Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Sebuah Refleksi

 Dalam tiap akhir sebuah periode/momen (misalnya akhir tahun kalender, akhir Ramadhan, lebaran, masa bakti, dll), saya sering merenungkan apa yang sudah tidak ada lagi. Salah satunya tentang siapa saja yang tidak bisa lagi kita jumpai karena beliau-beliau sudah tutup usia. Ada keluarga, kerabat, guru, maupun kenalan lainnya.

Kepergian mereka sepatutnya jadi refleksi berapa lama lagi waktu yang tersedia bagi kita yang masih hidup sekaligus bekal apa yang bisa kita ais dalam sempitnya waktu. Semoga kepergian orang-orang di tahun ini, tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran bagi kita ...

Tentang Qada dan Qadar

Tidak semua yang menjadi qada dan qadar itu menggembirakan bagi kita secara egoisme (termasuk rezeki, jodoh, dan juga usia). Sikap kita menanggapinya (termasuk porsi ikhtiar maupun tawakal) itulah cerminan iman kita. Pada akhirnya kita harus menyadari dunia ini sekadar permainan yang fana sekaligus ujian menuju akhirat.

Sebuah Kegagalan (lagi) yang lain

Tidak selamanya keberhasilan jadi ganjaran atas upaya yang telah kita perbuat. Boleh jadi, kegagalan adalah label siap menyapa kita di muara perjuangan. Itu konsekuensi yang wajar.

Tidak perlu kecewa terlalu lama, sewajarnya saja. Lekaslah bangkit, lekaslah benahi diri, lekaslah berpeluh untuk jalan menuju misteri keberhasilan yang lain lagi.

Menghargai ...

Menghargai bukan berarti harus membalas dengan nominal tertentu. Tidak semua tindakan harus diganjar dengan finansial, terlebih jika di luar konteks pekerjaan. Wujud menghargai pun luas, bisa berupa berterima kasih, berterima kasih sambil tersenyum, berterima kasih sambil tersenyum dan menyalami, serta lai-lain. Tapi, dari itu semua yang menjadi standar minimalya adalah tidak menyia-nyiakan ataupun menganggap sia-sia bantuan yang orang lain berikan.

Kita tidak tahu apa yang terjadi di balik bantuan orang lain. Boleh jadi, orang itu menyisihkan sebagian finansialnya yang mungkin sudah direncanakan untuk keperluan lain. Boleh jadi, orang itu meluangkan sebagian waktu yang juga mungkin sudah disiapkan untuk agenda lain. Boleh jadi ada pengorbanan lain yang sebetulnya ikhlas. Iya, 'sebetulnya' karena sikap kurang menghargai dapat menyebabkan sikap ikhlas itu tercemar.

Hargailah yang apa orang sudah berikan/lakukan kepada kita dengan layak. Cara kita memperlakukan orang lain [yang kita sebut dengan 'menghargai'] itulah cerminan kualitas diri kita.

Berbenah lah

Berbenah lah... Karena panca indra kita kerap luput menemukan segala problematika yang tak kasat. Yang terlihat, terdengar, ataupun terasa tak bermasalah, bukan berarti benar-benar memang steril dari masalah. Kebetulan saja Allah masih berbaik hati menutupi tingkah maksiat kita, menyamarkan penyakit-penyakit hati kita sekaligus menguji "sampai kapan kita tidak tahu diri"

Ajal di Sekitar

Sekitar tiga bulan ini banyak berita duka menghampiri dan dikabarkan lewat WhatsApp. Beberapa merupakan relasi dari kawan saya. Memang ajal itu sudah ditentukan oleh Allah SWT, bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan kalau ajal [dan juga usia] sudah ditentukan saat kita masih di kandungan. Namun, mengabaikan tanda-tanda ajal di sekitar bukan tindakan yang bijak.

Kita harus mengambil pelajaran dengan mempersiapkan bekal terbaik. Tidak pernah bisa terprediksi ajal itu kapan hadirnya. Sebisa mungkin, kita berupaya agar mati dalam keadaan khusnul khotimah. Sebisa mungkin kita mudahkan urusan kita di akhirat dengan amal sholeh.

