Bagaimana Atlet Masa Lalu

Cuplikan iklan di atas sempat menjadi perbincangan khalayak. Semua ini disebabkan nominal uang apresiasi yang dilontar oleh Pak Menpora. Sepintas pernyataan ini merupakan janji yang merepresentasikan kepedulian pemerintah terhadap atlet berprestasi saat ini. Dan dari berbagai pemberitaan yang ada, peraih medali emas Olimpiade 2016 lalu saat ini "terancam" diganjar tunjangan bulanan yang cukup menggiurkan. Namun madalahnya itu ditujukan bagi atlet yang berprestasi "saat ini". Bagaimana dengan para atlet masa lampau yang turut menyuburkan lahan medali bagi Indonesia di ajang SEA Games, Asian Games, dan juga Olimpiade. Iklan tadi tak ayal bisa membuat "panas" lantaran sudah banyak berita mantan atlet yang hidup falam finansial terbatas  walau di lemari rumah mereka ada kepingan medali yang membuat orang kagum pada Indonesia.

Berikut ini beberapa cuplikan berita tentang nasib mantan atlet yang pernah berkiprah bagi Bendera Merah Putih.


Mari kita sederhanakan permasalahannya lalu gagas solusinya

Apakah benar pemerintah tidak punya anggaran?
Sulit untuk mengiyakan pertanyaan itu, namun sulit pula untuk membantahnya. Alasannya sederhana, ketersediaan anggaran untuk dialokasikan sebagai dana apresiasi mantan atlet tergantung siapa pejabat dan iklim politis secara nasional. Sudah bukan rahasia bahwa anggaran di lingkungan pemerintah erat kaitannya dengan urusan politik. Jangan heran ketika ada dua event yang serupa akan dikucurkan dana berbeda. Semua tergantung lobi hohoo

Apakah pemerintah tahu siapa-siapa atletnya?
Barangkali ini merupakan pangkal permasalahannya, yaitu ketidaktahuan. Basisdata berisi nama-nama atlet berprestasi di masa lampau menjadi barang langka. Jika memang anggarannya ada, bagaimana cara menyalurkannya? Tentu akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencari tahu siapa-siapa yang berhak dan berlokasi dimana mereka saat ini. Keberadaan seorang atlet di Indonesia sulit dilacak. Bisa jadi, tetangga kita ternyata seorang atlet yang pernah berlaga di kancah internasional atas nama Bangsa Indonesia.

Sebagai titik awal bagi pemerintah untuk mulai peduli terhadap nasib atlet masa lalu adalah melakukan pendataan siapa saja mereka dan berada dimana saja mereka. Hal ini tentu akan memudahkan pemerintah untuk mengetahui apa yang dibutuhkan atlet-atlet tersebut setelah mereka tidak lagi berkarya di tengah lapangan. Di sini, SI/TI berperan sebagai pengumpul informasi. Kedengarannya sih ini ide yang sepele. Tapi kenapa belum terlaksana ya...

Blogger Tricks

Tradisi Sejak 1972

Kemenangan Tontowi/Natsir di Olimpiade Rio lalu berhasil melestarikan tradisi emas yang sempat punah. Tradisi emas yang digapai Indonesia ini kebetulan sangat spesifik pada sebuah cabang olah raga, yaitu bulutangkis. Sulit disangkal bahwa cabang yang jauh dari hingar-bingar layaknya sepakbola inilah menjadi tumpuan Bangsa Indonesia agar lagu Indonesia Raya bisa terus dikumandangkan, termasuk nanti di Olimpiade Tokyo 2020. Emas kali ini juga mengganjilkan raihan Indonesia menjadi 7 setelah secara beruntun Alan Budikusuma (tunggal putra 1992), Susi Susanti (tunggal putri 1992), Rexy Mainaky/Ricky Subagja (ganda putra 1996), Tony Gunawan/Candra Wijaya (ganda putra 2000), Taufik Hidayat (tunggal putra 2004), dan Hendra Setiawan/Markis Kido (ganda putra 2008).

Menariknya, tradisi ini sebetulnya sudah dirintis jauh sebelum Alan Budikusuma dan Susi Susanti meraih emas di Barcelona 1992. Sebagai info, ajang tahun 1992 tersebut merupakan debut cabang bulutangkis dipertandingkan secara 'resmi'. Tepat 20 tahun sebelumnya badminton alias bulutangkis sudah merintis pengakuannya sebagai cabang olah raga di ajang olimpiade. Hanya saja di tahun 1972 tersebut, bulutangkis masih menjadi cabang olah raga percobaan dalam Olimpiade Muenchen.



