Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Kreatif. Tampilkan semua postingan

Tren Bisnis Digital 2017: e-MICE,e-Tourism, dan e-Ticketing

Bisnis digital tampaknya masih mendominasi berita dinamisnya industri TI di Indonesia. Pertumbuhan pengguna serta kesadaran mengepakkan sayap bisnis di lingkungan 'virtual' menjadi pelecut bisnis digital eksis di tahun 2017. Bahkan, tidak sekedar eksis namun juga menggelora. Dan salah satu bisnis digital yang akan semakin berkembang adalah e-MICE. Terus terang, awalnya saya hanya memilih terminologi e-MICE. Namun seiring literatur tentang lingkupnya, saya rasa dua terminlogi berikut perlu disertakan, yaitu e-tourim dan e-ticketing.

e-MICE secara umum mengacu pada penerapan bisnis digital di bidang sosial-humaniora terkait MICE alias Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitons. Keempatnya tidak tersekat sempurna, artinya ada irisan. Nah, saya tidak ada membahas maksud ataupun lingkup keempatnya, melainkan bagaimana penerapan e-MICE ini. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan empat hal ini sudah dari 2015, bahkan 2013 lalu sudah jamak di-IT-an dengan mengonversi sebagian proses bisnis ke ranah digital. Beberapa proses bisnis yang dikonversi ini antara lain publikasi serta mekanisme partisipasi. Sebagai contoh, silakan simak bagaimana bagaimana banyak kegiatan yang menerapkan regitrasi atau reservasi secara daring, mulai dari konsep L'arc en Ciel hingga Piala AFF. Atau bagi akademisi yang aktif mengikuti acara seminasi dimana proses registrasi serta pengiriman dokumen partisipasi yang memafaatkan platform, baik yang sudah terintegrasi maupun yang masih berjalan silo. Jika pernah menggunakan Eventbrite, artinya Kawan sudah pernah menggunakan produk dari e-MICE. Di Indonesia bisnis e-MICE agaknya belum semenjamur bisnis digital lainnya macam marketplace. Alasannya sederhana, model bisnis ini membutuhkan koneksi yang luas serta proses bisnis tiap kegiatan yang kompleks. Khusus untuk urusan kompleksitas, bisa jadi akan ada beberapa startup di tahun 2017 yang membidik e-MICE dengan lingkup hanya sebagian proses bisnis. Peluang berkembangnya sangat lebar lantaran kompetitor yang tidak sebanyak marketplace. Soal konten, jangan khawatir. Ini era global dimana bisnis e-MICE di Indonesia tidak berarti harus kegiatannya di Indonesia. Bisa jadi bisnis yang dibangun menghubungkan Indonesia ke luar negeri. Ya walaupun Indonesia tidak pernah sepi agenda kegiatan MICE sih hehee. Ada banyak konser, ada banyak seminar, ada banyak pameran, dan lain-lain.

e-Tourism memang baru memanaskan persaingan bisnis digital di paruh kedua tahun 2016. Alasannya karena pariwisata di Indonesia memang sudah bukan rahasia bakal membludak di dua masa, kisaran Idul Fitri serta kisaran akhir tahun. Praktis beragam diskon diumbar menjelang dua momen tersebut, mulai dari diskon transportasi, diskon penginapan, hingga diskon paket wisatanya. Saya yakin bahwa gelontoran diskon ini masih terus meramaikan kotak masuk e-mail member-nya. Yang perlu dipertanyakan adalah sejauh mana pengelola objek wisata mau 'terjun' meramai bisnis digital ini. Selama ini urusan e-tourism memang masih didominasi oleh penyedia jasa penunjang pariwisatanya, mulai dari transportasi hingga penginapan plus biro wisatanya, tapi geliat pengelola objek wisatanya masih rendah. Sulit mengubah situasi ini di 2017 karena kebanyakan pengelolaan objek wisata menganut pola pikir 'tunggu perintah dari atas' seingga cenderung pasif dalam mengambil inisiatif, apalagi yang terkait isu SI/TI. Di Indonesia sendiri, saya melihat banyak startup yang sudah mengambil ancang-ancang untuk 'terjun' di e-tourism ini. Menariknya, mereka tidak menjual jasa langsung, melainkan 'menjajakan' informasi alias sebagai pusat informasi tentang informasi tertentu. Barangkali yang menjadi tolok ukur adalah Tripadvisor.

e-Ticketing barangkali yang paling ramai perangnya di tahun 2016. Dan saya yakin perangnya bakal semakin ramai di tahun 2017 nanti. Lihat saja tiket apa yang belum tersedia online/daring. Semua maskapai penerbangan sudah menyediakan layanan tiket secara daring. Pun dengan kereta api yang oleh si pemain monopolinya, yakni PT KAI, telah dieksplotasi proses bisnisnya dengan nuansa SI/TI. Malah sejumlah pemain bisnis digital di bidang transportasi sudah menunjukkan peranannya sebagai 'one stop solution' untuk urusan pesan tiket, mulai dari Traveloka, Pegipegi, Nusatrip, dll. Yang ingin saya simak di tahun 2017 adalah apakah ada perang di luar harga. Praktis persaingan e-ticketing memang berkutat di dua hal, yaitu akses mendapatkan tiket, termasuk kecepatan, serta harga tiket itu sendiri. Belum ada yang berani melakukan inovasi persaingan, termasuk di Indonesia. Apakah di tahu 2017 ini juga sama...

Widihh ada BIIMA

Salut buat usaha Bekraf berupa sosialisasi online tentang kesadaran hak cipta produk-produk ekonomi kreatif.

Where am I in Creative Economy Subsectors?

Lama tidak menulis tentang ekonomi kreatif. Kebetulan lagi mabok mempelajari doktrin-doktrin tentang penyebaran PKI, maksudnya Public Key Infrastructure lho ya. Kali ini saya ingin mengulas tentang favorat saya terhap subsektor yang ada, tentunya dengan melihat juga pengalaman bersentuhan dengan sukektor ini hingga intensitas mengamati perkembangannya.


Sumber gambar: RPJMN Ekonomi Kreatif
Seni Pertunjukkan
Seumur-umur ikutan pentas hanya sekali dan tidak pernah lagi, yaitu saat Raimuna Cabang V Kwarcab Tegal. Agaknya memang tidak punya bakat yang layak dilestarikan ke jenjang yang lebih serius. Ciee. Walau demikian, saya sejak semester 1 sangat menggemari pentas pertunjukkan budaya, baik itu Minang, Jawa, Bali, dll. Kebetulan memang UKM kesenian di kampus IT Telkom (sekarang Telkom University) saling berebut jadwal pentas alias sangat aktif dalam menggelar seni pertunjukan. Nice (y)

Film, Video, Fotografi


Musik
Bagi saya pelajaran seni musik sewaktu SMP cenderung horor karena kepayahan saya bernyanyi, bahkan hingga saat ini hanya hanya sebatas bisa tanpa terlalu mahir memainkan gitar dan seruling. Alat musik macam biola, piano, hingga harpa belum pernah saya kuasai. Namun urusan menggemari sajian musik, ah ini nih rutin, pake kata banget lagi. Bukan sekedar penghilang ngantuk, tapi spirit bermusik juga kerap menginspirasi saya membuat sajak dan mengamati konsep team work.

