Mengitari GBK







Terik Pagi Menuju Siang di #AsianGames2018








Kilas Balik GBK di fX Sudirman

Ceritanya saya hendak mencari ATM di fX Sudirman. Eh, malah menemukan sebuah galeri foto-foto djadoel dari pembangunan Stadion Gelora Bung Karno [d/h Senayan]

Belum sarapan dan sehabis jalan kaki dari kawasan Semanggi hehee

Sosok Presiden pertama RI, Soekarno, tidak bisa dilepaskan dari GBK. Bukan sekadar nama, melainkan gagasan dan atensi beliau terhadap olah raga merupakan tonggak berdirinya kawasan olah raga Senayan. Asian Games 1962 merupakan misi nekad seorang presiden dari negara yang usianya masih di level 'merangkak'. Saat itu memang perekonomian gersang, tapi investasi 'gila ' itu terasa manfaatnya sekian dekade kemudian.

Salah satu proses renovasi GBK/Senayan. Di stadion ini, ada banyak suka cita Bangsa Indonesia, terutama terkait persepakbolaan Indonesia yang puasa [di level senior]

Stadion ini sakral, apalagi jika Bendera Merah Putih sudah dikibarkan.

Masih ada banyak koleksi foto lainnya. Saya yakin bahwa versi digital yang bisa ditonton melalui website tidak kalah ciamik.


Sukses untuk Para Wisudawan Pascasarjana

Kiriman foto dari WAG Pengurus HIMMPAS UI 2018.

Semoga momen ini makin berkah dan memberi inspirasi, termasuk bagi saya yang wisuda paling cepatnya tahun 2020.

Selamat Mas Fikri

Mas @fikrifahmi911 . Salah satu sahabat saya semenjak TK (iya TK, Taman Kanak-Kanak, moso' Taman Kaplak-Kaplak) walau hanya satu sekolah saat SMA. Alhamdulillah pekan ini beliau #wisudaui dari FMIPA utk jenjang magister, lagi-lagi tentang perfisikaan. Semoga Allah melimpahi rahmat dan lindungan di berbagai aktivitas dan perjalanan berikutnya Mas.

Satu Harmoni Nirkubu untuk Indonesia

"Foto dari Laily Rachev, Biro Pers dan Media Istana"

Kalimat tersebut sebagai pengakuan dan wujud etika karena artikel ini memakai hasil potret orang lain. Selain kalimat itu, saya rasa tidak perlu deskripsi lebih lanjut.

Beraneka Rupa Kuil-Kuil di Chiang Rai

Saya pengagum seni, termasuk seni arsitektur dan interior berbagai bangunan. Saya berkunjung ke beberapa kuil di Chiang Rai dalam konteks non-ritual, hanya sekadar mengagumi sebagai karya seni. Ada faktor aqidah berupa perbedaan besar antara saya selaku muslim dengan kawan-kawan penganut agama Budha. Saya harus mempertahankan keyakinan saya dengan tidak mengikuti ibadah mereka. Pun saya juga tidak boleh seenaknya keluar masuk kuil. Saya harus cermat memperhatikan tanda-tanda mengenai apa yang boleh dan apa yang dilarang untuk menjaga perasaan dan hak-hak mereka. Praktis saya hanya mendokumentasikan kunjungna tersebut dalam rangka/konteks wisata dan seni, tanpa secuil tendensi religius. Bahkan ketika ada larangan memotret pun saya wajib mematuhinya.

Papan nama di depan kuil Wat Klang Wiang, sentuhan seninya sudah terasa kuat dari papan nama. Memang terkesan sederhana, tapi tetap saja memikat mata

Penampakan di depan kuilnya persis. Terlihat pola arsitektur segi lima menjadi ciri khas kuil-kuil di Thailand [dan juga Laos]. Ukiran-ukiran warna emas mengisyaratkan keelokan dan kemegahan berpadu warna dasar bangunan merah. 

Salah satu kuil yang bertingkat, sayang saya tidak sempat mengecek namanya. Bentuk atap bersudut lancip juga menjadi karakter khas bangunan-bangunan kuil di sini.

