Sesi Dosen Tamu utk mata kuliah #DigitalBusiness #MTI @fasilkomuiofficial @univ_indonesia bersama Bung Andika Prasetya Suherman dari @uangteman feat. Bung @dharmanjarrahman dari @vestifarm .
Terima kasih atas wawasan, pengalaman, serta inspirasi yang dibagikan. Semoga bermanfaat dan dapat bekerja sama yg makin berkontribusi di dunia bisnis digital Indonesia.
Learn (forever) about Startup
Meetup with Product Manager on Fintech
Kreatif(a) Ada Ilmunya
Batik Everywhere di Kauman
Sebagai kota yang budaya klasik yang kental, Solo dari dulu sudah membudidayakan batik. Salah satu aksi konkretnya adalah menggelar beberapa kampung batik, misalnya yang ada di Kauman. Saya mengitari kampung ini saat jam di gawai saya menunjukan jam tujuh. Apakah terlalu pagi? Tampaknya iya, tapi sebagian toko sudah membuka tirai dagangannya. Sebagai penggemar batik, saya sebetulnya bisa seharian lebih di sini, mungkin sembari menggelar tenda. Tapi apalah daya musafir yang tidak punya banyak waktu dan anggaran. Hehee...
Ada beragam model dan corak batik di sini. Model kampung batik semacam ini memang memberikan keuntungan di (calon) pembeli. Pembeli dapat membandingkan harga dan kualitas produk asli antar-pedagang. Hal ini mendorong penjual tidak melonjakkan harga seenak hati karena pembeli mudah pindah ke lain hati. Model ini jiga menuntut krearivitas yang harus terus dipompa lantaran ide inovasi dapat mudah diikuti. Sayangnya saya belum bisa menemukan apa yang spesial dari Kampung Batik Kauman ink dibandingkan kampung-kampun lainnya.
IDkreatif Goes on again
Senang rasanya melihat page FB ini kembali aktif. Setelah hampir 2 tahun vakum, banyak yang perlu dikejar. Perkembangan ekonomi kreatif terlalu melesat dan menjadikan platform Indonesia Kreatif, baik website, media sosial, maupun kegiatan offline-nya perlu bergegas.
11 Pulau 17 Provinsi
Salah satu keinginan sebagai WNI yang baik, versi saya tentunya, adalah mengunjungi 34 provinsi yang ada. Target yang bagi sebagian orang aneh, dan tentunya bakal ditimpali komentar 'buat apa'. Alasan saya sederhana, saya ingin melihat dan merasakan bagaimana kekuasaan Allah atas Indonesia, negara 13.000-17.000 pulau, 34 provinsi, beratus suku bangsa, beratus pula bahasa/dialek, serta tak terhingga keragaman hayatinya. Sejauh ini, iseng-iseng saya mencacah hasil 'blusukan' 25,5 tahun saya smebari berdebar menunggu sampainya kereta ini di Stasiun Jatinegara. Alhamdulillah sudah 17 provinsi yang pernah saya singgahi, bahkan diami selama sekian waktu. Artinya 50 persen provinsi di Indonesia pernah saya lalui. Kalau mau menyimak dari sisi geografis, ternyata sudah 10 pulau, tentu jauh dibandingkan banyaknya pulau yang belasan ribu hehee.
Pulau Jawa
Pulau dimana saya dilahirkan 25,5 tahun lalu. Praktis dari TK hingga S2 saya habiskan di pulau 'beras' ini. Bahkan belum pernah saya mengalami mudik antar-pulau, barangkali tahun depan ke Pulau Sumatera. Alhamdulillah dari 6 provinsi yang ada di Pulau Jawa, semuanya pernah saya tinggali. Jawa Tengah tentu sebagai tempat saya tumbuh lebih dari 17 tahun sejak jabang bayi. Selanjutnya saya merantau di Jawa Barat untuk kuliah dan tempat saya bermukim bersama istri. Di rentang pasca-lulus S1 hingga sekarang, saya masih punya urusan pencarian nafkah di DKI Jakarta, provinsi paling 'wah' dari berbagai sisi hingar bingar. DI Yogyakarta, ah provinsi ini selalu mengademkan suasana hati. Provinsi yang secara unik dan rutin selalu saya kunjungi dari 2009, entah itu dalam rangka kuliah, ekstra-kuliah, piknik, hingga urusan pekerjaan. Jawa Timur, sebetulnya ini provinsi yang tidak terlalu akrab dengan saya lantaran keberadaan saya di sini hanya sebagai 'numpang lewat' menuju Bali ataupun NTT. Banten, situasinya pun serupa, saya berada di provinsi ini karena keperluan menuju Bandara Soekarno-Hatta serta 'nebeng' lewat menuju Lampung, walau sebetulnya ada juga beberapa kali menginap di sanak yag berlokasi di provinsi ini.