Diagram keberhasilan Indonesia meyeruput gelar juara di ajang demonstrasi badminton dalam Olimpiade Muenchen 1972


Tebak hasil apa yang dibawa pulang kontingen bulutangkis Indonesia saat itu?
Dari empat nomor yang ada, Indonesia menyabet sepasang gelar juara serta sepucuk gelar runner-up. Gelar juara disumbangkan oleh tunggal putra Rudy Hartono serta ganda putra Ade Chandra/Christian Hadinata. Sementara itu, Utami Dewi melesakkan dirinya sebagai juara 2 di nomor tunggal putri. Nyaris saja dirinya menembus final ganda campuran bersama Christian Hadinata. Praktis ajang 'demonstration' ini menjadi panggung yang didominasi oleh Indonesia. Negara macam Denmark, Jepang, hingga Malaysia plus Inggris tidak tampil segreget Indonesia. Hanya saja memang raksasa badminton bernama Republik Rakyat Tiongkok serta Korea Selatan memang belum berkecimpung di cabang ini. Terlepas dari faktor terakhir ini, tentu sebuah kebanggaan bahwa Indonesia terlibat besar dalam proses perintisan bulutangkis sebagai cabang olah raga resmi di Olimpiade.

Berselang 16 tahun kemudian, badminton menjadi cabang olah raga eksebisi di Olimpiade Seoul 1988. Tuan rumah tentu berminat mendulang emas dari cabang ini. Pun dengan RR Tiongkok yang notabene raksasa dunia dalam per-badminton-an. Praktis keduanya menjadi penjegal langkah Indonesia untuk melanjutkan dominasi 16 tahun sebelumnya. Korea Selatan mampu menyabet 3 gelar juara dengan 2 gelar juara lainnya dicaplok RR Tiongkok. Indonesia beruntung masih bisa mengamankan satu titel juara 2 lewat Icuk Sugiarto. Sejak saat itu pula, harus diakui, eksistensi Indonesia di cabang bulutangkis mengalami penurunan menjadi 1 emas per olimpiade.


Hasil Cabang Badminton di Olimpiade 1988

Jangan Cengeng

Ada banyak alasan untuk bertelungkuk lutut
Terbuai dalam ritme isak yang ditata sendiri
Parasnya dunia terselaputi mega di wajah

Segala sektor hidup tetu tidak ada yang mudah
Bahkan untuk berdiam diri pun secara fisika masih ada energi yang dikeluarkan
Raga yang kerap meronta ingin berselonjor di padang rumput
Bergelimang udara segar yang langka dalam keseharian

Tampaknya memang benar bahwa tempat istirahat ternyaman dari selaan dunia adalah alam kubur
Agaknya memang betul bahwa tempat istirahat paling didamba adalah surga

Namun kaki masih menapaki bumi dengan segala rupa jalan hidup
Singkat cerita 'mainkan saja peranmu'
Singkat pesannya 'jangan cengeng'

Awal Musim Baru


Sebuah keinginan yang terbesit sejak nyaris 5 tahun lalu
Sebuah upaya yang sempat terjegal dalam durasi setahun ini via 5 ali percobaan 6 kali penolakan
Sebuah debut yang masih sangat panjang dan perlu menyisihkan malam-malamku untuk belajar lebih giat lagi

Terima kasih kpd istri, orang tua, dan saudra yg sudah berkenan menemaniku memelihara mimpi
Terima kasih pula kpd kawan-kawanku yg sudah lebih dulu menjelajahi belantara rimba dosen di berbagai bumi Allah, bang Inggar Saputra di Universitas Mercu Buana, bang Detha Alfrian Fajri di Universitas Brawijaya, mba Denis Eka Cahyani di Universitas Negeri Sebelas Maret, Mba Betha Nurina Sari di Universitas Singaperbangsa Karawang.

Ready Steady Hmmm


Sulit membayangkan ada di forum ini bersama wajah-wajah yang sebetulnya familiar. Wajah-wajah kini menjadi rekan kerja saya untuk menuju Universitas Telkom yang lebih baik.

Membidik Belantara

Pada dasarnya manusia dibekali keinginan untuk berkembang. Keinginan ini merupakan wujud dari hawa nafsu yang apakah negatif atau positifnya, itu berpulang pada niat serta bagaimana cara meraih perkembangan tersebut. Tersemat pula dalam proses perkembangan diri tersebut levelisasi, yaitu pola pikir untuk memulai dari tingkatan sederhana dan relatif lokal menuju tingkatan yang lebih sukar dan bahkan mengglobal. Boleh jadi orang melirik rencana berkembang sebagai watak yang ambisius, nah, tinggal bagaimana kita fokus untuk merealisasikannya sebagai bentuk ibadah yang juga menebar kebaikan pada orang lain.