Kalau tidak mendung, mungkin warna putihnya bisa lebih kinclong

Dari kejauhan saya menerka bahwa kuil ini bernuansakan India. Bukan karena nama 'Singha', melainkan bentuk roda yang ada di dengan gerbangnya. Sangat mirip dengan desain-desain khas negara India. Warna putih sebagai warna utama kuil juga kerap saya lihat di foto-foto kuil di India [di internet tentunya, kan saya belum pernah ke India]

Tapi di dalamnya desainnya sangat Thailand. Lihat saja bentuk tampak depan yang berupa segi lima. Thailand banget itu. Kali ini saya memperoleh hasil potret yang cukup unik berupa patung ular naga yang meliuk di depan kuil.

Menara yang tampak cemerlang dengan warna utama kuning emas. Lokasinya di bagian belakang kuil Singha. Ohya, konon kuil Singha merupakan kuil tertua di Chiang Rai yang sudah ada sejak tahun 1385.

Yang ini saya spontan memotretnya saat menuju Mae Sai

idem dengan objek berbeda hehee

#ArfiveThailand

ການເດີນທາງກ້າຫານ Brave trip in Huay Xai [2]

Melihat ulasan wisata tentang Huay Xai di berbagai laman, saya sulit menjawa pertanyaan istri saya 'Emang di sana ada apa'. Hehehee, saya juga bingung lantaran objek-objek wisata yang menarik ada jauh di Luang Prabang dan Vientiene, bukan di Huay Xai. Di sisi lain, durasi yang kurang dari sehari juga menjadi pertimbangan untuk memilih tempat yang seefisien mungkin. Alhasil sebuah kuil bernama Wat Chomkao Manilat, makan siang di sebuah kedai, serta jalan-jalan menikmati suasana kota sederhana cukuplah menjadi pemuas rasa penasaraan sekaligus menaklukan tantangan. Saya juga sadar bahwa penampilan kami yang terlihat jelas identitas muslimnya akan menarik perhatian orang, plus negara ini menganut konsep komunis. Artinya kami perlu bijak dalam melangkah dan bertindak. Sayangnya ada satu ganjalanan yang baru saya sadari sesapainya di Huay Xai, jumlah anjing di sini kelewat banyak. Jelas membuat saya yang fobia anjing ini merinding. hohoo

Anak tangga menuju kuil Wat Chomkao Manilat. Suasana sakral langsung terpancar lewat patung naga yang moncer ini

Orang tua ingin mendokumentasikan pengalaman bertiga, tapi si mungil masih fokus menapaki anak tangga


Gambar di atas persis menunjukkan model arsitektur yang digunakan memiliki kemiripan dengan kuil-kuil di Thailand. Sepertinya akan ada semacam perayaan meningat beberapa dekorasi mencolok terpasang meramaikan kuil tersebut.

Si mungil tampak antusias di perjalanan ini [ya iyalah di bus udah puas tidur pulas]

Mata uang di Laos adalah Kip yang nilainya 'hampir setara' dengan Rupiah, tapi tidak persis 1 banding 1. Harga yang disertai ribu adalah hal yang lumrah sebagaimana harga-harga di Indonesia, misalnya nasi goreng di Indonesia yang harganya 10-13 ribu [yang standar]. Saya tidak sempat mencari info apakah Bath berlaku juga di sini atau tidak. Namun, saya menyempatkan menukar Bath ke Kip saat masuk ke border imigrasi. Selain memperkecil risiko 'kelaparan', siapa tahu sisa uang Kip-nya bisa jadi koleksi hehee. Oh ya, saya hampir tidak menemukan ATM di sepanjang kota ini. Memang ada beberapa, namun sekitar satu atau dua, itupun oleh bank domestik Laos. Artinya stok uang kartal harus dipersiapkan bila ingin wisata ke negara ini.

Kalau tidak salah, ini adalah papan nama dari sebuah sekolah teologi ke-Budha-an di Laos. Walau sistem politik menganut komunis, agama Budha dipersilakan berkembang di Laos.  

Lantaran Islam merupakan minoritas di Laos, kami sudah mengira akan kesulitan mencari tempat makan halal. Karena itulah, kami memilih membawa stok makanan dari penginapan. Praktis hanya nasi yang kami beli di sebuah kedai di jalanan kota Huay Xai. Saya sendiri sempat beberapa kali lupa bahwa ini adalah sebuah ibu kota provinsi lantaran suasanya yang masih asri mirip Margasari. Kalau saya ada kesempatan lebih lama, saya ingin mengamati lebih lama potret sosial budaya negeri ini.

