisi ini kerap diisi oleh orang-orang spesial. Sepupu, junior, serta akrab dengan adik saya, tiga kesamaan itu sudah lebih cukup menjadikan kami sangat nyambung saat bercengkrama. Saya banyak hutang bantuan karena selama di SMA1 Slawi dia banyak menjaga adik saya.

Sejak kelas XI dia sudah menargetkan Institut Teknologi Bandung sebagai tempat berkuliah S1. Soal jurusan? Tentu incaran utamanya teknik sipil, mungkin ingin mengikuti ayahnya hehee. Bukan hal mudah menjadi mahasiswa ITB. Tapi itulah Dito, yang di tengah sibuknya menjadi Kerani Putra hingga status senior aktif (walau kelas XII), dia tetap menyalakkan spirit tak kenal putus asa.

Tanggal 17 Juli lalu sebuah kabar spesial muncul dari adik saya, yaitu Dito lulus seleksi ITB. Alhamdulillah...
Teringat juga sebuah foto yang diambil setahun lalu. Foto itu ber-background kampus ITB area Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan. Kami sekeluarga plus Dito main ke ITB pasca agenda wisuda saya. Alhamdulillah foto itu beralih status dari"target" menjadi "identitas".



Dan di 19 Juli kemarin karena saya sedang di Bandung, maka diajak pula menemani Dito bareng Um Budi n Tante Ita mencari kos di kawasan Cisitu Lama.
Semoga barokah karir akademikmu Dito..