Periklanan
Bagi saya ini adalah subsektor yang menggebrak. Kenapa nggak, di sini komoditas utamanya adalah ide-ide gokil, terlepas apakah iklan tersebut berupa media cetak, elektronik, atau bahkan sekedar konsep pemasaran. Yang pasti persaingan subsektor periklanan sangat ketat, bahkan di Indoensia sendiri pun (ya maaf juga nih) iklan paling jor-joran kreativitasnya (dan frekuensi tayangnya) justru iklan rokok. Mungkin karena mereka harus melawan kenyataan bahwa bagaimana mengiklankan produk tanpa menunjukkan produknya. Subsektor ini perlu ditinjau dari berbagai sisi agar bisa sukses, bisa dibilang idealisme berpikir lepas harus dibenturkan dengan kerasnya selera masyarakat dan juga target finansial. Justru di sinilah kecenya.

Televisi dan Radio
TV nggak punya, olus nonton cuma pas tanding bola. Begitu pula radio yang terakhir entah kapan. Bisa dibilang ini adalah subsektor paling nggak saya akrabi.


Desain
Nah, yang ini merupakan hobi yang alhamdulillah bisa terus berkembang dan bermanfaat di berbagai lapak, baik sosial maupun komersial. Kebetulan memang saya ini tipikal orang visual, sehingga butuh waktu berjam-jam mencerna jurnal IEEE tapi bisa cepat menangkap maksud sebuah infografis. Hehee. Selera saya banyak berkaitan dengan desain-desain sederhana yang mengutamakan permainan warna dan geometri. Faktor selera tersebut didorong pula oleh keterbatasan RAM laptop yang tidak kuat untuk berleha-leha dengan berbagai aplikasi grafis macam AI, Corel Draw, hingga yang macem-macem namanya.

Permainan Interaktif
Penyakit saya dulu adalah gampang kecanduan game. Tapi sejak SMA, bahkan kuliah saya mengurangi frekuensi tersebut. Kebetulan karena kuliah di komputer, maka saya kerap mengalami penyempitan makna permainan interaktif yang hanya sebatas aplikasi komputer, padahal jauh lebih luas daripada itu. Saat ini subsektor permainan interaktif tidak banyak saya gali, mungkin karena udah saatnya serius, jangan suka mempermainkan hati #eh #ciee #apaandah

Teknologi Informasi
Lulusan sarjana teknik informatika (dengan IPK pas-pasan), lalu melanjutkan petualangan di dunia kerja selama tiga tahun lebih sebagai programmer, analis SI/TI, dan menyempatkan diri mengenyam bangku magister teknologi informasi. Tidak perlu banyak argumen bahwa saya tumbuh di lingkungan subsektor ini. Sulit untuk menampik bahwa saya gemar mengobservasi ekonomi kreatif yang berbasiskan TI. Tantangan besar untuk subsektor ini adalah memahami TI sebagai kemasan, ataukah TI sebagai inti bisnis yang utama. Keduanya berbeda namun memiliki kesamaan, yaitu mampu mendongkrak nilai ekonomi yang merupakan dasar dari ekonomi kreatif itu sendiri.

Arsitektur
Saya sangat mengagumi bangunan-bangunan indah, khususnya yang berstatus masjid dan rumah adat. Namun kekaguman ini belum menyeret saya untuk terjun langsung sebagai pengamat dari sisi bisnisnya, apalagi pelakunya. Soal arsitek yang menjadi idola pun saya tidak ada karena memang tidak terlalu banyak tahu bangunan ini siapa arsiteknya, bangunan itu siapa arsiteknya, mungkin hanya tahu sosok Ridwan Kamil lewat Museum Aceh dan Masjid Agung Parahyangan, di luar itu? Hehee, saya malah hingga kini belum tahu siapa arsitek Masjid Agung Slawi, siapa arsitek Gedung Fasilkom, bahkan siapa arsitek Learning Center-nya Telkom University.

Penelitian dan Pengembangan
Subsektor paling unik karena mengakomodasi dan juga terhubung ke seluruh subsektor lainnya. Bisa dibilang ini adalah landasan dari subsektor lain untuk "laku" di masyarakat. Karena senang mengamati proses kreatif, khususnya mengenai pemahaman potensi pasar dan ide-ide gokil, maka saya sangat tertarik dengan subsektor ini.

Penerbitan
Dulu memang penggemar komik, tapi seiring keseriusan belajar (dan tuntutan berkurangnya uang saku), maka saya makin undur diri dari dunia komik. Saat awal kerja saya pernah beberapa kali terlibat dalam kompetisi komik tingkat Indonesia. Secara tidak langsung saya kembali tertarik untuk belajar mengenai bagaimana proses kreatif di dalamnya yang perlu mengombinasikan berbagai ketrampilan. Lebih pusing lagi juga mengupas bagaimana cara memainkan model bisnisnya, terutama terkait income.

Seni Rupa
Yang terbayang kita pertama kali mendengar kata "seni rupa" adalah Bapak Kapsin Arifin, nama guru seni rupa sewaktu SMP. Hehee. Saat itu nilai saya amburadul karena memang tangannya lebih terasah berkarate daripada tampil sabar dan cantik membuat hasta karya. Dari sisi proyek pun saya berlum pernah bersinggungan langsung dengan subsektor jenis ini.

Kuliner
#srupuuut #usapiler Ini katanya subsektor paling surgawi karena ya itu, paling enak. Hahaa, di luar faktor tersebut, memang patut diakui bahwa ini adalah subsektor paling dominan dari berbagai sisi versus subsektor lainnya, baik di sisi  penyerapan dunia kerja, perputaran uangnya, dll. Dulu waktu ibu saya berlangganan koran No*va, saya kerap mengumpulkan pernik-pernik sedap sekejapnya karena tergiur dengan foto-foto makanannya. Tapi hingga saat ini karir saya di subsektor kuliner tidak lebih dari tiga agenda: pemasak mie paling enak (versi saya), asisten istri saya bila beliau memasak, dan tentunya pengamat. Belum pernah saya terlibat langsung dalam proyek subsektor kuliner.

Mode
Apa yang saya mengerti dari subsektor ini jika kolektif baju saya di rumah 95% terdiri atas batik (dengan bentuk kemeja), jersey sepak bola, dan baju koko (baju punya saya lho ya, bukan baju punya mas koko). Barangkali istri saya lebih "cumlaude" untuk urusan subsektor ini mengingat kiprah dia mengelola sebuah wirausaha jilbab. Nah gue? Hanya butiran rin*so.

Kerajinan
Kerajinan merupakan subsektor ekonomi kreatif yang konkret produknya tapi abstrak nilai ekonominya. Jujur saja, di luar faktor bahan baku dan ongkos produksi SDM, saya tidak pernah mengerti kenapa ada produk kerajinan bisa bernilai jutaan rupiah. Orang mengatakan itu ada nilai inovasinya lah, itu ada nilai hak ciptanya lah, iya iya saya tahu ada faktor itu, tapi belum pernah mengerti mengapa nilai ekonomi sekian rupiah. Namun kebiasaan saya yang terkait subsektor kerajinan ini adalah gemar mengoleksi aksesori, khususnya gantungan kunci dari berbagai kebudayaan di Indonesia.

Nah, dari seluruh subsektor ekonomi kreatif tersebut, kalau dibuat peringkat maka saya bisa mengambil big-5. Urutan dari yang paling menjadi passion saya adalah teknologi informasi, desain, penelitian dan pengembangan, periklanan, dan musik. Sekarang bagaimana dengan kamu? Iyaa..kamu..