Pulau Sumatera
Pulau yang saya kagumi dari sisi budaya dan geografis. Belum pernah saya melihat pulau yang paling beragam suku bangsanya di Indonesia, kecuali ya pulau ini. Pertama kali saya ada di Pulau ini sekitar 3 tahun lalu, tepatnya 'ekspedisi Siger-Tanjak' saat saya 'menghilangkan diri' ke Bandar Lampung serta Palembang. Tak disangka di awal 2015 saya menjalani ekspedisi lain yang lain dari yang lain, yaitu lamaran ke calon istri di Aceh. Ya, Allah menakdirkan saya berjodoh dengan seorang perempuan Aceh, lebih tepatnya paduan Aceh-Minang. Maka, di tahun yang sama pulalah saya kembali ke Aceh untuk 'menjemput impian'. Tak lupa, saya pula menjejakkan kaki di Sumatera Utara walau statusnya hanya transit hehee. Di tahun yang sama, saya beserta istri diundang pula menghadiri pernikahan sepupu istri di Kota Padang. Kalau dihitung-hitung, itu menjadi debut saya di Provinsi Sumatera Barat. Sayangnya, saya tidak banyak berkesempatan jalan-jalan karena ada agenda ICACSIS esok harinya.
Pulau Kemaro
Tak lengkap memang ke Palembang tanpa kita menyusuri Sungai Musi dan berlabuh ke Pulau Kemaro. Alur ngebolang di tahun 2013 menyeret saya ke pulau yang sebetulnya saya juga bingung, apakah ini benar-benar pulau atau hanya delta. Berhubung orang menyebutnya pulau, saya manut saja.
Pulau Bali
Sebetulnya ini adalah pulau pertama yang pernah saya datangi di luar Pulau Jawa tentunya. Saat itu dalam rangka study tour SMA, dan tak lengkap jika menyebut 'Sangeh Gank' alias para siswa-siswa ble'e di Bus No.4 yang ya begitulah. Takdir bergulir, saya berkesempatan ke Bali di awal 2013, kali ini dalam rangka ikut menyeberang dari Pulau Lombok.
Pulau Penyu
Daratan yang terpisah dari Pulau Bali ini sudah ditetapkan sebagai wisata alam berisi fauna-fauna jinak yang terpisah dari Pulau Bali. Pulau ini merupakan 'fitur plus' saat berkunjung ke Pulau Bali.
Pulau Sulawesi
Gemericik Pramuka IT Telkom di tahun 2011 mendorong saya beserta Triyoga untuk mengadu ide ke Pulau Sulawesi, tepatnya Provinsi Sulawesi Selatan. Hajatan PNPPT yang digagas Pramuka Universitas Hasanuddin menjadi tujuan kami menggali gagasan-gagasan untuk mengembangkan Pramuka di IT Telkom. Bagi saya serta kang Yoga, ini merupakan pengalaman pertama kami, selaku orang desa, naik pesawat hohoo sekaligus berangkat ke sebuah pulau yang kami sendiri 'buta' ada apa di sini. Alhamdulillah sambutan di sana sangat ramah, bahkan kami diajak berkunjung hingga ke Bulukumba serta Bantaeng, termasuk Pantai Bira yang eksotik panorama alamnya dan juga 'pabrik' kapal Phinisi yang legendaris.
Pulau Ternate, Pulau Tidore, dan Pulau Maitara
Ketiga pulau ini saya singgahi dalam sebuah ekspedisi yang 'di luar dugaan' sebagai hasil kontes menulis e-business dengan studi kasus e-commerce Garuda Indonesia. Sayang sekali di ekspedisi tersebut rencana untuk berdua dengan istri kandas karena urusan teknis. Di luar hal itu, harus diakui ekspedisi ke tiga tersebut sangat luar biasa. Saya belajar banyak bagaimana budaya dan sosial yang sangat sederhana menjadi pegangan hidup masyarakat Ternate Utara. Belum lagi menyinggung digdaya pesona alamnya yang masih asli. Saking aslinya, saya merasa bersyukur bisa menunaikan target nge-bolang sebelum matahari terbenam hehee.
Pulau Kalimantan
Ini merupakan pulau yang baru pertama kali saya kunjungi persis di tahun ini. Kebetulan agenda ICSITech yang dihelat di Balikpapan memberi saya kesempatan untuk menjelajahi kota tersebut sekaligus menyempatkan berlibur bertiga dengan istri serta anak. Petualangan di Kalimantan Timur ternyata memiliki kelanjutan berupa berpetualangan kilat di Kota Pontianak dalam rangka program SiVION.
Widihh ada BIIMA
Salut buat usaha Bekraf berupa sosialisasi online tentang kesadaran hak cipta produk-produk ekonomi kreatif.
