Jika Aku Boleh Melirik Wisuda

Jumat sore, akhirnya kesempatan untuk "kabur" dari segala penatnya Studio Indonesia Kreatif pun tiba. Antara nggak tahu mau kemana, iseng, dan juga salah baca agenda, saya menuju ke kampus UI area Depok. Lho kok rame banget, ada apa gerangan?

Oalah, ternyata ada wisuda. Ya daripada langsung balik coba deh ngeliatin yang lagi wisuda. Eitsss, bukan nyari cewe lho y...bisa dilempar badik+mandau+rencong+kujang+keris satu lusin kalo ampe ada motif begituan wkwkwk. Simpel saja alasan untuk nimbrung di tengah keramaian, tentunya dengan wajah sok ada agenda di situ hahaa.

Wisuda, bagi saya selalu ada kenangan yang spesial.
Dulu saya saat tahun pertama s.d. tahun keempat tiap kali ada wisuda selalu berupaya ikut nimbrung karena ada orang yang ditunggu, mulai dari kakak kelas macam Bang Bil, Kang Hilman, Kang Fachrie, Mas Ucup, dll (saking banyaknya kakak kelas yang inspiratif. Begitu pula dengan rekan-rekan seangkatan yang saat tahun 2012 sudah berhasil mengenakan toga, baju aneh yang diidamkan banyak mahasiswa. Namun di penghujung 2013 pula saya bulatkan tekat hanya untuk sidang, lulus yudisium sidang akademik, dapet ijazah lewat BAA, udah cukup begitu saja. Wisuda? Nggak lah, sudah tidak berharap wisuda karena memang tidak merasa perlunya selebrasi yang spesial. Hingga akhirnya di hari-hari akhir pendaftaran, ibu saya mengetahui bahwa saya masih belum daftar. Karena nggak enak untuk menolak akhirnya saya pun turuti keinginan beliau untuk wisuda, nyerah juga akhirnya saya hahaa.

Lebih dari sekedar prosesinya, saya menilai ada yang spesial dalam hal efek wisuda bagi orang di sekitarnya. Mungkin itulah mengapa di IT Telkom (s/k Universitas Telkom) wisuda sering diadakan di hari Sabtu dimana lusa harinya adalah Senin hari pertama UTS/UAS, barangkali sebagai motivasi bagi para peserta UTS/UAS agar segera menjadi peserta wisuda.

Bahkan, tanpa sepengetahuan rekan-rekan saya, ada yang spesial di wallpaper laptop saya di semester 9. Sebuah poster yang memang saya buat spesial isinya. Gambar  di dalamnya lebih menjetak saya ketimbang tulisan-tulisan rencana "deadline" riset saya di skripsi tersebut. Gambar itu merupakan kompilasi beberapa rekan akrab saya yang diimpun dengan kostum toga dari berbagai berguruan tinggi, antara lain Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang, Universitas Negeri Semarang, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Sebelas Maret, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Politeknik Kesehatan Bhamada, dan tentunya Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Kenapa tidak ada Institut Teknologi Telkom? Alasannya sederhana. Di kampus yang saya sebutkan tadi, lulus di semester 9 ke atas bukan hal yang lazim, sebuah kondisi yang agak berbalik dimana di IT Telkom lulus di semester 9 s.d. 11 masih diwajarkan. Selain itu, proporsi gambarnya nanti jadi agak ramai. Malah nggak fokus ama jadwalnya malah :para

Dan kembali ke paragraf paling awal di artikel ini. Menyaksikan para wisudawan beserta orang tuanya (yang tentu tidak saya kenal) hahaa) memberi energi khusus bagi saya untuk segera mengakhiri petualangan di MTI dengan manis, barokah, dan membahagiakan orang-orang yang patut saya bahagiakan (termasuk saya sendiri donk tentunya hehee).



Baju dasar hitam khas wisudawan dengan selimut kuning di bagian pundak dan separuh badan khas Universitas Indonesia serta sepasang warna berupa pita merah-bitu melekat di tepi selimut  itu sebagai khasnya Fakultas Ilmu Komputer hingga dua helai pita dengan kombinasi warna sesuai fakultas sebagai pertanda 'magister'. Sungguh busana aneh kedua yang semoga bisa jadi kado tahun depan.

Untuk orang tuaku
(mungkin pula) Untuk orang yang sudi mendampingi dan juga orang tuanya
Dan juga kepada dua saudara terhebatku yang terus memberi inspirasi

Rearansemen AdArt

Beuh akhirnya kembali menyantap diskusi serius berwujud AD ART. Kali ini di organisasi yang sudah bersedia "menampung" saya di tahun 2014 ini, yaitu FUKI. Baru kali ini saya mengikuti agenda pembahasan AD ART di organisasi yang berstatus LD, bukan UKM, himpunan ataupun KBM maupun organisasi kepanduan. Ada dimensi berbeda yang membuat say harus beradaptasi dengan frekuensi yang didengungkan di agenda ini.

Oh ya, ada yang unik seputar AD ART FUKI, yaitu satu-satunya organisasi di IKM Fasilkom yang memiliki AD/ART tersendiri padahal BSO lain plus BEM dan DPM tidak karena AD ART IKM sudah dianggap cukup. Namun dibandingkan LDF-LDF lainnya, justru kondisinya mereka sudah memiliki AD/ART tersendiri.

Tentu ada plus minusnya organisasi jika memiliki ataupun tidak memiliki AD ART. Semua bergantung pada kebutuhan masa kini serta bagaimana organisasi tersebut akan dikembangkan di masa depan. AD ART sendiri banyak mengupas sistem kepemerintahan dan keanggotan di sebuah organisasi serta hirarki produk hukum yang berfungsi sebagai regulator terhadap ketahanan organisasi dalam menyiasati berbagai problema yang sudah pasti bakal bermunculan.

Khusus di FUKI ini, akan disahkan AD/ART-nya di event Rekursif 13 September 2014 mendatang. Semoga bisa menghasilkan masa depan yang makin barokah dengan AD ART ini. Aamiiiin

Cieee Yang Makan Es Krim Bareng

Cinta itu patut ditanamkan antara kakak kelas dengan adik kelas. Karena pada dasarbya kita ingin almamater ini semakin baik dan orang-orang di dalamnya punya karakter yang baik pula.
Memesona juga cara ini
Semacam talkshow yang menggusung suasana riang dan asyikny ukhuwah.
Es krim hanya sarana untuk mengawali keakraban diantara muslim di sini

Games dulu
Pas ngariung sambil santap eskrim malah lupa difoto hahaa

Fight Forever or Flight Forever

Yeeyy, 5 gol, not bad lah untuk pemain medioker macam saya di PAJ hehee, setidaknya jadi memori tersendiri. Jika ada invitasi futsal lagi maka sampai jumpa akhir Desember nanti (kecuali tiba-tiba saya sudah tidak di sini lagi). Ok, sekarang masuk ke inti topik artikel kali ini yang jangan tanya korelasinya dengan judul, itu mah iseng wae terlintas mendadak untuk menamai artikel ini. Jadi ceritanya mendadak ada kawan ngajak share tentang (bahasa kerennya) membagi waktu antara kuliah dengan kerja. Wah sebenarnya saya bukan orang yang layak memberikan petuah bijak karena saya sendiri hanya butiran debu dalam urusan membagi waktu. Manajemen waktu saya masih kacau untuk dijadikan teladan. Maka yang nanti saya utarakan anggap saja sebagai reminder yang orang yang sempat menemui beberapa trouble dan belajar untuk memperbaiki, moga-moga pembaca bisa belajar untuk lebih dini agar bisa meraih pengalaman yang lebih baik aamiiin...

Kita mulai dari apa ya? Karena diajaknya mengupas menyandingkan kuliah dengan kerja maka kita awali dengan abstraksi, #ceileh... Maksudnya abstraksi di sini kurang lebih berisi niat dalam mengikuti dua hal tersebut. Wah kalau masih disambi dengan ikutan organisasi artinya ada 3 (bahkan lebih) hal yang musti diurusi, sebagai catatan, masih ada tanggung jawab sebagai anak dari orang tua atau bahkan pula orang tua dari anak-anak. Buat daftar (akan lebih baik jika dituliskan) mengenai latar belakang dan tujuan secara umum yang melandasi kerja, kuliah dll.

Misalnya kita punya target kerja sebagai penyambung hidup mencari nafkah, termasuk menambal biaya kuliah (seandainya belum meraih rezeki beasiswa), maka motif bekerja sudah barang tentu urusan "nominal", ya nggak sih? Jika motifnya karena nominal maka jangna terlalu ngeyel dengan bidang kerja, fokuslah pada "salary" yang dicapai di tiap bulannya (pastinya halal lho ya..). Lain cerita jika bekerja sebagai media untuk mulai menerapkan ilmu. Untuk kasus demikian maka utamakan bekerja yang nyambung dengan bidang kuliah, urusan nominal jadi prioritas kesekian. Artinya jika makin banyak yang ingin dikejar maka makin banyak pula aspek yang perlu dipertimbangkan. Pandai-pandailah mengatur prioritas.

Misalnya juga disambi berorganisasi. Pikirkan pula kenapa ikutan organisasi tersebut dan apa sih yang diharapkan dari organisasi tersebut. Apalagi jika menginjak program magister, timbang matang-matang apakah organisasi itu diikuti karena passion ataukah ada tujuan lain.

Ada tipikal orang tertentu yang terbiasa menuliskan target, jika pembaca termasuk yang demikian, jangan malu-malu menggoreskan pena atau mengetikkan dengan penuh keyakinan apa target yang diharapkan. Ini akan jadi alat ukur yang membedakan apakah kita di masa depan nanti menjadi orang yang kita sendiri harapkan atau tidak :)

Nah udah kayak gimana abstraksinya?
Jika sudah, selamat Kawan :) satu langkah fundamental insya Allah lebih terang. 
Jika belum, coba renungkan lagi dengan terus berintrospeksi diri, sepahit-pahitnya alasan berkuliah (apalagi magister) adalah ikut-ikutan.

Selanjutnya kita bincangkan yang terkait urusan teknis. Yang beginian ini sifatnya relatif, maksudnya di beberapa karakter orang sesuai, di beberapa karakter lainnya perlu modifikasi. It's OK, manusia memiliki spesialisasi yang menjadi daya tarik dalam mengelola waktu.

Cari Pendengar dan Pemberi Masukan
Carilah seseorang/beberapa orang yang mampu menjadi pendengar kita maupun pemberi masukan terhadap kita dalam kaitannya kerja, kuliah, dan keluarga (dan atau mungkin kolaborasi organisasi). Saat mengisi waktu berhari-hari dengan kuliah, kerja dll tentu ada banyak berbagai problema. Sebagai manusia sosial, kita perlu orang lain yang sukarela mendengarkan keluh kesah kita. Jangan terlalu banyak mengempet stress, apalagi malah ngeluarin boneka ama jarum #wadawww. Pastikan pula orang tersebut bisa memberi masukan serta peringatan ketika kita mulai kacau dalam membagi waktu.

Cari Koalisi di Masing-Masing Lapak
Udah lah, nggak usah sok hebat, kuliah itu nggak semua tugasnya individu yang harus plek sendirian ngerjain, kerjaan di kantor juga nggak semuanya harus dikerjakan sendirian kan? Carilah kawan yang bisa berkolaborasi untuk sama-sama mengerjakan amanat di masing-masing lapak. Kalaupun memang tugas yang dikerjakan masing-masing berbeda jauh maka carilah kawan yang bisa mengingatkan dengan cara yang baik-baik dalam memenuhi tugas tersebut. Jangan sampai di kampus nggak punya temen sehingga kita nggak tahu ada tugas apa dan dateline-nya kapan. Begitu pula di tempat kerja, carilah orang yang siap nagihin tugas-tugas kantor ataupun bareng-bareng mengerjakan. Kendur di kemudian hari itu wajar, itulah gunanya teman yang membuat kita walnya serba nggak enak untuk melalaikan tugas, tapi ujung-ujungnya kita bisa memenuhi amanat dengna tanggung jawab

Takar dan Penuhi Kebutuhan Nutrisi
Kebutuhan gizi orang yang cuma anteng di depan laptop 9 jam dengan orang yang ber-coding di depan laptop 8 jam lalu dilanjut naik angkot dan KRL bolak-balik 2 jam plus mendengerkan dengan seksama orang memaparkan slide tentu jauhhh berbeda. Nah kalau tahu berbeda ya jangan segan-segang untuk mulai berpikir ilmiah untuk menakar kebutuhan gizinya berapa dan bagaimana makanan yang dikonsumsi bisa memenuhinya, sekali lagi berpikir ilmiah, bukan mengawang-awang.