Target Menulis Berikutnya

Menulis merupakan hobi yang menyenangkan. Itulah mengapa aku menikmati segala petualangan di KIR, Pramuka SMA (sebagai Kerani Putera), di PDKT 2009 (sebagai EAT), di HMIF 2011 (sebagai Sekum), di SNATi+KNSI+KNK+IISF (sebagai penulis paper), hingga di Indonesia Kreatif (nulis codingan ama doktek dan sejenisnya) dan sekarang sebagai analis regulasi PKI (Public Key Infrastructure) dan CA (Certification Authority) di Kemkominfo. Alhamdulillah Allah memberikan ujian manis berupa dua predikat positif di ICACSIS 2015. Insya Allah saya masih belum berkeinginan untuk berhenti dari dunia mengetik. Ada beberapa "lapak" untuk menulis berikutnya. Bagi orang lain, mungkin ini terkesan ambisius, tapi bagi saya pribadi, ini adalah kesenangan yang kerap diistilahkan sebagai "passion".

Jurnal (Periodik) Internasional

ICoICT 2016
Tahun lalu karena faktor finansial dan ide yang kurang memenuhi maka saya mengurungkan niat untuk ikut. Apalagi tanggal pelaksanaannya bersebelahan dengan akad dan resepsi pernikahan di Aceh. Insya Allah saya meniatkan diri untuk berpartisipasi menulis di sini. Bismillah

Selasar.com
Di sini, banyak ide-ide segar yang sangat terbuka segmennya. Pertama kali lihat web ini, saya langsung suka dengan satu alasan, "tampilannya simpel, hehee". Banyak alumni dan civitas akademika UI yang berkecimpung aktif menulis di sini. Dan saya turut "terprovokasi" untuk ikut menulis di sini. Bismillah

World Economic Forum
Awal saya menemukan web ini adalah ketika membuat konten untuk gov.indonesiakreatif.net (sekarang program.indonesiakreatif.net). Walau konteks utamanya ekonomi, namun banyak aspek-aspek non-ekonomi yang jgua disinggung di sini, termasuk TIK. Kualitas artikel riset di sini masya Allah keceee banget. Bismillah

Tips Desain Bulan ini

Membuat publikasi merupakan tantangan uang akan terus berkesan. Segala tantangan, mulai dari utusan teknis (ngoprek perangkat desain) maupun urusan sosial (negosiasi konten, selera, persepsi), akan menghampiri. Dalam prosesnya, mau tidak mau, perlu beberapa macam trik untuk menghasilkan produk desain yang kreatif, efektif, estetis, sekaligus "jalan tengah". Desain-desain demikian sangat perlu untuk publikasi kegiatan, info kompetisi, info rekrutmen, dll. Sebelumnya, perlu diingat bahwa kegagalan sebuah desain akan mempengaruhi tingkat ketertarikan pembaca dan ujung-ujungnya tingkat partisipasi orang di dalam kegiatan yang dipublikasikan tersebut berkurang dan malah jauh dari target. Indikasi desain yang "berbahaya" antara lain:
- Terlalu banyak atau ramai tulisan
- Alur membaca konten kurang sesuai
- Kesan kegiatan terlalu eksklusif
- "Permainan" warna kacau

Berikut beberapa solusi yang bisa diterapkan dalam "mengakali" masalah-masalah di atas:
- Fokus pada objek yang harus diketahui di awal, misalnya persyaratan, siapa penyelenggaranya, cara partisipasi, dan tak lupa tanggal-tanggal penting serta kontak narahubung.
- Gunakan bahasa yang ringkas sehingga ukuran huruf bisa lebih besar dan space antarkata/antarkalimat bisa lebih nyaman.
- Jangan seenaknya memadukan warna; cobalah sesekali cari inspirasi palet-palet warna; sebagai gambaran, warna merupakan daya tarik paling pertama unuk memancing pembaca, bahkan mendahului tulisan judul.
- Manfaatkan IT yang akan mendukung pros es penyampaian dan penerimaan informasi. Pertama gunakan web/blog milik organisasi penyelenggara sebagai tempat menampung info-info yang lebih detail. Sebagai contoh informasi tentang format penulisan paper jangan diuraikan di poster, sediakan saja deskripsi detail di web, bahkan sediakan saja template untuk memudahkan proses editing nantinya. Oh ya, jangan paparkan link yang terlalu banyak di poster, misalnya "persyaratan: http:....., mekanisme pendaftaran: http:......., mekanisme penilaian: .....", cukup sediakan satu URL web dan biarkan pembaca browsing mandiri. Satu lagi, manfaatkan fitur shortener link seperti bit.ly agar pembaca tidak kesulitan mengetikkan URL yang harus dituju.

Semoga bermanfaat

Wilujeng 205 Taun Kota Bandung

Kota ini telah memasuki usia ke-205 tahun. Cukup tua dengan sepak terjangnya sangat keras. Kota ini identik dengan banyak hal. Ahli sejarah melabeli Bandung Lautan Api sebagai penanda peran Kota Bandung dalam perjuangan kemerdekaan sekaligus kota pengguncang dunia lewat Konferensi Asia Afrika 1955. Ekonom tak hentinya menupas eskalasi ekonomi kreatif dengan senjata andalannya, kuliner. Pengemar sepak bola di Indonesia sudah "kudu" paham bahwa Kota Bandung merupakan wilayah administrasi yang menjadi acuan huruf B pada nama Persib. Kaum akademisi pun pantang melalaikan berbagai perguruan tinggi yang menghuni Kota Bandung seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Padjadjaran, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, hingga berbagai perguruan tinggi lainnya dimana tingkat kepadatannya sudah melampaui Kota Yogyakarta.

Di bawah komando Ridwan Kamil feat Oded M. D., kota ini menjelma sebagai kota yang paling populer di social media. Prestasi hingga 100 lebih gelar mampu disabet walau predikat kota dengan indeks korupsi versi sebuah lembaga riset juga "menyabeti" kota ini. Secara terbuka salah seorang bupati yang wilayahnya bersebelahan dengan Kota Bandung terang-terangan menyatakan "iri" betapa masyarakatnya lebih kenal Wali Kota Bandung daripada dirinya. 

(dari kiri atas searah jarum jam) Artikel dari Pikiran Rakyat tentang kawasan metropolis Bandung Raya; Alun-Alun Kota Bandung; suasana di Jalan Asia Afrika dimana sebuah batu negara Aljazair beruntung karena benderanya selamat dari penjarahan; Sepasang kekasih kaum urban asal Aceh-Jawa Tengah sedang menikmati suasana Kota Bandung yang memang rpmantis

S3 atau S2 (lagi), Mumpung Gratis Bermimpi

Parkir dan pipis sudah tidak bisa dikategorikan aktivitas yang gratis. Di Bandung keduanya ditaksir perlu biaya 2000-an. Itulah alasan saya memilih bermimpi tentang kelanjutan studi ini yang lebih jelas gratisnya.

Studi/belajar merupakan kewajiban hidup yang hanya boleh pensiun saat wafat. Kuliah hanyalah salah satu bentuk kecil studi dalam bentuk formal. Perkembangan TIK sudah mendorong studi tidak harus di sebuah kampus. Tidak harus lulus S1 informatika agar bisa ngoding. Tidak harus lulus MM agar bisa wirausaha. Peluang belajar banyak tersedia di dunia internet. Karena itu, minimalkan berkuliah yang sekedar pengin tahu tanpa punya rencan pascalulusnya

Sejak bercita-cita ngedosen, saya punya cita-cita kuliah hingga S3. Motifnya cenderung faktor persyaratan administrasi. Kepo perkuliahan si ITB, ITS, UGM, hingga Qatar University dan Twente University jadi keasyikan tersendiri. Siapa sangka Allah membukakan studi S2 justru di Fasilkom UI. Kenyataan yang sebenarnya sempat terpikir sebagai ide saat kelas XII. Siapa sangka ide itu terealisasi. Unik mengingat dari sisi kerja bisa saling menyesuaikan waktu pelaksanaannya.

