Alkisah udah hampir 3 bulan ini si suami (yang insyaAllah calon ayah) ini berlarut-larut dalam diskusi seru bersama istri (yang juga insyaAllah calon ibu :) ). Tentang memadukan berbagai kata menjadi sebuah nama yang penuh makna untuk buah hati yang akan kudengar isak tangis perdananya sebentar lagi :)
*anakku sayang, andai kau tahu betapa sulit menentukan nama yang penuh makna bagimu
*apalagi setelah mendengar kisah lugu kawan yang rencana pemberian namanya dirombak total karena jenis kelaminnya tidak sesuai prediksi bulan-bulan sebelumnya
Ada keinginan untuk memadukan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Arab. Tentu pertimbangan sebagai Bangsa Indonesia yang beragama Islam maka akan baik untuk menggunakan dua bahasa itu. Namun jika sudah ditetapkan nantinya, harus ditetapkan pula nama panggilan dimana nama lengkap dan panggilan wajib diverifikasi maknanya di dalam Bahasa Jawa, Aceh, dan Minang. Buat apa? Karena asal-usulnya anak kami nanti dari tiga suku itu maka jangan sampai ada makna negatif di balik arti namanya.
Kembali ke Bahasa Arab,
Ada hal yang patut dicermati dalam memberi nama anak yang menggunakan Bahasa Arab. Pertama Bahasa Arab memakai patokan huruf hijaiyah, sedangkan Bahasa Indonesia memakai acuan huruf lain. Konversi huruf kedua menyimpan kesulitan yang sudah terjadi sejak lama. Bahkan ketika ditetapkan konversi berupa Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K Nomor 158 tahun 1987 - Nomor: 0543 b/u/1987, tetap saja perbedaan cara menerjemahkan masih terjadi.
Sebagai contoh, coba cek saja di kontak HP (yang menggunakan nama lengkap, bukan nama aneh-aneh lho ya). Nama "Muhammad" yang mengacu ke Rasul terakhir, akan ada banyak versi, mulai dari Mohamad, Muchammad, Muhammad, dll. Tidak semua huruf hijaiyah di yang tadinya berjumlah 1 karakter setelah dikonversi tetap 1 huruf. Misalnya "dz", ada kawan yang namanya diawali "Dz", tentu jika disingkat inisialnya, maka yang disimpan adalah D (ingat kasus D-nya DAMRI yang kepanjangan dari "Djawatan"). Ada pula kawan yang namanya "Abdushshabur" karena huruf shod-nya bertasjid. Ada pula rambu-rambu penggunaan huruf "khusus" di luar 26 karakter huruf latin plus tanda baca. Ada kawan yang namanya menggunakan tanda hubung "-" serta apostrof tunggal "'". Tantangan akan timbul saat menuliskan nama melalui LJK. Alhasil faktor-faktor kemudahan penulisan nama di berbagai media juga perlu dipertimbangkan. Tentunya selain rambu-rambu penting lainnya seperti ketentuan jika memakai Asmaul Husna.
Sebenarnya di luar keperluan memberi nama, saya kerap menemui kesulitan untuk mengonversi kata/frase dari Bahasa Arab yang berhuruf Hijaiyah ke huruf latin. Sebagai contoh huruf "ح" (khaf) yang bertransformasi menjadi huruf "ḥ". Nah, di laptop dan hape saya itu nggak ada karakter itu. mw diketik "h" udah diklaim "ه", mau diketik "kh", udah diklaim "خ". Maka tidak heran ada yang menuliskan "Mukhammad", "Muhammad", "Ar Rahman", "Ar Rakhman". Secara pribadi, proses konversi menjadi 2 huruf lebih baik daripada menimbahkan titik, entah di bawah maupun yang macam umlaut.
Konversi Huruf Hijaiyah ke Latin Indonesia
Fenomena Jus Buah di Kawasan Dayko
Hampir 3 bulan berada di Mengger, Bandung Kidul, secara tidak langsung mendorong saya seeing menyusuri kawasan Dayko alias Dayeuhkolot, entah mencari sarapan hingga servis laptop. Di sana ketersediaan fasilitas memang lebih melimpah daripada ke Batununggal maupun Buah Batu. Lantaran sering belanja barang konsumsi ditambah kebiasaan mengamati, maka lama-lama saya jadi penasaran dengan menjamurnya bisnis jus buah.
Jus buah merupakan olahan buah segar yang dikemas dalam gelas plastik. Harganya relatif murah dari 5000 hingga 10.000, tergantung jenis buah yang dipakai. Sebagaimana diulas sebelumnya, fenomena menjamurnya bisnis kedai jus buah menjadi tren di kawasan Dayko.
Apakah laku keras?
Oh tentu, jika tidak maka sudah pasti kedai-kedai itu bertumbangan. Faktor pendorong tren ini bisa dilihat dari sisi internal serta eksternal.
Faktor internal
Operasional jus buah relatif lebih mudah dibandingkan kedai tempat makan macam pecel lele, gudeg, bahkan lontong kari. Aktivitas utama adalah pembuatan jus (kupas dan blender) serta pengemasan. Malah jika jeli, kupas mengupas bisa dilakukan di j ridak sibuk. Agenda penjagaan stok pun lebih mudah karena buah lebih awet daripada daging dan sayur. Artinya risiko stok busuk lebih kecil. Dan tak lupa operasional yang tidak terlalu ribet menjadikan training operator lebih mudah.
Faktor eksternal
Harga murah jadi daya tarik para mahasiswa selaku segmen utama yang sangat konsumtif. Jus juga bisa barengkan sebagai pelengkap makan. Terakhir, citra sebagai konsumsi sehat jelas membuat orang menggemari jus buah.
Dimana peran SI/TI??
Nah ini yang patut didengungkan. Ok..tunggu kelar beli lele dulu baru saya lanjutkan.
Kerahasiaan Dokumen di Tempat Nge-print
Belakangan ada bisnis online yang cukup marak di dunia perkuliahan. Dari pengamatan di sekitaran kampus UI serta Unitel, bisnis ini mulai menjamur. Bisnis online yang dimaksud adalah jasa cetak dokumen online. Pelanggan cukup mengirimkan email ke vendor percetakan sehingga tugas mencetak dibebankan pada si vendor dan pada waktu yang telah disepakati si vendor menyerahkan hasil cetakannya pada si pelanggan. Ada unsur penghematan waktu, khususnya ketika si pelanggan agak jauh ataupun terkendala akses ke tempat cetak. Misalnya saya mahasiswa MTI hendak mengumpulkan proposal tesis pada Jumat malam. Berhubung saya berkantor di Kalibata dan baru selesai ngantor jam 5 sore jelas saya akan terburu-buru jika mencetak dokumennya seusai pulang kantor. Maka cukup mengirimkan email ke vendor pada Jumat siang dan "janjian" ntar Maghrib udah beres. Si pelanggan cukup "tahu beres" plus bisa menghemat waktu. Bisnis yang menguntungkan pelanggan.