Buat Jadwal
Akan sangat berbeda isi dari 24 jamnya mahasiswa, 24 jamnya karyawan serta 24 jamnya karyawan yang sambil kuliah, apalagi 24 jamnya karyawan yang sudah berkeluarga dan sedang kuliah. Durasinya sama 24 jam masing-masing, yaitu 24 x 60 menit alias ada 1440 menit dalam sehari, tapi list to do-nya jelas jauhh berbeda. Atur jadwal dengan penuh kematangan. Pertimbangkan pula hal-hal yang sepele seperti nunggu angkot, kemungkinan tidur siang, waktu nyuci, hingga jam tidur malam.

Catat Agenda-Agenda Baru yang Bermunculan
Teorinya sih gampang dalam menulis jadwal. Tapi apa iya segampang itu? Weitsss, coba diinget-inget, dalam sebulan terakhir ada agenda mendadak apa saja hayoo? Dateng ke undangan si ini, dateng ke walimahan si itu, jalan-jalan ke sana, walah sibuknya udah nyaingi presiden aja nih. Nah itu tuh, agenda-agenda non-rutin yang bermunculan harus segera dicatat. Kenapa harus dicatat, macam anak kecil aja. Justru anak kecil itu kalau ada agenda baru cuma diya-iyain nggak jelas kenyataannya. Coba cek tuh artis-artis yang manajemennya udah matang, pasti jelas hari ini jam segini ngapain. Yuk belajar menepati amanat, termasuk janji ini janji itu :)

Siapkan Sabtu dan Minggu sebagai Mmmm...
Lazimnya orang bekerja di hari Senin s.d. Jumat. Namun ada pula mahasiswa yang berkuliah di Senin s.d. Jumat, tapiiii ada juga yang di Sabtu dan Minggu. Untuk jenis mahasiswa yang pertama bila disambi dengan kerja maka kuliahnya dilaksanakan di sore/malam hari. Walau demikian, ada kesamaan dari keduanya, yaitu mahasiswa yang sambil kerja kerap memakai hari Sabtu dan Minggu untuk mengerjakan tugas kuliah yang beuhhh udah macam romusha =_____= Mereka berasumsi bahwa Sabtu dan Minggu itu avaible. Maka (re)prepare your weekend :/

Rajin Introspeksi dan Memperbaiki Diri
Yang namanya teori, seperti diungkapkan tadi, gampang direncakan tapi sukar diterapkan. Nahh eta pisan ieu... Kita harus sering introspeksi diri dalam urusan pembagian waktu kita. Memang betul niat kita mengerjakan sesuatu itu baiknya untuk Allah semata, bukan mengharapkan pujian orang, tapi jangan naif pula bahwa jika ketika seenaknya (dan mengatasnamakan tagline 'cukup Allah yang menilai) berperilaku maka orang lain akan terganggu sehingga apa yang kita lakukan, baik di tempat kerja maupun kuliah akan berantakan secara perlahan. Memperbaiki diri juga artinya kita harus cerdas berpikir hal-hal apa saja yang sudah sesuai rencana maupun kekurangan yang perlu dibenahi.

Jangan Mengemis Belas Kasihan tapi Jangan juga Buta Risiko
Untuk dua frase terakhir ini tidak banyak yang perlu diungkapkan, intinya jangan seenaknya mangkir dari amanat lantaran suatu kesibukan di suatu tempat namun jangan pula seenaknya diri menelantarkan amanat lainnya tanpa menimbang risiko yang mungkin terjadi. Berterus teranglah tentang kapasitas diri dan komunikasikan dengan baik mengenai sanggup tidaknya kita dalam manajemen waktu.

Beri Aura Positif tentang Manfaat Kuliahmu bagi Tempat Kerja
Percaya atau tidak, ada sikap sensitif di tempat kerja jika ada karyawannya yang melanjutkan studi, memang tidak semua tempat kerja, namun di beberapa curcol kawan saya, hal itu sempat terjadi. Penyebabnya simpel, yaitu terkait beban kerja yang dianggap jadi berkurang, potensi minta gaji naik jika sudah lulus, serta potensi hengkang jika sudah lulus. Opini ini di luar kendali kita karena itu urusan kepala dan hati orang lain yang tidak bisa kita campuri. Fokus saja pada memenuhi list to do serta menjaga komunikasi secara baik-baik. Dan tak lupa beri aura positif tentang manfaat berkuliah terhadap tempat kerja. Misalnya, kembangkan pola pikir sistematis dan ilmiah dalam pengambilan keputusan, peningkatan kematangan proyek dll.

Wokey,,,
Semoga tidak puas dengan saran-saran tadi sehingga mau terus dan terus mencari trik-trik membagi waktu yang bijaksana.
Oh ya, jika ada masukan, monggo kita diskusikan :)

Apa Kabar Arsitektur Masjid

Secara umum ketertarikan orang ke masjid ada yang bersumber dari diri manusia itu sendiri, ada pula yang bersumber dari masjid. Ketertarikan yang bersumber dari masjid terbagi berbagai hal yang secara garis besar bisa dibagi menjadi dua, yaitu kegiatan yang memakmurkan masjid tersebut, serta keindahan arsitektur. Kali ini ingin saya membahas dua kata terakhir pada kalimat sebelumnya, ya "keindahan arsitektur".

Mengapa masjid harus memiliki arsitektur yang indah? Bukankah itu cuma urusan "kosmetik" alias bungkus atau kemasan ataupun hal-hal yang sifatnya formalitas. Memang betul keindahan arsitektur (sepintas hanya) berkaitan dengan urusan mata. Namun jangan salah, ada dimensi yang lebih luas yang ikut berperan menjadikan masjid memiliki daya tarik yang bermuara pada keaktifan di dalamnya. Waduh jangna-jangan ke masjidnya cuma buat narcis doank nggak ada kekhusyukan sama sekali? Eitss, nanti dulu, hayuk kita obrolkan.

Allah itu pecinta keindahan sehingga kita patut memperlakukan masjid sebagai rumah ibadah-Nya dengan spesial. Masjid memiliki fungsi sebagai tempat ibadah yang disucikan. Tentunya kita patut memperlakukannya dengan cara penuh keindahan. Tidak banyak yang perlu dipanjanglebarkan untuk menjelaskan hal pertama ini :)

Walau demikian, Allah juga tidak menghendaki bermegah-megahan, termasuk pula berlebih-lebihan.
Karena itulah kita perlu memahami batas-batas kewajaran dalam berkreativitas untuk urusan mempercantik masjid. Salah satu hal yang paling sering diabaikan adalah masjid yang justru menjadi proyek mercusuar dan adu reputasi antar-daerah. Hal demikian agak keliru (apa malah keliru banget ya? wallahualam). Sebagus apapun arsitektur masjid jangan sampai menjadikan bangunan masjid terlampau megah, bahkan hunian-huanian warga sekitarnya masih bernuansa kekurangan, kenapa? Justru mengindikasikan ketidakmampuan masjid memakmurkan masyarakat sekitarnya. Jangan pula membangun masjid yang bertujuan untuk adu gengsi ataupun ajang pembuktian bahwa daerah ini tidak mau kalah dengan daerah lain, dari niat seperti ini saja sudah tentu berbeda dengan definisi "berlomba dalam kebaikan". "Berlomba dalam kebaikan" muaranya adalah mengharap ridho Illahi, sedangkan adu gengsi membangun masjid orientasinya adalah pengakuan dari manusia, pergeseran orientasi akan membuat masjid kurang bisa memberi manfaat.

Allah memberikan kita perasaan senang keindahan
Kembali ke pada ulasan keindahan tadi. Allah telah menitipkan perasaan gemar akan hal-hal yang indah, termasuk keindahan visual. Hal ini pula yang mendorong arsitektur telah menjadi bidang yang telah berkembang dari zaman ke zaman. Berbagai situs di dunia ini telah menjadi bukti bahwa manusia memang gemar keindahan arsitektur. Dengan kata lain, membuat suatu tempat bukan urusan kokoh atau tidaknya bangunan, namun elok tidaknya dipandang. Ketika nyaman dipandang tentu akan memancing keaktifan untuk meramaikannya sebagaimana fungsinya.

Siapa sih yang nggak tertarik menyaksikan bangunan yang elok dipandang arsitekturnya seperti bangunan-bangunan di bawah ini. Bangunan-bangunan tersebut adalah masjid di berbagai daerah di dunia.

Sumber: http://issuu.com/fukifasilkom/docs/nolderajatvol2


Pemantik Keaktifan Kegiatan
Memang benar keindahan arsitektur itu urusan visual yang statis, yang lebih penting itu unsur dinamis berupa kegiatan-kegiatan yang memakmurkan. Yaps, saya pun sepakat dengan hal ini.
Arsitektur yang menawan tentunya akan memberikan daya dukung terhadap ketertarikan kaum muslim agar mau aktif dalam memakmurkan masjidnya.


Kita tidak perlu naif untuk mengabaikan adanya unsur keindahan arsitektur masjid yang mendorong kita jadi tertarik untuk ke masjid.
Walau demikian, janganlah pula kita berlebih-lebihan dalam membangun masjid.

Early Warning System versi BBM

Ada dua inspirasi menulis artikel ini

Pertama, ada proyek yang sedang temen kerjakan bertajuk Early Warning System Harga Bawang se-Indonesia. Melalui sebuah portal informasi, kita dapat mengetahui harga bawang dan stok yang tersedia di berbagai daerah di Indonesia. Di dalam sistem ini, dilibatkan juga banyak surveyor di berbagai daerah di Indonesia. Apa manfaatnya? Tentu saja banyak informasi yang dapat diproduksi dan ujung-ujungnya pengambilan kebijakan yang benar-benar berdasarkan kondisi riil di lapangan. Di Brebes harga bawang (misal) Rp 20.000,00 dan di Pemalang udah Rp 30.000,00 nah apa yang bikin jomplang? Jelas indikasi penimbunan maupun hal-hal lain yang mungkin memberatkan daya beli konsumen ataupun merugikan petani dan pedagang dapat segera diketahui

Kedua kunjungan ke Majalengka dan Sumedang tempo hari dimana di Majalengka terjadi kelangkaan bahan bakar sehingga terjadi antrean merayap hingga tumpah ruah di pinggir jalan kawasan SPBU, padahal di hari yang sama di Sumedang tidak terjadi kelangkaan serupa.

Dua inspirasi tersebut membuat saya berpikir (lantaran bengong bosen tidur sepanjang perjalanan) mengapa sistem Early Warning Sistem untuk bawang tersebut diperluas ke berbagai barang ekonomi yang memerlukan informasi akurat dan aktual mengenai stok serta harganya di berbagai wilayah se-Indonesia.

Salah satunya ya tentu saja harga bahan bakar minyak.
Mengapa harga bahan bakar minyak saya beri penekanan di paragraf sebelumnya? Karena bahan bakar minyak merupakan benda yang kenaikan 100 rupiahnya saja dapat membengkakkan harga berbagai barang dan jasa di seluruh aspek kehidupan. Malam ini BBM naik maka tinggal hitung saja dalam satuan jam maka biaya makan di warteg bisa langsung melonjak tajam. Permasalahan yang ada di kasus BBM banyak sulit dikendalikan pemerintah, diantaranya:

  1. Kita tahu bahwa yang ditetapkan pemerintah adalah harga resmi di SPBU dan gerai-gerai yang mengikuti standar nasional, bagaimana dengan harga eceran di kios/lapak privat?
  2. Lanjutan dari nomor 1, yang ditentukan itu harganya, bukan stok. Urusan stok jelas perkara yang sulit. Banyak praktik penimbunan yang bermotifkan ekonomi. Nah, ketika penimbunan jamak sehingga stok melangka alias permintaan melambung tinggi namun penawaran menurun maka yang terjadi adalah penentuan harga yang "seenaknya" dari para penimbun.
  3. Kalau nomor 2 itu penimbunan terkait stok maka yang jadi inti dari nomor 3 adalah adanya motif penimbunan (dan juga permainan harganya). Kasus di Majalengka kemarin ternyata diikuti di berbagai daerah termasuk Tegal. Mau tidak mau kita akan menarik rekam jejak isi koran belakangan ini, ada apa ya? Oh ya, kemarin baru selesai pemilu. Boleh jadi ada permainan "titipan" para politisi pengecut yang menjadikan penimbunan BBM sebagai mainan yang menggiring masyarakat ke opini tertentu. Ini yang agak susah karena kedua belah pihak yang berival di pemilu lalu sama-sama punya potensi sebagai pelaku penimbunan. Ah entahlah urusan politik ini selalu saja menumbalkan tabungan pribadi rakyat
  4. Pemerintah sejauh ini masih keteteran untuk menjaga harga dan stok BBM stabil. Bagaimana dengan urusan harga dan stok barang/jasa lain yang riskan ikut melonjak tajam? Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk dampak yang terlalu domino


Lantas bagaimana sistem early warning system ini dapat dikembangkan?
Kebutuhan utama ada pada bagaimana arus informasi masuk dan ditindaklanjuti menjadi faktor penentu keberhasilan ide ini.