Setelah S2 di UI yang beneranlah bikin seneng menggali ilmu, kini ada dua bayangan di benak ini.

Pertama S3 dengan kampus incaran ITB dan Qatar University. Jurusan tetep informatika/ilmu komputer. Spesialisasinya sih yang masih bingung. Barangkali e-commerce, tata kelola TI, dan web engineering jadi passion sejauh ini.

Opsi kedua, S2 lagi...
Ahayyy entah kenapa mendadak muncul ide kuliah lagi dengan rumpun ilmu bergeser ke bidang lain, yaitu DKV alias desain komunikasi visual atau ekonomi dan bisnis, khususnya ekonomi kreatif. Bersentuhan dengan ekonomi kreatif khususnya pekerjaan seputar desain asli bikin saya tergoda untuk mempelajarinya lebih dalam. Hanya saja memang opsi ini perlu dipikir matang apakah harus dengan kuliah atau cukup kursus.

Wallahualam

ASPAC Exhibition@FIK Tel_u

Iseng-iseng ke sini, tepatnya di Fakultas Industri Kreatif, Telkom University. Di sini sebuah pameran yang sedeehanayang inspiratif disajikan terkait desain produk. Senwng ngelihat karya-karya kece mahasiswa dari empat negara: Jepang, Korea Selatan, Thailand, dan tentunya Indonesia.

Tanpa melihat bendera asal kreator sebenarnya tidak ada perbedaan yang drastis antara karya mahasiswa Indonesia dengan negara lain. Ada kemampuan untuk bersaing dari sisi ide. Walaupun jika bicara prospek menembus pasar atau industri untuk diproduksi massal ya gimana ya hehee.

Secara umum pameran ini lebih mengedepankan ide-ide kreatif mengemas produk dengan cara yang artistik. Ada teh celup yang dimodif rupanya menjadi kepingan CD bahkan tangkai tanaman. Ada pula paket coklat khas Jawa yang kotaknya dimodif membentuk Candi Borobudur.

Apakah itu wujud ekonomi kreatif? Silakan untuk mengemukakan pendapat masing-masing. Tapi bagi saya, cara menampilkan seperti itu berangkat dari gagasan yang menjadikan daya jualnya lebih meningkat, bahkan melebihi biaya produksi+kemasannya

Saluuut

Mencari "Nutrisi" untuk Sebuah Online Directory

Directory, barangkali kata ini kurang populer di masyarakat. Di KBBI padanan katanya adalah direktorat yang artinya "bagian dari departemen yang tugasnya mengurus suatu bidang tertentu". Wajar jika banyak yang masih bingung maksud directory itu apa. Directory sendiri dalam kosakata komputer merupakan sebuah terminologi yang sudah tergantikan oleh "folder". Sudah mulai paham? Hehee, secara ringkas, direktori merupakan sebuah gugus yang mengakomodasi beberapa item dengan kesamaan tertentu. Jika menyinggung database, maka directory ini merupakan simpul yang menunjukkan identitas tertentu sesuai kategorinya. Misalnya direktori objek wisata di Kota Bandung dapat dipilih secara khusus dengan kategori "wisata kuliner", "wisata alam", dll. Dalam pengembangan web portal, directory menjadi terminologi yang digunakan untuk menyebut database online yang memudahkan seseorang mencari sebuah atau beberapa item dengan kata kunci tertentu.

Alhamdulillah di penghujung Juli ini, saya menata kembali rencana bareng senior saya, Bang Bil, untuk mengembangkan sebuah web portal berupa directory untuk ekonomi kreatif yang spesifik di dua subsektor. Bukan tanpa alasan, subsektor yang akan menjadi lingkup pengembangan ini "hanya" ada dua. Potensinya sangat menggurita di Indonesia dan relatif merata di Indonesia. Ide ini sempat terkatung-katung, bahkan saat klub bernama FC Barcelona meraih tiga trofi, ide ini malah dititipkan di "panti wacana". Kini, ide ini belum kadaluarsa. Ide ini perlu nutrisi yang kita kenal dengan istilah "spirit".

Spirit untuk berkreasi di industri e-commerce terus terang makin menggebu setelah mengambil dua mata kuliah, yaitu e-Business (di bawah asuhan Pak Yudho) plus Karya Akhir (tentang kualitas informasi, di bawah asuhan Pak Nizar feat. Pak Rifki). Dalam batin sering bergugam, "masa iya cuma sebagai pengamat dan penggemar, atau malah pembeli? kenapa nggak jadi pemain?", begitulah pertanyaan rekursif ke diri sendiri tiap selesai kuliah e-Business. Mata kuliah KA secara tidak langsung menyinggung e-commerce karena studi kasus yang diambil adalah web portal ekonomi kreatif. Alhamdulillah ada bekal untuk merancang beberapa strategi yang patut dibudidayakan di directory ini nantinya.

Bekal lain berupa partnership, model bisnis, infrastruktur, insyaAllah akan digarap bareng Bang Bil. Senior yang asyik untuk diskusi dan berbagi ilmu. Bismillah

Think "Different" via e-Business

Malam ini insya Allah presentasi e-business. Mata kuliah yang suasananya paling relax. Karena itulah muncul inspirasi membuat beberapa halaman slide berupa gambar "manipulatif" dari Twitter yang memandu jalannya slide. Nyleneh sih...

Tapi e-buss mah gitu matkulnya...
Harus berpikir kreatif, walau kadang berbeda dari lazimnya :D

Talk about Global Talent Competitiveness

Inspirasi kali ini datang melalui CEO General Electric Indonesia, Pak Handri Santriago. Pria asal Sumbar ini mengupas berbagai fenomena menarik tentang Global Talent Competitiveness atau GTC. Awalnya saya tidak tahu tentang GE. Saya tertarik karena topik yang dibahas adalah GTC, terkait erat dengan Global Competitiveness Index, salah satu riset saya di Indonesia Kreatif dulu.

Asyik penyampaian beliau. Diselingi beberapa candaan, namun tidak mengurangi esensi pesan yang dibawakan beliau. Yang paling unik adalah pesan implisit agar jangan mudah menyalahkan pemerintah terkait daya saing Bangsa Indonesia saat ini. Justru fokuslah bagaimana membangun kualitas dan kompetensi generasi pemuda Indonesia. Modal jumlah SDM di satu menjadi keuntungan untuk bersaing di tengah arus globalisasi. Tapi di sisi lain, menjadi calon konsumen bagi produk negara lain dan ini ancaman yang mempengaruhi kualitas produksi dalam negeri.

Kemampuan untuk mengemas potensi juga disampaikan beliau. Selama ini kita kerap minder dengan kualitas bangsa sendiri. Memang keadaannya belum positif, tapi perilaku minder itu pun bukanlah solusi. Nah ini nih tamparan keras bagi kita semua yang terlalu asyik sebagai komentator hehee.