Namun bisnis cetak dokumen online ini menyimpan risiko yang patut diperhatikan. Bahkan bisnis cetak dokumen yang offline alias cetak di tempat pun sebenarnya menyimpan risiko yang serupa. Risiko ini tentang kerahasiaan dokumen dan antisipasi penyalahgunaan dokumen setelah dicetak. Kenapa demikian?
Kebiasaan seseorang yang sulit diperbaiki adalah kerapian mengelola dokumen (ya termasuk gw juga sih). Termasuk diantaranya adalah memastikan kerahasiaan sebuah dokumen. Dalam hal ini, ketika kita selesai mencetak dokumen, kita kerap lalai bagaimana dokumen tersebut selanjutnya. Apakah cukup diarsipkan di folder tertentu atau bagaimana. Bagi mahasiswa informatika yang skripsinya mempergunakan data yang bersumber dari pihak ketiga (misalnya rumah sakit, BAPPEDA, dll), tentu tidak boleh sembarangan membiarkan data tersebut tercecer dan bisa diambil oleh pihak yang tidak berkepentingan. Misalnya seorang mahasiswa dengan topik tesisnya membahas keamanan jaringan di sebuah perusahaan jelas tidak boleh asal "mengumbar" celah-celah keamanan yang berhasil didokumentasikannya. Tapi namanya juga manusia, kerap lupa bagaimana menjaga kerahasiaan dokumen.
Kesalahan yang sering terjadi saat mencetak secara offline di vendor adalah membiarkan file tersebut di harddisk komputer vendor
tanpa kejelasan bagaimana kelanjutannya jika sudah sukses dicetak. Masih "mending" jika si operator vendor itu orangnya mengerti kerahasiaan dokumen, jika tidak? Bisa saja setelah si "kumbang" (bukan nama sebenarnya) mencetak tugas besarnya lalu karena file-nya masih tertinggal di komputer vendor lantas di-copy-paste oleh si "bunga". Nah kalau si "bunga" memplagiat tugas besarnya si kumbang", kira-kira bakal jadi kasus nggak tuh?
Tapi...tapi...kan file-nya PDF kok, udah di-lock. Sama aja keuleus, ada banyak cara nyukilnya kok :v
Bagaimana dengan bisnis cetak dokumen online?
Sulit untuk menyebut apakah risikonya lebih enteng atau malah lebih parah. Yang pasti ketika kita mengirim file melalui email maka artinya file tersebut sudah "terbuka" aksesnya bagi si vendor. Nah, bisa jadi nih si vendornya itu cerdas (dalam arti positif) sehingga menjaga kerahasiaan file tersebut. Bisa jadi pula si vendornya malah nakal (dalam arti negatif) sehingga memperjualbelikan file yang didapatnya.
Nah bukan berarti model bisnis cetak dokumen ini berbahaya, jelek, ataupun patut dihindari. Bukan seperti itu. Bisnis ini sangat bermanfaat dari sisi pelanggan, namun risiko berupa kerahasiaan dokumen serta antisipasi pelayahgunaan patut diperhatikan. Vendor perlu menjelaskan bahwa mereka menjamin kerahasiaan dokumen, akan lebih baik jika dokumen dimusnahkan setelah dipergunakan. Bagi si pelanggan, mulailah untuk lebih sadar tentang keamanan informasi dokumennya.
IT (masih dianggap) Murah kok
Nggak sengaja nemu gambar ini di socmed FB seorang kawan. Kayaknya saya kenal aplikasi tempat masang open tender proyek TI ini. Gila juga ya?
Kenapa gila? Tentu saja gila melirik dana yang ditawarkan. Hanya dua juta mas bro. Jelas dana yang kelewat murah, murah yang kebangetan.
Pertama dari sisi lingkup proyek yang berupa online ticketing berbagai moda transportasi, ada kereta, pesawat. Kedua dari sisi kekayaan intelektual yang lebih menguras otak. Ketiga dari sisi risiko proyek yang riskan terhadap keamanan informasi, khususnya pembayaran serta banyaknya entitas yang terlibat.
Rasa-rasanya ada budaya yang perlu diperbaiki hehee
Sudah Rilis Kok masih Ada Bugs??
Perancangan Kurang
Perancangan aplikasi kerap diremehkan dengan alasan terlalu teoritis, terutama pada proyek yang terburu-buru ataupun kesongongan alias sombong atas jam terbangnya. Sepintas perancangan memang lebih teoritis dan agak tradisional. Namun dalam kenyataannya perancangan sering diabaikan. Perancangna sendiri sebenarnya bersifat sangat luas. Pemilihan perangkat, strategi query, front-end interaction, dan lain-lain. Luas sekali. Karena itulah, sebelumnya melakukan perancangan, yang pertama kali perlu dilakukan adalah membuat ruang lingkup pengerjaan. Tujuannya jelas, agar pemilihan strategi pengerjaan aplikasi tepat dan efektif.
Jika boleh jujur, menangani pengembangan aplikasi yang sudah ada itu lebih sulit daripada membuat aplikasi dari nol. Alasannya sederhana, kondisi yang sudah ada harus dipahami lebih dulu dan "dihormati". Dihormati di sini memiliki maksud sebisa mungkin tidak ada pengubahan konfigurasi yang sudah ada, kalaupun harus diubah maka data yang lama harus mampu diakomodasi di konfigurasi terbaru. Sebuah tantangan yang tidak muda. Maka, perlu ditegaskan lagi, perancangan penting.
Kesalahan yang sering terjadi berkaitan dengan perancangan adalah manajemen waktu yang tidak harmonis antar-SDM. Jadwal yang telah disusun sering diremehkan hingga berbagai masalah yang ada menumpuk dan proses pengujian terbatas waktunya.
Teknik Coding
Cara ngoding juga mempengaruhi seberapa banyaknya bugs yang timbul di kemudian hari. Bayangkan saja yang namanya manusia mau seahli apapun, setinggi apapun jam terbangnya, sangat mungkin saat ngoding timbul error yang manusiawi banget. Karena itulah saat ngoding, hal yang penting untuk memperlancar pelaksanaannya ada pada proses dokumentasi. Pertama dokumentasi aplikasi yang sudah ada. Dokumen jenis ini akan memudahkan eksekutor mampu mengenali bagaimana kondisi aplikasi saat ini sehingga ketika dia menjalankan coding-an baru, coding-an sudah lama tidak cocok. Selain itu konsep kemangkusan data yang tidak tepat tentu menggugah berbagai kelemotan saat aplikasi dijalan. Kesalahan yang jamak terjadi dalam teknik coding adalah lupa membuat dokumentasi jenis yang kedua, yaitu catatan pengubahan yang dilakukan. Dokumentasi jenis ini seharusnya dibuat seiring proses dilakukan. Saat ngoding sendirian dan lupa maka pusing ditanggung sendiri, saat ngoding berjamaah miskomunikasi sering terjadi karena dokumen jenis ini lupa dibuat.
