#17Des Tahun ini

Blogger Tricks

WikiLatih Bandung, 15 Desember 2018


Mengasah keasyikan menulis dalam acara #wikilatih yg diadakan oleh @idwikipedia dan @lontarfoundation

Nge-Wiki tentang Sriwijaya FC


Keinginan dan semangat untuk menulis kembali menguat. Tampaknya 'lahan' bernama WikiPedia jadi wahana yang bisa mengakomodasi semangat untuk berbagi wawasan sekaligus menambah silaturahim dan jaringan.

Mashooook Validasi di iLearnEKB


Akhir Getir Sriwijaya FC

Hilir Karier Manis Bepe20?


Di awal musim, sebuah kalimat terlontar mengenai kemungkinan dirinya pensiun apabila Persija juara. Minggu malam lalu [9/12] Persija resmi dinobatkan sebagai juara Liga 1, di pertandingan itu pula, nama belakang Bepe tertulis jelas di punggung kostum Persija yang dikenakannya [lihat kata 'PAMUNGKAS' di bawah angka 20. Menengok cerita di AFF 2012 ketika nama yang tertulis di punggung saat turnamen tersebut adalah PAMUNGKAS, ternyata hal itu menandai akhir karier Bepe di timnas [biasanya Bepe menggunakan nama depannya 'BAMBANG'].

Jika memang potongan-potongan informasi tadi dipadu, maka kuat artinya Bepe akan pensiun pasca-kompetisi Liga 1. Setidaknya, Bepe telah menorehkan sejumlah statistik dan kontribusi
  1. Pemain yang mampu meraih dua kali juara di klub yang sama dalam rentang panjang sejak era Ligina 1994. Beberapa seperti Firman Utina, M. Ridwan, dan Supardi memang juara lebih dari satu kali tapi rentangnya tidak mencapai belasan tahun.
  2. Persija yang kita saksikan hari ini bukan Persija yang melewati proses mudah. Dualisme federasi di era 2011 menyeret pula nama Persija menjadi dua versi di dua kompetisi berbeda. Beruntung Persija mampu menyelesaikannya dengan kontribusi seorang Bepe.


Pengalaman Pertama Menjadi Mitra Bestari


Ini adalah pengalaman pertama menjadi 'reviewer' alias mitra bestari dalam bahasa Indonesia. Proses keterlibatannya pun terhitung penuh kebetulan. Semester lalu, saya tertarik untuk mengirimkan paper ke konferensi ini, yaitu IICAIET. Apa daya keterbatasan waktu menyebabkan saya tidak bisa mengumpulkan. Tapi, saya menemukan informasi bahwa mereka membuka kesempatan untuk ikut serta menjadi reviewer secara sukarela [iya, kagak dibayar sih hehee]. Alhamdulillah 'lamaran' ternyata lolos dan diberi akses untuk ikut mengakses naskah-naskah paper yang perlu ditelaah. Bidang artificial intellegence memang sudah hampir lima tahun tidak saya baca paper-paper-nya, karena itulah saya fokus pada domain yang masih saya kuasai. 


btw, saya kurang tahu kenapa afiliasinya justru bukan homebase saya saat ini

Menanti Nasib 7 Klub di 5 Laga Tersisa

Lima laga yang mendebarkan bagi tujuh klub yang masih punya kepentingan di Liga 1. Angin segar sejauh ini memihak Persija dibandingkan PSM terkait perebutan tahta juara. Harus diakui, PSM sudah "berdosa besar" dengan kehilangan poin di laga yang sebetulnya relatif mudah. Tapi nanti dulu, Mitra Kukar dan PSMS yang dijamu masing-masing oleh Persija dan PSM punya hajat yang tidak kalah sakral dibandingkan nafsu juara, yaitu bertahan di kasta tertinggi Liga 1. Mereka berpacu dengan Sriwijaya FC, PS TIRA, dan Perseru untuk menghindari peringkat 16, 17, dan 18. Kelima klub ini masih terancam untuk berlaga di Liga 2 tahun depan. Bisa saja yang terdegradasi nanti tidak semujur Semen Padang yang langsung lolos "remedial" satu musim. Kelima klub ini pun menjalani laga yang "menggelisahkan" lantaran saling terkait nasibnya satu sama lain, plus berjuang di kandang lawan.