Creative Cities: (candidate) Padang
Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, bahwa saya memiliki beberapa ekspektasi kota-kota di Indonesia akan terlibat secara resmi sebagai Creative Cities versi UNESCO. Dan salah satu kota yang saya jagokan adalah Padang dengan kategori Culinary. Di sini sedikit bercerita tentang opini saya tersebut didasarkan apa?
*yang pasti bukan karena istri saya orang Minang hehee
Alasan sederhananya adalah diantara hasil kebudayaan masyarakat Minang, kuliner merupakan unggulan yang paling populer serta mampu menjangkau bumi Indonesia. Dan dari berbagai ragam kuliner khas Minang, kota Padang merupakan kota/kabupaten yang paling memiliki popularitas sebagai pusat kuliner khas budaya Minang. Efeknya? Tentu ada orang yang salah kaprah membedakan Minang dengan Padang. Keunggulan Kota Padang yang menjadikan kota ini memiliki kekuatan dan popularitas dalam dunia kuliner adalah eksistensi mereka sebagai ibu kota sekaligus gerbang perdagangan laut yang paling utama serta udara yang satu-satunya (cmiiw) di Provinsi Sumatera Barat.
Soal kualitas, mm, nggak perlu banyak menghiperbolkannya. Karena kuliner khas Kota Padang memiliki cita rasa yang sangat unik dimana "pedas" menjadi kata yang paling layak untuk merepresentasikannya. Selain itu, jika kalian pernah ke Kota Padang, maka pohon kelapa sudah tampak menjamur sehingga tak heran kuliner khas padang didominasi pula oleh kuah santan yang sangat menggiurkan. Apalagi ya? Waah agaknya sulit mengonversi kekhasan kuliner khas Kota Padang ke dalam tulisan. Maka buruan, cari itinerary ke Kota Padang lalu Kalian akan yakin bahwa kota ini layak menjadi Creative Cities untuk kategori kuliner.
Simak profil kuliner khas Padang di beberapa rujukan berikut ini:
http://indonesia.travel/attraction/attraction_details/18/masakan-padang-kenikmatan-cita-rasa-yang-berempah
https://en.wikipedia.org/wiki/Padang_cuisine
Creative Cities: Kota Bandung
Kabar menggembirakan kembali menghampiri Kota Bandung. Kota yang satu ini memang sedang disorot lantaran berbagai prestasi positif berhasil direngkuh. Di penghujung tahun 2015 ini, sebuah kehormatan menempatkan Kota Bandung sebagai Creative Cities. Predikat ini diraih bersamaan dengan 46 kota lainnya di seluruh dunia oleh UNESCO. Khusus Kota Bandung, kategori Creative Cities yang diraih adalah Design. Woww, desain gaesss...
Predikat Creative Cities untuk kategori Design sebelumnya direngkuh oleh 16 kota di dunia, yaitu Graz (Austri), Beijing (RR Tiongkok), Montreal (Kanada), Turin (Italia), Curitiba (Brazil), Berlin (Jerman), Kobe (Jepang), Buenos Aires (Argentina), Nagoya (Jepang), Dundee (Skotlandia), Shanghai (RR Tiongkok), Shenzhen (RR Tiongkok), Seoul (Korea Selatan), Helsinki (Finlandia), Bilbao (Spanyol), Saint Etienne (Prancis). Selain Kota Bandung, kota yang terpilih sebagai Creative Cities terbaru untuk kategori Design lainnya adalah Budapest (Hungaria), Detroit (Amerika Serika), Kaunas (Lithuania), Puebla (Meksiko), dan Singapore (Singapura). Bila diperhatikan sekilas, kota-kota tersebut memiliki kekuatan desain yang menonjol pada aspek desain arsitektur. Kebetulan memang Kota Bandung di kurun waktu dua tahun terakhir memang sangat getol membangun berbagai taman tematik.
Harapannya, capaian Kota Bandung dan Kota Pekalongan mampu diikuti oleh kota-kota lain di Indonesia. Sekedar mengawang-awang, potensi berikutnya untuk dipilih sebagai Creative Cities dari Indonesia kemungkinan: Kota Yogyakarta (craft and folk arts) dan Kota Padang (gastronomy). Bismillah :)
Creative Cities: Pekalongan
Kota satu ini merupakan unggulan kebudayaan kreatif khas Indonesia yang terletak di pantai Utara Jawa. Kota Pekalongan menyimpan tradisi luhur yang sangat kental dalam masyarakatnya. Kota Pekalongan ditetapkan sebagai Creative City oleh UNESCO pada tahun 2014 lalu. Penetapan tersebut juga bermakna khusus karena kota ini menjadi kota (plus kabupaten) pertama di Indonesia yang meraih predikat tersebut.