Arus masuk informasi masuk didapatkan dari surveyor yang disebar di berbagai daerah. Proses input melalui telepon seluler serta besaran data yang relatif kecil patut jadi pertimbangan untuk mempercepat diperolehnya data masuk. Informasi masuk ini juga akan lebih baik lagi ketika dilengkapi pemetaan yang memudahkan analisis sebab-akibat.

Selanjutnya tentang proses penindaklanjutan informasi. Diperlukan SDM yang mampu melakukan analisis atas berbagai nilai variabel yang muncul dari pemetaan tersebut. Hasil analisis tersebut kemudian diolah menjadi kebijakan taktis yang bersifat dua macam, yaitu front-end policy dan back-end policy. Front-end policy maksudnya kebijakan yang dihadapkan pada masyarakat selaku konsumen, misalnya penambahan stok. Sedangkan back-end policy merupakan kebijakan dari balik layar yang diarahkan kepada pemangku kepentingan yang berada di balik layar, misalnya investigasi terhadap arus distribusi, pendampingan terhadap pemerintah daerah.

Mengingat era saat ini adalah keterbukaan informasi tentu jadi pertanyaan apakah sistem yang diusulkan ini sebaiknya ditampilkan terbuka kepada publik ataukah cukup privasi pemerintah?
Jawabannya ada analisis risiko
Sebagai gambaran ketika informasi ini dapat diakses masyarakat, maka dampak apa saja yang mungkin terjadi? Misalnya migrasi konsumen secara massal, peretasan sistem informasi, hingga hal-hal lain yang sifatnya relatif positif maupun negatif.

Barokallah WP-Yusri

4 Ciri Taqwa menurut Ali

Ada yang menarik dari khotbah Sholat Jumat hari ini. Topiknya berangkat dari hal yang sederhana  dengan penyampaiannya yang singkat dan bahasa yang efektif namun berbobot isinya, yaitu tentang taqwa dimana definisi yang diambil kali ini adalah bersumber dari sepupu sekaligus menantu Rasulullah, yaitu Ali bin Abi Tholib.

Dalam bukunya Ahlur Rahmah,Syeikh Thaha Abdullahal Afif mengutip ungkapan sahabat Nabi Muhammad saw yakni Ali bin Abi Thalib ra tenteng taqwa, yaitu :Takut kepada allah yang Maha Mulia, mengamalkan apa yang dimuat dalam at tanzil (Al-Qur�an), mempersiapkan diri untuk hari meninggalkan dunia dan ridha (puas) dengan hidup seadanya (sedikit).

Ada empat ciri-ciri orang yang bertaqwa, yaitu
- Memiliki rasa takut kepada Allah sehingga apa yang diperbuat semata untuk Allah bukan sekedar menopengi diri atas opini orang lain. Dan puasa di bulan Ramadhan lalu menjadi salah satu momen untuk menguatkan ciri pertama ini
- Memiliki dasar dalam beramal. Jadi yang tepat adalah mencari dalil lalu bertindak, bukan bertindak dan baru cari tahu dalil yang memperbolehkannya.
- Visioner terhadap masa depan
- Tawakal terhadap apa yang direzekikan kepada dirinya

Nilai Terselubung dari Yasmine

Sebagai penggemar Nidji (walau nggak terlalu fanatik hehee) plus pernah (dan insyaa Allah masih) berkecimpung di dalam beladiri, terus terang langsung tertarik dengan film Yasmine. Film apa ini? Sepintas ada logak Melayu di treaser-nya? Langsung ada nuansa nostalgia membayangi dari film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Ada pancingan berupa motivasi berkompetisi, konflik rumah tangga, hingga romansa *langsung_kibas_poni.
Jumat sore, tiada yang lebih menyenang selain kepastian besok libur (ya iyalah, kan Sabtu) dan kebetulan film itu sudah tayang, maka langsung saja saya masuki bioskop untuk menyaksikan film ini (tentu saja setelah membayar tiket di kasirnya).

Film ini berkisah tentang Yasmine, seorang gadis tomboy yang gagal masuk sekolah favorit dan tertarik ikut silat, sebuah olah raga yang sangat dilarang ayahnya. Konflik sudah menggebrak di 5 menit pertama dimana kisah persahabatannya bereempat harus disela status bahwa Yasmine hanya bisa masuk ke Sekolah Tinggi Shahbandar, bukan Sekolah Tinggi Internasional sebagaimana 3 temannya itu. Di sini sebenarnya ada pesan terselubung #eaa, hamper mirip di Indonesia, di negeri tersebut sekolah swasta (dikisahkan Sekolah Tinggi Internasional) memiliki tingkat kebebasan berbusana yang lebih longgar daripada sekolah negeri. Awal persekolahan yang agak menyebalkan bagi Yasmine tak hanya kultur tadi, melainkan kisah nostalgia dirinya dengan Adi, kawan kecil yang kini menjadi atlet. Kenapa menyebalkan? Karena ada sosok bernama Dewi Inaya yang juga atlet silat dari S.T. Internasional.

Nuansa rivalitas itulah yang menggiring Yasmine menggalang massa beruap dua orang bernama mmm, ah siapa ya nama yang tokoh cowoknya serta Nadia untuk ikut kejuaraan nasional. Pertemanan ketiganya mulai menemukan chemistry tatkala menyusuri jalanan mencari guru yang berkenan mengajari mereka silat. Di luar dugaan guru yang akhirnya mau membimbing mereka adalah seorang yang telah lumpuh kakinya. Tantangan ringan muncul ketika ayah Yasmine melarang keras Yasmine belajar silat, apalagi mengikuti kompetisi nasional tersebut. Dan tebak mengapa beliau “ngebet” banget untuk memblokade Yasmine?

Ternyata ada kaitannya dengan scene di awal film ini, yaitu pertarungan tangan bebas (dan tanpa juri) diantara dua pesilat di sebuah dusun. Sepintas kita akan mengasumsikan itu adalah perkenalan bahwa ini film tentang silat, udah gitu doank. Ternyata itu merupakan pangkal dari mengapa ayah Yasmine habis-habisan menentang Yasmine belajar silat. Ternyata dua pesilat itu adalah ayah Yasmine yang bertanding melawan kawan karibnya sendiri yang gegara laga itu menjadi lumpuh. Kedua tokoh yang terpisah jauh ini akhirnya menyadari “koneksi” diantara mereka tatkala ayah Yasmine datang ke semifinal dimana beliau dan guru Yasmine saling tatap.
Bagaimana dengan konflik terbesar bagi Yasmine? Menurut saya justru ksiah romansa dia terhadap Adi (yang justru memilih Dewi) menjadi bagian pemanis yang resesif, tidak banyak hal itu diulas dan diumbar di dalam film ini, barangkali faktor ini film yang berlatar belakang di Brunei sehingga hal-hal khas NATO agak tabu di negara tersebut. Justru konflik terbesar Yasmin ada pada dua titik.

Pertama saat ini memutuskan untuk belajar silat dari Pendekar Hitam tanpa sepengetahuan guru silatnya dan akhirna menguasai sebuah jurus yang sangat berbahaya. Bahkan guru silat Yasmin dan Nadia saja langsung teriak “Jangannnn” ketika sadar bahwa itu adalah jurus yang berbahaya. Kesadaran ini timbul karena dulu beliau lumpuh setelah ayah Yasmine mempergunakan jurus itu.

Kedua, ketika tim silat yang hanya bertiga ini nyaris bubar dimana tudingan egois, sombong, dan memanfaatkan orang lain sebagai “kendaraan” dialamat kepada Yasmin. Jika boleh jujur, tudingan itu memang benar dan tidak ada 1 persen yang tidak terbukti.

Nah… namun bagi saya pribadi bagian paling luar biasa adalah perang antara Yasmine versus ayahnya yang sangat so sweet.

Diawali ayah Yasmin yang mengultimatum anaknya bahwa silat itu berbahaya, apalagi jurus dari Pendekar Hitam. Saat Yasmine mencoba mendebat, si ayah malah tanpa banyak cakap langung mempraktikan jurus itu ke tiang rumah pohon milik Yasmin dan langsung tumbanglah rumah pohon itu. Yasmin hanay bisa termangu. Esok harinya ketika bermaksud memberesi puing-puingnya, si kawan lama alias guru silat Yasmin justru menghampiri dan menasihatinya. Malam harinya ketika Yasmine pulang tanpa disangka rumah pohonnya sudah dibangun lagi oleh ayahnya.

Ah pokoknya nilai pelajaran dari balik film ini banyak kok, terutama terkait tantangan orang tua untuk mengarahkan aktivitas anak-anak mereka saat beranjak remaja ?

Menikah sebagai Manifestasi Rukun Iman [6]

Qada dan Qadar...
Dua hal yang paling sukar dicerna karena memang mmm... gimana ya? Keberadaannya sulit dipahami dengan akal sehat yang cuma bersandar pada nalar. Padahal mengimani qada dan qadar lebih dari urusan otak berlogika.

Kita mengenal takdir mubram dan takdir muallaq. Yang satu sifatnya fix dan satunya lagi masih bisa berubah. Contoh yang fix adalah usia dan contoh yang masih bisa berubah sesuai ikhtiar adalah kecerdasan akademik, IPk dll. Bagaimana dengan jodoh? Bagaimana pula dengan masuk surga ataukah neraka?

Ada yang mengelompokkan jodoh sebagai takdir mubram, ini mayoritas. Walau demikian dengan sejumlah argumen, ada pula yang mengelompokkannya ke takdir muallaq.

Terlepas dari klasifikasi itu, ada yang jauh lebih penting, yaitu tentang hak dan kewajiban kita pada Allah terkait qada dan qadar.
Kita punya hak untuk berikhtiar
Namun kita juga punya kewajiban untuk tawakal pada ketetapan-Nya.

Bagaimana dengan perkara menikah?
Kita mulai dari... siapa sih jodoh kita? Si itu kah?
Allah merahasiakan siapa jodoh kita tentu ada nilai positif yang penuh kebaikan.  Sepatutnya kita menyimpan rapat-rapat kegundahan kita dan mengisi waktu dengan ikhtiar. Ikhtiar yang bagaimana?
Jika memang kita mengharapkan pernikahan kita untuk-Nya, maka lakukan dengan cara-Nya. Jangan mau bengong menunggu, pergunakan hak kita dalam berikhtiar sebaik mungkin.
Apakah ikhtiar itu urusan "mencari" dan me ikat lawan jenis?  Itu sama saja mencari muka di air keruh *berasa nggabungin dua peribahasa.

Ikhtiar juga seputar kita memperbaiki diri sendiri. Kenapa kita harus memperbaiki diri sendiri? Tentu bersinggungan dengan komitmen kita mengabdi pada-Nya. Jika kita mengabdi pada-Nya, maka jangan mau berpuas diri dengan keimanan yang hanya baik di versi sendiri.

Kembali malah ke pertanyaan "mau ke surga apa neraka?" yang ternyata terkait dengan urusan menikah, kok bisa?
Menikah tidak hanya untuk hari H, tapi juga investasi akhirat yang ujung-ujungnya pertanyaan untuk diri kita sendiri "mau pernikahan yang mengantarkan ke surga atau neraka?" Begitu pula kita mulai tergelayuti galau tentang kekokohan dalam pernikahan, termasuk rasa was-was tatkala cita-cita keluarga yang sakimah, mawadah, warokhmah tidak terwujud. Kita kembalikan pada "kewajiban" kita tadi, yaitu berikhtiar.