Development Beda dengan Production
Proses pengembangan aplikasi dimulai dengan membangun aplikasi di lingkungan pengujian. Lingkungan pengujian ini sering disebut dengan "DEV" alias development. Ketika sudah berjalan sebagaimana mestinya, aplikasi diangkat ke lingkungan sebenarnya atau disebut juga sebagai "PROD". Kesalahan yang sering terjadi adalah error di PROD tapi jalan di DEV. Penyebabnya simpel, yaitu masih ada perbedaan kondisi. Perbedaan demikian menjadikan proses bisnis tidak berjalan dengan sesuai. Solusinya, inspeksi kondisi DEV denga PROD, minimalkan perbedaan (yang boleh beda yang benar-benar perlu). Jangan lupa, sediakan slot waktu yang cukup antara pengangkatan aplikasi ke PROD dengan rencana rilis, sehingga ketika terjadi error di PROD masih cukup waktu untuk perbaikan.
Pengujian Jelek
Ciri-ciri pengujian yang jelek:
- Dilakukan hanya oleh developer
- Tidak melibatkan calon pengguna
- Waktu mepet
- Hanya memastikan alur yang benar berjalan baik, dengan kata lain segala kesalahan pemakaian tidak diujikan
- Tidak dilakukan pencatatan/pendokumentasian proses coding
- Daftar apa saja yang perlu diujikan serta panduan apa yang seharusnya terjadi (rancangan sistem yang benar) tidak ada
Apakah hal-hal di atas kerap terjadi? Jika iya, maka jangan heran ketika aplikasi dirilis ternyata masih banyak bugs.
Supervisi Kurang
Kondisi ini sering terjadi di dalam proyek TI ketika PM alias project manager kurang memahami proses yang berlangsung di dalam pengembangan aplikasi TI. Mungkin karena kurang fokus atau entah bagaimana, proses mengkoordinasikan pihak-pihak yang terlibat di dalam proyek TI kurang berhasil. Supervisi kurang diindikasi dengan:
- Jadwal yang tidak padu antar-individu
- Pemantauan progress report diabaikan
- Meremehkan dan menunda-nunda pengujian aplikasi TI
- Dokumentasi proyek yang berantakan, atau malah nggak ada ya?
Indikasi "Permainan"
Lha kalau yang ini memang cara licik yang keterlaluan. Ada beberapa kasus aplikasi yang telah diserahterimakan sudah "dilengkapi" bugs. Keberadaannya disadari oleh vendor, bukan karena tidak bisa mengatasi, tapi agar vendor tersebut makin dibutuhkan. Ketergantungan client pada akhirnya menjadikan vendor lagi dan lagi dikerjasamai. Teknik berlangganan yang kurang amanat.
Tren Desain Website 2015
Flat design and Limitation Color
Pertanda malas? Pertanda ilmu bikin web-nya udah menthok segitu? Salah. Justru website dengan desain yang flat alias sederhana (sebenarnya terjemahannya sih "datar") akan menjadikan informasi lebih fokus dan mudah dicernakan. Pengguna juga tidak terburu-buru dalam mempergunakan. Transfer data yang lebih kecil otomatis berdampak pada pemakaian "pulsa" mengaksesnya. Penggunaan warna juga tidak lagi asal jetak yang membuat website terlihat norak. Warna akan lebih dibatasi dan bagi Kawan-Kawan yang ingin tahu warna ini cocok dengan apa saja, bisa akses halaman ini pallete.adobe.com.
jQuery and JavaScript for Transition
Sepintas tren ini agar berlawanan dengan tren sebelumnya. Jadi yang bener yang mana donk? Well, pemakaian jQuery dan JavaScript akan lebih dimainkan pada saat transisi konten dan hover-effect, bukan saat didiamkan. Misalnya transisi pergantian halaman, transisi scrolled-page, hingga loading. Khusus untuk loading, perlu diperhatikan bagaimana pengelolaannya. Loading sendiri merupakan fase yang sangat mendebarkan, jangan-jangan download gagal, kok lama banget sih, dan ujung-ujungnya emosi lebih terpancing saat masa-masa menunggu (ya iyalah, siapa juga mau digantung). Nah, dengan efek visual yang menyenangkan, emosi yang terjadi akan lebih bersifat positif (baca: mlongo kagum ama efeknya yang keren) ketimbang bersifat negatif (misuh-misuh)
Simple Font
Era saat ini, jenis huruf/font dengan bentuk sederhana menjadi pilihan yang paling manusiawi. Tidak perlu ada kelebayan layaknya Monotype Corsiva. Justru huruf seperti Open Sans, Helvetica, Kelson, Kozuga, dan berbagai jenis huruf yang sederhana lebih membuat mata nyaman sehingga cepat mencerna informasi dan ketika tulisannya panjang, mata tidak cepat lelah. Permainan huruf juga akan lebih minimal, akan sangat jarang dalam suatu halamn memakai huruf lebih dari 3 jenis. Bahkan sebuah huruf pun tidak terlalu banyak dipermainkan ukurannya.
Full width image
Barangkali tren satu ini agak unik. Pemakaian gambar mulai mengabaikan ukuran pixel. Mungkin pada dendam ama matematikanya ya? Hehehee. Terlepas dari asas praduga (yang tidak ilmiah itu) full-width image menjadi suatu metode untuk menampilkan kesederhanaan dalam mengelola tampilan website. Full width tidak berarti membuat layar ramai karena tidak semua gambar cocok dijadikan full-width. Biasanya gambar tertentu yang tidak terlalu ramai dan lebih "mengademkan" pengunjung website. Jenis full-width bahkan ditampilkan di homepage berupa full-screen, artinya selebar layar dan setinggi layar pula gambar itu ditayangkan. Keberadaan jenis image seperti ini memang menjadikan segala tulisan tidak terlalu banyak dibutuhkan, cukup elemen-elemen yang dianggap perlu. Alhasil kesederhanaan dapat diperoleh oleh designer dan developer.
Less article more picture
Keterbatasan waktu menjadi seorang pengguna werbsite, khususnya yang mengonsumsi berita digital, tidak akan sudi berlama-lama menghabiskan wkatu di depan laptop amupun gadgetnya hanya untuk membaca berita yang puanjuaaaanggge polll. Karena itulah, harus disadari bahwa pengelola website perlu menghemat konten yang berupa artikel yang memperbanyak gambar sebagai pendukung artikelnya. Dengan pemangkasan panjangan artikel, artinya ada PR bagi desainer untuk membuat komposisi yang enak dilihat walau artikelnya sudah "disunat".
Infographics
Masih berkaitan dengan more picture. Salah satu strategi untuk mengefisiensikan konten sembari mempertahankan bahkan meningkatkan daya tarik terhadap informasi yang akan disampaikan, adalah melalui infografis. Infografis akan merangkum segala hal-hal yang menjadi inti dari berita, baik yang kuantitatif maupun kualitatif. Untuk urusan ini, pengelola website perlu peran seorang desainer yang mengerti bagaimana menayangkan inforgrafis yang bermutu di media monitor PC dan gadget.