Predikat tersebut tentu sangat spesial namun tidak terlepas dari kontroversi. Kontroversi yang dimaksud adalah dualisme predikat Kota Batik yang memang masih menjadi polemik antara Kota Pekalongan, Kota Yogyakarta, serta Kota Surakarta. Namun janganlah memecah belah hanya karena kekayaan budaya yang sebenarnya itu milik Indonesia dan tidak ada gunanya untuk diperebutkan. Batik Pekalongan punya kekhasan, begitu pula Jogja dan Solo, bahkan ada banyak daerah di Indonesia (termasuk Tegal) yang punya motif khas batik. Sikap mendukung harus dikedepankan mengingat kita satu identitas berbangsa, Indonesia.
Kembali ke topik Creative City. Kategori yang diraih oleh Kota Pekalongan sebagai Creative City ada pada Craft and Folk Arts alias Kerajinan dan Seni Rakyat. Tentu kategori ini erat kaitannya dengan subsektor ekonomi kreatif kerajinan di Indonesia dimana batik merupakan unggulan dari negara Indonesia. Yang menarik dari web UNESCO ini adalah poin Added Value alias nilai tambah. Ya, benar memang, harus ada keunggulan yang menjadi pembeda sehingga sebuah kota ditetapkan sebagai Creative City . Berikut ini cuplikan added value dari Kota Pekalongan menurut UNESCO:
Sebenarnya selain Kota Pekalongan, Indonesia masih menyimpan banyak potensi di berbagai kota/kabupaten lainnya untuk didorong menjadi Creative City. Apalagi jika melihat kategori di Creative City: Crafts & Folk Art, Design (desain), Film (ya film), Gastronomy (kuliner), Literature (kepustakaan), Media Arts (seni media), dan Music (musik). Kebetulan di bulan ini Kota Bandung menyusul Kota Pekalongan dengan kategori Design. Kota-kota lain perlu didorong agar bisa menjadi Creative City berikutnya dari Indonesia. Pasti timbul pertanyaan "Apa untungnya?" Tentu identitas sebagai Creative City akan mengundang investor, memacu berbagai kegiatan yang mengaktivasi kreativitas di kota tersebut, dan tentunya akan lebih menghidupkan roda perekonomian di kota tersebut. Namun keuntungan-keuntungan tadi, perlu disadari bahwa kreativitas yang dimiliki Indonesia didominasi kebudayaan dan kearifan lokal. Pengakuan sebagai Creative City merupakan bukti bahwa identitas Indonesia diakui dan menjadi kekuatan untuk mempertahankan diri dari ancaman hilangnya kebudayaan dan kearifan lokal Indonesia.
Oh ya, ngomong-ngomong prestasi Kota Pekalongan ini juga spesial karena hanya diraih oleh kota-kota tertentu di dunia. Lihat saja daftar peraih Creative City untuk kategori Craft and Folk Arts, hanya ada 11 kota selain Kota Pekalongan, yaitu Icheon (Korea Selatan), Hangzhou (RR Tiongkok), Kanazawa (Jepang), Jingdezhen (RR Tiongkok), Nassau (Bahama), Paducah (Meksiko), Fabriano (Italia), Santa Fe (Meksiko), Suzhou (RR Tiongkok), Jacmel (Haiti), dan Aswan (Mesir). Dalam perkembangannya di Desember 2015 ini, menyusul kota-kota di daftar spesial ini adalah Al Ahsa (Arab Saudi), Bamiyan (Afghanistan), Duran (Ekuador), Isfahan (Iran), Jaipur (India), Lubumbashi (RD Kongo), San Cristóbal de las Casas (Meksiko), dan Sasayama (Jepang).
RIlis juga The Next Indonesia
Desain buku ini mulai dari halaman pertama s.d. halaman terakhir, kecuali sampul dalam, merupakan konsep yang sangat panjang prosesnya. Butuh negosiasi sana-sini untuk mengompromikan gagasan yang ada di kepala. Segala patokan seperti "elegan", "sederhana", dll, sifatnya kualitatif, dan (as you know) sangat imajinatif dan "debatable" bagi orang kuantitatif macam saya. Himpitan waktu di tengah urusan kerja dan juga keluarga sangat mempengaruhi konsentrasi dan kenyamanan saya. Tapi pada akhirnya zona tidak nyaman itulah yang menjadi "kursi" bagi saya untuk menuangkan ramuan ide kreatif yang sangat tidak memuaskan dan tidak sempurna. But, i'm proud :)
Mengenai tulisan yang terletak di penghujung buku ini, saya merasa sangat banyak kekurangan karena memang jam terbang saya yang kalah jauh dibandingkan penulis-penulis lainnya. Modal saya hanya dua: (1) data yang bisa intepretasikan, serta (2) semangat menuntaskan keinginan bisa menulis. Memang akan menimbulkan kerancuan mengingat latar belakang ilmu komputer tapi malah menulis ekonomi kreatif. Apakah ilmu komputer terlalu gersang untuk digarap? Tentu tidak, namun dari hasil riset dan corat-coret, situasi ekonomi kreatif lebih memungkinkan dieksplorasi dalam keterbatasan waktu menulis.