Akhir kata, semoga Sriwijaya FC bertahan di kasta pertama alias Liga 1 ini.

30 tahun KLa Project

Streaming menjadi alternatif memuntaskan keinginan menonton konser 30 tahun KLa project bertajuk Karunia Semesta. Faktor banyak tenggat tugas akhir semester dan juga penghematan finansial menjadi dua alasan menonton jarak jauh. Hikz hikz... Kita doakan semoga masa "prihatin" bisa usai dengan manis.

Okay, konsernya sendiri keren parah. Ini adalah konser band Indonesia paling kece yang aku pernah nonton (emang pernah nonton konser musisi lainnya?? Wkwkwk) Tiga puluh lagu (sesuai usia band ini) dibawakan yang membuat konser ini memakan durasi nyaris empat jam, itu pun sudah meringkas beberapa lagu. Usia individu para personel sedikit banyak memengaruhi durasi jeda antar-lagu, tapi totalitas tetap diusung mereka selayaknya prinsip saat tampil di atas panggung.

Katon Bagaskara, masih tetap kokoh dalam mengejawantahkan emosi dan pesan-pesan di tiap lagunya. Tampil ekspresif tapi efektif mengingat dirinya bakal berlaga hampir di 30 lagu, kecuali beberapa nomor yang memberinya jeda rehat. Sebagai vokalis utama, dirinya mampu mengomandoi jalannya konser tanpa harus mendominasi atensi, justru dia tangkas dalam berbagi peran dengan musisi sepanggungnya.

Lilo alias Romula Radjadin, menunjukkan peran 'unik' yang membuatnya dikangeni KLanis saat KLa Project kolaps, yaitu humoris di atas panggung. Berbagai skenario 'melucu' mampu memikat tawa sehingga jeda antar-lagu menjadi sarat makna. Sentuhan gitar progresifnya mampu konsisten dan progresif.

Adi Adrian, tanpa mengucilkan personel lain dan musisi pendukung, namun dirinya patut disebut sebagai 'man of the match' pada malam tadi. Improvisasi permainan keyboard-nya sagnat berwarna dan totalitas. Di sejumlah nomor beruansa romantis, dirinya membius lewat alunan yang khusyuk, misalnya Anak Dara, Semoga, Lepaskan, Romansa. Tapi di beberapa nomor lain, dirinya justru mengumbar alunan musik 'techno' yang sangat menghentak, sebut saja di lagu Lantai Dansa, Rentang Asmara, Sudi Turun ke Bumi, Laguku, Hey, dan juga Dekadensi.



Konser 30 tahun KLa Project memiliki arti khusus lewat sejumlah lagu yang jarang dibawakan dalam konser, atau bahkan tidak pernah (ya mana saya tahu konser mereka jaman Alesandro Nesta masih di Lazio ke sanaan). Dimulai dari Satu Kayuh Berdua selaku lagu pembuka, Bantu Aku, Lepaskan, Pasir Putih, Lantai Dansa, Radio, dan tentunya kejutan Takluk. Lagu Takluk di konser ini bahkan diklaim sebagai penampilan langsung perdananya di hadapan penonton walau justru dibawakan dengan versi "ajaib" dari Isyana.

Unsur musik etnik kultur yang pernah dibawakan di sebuah konser tahun ini juga diangkat dalam versi kolaborasi. Paduan ajaib Saujana dengan kultur Minang, Lagu Baru dengan Sunda, Pasir Putih dipadu Bali, hingga lagu "keramat" Yogyakarta dengan Jawanya.

Konser yang beruntung masih bisa saya tengok lewat aplikasi internet walau beberapa fitur seperti screenshot tidak bisa dijalankan. Memang, nonton di lokasi lebih asyik, moga-moga di konser berikutnya. Btw, 30 lagu yang dibawakan tidak mengikutkan lagu saat berbendera NuKLa serta album Excellentia. Agaknya KLa Project masih sulit beranjak dari status band nostalgia. Terlepas dari itu, salut atas konser ini

#lanjutngepaper

At INTERACT 2018


Insightful lesson about #artificialintelligence and #datascientist for #digitalbusiness in #INTERACT2018 by @katadotai and @techinasia_id (ketemu bro Tedy Suwega malah)