Maka...
Raihlah pernokahan yang menjadi manifestasi iman terhadap qada dan qadar^^

Jangan mau jadi suami, jika...

Pernikahan merupakan momen yang sakral. Mengapa sakral?

Ketika seorang laki-laki menjadi suami dari seorang perempuan, maka laki-laki itu bersedia menjadi bagian dari "pasukan 4", lho apa itu "pasukan 4"? Pasukan 4 bisa dibilang sebagai julukan kepada para kaum adam yang berstatus sebagai orang yang memiliki ikatan keluarga inti dengan seorang perempuan, yaitu ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, dan tentunya suami. Keempat inilah yang memiliki tanggung jawab dunia dan akhirat terhadap bagaimana si perempuan tersebut.

Sebaliknya bagi kaum adam, seorang laki-laki yang belum menikah maka memegang tanggung jawab terhadap ibu dan saudara perempuannya (jika tidak ada saudara perempuan maka hanya ibunya). Nah jika si laki-laki itu menikah maka bertambahlah perempuan yang harus ditanggungjawabinya, yaitu istri, dan terbukalah pula kemungkinan hadirnya anak perempuan, sosok yang akan menjadi perempuan yang wajib ditanggungjawabinya.

Itu bagi dari sepasang aspek, bagaimana dengan aspek lain, keluarga misalnya...

Pernahkah kalian membayangkan betapa dahsyat dua keluarga yang harus disambung silaturahimnya melalui sepasang suami-istri? Kenapa harus kita singgung hal ini? Banyak ayah dan ibu yang merasa "dirampas" anaknya oleh anak orang lain. Si pasangan baru ini merasa terlalu mandiri sehingga silaturahim dengan keluarga "akar"-nya justru tergerus. Atau bahkan kasus rasa di-orangtuatiri-kannya lantaran merasa suami-istri condong ke salah satu keluarga.

Menikah bukan hanya persoalan membawa anak orang untuk diakui sebagai pasangan hidup. Lebih dari itu :) Menikah merupakan pintu awal silaturahim diantara dua keluarga, maka menjadi kewajiban, khususnya bagi suami-istri tersebut untuk aktif menyambung silaturahim. Kabarnya ini bukan perkara mudah lantara membina kerukunan antarbesan sering terkendala gengsi ataupun kompetisi aneh-aneh. Oleh sebab itu, ketika memulai pintu pernikahan, wajib hukumnya untuk menciptakan ide-ide agar kedua belah keluarga bisa saling mengisi, bisa saling memberikan peran, dan tentunya meningkatkan kualitas iman. Dan ngomong-ngomong, peran suami sebagai komandan dalam rumah tangga dituntut untuk mewujudkan hal tersebut.

Menikah juga bukan hanya menjadi suami. Status "hanya suami" insya Allah akan direvisi menjadi "ayah" ketika hadirnya si buah hati. Maka di situlah investasi akhirat dimulai. Anak merupakan investasi yang sangat berharga. Saking berharganya, janganlah laki-laki merasa sok mampu untuk mengerdilkan peran istri dalam mendidiknya. Tidak ada kosakata "bos" di kamus suami-istri, lebih khusus untuk urusan mendidik anak. Maka, jauhkanlah pemikiran untuk memisahkan peran antara laki-laki dengan perempuan untuk urusan mendidik anak, karena yang semestinya dilakukan adalah berbagi peran dan saling mengisi.

Ah, memang betul kata orang, jangan mau jadi suami jika ...
Jika hanya sekedar gengsi
Jika hanya bisa menunggu dan menunggu tanpa pernah mau mengisi waktu untuk menjadi pribadi yang semakin baik dan berkualitas :)

Simple but Awesome Flag

Masih bau kebun pekarangan, ditambah ga punya seragam apa-apa sehingga pakai kaos timnas, plus nyesep di kerumunan warga
Begitu siku dan telapak tangan diangkat membentuk sikap hormat, rasanya syahdu banget.
Bendera yang simpel, tapi ada kekuatan hebat yang membuat bangga untuk trrus membanggakan Bangsa Indonesia ini, rasa itu bernama "cinta tanah air" ;)

Best Jersey 2014/2015


Seluruh gambar bersumber dari footballfashion.org

Arsenal Home
Tidak ada lagi garis lurus kaku di jersey ini. Kesan kekar sangat ditonjolkan.

AC Milan home
Permainan gradasi dari merah ke hitam dan sebaliknya ditampilkan dalam konsep yang perlahan namun sangat tegas dan elegan.  Kesan futuristik juga dapat mudah dicerna dari jersey yang masih menggusung khasnya julukan Rossoneri.

Sevilla Home
Permainan artistik mozaik merah marun dan hitam di atas jersey merah menjadikan keunikan yang elegan. Cerminan khas budaya Mediterania

Granada Home
Aksen biru benar-benar menjadi pemanis di antara kombinasi merah dan putih dan secara halus disajikan gradasinya

Bordeaux Third
Paduan biru dongker, putih gading, dan merah marun yang juga menggabungkan konsep simetri di bagian atas jersey namun asimetri di bawahnya jadi daya tarik tersendiri

Hellas Verona Home
Sederhana, rapi, dan memberi kesan badan lebar yang membuat wibawa pemakainya meningkat

Juventus away
Secara gradasi dan kecerahan tampak ada bintang di dalam bintang pada kaos ini dan pusat dari seluruh bintang itu adalah logo Juventus. Harus diakui permainan warna ini menjadikan kita lebih berpaling ke logo Juventus ketimbang perisai tanda juara bertahan khas Serie A.

Valencia away
Berani mengambil risiko dengan mencomot oranye yang mencolok dipadu biru muda yang juga mencolok. Hanya memakai dua warna itu, termasuk logo dalam versi dua warna tadi. Membuat kita berada di dimensi yang lain

Galatasaray home
Tidak terlalu muluk-muluk bermain warna dan model kerah. Cukup kuning emas dan merah secara horisontal. Untuk urusan aksen, garis-garis tipis merah pada pergantian warna sudah cukup mengambil peran.

Borussia Dortmund home
Agaknya jarang ada klub yang mengambil ide jersey demikian. Sebelah kanan berisi loreng-loreng dua warna yang agak miring, namun di sisi lainnya memakai warna polos. Dari kejauhan konsep unik ini langsung membuat kita mengenali bahwa ini kaos Dortmund, padahal warna serupa juga dipakai banyak klub, hanya saja keberanian Dortmund menjadikan orang banyak mengidentikkan konsep ini dengan klub asal lembah Ruhr tersebut.

Real Madrid third
Warna hitam bukan pertama kalinya dipakai Madrid sebagai kostum away ataupun third. Namun yang mennjadi spesial tentunya sebuah logo naga dalam ukuran "raksasa". Uniknya naga ini tidak secara gamblang dimunculkan, melainkan mempergunakan pilihan warna abu-abu sehingga agak samar dan malah membuat penasaran ornag yang memandanginya. Kesan naga seperti kita tahu merupakan cerminan kekuatan dan tradisi yang tangguh.

Inter Milan home
Selama ini identik dengan warna biru dan hitam secara seimbang. Tapi di musim ini, Inter Milan dicitrakan sebagai klub dengna warna dasar hitam simbol ketenangan dan ketegasan. Warna biru, tampil dalam wujud tipis yang menyiratkan kefektifan dan kejeniusan tersendiri.

Chelsea away
Riangnya garis-garis vertikal dengna ukuran berbeda di bagian bawah jersey menjadikan kita teringat konsep visual irama musik. Pembawaan riang pun tak bisa dilepaskan dari jersey ini walau mengambil warna dasar biru dongker.

Chievo Verona third
Hitam dengan pilihan lengan putih jelas memberi suasana klasik yang santai, namun sebuah garis tebal berwarna biru pada bagian kiri yang bertepikan warna kuning menjadi pemanis yang enak ditonton. Keempat warna itu makin semarak dengan logo klasik warna merah marun. Walau demikian kelima warna itu (yang biasanya bisa dibilang kelewat ramai) justru selaras dan menjadi citra klasik yang sedap dipandang.

CSKA Moskva away
Memberi imaji tentara yang siap bertempur namun masih dalam koridor kalem secara warna. Banyak klub yang gagal mengadopsi motif tentara ke dalam jersey-nya, tapi untuk jersey ini sentuhan yang proporsional mampu diperoleh

Bordeaux away
Sentra kaos ini adalah motif urban yang melatarbelakangi bentuk V yang juga diadaptasi dari logo Bordeaux. Sangat merepresentasikan kota Bordeaux yang memang dikenal dengan nuansa urbannya.

Bayern Muenchen away
Dengan pilihan 5 bagian melintang secara beruntun putih-merah marun-putih-biru toska-putih, ternyat amalah menjadi keunggulan tersendiri di balik kesederhanaannya.

Zenit Petersburg away
Sangat berani mengambil konsep garis diagonal yang kalau diperhatikan terbagi dua, yaitu biru dongker di sisi kanan dan biru muda di sisi kiri. Malah garis ini menjadi ilusi yang membuat kaos (dan pemakainya) memiliki badan yang lebih kekar.

Fiorentina home
Pilihan yang tepat ketika ungu ditautkan dengan emas. Menggusung berbagai aksen lengkungan turut menjadi kaos ini memiliki efek kokoh bagi penggunanya

Torino away
Kontras yang pas antara biru muda dengan merah marun. Siluet Il Toro ditambahkan aksen merah marun di berbagai tepi menjadikan kita bisa langsung tahu ini jersey Torino walau warna utama jersey ini bukan khas warna Torino

Arsenal third
Efek visual jersey yang terpilin dari bawah dengan meramu biru tua dengan biru muda. Garis tipis berwarna hijau muda tampil sebagai pemanis yang melentikkan keanggunan kaos ini.

Itu tadi versi saya, monggo jika berbeda opini :)

Happy Gita-Ilham

Alhamdulillah salah satu saudara saya telah menuntaskan prosesi sakralnya dan kini memasuki jenjang kehidupan baru.

Kawan satu ini merupakan orang kece yang sudah saya kenal sejak TK. Dari TK lanjut SD hingga SMP kita orang satu kelas mulu. Kebetulan pula kami (dan tentunya satu orang lagi bernama Norma Etika) adalah kawan di OSIS, Karate, dan Pramuka. Kami bertiga bersaing dalam berbagai konteks, tapi tentu saya adalah yang paling tertinggal. Di jengjang SMA dan perguruan tinggi kami berbeda lapak hehee. Walau demikian dia merupakan sahabat yang asyik, rendah hati dan banyak memberi saran yg membangun. Kalau mencari teladan orang yang gigih dan konsisten berjuang meraih cita-cita, saya mention dia sebagai sosok teladan itu.


Kindan no Kajitsu

Ringkasnya, aku takut salah berucap, apalagi tergelincir dalam menata niat

Simpelnya, aku lemah dan sudah pasti gampang dijebak permainan tak guna yang orang menyebutnya "asmara anak muda"

Diam agaknya solusi yang paling baik dan membaikan.