Antara swafoto versus membaca tulisan yang entah bagaimana cara mengejanya

Sepulang dari perjalanan ini, kami sempat mengalami kendala di imigrasi Laos. Petugas mengira bahwa kami sudah menghabiskan jatah dua kali masuk Thailand. Sempat panik, saya berusaha mengklarifikasi bahwa jatah dua kali itu berlaku hanya untuk imigrasi darat. Tahun ini saya masuk ke Thailand pertama kali via pesawat [sambil memeragakan pesawat sedang landing dan jari membentuk angka nol], sedangkan beberapa hari lalu saya ke Tachileik/Myanmar melalui darat dan langsung kembali hari itu juga [sambil memeragakan jalan kaki dan jari membentuk angka satu]. Kali ini saya dari Laos menuju Thailand berjalan kaki sehingga hitungan dua kali baru berlaku [sambil memeragakan jalan kaki dan jari membentuk angka dua]. Si petugas masih bingung dan membuat istri mulai khawatir. Setelah bernego dalam bahasa Inggris ala Tarsan, akhirnya kami dipersilakan lewat dengan catatan imigrasi Laos tidak menjamin kalau imigrasi Thailand bakal menerima kami. Lantaran sudah membaca tentang regulasi tersebut plus 'peringatan' sewaktu keluar Thailand, saya optimis bisa masuk kembali ke Thailand. Di tengah jalan, istri bertanya 'Mas, beneran bisa kan'. Saya hanya tersenyum mengangguk. Alhamdulillah kami diterima masuk kembali ke Thailand disertai pesan dari petugas imigrasi di Chiang Khong bahwa jatah masuk lewat darat sudah habis.

#ArfiveLaos

ການເດີນທາງກ້າຫານ Brave trip in Huay Xai [1]

Ekspedisi ke Chiang Rai memang tidak layak diberi label 'lazim'. Tidak sekadar lokasi Chiang Rai yang tidak populer di Indonesia, tapi 'godaan' untuk menjejakkan kaki ke Myanmar dan Laos, sepasang negara yang berbatasan darat dengan Thailand. Setelah sebelumnya 'nekat' ke Tachileik, maka pada Sabtu [21/7] lalu, saya beserta istri dan putri saya [yang masih dua tahun] beranjak dari penginapan kami menuju ke Huay Xai.

Perjalanan hujan mengiringi kami sejak beberapa menit selepas bus dari terminal Chiang Rai ini meluncur ke kota Chang Khong. Kondisi bus persis seperti saat kami menuju Mae Sai, sepintas cetakan lama tapi kebersihan dan performa mantap lah


Wajah-wajah imigran turis asal Indonesia yang berharap perjalanan lancar-lancar saja

Huay Xai adalah sebuah kota di pinggir Sungai Mekong, tepatnya sebelah Timur alias sudah masuk ke teritori Laos. Kota ini biasa menjadi titik numpang lewat mereka yang ingin menuju Vientien [ibu kota Laos] atau malah ke Kamboja dari arah Utara negara Thailand. Status 'kota' memang membuat istri saya heran [sepulang dari sana]. Ya, infrastruktur dan keramaian di sana memang agak jauh dibandingkan kota-kota di Indonesia yang menjadi ibu kota provinsi, misalnya Pontianak, Bandar Lampung, bahkan Ternate yang notabene 'mantan ibu kota provinsi Maluku. Tingkat keramaiannya justru tidak berbeda jauh dengan Margasari, iya Margasari, bukan Slawi lho ya. Alasan saya ke kota ini pun hanya satu, mengunjungi Laos walau hanya beberapa jengkal waktu saja. Sebagaimana Myanmar, saya tidak punya lagi rencana untuk mengunjungi Laos. Dengan demikian, momen 'mampir' ke Laos ini jelas menjadi momen yang sayang untuk dilewatkan. Memang ada paket wisata dari Chiang Rai ke Pulau Donxao yang sudah masuk Laos. Tapi pulau tersebut kurang menawarkan pengalaman yang jelas. Saya ingin tahu peradaban yang 'lebih riil' walau tentu saja jauh di Laos sana mungkin berbeda. Beberapahari setelah dari Thailand, saya bar tahu kalau ke Pulau Donxao saja tidak akan diganjar stempel paspor, sedangkan Huay Xai iya.

