#EkspedisiKinabaluBrunei Eksplorasi Pusat Kota Kinabalu [1]

Secuil dokumentasi saat berkenala di pusat Kota Kinabalu, tepatnya area kantor pemerintahan. Kalau di sini, istilah yang digunakan adalah Pusat Bandaraya. Saya kemari seusai hari pertama presentasi ISCAIE [27/4] dengan kondisi badan masih belum sehat. Sebetulnya sih masih sempoyongan demam, bahkan saya dalam durasi waktu tertentu saya harus menenggak obat batuk. Well, nikmati saja perjalanan ini.


Sebuah tugu yang didedikasikan untuk tentara-tentara Australia
Lho, kenapa ada Australia, bukankah sejarahnya Sabah [negara bagian yang menaungi Kota Kinabalu] hanya pernah diduduki oleh Inggris dan Jepang, heheee

Sebuah gerbang yang menampilkan corak menarik walau sederhana. 

Tampak depan kantor pemerintahan Kota Kinabalu dimana dua bendera berkibar, yaitu bendera Sabah dan bendera Malaysia.
Bagi yang tidak tinggal di Aceh maupun DI Yogyakarta, pemasangan dua bendera memang bukan hal yang lazim di Indonesia. 


#EkspedisiKinabaluBrunei Seaview yang Memang View-nya ber-Sea


Alasan saya memilih tempat penginapan ini sederhana, suasananya yang 'cozy'. Bahkan saat saya ceritakan ke istri saya, beliau takjub dengan fitur canggih tempat menginap yang 'eksentrik' ini. Sebetulnya, model kaman kapsul ini bukan barang baru di dunia pariwisata, saya saja yang baru berkesempatan menjajalnya. Keunggulan apa yang ditawarkan model kamar kapsul ini? Pertama, privasi yang kuat lantaran akses masuk kamar dibatasi walaupun ada kapsul-kapsul lain di kamar kita. Praktis kita tidak perlu risih saat ingin istirahat dengan tenang maupun memang ingin sendiri. Kedua, tingkat keamanan relatif meningkat. Tentu saja, dibandingkan dengan kamar model asrama. Walau demikian kewaspadaan harus tetap digalakkan hehee.

Tampak luar kapsulnya

Sebagaimana namanya, yaitu Seaview Hostel, hostel ini menyediakan panorama laut yang sangat jelas melalui akses jendela. Praktis hanya sebuah gedung pasar yang menghalangi fisik gedung ini dari pinggir laut persis. Namun, gedung itu bisa diabaikan lantaran hostel ini berlokasi di lantai 4 [eh empat atau lima ya...] sehingga tidak terhalangi si gedung. Ruang tamu dan ruang kecil untuk menyeterika dibiarkan menghadap langsung ke laut. Ini menjadi poin plus lantaran cocok bila kita untuk relaksasi pikiran namun jengah dengan suasana tertutup di kapsul.

Pemandangan sembari menikmati proses menyeterika hehee

Sebagaimana saya singgung di paragraf sebelumnya, hostel ini berlokasi di lantai 4 di sebuah gedung [yang saya tidak tahu namanya hehee]. Di sinilah tantangan yang saya temui untuk bisa mencapai hostel ini. Saya perlu mengitari gedung yang ternyata tersusun atas berbagai komponen. Mulai dari pasar dan restoran di lantai dasar, tempat parkir mobil di beberapa lantai, hingga perkantoran. Rasanya hampir sejam dan lima kali saya bertanya mengenai keberadaan hostel ini ke lima orang berbeda dengan jawaban yang berbeda. Padahal hostel ini memiliki rating cukup bagus sehingga saya asumsikan populer pula. Ternyata eh ternyata untuk menuju hostel ini, carilah pintu lift persis di pinggir jalan dengan papan 'agak kecil' bergambar logo si hostel. Fuihhh wkwkwk..

Kalau yang di 'sono' tuh nggak masuk anggarannya hehee

Sebagaimana hostel pada umumnya, tidak ada sarapan sekelas nasi, hanya roti berselai. Tidak perlu khawatir karena ada pasar dan kios di sekitar gedung ini dengna harga relatif terjangkau, termasuk kafe kopi Starbucks. Harga kapsulnya ada di rentang 150-an s.d. 200 ribu, terjangkau lah hehee..

#EkspedisiKinabaluBrunei Antara Demam dengan Harus Maju Jalan

Sempat menginap satu malam di Bandara Soekarto Hatta [25/4] dilanjutkan menanti siang di Bandara KLIA keesokannya, ini adalah salah satu perjalanan penuh rintangan yang pernah saya lalui. Sederhana, kondisi fisik saya mendadak tumbang lantaran demam yang entah bagaimana ceritanya. Sepertinya sih lantaran pada beberapa hari sebelumnya, saya 'lembur' di laboratorium untuk mengerjakan naskah paper dalam rangka Studi Mandiri 3. Memang, rencana sepekan lebih di Malaysia [dan insyaAllah Brunei] membuat saya otomatis harus menyelesaikan segala bentuk tanggung jawab perkuliahan [termasuk SM3] lebih awal.

Sampai di Bandara Internasional Kinabalu menjelang Maghrib, saya tidak punya opsi lain kecuali segera masuk ke hostel dan merevisi rencana jalan-jalan yang sudah disiapkan jadwalnya hehee. Tidak apalah, ada agenda yang lebih prioritas. Malah, kudapan yang saya peroleh dari maskapai sewaktu di pesawat pun hanya saya masukkan ke tas lantaran lidah terasa pahit untuk mengunyah makanan.



Ngomong-ngomong, bandara ini ukurannya melebihi [walau sedikit] dari Bandara Internasional Minangkabau, Kota Padang Panjang. Relatif ramai karena memang Kota Kinabalu terkenal sebagai wisata yang cukup 'ramah' bagi turis asal Asia Timur. Selain itu, Kota Kinabalu juga terkenal dengan gunungnya yang sangat melegenda untuk didaki. Alhasil, bandaranya pun harus layak dan mampu mengakomodasi arus keluar masuk. Yang menarik, di paspor saya sebuah cetakan stempel terpampang jelas 'Enter Sabah on' diikuti tanggal saat itu. Bingung juga, walau nantinya ada kisah yang lebih menggelikan lagi.

Sebagaimana saya tayangkan foto di atas, suasana pemandangan bukit memandakan bahwa bandara ini berlokasi agak menepi dari pusat kota. Untuk menuju kota, berbagai opsi transportasi tersedia. Bus menuju dan dari pusat kota melayani hampir setiap jam. Taksi luring maupun daring juga ada. Berjalan kaki, entah, yang pasti fisik saya jelas tidak memungkinkan untuk itu

10 hari itu

Ada pendapat bahwa 10 hari pertama Dzulhijah lebih utama dari 10 hari terakhir Ramadhan. Namun, ada yang berpendapat 10 hari terakhir Ramadhan lebih utama dari 10 hari pertama Dzulhijah. Ada pula yang berpendapat bahwa 10 hari terakhir Ramadhan lebih utama untuk konteks malam, sedangkan 10 hari pertama Dzulhijah lebih utama untuk konteks siang. Wallahualam...

Yang lebih kritis ternyata bagaimana diri kita sendiri memanfaatkan keberkahan dan "impact factor" dari waktu-waktu spesial tsb. Semoga diberi usia, kesadaran, dan kekuatan utk banyak beramal ^^

#AkhirnyaTahapProposalJuga