Akhirnya, terima kasih atas bantuan semua ciptaan-Nya, baik yang bernyawa ataupun tidak bernyawa (hardware dan software) selama proses pembuatan buku ini.
Semoga menjadi sumber amalan hingga hari akhir nanti :)
Awesome Reunion with Bang Haekal
Sangat nggak menyangka rencana reuni (walau cuma berdua :v) terlaksana. Seorang putra Tegal dan seorang pengelana Aceh yang berkenalan di Jakarta Selatan. Mereka (lebih tepatnya "kami") bersua dalam irama Kota Bandung pada Kamis lalu (14/5).
Banyak hal yang kita bicarakan, mulai dari yang serius hingga sangat nggak serius. Tentang ekonomi kreatif, tentang agama, tentang pendidikan, tentang tata permasyarakatan, dll.
Sukses untuk rencana S2-nya, semoga lancar juga rencana beasiswanya. Insya Allah niat mulai di bidang pendidikan akan menuai kebaikan dari-Nya
Punggung Membungkuk Hari ini
Selamat pagi (pas saya ketik masih 05.22 WIHS, waktu Indonesia hape saya)
Pagi yang tentu akan berbeda dibandingkan pagi-pagi hari esok
Setelah hampir dua tahun, tak terasa penghujung ini telah menampakkan “senja”-nya. It is enlightment phase in my life. Ya, (nyaris) dua tahun yang banyak memberi saya inspirasi, dua tahun yang asyik, dua tahun penuh dengan berbagai pengalaman unik dan (Alhamdulillah) tidak ada secuil pun rasa salah memilih tempat untuk berkreasi. Tidak pernah ada yang kebetulan jika menengok takdir-Nya. Sebuah kehormatan karena dipertemukan dengan orang-orang kece seperti kalian.
@Mas Irvan Indra, terima kasih banyak Mas atas banyaknya share ide sejak pertama kita kenal. Banyak hal-hal ajaib yang saya pelajari dari berbagai obrolan kita, tentang industry kreatif, tentang social media, tentang web design, tentang apa lagi y? Wah banyaklah, have an outstanding adventure bro :)
@Mba Intan, sosok yang pertama saya kenal sebagai sesama fans Larc en Ciel. Nyaris selalu riang dan nyambung untuk segala macam obrolan. Terima kasih banyak atas pengarahannya dalam belajar menulis liputan hehee. Jarang-jarang nih anak IT ditugasin nulis liputan, dan dapet bimbingan langsung dari salah seorang yang beuhh, yoiilah :)
@Mba Reni, wah lama kita tidak berjumpa Mba. Sosok yang ini juga tidak pernah kalah riangnya. Sosok yang selalu siap bertangkas-tangkas mengelola segala macam berkas dan urusan per-PR-an. Hehee. Salut mba :)
@Mba Venny, beuhh kalau yang ini mmm, sangar pisan, hehee. Pertama kali kenal saat mempersiapkan PPKI dengan ketahanbantingannya bergadang ngurus ini ngurus itu, eh ternyata satu tim proyek akhirnya di IK. Well, ibaratnya kulkas dengan empat pintu, Mba Venny ini bisa dengan kokoh menjadi sosok yang seusai bagi tiap orang yang di sekitarnya. Saatnya serius OK, saat ble’e juga OK, hehee. Berbagai ide, baik skala kecil maupun besar, ada saja yang dikemukakannya, dan itu dihadirkan dengan asyik tanpa memandang remeh ide lainnya :)
@Mba Kimi, wahhh, kalau yang ini saya tertipu, tadinya saya kira seangkatan, eh tahunya sekian tahun di atas saya *langsung hormat*. Yang ini mah udah berbagai macam proyek dijelajahinya, EWS pernah, SKR udah, PPKI mantap, dan jrenggg ternyata ketemu di IK. Asyik untuk diajak diskusi dengan segala pernik topik. Tipikal yang banyak saya belajar dari Mba Kim, terutama bagaimana membuat segala tugas bia dijalani dengan have fun. Kece banget itu.
