Remote Projects for Social Passion

Masih ada tanggung jawab di Depok, tepatnya "kontrakan" bernama Himmpas UI. Kenapa disebut "kontrakan" karena status sebagai mahasiswa sudah lekang dengan kondisi lulus. Tapi biatlah (perlahan) "kontrakan" itu menjadi "rumah" yang tentunya takkan melebihi nilai rumah saya yang sebenarnya di Bandung. Yapz, domisili di Bandung mendorong saya banyak melewatkan sederet agenda bersama kawan-kawan Himmpas UI. Saya menyebut iu bagian dari dinamisnya situasi dalam berorganisasi. 

Barangkali faktor kebetulan diamanatkan menjadi tukang desain di dua proyek sosial Himmpas UI yang menjadi jembatan saya perlu ke Depok walau itu sangat jarang. Hampir 95% peran saya dokerjakan melalui teknologi jarak jauh, terutama internet. Salah paham, kurang puas, revisi, ah itu biasa dalam sebuah proses kreatif. Hanya saja skala tantangannya melebihi kolaborasi secara langsung.

Entahapakah saya bisa survive dengan situasi remote ini mengingat banyak hal-hal yang memaksa saya mengeluarkan daya pikir saya. Namun selama masih bisa memberi, kenapa harus berhenti.

Blogger Tricks

Dimulai dari Diri Sendiri

Tak mungkin orang-orang di sekitar kita berkarakter persis seperti kita damba. Riak bukan hal yang tabu selama bisa terkendali. Rasa kesal bukan aib 'tuk disesali jika mampu memberi arti belajar.

Boleh jadi kita geram dengan kepiawaian orang menyela pendapat. Di saat jengah jelas sikap tadi bumbu untuk suntuk melanjutkan perbincangan.

Boleh jadi kita sepat dengan tradisi orang lain mencari orang yang oatut dipersalahkan. Lebih akut bila kita berada di pihak itu tanpa ada daya orang mendengar penjelasan kita.

Namun sudahlah itu akan menjadi jelitanya asam tiada muara. Sekali dua kali kita mencoba bersabar. Tiga empat hingga sepukuh kali kita mula menghela nafas panjang hingga menggelengkan arah. Seterusnya temaram menjadi selaput ego kita. Geram dengan diselanya apa yang kita sampaikan. Sepat dengan dipersalahkannya kita. Baiknya kita mulai dari diri sendiri untuk menyolusikannya.

Mulai dengan memberi maaf
Mulai dengan bersikap tegas tanpa keras
Mulai dengan memberi teladan

Debutan dan Mantan (Jebolan) European League Fase Grup

Jika sebelumnya kita menyinggung siapa-siapa saja debutan plus mantan UEFA Champion League, maka di sesi ini dikenalkan sekelumit duakelumit kasus serupa di European League. Diawali dari 7 klub debutan di turnamen yang menjadi suksesor dari UEFA Cup sejak 2008.

Pertama ada FC Ausburg, wakil dari Bundesliga yang mengawali kiprahnya di kompetisi antarklub Eropa dimana pada musim lalu Ausburg menggapai peringkat 5 sekaligus mengingguli nama-nama tradisional macam Dortmund, Hertha Berlin, Schalke 04, Wender Bremen, hingga VfB Stuttgard. Kemudian ada wakil negara Monako yang berkiprah di Ligue 1, kompetisi nomor wahid negara Prancis, yaitu AS Monaco. Klub ini sebenarnya alumni UCL musim lalu namun kemerosotan prestasi membuat mereka musti merangkak di kompetisi di bawahnya, European League. Di era grup UEFA mereka hanya pernah pentas di 2005-2006. Groningen menjadi klub Eredivisie yang mewarnai kompetisi ini tanpa aksen merah atau putih sebagai 5 klub biasanya (Ajax, PSV, Feyenoord, Twente, dan AZ Alkmaar). Beranjak ke FC Sion, wakil dari Liga Swiss. Tidak banyak yang saya tahu dari klub ini karena FC Basel lebih familiar sebagai icon Liga Swiss. Midtjylland yang menjadi jawara Danish Alka alias Liga Denmark juga patut diwaspadai setelah mereka mampu meruntuhkan hegemoni Kobenhavn do kompetisi domestik musim lalu. Skënderbeu Korçë jadi deputi tunggal Albania, bahkan menjadi klub Albania pertama yang melaju ke fase grup di kompetisi European League dan UEFA Cup. Belenenses menjadi wakil Liga Portugal yang turut meramaikan persaingan di kompetisi ini, tak patut disepelekan karena Liga Portugal pernah menorehkan all-Portugal final antara FC Porto vs Sporting Braga.

