53 tahun Pramuka

Coba sebutkan apa yang identik dengan pramuka?
Barangkali 3 jawaban yang paling sering disebut adalah "cokelat", "kemping", dan "baris-berbaris". OK sip, usia 53 tahun tentu membuat 3 jawaban tadi melekat di benak kita. Seraam sebagai pembungkusnya, kemping dan baris=baris sebaai agenda wajibnya. Kalau mau ditambah, hmmm, bolehlah kita sertakan SD-SMP, kenapa? Karena Pramuka identik dengan siswa di dua jenjang itu sebagai sebuah ekstrakurikuler yang wajib diikuti. Menarik memang mengupas organisasi yang satu ini. Kenapa?

  1. Pramuka merupakan organisasi formal yang ada seluruh provinsi
  2. Pramuka merupakan salah satu (jika bukan satu-satunya) organisasi kepemudaan dengan usia (paling) panjang dari organisasi kepemudaan lainnya dengan status masih aktif
  3. Pramuka merupakan organisasi yang menyertakan presiden, ubernur, hingga camat sebaai pembinanya
  4. Pramuka memiliki ruan lingkup yang terbentang dari ujung pegunungan hina palun kelautan, dari khasnya suasana pedesaan hingga hiruk pikuk perkotaan.


Seperti yang disingung di paragraf sebelumnya, Pramuka merupakan organisasi yang telah berusia 53 tahun. Usia yan sangat tua. Walau demikian, mengapa namanya tidak menjadi "Praja Tua Karana" ya? Itulah keunikan yang spesial dari organisasi ini.

Pramuka saat ini dituntut untuk mampu dan mau dikemas dengan penuh daya tarik. Mengapa harus menarik? Tak perlu naif, Pramuka butuh generasi penerus dan saat ini para pemuda lebih tertarik dengan hal-hal yang menarik seperti komik, internet, musik dll. Selain itu, pada dasarnya Pramuka itu menarik dan penuh menyenankan, tentunya dalam konteks positif.

Pramuka saat ini dituntut untuk cerdas. Kenapa harus cerdas? Dari Sabang s.d. Merauke, Pramuka memiliki permasalahan yang berbeda-beda. Tak hanya permasalahannya yang berbeda lho ya, potensi dan kapabilitasnya pun berrbeda-beda. Jelas perlu strategi yang matang agar seluruh potensi tersebut dapat dioptimalkan.

Saat ini Pramuka berkembang dengan konsep penuh otonomi. Alhasil tiap daerah berlomba dengan berbagai inovasinya. Ada yang menghentak lewat ajang kreasi musik, ada yang menggalakkan pramuka melek teknologi, ada yang memercayakan Pramuka sebagai ujung tombak tangap bencana, urusan tata kelola pariwisata pun diamanatkan pada pramuka. Ibarat pemain multitalenta, Pramuka menjadi sentra dan lumbung sumber daya yang memiliki potensi di berbagai bidang.

Pramuka saat ini dituntut solutif? Iya gitu? Tenok saja kurikulum 2013 yang mengamanatkan Pramuka sebagai media pengelola kaderisasi dari jenjang SD s.d. SMA/SMK/MA. Logikanya bila ada yang tidak beres dengan output kurikulum 2013, tentu Pramuka akan kena imbasnya. Dalamm sudut pandang positif,

Pramuka memang memiliki infrastruktur organisasi, daya dukung dari pemerintah dan masyarakat, sumber daya manusia, hingga kurikulum yang matang dan teruji lebih dari 5 dekade. Jelas sebuah pertanyaan besar sekaligus persabungan yang besar pula pada nama baik Pramuka dalam memenuhi panggilan untuk tampil sebagai solusi dalam mendidik generasi muda saat ini.

Pramuka menalami ketumpulan pada jenjang perguruan tinggi. Lho kok bisa? Padahal mahasiswa di perguruan tinggi merupakan manusia-manusia yang siap terjun ke dalam masyarakat, bahkan sudah menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri secara aktif. Kenapa malah di periode ini merosot? Eksistensi gugusdepan patut disebut sebaai faktor yang memporak-porandakan estafet dari gugus depan di lingkup SMA/SMK/MA ke perguruan tinggi. Alhasil minimnya SDM pun berdampak pada kreativitas yang terancam dan OK sip keduanya berpadu menjadikan pramuka masih sukar berkembang di lingkup perguruan tinggi.

Masih banyak problematika yang menanti di usia ke-53 ini? Kita perlu merumuskan bersama solusi konkretnya. Walau begitu, jangan menunggu rumusan itu ada baru bergerak. Ayo kita bergerak untuk melestarikan kreativitas khas Gerakan Pramuka.
Selamat menyambut usia ke-53 #HUTGerakanPramuka

No Response to "53 tahun Pramuka"