@Bang Haekal, oiii Bang… Gaimana kabar Bang? Lama nian tidak bersua. Pertama kenal saat Workshop IK tahun 2013 dengan kesan ini orang agak pemalu tapi ramah, nyambung diajak ngobrol, agak lugu dikit #eh, tapi juga religus, dan nggak menyangka tahun 2014 bakal satu tim di IK *yeayyy. Nggak tahu kenapa, tapi kalau udah ama Bang Haekal ngobrol, topiknya kok menjurus tentang permunakahatan (garuk-garuk kepala). Yang saya heran, adalah karakteristik yang sabar dan pandai berbaur dengan orang bagaimanapun tipe/karakternya, mungkin bukan heran, tapi kagum. Walau hanya sekali, tapi pengalaman yang asyik bisa ngeliput bareng Bang Haekal waktu Imagine Cup di Epicentrum. Gokil lah abang kita satu ini, bahkan di waktu-waktu tertentu suaranya menggema mengajak kebaikan :)
@Ari, ah kenapa baru sebulan dua bulan nggak balik lagi sih? O_o. Asyik padahal ngelihat tingkah Ari ama Bang Haekal yang lucu kalau mau liputan. Tipikal yang palu gada banget (apa yang lw mau, gw ada) alias multitalenta. Hehee, punten kalau belum banyak kenal. Namun terima kasih atas perjuangannya di IK :)
Lha kok udah ganti page ke halaman dua y? Hmmm, ini udah ngantuk belum tidur pagi ey
@Ridho, salah satu orang yang namanya sulit dieja. Abdushshabur dengan ‘shin’ ber-tasjid. Kadang saya panggil Idho. Eh ternyata lw temennya Dharma y? Ini juga salah satu tipikal yang multitalenta. Sosok yang selalu dan selalu bersemangat dalam belajar, pandai menempatkan diri, dan yang gw suka adalah karakter tenang. So surprise banget waktu sore-sore sms yang mengabarkan kalau hari ini terakhir di IK *jrengggg*, lah?? Tapi di situ juga saya belajar bahwa keberanian dalam menentukan pilihan patut dilakukan walau mungkin dipertanyakan orang lain. Salut untukmu :)
@Keke, eh, ini saya ngirim email ini udah bangun belum y? #eh. Hehee, padahal kosan lw paling deket Ke. Yang ini kalau udah ama Mba Ria ibarat speaker kanan ama speaker kiri. Selalu ada saja diobrolkan, mulai dari ide yang produktif sampai dengan entertainment ala ibu-ibu hehehee :)
@Mba Jojo, ini adalah contoh manusia dengan perilaku sehat yang patut dijadikan teladan hehee. Nutrisinya sudah diseleksi dari makanan yang “pilihan”, begitu pula olahraganya yang teratur. Hehee. Awal kenal kalau dari penampilan, mmm, ko agak mirip atlet ketimbang penulis ya, eh ternyata kece banget, baik sebagai atlet maupun penulis. Selalu bersemangat dengan ide-idenya yang asyik dan yang paling saya kagum adalah karakter pantang menyerah sebelum tugas kelar :)
@Sari, awal kenal ‘oh ini mba-mba yang ngurus PPKI’. Keliatan pusing terus dengan berbagai kerjaan. Oh ternyata dari Bontang, jadi inget salah seorang kawan yang lumayan akrab berasal dari sana. Asyik untuk diajak diskusi dengna berbagai sudut pandang yang bisa kritis, bisa juga humoris. Tidak kenal lelah, ya itu karakter yang paling lekat dengan sosok Sari (mirip dengan Nandhik, cuma yang ini nggak pake molor di lantai atas). Cie cie cie, ditunggu undangannya ya, kalau bisa diselipkan tiketnya ya :)
@Mba Ria, tadinya mau ditulis di bagian awal, tapiii di bagian akhir sajalah hehee. Sosok tangguh tempat pada cewe-cewe di kantor berteduh berbagai cerita, cocok bangetlah jadi kakak angkat buat mereka hehee. Tidak pernah meremehkan kualitas orang dan mampu menghadirkan suasana ceria dengan gayanya yang khas, padahal awal kenal ‘ini orang kok kayaknya khusyuk di depan laptop y?’. Kalau dipikir-pikir cuma Mba Ria n Mas Toto yang awal masuk sampai dengan saya selesai masih ada di sini ya, hehee, berarti lw saksi sejarah IK mba :)
@Mas Toto. Awal kenal ini orang kok pendiem ya? Nampak khusyuk dengan laptop logo apel kroaknya. Time goes on and wewww, he’s so amazing and has outstanding ideas. Aset bangsa yang kece punya. Tahan banting dengan berbagai tekanan dari sana sini serta memiliki pendirian yang kokoh. Banyak yang saya pelajari dari sosok satu ini, yaitu dengan kesederhanaan dalam desain namun kreatif, presentasi yang menarik, serta tentunya analisis segmen “pasar” dan tak lupa ketekunannya untuk mempertinggi pencapaian. Sukses sebagai pribadi makin “berisi” (dalam sisi ilmu) dan semoga makin jadi pemimpin rumah tangga yang penuh barokah.