Ada pula jebolan masa lalu European League tingkat fase grup, yaitu Ajax Amsterdam, Borussia Dortmund, dan Lech Poznań. Siapa yang tidak kenal Ajax Amsterdam? Mereka pernah menorehkan satu title UEFA Cup plus beberapa trofi UCL. Sebenarnya pun ini bukan kompetisi asing bagi mereka. Beberapa musim ini mereka berstatus konektor UCL dengan European League lantaran raihan peringkat 3 di grup UCL sehingga terdampar di European League berpapasan dengan klub-klub yang lolos grup EL. Dortmund? Ah mereka belakangan menjelma sebagai klub yang diperhitungkan di pentas UCL dengan partisipasi terakhir di EL pada 2010-2011. Poznañ barangkali lebih asing mengingat kompetisi asalnya, Liga Polandia kurang terpublikasi. Mereka yang juga alumni putaran grup LE 2010-2011 terpinggirkan lantara kedigdayaan rivalnya, Legia Warsawa sebagai wakil Polandia di kancah Eropa.

sumber gambar: telegraph.co.uk, wikipedia.org, matchprediction.com, birminghammail.co.uk, outside90.com, spazionapoli,it, espnfc.com, sbotetindo.com, kabarbola.com

Manisnya Survey Kualitas Informasi

Ada tiga hal menarik tang bisa dipetik dari proses survey kualitas informasi pada tesis saya yang lalu. Tiga hal ini disusun tidak berdasarkan prioritas, namun beriringan dan malah saling melengkapi. Ketiganya tidak diajarkan di bangku kuliah, jadi perlu bantak belajar di berbagai sawah lainnya.

1. Memanfatkan koneksi
Alhamdulillah Allah mengizinkan saya "pecicilan" di beberapa "sawah" dan mempertemukan saya dengan orang-orang yang beranekaragam namun punya satu kesamaan: gemar membantu. Berbekal daftar kawan di email, phonebook, hingga social media, saya bersyukur mampu menggaet responden dari berbagai daerah di Indonesia. Tentu ada peranan Allah yang menjadikan mereka berkenan dan sempat membantu. Terlepas dari tujuan menggaet mereka sebagai responden, saya juga berkesempatan menggugah kembali silaturahim ke sempat tersendat karena perbedaan ruang saat ini.

2. Berbahasa santun
Jelas bukan hal yang mudah bagi introvert macam saya untuk mengungkapkan niat "nembak" seseorang agar mau menjadi responden. Ya iyalah, kalau asal tothepoint ya jadinya tersinggung karena mengesankan kita seenaknya saja menghubungi kalau lagi butuh. Maka perlu disusun kalimat yang nyaman dibaca. Lebih dari itu, karakter orang beragam turut mendorong saya memodif kalimat minta tolong agar sesuai dengan si pembaca.

3. Kejujuran
Lho bukannya ini sepele? Siapa bilang? >_< Justru kejujuran patut dijunjung tinggi. Pertama jujur mengenai maksud kuesioner kepada calon responden. Kedua jujur terhadap dosbing dan dosji tentang hasil survey yang diperoleh. Godaan untuk mengisi data fiktif tentu ada, namun karena ini untuk kebaikan apa layak dinodai kedustaan? #tsaah

Nuhun kepada seluruh responden, termasuk calon responden yang berhalangan untuk berpartisipasi.

Manisnya Sintesis Dimensi Kualitas Informasi

Salah satu bagian yang vital dalam mengerjakan riset untuk tesis dan (insyaAllah) jurnal saya adalah membentuk dimensi-dimensi baru dalam kualitas informasi. Awalnya saya sendiri pusing dan sempat menanyakan ke diri sendiri kenapa harus ada tiga framework yang disintesis. Seiring waktu berjalan saya tetap pusing namun malah lupa untuk mencari jawabannya wkwkwk...

Bagi saya pribadi proses sintesis sejumlah dimensi tersebut merupakan kesempatan untuj menampilkan gagasan ilmiah yang (menurut) saya patut dijalankan oleh seorang mahasiswa S2. Di sisi lain proses sintesis ini bertujuan untik menghasilkan aspek-aspek penilaian yang objektif dan lebih ringkas tentang kualitas informasi. Ada tiga framework dengan dimensi yang berbeda walaupun ada pula kemiripan polanya, yaitu AIM Quality, CC/LC, dan Gasser-Stvilia. Ketiganya saya padukan menjadi kerangka kerja baru dengan hasil 14 dimensi kualitas informasi. Penasaran apa isinya? InsyaAllah nanti diulas setelah ada izin validitas ilmiah via jurnal.

Tantangan yang harus diakui sulit untuk diterapkan dalam proses sintesis ini adalah memastikan ruang lingkup yang sesuai serta validasi oleh pakar. Kita perlu tahu detail item serta kriteria yang dinilai tiap dimensi. Hasilnya berula identifikasi ruang lingkup yang mnjadi landasan untuk menggabungkan dimensi yang mirip, atau bisa jadi memisahkannya. Bagaimana dengan validasi? (idealnya) kita perlu melibatkan pakar untuk memastikan kesesuaian dan kevalida hasil sintesis kita.