Foto yang ini bersumber dari https://twitter.com/HandryGE 

Foto yang ini bersumber dari https://twitter.com/HandryGE 

Punggung Membungkuk Hari ini

Selamat pagi (pas saya ketik masih 05.22 WIHS, waktu Indonesia hape saya)
Pagi yang tentu akan berbeda dibandingkan pagi-pagi hari esok
Setelah hampir dua tahun, tak terasa penghujung ini telah menampakkan “senja”-nya. It is enlightment phase in my life. Ya, (nyaris) dua tahun yang banyak memberi saya inspirasi, dua tahun yang asyik, dua tahun penuh dengan berbagai pengalaman unik dan (Alhamdulillah) tidak ada secuil pun rasa salah memilih tempat untuk berkreasi. Tidak pernah ada yang kebetulan jika menengok takdir-Nya. Sebuah kehormatan karena dipertemukan dengan orang-orang kece seperti kalian.

@Mas Irvan Indra, terima kasih banyak Mas atas banyaknya share ide sejak pertama kita kenal. Banyak hal-hal ajaib yang saya pelajari dari berbagai obrolan kita, tentang industry kreatif, tentang social media, tentang web design, tentang apa lagi y? Wah banyaklah, have an outstanding adventure bro :)

@Mba Intan, sosok yang pertama saya kenal sebagai sesama fans Larc en Ciel. Nyaris selalu riang dan nyambung untuk segala macam obrolan. Terima kasih banyak atas pengarahannya dalam belajar menulis liputan hehee. Jarang-jarang nih anak IT ditugasin nulis liputan, dan dapet bimbingan langsung dari salah seorang yang beuhh, yoiilah :)

@Mba Reni, wah lama kita tidak berjumpa Mba. Sosok yang ini juga tidak pernah kalah riangnya. Sosok yang selalu siap bertangkas-tangkas mengelola segala macam berkas dan urusan per-PR-an. Hehee. Salut mba :)

@Mba Venny, beuhh kalau yang ini mmm, sangar pisan, hehee. Pertama kali kenal saat mempersiapkan PPKI dengan ketahanbantingannya bergadang ngurus ini ngurus itu, eh ternyata satu tim proyek akhirnya di IK. Well, ibaratnya kulkas dengan empat pintu, Mba Venny ini bisa dengan kokoh menjadi sosok yang seusai bagi tiap orang yang di sekitarnya. Saatnya serius OK, saat ble’e juga OK, hehee. Berbagai ide, baik skala kecil maupun besar, ada saja yang dikemukakannya, dan itu dihadirkan dengan asyik tanpa memandang remeh ide lainnya :)

@Mba Kimi, wahhh, kalau yang ini saya tertipu, tadinya saya kira seangkatan, eh tahunya sekian tahun di atas saya *langsung hormat*. Yang ini mah udah berbagai macam proyek dijelajahinya, EWS pernah, SKR udah, PPKI mantap, dan jrenggg ternyata ketemu di IK. Asyik untuk diajak diskusi dengan segala pernik topik. Tipikal yang banyak saya belajar dari Mba Kim, terutama bagaimana membuat segala tugas bia dijalani dengan have fun. Kece banget itu.

@Bang Haekal, oiii Bang… Gaimana kabar Bang? Lama nian tidak bersua. Pertama kenal saat Workshop IK tahun 2013 dengan kesan ini orang agak pemalu tapi ramah, nyambung diajak ngobrol, agak lugu dikit #eh, tapi juga religus, dan nggak menyangka tahun 2014 bakal satu tim di IK *yeayyy. Nggak tahu kenapa, tapi kalau udah ama Bang Haekal ngobrol, topiknya kok menjurus tentang permunakahatan (garuk-garuk kepala). Yang saya heran, adalah karakteristik yang sabar dan pandai berbaur dengan orang bagaimanapun tipe/karakternya, mungkin bukan heran, tapi kagum. Walau hanya sekali, tapi pengalaman yang asyik bisa ngeliput bareng Bang Haekal waktu Imagine Cup di Epicentrum. Gokil lah abang kita satu ini, bahkan di waktu-waktu tertentu suaranya menggema mengajak kebaikan :)

@Ari, ah kenapa baru sebulan dua bulan nggak balik lagi sih? O_o. Asyik padahal ngelihat tingkah Ari ama Bang Haekal yang lucu kalau mau liputan. Tipikal yang palu gada banget (apa yang lw mau, gw ada) alias multitalenta. Hehee, punten kalau belum banyak kenal. Namun terima kasih atas perjuangannya di IK :)
Lha kok udah ganti page ke halaman dua y? Hmmm, ini udah ngantuk belum tidur pagi ey

@Ridho, salah satu orang yang namanya sulit dieja. Abdushshabur dengan ‘shin’ ber-tasjid. Kadang saya panggil Idho. Eh ternyata lw temennya Dharma y? Ini juga salah satu tipikal yang multitalenta. Sosok yang selalu dan selalu bersemangat dalam belajar, pandai menempatkan diri, dan yang gw suka adalah karakter tenang. So surprise banget waktu sore-sore sms yang mengabarkan kalau hari ini terakhir di IK *jrengggg*, lah?? Tapi di situ juga saya belajar bahwa keberanian dalam menentukan pilihan patut dilakukan walau mungkin dipertanyakan orang lain. Salut untukmu :)

@Keke, eh, ini saya ngirim email ini udah bangun belum y? #eh. Hehee, padahal kosan lw paling deket Ke. Yang ini kalau udah ama Mba Ria ibarat speaker kanan ama speaker kiri. Selalu ada saja diobrolkan, mulai dari ide yang produktif sampai dengan entertainment ala ibu-ibu hehehee :)

@Mba Jojo, ini adalah contoh manusia dengan perilaku sehat yang patut dijadikan teladan hehee. Nutrisinya sudah diseleksi dari makanan yang “pilihan”, begitu pula olahraganya yang teratur. Hehee. Awal kenal kalau dari penampilan, mmm, ko agak mirip atlet ketimbang penulis ya, eh ternyata kece banget, baik sebagai atlet maupun penulis. Selalu bersemangat dengan ide-idenya yang asyik dan yang paling saya kagum adalah karakter pantang menyerah sebelum tugas kelar :)

@Sari, awal kenal ‘oh ini mba-mba yang ngurus PPKI’. Keliatan pusing terus dengan berbagai kerjaan. Oh ternyata dari Bontang, jadi inget salah seorang kawan yang lumayan akrab berasal dari sana. Asyik untuk diajak diskusi dengna berbagai sudut pandang yang bisa kritis, bisa juga humoris. Tidak kenal lelah, ya itu karakter yang paling lekat dengan sosok Sari (mirip dengan Nandhik, cuma yang ini nggak pake molor di lantai atas). Cie cie cie, ditunggu undangannya ya, kalau bisa diselipkan tiketnya ya :)

@Mba Ria, tadinya mau ditulis di bagian awal, tapiii di bagian akhir sajalah hehee. Sosok tangguh tempat pada cewe-cewe di kantor berteduh berbagai cerita, cocok bangetlah jadi kakak angkat buat mereka hehee. Tidak pernah meremehkan kualitas orang dan mampu menghadirkan suasana ceria dengan gayanya yang khas, padahal awal kenal ‘ini orang kok kayaknya khusyuk di depan laptop y?’. Kalau dipikir-pikir cuma Mba Ria n Mas Toto yang awal masuk sampai dengan saya selesai masih ada di sini ya, hehee, berarti lw saksi sejarah IK mba :)

@Mas Toto. Awal kenal ini orang kok pendiem ya? Nampak khusyuk dengan laptop logo apel kroaknya. Time goes on and wewww, he’s so amazing and has outstanding ideas. Aset bangsa yang kece punya. Tahan banting dengan berbagai tekanan dari sana sini serta memiliki pendirian yang kokoh. Banyak yang saya pelajari dari sosok satu ini, yaitu dengan kesederhanaan dalam desain namun kreatif, presentasi yang menarik, serta tentunya analisis segmen “pasar” dan tak lupa ketekunannya untuk mempertinggi pencapaian. Sukses sebagai pribadi makin “berisi” (dalam sisi ilmu) dan semoga makin jadi pemimpin rumah tangga yang penuh barokah.