Related post
Berlama-lamanya pengunjung merupakan salah satu harapan yang ada di tiap pengelola website. Suguhan berupa sebuah artikel tentu akan kurang "josss" karena sangat mungkin pengunjung langsung pergi ketika selesai membaca artikel yang ada. Keberadaan related-post maupun others-content menjadi fitur yang berpotensi meminimalkan kebiasaan pengunjung yang langsung pergi. Harapannya pengunjung kepo artikel lain dari judulnya, lantas dia berputar-putar asyik membaca artikel satu demi satu dan tak terasa statistik website tersebut sudah menggembung.
Siapa yang tidak mengenal tren social media sebagai jalur penghubung antarmasyarakat. Tempat debat iya, tempat ngasih saran iya, tempat yang walah beragamlah. Era saat ini pun telah menciptakan koneksi antara social media dengan website, khususnya portal berita dan CMS. Koneksi ini berupa share konten melalui social media dan kesuksesan sebuah konten pun kini diukur dari seberapa konten itu di-share melalui social media. Cara tradisional dalam menyebar konten adalah meng-copy URL mampu paste di social media. Tapi cara seperti itu sudah mulai ditinggalkan karena kurang efektif. Metode terbaru adalah membangun button share dimana pengguna klik button tersebut lalu menambahkan caption versi dirinya. Cara simpel yang menuntut desainer dan developer menyediakan button share di dalam website yang dikembangkannya.
One page scrolling
Kesederhanaan pada akhirnya menciptakan sebuah tren baru berupa one-page scrolling. Tren ini berupa sebuah website yang menayangkan seluruh informasi yang dimilikinya ke dalam sebuah halaman yang panjang dan navigasi konten yang berputar-putar sepanjang halaman tunggal tersebut. Biasanya konsep ini banyak diadaptasi oleh perusahaan yang memang kontennya cenderung dinamis dan perlu keringkasan dalam menyajikan informasi.
How Mobile Display??
Yang ini jangan ditanya. Sebagai perbandingan, di salah satu proyek yang pernah penulis tangani, pengakses via PC versus mobile (plus tablet) adalah 3:1. Andaikan saja jika kita punya 1.000.000 pengakses dan kita menyajikan tampilan web yang jelek di mobile. Artinya kita sudah mengecewakan 250.000 pengakses. Potensi kegagalan dan ketidaklakuan di masa depan? Yoii bos.. Maka ketika akan membuat sebuah website, saat ini diperlukan minimal 2 desain, yaitu versi desktop dan versi mobile. Kenapa harus dibedakan? Perilaku penggunanya berbeda, ukuran layarnya juga beda, jelas perlu penanganan yang berbeda pula agar pengakses di kedua media tersebut nyaman.
Inspirasi:
http://graphicdesignjunction.com/2014/08/web-design-trends-2015/
http://thenextweb.com/dd/2015/01/02/10-web-design-trends-can-expect-see-2015/2/
http://www.smartarts.co.uk/blog/web-design-trends-my-6-predictions-for-2015
https://medium.com/@LetsAlign/web-design-trends-for-2015-ade6aab94624
Ini Ciri Tulisan Saya
Menulis itu merupakan salah satu hobi saya. Alhamdulillah berkesempatan menulis di beberapa lapak (tentunya di luar blog ini hehee), baik itu di ladang online, ladang majalan softcopy, ladang offline alias cetak, ladang ilmiah.
Beberapa tulisan di ladang online:
- Portal Indonesia Kreatif, saat ini baru enam artikel (klik di sini http://news.indonesiakreatif.net/author/arfive/)
- Portal Digital Marketing Land, saat ini baru beberapa artikel (klik di sini http://dimarla.net/author/create_ive/)
- Web FUKI Fasilkom UI ada di sini artikelnya
- Web Himmpas UI, ada di sini web-nya
- Facebook-nya BEM KBM IT Telkom (di sini khusus yang di tahun 2010 hehee)
Beberapa tulisan di ladang majalah softcopy terdapat di
- Majalah NolDerajat episode 2 dari FUKI Fasilkom UI (klik di sini)
- Majalah NolDerajat episode 3 dari FUKI Fasilkom UI (klik di sini)
Kalau di ladang offline baru satu, itu pun 7 tahun yang lalu di majalan Edukita, hehee...judul artikelnya malah sudah lupa saya #upss
Ladang ilmiah, alhamdulillah berkesempatan ikut menulis di KNK FISIP UI 2011, SNATI UII 2012, IISF 2012, dan KNSI 2013. Bagaimana dengan 2014? Autnilum autnihil T_T
Jujur, saya masih sangat belepotan untuk urusan menulis, jika bukan karena senang, tentu nggak akan pernah nulis lagi. Terutama berkaitan dengan menulis ilmiah, karena tanggung jawab moral yang sangat dituntut tingginya. Hanya saja, karena emang kalau mau terjun di dunia perdosenan wajib nulis dan kebetulan menulis itu hobi saya, ya OK jalani saja hehee.
Berkaitan dengan hobi yang satu ini, mmm... apa ya ciri khas tulisan saya?
Mungkin terlalu lebay, tapi bagi saya yang emang berkarakter introvert maka tulisan saya bisa dibilang memiliki ciri "mencoba ngobrol".
Kerap diawali kutipan seseorang ataupun sajak
Awal tulisan menjadi daya tarik agar seseorang tidak lekas menyingkirkan tulisan kita. Kutipan yang unik, ataupun sajak yang menarik merupakan "obat bius" yang membuat pembaca berpikir "eh, ntar dulu, apaan nih?". Ya begitulah kira-kira. Khusus juga tulisan yang saya buat adalah liputan event, maka sebisa mungkin saya "umbar" kutipan atau quote pengisi acara sebagai representasi keunikan acara. Harapannya pula pembaca berpikir, "eh, kemarin ada yang menarik ternyata" dan dia mau lanjut membaca. Kalaupun bukan kutipan, saya memakai sajak dengan maksud menyampaikan tujuan acara dalam bahasa lain yang (penginnya sih) memesona.
Mengajak berdialog
Memang pernah ada yang berujar (lebih tepatnya nanya), kenapa ada kata sapaan orang kedua berupa "kawan"? Bukankah artikel yang dibuat cenderung menyampaikan. Ya, bagi saya, penyisipan kata sapaan merupakan teknik yang mengajak pembaca terikat dalam alur pikir yang kita sampaikan. Ajakan untuk mengkritisi opini kita, ajakan untuk mengiyakan opini kita, ajakan untuk membayangkan apa yang kita kemukakan. Dan secara psikologis, cara mengajak pembaca terlibat menjadi trik agar tulisan kita lebih bisa dipahami.