29 Ramadhan kali ini

Ini bukan bulan Ramadhan yang sekokoh sebelum-belumnya. Ada banyak ketidaksiapan yang berdampak pada kesempoyongan fisik dan juga batin. Tertatih memang 29 hari ini. Beberapa target nyaris tak tercapai walau harus agak merangkak. Sejumlah target kudu pupus terbatasi waktu dan tenaga. Pelajaran berharga di kemudian hari ^^

Pelajaran dari Kantin

Sebut saja Pak XYZ (etdaah berasa studi kasus tesis), beliau adalah salah satu pengisi kantin yg aktif. Aktif dalam arti tidak hanya diam menanti minat orang-orang memesan di kiosnya, namun mendatangi orang satu demi satu, meja demi meja. Tanpa canggung tapi tetap sopan gayanya. Begitulah karakter orang yang memiliki kesungguhan menjemput rezeki. Sebuah teladan untuk lebih giat dalam berikhtiar

Ada yang Tidak Beres

Ada yang tidak beres dengan hati
Saat bergulat nyaris mati mengejar dunia
Padahal sudah tahu gerlapnya panggung sandiwara
Namun berlagak harap maklum

Ada yang tidak beres dengan kalbu
Saat menunda asupan nutrisi rohani
Saat sengaja mempercepat durasi sujud
Dan terburu-buru ibadah tanpa kualitas

Ada yang tidak beres dengan pribadi
Saat tidak mampu berpihak pada ibadah
Saat tiap menit hanya bermakna 60 detik
Namun alfa dalam menabung amal

Ada yang tidak beres dengan masa depan
Saat khawatir tidak meraih rezeki
Toh distribusi sudah Illahi bagikan
Padahal Illahi yang Maha Berkehendak kerap kita pintai iba

Tapi ada yang beres
Saat sadar tentang ketidakberesan tersebut
Dan berbulat hati bertekad murni perbaiki diri

Tentang Tawadhu

Salah satu yang membuat hidup ini nyaman adalah tawadhu.
Jadi kalau hidup kita gelisah tidak enak, salah satu penyebabnya adalah tawadhu kita belum bagus.
Tidak cukup kita memperbanyak ilmu, memperbanyak amal, tidak cukup. Kita harus memeriksa penghancur amal kita.
Jauh lebih disukai dosa yang ditaubati daripada amal yang takabur.

Orang yag tawadhu hatinya tunduk kepada syariat Allah
Orang yang tawadhu mennyukai saran dan kritik sepedas apapun 
Orang yang tawadhu tidak meremehkan orang lain dalam bentuk apapun
Orang yang tawadhu itu kokoh, seperti pohon yg akarnya menghujam ke tanah, ditempas angin diterpa badai ya 'ajeg we'

Kutipan nasihat Aa Gym

Hindari Kebermegah-megahan

Surat At-Takāthur merupakan pengingat tentang bahaya hidup yang bermegah-megahan. Hidup demikian diwujudkan berupa perilaku berfoya-foya, membeli yang tidak perlu, serta minim atau bahkan nir sedekah.

[1] Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, [2] sampai kamu masuk ke dalam kubur. [3] Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), [4] dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. [5] Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, [6] niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, [7] dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. [8] kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

Ngeri 'kan konsekuensi atas perilaku bermegah-megahan. Awalnya kita lalai, namun ujungnya kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang sudah melalaikan kita. Surat ini merupakan pengingat akan sebuah keniscayaan yang kenyataan memang sulit disanggah. Perilaku berfoya-foya sangat melenakan dengan berbagai kenyamanan duniawi yang sulit ditepis.

Jika dikaitkan dengan ilmu yang saya sempat pelajari, bermegah-megahan merakan pangkal dari banyak masalah. Mulai dari mata kuliah tata kelola teknologi informasi, manajemen proyek teknologi informasi, hingga metodologi penelitian. Semua mata kuliah yang saya pelajari menjelaskan bahwa menciptakan produk, merancang sistem, mengelola proyek, hingga sekedar mengusulkan ide, harusnya berdasarkan kebutuhan. Ya dasarnya adalah kebutuhan, bukan (keinginan untuk) bermegah-megahan.