@Pak Haviz. Membaca namanya “beuhhh..berat banget namanya, tapi patut sebagai motivasi yang kerenn”. (Haviz?Hafidz?penghafal Al Qur’an, semoga kelak Pak Haviz menjadi seorang penghafal dan pengamal Al Qur’an, aamiiin :) ), udah itu aja deh, hehee. Sosok yang outstanding banget, mampu bekerja di bawah tekanan, kapanpun, dimanapun, jarang mengeluh juga, dan yang paling saya suka adalah mampu datang pagi hari. Mampu beradaptasi dengan orang berkarakter apapun, tim proyek dengan permasalahan apapun, serta menunjukkan komitmen untuk memberikan solusi. Tidak mau membiarkan permasalahan larut begitu saja, harus bisa diidentifikasi pangkalnya dimana, lalu solusinya bagaimana. Well, aspek yang ini saya patut berterima kasih karena berkesempatan belajar dari beliau, baik di forum umum maupun privat hehee.
@Hanafi, eduuun udah lembar ketiga aja… Ucoook, nggak salahlah partner bareng ente di berbagai kesempatan. Setelah hampir setahun solo karir, akhirnya bisa punya duet dalam pairing-programming, asyik banget karena nyambung di berbagai hal. Alhamdulillah cocok dari berbagai aspek, dari urusan ngoding, becanda hahahihi, ngomongin bola, ngomongin apalah mulai dari yang sifatnya sangat penting, penting, agak penting, kurang penting, hingga nggak penting banget. Mulai dari berangkat paginya yang konsisten, itu sudah menunjukkan kualitas pribadi seorang Hanafi. Jalan prestasimu masih panjang Fi, teruslah mempertinggi prestasi dan semoga penuh barokah
Akhirnya, saya perlu mengutip lirik dari lagu BIP, Ternyata Harus Memilih “tak ada kebetulan, semua pasti ada artinya”. Harapan saya sederhana, Indonesia Kreatif maupun pribadi kita masing-masing beruntung, beruntung dalam arti sederhana, yaitu hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari ini.
Kosan, 31 Maret 2015 pukul 09.02 eh ini laptop salah jamnya yang bener 08.04
Sugeng Rawuh November
Sebentar lagi bulan Oktober usai dan bulan November tiba
Portal Indonesia Kreatif pun akan memasuki masa-masa sibuk. Mulai dari berbagai perlombaan plus peningkatan kualitas konten dan.... jreng jreng jeng.... akan ada beberapa fitur baru. Sedikit bocoran tentang fitur-fitur baru di Portal Indonesia Kreatif.
- Tempat diskusi asyik, tempat sharing ide, saling memberi masukan positif dan tentunya dengan cara yang kreatif
- Interaksi saling padu melalui pertukaran informasi tentang karya kreatif apa saja yang telah dibuat sesama user
- Jarang di depan laptop/PC? Well, Ik will accomodate you
- Akan ada repository tentang program-program ekonomi kreatif, riset ekonomi kreatif, hingga informasi dukungan pendanaan bagi orang kreatif
Memang terjadi keterlambatan proses implementasi secara terstruktur, sistematis, dan masif. Tapi yuk ah fokus ke perbaikan masa depan.
Banyak pelajaran yang dipetik di dalam proses pengerjaan fitur-fitur di Portal Indonesia Kreatif. In syaa Allah saya masih semangat dan akan memberi yang terbaik. :)
Most Unpredictable Moment Tiday: Arigatou Ridho
Bisa dibilang ini formasi full persinel IK setelah sekian lama ini...
Sukses menggapai mimpi-mimpi hebat berikutnya
Gov to Program [1]
Sebulan ini bukan durasi yang ringan nan mudah. Terlebih ke depannya, akan muncul tantangan demi tantangan yang perlu tuntutan fisik, mental, plus pemikiran untuk menghadapinya. Ini berkaitan dengan status sebagai tukang coding di Portal Indonesia Kreatif. Salah satu gebrakan di penghujung tahun ini adalah Program, sebuah subdomain baru di Portal Indonesia Kreatif yang merupakan evolusi dari Gov.
Gov, sebuah subdomain yang (jujur) underestimated dari sisi popularitas. Wajar memang, kalau disurvey apa yang lebih menarik bagi masyarakat antara berita kreatif, karya kreatif, profil orang kreatif, kalender kreatif, dan statistik+program kreatif, tentu opsi pertama dan kedua yang jadi favoritnya. Ketika News identik dengan berita/liputan, Event identik dengan kalender, Directory identik dengan profil/database, Showcase identik dengan pameran, nah Gov ini identik dengan apa?
Gov secara ringkas merupakan gabungan dari:
1. Riset dan statistik ekonomi kreatif
2. Program-program pemerintah terkait ekonomi kreatif
3. Tata kelola HaKI untuk industri kreatif
4. Profil institusi pendidikan tinggi kreatif
5. Informasi pembiayaan industri kreatif
6. Ranking Indonesia yang berkaitan dengan ekonomi kreatif
7. Publikasi mengenai ekonomi kreatif
Tantangan terbesar terletak pada tata kelola konten, baik narasumber maupun tim redaksi Portal Indonesia Kreatif.