Sudah dalam dua pekan ini 'berburu' informasi mengenai Call for Paper serta International Conference. Tentu banyak yang harus dipertimbangkan untuk menghadapi 'seleksi' kegiatan-kegiatan tersebut. Mulai dari jadwal seleksi dan 'putaran final', bagaimana mekanisme pendanaan, bagaimana kita memperoleh dukungan tempat berafiliasi, hingga yang paling esensi, riset atau gagasan apa yang akan kita sodorkan. Semuanya merupakan komponen-komponen yang memaksa kita berpikir tidak hanya urusan 'masakan' apa yang akan dihidangkan, melainkan juga kompor, elpiji, wajan, bahkan tempat memasaknya.

Arah diri ini mulai mengkristal pada beberapa ketertarikan atau minat di bidang tertentu. Tata kelola TI, keamanan informasi, kualitas informasi, perdagangan elektronik, ekonomi kreatif, dan tak lupa kecerdasan buatan merupakan domain yang menjadi ranah favorit. Tapi dengan keterbatasan daya pikir, kita perlu menyusun skala prioritas dengan menengok berbagai faktor yang ada. Insya Allah untuk tahun 2016 dan 2017 ini akan fokus di keamanan informasi dan perdagangan elektronik.

Mengenai hutan belantara yang perlu dijelajahi, bidikan perlu diperluas ke penjuru samudra yang jauh di seberang sana. Berkembang dengan metode yang terancam babak belur, namun memantik kita untuk lebih keras dalam memperbaiki diri. Ibarat buah, akan ada saatnya kita ditanam di taah yang entah kita pun tak tahu lokasinya, kita berusaha untuk merangkak di perukaan, lalu tumbuh berkembang hingga pada wkatunya kita patut menyiapkan generasi berikutnya.

Kado 71 Tahun Indonesia

Kemenangan yang persis di hari kemerdekaan Indonesia. Kesempatan terakhir dari semua nomor ini akhirnya berbuah tangisan bahagia. Memang, dari 250 juta manusia berkewarganegaraan Indonesia, hanya dua orang yang berada di lapangan. Sisanya menjadi pelatih, kru, dan tentunya pendukung. Tapi kita sepakat bahwa kita mendulang haru bersama atas raihan emas yang menjadi klimaks kiprah Bangsa Indonesia di kanch Olimpiade Rio 2016.


Terima kasih Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir
Duo yang merupakan paduan yang mencerminkan keragaman suku dan latar belakang personal di Indonesia


Menilik Habibie Festival

Berawal dari info kawan-kawan Tekkamsi Kemenkominfo tentang adanya rangkaian acara kreatif di Museum Nasional, yaitu Habibie Festival. Maka kami menyempatkan diri berjelajah di sana saat sela-sela waktu istirahat. Sampai di sana, wuihh lumayan asyik juga.


Mengenai pemilihan tempat di Museum Nasional, tentu merupakan pilihan yang tepat mengingat lokasi yang strategis serta museum ini sendiri memiliki aset-aset yang menarik sebagai khasanah sejarah Indonesia. Alhasil, bagi yang belum berkunjung ke museum ini, bisa sekalian mengitari petualangan di sini. 

Terkait substansi Habibie Festival-nya sendiri, acara ini dikemas dengan cara yang sangat 'luas' dari sisi segemen pengunjung. Ada anjungan tank serta pesawat yang 'fotoable' bagi semua umur, terutama para bocah hehee. Bagi para bocah, tersedia pula beraneka lomba yang dihelat untuk beradu kreativitas. Bagi para intelektual, beragam talkshow dengan tema kekinian juga digelar, misalnya topik integrasi data bagi e-government. Kisah romansa Bapak Habibie dengan Ibu Ainun juga bisa kita tengok melalui sejumlah foto yang merepresentasikan kuatnya relasi diantara mereka.

Yuk Revisi

Proses penyusunan sebuah karya memang tidak mudah. Jatuh dan terpuruk bukan terminologi asing dalam hidup ini. Problematika justru adalah bagaimana kita bangkit. 

Emang Perlu Ada SER gitu?

Kali ini kesempatan 'gratis' menyimak pembicaraan tentang manajemen risiko dari sisi ancaman dunia teknologi informasi. Penyalahgunaan teknologi informasi serta faktor bencana merupakan ancaman yang mempengaruhi keberlangsungan SI/TI di organisasi kita. Di sini diulas banyak tentang urgensi untuk membangun komitmen, khususnya di layanan pemerintah, berupa lembaga fungsional yang berfungsi sebagai pusat penanganan bencana SI/TI.


Terima kasih kepada Pak Fetri Miftach, Pak Tedy Sukardi, dan Mr. Tony atas ilmu yang dibagikan pada kesempatan tersebut.