Contoh sederhana dalam manajemen proyek teknologi informasi yang kesuksesan utama diukur dari tiga hal tepat ruang lingkupnya, tepat anggaran, dan tepat waktu. Sikap bermegah-megahan sudah dipastikan menyebabkan ruang lingkup tidak terkendali, risiko pahit lainnya adalah alokasi anggaran tidak tepat. Ujung-ujungnya kualitas proyek dipertanyakan.

Filosofi Kelapa [1]

Kelapa identik dengan Pramuka bukan tanpa alasan. Kelapa merupakan flora yang mampu 'dieksploitasi' manfaatnya dalam knteks positif secara maksimal. Hampir seluruh organnya bisa bernilai manfaat, khususnya secara ekonomi. Batangnya bisa menjadi kayu yang dipakai industri mebel. Daunnya banyak diburu menjelang lebaran sebagai bungkus ketupat yang sebetulnya sudah jadi hal yang biasa bagi penjaja sate padang ataupun ketoprak, plus menjadi aksesori penanda lokasi resepsi pernikahan. Buahnya saat muda sangat segara sebagai es kelapa muda. Agak tua sedikit, buahnya menjadi bahan baku santan sekaligus minyak kelapa. Dua jenis kulit buahnya pun bisa dimanfaatkan. Kulit berupa sabut bisa menjadi sapu sedangkan kulit versi cangkak bisa jadi perangkat dapur. Barangkali akar kelapa yang masih belum saya ketahui manfaatnya. Saya sendiri belum menjumpai tanaman yang segokil kelapa dalam menghasilkan manfaat.

Begitulah filosofi hidup ala kelapa. Bermanfaat semaksimal mungkin, apapun konteks aktivitas yang kita lakukan haruslah menjadi umber manfaat bagi sekitar. Selaku akademisi, kita punya visi untuk mencerdaskan lewat proses pendidikan yang mengedepankan kualitas. Pendidikan dalam wujud emngajar di sesi perkuliahan tidak sekedar mengisi 'check list', kita perlu mempergunakan sesi tersebut sebagai kesempatan untuk menyebarkan manfaat. Bagaimana menyebarkan manfaat seharusnya/ Sulut menjawabnya secara eksak, namun sebagai gambaran proses pengajaran perlu berorientasi pada tiga hal, [1] gaya ajar yang nyaman oleh pengajar, [2] karakteristik peserta ajar, dan [3] kebutuhan prodi dan tren industri. Jika salah satunya tidak diperhatikan maka manfaat yang dihasilkan bisa berkurang. Misalnya saja dengan mengabaikan karakteristik peserta ajar yang ngantuk setelah sholat Jumat bisa menyebabkan sesi 150 menit dilalui tanpa ada ilmu yang bisa dicerna peserta didik. Sebagai praktisi industri TI, kita juga perlu menyadari bahwa kita punya potensi untuk menyebar manfaat lewat pengetahuan kita yang diperoleh dari berbagai pengalaman di akademik maupun praktisi lainnya. Eksplorasi kesempatan itu.

Menyebar manfaat memang tidak selalu berbanding lurus dengan apresiasi materi yang kita peroleh. Tidak masalah, ada kalanya kita perlu meng-infak-an pengetahuan kita tanpa memedulikan umpan balik materi.

Rmadhan yang Ramai Pilihan [2]

Ramadhan menyodorkan tantangan untuk kita. Jika bisa menahan diri dari hal-hal yang (biasanya) boleh (seperti makan dan minum), tentunya kita bisa menahan diri dari hal-hal yg berlebih-lebihan ataupun hal-hal yg diharamkan/dilarang. Saya tidk bisa menahan diri untuj terhenyak atas ungkapan tersebut yang disampaikan saat kulyum shalat Tarawih di mushola Sukamulya tersebut.

Kenyataannya memang begitu. Sebetulnya yang disampaikan di atas hal yang sangat lumrah. Saat adzan Shubuh berkumandang hingga adzan Maghrib dihelat, saat itu pula segala macam hidangan, baik minuman maupun makanan, menjadi haram untuk dimakan. Padahal hidangan tersebut halal dn bersih. Tapi komitmennya dalah menahan diri untuk tidak mengonsumsinya. Dan pada kenyataannya kita sanggup menahan diri tidak makan dan minum (kalau di Indonesia) sekitar 13-14 jam. Padahal makan dan minum adalah kebutuhan primer manusia. Yang KTP Islam tapi tidak puasa tanpa alasan syar'i, tidak saya komentari.

