Bagi yang Mengimplementasikan SAP

Rumah tangga yang ideal banyak orang sebut sebagai dongeng. Bahkan rumah tangga yang dibangun oleh Khalifah Ali dan Fatimah tidak semua sependapat bahwa inilah kisah sukses rumah tangga yang ideal. Barangkali definisi ideal tiap orang berbeda. Tidak perlu memperdebatkan definisi ideal karena bagi tiap individu punya perspektif yang berbeda. Jika ingin didebatkan, rasaya keburu Lazio meraih scudetto [eh ternyata musim depan beneran aamiiin]. Saya tidak bermaksud memperkarakan definisi ideal. Yang ingin saya ulas adalah fenomena yang kerap dianggap sebagai pengganjal rumah tangga seindah dongeng, yaitu SAP.



SAP ini bukan aplikasi Enterprise Resource Planning yang punya singkatan lain 'Setan Aja Puyeng' [buat yang ash mau komplain nilai tugas lab e-Buss, langsung ke Bu Made ya]. SAP di sini adalah Suami Akhir Pekan.

Hah emang ada ya/ Ini suami atau Tugas Pendahuluan? Kok adanya cuma akhir pekan? Jangan konotasikan negatif SAP dulu ya gaes. Akhir Pekan di sini maksudnya penampakan fisik. Ada beberapa pasangan suami-istri karena satu dan lain hal menyebabkan mereka tidak bisa berjumpa fisik tiap hari. Biasanya hal ini terjadi karena suami dan istri memiliki rutinitas tengah pekan yang 'agak mengharuskan' terpisah lokasi geografis.  Saya belum menemukan jurnal terindeks Scopus yang mengidentifikasi sebab-sebab SAP. Tapi dari hasil observasi dan pengalaman empiris, SAP terjadi karena

  • Suami kerja/kuliah, istri juga kerja/kuliah, masing-masing terikat kewajiban hadir di kantor yang lokasi terpisah. Misalnya si suami dapat proyek di Nairobi sedangkan istri sedang S2 di Madagaskar, tentu bukan hal yang mudah keduanya bisa menjalani rumah tangga yang tidak terpisah fisik. Eh tapi kalau Kenya dan Madagaskar sih kayaknya ketemunya 1-3 bulan sekali hohoo
  • Suami kerja/kuliah, istri ada agenda mengasuh anak, kebetulan si suami terikat wajib hadir di kantor beda kota dengan istri, sementara itu istri tidak dibawa suami ke kota tempat kerja. Misalnya si suami sedang kuliah S3 di Pyongyang Sarajevo dimana membawa anak yang masih bayi serta istri bukan hal yang mudah.
  • Silakan kalau ada kasus if-then lainnya 


Fenomena ini saya observasi terjadi sejak saya memasuki dunia kerja medio 2013 di Jakarta Selatan. Saat itu di kantor memang ada 'fraksi' Bandung yang semuanya ini laki-laki, mulai dari tipe yang baru dilantik jadi suami, suami dengan putra/putri, suami dengan tampang masih lugu, suami dengan tampang bapak-bapak banget. Senin pagi mereka hadir ke kantor dengan wajah 'kosong' lantaran baru saja berpisah dari istri dan/atau anak-anak mereka. Mereka menjalani masa-masa yang berat, apalagi yang tiap hari utak-atik statistik harga bawang. Hingga hari Jumat tiba, hari yang penuh berkah dimana bada Jumatan tas mereka sudah 'parkir' di warkop sebelah dan permain 'tiki-taka' menunggu jam pulang dimana akhirnya disambut suka cita. Mungkin sembari menyetel lagu Dance Company 'Papa Rock n Roll'. Entah ada kaitannya ada tidak, saya juga sempat dan ternyata masih mengalami SAP walau tidak seekstrim harus 5 hari kerja. Tidak harus artinya mungkin kurang mungkin lebih.

Menjalani SAP itu bukan hal yang mudah dan tentu jika bisa memilih ya mending nggak. Seperti SAP yang ERP, SAP yang artinya 'Suami Akhir Pekan' juga susah diimplementasikan. Mengapa tidak mudah

  • Berkurangnya kedekatan 'telinga'. Yang lebih baik adalah suami menjadi orang paling dekat telinganya dengan istri sehingga konektivitas obrolannya lebih lancar, suami pun menjadi orang yang paling didengar istri karena bisa memberi arahan secara langsung, btw kedua contoh ini berlaku juga istri ke suami lho ya. 
  • Berkurangnya kesempatan ayah dengan anak. Tidak semua anak [terutama saat beranjak remaja] bisa memahami mengapa si ayah porsinya sedikit dalam mendidik dirinya. Apalagi jika si anak itu laki-laki, model laki-laki dewasa yang mengajarinya menjadi suami dan ayah jadi setengah-setengah. Dan bagi istri pun, mereka manusia yang punya ambang lelah dalam mengasuh anak yang mana suami diperlukan untuk ikut mengasuh si anak. Jangan sampai sosok ayah hanya jadi tukang tanda tangan di rapor.
  • Memberi celah curiga. Setan punya peluang untuk mengompori si suami atau istri karena komunikasi berkurang. Misalnya si suami jadi berpikir 'pokoknya keuangan beres, nggak boleh ada piutang' atau mungkin si istri 'jangan-jangan suamiku mencari istri PLH[Pelaksana Harian] dengan cara nikah siri'.
  • Ribet di finansial. Kalau kesulitan-kesulitan sebelumnya di atas sangat subjektif dan 'ngawang', yang berikut ini bisa dijelaskan dengan hitung-hitungan. Ada dua atap rumah/kontrakan/kosan yang memerlukan biaya. Ada pula ongkos naik bus/kereta/malah pesawat yang dalam sebulan harus dihitung empat-lima kali. Artinya ada pengeluarkan lebih besar.
  • Istri dituntut mandiri. Dengan suami yang fisiknya akhir pekan, tentu istri dituntut bisa mengatasi masalah tanpa masalah di tengah pekan. Motor mogok, TV keluar asap, gas elpiji habis, semua harus diurus tanpa menunggu akhir pekan walau bisa juga menggunakan strategi minta tolong orang hohoo. 