@Pak Haviz. Membaca namanya “beuhhh..berat banget namanya, tapi patut sebagai motivasi yang kerenn”. (Haviz?Hafidz?penghafal Al Qur’an, semoga kelak Pak Haviz menjadi seorang penghafal dan pengamal Al Qur’an, aamiiin :) ), udah itu aja deh, hehee. Sosok yang outstanding banget, mampu bekerja di bawah tekanan, kapanpun, dimanapun, jarang mengeluh juga, dan yang paling saya suka adalah mampu datang pagi hari. Mampu beradaptasi dengan orang berkarakter apapun, tim proyek dengan permasalahan apapun, serta menunjukkan komitmen untuk memberikan solusi. Tidak mau membiarkan permasalahan larut begitu saja, harus bisa diidentifikasi pangkalnya dimana, lalu solusinya bagaimana. Well, aspek yang ini saya patut berterima kasih karena berkesempatan belajar dari beliau, baik di forum umum maupun privat hehee.

@Hanafi, eduuun udah lembar ketiga aja… Ucoook, nggak salahlah partner bareng ente di berbagai kesempatan. Setelah hampir setahun solo karir, akhirnya bisa punya duet dalam pairing-programming, asyik banget karena nyambung di berbagai hal. Alhamdulillah cocok dari berbagai aspek, dari urusan ngoding, becanda hahahihi, ngomongin bola, ngomongin apalah mulai dari yang sifatnya sangat penting, penting, agak penting, kurang penting, hingga nggak penting banget. Mulai dari berangkat paginya yang konsisten, itu sudah menunjukkan kualitas pribadi seorang Hanafi. Jalan prestasimu masih panjang Fi, teruslah mempertinggi prestasi dan semoga penuh barokah

Akhirnya, saya perlu mengutip lirik dari lagu BIP, Ternyata Harus Memilih “tak ada kebetulan, semua pasti ada artinya”. Harapan saya sederhana, Indonesia Kreatif maupun pribadi kita masing-masing beruntung, beruntung dalam arti sederhana, yaitu hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari ini.

Kosan, 31 Maret 2015 pukul 09.02 eh ini laptop salah jamnya yang bener 08.04

Ini Ciri Tulisan Saya

Menulis itu merupakan salah satu hobi saya. Alhamdulillah berkesempatan menulis di beberapa lapak (tentunya di luar blog ini hehee), baik itu di ladang online, ladang majalan softcopy, ladang offline alias cetak, ladang ilmiah.

Beberapa tulisan di ladang online:



Beberapa tulisan di ladang majalah softcopy terdapat di

  • Majalah NolDerajat episode 2 dari FUKI Fasilkom UI (klik di sini)
  • Majalah NolDerajat episode 3 dari FUKI Fasilkom UI (klik di sini)


Kalau di ladang offline baru satu, itu pun 7 tahun yang lalu di majalan Edukita, hehee...judul artikelnya malah sudah lupa saya #upss

Ladang ilmiah, alhamdulillah berkesempatan ikut menulis di KNK FISIP UI 2011, SNATI UII 2012, IISF 2012, dan KNSI 2013. Bagaimana dengan 2014? Autnilum autnihil T_T

Jujur, saya masih sangat belepotan untuk urusan menulis, jika bukan karena senang, tentu nggak akan pernah nulis lagi. Terutama berkaitan dengan menulis ilmiah, karena tanggung jawab moral yang sangat dituntut tingginya. Hanya saja, karena emang kalau mau terjun di dunia perdosenan wajib nulis dan kebetulan menulis itu hobi saya, ya OK jalani saja hehee.

Berkaitan dengan hobi yang satu ini, mmm... apa ya ciri khas tulisan saya?
Mungkin terlalu lebay, tapi bagi saya yang emang berkarakter introvert maka tulisan saya bisa dibilang memiliki ciri "mencoba ngobrol".

Kerap diawali kutipan seseorang ataupun sajak
Awal tulisan menjadi daya tarik agar seseorang tidak lekas menyingkirkan tulisan kita. Kutipan yang unik, ataupun sajak yang menarik merupakan "obat bius" yang membuat pembaca berpikir "eh, ntar dulu, apaan nih?". Ya begitulah kira-kira. Khusus juga tulisan yang saya buat adalah liputan event, maka sebisa mungkin saya "umbar" kutipan atau quote pengisi acara sebagai representasi keunikan acara. Harapannya pula pembaca berpikir, "eh, kemarin ada yang menarik ternyata" dan dia mau lanjut membaca. Kalaupun bukan kutipan, saya memakai sajak dengan maksud menyampaikan tujuan acara dalam bahasa lain yang (penginnya sih) memesona.

Mengajak berdialog
Memang pernah ada yang berujar (lebih tepatnya nanya), kenapa ada kata sapaan orang kedua berupa "kawan"? Bukankah artikel yang dibuat cenderung menyampaikan. Ya, bagi saya, penyisipan kata sapaan merupakan teknik yang mengajak pembaca terikat dalam alur pikir yang kita sampaikan. Ajakan untuk mengkritisi opini kita, ajakan untuk mengiyakan opini kita, ajakan untuk membayangkan apa yang kita kemukakan. Dan secara psikologis, cara mengajak pembaca terlibat menjadi trik agar tulisan kita lebih bisa dipahami.

Penuh diksi dan tanda kutip
Pilihan kata alias diksi penting bagi saya karena itu menentukan cita rasa tulisan dan mempengaruhi bagaimana kita menghargai pembaca dengan sajian frase pilihan yang segar dan anti-monoton. Kenapa harus ada tanda kutip? Karena saya sering memakai frase konotatif yang memaksa secara EYD untuk memberi tanda kutip hehee

Akhir menggantung
Kalau yang ini, juga "pernah", tapi sering saya membuat tulisan dengan akhir yang menggantung. Tujuannya apa sih? Yups, bikin penasaran pembaca sehingga pembaca ketika selesai mengitari tulisan kita, dia akan merasakan ada sesuatu yang belum selesai. Sehingga, dia akan coba menelusuri sumber lain tentang tulisan kita sehingga tingkat kepuasan dalam membaca tidak selesai begitu saja. Pembaca menjadi lapar untuk "memangsa" tulisan lain. Selain itu, pembaca juga tidak begitu saja mengenyahkan diri atas ide-ide yang kita kemukakan. Ide-ide kita (harapannya) masih "hangat" dan bisa memaksa pembaca menelurkan ide lain menimpali ide kita barusan.

Nah, itu dia empat ciri tulisan saya, khususnya tulisan non-formal (di luar tulisan ilmiah). Mengapa saya sering menuturkan "harapannya", "penginnya", "mencoba"? Ya karena saya hanya bisa berupaya, namun hasil akhir, itu di bagaimana pembaca memahami tulisan saya, tentunya dengan peran Allah di dalamnya

:)

Ini Ciri Desain Saya

Nge-desain merupakan salah satu hal yang menjadi favorit saya. Alasannya sederhana, saya pecinta keindahan (walau di kosan kadang berantakan hehee). Faktor karakter diri yang tipikal orang visual juga mendukung pribadi ini sangat menggemari desain dan nggak jarang langsung mengamati dan menganalisis desain yang terlintas di kepala.