Tapi yang jadi menarik adalah kita kerap kurang mampu mengendalikan diri setlh adzan Maghrib bergulir untuk sesuatu yag awalnya berstatus kebutuhan primer. Sebagai contoh, fenomena "ifthar explosion"alias buka puasa dengan hidangan berlebihan. Saking berlebihannya apa yang ada di meja lebih mirip etalase rumah makan pdang dan warteg, baik dari sisi porsi maupun beragaman kontennya. Apakah salah? Coba evaluasi niat. Evaluasi juga dampak yag terjdi. Apakah niatnya untuk memperbanyal senyum saudara kita yang menjajakan kudapan ifthar? Apakah niatnya menyenangkan kerabat atau saudara? Apakah untik menunjukka keunggulan status ekonomi? Apakah perilaku demikian menimbulkan efek negatif misalnya (meminjam istilahnya si VP) polarisasi finansial di sisi minus lantaran gravitasi pengeluaran membengkak? Apakah di saat kita berhampur ifthar eh di tempat lain masih gersang nasi dan lauk berbukanya? Begitu juga dengan lonjakan pembeli busana menjelang idul fitri yang heboh dengan diskonnya mendorong kita berbelanja busana melebihi rencana dan kebutuhan semula.

Fenomena yang mirip juga terjadi menyangkut perilaku berlebihan pada kebutuhan non-primer. Kita ternyata masih gampang untuk berboros ria terhadap segala kebutuhan yang sifatnya sekunder bahkan tersier. Definisi kebutuhan sekunder dan tersier meliputi di luar sandanag, pangan, dan papan. Dengan gempuran media sosial serta efek filter gawai menyebabkan banyak produk yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan tapi malah dibeli. Sebagai contoh aksesori gawai yang tidak terkait konteks akdemik atau profesi, nongkrong-nonfkrong tidak produktif, hingga perabot yang sebetulnya sudah ada barang serupa.

Kalau menilik rukun puasa serta syarat sahnya puasa,memag perilaku berlebihan tidak membatalkan puasa. Tapi niat kitapuasa 'kan tidak cima "yang penting nggak batal". Harus ada hikmah yang dipetik, salah satu pola hidup sederhana yang efisien, tapi buka pelit garis keras lho ya. Apalagi kita perlu mengingat bahaya perilaku bemegah-megahan yang diulas pada At Takatsur.

Mari kita (terutama saya) introspeksi diri. Jika bisa menahan diri untik yang primer, mengapa tidak bisa menahan diri untuk yang lainnya?

Bagi yang Mengimplementasikan SAP

Rumah tangga yang ideal banyak orang sebut sebagai dongeng. Bahkan rumah tangga yang dibangun oleh Khalifah Ali dan Fatimah tidak semua sependapat bahwa inilah kisah sukses rumah tangga yang ideal. Barangkali definisi ideal tiap orang berbeda. Tidak perlu memperdebatkan definisi ideal karena bagi tiap individu punya perspektif yang berbeda. Jika ingin didebatkan, rasaya keburu Lazio meraih scudetto [eh ternyata musim depan beneran aamiiin]. Saya tidak bermaksud memperkarakan definisi ideal. Yang ingin saya ulas adalah fenomena yang kerap dianggap sebagai pengganjal rumah tangga seindah dongeng, yaitu SAP.



SAP ini bukan aplikasi Enterprise Resource Planning yang punya singkatan lain 'Setan Aja Puyeng' [buat yang ash mau komplain nilai tugas lab e-Buss, langsung ke Bu Made ya]. SAP di sini adalah Suami Akhir Pekan.