Piramida Batu Nisan

Sebuah Tantangan Kemakmuran Masjid
#tulisan ini tidak bermaksud menggurui, tapi sebagai ajakan kepada kaum muslim, khususnya pemuda, dan lebih khusus kepada diri sendiri, untuk mengikatkan hati kepada masjid

Piramida penduduk merupakan sebuah metode penyajian informasi secara grafis mengenai komposisi pendudukan berdasarkan jenis kelamin dan usia. Grafik dibagi dua berdasarkan kategori gender, umumnya laki-laki sebelah kiri pembaca, dan perempuan sebelah kanan pembaca. Kemudian ditampilkan diagram batang dengan isi kelas berupa usia tertentu, bisa pula rentang usia tertentu. Melalui piramida penduduk dapat diketahui secara umum dominasi kategori tertentu dalam suatu populasi. Ada tiga jenis piramadia penduduk secara umum, yaitu piramida segitiga (usia semakin tua jumlahnya semakin sedikit), granat (usia muda dan dewasa  relatif seimbang, namun usia tua lebih sedikit), dan batu nisan (usia tua mendominasi jumlah). Lebih lanjut, melalui piramida penduduk dapat dilakukan sejumlah analisis, misalnya

  • ketersediaan generasi penerus
  • keseimbangan gender
  • kebutuhan stok bahan pangan
  • kebutuhan infrastruktur
  • dll

Paparan di atas merupakan cuplikan tentang piramida penduduk. Sekarang, mari kita aplikasikan konsep itu ke dalam konteks komposisi jamaah dalam sebuah masjid. Bukan hal yang janggal ketika banyak masjid justru didominasi oleh generasi yang usianya relatif tua. Bahkan generasi muda justru "diwakilkan" oleh anak-anak belia. Agak sulit mencari pemuda, baik yang secara akademik masih SMP, SMA/SMK, mahasiswa, bahkan kalangan pekerja. Kondisi yang relatif baik masih ditemui di masjid-masjid yang berbasiskan perguruan tinggi, dimana populasi sekitar memang didominasi oleh kalangan muda usia 17 s.d. 23 tahun. Memang, hingga detik ini belum didapatkan sebuah penelitian yang mendeskripsikan komposisi jamaah suatu masjid dengan sampel yang representatif maupun data kuantitatif yang mendukung validitas argumen tersebut.
Namun, tanpa rincian dari penelitian yang mendalam pun,sulit dipungkiri bahwa keterikatan pemuda terhadap masjid mulai jarang ditemui. Bahkan ketika belakangan muncul fenomena kelangkaan kedelai, bawang merah, hingga BBM, justru kelangkaan segmen pemuda dalam barisan jamaah masjid sudah mewabah.
Saya sendiri berharap hipotesis saya salah.

Ada beberapa faktor yang (boleh jadi) menjadi faktor penghambat keterikatan pemuda pada masjid :
  • Kurangnya pemahaman mengenai manfaat bagi seorang pemuda yang terikat hatinya pada masjid
  • Kesibukan di tempat lain

Dunia sekolah, baik SMP, SMA, SMK, bahkan kuliah, memang menawarkan berbagai bentuk organisasi kepemudaan, ada yang bercorak olah raga, seni, intelektualitas, bahkan bela negara. Ketika berbagai aktivitas tersebut dikemas dengan "bungkus" yang menarik, misalnya daftar prestasi senior, maka tidak dapat dipungkiri akan menghadirkan tantangan bagi pemuda dalam mempertahankan keterikatan mereka pada masjid. Memang, bukan berarti organisasi-organisasi tersebut jelek, namun saat ini masih ada beberapa organisasi yang mengesampingkan kebutuhan rohani dimana konsep hura-hura justru mendominasi, maka semakin berlipatlah tantangan tersebut.
  • Kurangnya peran orang tua sebagai pengarah putra-putra mereka
  • Kurang dilibatkannya pemuda dalam memakmurkan masjid


Masih banyak stigma bahwa pemuda, apalagi yang latar belakang pendidikannya bukan dari sekolah (yang versi sebagian masyarakat) berbasis Islam kurang mempunyai kompetensi untuk mengisi peran dalam memakmurkan masjid. Hal ini tanpa disadari mengerdilkan kepercayaan pemuda untuk berkontribusi terhadap kemakmuran masjid. Pada dasarnya pemuda merupakan fase yang berapi-apinya semangat untuk menampilkan kemampuan dan kapasitas diri. Pada fase pemuda, ada kecenderungan ini menghindarkan diri dari segala bentuk aktivitas yang tidak membutuhkan kemampuan dan kapasistasnya. Banyak pemuda yang justru merasa lebih dihargai dan dibutuhkan di berbagai tempat lain, misalnya kompetisi ilmiah, olah raga, seni dll. Hal itu tidaklah salah karena memang pemuda yang mampu mengoptimalkan kemampuannya tentu menjadi contoh yang baik, hanya saja ketika berbagai aktivitas itu mematikan potensi mereka sebagai "kontributor" kemakmuran masjid tentu akan menjadi "bom waktu", baik bagi mereka maupun masyarakat. Alangkah baiknya ketika pemuda juga diberi kesempatan untuk berperan dalam kemakmuran masjid.

Dengan memberikan peran kepada pemuda dalam memakmurkan masjid, maka secara perlahan pemuda mempunyai kesempatan untuk menyalurkan aspirasi mereka dalam memakmurkan masjid. Pemuda, dengan berbagai kreativitasnya, tentu memiliki ide-ide untuk mengajak pemuda lainnya ikut memakmurkan masjid. Berbagai kegiatan "khas anak muda" (tentunya dalam arti positif) akan mampu diorganisasikan dengna baik ketika dimotori oleh pemuda dengan masjid sebagai pelopornya dan kemakmuran masjid sebagai muaranya, misalnya donor darah, belajar bareng, jalan sehat, training komputer dll.
wallahualam

53 tahun Pramuka

Coba sebutkan apa yang identik dengan pramuka?
Barangkali 3 jawaban yang paling sering disebut adalah "cokelat", "kemping", dan "baris-berbaris". OK sip, usia 53 tahun tentu membuat 3 jawaban tadi melekat di benak kita. Seraam sebagai pembungkusnya, kemping dan baris=baris sebaai agenda wajibnya. Kalau mau ditambah, hmmm, bolehlah kita sertakan SD-SMP, kenapa? Karena Pramuka identik dengan siswa di dua jenjang itu sebagai sebuah ekstrakurikuler yang wajib diikuti. Menarik memang mengupas organisasi yang satu ini. Kenapa?

  1. Pramuka merupakan organisasi formal yang ada seluruh provinsi
  2. Pramuka merupakan salah satu (jika bukan satu-satunya) organisasi kepemudaan dengan usia (paling) panjang dari organisasi kepemudaan lainnya dengan status masih aktif
  3. Pramuka merupakan organisasi yang menyertakan presiden, ubernur, hingga camat sebaai pembinanya
  4. Pramuka memiliki ruan lingkup yang terbentang dari ujung pegunungan hina palun kelautan, dari khasnya suasana pedesaan hingga hiruk pikuk perkotaan.


Seperti yang disingung di paragraf sebelumnya, Pramuka merupakan organisasi yang telah berusia 53 tahun. Usia yan sangat tua. Walau demikian, mengapa namanya tidak menjadi "Praja Tua Karana" ya? Itulah keunikan yang spesial dari organisasi ini.

Pramuka saat ini dituntut untuk mampu dan mau dikemas dengan penuh daya tarik. Mengapa harus menarik? Tak perlu naif, Pramuka butuh generasi penerus dan saat ini para pemuda lebih tertarik dengan hal-hal yang menarik seperti komik, internet, musik dll. Selain itu, pada dasarnya Pramuka itu menarik dan penuh menyenankan, tentunya dalam konteks positif.

Pramuka saat ini dituntut untuk cerdas. Kenapa harus cerdas? Dari Sabang s.d. Merauke, Pramuka memiliki permasalahan yang berbeda-beda. Tak hanya permasalahannya yang berbeda lho ya, potensi dan kapabilitasnya pun berrbeda-beda. Jelas perlu strategi yang matang agar seluruh potensi tersebut dapat dioptimalkan.

Saat ini Pramuka berkembang dengan konsep penuh otonomi. Alhasil tiap daerah berlomba dengan berbagai inovasinya. Ada yang menghentak lewat ajang kreasi musik, ada yang menggalakkan pramuka melek teknologi, ada yang memercayakan Pramuka sebagai ujung tombak tangap bencana, urusan tata kelola pariwisata pun diamanatkan pada pramuka. Ibarat pemain multitalenta, Pramuka menjadi sentra dan lumbung sumber daya yang memiliki potensi di berbagai bidang.

Pramuka saat ini dituntut solutif? Iya gitu? Tenok saja kurikulum 2013 yang mengamanatkan Pramuka sebagai media pengelola kaderisasi dari jenjang SD s.d. SMA/SMK/MA. Logikanya bila ada yang tidak beres dengan output kurikulum 2013, tentu Pramuka akan kena imbasnya. Dalamm sudut pandang positif,

Pramuka memang memiliki infrastruktur organisasi, daya dukung dari pemerintah dan masyarakat, sumber daya manusia, hingga kurikulum yang matang dan teruji lebih dari 5 dekade. Jelas sebuah pertanyaan besar sekaligus persabungan yang besar pula pada nama baik Pramuka dalam memenuhi panggilan untuk tampil sebagai solusi dalam mendidik generasi muda saat ini.

Pramuka menalami ketumpulan pada jenjang perguruan tinggi. Lho kok bisa? Padahal mahasiswa di perguruan tinggi merupakan manusia-manusia yang siap terjun ke dalam masyarakat, bahkan sudah menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri secara aktif. Kenapa malah di periode ini merosot? Eksistensi gugusdepan patut disebut sebaai faktor yang memporak-porandakan estafet dari gugus depan di lingkup SMA/SMK/MA ke perguruan tinggi. Alhasil minimnya SDM pun berdampak pada kreativitas yang terancam dan OK sip keduanya berpadu menjadikan pramuka masih sukar berkembang di lingkup perguruan tinggi.

Masih banyak problematika yang menanti di usia ke-53 ini? Kita perlu merumuskan bersama solusi konkretnya. Walau begitu, jangan menunggu rumusan itu ada baru bergerak. Ayo kita bergerak untuk melestarikan kreativitas khas Gerakan Pramuka.
Selamat menyambut usia ke-53 #HUTGerakanPramuka

Ngebon Kaktus

Multilingual Web Sepakbola

Multilingual merupakan hal yang jamak dijumpai di dalam website yang pengaksesnya berasal dari berbagai negara. Coba akses website seperti UN, World Economy Forum, hingga website korporasi seperti Garuda Indonesia Airways, Sriwijaya Air, dan tentunya tidak mau kalah, yaitu Indonesia Kreatif.

Ada yang menghadirkan opsi pergantian website di halaman yang sama hanya berbeda huruf-huruf di dalamnya. Ada juga yang menyediakan domain berbeda. Masing-masing tentu punya punya analisis tersendiri yang mendasari strategi multilingual mereka.

Nah ngomong-ngomong tentang website dimana pengaksesnya dari berbagai negara, belakangan berbagai klub sepak bola mulai menjangkau sebuah bahasa yang dituturkan oleh sebuah negara dengan populasi yang sangat besar dan menjadikan sepak bola sebagai olah raga paling favorit di negara tersebut (padahal negara ini lebih berprestasi di badminton). Ya, negara yang dimaksud adalah Republik Indonesia dan bahasa yang dimaksud adalah Bahasa Indonesia.

Berdasarkan survey yang penuh kekepoan (dijelaskan pada kalimat berikutnya), trend yang disebutkan di paragraf sebelumnya ternyata memang terbukti. Survey ini mengambil 5 klub pilihan dari 5 liga mayor di Eropa. Kenapa Eropa? Karena saat ini peradaban sepak bola berkiblat ke sana dimana sudah bukan rahasia lagi klub di sana juga turut menjadikan popularitas sebagai orientasi kesuksesannya. Kenapa 5 mayor? Karena La Liga, Premier League, Bundesliga, Serie A, serta Ligue 1 merupakan kompetisi paling wahid berdasarkan koefisien Eropa. Untuk 5 klub pilihan digunakan parameter penguasa 5 besar di 3 musim terakhir.


Ternyata dari 20 klub pilihan berdasarkan survey-survey kepo tersebut, sudah mulai banyak yang menyadari bahwa Indonesia merupakan pangsa popularitas yang sangat potensial, tepatnya ada 7 klub. Jelas bukan angka yang kecil mengingat 7 klub itu sendiri merupakan tim yang memiliki popularitas yang masif. Siapa yang meragukan nama besar Barcelona, Madrid, Manchester City, Chelsea, Liverpool, Juventus, dan Inter Milan? Malahan Madrid dan Juventus merupakan top scorer juara liga domestik masing-masing kompetisinya.

Selain aktivasi offline berupa kunjungan langsung (seperti Juventus beberapa pekan lalu), ada pula aktivasi online yang bertujuan menggaet masyarakat Indonesia. Aktivasi online diwujudkan dalam social media seperti Twitter, Facebook, dan tentunya website yang mengakomodasi Bahasa Indonesia. Berikut cuplikan screenshot dari website-website tersebut.