Penuh diksi dan tanda kutip
Pilihan kata alias diksi penting bagi saya karena itu menentukan cita rasa tulisan dan mempengaruhi bagaimana kita menghargai pembaca dengan sajian frase pilihan yang segar dan anti-monoton. Kenapa harus ada tanda kutip? Karena saya sering memakai frase konotatif yang memaksa secara EYD untuk memberi tanda kutip hehee
Akhir menggantung
Kalau yang ini, juga "pernah", tapi sering saya membuat tulisan dengan akhir yang menggantung. Tujuannya apa sih? Yups, bikin penasaran pembaca sehingga pembaca ketika selesai mengitari tulisan kita, dia akan merasakan ada sesuatu yang belum selesai. Sehingga, dia akan coba menelusuri sumber lain tentang tulisan kita sehingga tingkat kepuasan dalam membaca tidak selesai begitu saja. Pembaca menjadi lapar untuk "memangsa" tulisan lain. Selain itu, pembaca juga tidak begitu saja mengenyahkan diri atas ide-ide yang kita kemukakan. Ide-ide kita (harapannya) masih "hangat" dan bisa memaksa pembaca menelurkan ide lain menimpali ide kita barusan.
Nah, itu dia empat ciri tulisan saya, khususnya tulisan non-formal (di luar tulisan ilmiah). Mengapa saya sering menuturkan "harapannya", "penginnya", "mencoba"? Ya karena saya hanya bisa berupaya, namun hasil akhir, itu di bagaimana pembaca memahami tulisan saya, tentunya dengan peran Allah di dalamnya
:)
Emang Kenapa Kalau WP??
Sering sekali denger celotehan yang agak meremehkan terkait bikin website pakai WordPress. Kurang lebih semua itu berkesimpulan bahwa WordPress hanyalah aplikasi ecek-ecek yang sangat amatir. Well, benarkah begitu?
Banyak yang rancu antara wp.org vs wp.com
Lha gue juga punya website kok, pake WordPress juga. alamatnya namague.wordpress.com. Iya itu memang website dengan aplikasi WordPress, tapi yang versi .com. Ada versi .org yang ditujukan bagi pengembang aplikasi WordPress diamna banyak fitur yang bsia dipergunakan serta memiliki konfigurasi yang lebih kompleks
Dikira cuma tinggal pake
Hahaa, sepintas ada kemudahan yang sering dihadapi para WordPress developer adalah tersedianya berbagai plugin yang memudahkan information retiaval serta berbagai kebutuhan lain untuk mempercantik tampilan website-nya. Sepintas memang mudah, tapi justru di sini tantangannya? Pertama terkait hak cipta yang jelas ada kreadit atau penyebutan kreator plugin sehingga bagi sebagian developer dianggap menurunkan gengsi dirinya. Kedua, tidak akan mungkin requirement yang ada 100% seluruhnya cocok dengan plugin yang ada. Pasti akan ditemukan satu dua tiga hingga banyak perbedaan yang mengharuskan developer berpikir untuk memodifikasi dengan tetap mempertahankan stabilitas website. Intinya, WordPress nggak tinggal pake, tapi perlu mikir
Keamanannya juga perlu diperhatikan
Nah ini nih, hal yang sering diremehkan, termasuk pada developer. Seiring tren pemakaian WordPress sebagai platform website, banyak tukang neror yang bertajuk cracking, hacking dll menyerang website-website yang berbasis WordPress. Nah, so jika kawan-kawan sedang terlibat dalam pengembangan website dengan WordPress, pastikan KEAMANANNYA
Cepat dan User Friendly-nya itu lho...
Memang betul bahwa membuat website yang dari nol itu keren, tapi perhatikan pula kebutuhan. Ada website yang abgus tapi pengelolaan kontennya sulit karena harus ini harus itu, kalimat singkatnya "nggak simpel alias nyusahin". Nah, di WordPress ini ketika website sudah diserahterimakan ke pengguna (yang menjadi pengelola konten), dia akan mudah mempergunakan WordPress karena user friendly itu lho... simpel but asyik banget :)
Membuat Daftar Pustaka Otomatis
Menulis daftar pustaka satu per satu saya akui merupakan hal terpayah yang pernah saya lakukan di masa lalu. Ciee, ceritanya menyesali masa lalu ciee wkwkwk...
Kenapa demikian?
Kepala akan sempoyongan ketika harus berhadapan dengan tenggat waktu yang mepet serta jumlah sumber yang sangat banyak. Risiko mengetik satu per satu adalah kemungkinan ada yang tidak tertulis sehingga karya tulis kita bisa dianggap plagiat. Selain itu, penambahan sumber ataupun pengubahan nama pengarang, judul, tahun dll, akan menyebabkan kita harus menuliskannya lagi dengan cara mengeceknya satu per satu dari atas.
Lha terus kepiye?
kabar gembira untuk kita semua kawan :)
(dari dulu) Microsoft Word ada fitur penyisipan referensi lho...
(dan gue baru tahu di tahun 2014) how kuper I am :/
Berhubung sekarang udah tahu, maka nggak ada salahnya ikut menyadarkan orang-orang yang tersesat (kayak saya dulu) biar bisa menulis lebih efektif lagi.
Pertama kita lihat sumber/referensi yang menjadi patokan kita, misalnya buku berikut ini
Nah, ini ceritanya bagian yang akan kita kutip, tentang definisi Planning
Kita paparkan definisi tersebut di dalam Microwosft Word. Di akhir kalimat, kita pilih References, lalu ambil opsi Insert Citation -- Add New Source
Nah, kalau teman-teman ingat, penulisnya kan lebih dari satu tuh. Nggak usah galau, pilih Edit di samping kolom Author
Bagaimana dengan penulisan segala referensi yang kita pergunakan di bagian daftar pustaka? Berikut caranya Kawan :)
Pada halaman yang menjadi lokasi daftar pustaka, pilih References, lalu ambil opsi Bibliography, kemudian klik jenis penulisan daftar pustaka yang menjadi acuan Kawan-Kawan sekalian.
Ketika teman-teman menambahkan referensi baru, maka caranya seperti di atas tadi. Dan jangan lupa ini klik kanan, lalu pilih Update pada kotak Daftar Pustaka/References untuk memutakhirkan kontennya.
Selamat mencoba Kawan :)
It's about Dashboard
Berawal dari proses riset mengenai pengembangan Dashboard sebuah Portal yang sedang tim saya kembangkan maka saya menemukan beberapa panduan baik yang bersifat teknis maupun konseptual terkait desain visual dahboard di sebuah sistem informasi (pada tataran aplikasi).
Secara konseptual, perumusan dashboard perlu memperhatikan hal-hal berikut:
Latar belakang
Apa yang menjadikan dashboard perlu ada. Apa benar harus ada? Kalau iya, apakah akan "lebih" memudahkan user?
Profil pengguna
Di dalam sebuah websit etentu ada berbagai jenis pengguna, mulai dari visitor, pemilik akun, kontributor, editor, adminsitrator, hingga executive management. Nah masing-masing jelas punya otoritas dan kebutuhan informasi yang berbeda-beda. Nah, perlu ada modifikasi tampilan serta keamanan agar dashboard bagi masing-masing level tadi dapat sesuai kebutuhan
Ruang lingkup
Apa saja yang ingin di tampilkan? Reporting/KPI sajakah? Fitur apa sajakah? Archiving-nya perlu nggak? Kompilasi link dibutuhin kagak?