Hah emang ada ya/ Ini suami atau Tugas Pendahuluan? Kok adanya cuma akhir pekan? Jangan konotasikan negatif SAP dulu ya gaes. Akhir Pekan di sini maksudnya penampakan fisik. Ada beberapa pasangan suami-istri karena satu dan lain hal menyebabkan mereka tidak bisa berjumpa fisik tiap hari. Biasanya hal ini terjadi karena suami dan istri memiliki rutinitas tengah pekan yang 'agak mengharuskan' terpisah lokasi geografis.  Saya belum menemukan jurnal terindeks Scopus yang mengidentifikasi sebab-sebab SAP. Tapi dari hasil observasi dan pengalaman empiris, SAP terjadi karena

  • Suami kerja/kuliah, istri juga kerja/kuliah, masing-masing terikat kewajiban hadir di kantor yang lokasi terpisah. Misalnya si suami dapat proyek di Nairobi sedangkan istri sedang S2 di Madagaskar, tentu bukan hal yang mudah keduanya bisa menjalani rumah tangga yang tidak terpisah fisik. Eh tapi kalau Kenya dan Madagaskar sih kayaknya ketemunya 1-3 bulan sekali hohoo
  • Suami kerja/kuliah, istri ada agenda mengasuh anak, kebetulan si suami terikat wajib hadir di kantor beda kota dengan istri, sementara itu istri tidak dibawa suami ke kota tempat kerja. Misalnya si suami sedang kuliah S3 di Pyongyang Sarajevo dimana membawa anak yang masih bayi serta istri bukan hal yang mudah.
  • Silakan kalau ada kasus if-then lainnya 


Fenomena ini saya observasi terjadi sejak saya memasuki dunia kerja medio 2013 di Jakarta Selatan. Saat itu di kantor memang ada 'fraksi' Bandung yang semuanya ini laki-laki, mulai dari tipe yang baru dilantik jadi suami, suami dengan putra/putri, suami dengan tampang masih lugu, suami dengan tampang bapak-bapak banget. Senin pagi mereka hadir ke kantor dengan wajah 'kosong' lantaran baru saja berpisah dari istri dan/atau anak-anak mereka. Mereka menjalani masa-masa yang berat, apalagi yang tiap hari utak-atik statistik harga bawang. Hingga hari Jumat tiba, hari yang penuh berkah dimana bada Jumatan tas mereka sudah 'parkir' di warkop sebelah dan permain 'tiki-taka' menunggu jam pulang dimana akhirnya disambut suka cita. Mungkin sembari menyetel lagu Dance Company 'Papa Rock n Roll'. Entah ada kaitannya ada tidak, saya juga sempat dan ternyata masih mengalami SAP walau tidak seekstrim harus 5 hari kerja. Tidak harus artinya mungkin kurang mungkin lebih.

Menjalani SAP itu bukan hal yang mudah dan tentu jika bisa memilih ya mending nggak. Seperti SAP yang ERP, SAP yang artinya 'Suami Akhir Pekan' juga susah diimplementasikan. Mengapa tidak mudah

  • Berkurangnya kedekatan 'telinga'. Yang lebih baik adalah suami menjadi orang paling dekat telinganya dengan istri sehingga konektivitas obrolannya lebih lancar, suami pun menjadi orang yang paling didengar istri karena bisa memberi arahan secara langsung, btw kedua contoh ini berlaku juga istri ke suami lho ya. 
  • Berkurangnya kesempatan ayah dengan anak. Tidak semua anak [terutama saat beranjak remaja] bisa memahami mengapa si ayah porsinya sedikit dalam mendidik dirinya. Apalagi jika si anak itu laki-laki, model laki-laki dewasa yang mengajarinya menjadi suami dan ayah jadi setengah-setengah. Dan bagi istri pun, mereka manusia yang punya ambang lelah dalam mengasuh anak yang mana suami diperlukan untuk ikut mengasuh si anak. Jangan sampai sosok ayah hanya jadi tukang tanda tangan di rapor.
  • Memberi celah curiga. Setan punya peluang untuk mengompori si suami atau istri karena komunikasi berkurang. Misalnya si suami jadi berpikir 'pokoknya keuangan beres, nggak boleh ada piutang' atau mungkin si istri 'jangan-jangan suamiku mencari istri PLH[Pelaksana Harian] dengan cara nikah siri'.
  • Ribet di finansial. Kalau kesulitan-kesulitan sebelumnya di atas sangat subjektif dan 'ngawang', yang berikut ini bisa dijelaskan dengan hitung-hitungan. Ada dua atap rumah/kontrakan/kosan yang memerlukan biaya. Ada pula ongkos naik bus/kereta/malah pesawat yang dalam sebulan harus dihitung empat-lima kali. Artinya ada pengeluarkan lebih besar.
  • Istri dituntut mandiri. Dengan suami yang fisiknya akhir pekan, tentu istri dituntut bisa mengatasi masalah tanpa masalah di tengah pekan. Motor mogok, TV keluar asap, gas elpiji habis, semua harus diurus tanpa menunggu akhir pekan walau bisa juga menggunakan strategi minta tolong orang hohoo. 