Website Barcelona versi Indonesia

Website Madrid versi Indonesia

Website Liverpool versi Indonesia

Website Manchester City versi Indonesia

Website Inter Milan versi Indonesia

Apa sisi positifnya? Monggo pembaca ditarik kesimpulan sendiri :) Yang pasti ada berbagai nilai positif yang patut dipetik :)

Review Heisei Rider vs. Showa Rider

Nama resmi film ini adalah Heisei Rider vs. Showa Rider
Dibuka dengan terlemparnya Kabuto cast-on mode, yang langsung dihentak dengan adu "strong" dengan Stronger. Kabuto yang memiliki tagline "strongest" berhasil menyingkirkan Stronger, namun mendadak muncul Skyrider yang melenyapkannya dan dilanjut lenyapnya Skyrider oleh Fourze. fourze kemudian dilumat oleh ZO yang akhirnya ditaklukan oleh Gaim lewat Suika Arm-nya. Dari prosesi kalah-mengalahkannya bisa ditebak bahwa ini pertarungan antara generasi Showa vs Heisei. Dan kemanakah Kamen Rider yang hilang? Ternyata mereka menjadi lockseed yang "nggak tahu kenapa" langsung berstatus koleksi Shocker.

Konsep penggabungan dunia antar Kamen Rider yang pertama kali dipelopori oleh Decade menjadi sajian yang mendasari bertemunya dua pahlawan "orde lama" versus "orde baru".


Baru berjalan tidak lebih dari 10 menit (dari total 108-an menit) seorang bintang tamu yang menggebrak di movie ini, yaitu pemeran asli Ichigo Hiroshi Fujioka. Ia merupakan pemeran pertama kamen rider, sebuah serial khas Jepang yang berusia lebih dari 40 tahun. Apakah hanya dia bintang tamunya? BTW, mengapa saya sebut bintang tamu? Karena di beberapa movie sebelumnya, pemeran yang hadir hanyalah pemeran-pemeran kamen rider yang terkini. Sebagai contoh, saat movie Blade, Ryuki, Kiva, Hibiki dll, tidak ada sosok pemeran kamen rider sebelumnya. Tatkala menggusung  nilai plus berupa menghadirkan sosok kamen rider terdahulu, jumlahnya hanya satu dua. Misalnya Tetsuo Kurata, pemeran Kotaro Minami di Decade movie. Yang kerap hadir sebenarnya lebih didominasi "topeng dan kostum" dari kamen rider terdahulu. Nah bagaimana dengan movie ini? Siapa saja "pelaku sejarah" yang kembali mengukir sejarah?
Masih inget sosok yang berkaos pink dan jas abu-abu?

Hayo ada yang bisa nebak siapakah dua sosok yang sedang berbincang-bincang itu? Sebagai "bocoran" kedua asyik berdiskusi di malam hari dan keesokan harinya bertarung sebagai X-rider dan Faiz.

Kalau di awal movie, pertarungannya satu lawan satu. Nah, memasuki pertengahan movie, yang disajikan mulai pertarungan kelompok. Black feat Black RX versu Joker vs Baron (nggak ngerti kenapa yang ini yang diduetin, apa nggak mending Zangetsu oleh Takatora dengan Shin Zangetsu oleh Mitsuzane ya?)

Biasanya kan muncul pengkhianat di kubu "baik", btw kenapa malah musuhnya itu mata-mata berwujud ZX? Agak bingung mencerna yang bagian ini >__<

Bisa dibilang yang menjadi nilai jual dari film ini adalah reuninya beberapa tokoh legendaris yang pernah menjadi lakon kondang dari berbagai dekade. Yups, ada pemeran Ichigo, ZX, X-rider, Faiz, Joker (separuhnya W). Terkait cerita dan tema, belum ada sentuhan yang menggebrak. Bagaimanapun juga durasi 100 menit jelas jadi kesulitan tersendiri mengingat waktu pengerjaan yang tidak banyak.

Walau demikian, ada stagnan yang patut diperbaiki terkait cerita dan kemenarikan adegan yang ada. Pertama dari musnahnya kamen rider satu per satu yang justru menjelang akhir film dibangkitkan dengan berbagai cara. Hal ini sudah terjadi entah yang keberapa sejak pertama kali dicetuskannya "reuni akbar" kamen rider di Decade versi movie. Kedua sosok Ichigo yang masih menjadi dominator di kubu Showa meskipun perlahan mulai dikurangi dengan kesediaan X-rider untuk menyampaikan sepatah dua patah kata saat berlaga. Padahal di kubu Heisei, kebiasaan kamen rider paling muda sebagai "juru bicara" sudah mulai dikurangi. Di movie ini justru sosok Tsukaya lebih memegang peran sebagai "perekrut" kembalinya para kamen rider Heisei ketimbang Gaim dkk-nya. Ketiga gerakan yang "berjelalatan" sebagaimana diumbar di W versi movie justru agak minim di situ. Well, yang paling mengheran dari berbagai konsep fiksi di dalamnya adalah "sulapan" Joker yang ter-lockseed tapi ketika di-unlock justru menjadi W, lho kapan datengnya nih Bro Philip? o_O


Pakem "mendadak bangkit" ini kayaknya perlu dibuat lebih dramatis (IMHO)

Klimaks film ini sendiri terbagi menjadi dua
Pertama diawali dengan laga pamungkas jilid 1 saat rider-rider yang tersisa (Ichigo, Niigo, V3, Riderman, X-rider, Amazon, dan Black di pihak Showa serta OOO, Decade, Joker, Kiva, Faiz, Wizard, dan Gaim di kucu Heisei). Sebelum laga, seperti biasa Om Tsukaya menyampaikan wejangan versi bijaknya hehee. Di tengah laga sendiri muncullah Shocker  beserta kamen rider Fifteen. Di kemelut perang itulah akhirnya lockeed para rider bisa di-release sehingga seluruh kamen rider bisa melanjutkan "reuni" mereka.

Klimaks kedua terjadi saat Shocker dan Fifteen bisa diatasi. Kali ini pertarungan dilangsungkan di pinggir pantai dimana ending-nya agak...agak...agak filosofis.

Emang bagaimana ending-nya? Langsung aja setel movie-nya Kawan :)

Kalau tiap kamen rider punya instagram mungkin bakal aplod foto yang sama macam gini >__<

Tinggal Siapa yang Perlu Dielu-elukan

Organisasi merupakan konsep yang hirarkial dan sangat bersifat sosial. Karena itu mustahil yang namanya kesuksesan yang bersifat individu. Ide brilian mungkin dilahirkan hanya oleh satu orang. Tapi bicara kesuksesan, tentunya merupakan realisasi, maka itu adalah hal yang bersifat mustahil. Memang harus diakui dalam realisasi tentu sangat jarang (atau bahkan tidak pernah) dijumpai kontribusi orang yang benar-benar persis secara kuantitatif, pasti ada yang lebih memberikan pengaruh maupun kontribusi lebih. Walau demikian, tentu kita sepakat aneh sekali ketika ada kesuksesan kolektif yang hanya terjadi karena satu individu.

Barcelona pernah meraih trofi Liga Champion di 2009 dan 2011 bukan semata faktor Lionel Messi. Jerman menggasak Argentina di final Piala Dunia 2014 bukan lantaran sosok Goetze semata. Itu di sepak bola, bagaimana dalam struktur pemerintahan?

Di dalam kepemerintahan pusat, kita mengenal adanya hirarki dari Presiden yang menaungi kabinetnya. Di dalam kabinetnya kita mengenal ada kementerian. Di sebuah kementerian ada sosok menteri, bisa juga ada wakil menteri, lalu staf ahli, direktur jenderal, dan terus ke bawah.

Di level pemerintah daerah tingkat provinsi, ada gubernur beserta wakil gubernur. Di tingkat provinsi ada pula berbagai dinas tingkat provinsi, misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dan yang namanya gubernur dan wakil gubernur berada di dalam koordinasi presiden dan wakil presiden melalui sosok menteri dalam negeri.

Makin turun ke bawah ada pula wali kota beserta wakil wali kota dan juga bupati serta wakil bupati yang memimpin di ranah "sub" dari provinsi, yaitu kabupaten atau kota. Belum lagi kita hitung pula jajaran dinas di tingkat kabupaten dan kota. Kalau mau diteruskan, hayuk kita runuti hingga kecamatan, desa/kelurahan dst sampai dengan seorang warga negara.

Karena itulah, sangat naif ketika sebuah daerah meraih suatu keberhasilan lantas diklaim kesuksesan oleh seorang gubernurnya, seorang wali kota.
Kenapa naif? Karena sosok selalu digaungkan adalah sosok nomor 1-nya, apa kabar nomor 2-nya? Selalu ada motif politik di dalamnya. Karena itulah ketika seorang gubernur diberitakan sukses maka sebisa mungkin dikisahkan itu karyanya, tidak ada peran wali kota/bupati yang dipimpinnya, boro-boro wali kota/bupati, wakilnya saja diredupkan. Begitu pula saat ada wali kota/bupati yang karir popularitasnya menanjak maka akan dianggap sebagai ancaman masa depan terhadap penokohan si gubernurnya, atau bahkan presidennya.

So? Tinggal siapa yang perlu dielu-elukan
Bagi kita rakyat jelata? Yang diperlukan tidak lebih dan tidak kurang dari kenyamanan dalam bermasyarakat hehee

Most Dramatic Scenes

Awalnya agak bingung mau cerita noceh tentang apa. OK, mumpung lagi terlintas asyiknya mengikuti serial Kamen Rider Gaim. Kali ini saya mencoba mengulas tentang episode-episode yang paling dramatis dari beberapa serial Kamen Rider. Dramatis karena berbagai faktor, khususnya nilai persahabatan serta akhir episode yang tidak pernah disangka sama sekali.

Kamen Rider Ryuki

Dimana-mana lakon itu nggak mati, tapi Ryuki beda. Siapa yang mengira  Kido justru yang meninggal dan yang tersisa dari sekian banyak Kamern Rider justru Ren. Dan Ren sangat tersentak dan terpukul atas meninggalnya Kido, padahal selama ini mereka nyaris berantem, tapi di sinilah uniknya dan mengharukannya.

Kamen Rider Blade
Tachibana sudah mantap untuk membunuh Hajime yang sudah fix menjadi Joker dan jika dia yang tersisa dari 53 undead maka umat manusia akan mengalami kehancuran, begitulah paparan yang berhasil dihasutkan oleh Girrafe Bettle undead. Mutsuki berusaha melindungi Hajime tapi langsung ditumbangkan oleh Tachibana. Pistol khas Garren tinggal diluncurkan pelurunya, tapi mendadak Hajime ditelpon Amane, anak angkatnya. Mungkin karena terharu atau sadar dengan hasutan tersebut, Tachibana justru langsung ebrpindah tempat untuk menyegel Girrafe Bettle. Pertempuran terakhir Garren, begitu akhir dari cerita ini dimana Tachibana menjatuhkan diri bersama Girrafe Bettle ke laut. Kemunkinan besar Tachibana mati dan tragisnya Hajime hilang kendali dan berubah menjadi Joker kembali.

Kamen Rider Hibiki
Asumu diceritakan dari awal serial sebagai bocah yang penuh semangat mengikuti Hibiki, orang yang dikaguminya berpetualang menghadapi berbagai monster-monster aneh. Di tengah kebersamaan itu, muncullah Kiriyama, bocah bandel yang latah dengan loyalitas Asumu. Di episode ini siapa yang menyangka bahwa yang akhirnya menjadi "next Hibiki" justru Kiriyama. Sementara itu Asumu justru mulai meniti karir sebagai dokter.

Kamen Rider Kabuto 
 Sosok Tsurugi akhirnya terungkap identitasnya, yaitu Worm. Padahal selama ini tidak ada yang tahu selain Kagami, bahkan Tsurugi sendiri tidak tahu. Karena ketidaktahuannya itulah dia selalu ingin menjadi orang yang terdepan dalam memerangi Worm. SEtelah identitasnay terungkap Tsurugi memutuskan berbalik arah menjadi komandan para Worm. Komitmen bersama antara Tendou dengan Tsurugi dalam memusnahkan seluruh Worm menjadi alasan Tendou untuk mengalahkan dan mengakhiri riwayat Tsurugi dengna cara yang dingin.

Kamen Rider W
 Kebayang rasanya punya partner yang selalu menemani di berbagai kesempatan, baik senang dan duka namun mendadak di sebuah momen partner itu pamit untuk lenyap selama-lamanya. Begitulah kisah Shoutaro yang harus kehilangan Philip di laga pamungkas menghadapi Utopia. Philip tubuhnya akhirnay hancur setelah mengalami degradasi akibat terus-terusan bertarung sebagai Kamen Rider.