Khusus bagi saya sendiri, kebiasaan yang menjadi ciri khas saya dalam mendesain ada dua, yaitu simpel dan asimetris.

Kenapa simpel?

  • Sangat suka dengan hal-hal yang berbau efektivitas dan efisiensi, dan ini representasi dari makna simpel
  • Nggak suka dengan yang hal berlebihan
  • Emang kemampuan desain saya nggak mahir untuk membuat desain yang sangat ramai
  • Pengaruh dari brand guideline di Indonesia Kreatif dan FUKI Fasilkom UI


Kenapa asimetris?

  • Sesuatu yang asimetris lebih memancing pandangan orang lain
  • Lebih terasa dinamis
  • Mendefinisikan makna keseimbangan dan keadilan dari sisi yang berbeda

Mencoba ramai walau tetap simpel :)

Kemiringan judul jadi hal yang saya andalkan di publikasi ini


Katanya demen juga ama desain yang diselipin batik ya?
Iya dulu inspirasinya dari jersey Sriwijaya FC yang kemudian diadopsi juga ama Bontang FC, Semen Padang, hingga PSIM Yogyakarta.
Karena itulah pengaruhnya saya "selipkan" pula di dalam desain-desain Depkominfo BEM 2010. Selalu ada potongan batik seperti berikut hehee ,,V,

Ciee...kode mau move on sekre nih #upss

Publikasi terakhir untuk BEM 2010 hikzzz

Arigatou #IK

#Arigatou #LaporanAkhir #Akhir #Terakhir?? #eaaa #IndonesiaKreatif @idkreatif

Sugeng Rawuh November

Sebentar lagi bulan Oktober usai dan bulan November tiba
Portal Indonesia Kreatif pun akan memasuki masa-masa sibuk. Mulai dari berbagai perlombaan plus peningkatan kualitas konten dan.... jreng jreng jeng.... akan ada beberapa fitur baru. Sedikit bocoran tentang fitur-fitur baru di Portal Indonesia Kreatif.

  • Tempat diskusi asyik, tempat sharing ide, saling memberi masukan positif dan tentunya dengan cara yang kreatif
  • Interaksi saling padu melalui pertukaran informasi tentang karya kreatif apa saja yang telah dibuat sesama user
  • Jarang di depan laptop/PC? Well, Ik will accomodate you
  • Akan ada repository tentang program-program ekonomi kreatif, riset ekonomi kreatif, hingga informasi dukungan pendanaan bagi orang kreatif

Memang terjadi keterlambatan proses implementasi secara terstruktur, sistematis, dan masif. Tapi yuk ah fokus ke perbaikan masa depan.

Banyak pelajaran yang dipetik di dalam proses pengerjaan fitur-fitur di Portal Indonesia Kreatif. In syaa Allah saya masih semangat dan akan memberi yang terbaik. :)

Gov to Program [1]

Sebulan ini bukan durasi yang ringan nan mudah. Terlebih ke depannya, akan muncul tantangan demi tantangan yang perlu tuntutan fisik, mental, plus pemikiran untuk menghadapinya. Ini berkaitan dengan status sebagai tukang coding di Portal Indonesia Kreatif. Salah satu gebrakan di penghujung tahun ini adalah Program, sebuah subdomain baru di Portal Indonesia Kreatif yang merupakan evolusi dari Gov.

Gov, sebuah subdomain yang (jujur) underestimated dari sisi popularitas. Wajar memang, kalau disurvey apa yang lebih menarik bagi masyarakat antara berita kreatif, karya kreatif, profil orang kreatif, kalender kreatif, dan statistik+program kreatif, tentu opsi pertama dan kedua yang jadi favoritnya. Ketika News identik dengan berita/liputan, Event identik dengan kalender, Directory identik dengan profil/database, Showcase identik dengan pameran, nah Gov ini identik dengan apa?

Gov secara ringkas merupakan gabungan dari:
1. Riset dan statistik ekonomi kreatif
2. Program-program pemerintah terkait ekonomi kreatif
3. Tata kelola HaKI untuk industri kreatif
4. Profil institusi pendidikan tinggi kreatif
5. Informasi pembiayaan industri kreatif
6. Ranking Indonesia yang berkaitan dengan ekonomi kreatif
7. Publikasi mengenai ekonomi kreatif

Tantangan terbesar terletak pada tata kelola konten, baik narasumber maupun tim redaksi Portal Indonesia Kreatif.

Berangkat dari ekspektasi untuk lebih mengakrabkan diri melalui brand baru, maka diputuskanlah untuk mengevolusikan Gov menjadi Program. Rasanya memang agak bingung ketika membangun sebuah sistem yang meruntuhkan sistem lama yang sudah dibuat susah-susah. Tapi di situlah nilai-nilai keikhlasan akan dituai dari situ. Orientasi dalam membangun sebuah sistem baru bukanlah urusan suka tidak suka ataupun sakit tidak sakit ketika sistem lama yang dibuat dengan berdarah-darah. Orientasinya adalah menyediakan informasi yang bermanfaat dan tentunya itu ibadah, maka jangan sampai rasa suka tidak suka mengotori niat yang harusnya ikhlas.

Kabinet itu bernama "kerja"

Huru-hara pemilihan presiden sudah menjadi memori yang "renyah" karena benar-benar membuat banyak orang terbius dan sakau utuk ikut berkoar-koar. Ok, yuk move on. Marilah kita orang menatap masa depan di bawah kepemimpinan Bapak Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla. Frase "kepemimpinan" sengaja saya pilih daripada "rezim" ataupun frase lain yang mencerminkan jabatan struktural. Kini kedua sosok tersebut diharapkan tidak sekedar terpampang di dinding sekolah-sekolah persis di bawah logo Garuda Pancasila. Konkreatnya "kerja" merupakan hal yang patut dibuktikan melalui formasi penuh ekspektasi yang bernama "Kabinet Kerja".

Walau bukan simpatisan dan pendukung keduanya tidak berarti yang saya tulis merupakan agresi/mosi tidak percaya. Namun lebih "sekedar cuap-cuap" dari seorang rakyat jelata.

Salut dengan busana yang dipilih untuk "launching" nama-nama yang dipercaya menjadi menteri. Tidak ada jas yang terkesan glamor. Kemeja putih dengan nuansa sederhana. Sebuah reminder bahwa mendapat "jabatan" tersebut berarti bukan untuk disombongkan ataupun dirayakan, namun fokuslah pada "kerja". Kasus tumbangnya 3 menteri di era Kabinet Indonesia Bersatu lantaran kasus korupsi agaknya menjadi rambu-rambu bagi JKW-JK untuk lebih antisipasi bahaya laten korupsi sehingga menjelang diumumkannya nama-nama menteri, organisasi bernama KPK berulang kali disebut-sebut tengah dijajaki kerja sama untuk melacak track record para calon menteri.