Lantas apakah SAP bagus diimplementasikan
Sangat tergantung kasusnya dan yang lebih utama apa sih sebetulnya yang menyebabkan SAP itu terjadi.

Kalau yang terjadi adalah si suami/istri sedang kuliah di luar negeri dimaa pasangan dan anak agak susah dibawa, maka SAP bisa jadi pilihan masuk akal. Toh kuliah di luar negeri harusnya tidak berlama-lama macam Rangga meninggalkan Cinta ratusan purnama.

Kalau yang terjadi adalah si suami dan istri masing-masing kerja di kota berbeda, hmmm. Sebaiknya ditentukan rencana SAP-nya mau sampai kapan. Kadang ada satu momen yang sudah disepakati keduanya untuk mengakhiri SAP diantara mereka. Misalnya saat istri hamil. Bisa juga tetap SAP dijalani tapi sembari salah satu merencanakan undur diri dari tempat kerjanya, mungkin lanjut cari kerja di kota pasangannya.

Kalau motif SAP adalah 'finansial yang lebih menjanjikan' [biasanya si suami yang merantau], sebaiknya ditetapkan mau sampai kapan SAP-nya. Misalnya ditargetkan SAP dimana harus ada tabungan untuk beli rumah, sehingga saat rumah dibeli maka selesai sudah masa-masa SAP. Jika motif SAP terkait penghasilan yang lebih menggiurkan tapi tidak ada target maka pasangan ini akan terjebak SAP bahkan ketika armada bus satu berganti satu generasi. Harus ada titik pemberhentian.

Pernikahan itu sebetulnya punya siklus. Awal nikah, agak lama pernikahannya, istri hamil, anak lahir s.d. 1 tahun, anak 1 s.d. 5 tahun, dst. Tidak semua fase cocok dijalani dengan SAP. Saat awal nikah, SAP akan memperlambat si suami dan istri saling mengenal lebih dalam. Saat sudah lama menikah/udah saling kenal tapi istri belum hamil, kondisi ini masih aman untuk SAP. Tapi saat istri hamil usia 30-an minggu maka sebaiknya suami stop dulu SAP-nya atau paling tidak dirinya tetap ber-SAP tapi posisi badan siap langsung pulag ke istri kalau terjadi apa-apa, ya itulah suami siaga. Saat anak sudah bisa mengenal baik sosok ayah, sebaiknya ayah tersebut mempertimbangkan dii untuk menghentikan program SAP-nya.


Saya menulis bukan karena saya sempurna, tidak begitu. Saya menjalani SAP pun dengan banyak hambatan. Tulisan ini sebagai pelecut untuk memperjelas arah hidup karena kita ini SAP untuk mempertahankan hidup, bukan hidup untuk mempertahankan SAP.

Simplify your Paradigm

Hidup itu sebetulnya sederhana, "menjadi orang baik berbuat baik dengan cara baik untuk tujuan baik, pangkalnya ibadah".  Simpel demikian. Jika ada hal-hal yang kurang berkenan, kembalikan saja makna "ibadah" dimana yang diharapkan adalah ridho Allah, abaikan saja yang jadi penilaian orang lain. Tentu kita teyap perlu meni fkatkan kemampuan kita, tentu masukan tetap kita dengarkan, tapi muaranya bukan mencari muka ataupun pujian orang lain.

tentang Empat Hal

Ada empat hal yang memengaruhi kualitas ibadah kita. Hal ini dipaparkan oleh Pak Erwin dalam sebuah diskusi ngeriung bareng di Bandung pekan lalu. Empat hal tersebut sebagai beriktu dengan sedikit penambahan oleh saya