Kamen Rider OOO
Kembali disuguhkan ksiah dua "orang" yang menjadi partner yang saling melengkapi. Namun bedanya di OOO ini, kedua karakter, yaitu Eiji dan Ankh justru berantem dengan motif berbeda. Eiji mengalami mutasi menjadi Greedy, sedangkan Ankh justru ingin merasakan kehidupan sebagai manusia yang memiliki kekuatan dan kekuasaan.

Kamen Rider Gaim
Kali ini pertarungan dua Kamen Rider hadir sebagai kisah paling dramatis (setidaknya hingga episode 39) dimana Takatora Kureshima melawan Mitsuzane Kureshima. Nama belakangnya kok sama ya? Tentu saja karena mereka adalah kakak beradik. Uniknya mereka berdua sempat bertarung sebagai Zanetsu versus Ryugen di awal serial Gaim, namun seiring perkembangna cerita, terjadilah berbagai telenovela yang sungguh menyentak. Kureshima yang awalnya dicitrakan sosok yang arogan dan pragmatis plus musuh Gaim justru menjadi orang yang turut mendukung ide-ide Gaim. Sebaliknya dengan Mitsuzane yang berbalik membela overlord dan mengkhianati Gaim. Takatora menilai hanya dia yang bisa menghentikan Mitsuzane sehingga mengajaknya bertanding. Keduanya bertanding dengan kekuatan yang sebenarnya satu model. Takatora masih dengna Zangetsu-nya, sedangkan Mitsuzane dengan Zangetsu Shin-nya yang dipungutnya ketika Takatora dibuang oleh Yggdrasil

Sugeng Rawuh di T-SoC

Mantau acara unik dari Fakultas Informatika alias School of Computing, Telkom University. Seneng juga menyimak kembali cerianya dunia mahasiswa yang penuh gelora dan spirit.
Kesempatan bersilaturahim dengan dosen-dosen seperti Pak Kemas, Bu Endang, Bu Vani, Pak Kurniawan dll. Sayangnya beberapa berhalangan hadir.
Apa yang asyik di welcome party ini? Ada games ngrancang homepage web FIF dengan media kertas dan koran. Rasanya kayak kuliah IMK ama Webeng wkwkwk

Sebuah Siang/sore di Rumah Fatimeh

Cerita si komandan dapet undangan jadi MC di acara welcome partynya School of Computing, Telkom University (ni gw mulai latian nyebut versi Bahasa Inggrisnya). Yang di Bandung diajak ngumpul. Mendadak saya kena provokasi buat ikutan. Akhirmya berkumpullah 4 bocah kece yang pernah satu kepengurusan di HMIF, tepatnya di BPH *langsung tabur bunga
Kenapa di Fatimeh? Karena si kang Alvin ieu brand ambassador-nya Fatimeh. Hehee...
Selain itu, kebetulan juga pas awal BPH dibentuk, kita sempat makan bareng dengan menu khas Fatimeh (yg gw nggak kuat pedas trus makan ayamnya sambil ngedulit gula pasir wkwkwk)
Gatau y...walau udah kebetulan pada S2 (Uni Tari kick off ntar September), tetep aja obrolan akademik nggak bisa ngalahin topik "ituuu"
Salut buat Kang Alvin dan Teh Mpit yang ikhlas jadi objek utama *gomenasai:/
Kapankah kito orang berkumpul lagi? #PrayForBPH2011

Review Teenage Mutant Ninja Turtles

8Bukan orang yang aktif gentayangan di bioskop, cuma kalau ada waktu luang dan film menarik. Hehee, maklumlah saya lebih demen angrem di kos. Jadi kalau review beriku berantakan, maafkan ya hehee
Teenage Mutant Ninja Turtle sudah say simak kartunnya di sebuah stasiun tv swasta. Walau demikiam, saya sama sekali tidak hafal nama karakternya dan kekhasan tiap kura-kuranya. Namun saat tahu ada TMNT versi movie, langsung bergugam dalam hati "gw harus nonton". Dan seriusan saya puas dengan sajian movie ini.

Mengenai cuplikan biar asyik, langsung pantengin aja di bioskop. Tapi yang jadi daya tariknya, sedikit saya bocorin. Kemisteriusan 4 ekor kura-kura hasil genetika yang disajikan di awal film mengikuti pengetahuan April. Pertama cuma tahu ada bayangan ama lukisan "keluarga". Lalu didengungkan suaranya. Dan cara menggebraknya mereka saat menampakkan diri membuat kita merasakan apa yang dipikirkan April.
Berhubung mereka seneng jempalitan diantara gedung-gedung maka sesekali disajikan kamera vertikal yang menghantarkan sensasi ketinggian.

Itu saja? Wait a second... buat kalian yang demen cerita superhero yang gokil, pelawak, dan nggak formal-formal, nah ini film cocok buat kalian. Selalu saja ada lelucon ble'e yang membuat kita terpingkal-pingkal. Yang paling berkesan tentu adegan di lift ketika mereka hendak mencegah main enemy menyebarkan racun di atas gedung. Harusnya suasana tegang, tapi gara-gara si oranye yang demen musik rap suasana justru panen ketawa. Doi malah main beatbox. 3 kura-kura lainnya memandangi seolah kesal. Tapi justru satu demi satu malah ikut-ikutan nge-beatbox. Koplak to the max

Nah itu yang paling koplak, kalau yang paling yoiii? Tentu saja battle, mereka di pegunungan salju. Di sini nggak ada slow motion, mungkin biar efek kegesitannya lebih kerasa. Kerja sama keempatnya sangat...sangat...sangat apa y? Sippp lah pokoknya. Nggak ada waktu panjang buat mikir mau kek mana, betul-betul menunjukkan begimana kompaknya mereka.

Secara pribadi, di sini nggak ada adegan aneh-aneh khas film barat, ya tahulah kebiasaan di sana begitu. Kredit spesial buat hal ini.
Oke, penginnya sih pembaca penasaran. Kalau belum hehee maaf ya...
Sunglah simak sendiri

Dakwah via Komik, why not?

Belakangan jika kita mampir k toko buku, ada fenomena unik terkait "produk dakwah". Produk ini berupa komik yang menggusung tema tentang menyerukan kebaikan. Bukan fenomena yang lazim karena di 2-3 tahun lalu, jarang kita temui komik-komik yang isinya tentang dakwah. Tentu bukan proses yang instan, jangankan konten tentang dakwah, industri komiknya saja sudah lesu. Beruntungnya saat ini mulai ada gairah tersendiri untuk menggelorakan industri komik di tanah air. Dan banyak pula remaja pemerhati komik yang mampu memanfaatkan momen ini sebagai sarana dakwah.

Bagi saya pribadi, metode dakwah ini unik dan memiliki keunggulan.

Pertama, mudah dicerna

Kedua, dapat dibuka lagi di kemudian waktu

Ketiga, mengakomodasi para seniman yang ingin berkontribusi di dalam dakwah.

Keempat dan yang paling utama, menyenangkan.

Walau demikian, masih ada pula tantangan sebagai lampirannya.

Pertama, butuh modal besar.

Kedua, selera pasar yang gampang terbelokkan trend.

Ketiga, infiltrasi oknum yang bisa jadi memroduksi komik yang sepintas islami tapi isinya sesat.

Tentang Berbusana Muslimah

Kerudung pada era saat ini lebih dari sekedar penutup aurat. Fungsi utamanya, diakui atau tidak, ya tetap itu. Hanya saja pada perkembangannya menjadi identitas yang mencerminkan krakter diri dan lingkungan. Dan bila kita tarik evolusi dunia mode kerudung pada muslimah dan muslimin ada banyak hal yang unik dari situ (kenapa ada muslimin? nanti ada poin tersendirinya).

Makin "diakui" oleh organisasi formal
Belakangan pemakaian kerudung (monggo jika ada yang lebih "sreg" dengan frase "jilbab" maupun "hijab") menjadi hal yang lebih sering kita jumpai pada pakaian-pakaian resmi dibandingkan beberapa masa yang lalu. Bahkan salah satu organisasi kepemudaan terbesar di Indonesia (yang sudah berdiri sejak 1961) sampai menyediakan regulasi khusus yang menjamin kesempatan kaum muslimin untuk mengenakan busana seragam organisasi tersebut tanpa menanggalkan identitas. Begitu pula di berbagai institusi pendidikan yang masih menyelnggarakan seragam sebagai atribut kesehariannya. Bagaimana dengan PNS? Idem ditto kondisinya. Kalau Polri? :) :) :)

Secara umum, eksistensi kerudung sebagai bagian dari pengakuan atas identitas tiap individu mengalami perkembangan

Menjadi trend berbusana
Era yang ramai social media (lagi-lagi) berperan erat dalam keberhasilan busana muslim sebagai bagian dari trend berbusana masyarakat saat ini. Karakter gemar mengikuti trend menjadikan orang Indonesia (dalam hal ini muslimah) jadi "latah" dan ikut penasaran ketika ada trend busana muslim yang sedang digandrungi.
Setahu saya saja, bagi laki-laki istilah yang sering didengar itu baju koko (klarifikasi "koko" itu bukan nama orang lho ya), baju "uje" (mengacu ke model bajunya alm. Ust. Jeffry), tapi urusan sarung ya udah sarung, palingan adanya sarung kotak-kotak, sarung batik (dan sarun tinju nggak masuk). Nah kalau busana muslimah? Ada istilah baju kurung, gamis, trus jilbab ineke, chiffon, ceruti dan lain-lain, ah saya juga bingung itu mana yang nama bahan mana yang model pakaian. Banyak alternatif yang menjadi kegemaran dan sesuai dengan selera. Bicara penyebab trend juga tidak lepas dari beberapa ketenaran film macam Ayat-Ayat Cinta, buku karya Asma Nadia, hingga munculnya tutorial memakai hijab (dan diikuti tutorial mengenakan sarung yang garingggg banget, mungkin kaum laki-laki enggan kalah trendy :v). Alhasil makin tertarik pula masyarakat untuk mencari tahu dan seiring waktu berjalan, tampillah busana muslimah sebagai trend yang layak dan biasa dijumpai dalam keseharian. Baju muslimah tidak lagi dikaitkan dengan ibu-ibu mau pengajian, ibu-ibu yang abis naik haji.

Oh ya, ngomong-ngomong "trend" tentu kita bicara integritas (beuh...aya naon deui??). Intinya kalau ditanya pakaian bagus atau tidak tentu melihat keseluruhan yang dikenakan. Baju kebaya kalau celananya jeans tentu agak aneh. Begitu pula terkait busana muslim. Dulu orang ketika mendengar "busana muslimah" banyak terbayang krudung simpel yang disertai baju lengan panjang dan rok/celana yang panjang juga. Tapi saat ini definisi baju muslimah mulai berkembang (lebih tepatnya "diperbaiki"). Kerudung disediakan berupa paket lengkap beserta baju atasan hingga bawahan, bahkan manset dan kaos kaki yang warna selaras yang menarik hati untuk dikenakan.

Menjadi bisnis yang "spesial"
Kau tahu kawan, berbisnis di era penuh teknologi informasi seperti saat ini menjadikan bisnis lebih mengasyikan. Tidak perlu modal gede untuk menyewa ruangan sebagai toko. Bahkan untuk ngumpul para pelaku bisnisnya (yang dilabeli "entrepreneur") bisa memakai fasilitas umum macam taman kota, tempat makan yang cozy (btw, cozy iku opo yo?). Intinya memulai bisnis sekarang ini lebih mengutamakan kreativitas dan tentunya ketekunan dibandingkan modal finansial. Hal ini berlaku juga pada bisnis busana muslim. Dengan modal koneksi yang intens dan komunikatif, orang dapat cepat mengenal produk baru. Cara orang tahu produknya? Udah banyak aplikasi online showcase, termasuk juga memanfaatkan galeri di social media.

Sudah banyak start up dengan produk busana muslim, termasuk beberapa kenalan saya, baik yang di Bandung, Tegal, hingga Semarang. Nah  itu di 3 kota berbeda tapi saya yang di Jakarta masih bisa tahu juga karena pengaruh social media.