Dashboard != Portal
Jangan sampai konten di dalam Dashboard malah nyaingi Portal. Jika yang terjadi adalah ambiguitas konten, mending bikin aja Portal yang akan memunculkan fitur tertentu bagi yang sudah login tanpa memakai dashboard. Beres tuh. Artinya pahami apa bedanya, bedanya apa? Monggo di-searching dan dipahami dengan melihat berbagai aplikasi yang banyak kita jumpai di dunia maya :)
Sementara itu, terkait hal-hal yang bersifat teknis, berikut beberapa panduannya, semoga bermanfaat:
Keep it Simple
Alasannya sederhana. Dashboard merupakan gerbang masuk yang intensitas penggunaannya relatif tinggi dibandingkan halaman lainnya. Artinya kesan pertama sekaligus doktrin kenyamanan website akan melekat erat dari bagaimana desain dashboard dibuat. Tidak perlu muluk-muluk dalam menumpahkan berbagai desain secara jor-joran. Tujuan utama dashboard adalah sebagai "kotak" yang berisi "catatan" apa saja yang bisa diperbuat dan dimiliki oleh pengguna di dalam aplikasi ini. Maka fokus kepada tujuannya dan sampaikan melalui desain visual yang sederhana dan langsung menuju ke fokus utama "catatan" tadi. Bandingkanlah website-website yang ternama seperti Google Analytics, MailChimp dll yang sangat memanfaatkan white space sebagai taktik untuk membuat user lebih nyaman mencerna informasi. Desain keduanya pun tidak muluk-muluk dan pemakaian animasi hanya seperlunya. So, fokus pada bagaimana informasi bisa dicerna tanpa berlebih-lebihan dalam menayangkannya.
Permainan Tab
Dengan keterbatasan yang dimiliki oleh layar beserta keterbatatas mata kita menerima informasi yang disajikan, maka kita perlu membagi informasi ke dalam dua bagian yaitu active serta inactive. Pembagian ini bukan cuma nambahin "in" doank lho ya... Maksudnya tentukan mana yang bakal langsung muncul ketika pengguna masuk dan mana yang disembunyikan dulu dan baru muncul ketika user memintanya, yang pertama itulah active dan yang kedua adalah inactive. Pergunakan strategi tab untuk memudahkan user memilih mana yang active dan mana yang inactive. Tab dapat berwujud susunan vertikal maupun horisontal. Lakukan analisis berupa pengelompokan fungsionalitas ke dalam tab-tab yang sesuai serta rencanakan tampilan visual yang membuat user dapat menggunakannya dengan baik. Definisi baik meliputi:
-Tahu isi dari masing-masing tab apa walau belum pernah memakainya
-Bisa membedakan mana yang statusnya active, inactive, plus hover-nya
Penayangan Informasi
Ada banyak hal yang bisa dimuat di dalam dashboard, tapi sekali lagi dashboard bukanlah kamus lengkap yang memiliki semua yang diperlukan. Pilih kebutuhan masing-masing user, pahami karakter masing-masing jenis user dalam mencerna informasi, kemudian pilih jenis visualisasi yang cocok. Salah satu yang sering dimunculkan di dalam dashboard adalah pertumbuhan statistik. Dalam kasus tertentu, line chart akan lebih cocok dipergunakan, namun apabila informasi yang disampaikan adalah komposisi konten ataupun distribusi informasi maka jenis pie chart ataupun map chart justru lebih cocok. Dan jangan lupa warna dengan segala permainannya (tebal, kontras, hingga porsinya) akan memegang peranan terkait kenyamanan user.
Sesuai Brand
Sebuah website yang baik pastinya dan harus memiliki pola desain yang sudah standar. Proses standardisasi ini biasanya tertuang di dalam GSM (graphic standard manual) yang berisi panduan bagaimana desain-desain khas dari organisasi tersebut. Kalau tidak memiliki GSM, sebaiknya segera buat standar desain visual yang berlaku di dalam website dengant ujuan agar ada spirit yang kokoh ketika website ini akan terus dikembangkan fungsionalitasnya, misalnya bagaimana button warna dan ukurannya, bagaimana font-nya dll. Pergunakanlah standar tersebut di dalam mengembangkan desain visual pada Dashboard yang akan dibuat.
Dapat Dikembangkan untuk Masa Depan
Aplikasi website merupakan komoditas yang akan terus berkembang. Itu adalah persyaratan website yang baik menurut saya, kenapa? Penggunanya saja terus berkembang maka ada tuntutan untuk ikut berkembang sesuai kebutuhan manusianya selaku pengguna. Selalu ada potensi untuk memunculkan fitur baru ataupun parameter baru yang perlu ditampilkan di dalam dashboard. Maka rancanglah dashborad yang memungkinkan penambahan informasi yang bisa ditayangkan. Jelas suatu blunder kita penambahan sedikit informasi saja mengharuskan pembuatan dashbaord dari awal.
Pertimbangkan Versi Mobile
Era mobile phone, dari kosan, dari KRL, dari pelabuhan kita bisa masuk ke Dashboard. Artinya perlu diperhatikan rancangna desain visual yang cocok untuk dashboard pada versi mobile. Ini berarti kita memperhitungkan pula prioritas informasi, resolusi tiap objek dll.
Referensi:
- support.gooddata.com, Design Tips for Best in Class Dashboards
- geckoboard.com, Designing and Building Great Dashboards - 6 Golden Rules to Successful Dashboard Design - Data Dashboards for Businesses
- designrope.com, 15 Inspirational Dashboard UI Designs
Harga Website
Selama lebaran kemarin, sejumlah pertanyaan dilontarkan kepada saya dan rekan-rekan saya yang berprofesi di bidang IT. Singkat kalimat "bikin website berapa harganya?". Bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Tidak berarti kami yang di dunia IT ini plonga plongo tapi penentuan harga pembuatan website merupakan mekanisme pasar yang tidak mudah.
Bahan Baku
Jika kita ditanyai harga jual sebuah kursi tentu yang kita jadikan patokan adalah harga bahan bakunya, yaitu kayu, serta material penunjang, seperti paku, cat, plistur. Dalam hal ini website sifatnya agak "gaib". Bahan baku website itu apa ya? Hmm... Tentunya code alias rangkaian karakter yang diolah komputer menjadi objek (yang agak gaib) sesuai permintaan. Tidak seperti bahan baku kayu yang semakin banyak semakin mahal, code justru ada kalanya bisa diperingkas jumlah file maupun jumlah barisnya untuk efisiensi. Semakin efisien harganya makin tinggi, tapi sulit mengukur kuantitas yang layak dan standar dalam proses ini.