  • Waktu, ada waktu yang 'mustajab' dalam berdoa, antara lain sepertiga terakhir malam, menjelang buka puasa. Harus diakui bahwa dua waktu tersebut sangat melenakan. Sepertiga terakhir malam rasanya lebih ramai di depan layar televisi, misalnya saya yang sengaja tidak sengaja nonton Barca tanding hehee. Menjelang buka puasa pun di hari biasa bukan hal yang mudah diwujudkan sebagai momen berdoa yang pas, malah puasanya pun belum tentu. Kini di bulan Ramadhan, kedua waktu tersedia 'menganga' jelas. Sepertiga terakhir malam lazim digunakan untuk sahur, sedangkan menjelang buka puasa secara 'default' kita dalam kondisi puasa, tinggal perkara apa yang diingat saat menjelang buka puasa. 
  • Tempat, ada tempat-tempat yang 'mustajab' untuk berdoa, antara tiga masjid yang spesial, yaitu Masjidil Haram, Masjidil Aqsa, dan Masjidil Nabawi. Kalau dari sisi tempat, memang geografis Indonesia jauh sehingga relatif sulit kita meraih aspek ini, kecuali yang berkesempatan haji/umroh serta ziarah ke Palestina. 
  • Berapa banyak yang melakukan ibadah. Ada ganjaran yang istimewa saat kita berupaya untuk menjalankan ibadah tatkala orang-orang lain sedang lalai.
  • Niat, faktor internal yang tidak terbantahkan. 100 persen menjadi kesempatan kita yang sangat menentukan kualitas ibadah kita. Sayangnya niat yang mulia kerap terseret ancaman riya. Semoga amalan kita bisa optimal nilai ibadahnya dengan niat yang lurus.


Mengaktifkan Puasa

Puasa itu ibadah yang unik. Ketika ibadah lainnya penuh dengan 'prosedur' dan 'mekanisme' sebagai jabaran dari rukun, maka puasa sangat sederhana. Rukun sholat diawali dengan niat, dilanjutkan takbir s.d. salam. Sementara itu, zakat mal punya hitung-hitungan dan kuota yang rumit. Tapi, rukun puasa hanya ada dua, yaitu niat serta tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Singkat cerita, seseorang yang berniat puasa sebelum adzan Shubuh lantas hanya tidur seharian di kamar diselingi sholat sesuai jadwal, maka ybs tidak batal puasanya. Ilustrasi ini menjelaskan mengapa puasa bisa disebut sebagai ibadah yang sifatnya pastif.

Karena itulah, kita harus inisiatif mencari aktivitas yang melonjakkan nuansa Ramadhan, bulan yang spesial. Karena itulah, kita harus sadar bahwa puasa itu buka sekedar mencentang kewajiban, tapi mengoptimalkan kesempatan ibadah sebaik-baiknya. Karena itulah, kita harus 'lapar' mencari sumber ilmu sebagai nutrisi iman yang hakikatnya naik turun. Karena itulah, kita jangan mau kalah dari rasa malah dan pewe.

Catatan Kecil tentang Ikhlas

Ikhlas artinya murni. Karena itulah, dalam surat Al Ikhlas, kontennya memaparkan kemurnian ajaran tauhid. Tidak ada campuran yang mengusik orisinalitas dalam konteks murni. Ikhlas merupakan sifat yang sangat sulit diwujudkan karena manusia sangat rapuh dan mudah direcoki berbagai penyakit hati, misalnya takabur, kufur, dll. Ikhlas merupakan musuh sejati koalisi dari riya, sombong, dkk.

Ciri ciri seseorang tidak ikhlas dalam beribadah:
- Orang tersebut mengharapkan pujian dalm beribadah
- Orang tersebut sering merasa kecewa dalam hidupnya bila tidak dihormati atau dipuji
- Orang tersebut suka mengumbar amal kebajikan
- Orang tersebut mudah ujub atau sombong, suka merendahkan orang lain

Upaya agar kita dapat beribadah dengan ikhlas
- Yakinlah sekecil apapun kebaikan akan dilihat, diketahui, dan dinilai Allah
- Sembunyikan amalan kita
- Jangan pedulikan pandangan orang
- Jangan mengharapkan popularitas

Disarikan dari kultum tarawih di Mesjid UI Depok

Modifikasi Niat dalam Jual Beli Menjelang Iftar

Kolak singkong, kolak pisang, candil, bubur sumsum, bubur delima, es goyobod, dan tertinggal gorengan. Berbagai kudapan yang jarang kita konsumsi di luar bulan Ramadhan. Entah bagaimana ceritanya tren ini, tapi sejauh ini saya belum menemukan orang yang rugi lantaran fenomena ini. Tiap sore pun, senyasar-nyasarnya kita pasti menemukan penjaja kudapan tadi. Harganya relatif ferjangkau, maklum saja dengan stok yang berlimpah dan penjual yang saling bersaing, agak mustahil mematok harga selangit.