Walau di pinggir wilayah Thailand, tapi infrastruktur di Chang Khong relatif memadai

Carilah bus menuju Chang Khong jika berangkat dari terminal Chiang Rai. Entah mengapa saya membayagkan status terminal Chiang Rai patut disebut sebagai bus antar-negara lantaran ada arah menuju Laos serta Myanmar. Kali ini kita harus membayar 65 THB sebagai tarif standar menuju pinggir perbatasan. Hujan yang deras sudah saya perkirakan sehingga saya perbanyak istirahat pada H-1. Tidak perlu khawatir nyasar karena supir dan kondektur bus-bus di sana alhamdulillah jujur dan sangat ramah, tapi waspada tetap wajib. Nanti kita akan turun di sebuah pertigaan, selanjutnya angkot kecil akan membawa kita ke kantor imigrasi. Di sini, saya mendapatkan 'peringatan' [dalam arti positif] bahwa saya sudah memasuki Thailand lewat darat, tepatnya dari Myanmar sehingga jatah masuk lewat darat saya tinggal satu kali lagi. Alhamdulillah jatah ini sudah saya ketahui sebelumnya lantaran membaca blog traveler lainnya yang juga pernah ke sini.

[dari arah pembaca] Sebelah kiri adalah Thailand, sebelah kanan adalah Laos. 
Kalau saja saya solo traveler saat itu, naik bus jelas pilihan yang tidak menyenangkan karena jarak yang relatif pendek dan cukup menyita stok uang saku.

Bus ini kelak akan melewati jalur '8' yang menjadi konverter antara lajur kiri Thailand dengan lajur kanan Laos [padahal setahu saya Laos itu negara 'kiri' eh]

Dibandingkan ke Tachielik, perjalanan ke Huay Xai ini agak 'boros' lantaran tidak diperkenankan jalan kaki melintasi jembatan Sungai Mekong. Kita harus memakai bus atau mobil jemputan yang tarifnya [kalau tidak salah] 20-25 THB per orang. Kalau dari Mae Sai ke Tachielik hal ini tidak berlaku lantaran sungai pemisahnya relatif kecil. Selama di imigrasi jangan mainan handphone, jangan mainan laptop, jangan menyakiti hati mantan eh eh eh. Jangan lupa bahwa sebagai sesama negara ASEAN, kita bisa keluar masuk Laos dengan gratis.

Sebagai turis yang 'numpang lewat' dan tidak ada niat jelek/catatan kriminal, isi datanya nyaman kok. Btw dosen saya sih bilang kalau saya ini 'gila' karena membawa anak istri ke perjalanan macam gini sedangkan saya sendiri belum pernah ke sini wkwkwk.

#ArfiveLaos

Surga Tersembunyi di Chiang Rai


Tantangan terbesar saat bepergian di kawasan yang tidak didominasi muslim adalah mencari masjid. Jauh-jauh hari saya mencari tahu dimana saja lokasi masjid yang ada di kota Chiang Rai. Hasilnya kurang begitu meyakinkan. Salah satu yang tampaknya bisa diandalkan adalah masjid Nurul Islam yang berlokasi sekian kilometer dari terminal. Tapi lokasinya yang tidak di pinggir jalan persis membuat saya hanya mengalokasikan satu kali saja ke sini, tepatnya untuk sholat Jumat.


Pintu masjid masih sepi, kalau dari garis bujur sih memang 11-12 dengan Banda Aceh, jadi waktu Dhuhur-nya agak beda jauh dari wilayah Jakarta

Saya dan istri persis dari kuil Wat Rong Khun dengan target harus sampai di sini sebelum adzan. Alhamdulillah bapak supir angkot berhasil mengantarkan kami walau dia sendiri juga kebingungan. Ya, wajar sih. Objek yang jarang dan tidak populer seperti memang tidak banyak diketahui orang yang berbeda agama. Terima kasih bapak sudah berkenan mengantar hehee...

Kesederhana yang menyejukkan

Pengalaman sholat Jumat kali ini memang unik. Sebelum adzan, ada seorang bapak yang memberikan tausiyah dalam bahasa Thailand. Ojo tako aku ngerti opo ora. Selanjutnya seorang ulama menjadi khotib setelah adzan dikumandangan. Beliau membawakan khutbah dalam bahasa Arab. Saya menerka khotib ini asli dari Timur Tengah dan tidak fasih berbahasa Thailand sehingga isi khutbah dalam bahasa Thailand dibawakan terlebih dulu oleh si bapak sebelumnya. Berbeda dengan pengalaman serupa di Malaysia dan Singapura yang secara bahasa mirip, saya tidak begitu tahu, bahkan tidak tahu sama sekali yang menjadi isi khutbah. Walau demikian, saya yakin isinya tentang ajakan berbuat kebajikan dan melawan kebatilan. 