Ada code yang beli nggak
Dalam membuat website bisa jadi dipakai code. buatan orang yang didapatkan dengan cara membelinya, tentu opsi ini akan berdampak pada harga website itu sendiri. Dampaknya bagaimana? Lagi-lagi sulit menjustifikasi apakah website yang menggunakan code 100% buatan si programmer patut dihargai lebih mahalkah daripada website yang code-nya hasil beli.
Fitur yang disediakan
Sama seperti menanyakan harga sebuah kamar kos yang tentu bakal ditanya balik "mau yang isi apa saja?". Begitu pula harga website, "mau yang fiturnya apa saja". Ambil contoh website milik sebuah toko. Website yang hanya menampilkan produk tapi urusan tetek bengek transaksi di luar web akan lebih murah dibandingkan website yang juga dipakai untuk proses transaksi.
Proses pembuatan
Ini terkait poin sebelumnya. Ketika fitur yang diminta semakin banyak maka makin lama pula waktu yang dibutuhkan. Ibaratnya mengerjakan 7 item yang lebih cepat daripada 20 item.
Layanan penunjang
Website bisa diibaratkan kita membeli HP. Kita perlu pulsa, sinyal, nomor kontak orang lain, kartu SIM, hingga memori eksternal. Untuk jaringannya kita perlu bandwidth. Untuk penyimpanan konten dan database kita perlu hosting. Ada jasa pembuatan website yang meng-include-kan layanan penunjang, ada pula yang tidak.
Keamanan
Kenapa saya pisahkan poin ini tersendiri? Karena ini termasuk faktor yang terlihat sederhana namun bisa bikin runyam jika terjadi masalah. Keamanan yang tinggi tentunya menuntut penanganan yang spesial, sehingga wajar jika harganya melonjak.
Nama Si Penyedia Jasa
Ini "nama" bukan berarti makin panjang nama perusahannya makin mahal lho ya...
Maksudnya adalah seberapa tingkat kematangan organisasinya. Untuk jasa pembuatan website yang dikelola 1-beberapa orang sebagai sambilan jelas tidak punya daya tawar yang besar untuk mematok harga tinggi. Begitu pula organisasi yang masih tumbuh dan berorientasi pada portofolio, harga yang sedang akan jadi prioritas kesekian karena fokusnya adalah menambah jam terbang.
Kemampuan Mengemas
Dipakai atau tidaknya serta sedikit atau banyaknya pemakaian sebuah website tidak ditentukan dari seberapa banyak nan canggih fitur di dalamnya. Justru yang paling utama adalah kesesuaian dengan kebutuhan calon penggunanya. Selain itu, desain visual yang menarik serta pengemasan promosi yang berkualitas akan menjadikan suatu website nominal harga jualnya dapat meningkat.
Setelah menyimak berbagai faktor tadi, maka jangan heran jika ada web yang cukup dengan 150 ribu tapi ada yang sampai puluhan juta.
Pakai Font Spesial di CSS
Tatkala berbicara tentang visualisasi website, ada komponen yang memiliki peranan vital, yaitu FONT alias huruf yang dipergunakan. Pemilihan FONT yang tepat akan memberi efek kejelasan informasi. Bahkan lebih dari itu, FONT merupakan cerminan "pencitraan" organisasi pemilik website tersebut. Tantangan (bukan masalah lho y, tapi tantangan) akan muncul ketika FONT yang dipergunakan bukanlah font yang standar seperti Arial, melainkan font-font yang agak jarang dipakai seperti Open Sans, Helvetica Neue, Kelson, Simplicity dll.
Tak perlu risau Kawan :)
Berikut cara mempergunakan FONT spesial di CSS.
Pertama, upload FONT tersebut. Dapat dilakukan dengan File Manager. Salin lokasi file-nya.
Kedua, identifikasi FONT tersebut pada file CSS. Perhatikan bagian biru pada gambar di bawah ini. Isi FONT-FAMILY dengan nama/kode serta isi SRC dengan lokasi file tadi.
Simpel 'kan guys :) :) :)
Custom Post Type
Pembuatan Custom Post Type in syaa Allah sederhana,
Kedua, simpan file tersebut dengan lokasi sesuai aturan baku file management si sistem masing-masing, umumnya di dalam ‘include’ ataupun ‘inc’. Lalu panggil di dalam function.php.
Ketiga, buka Dashboard (umumnya via WP-admin). Di sini kita sudah dapat mengaktifkan post type yang telah dibuat. Secara default, post type ini akan memakai template bernama single-
User Documentation Diversity
- Kebutuhan konfigurasi sistem yang mempunyai integritas dan kredibilitas
- Memudahkan pengecekan di kemudian hari terhadap ancaman infrastruktur IT
- Memudahkan transfer ilmu, khususnya saat serah terima objek
- Mempercepat penelusuran sebab permasalahan yang terjadai di dalam sistem dengna melihat runutan proses debuging.
- User biasa yang hanya membaca artikel. Untuk user jenis ini, jenis dokumentasi yang cocok adalah bagaimana caranya menelusuri informasi yang ada di Kaskus
- User yang memiliki akun sehingga bisa membuat artikel, comment dan aktivitas lain yang bersifat UGC (user generated content), sehingga dokumentasi khusus untuk mereka adalah yang berisi bagaimana caranya mengelola konten miliki mereka, misalnya kalau mau nge-post artikel klik yang mana, kalau mau nyisipin gambar begimana ukuran standarnya.
- User yang bertugas melakukan update terhadap konten, biasanya editor. Dibutuhkan dokumentasi yang lebih rumit lagi, misalnya bagaimana mengganti banner di halaman homepage, bagaimana memiih editor pick, hingga bagaimana mengganti isi konten statis yang hanya bisa diubah oleh editor. Dokumentasi yang jenis ini tentu peredarannya sangat terbatas dan rahasia.
- User yang berperan sebagai developer. Bagaimana kalau tiba-tiba jumlah visitor di Google Analytics berbeda dengan angka yang muncul di dashboard, bagaimana caranya menampilkan halaman under-maintenance, hingga bagaimana ketika dilakukan perombakan visual. Nah hal-hal yang seperti itu perlu dibuat dokumentasi khusus yang memang ditujukan kepada developer. Sehingga ketika di suatu hari nanti ada request menambahkan form isian baru di dashboard milik user, si developer ini tahu bagaimana caranya, bukan seenaknya memanggil si programmer yang membuatnya.
Ensure your Backup and Rollback
Mengerjakan sebuah proyek IT pada fase implementasi memang banyak melahirkan berbagai kemungkinan untuk bereksperimen. Mengasyikan memang, karena ada banyak hal baru yang ditemui. Namun di balik itu semua, ada pula tantangan yang perlu titik perhatian, yatu menyangkut dua kata: BACKUP dan ROLLBACK. Berikut arti harfiah yang diambil dari dua sumber mengenai dua istilah tersebut.