Yang menarik adalah niat kita sendiri. Pada dasarnya, kita "mungkin" menganggap proses transaksi yang kita lakukan sekedar jual beli. Kita memberikan uang, mereka menyerahkan produknya, udah begitu kan. Secara teknis riil memang seperti itu. Tapi jual beli yang kita lakukan sebetulnya berpotensi menjadi ladang pahala.

Saat bertransaksi niatkanlah untuk mencari makanan/minuman yang halal dan bersih bagi diri sendiri dan keluarga kita. Ini adalah upaya memenuhi perintah Allah dan melindungi keluarga kita dari makanan/minuman yang haram ataupun kotor. Pun bagi penjual, jika punya niat kuat untuk menghidangkan makanan/minuman, pertegas bahwa hal ini adalah bentuk dari komitmen kita kepada perintah Allah.

Saat bertransaksi pun kita perlu melapangkan dada. Mungkin saja suami/istri kita, anak-anak kita, atau kerabat lainnya merengek kudapan tertentu. Pilihan bagi kita, menurutinya dengan senang hati ataukah dengan nggerundel (apa ya Bahasa Indonesianya?). Ohya asumsinya kudapan tersebut halal dan bersih. Jika dituruti dengan sepenuh hati, ini  bisa menjadi ibadah yang menyenangkan pasangan kita, keluarga kita, dan kerabat kita. Ada banyak pundi amalan di sini. Opsi yang kedua, yaitu nggerundel, kira-kira dapat apa ya?

Saat bertransaksi juga, ada kesempatan bagi kita untuk beramal. Caranya? Niatkan uang dalam transaksi itu sebagai upaya kita membantu ekonomi si penjual. Boleh juga dengan menambahkan nominalnya. Sudah hafal tentunya sebentar lagi tiap orang tua bakal menghadapi banyak kebutuhan (mulai dari baju untuk anak, dll). Jika kita pandai memanfaatkan momen transaksi ini dengan niat membantu ekonomi si penjual, insyaAllah ada ganjaran tersendiri.

Semua kebenaran hanya milik Allah. Bila ada salah kata dan salah sudut pandang, itu murni dari saya.

____KRLmenujuStasiunKramat___

Ramadhan Sebentar lagi

Kurang sebulan lagi Ramadhan akan tiba. Bulan dengan durasi seperduabelas dari satu tahun hijriah. Bulan yang selalu dirindukan dan kerap membuat muslim merasa kehilangan saat menjelang usai tiap tahunnya. Bulan yang sarat hikmah lewat pengampunan oleh-Nya hingga "kado" bagi mereka yang berkomitmen pada-Nya.

Yuk siapkan rencana untuk menuju Ramadhan yang jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Mari benahi diri dengan mengonsumsi nutrisi kalbu dari berbagai sumber tentang hikmah Ramadhan serta bagaimana cara menyambutnya. Mari susun target yang "menarik" dan realistis sebagai wujud kesungguhan kita dalam mengisi Ramadhan nanti. Mari kita latih fisik dan batin kita menghadapi segala ujian (yang secara umum sudah terbayang berdasarkan pengalaman sudah-sudah. Tahun ini pasti ada tantangan baru. Maka, jangan sampai beban berlipat lanyaran "penyakit lama" tidak diantisipasi.

Kita tahu (agaknya) sulit mengisi Ramadhan dengan aktivitas yang sempurna. Selalu ada rintangan, tentu itu. Tapi, tidak bisa sempurna bukan alasan untuk tidak mempersiapkan Ramadhan yang (minimal) jauh lebih baik dari sekian Ramadhan yang lalu.

Usia siapa yang tahu, barangkali nanti adalah Ramadhan terakhir kita. Siapa yang tahu kuga kalau usoa kita tidak mencapai Ramadhan nanti. Biarlah usia itu kehendak Allah, domain kita adalah berupaya mempersiapkan dan melakukan yang terbaik.