 Suasana seusai Jumatan, mau gimana pun juga yang namanya masjid memang menyejukkan


 Di dekat masjid ini, terdapat kedai yang menyediakan makanan halal relatif lengkap. Sungguh nikmat akhirnya bisa menikmati hidangan dengan status halal yang jelas.

#ArfiveThailand

Jernihnya Wat Rong Khun


Pembeda dari kuil yang konon menjadi 'must be visited' dibandingkan bangunan serupa ada pada warnanya, putih. Ada banyak filosofi dari warna ini. Suci, murni, jernih, bersih, ikhlas, apa lagi ya, hmmm yang pasti putih tidak diasosiasikan dengan Real Madrid lho ya. Melihat berbagai ulasan yang ada, saya tidak menemukan keraguan berarti untuk mengunjunginya walau disertai bimbang akan ke kuil ini sebelum sholat Jumat atau sesudahnya. Belajar dari pengalaman sudah-sudah dimana bada Dhuhur di sini kerap diwarnai mendung, maka saya dan istri memutuskan menargetkan ke White Temple sebelum Jumatan. Yups, sebagai objek wisata yag mengandalkan arsitektur eksterior, jelas cuaca yang mendung akan mereduksi kenyamanan.


Sesampainya nanti, kami menyadari bahwa memang objek wisata ini disarankan untuk dikunjungi pagi hari. Alasannya sederhana, yaitu masih sepi sehingga kita lebih leluasa menikmati segala sudut tanpa harus berkerumun layaknya dawet tanpa santan.

Lho kok warnanya nggak putih, ya memang, tapi dominasi tetap putih

Bukan hal yang susah menuju ke White Temple jika berangkat dari terminal kota Chiang Rai. Ada tulisan jelas yang menandai bus mana yang harus dipilih. Kocek 20 THB per orang patut dipersiapkan sekaligus menandai bahwa durasi sekitar 30-45 menit akan dihabiskan menikmati jalanan darat kota Chiang Rai. Kesempatan berharga untuk mengamati bagaimana keseharian kota ini. Keunggulan objek wisata ini adalah dekat dengan jalanan utama kota Chiang Rai. Alhasil, kita cukup berjalan kaki menuju lokasi setelah turun dari bus. Ornamen pahatan runcing dan melingkar sudah melambai-lambai dari kejauhan. Jelas sebuah peringatan untuk bersyukur bahwa manusia dikaruniai akal pikir dan jiwa kreativitas yang kece mantap jaya.

Terlihat sepi dan khusyuk. Padahal sejam kemudian langsung membludak ramai... =-=



yang bagian ini agak ngilu-ngilu serem

Alhamdulillah kami sampai saat belum terlalu ramai. Tidak rebutan oksigen, tidak rebutan ruang untuk mengagumi kreativitas, bsa saling bergiliran mendokumentasikan sudut-sudut yang ada. Jujur, saya sangat terkesima dengan hasil kreativitas yang dihasilkan oleh perajin kuil ini. Awalnya, saya penasaran, bagaimana warna putih yang notabene gampang kotor justru tampak berkilau di berbagai fotonya di internet. Oh, ternyata, beberapa sisi kuil ditempeli dengan potongan keramik yang memantulkan cahaya. Teknik yang sederhana, namun efisien. Itulah mengapa putih yang ada di kuil ini bisa lestari bahwa memancar. Walau demikian, ketatnya sistem kebersihan dan pengamanan juga berkontribusi atas keunggulan objek wisata ini.

Nah, yang membentuk garis itu sebetulnya potongan keramik

Setiap jengkal kuil ini dihiasi lengkungan-lengkungan tajam. Bagi yang agak fobia dengan benda tajam [saya termasuk yang agak fobia demikian], fokus pada keindahannya sajalah. Oh ya, ada sebuah kejutan di salah satu sisi kuil ini. Sayang tidak boleh difoto, padahal epic sekali hehee.



#ArfiveThailand