S3 atau S2 (lagi), Mumpung Gratis Bermimpi

Parkir dan pipis sudah tidak bisa dikategorikan aktivitas yang gratis. Di Bandung keduanya ditaksir perlu biaya 2000-an. Itulah alasan saya memilih bermimpi tentang kelanjutan studi ini yang lebih jelas gratisnya.

Studi/belajar merupakan kewajiban hidup yang hanya boleh pensiun saat wafat. Kuliah hanyalah salah satu bentuk kecil studi dalam bentuk formal. Perkembangan TIK sudah mendorong studi tidak harus di sebuah kampus. Tidak harus lulus S1 informatika agar bisa ngoding. Tidak harus lulus MM agar bisa wirausaha. Peluang belajar banyak tersedia di dunia internet. Karena itu, minimalkan berkuliah yang sekedar pengin tahu tanpa punya rencan pascalulusnya

Sejak bercita-cita ngedosen, saya punya cita-cita kuliah hingga S3. Motifnya cenderung faktor persyaratan administrasi. Kepo perkuliahan si ITB, ITS, UGM, hingga Qatar University dan Twente University jadi keasyikan tersendiri. Siapa sangka Allah membukakan studi S2 justru di Fasilkom UI. Kenyataan yang sebenarnya sempat terpikir sebagai ide saat kelas XII. Siapa sangka ide itu terealisasi. Unik mengingat dari sisi kerja bisa saling menyesuaikan waktu pelaksanaannya.

Setelah S2 di UI yang beneranlah bikin seneng menggali ilmu, kini ada dua bayangan di benak ini.

Pertama S3 dengan kampus incaran ITB dan Qatar University. Jurusan tetep informatika/ilmu komputer. Spesialisasinya sih yang masih bingung. Barangkali e-commerce, tata kelola TI, dan web engineering jadi passion sejauh ini.

Opsi kedua, S2 lagi...
Ahayyy entah kenapa mendadak muncul ide kuliah lagi dengan rumpun ilmu bergeser ke bidang lain, yaitu DKV alias desain komunikasi visual atau ekonomi dan bisnis, khususnya ekonomi kreatif. Bersentuhan dengan ekonomi kreatif khususnya pekerjaan seputar desain asli bikin saya tergoda untuk mempelajarinya lebih dalam. Hanya saja memang opsi ini perlu dipikir matang apakah harus dengan kuliah atau cukup kursus.

Wallahualam

No Response to "S3 atau S2 (lagi), Mumpung Gratis Bermimpi"