Backup : (v.) In computing the phrase backup means to copy files to a second medium (a disk or tape) as a precaution in case the first medium fails. One of the cardinal rules in using computers isback up your files regularly.(Webomedia)
In database technologies, a rollback is an operation which returns the database to some previous state. Rollbacks are important for database integrity, because they mean that the database can be restored to a clean copy even after erroneous operations are performed. They are crucial for recovering from database server crashes; by rolling back any transaction which was active at the time of the crash, the database is restored to a consistent state. (Wikipedia)
Lantas seberapa urgen/penting kedua hal itu sampai-sampai harus diperhatikan?
Kita bekerja dengan risiko. Risiko itu bisa muncul dari berbagai hal, misalnya ketidakstabilan internet, mati lampu, hingga perubahan yang tidak sesuai keinginan. Ketika risiko-risiko itu terjadi maka harapan kita tentunya kita bisa melanjutkan pekerjaan dari momen yang kondisinya masih sesuai keinginan. Proses kembali ke momen tersebutlah yang disebut dengan rollback. Tentunya tidak semua aplikasi bisa melakukan rollback, syarat utamanya adalah proses backup, yaitu merekam kondisi pada titik waktu tertentu yang memungkinkan bisa dikembalikan lagi.
Terkait dengan dinamisnya pengerjaan proyek IT yang rawan perubahan ternyata ada fakta unik lainnya. Pengajuan pengubahan fitur ternyata belum tentu memberi efek positif, bisa jadi malah menurunkan kualitas produk, baik secara interface maupun performa. Ketika efek yang terjadi tidak sesuai harapan, maka langkah terbaiknya adalah mengembalikan ke kondisi sebelum perubahan tersebut dilakukan.
Selanjutnya, isu backup dan rollback seringkali hanya dijadikan wacana. Kenapa wacana? Selama ada tulisan "backup"dan "rollback"-nya jalan maka semua dianggap beres. Seharusnya dilakukan pengecekan apakah memang backup dan rollback yang diatur di dalam konfigurasi memang benar-benar berjalan. Karena dalam kenyataannya, kedua hal ini baru disoroti ketika terjadi insiden/bencana terhadap produk IT tersebut.
Text Appear When Image Hover
Ruang Eksperimen
Secara teori perkuliahan tentang website, termasuk web engineering, salah satu hal yang sering lupa untuk ditekankan adalah pentingnya membuat sebuah miniatur project sebagai eksperimen. Lha, emang buat apa?
Website merupakan sebuah aplikasi yang dapat diakses secara online dengna konfigurasi tertentu. Dengan demikian perubahan yang sifatnya coba-coba dapat dengan mudah diketahui oleh user, sebagai contoh mengganti format hyperlink. Efeknya cukup riskan, baik secara kuantitatif, misalnya trafik visitasi, hingga kualitatif, misalnya kredibilitas. Padahal di lain pihak ektika sebuah website telah dirilis akan sangat mungkin muncul keinginan untuk menguliknya, bahkan menambahkan sebuah fitur.
Kebanyakan programmer masih mempergunakan jam kerja sehingga apa yang dilakukannya dibatasi jam kerja. Hal ini tentu menyulitkan website yang sedang dioprek namun keburu ditinggal istirahat programmernya, sedangkan saat ini website tersebut sedang dijelajahi oleh user-nya. Contoh hal yang fatal adalah adanya kemungkinan terjadi error yang risikonya tinggi, misal ketidaksinkronan antar-fitur, terhapus data tertentu, hingga stabilitas performa. Lha terus kepiye?
Karena itulah bagi sebuah korporasi yang bergerak di bidang website development, misalnya IT consultant, creative studio, untuk menginvestasikan asetnya ke dalam pembuatan ruang ekperimen. Boleh jadi di tempat lain, ditemui berbagai istilah yang mirip, misalnya BETA version, DEV environment, hingga TRIAL mode. Intinya sama, yaitu membuat sebuah duplikat dari website yang versi LIVE ke dalam sebuah website yang mana menjadi tempat mengembangkan fitur, termasuk mengubah fitur yang sudah ada.
Kenapa harus ada? Tentu untuk menghindari risiko yang sudah ada. Memang, harus dialokasikan tenaga, waktu, hingga dana tertentu untuk mengelolanya, namun hal ini sejalan dengan kemampuan meminimalisasi risiko yang dihadapi. Selain itu ruang eksperimen ini akan memberi kemudahan bagi SDM baru, misalnya programmer, untuk mempelajari infrastruktur dengna lebih aman.
Saat ini sejumlah IT consultant sudah memiliki kesadaran untuk mengembangkan ruang eksperimen ini. Secara umum, sistem yang dipergunakan adalah shared hosting pada server secara localhost. Konsekuensinya ketika harus presentasi ke klien, harus dilakukan remote akses, misalnya dengan aplikasi Team Viewer.
Namun di balik manfaat yang diperoleh jangan lupakan hal yang penting berupa dokumentasi eksperimen. Tentu sangat koplak ketika sudah punya ruang eksperimen, ada pengembangan fitur sudah sukses dan stabil, giliran mau dipasang di versi LIVE, malah lupa bagaimana caranya :)
Pemilu tanpa huruf e di depannya
Pemilihan Umun 2014 jadi momen kedua saya dalam bepartisipasi sebagai peserta. Sejak momen pemilu di 2009, tidak begitu banyak peruahan masif terkait teknisnya. Secara pribadi saya masih menyimpan cita-cita pemilu di Indonesia dapat diselenggarakan dalam konsep elektronik alias e-voting.
Ber-S1 di kampus IT tentu memancing ide-ide kritis yang menanyakan "ini di-IT-kan aja lah ya". Walau demikian, selama kuliah di IT Telkom hanya HMTI yang berani menggelontorkan bilik suara online, sedangkan yang lainnya masih nggak bisa moveon dari sistem centang spidol merah. Menarik pula karena pada tahun 2012, FAST dengan optimis menggelar pemilihan ketua secara online.
Di tahun 2012 pula saya bersama Azmy dan Adi mengusulkan ide e-voting dalam Information Security S Forum (ISSF).
4,5 di kampus IT Telkom ditambah 1 tahun pascalulus makin menguatkankan keyakinan saya tentang e-voting.
Selama kampus-kampus di Indonesia enggan mengimplementaikan, maka ide e-voting akan tetap berstatus angan-angan.
Ketika satu Indonesia masih sulit menerapkan e-voting, maka mulailah terapkan e-voting pada sejumlah provinsi percontohan.
Ayo menuju e-voting di Indonesia ^^
Hitung Kolom tanpa Redundan
- CONCATENATE, tujuannya menggabungkan text dengan text, number dengan text, hingga fungsi dengan text. Hasil dari perhitungan (lebih tepatnya "pencacahan") digabungkan dengan satuan "klub".
- SUM+FREQUENCY+MATCH entah apa maksudnya #akunggakngerti #akurapopo, intinya menghasilkan output berupa pencacahan konten cell-cell terpilih dengan mengabaikan konten yang redundan.
So... hasil rumus di atas adalah "11 klub"