Berangkat dari ekspektasi untuk lebih mengakrabkan diri melalui brand baru, maka diputuskanlah untuk mengevolusikan Gov menjadi Program. Rasanya memang agak bingung ketika membangun sebuah sistem yang meruntuhkan sistem lama yang sudah dibuat susah-susah. Tapi di situlah nilai-nilai keikhlasan akan dituai dari situ. Orientasi dalam membangun sebuah sistem baru bukanlah urusan suka tidak suka ataupun sakit tidak sakit ketika sistem lama yang dibuat dengan berdarah-darah. Orientasinya adalah menyediakan informasi yang bermanfaat dan tentunya itu ibadah, maka jangan sampai rasa suka tidak suka mengotori niat yang harusnya ikhlas.
Asyiknya Powerpoint
Beberapa hari lalu menjelang sebuah event dimana saya menjadi PIC perancangan segala macam desain dan publikasi, rekan yang bertugas melakukan proses percetakan meminta versi .psd ataupun .cdr dari desain yang saya buat. Nah, di situlah dia terkejut dengan pertanyaan balik saya "adanya powerpoint gimana?". Balasan berupa statement "wuihh" menjadi respon yang memang bukan respon yang aneh karena kerap saya dengarkan ketika orang lain tahu segala melakukan proses designing mempergunakan Microsoft Powerpoint, sebuah aplikasi sebenarnya dipakai untuk membuat tampilan presentasi. Memang hasilnya berupa desain yang visual, walau demikian sangat jarang ada yang memakai sebagai media design poster, pamflet, dll.
Kebiasaan ini dimulai dari era SMA, saat itu komputer di rumah saya spek/spesifikasinya tidak terlalu muluk-muluk sehingga tidak banyak yang di-install di situ. Di tengah keterbatasan tersebut, saya gemar mengutak-atik (lebih tepatnya belajar tanpa arah kurikulum yang jelas) aplikasi Microsoft Powerpoint. Sangat penasaran karena dulu kursus komputer hanya sampai Excel. Eh ternyata ketagihan juga. Tentunya yang paling spesial adalah membuat presentasi profil para anggota GaNas saat upacara purnabakti 2008. Dan ketika diberi amanat mempunyai laptop sendiri, kebiasaan memakai Powerpoint makin menjadi, plus saya menyadari bahwa ada Print Screen untuk meng-capture hasil gambar di monitor.
Jika ditanya apakah sempat mempergunakan Corel maupun Powerpoint, maka jawabannya pernah. Walau demikian, saya mengakui tidak mahir bermain-main dengan aplikasi tersebut, termasuk dari sisi RAM laptop yang kecil sehingga keterbatasan tersebut menempatkan saya untuk main terbiasa membuka Powerpoint untuk urusan desain. Kloplah keterbatasan sebagai pangkal saya asyik ber-Powerpoint. Karena itulah, jika diperhatikan, desain yang saya buat selama di Depkominfo 2009 dan 2010 plus BPH HMIF 2011 tidak muluk-muluk agak tampak terpaku pada pola "kotak". Seolah-olah tidak ada keberanian bermain-main dengan efek yang eksploratif. Hehee, itulah saya yang cuma bisa garuk-garuk kepala jika diminta untuk mengajari desain. Lha wong aku yo cupu tenan yo...
Uniknya saat kerja, saya justru bertemu dengan seseorang bernama Riyanto, yang kece banget untuk urusan desain, terutama karakter perfeksionisnya dalam ber-Powerpoint. Terus terang saya minder kalau adu argumen desain dengan dia. Karakter khas yang jadi ciri dari dia adalah simplikasi dan minimalisnya desain. Entah kenapa walau sederhana namun kesan "pas porsinya" langsung ditangkap. Kebetulan pula, di FUKI, LDF-nya Fasilkom UI, di Biro Media tepatnya, spirit desain yang digusung terkait branding-nya adalah kesederhana. Desain karya anak-anak FUKI tidak mengumbar berbagai efek yang bombastis, cenderung rapih dan bersih. Kebetulan PIC urusan standardisasinya sangat telitiiiii banget. Nah dua faktor itulah yang membuat saya makin asyik dengan kesederhanaan membuat desain. Dalam hal ini, saya terus mengalami kesulitan dalam keterbatasan membuat desain di Powerpoint, namun di sisi lainnya saya makin asyik dengan gagasan desain sederhana yang pas banget dengan fitur yang tersedia di Powerpoint.
Harus diakui bahwa produk desain memiliki sifat black-box, artinya orang lain akan masa bodo dengna peralatan yang dipakai, yang penting itu hasilnya. Maka, saya juga nggak terlalu ambil pusing jika dikatakan cupu karena lagi-lagi Powerpoint, lagi-lagi Powerpoint. Toh, yang utama, saya asyik dengan ruang kreasi yang penuh kesederhanaan di dalam Powerpoint :)