Sebagai masyarakat awam, terus terang saya masih belum memahami beberapa fenomena unik di dalam pembagian nama dan ruang lingkup kementerian di Kabinet Kerja ini, antara lain:

  • Apa bedanya Kementerian "Pertanian" dengan Kementerian "Agraria" dan Tata Ruang
  • Unik juga dengna adanya Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Koordinator Maritim, dua kementerian koordinator yang baru ada di periode ini
  • Mengapa pendidikan tinggi dialihkan dari Kementerian Pendidikan Nasional (lama) menuju Kementerian Riset dan Teknologi (lama) sehingga saat ini yang ada berupa Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Kenapa heran? Pertama, risiko yang sangat besar untuk memisahkan antara pendidikan dasar, menengah, dengan tinggi ke dalam dua kementerian yang berbeda. Kedua, jika alasannya agar apa yang dikembangkan di perguruan tinggi bisa diterapkan di riset dan teknologi, maka timbul pertanyaan "kenapa tidak digabung dengan perindustrian?"
  • Mengapa ekonomi kreatif dipisahkan dari Kementerian Pariwisata (d/h Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) sedangkansalah satu isu yang menjadi daya tarik orang memilih JKW-JK adalah ekonomi kreatif. Berhembus isu susulan bahwa ekonomi kreatif akan dikelola oleh badan setingkat menteri, nah pertanyaannya, apakah hal tersebut mampu setidaknya mempertahankan performa Kemenparekraf yang justru sudah memperoleh kepercayaan tersendiri di blantika orang kreatif Indonesia

Semoga Kabinet Kerja ini mampu menorehkan pengaruh positif bagi NKRI :)
Dan tak lupa agar menjaga nilai-nilai Bangsa Indonesia dari ancaman liberalisme, atheisme, serta hedonisme

Yuk Jadi Aktor di bidang ICT

Technopreneur
Bayangin bisa bisnis aplikasi buatan sendiri ataupun tim sendiri yang isinya tentang Islam lalu banyak orang yang mempergunakannya dan itu memberi manfaat besar bagi mereka. Subhanallah, you're businessman with barokah. Nah, jangan cuma dibayangin nih, ayo wujudkan :D

Ikut lomba IT
Ngoding buat dapet nilai kuliah tentu sudah biasa. Ngoding buat menang lomba? Subhanallah kerennya. Tentu bakal membanggakan orang tua dan almamater. Sebagai sesama muslim tentu kita akan bangga jika ada saudara berprestasi dalam lomba IT. Ini akan memacu saudara-saudara muslim lainnya untuk ikut berprestasi di lomba IT.

Content creator
Di internet katanya yang berseliweran itu kontennya nggak sesuai ama agama. OK, stop berkeluh kesah. Punya bakat menulis? Tulislah pengetahuanmu tentang Islam dan sebarkan di internet. Punya bakat ngedesain, ngomik, ataupun infografis? Ayo bikin karya kreatif yang berisi ajakan kebaikan di jalan Islam dan sebarkan juga di internet. Nggak bakalan nyesel deh bisa ikut bikin meramaikan internet dengan sajian berkualitas dan Islami.


Dakwah yang paling mujarab adalah dengan memberi teladan. Maka jadilah muslim yang berdakwah mampu menjadi teladan lewat karya-karya di bidang IT

Ctrl+F Batam+IT

Ceritanya dikasih assignment untuk mencari nama yang cocok diundang ke acara Sosialisasi Portal IK di Kota Batam dengna constraint berupa subsektor teknologi informasi. Batam ya? Emang ada apa ya di sana? bidang IT ya? Kenapa nggak Bandung, Jogja, atau Surabaya? Kurang lebih begitulah gugam saya di awal assignment ini. Dengan demikian beberapa alternatif yang bsia diambil adalah dari kalangan bisnis, baik korporasi mapan maupun start up, bisa juga dari kalangan akademisi, bisa pula riset.

Hari pertama searching dengan kata kunci "IT" dan kota Batam. Nemu berbaga website yang memeprtemukan kata-kata kunci tadi, diantaranya direktori penanaman modal, dinas komunikasi dan informatika, dan berbagai direktori perusahaan yang berdomisili di Kota Batam. Mulai absurd, ketika coba menyusun mind map (lama kelamaan saya makin menyadari bahwa kecenderungan say aadalah kecerdasan visual, aya walau saya nggak cerdas-cerdas amat :v). Mind map itu berisi garis besar antara potensi, arahan strategis, kebutuhan dan penawaran antara Cetak Biru Ekonomi Kreatif, Kota Batam, perkembangan TI di Indonesia. Masih buntu juga, apalagi dateline ngoding juga memenuhi sticky notes saya, khususnya terkait lomba klip yang bakal dihelat di Showcase IK. Ah coba cari di YouTube dengan kata kunci yang sama. Aduh rekomendasi yang kelaur adalah berbagai pagelaran "ajeb-ajeb" di Kota Batam, lhaaaa =___________=

Esoknya mendadak tanpa sengaja saya menyadari bahwa trend IT saat ini yang menjadi keunggulan di Indonesia ada di dua poin, pertama mobile phone dan yang kedua adalah konten. Mobile phone hmmm... konten ya? hmmm. Eh kenapa nggak coba ngelacak ada nggak ya karya orang Batam di bidang mobile phone atau at least produk IT di mobile phone (khususnya Android, Win-Phone, iOS, dll) yang kontennya tentang Batam. Jreng jreng jrengggg. Langsung hajar bleh... Kenapa mendadak kepikiran hal itu? Untuk opsi pertama (orang Batam yang berkarya di bidang mobile phone) merupakan inspirator bahwa kalau mau tekun maka sangat bisa lho Indonesia merajai mobile phone sebagai produsen aplikasi. Sedangkan di opsi kedua lebih menyoroti adanya kreativitas konten yang mengangkat Kota Batam dengan seagala potensinya untuk dipromosikan.

Di browser sudah terbuka satu tab pencarian aplikasi Windows Phone, satu tab pencarian di Android, dan satu pencarian di iOS. Kali ini fokus di kata kunci Batam dengna harapan ruang lingkup pencariannya kalau nggak asal usul developer-nya yang dari Batam ya nama aplikasi/kontennya tentang Batam. Dan hasilnya yeaaaayyy Alhamdulillah dapat banyak sekali aplikasi dengan nama "Batam bla bla bla". Dikepoin satu per satu aplikasi itu oleh saya *naluri kepo saya agak tinggi*. Ada produk lokal ada pula produk asing. Dan munculs ebuah nama berinisial AS.

Si AS ini ternyata produktif banget menciptakan aplikasi di Windows Phone dan Android, dua produk mobile phone yang sedang meraja di Indonesia. Ternyata banyak produknya yang memiliki konten Batam dan Kepulauan Riau. Nyari profilnya di linkedin dan Google ternyata dia orang Batam yang pernah kuliah di Malaysia dan sangat gemar riset di bidang IT, khususnya perceptual computing. Produsen aplikasi IT tentang Batam dan asalnya dari Batam. OK klop banget dan langsung saya buat resume profilnya. Semoga di-acc dan bisa memperoleh kesempatan untuk mengontak dia lebih lanjut.

Hikmah dari pencarian ini:

  • Miliki profil yang baik agar ketika ada yang membutuhkan personal dengan kemahiran yang kita punya, maka orang itu bisa menemukan kita. Dan harus diakui si AS ini memiliki portofolio yang jelas dan terstruktur rapi.
  • Dalam mencari tokoh untuk sebuah acara, tentukan ruang lingkup, tujuan serta hal-hal lain yang menentukan kecocokan spesifikasi tokoh tersebut.
  • Uletlah dalam berupaya, yakinlah Allah akan menghadirkan solusi yang spesial.