Penantang terkuat Ancaman Dekadensi
Dekadensi alias kemerosotan moral tidak pernah ditampilkan dalam suasana yang menyedih di awalnya. Pasti yang digembor-gemborkan ya keasyikannya. Semua itu bagian dari perang pemikiran (alias apa hayo??). Selama ini cara menyadarkan generasi muda masih didominasi dengan metode-metode kontemplasi yang penuh perenungan, suasana tertekan dll. Itu tidak salah sepenuhnya karena memang kondisi generasi muda sangat parah, khususnya ditinjau dari perilaku berbusana. Nah, cara terbaik memerangi "kegelapan" bukanlah dengan "kegelapan", melainkan dengan keterangbenderangan. Maksudnya? Harus ada perbaikan citra dalam "berkerudung".

Stigma "kerudung itu kolot, kerudung itu terbelakang, kerudung itu kaku" tidak akan berubah jika hanya dilawan dengan kata-kata, harus ada bukti. Angkatlah prestasi-prestasi dan berbagai sajian berita positif yang bertujuan pada pengubahan citra sehingga berkerudung itu identik dengan keceriaan kaum muslimah.

Begitu pula prestasi-prestasi entrepreneur busana muslimah yang secara profit, popularitas, hingga tanggung jawab sosial menunjukkan perkembangan positif. Secara kalkulasi bisnis, entrepreneur-entrepreneur ini merupakan lawan yang sangat kuat bagi para aktor dekadensi.

Masih ada Bahaya Laten di dalamnya (Bagian dari Ancaman Dekadensi itu sendiri)
Nah dibalik fenomena-fenomena positif tadi, perkembangan busana muslimah juga menyimpa bahaya laten. Nah lho, kok iso ngono?
Perkembangan busana muslimah juga bisa menjadi bagian dari ancaman dekadensi lho, walah kok bisa?
1. Ketika orientasi entrepreneur busana muslimah menempatkan nominal di atas niat ibadah
2. Ketika produk busana muslimah "direcoki" ketidakstandaran atas aturan busana muslim, misalnya bahan yang terlalu tipis
Kebayang kan ngerinya sesuatu yang sepintas menggusung nama agama tapi justru menghancurkan agama?
Ibaratnya kayak lem tikus yang justru dipakai untuk memberangus tikus :v
Maka berhati-hatilah terhadap dua kondisi ini :(

Masih setengah hati dilirik oleh para ahli strategi dakwah
Strategi perbaikan kaum muslimin dan muslimah perlu dikemas dengan suasana kreatif sebagaimana dicontohkan di isu sebelumnya. Selama pesan dakwah, khususnya tentang berkerudung, hanya mengumbar ancaman neraka maka kaum muslimin akan dihantui rasa takut pada agamanya sendiri. Strategi harus diubah dengan konten-konten positif semisal manfaat berkerudung, hadiah bagi yang teguh dalam mengenakan kerudung yang syar'i. Dalam analogi lainnya, seorang anak kecil akan lebih semangat belajar ketika diceritakan padanya orang-orang sukses yang rajin belajar daripada kisah-kisah orang yang gagal membangun karir karena malas belajar.

Namun hal ini belum disadari sepenuhnya oleh para ahli strategi dakwah. Masih ada sikap pragmatis yang menyampaikan dakwah hanya berdasarkan kurikulum warisan, padahal sasaran dakwahnya sudah berbeda kondisi dibandingkan era-era sebelumnya.

Pragamatis itu makin sulit dihilangkan ketika para ahli strategi dakwah itu berorientasi pada perubahan yang sekejap. Padahal untuk seorang perempuan muslim mantap mengenakan kerudung syar'i membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Silakan didata, namun kenyataannya perubahan yang perlahan lebih mengena bagi seorang muslimah dibandingkan yang ujug-ujug. Maka terhadap isu "kerudung syar'i", perlu roadmap yang realistis dan optimis, khususnya terkait analisis sasaran dakwah serta timeline-nya.

Bagaimana dengan Peran Kaum Laki-Laki
Nah ini pertanyaannya relevan apa nggak monggo-monggo saja tanggapannya bagi pembaca.
Pertama kita tidak bisa memungkiri bahwa busana merupakan pembatas antara yang berhak dilihat (bukan aurat) dengan yang tidak berhak dilihat (aurat) oleh laki-laki. Laki-laki apapun posisinya, apakah itu kawan sejawat, kerabat, saudara, orang tua, anak, hingga suami, memiliki kewajiban untuk mengingatkan kaum perempuan SECARA BAIK-BAIK tentang bagaimana berbusana yang semestinya. Bila menemukan yang kurang tepat, jangan jadikan sebagai (maaf) santapan syahwat yang aji mumpung :( Di sini peran laki-laki sebagai orang yang berkewajiban mengingatkan.

Kedua, dalam rantai bisnis mode busana muslimah, agaknya sangat sukar membayangkan dari bahan baku alamiah maupun sintesis menjadi busana muslim yang hanya dikerjakan oleh kaum perempuan. Kemungkinan besar akan ada peran laki-laki, baik di dalam proses pengolahan langsung maupun proses pendukung (ngitung akuntansinya, memromosikannya, pengemasan, hingga evaluasi bisnisnya). Di sini dituntut pula peran laki-laki yang mampu berkontribusi secara optimal di dalam peran-peran tadi. Sangat mungkin lho bagaimana bisnis busana muslim yang memiliki konten positif dan tujuan mulia malah berantakan gara-gara ngirim produknya salah customer, salah nentuin harga jual dll. Jadi peran laki-laki kedua di sini adalah berkontribusi maksimal di dalam bisnis mode busana muslim.

Ketiga, jumlah desainer busana dari kaum laki-laki sudah tidak bisa dihitung dengan jari alias sudah menjamur. Ini bukan urusan kelainan gender lho y. Jadilah desainer busana yang "lurus", jangan jadi perancangan busana yang memancing hal-hal yang tidak diinginkan. Rancanglah desain-desain yang mampu mengangkat derajat dan martabat kaum muslimah, bukan malah mengumbarnya.

OK, lah laruik sanjo...
Besok ngoding lagi =____=
Gudnite kawan :) :) :)

Pusat Gaung tetap pada Masyarakat

Artikel ini terinspirasi dari paparan seorang pengisi kotbah pada sebuah Shalat Tarawih di MUID. Isinya tentang pengaruh trend di masyarakat terhadap budaya ber-Al Qur'an. Berikut nreview sekaligus tambahan opini menurut saya (saya yang masih cupu dan dah apa aku mah butiran trigu).

Televisi
Selama ini televisi kerrap menjadi momok dalam mendidikan anak agar tetap berpegang pada adab Islam. Ya tentu saja banyak hal-hal yang kurang mendidik yang dalam hitungan detik langsung terjadi di stasiun televisi yang disetel. Harap maklum karena tarif mengisi konten di televisi terlampau mahal dan hanya mampu dijangkau oleh orang-orang elit dengan kepentingannya masing-masing. Bukannya tidak ada konten yang bernuansa Islami, namun plotting jam tayangnya di pagi hari secara filosofis memang bagus agar dapat dicerna ketika pikiran sedang jernih namun budaya bangun siang yang sedang melanda remaja saat ini membuat acara-acara tersebut agak "eksklusif".

Namun di tengah gempuran perang pemikiran, sebuah acara yang bertemakan kegiatan menghafal Al Qur an mampu memikat hati masyarakat. Kemasannya jauh dari kata glamor sebagaimana talent searching yang kerap mengumbar kehebohan. Secara pribadi, saya melihat acara ini bukan bersifat aji mumpung, melainkan dipersiapkan dengan matang. Hal ini terlihat dengan konsepnya yang rapi serta mampu menggaet atensi masyarakat. Padahal sempat acara kontes calon da'i dihelat di Indonesia, namun sesuatu yang berbeda di sini. Perbedaannya apa ya? Tentu terletak pada para hafidz yang merupakan anak kecil. Menyaksikan anak kecil yang memiliki talenta spesial tentu memberikan decak kagum tersendiri, apalagi jika talentanya ini merupakan kombinasi manis antara ketekunan dengan keikhlasan.

Yups Al Qur an dan televisi dua hal yang selama ini dianggap sukar beriringan. Kita memang harus menyadari bahwa televisi masih memiliki pangsa tersendiri yang masih terlalu besar untuk disepelekan. Infrastruktur televisi di Indonesia pun relatif stabil. Kesimpulannya kampanye positif melalui televisi akan memberi pengaruh positif yang tidak sedikit bagi masyarakat.

Social Media
Ada yang bilang "televisi itu pisau bermata dua", maka media sosial merupakan "sahabat bermuka dua". Lebih bikin pedih (sambil nunjuk jantung dan bilang 'sakitnya tuh di sini').
Rasa-rasanya tidak perlu mengupas bagaimana intensitas copras-capres. Belum lagi yang sekarang lagi ramai, orang berdebat tentang penting nggaknya #SaveGaza, dan yang lagi ramai yaitu apa sih ISIS itu.
Social media pun sudah tidak perlu kita perdebatkan tentang efeknya terhadap opini masyarakat.

Bayangkan bagaimana caranya isu Gaza bisa menggebrak kepedulian masyarakat Indonesia, bahkan dunia
Bayangkan pula betapa sebuah quote seorang publik figur yang dalam hitungan menit bisa langsung membuat kita disuguhi "meme comic"-nya
Bayangkan pula betapa isu yang menyangkut SARA dapat segera tersebar (padahal foto yang dibubuhkan di situ pun kita tidak tahu apakah memang benar adanya)

Walau ada berbagai kontroversi positif negatifnya, social media ternyata memberi sumbangsih tersendiri bagi kita untuk dapat saling mengingatkan tentang nilai-nilai luhur dalam berinteraksi di dalam Al Qur'an. Saat memasuki bulan Ramadhan, reminder untuk mencapai "khatam" muncul di berbagai shared post, terutama saat menjelang tanggal 17 Ramadhan. Belum lagi berbagai intisari kajian seputar kandungan ayat-ayat Al Qur'an yang disampaikan secara ringan sehingga dapat disimak kembali di berbagai waktu.

Kreativitas Desain
Kalau dua poin awal tadi menayngkut media penyampai, kali ini saya soroti seputar konten yang disampaikan. Karakter masyarakat, khususnya Indonesia, terkait social media dapat diringkas di beberapa poin berikut (sebagai catatan, poin a dilanjut poin b, poin b dilanjut poin c, dst):
a. gampang kecanduan social media (twitter, facebook, path, foursquare)
b. lebih menyenangi yang bersifat non-formal (paham kan kenapa linked nggak terlalu populer di Indonesia) dan ringan (itulah mengapa traffic berita gosip lebih tinggi daripada IEEE)
c. menghabiskan waktu ber-social media secara singkat namun intens
d. membaca konten secara sekilas
e. lebih menyenangi share gambar daripada tulisan
f. lebih menyenangi konten yang lucu
g. senang jika konten yang di-post-nya di-share oleh orang lain
Dengan demikian cara agar dakwah mengenai Al Qur'an lebih mengena adalah dengan desain-desain ringan namun mudah dicerna.

Komunitas
Contoh konkretnya ODOJ (ODOJ ya guys..inget ODOJ, bukan ODOO, kalau ODOO itu beda lagi bro) menjadi tonggak bagaimana pergerakan menggalakkan smeangat membaca Al Qur'an benar-benar sangat fenomenal. Padahal secara kalkulasi, akan jadi hal yang sulit ketika waktu yang jarang dipakai membaca Al Quran tiba-tiba diisi dengan target satu hari 1 juz. 1 jus rata-rata 20 halaman, bila satu halaman memerlukan waktu 5 menit, artinya 100 menit perlu diluangkan tiap harinya. Namun pertanyaan tentang kesulitan itu justru langsung dijawab dengan karakter dari gerakan ODOJ ini, yaitu komunitas.

ODOJ telah menjadi suatu trend positif yang sangat terbuka bagi mereka yang bersungguh-sungguh dengan karakter mengaji yang dapat disesuaikan dengan kondisi di tiap kelompok kecilnya.

Nah apa yang menjadi kesamaan keempat hal di atas. Semuanya benda mati. Itu saja. Bahkan komunitas pun sebenarnya benda mati. Manusia sebagai makhluk sosial merupakan tokoh yang memiliki peran menggaungkan Al Qur'an dengan kesadaran mereka sendiri (mmm, ko mereka ya? kan "saya" juga..eh, pembaca mau ikut kan? Yuk yuk yuk, kita revisi kalimatnya ^^),. Manusia sebagia makhluk sosial merupakan tokoh yang memiliki peran menggaungkan Al Qur'an dengan kesadaran KITA :)