Ah...riset memang mengasyikkan.

Ada Realitas Tersendiri tentang Dosen

Dosen itu profesi yang mulia, karena mengamalkan ilmunya. Namun patut dipahami bahwa profesi dimanapun di dunia ini mempertimbangkan jenjang karir serta kecukupan penghasilan. Dua hal ini yang pada akhirnya menjadi filter jadi tidak seseorang "ngedosen". Tidak seperti praktisi macam programmer, konsultan, dll, rekrutmen dosen jarang dijumpai di tengah semester berlangsung. Eksistensi lowongan dosen jamak ditemui pada kisaran Mei s.d. Agustus dan November s.d. Januari. Alasannya sederhana, di Mei dan November manajemen kampus mulai memperkirakan kebutuhan SDM semester mendatang dan bulan September dan Februari perkuliahan sudah dimulai. Itu dari sisi slot waktu lowongannya.

Dari sisi betapa tingginya karir yang musti ditempuh itu juga lumayan berat. Jika si PNS ada golongan IIIb, IVa, dst, nah di dinia akademik juga ad jenjang asisten lektor, lektor, dst. Belum lagi mengupas status dosen luar biasa vs dosen tetap, itu menarik untuk diuraikan. Hehee

Dan terakhir dari sisi penghasilan. Barangkali untuk aspek satu ini merupakan faktor yang turut andil terhadap konsistensi niat seseorang menjadi dosen. Penghasilan DLB yang dihitung sejumlah jam mengajar, sedangkan DT ada hitungan tersendiri. Konon selisih yang cukup jauh menjadikan DLB harus punya sumber penghasilan lain jika ingin survive dibandingkan DT. Karena itu, jika memang niatnya ngedosen di suatu kampusbyang diinginkan maka langsung saja melakoni rekrutmen DT. Namun jika bukan kampus yang akan dijadikan destinasi akhir maka pertimbangkan masak-masak akan jadi DLB atau beralih ke profesi lain sementara.

Well.... Semua pada akhirnya dikembalikan pada bagaimana tuntunan Allah SWT kita isi dengan prasangka baik.

Debutan dan Mantan (yang kembali) di UCL 2015/2016

Musim 2015/2016 ini ada dua klub yang terhitung sebagai debutan di UEFA Champions League. Mereka adala KAA Gent dan FC Astana sebagai jawara dari Jupiler League Belgia dan Liga Kazahstan. Liga Belgia sebelumnya lebih rutin menelurkan Anderlect sebagai juara sekaligus deputi di UCL. Klub yang berkostum biru ini bahkan jaranf berkompetisi di Eropa dengan lakon terakhir mereka adalah Piala UEFA era 2000-an. FC Astana malah menjadi wakil perdana klub asal Liga Kazakhstan di Liga Champion, bahkan jika menyinggung era Piala Champion maupun era afiliasi ke Liga Uni Sovyet. Yang unik, tahun 2015 ini adalah usia mereka yang keenam, ya keenam, mereka yang berdiri tahun 2009 jelas lebih muda dibandingkan peserta Liga Champion lainnya.

Di lain pihak, "muka baru stok lama" juga menghinggapi musim ini. Diantaranya adalah Sevilla FC asal Spanyol yang meraih tiket spesial sebagai juara European League musim lalu. Mereka tampil mengganjilkan jatah La liga di UCL menjadi 5 klub. Dengan partisipasi terakhir di UCL tahun 2008/2009, jelas menarik untuk menyimak kiprah mereka. Sebagai catatan, di tahun 2006 dan 2007 mereka beruntun menyaplok Piala UEFA lalu memulai petualangan di UCL namun babak belur, kini apakah mereka "belajar" dari masa lalu. Berikutnya ada duo wakil Bundesliga, yaitu WfL Wolfsburg dan Borussia Moenchengladbach. Wolfsburg akan menjalani petualangan kedua mereka setelah hanya menggapai peringkat 3 di musim 2008/2009. Gladbach? Perlu menengok ke era 1970-an dan 1980-an untuk mengetahui kiprah klub ini. Era UCL? Ini debut mereka. Ada juga duta tunggal Eredivisie, yaitu PSV Eindhoven yang baru bisa menembus belantara UCL setelah terakhir pada 2008/2009. Kemudian tampil pula wakil Liga Israel, Maccabi Tel Aviv yang menapaki musim kedua setelah hanya menjadi "penggembira" di 2004/2005.

Sumber gambar: liputan6.com, gettyimages.com,

Nuhun @himmpasUI

Syukron atas silaturakhim yang tetap lestari dan semoga menjadi modal di yaumil akhir nanti.

semua foto dari mba Betha, kecuali cangkir dan FB dari saya

#20w15uda tuntas

Alhamdulillah

#wisudaUI edisi FasilkomUI