Lantas apakah SAP bagus diimplementasikan
Sangat tergantung kasusnya dan yang lebih utama apa sih sebetulnya yang menyebabkan SAP itu terjadi.

Kalau yang terjadi adalah si suami/istri sedang kuliah di luar negeri dimaa pasangan dan anak agak susah dibawa, maka SAP bisa jadi pilihan masuk akal. Toh kuliah di luar negeri harusnya tidak berlama-lama macam Rangga meninggalkan Cinta ratusan purnama.

Kalau yang terjadi adalah si suami dan istri masing-masing kerja di kota berbeda, hmmm. Sebaiknya ditentukan rencana SAP-nya mau sampai kapan. Kadang ada satu momen yang sudah disepakati keduanya untuk mengakhiri SAP diantara mereka. Misalnya saat istri hamil. Bisa juga tetap SAP dijalani tapi sembari salah satu merencanakan undur diri dari tempat kerjanya, mungkin lanjut cari kerja di kota pasangannya.

Kalau motif SAP adalah 'finansial yang lebih menjanjikan' [biasanya si suami yang merantau], sebaiknya ditetapkan mau sampai kapan SAP-nya. Misalnya ditargetkan SAP dimana harus ada tabungan untuk beli rumah, sehingga saat rumah dibeli maka selesai sudah masa-masa SAP. Jika motif SAP terkait penghasilan yang lebih menggiurkan tapi tidak ada target maka pasangan ini akan terjebak SAP bahkan ketika armada bus satu berganti satu generasi. Harus ada titik pemberhentian.

Pernikahan itu sebetulnya punya siklus. Awal nikah, agak lama pernikahannya, istri hamil, anak lahir s.d. 1 tahun, anak 1 s.d. 5 tahun, dst. Tidak semua fase cocok dijalani dengan SAP. Saat awal nikah, SAP akan memperlambat si suami dan istri saling mengenal lebih dalam. Saat sudah lama menikah/udah saling kenal tapi istri belum hamil, kondisi ini masih aman untuk SAP. Tapi saat istri hamil usia 30-an minggu maka sebaiknya suami stop dulu SAP-nya atau paling tidak dirinya tetap ber-SAP tapi posisi badan siap langsung pulag ke istri kalau terjadi apa-apa, ya itulah suami siaga. Saat anak sudah bisa mengenal baik sosok ayah, sebaiknya ayah tersebut mempertimbangkan dii untuk menghentikan program SAP-nya.


Saya menulis bukan karena saya sempurna, tidak begitu. Saya menjalani SAP pun dengan banyak hambatan. Tulisan ini sebagai pelecut untuk memperjelas arah hidup karena kita ini SAP untuk mempertahankan hidup, bukan hidup untuk mempertahankan SAP.

2 Response to "Bagi yang Mengimplementasikan SAP"

Dimas Prabu mengatakan...

Quite interesting kak postnya :)

Saya turut mengalami juga proses SAP ini, bukan sebagai suami tapi sebagai anak. Ayah saya pernah kurang lebih satu setengah tahun menjalani proses SAP karena ibu ditugaskan oleh kantor untuk studi lanjut di Bandung, sementara domisili kami semua di Jakarta. Terlebih lagi karena adik saya tidak mau pindah ke Bandung dan ayah saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan di Jakarta, alhasil hanya saya yang menemani ibu di Bandung.

Karena itu setiap akhir pekan (Jumat malam atau Sabtu pagi), ayah saya selalu bawa adik untuk ngumpulin kami sekeluarga di Bandung. Kemudian hari Senin pagi, ayah dan adik saya pergi lagi ke Jakarta untuk bekerja dan bersekolah. Beberapa orang yang tak tahu kondisi keluarga kami saat itu juga sempat nyinyir sih, nanyain ke ayah saya dimana ibu dari anak2nya (dan kita memang tidak perlu menjelaskan beberapa hal untuk orang yang tidak tahu).

But at least, seenggaknya dalam proses SAP ini saya dan juga adik saya bisa tahu makna jarak, merindu, dan berjuang (halah). Karena kita tidak akan merindu jika tidak ada jarak, dan kita tidak akan berjuang jika kita tidak merindu. Apalagi dengan kondisi saya dan adik saya yang masih umur 6 dan 5 tahun pada saat itu, bisa kebayang rempongnya orangtua saya menjaga kami sekaligus mengerjakan urusannya masing-masing :)

So until now, I always proud of my parents to what they have done to me and my siblings.

Arfive Gandhi mengatakan...

aku pun juga demikian Dim. Sejak lahir s.d. menikah menjadi anak di sebuah keluarga yang SAP-modified. Kenapa moified, karena pernah ayah saya 2 minggu di Jakarta lalu 1 minggu di Tegal, pernah model hari kerja ayah di Jakarta lalu akhir pekan ayah di Tegal.

Tidak berarti jelek, cuma ada risikonya. Salah satu risiko yang kurang diantisipasi adalah aku sebagai anak kurang bisa studi banding ke ayah tentang gimana menjadi sosok suami dan ayah yang baik. Hehee