Viva Smansawi 53


Ng-asdos (lagi) di eBuss

Bukan lingkungan yang asing, bahkan MTI UI menyerap banyak nostalgia saya di sini. Kiprah 3 semester yang "keras" dengan sponsor KRL sebagai tunggangan rutin plus histori tugas yang berlimpah ruah. Maka, tak banyak pikir panjang untuk mengiyakan tawaran (meminjam istilah Budhy Haryono) "tidak terduga" menjadi asisten dosen eBuss semester lalu, juga semester ini. Pun mata kuliah yang asyik nan menguras pemikiran otak kanan, itulah eBusiness. Sebagai catatan musim ini bisa dibilang eBusiness mengalami fase transformasi menuju antara eCommerce dengan Digital Business.

Tak disangka bekal ngoprek OpenERP di PAJgroup dulu menjadi bekal untuk memahami konsep dan peran ERP dalam bisnis. Tak dinyana geliat di eBuss sebagai peserta didik menggugah ide-ide dalam mengembangkan tujuan saat menyusun tugas. Dan tidak dipungkiri bahwa pengalaman ngasdos semester lalu berkontribusi banyak bagi saya dalam menyiapkan diri mengajar di Univ. Telkom.

IT Perlu Diperjuangkan

Berkali mampir kemari sebagai tamu. Berbagi pemantik inspirasi bagaimana IT bisa berarti. Berjelajahi gagasan walau kadang kendala merintang. Dominasiroblema masih seputar bagaimana semangat IT bisa dibangun sebagai komitmen yang terencana dan emenihi kebutuhan organisasi.

Jalan tampaknya masih panjang, samar berliku tapi itulah mistri yang oleh Allah masih dipersilakan bagi kita untuk memperbaiki ya

Terkadang dan Begitulah

Kadang lelah kerap menghampiri
Liputi layaknya dialah karib dari peluh ini
Dimana waktu benar sukar ditaklukan
Sementara kitalah boneka turuti obsesi

Kadang damai mengunjungi hati
Semilir tedih sebagai pelipur yang manjur
Pulihkan daya yang lapar nutrisi

Begitulah hidup bukannya nirbahagia
Silih berganti rupa segala pekanya kita jua
Ya begitulah cara Tuhan menampakkan lemahnya kita

Review LiTIK Pekan 3

Apa yang saya gusung di sesi ini sebetulnya bukan barang baru. Di lingkungan kampus berbasis TIK, mahasiswa Universitas Telkom tentu rutin mencari informasi di internet. Faktor agenda akademik, gaya hidup, hingga fasilitas hotspot sudah jadi pele ut tingginya intensitas mereka mencari informasi di internet. Di kesempatan ini , saya hanya menyinggung dari kaidah teoretis.

Saya mengawali sesi ini dengan memberikan penegasan tentang pentingnya informasi bagi semua profesi di dunia ini. Setelah itu kami bergegas untuk mengulas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi mutu informasi. Jauh sebelum hari H, saya mendapati bahwa ulasan di sini erat kaitannya dengan dimensi-dimensi kualitas informasi yang pernah saya jelajahi mulai dari saat tesis s.d. proyek riset ke ICoICT. Maka, saya sisipkan ulasan tambahan tentang dimensi kualitas informasi.

Kemudian beberapa tinjauan teoretis mengenai pencarian informasi juga turut disajikan di sini. Mulai dari mana saja kita bisa mencari informasi yang sesuai kebutuhan. Tdrdapat pula paparan mengenai permainan kata-kata kunci dalam mencari informasi yang paling kentara tentu menjajal kata 'Teknologi Informasi' sebagai pengganti 'Sistem Informasi' karena kedua saling terkait.

Review LiTIK Pekan 5

Pagi ini berbagi inspirasi tentang kriteria evaluasi informasi dan pencarian informasi
Saya mengambil contoh blog pribadi yg kece milik bang @wirawan winarto dan @wiranurmansyah sebagai contoh relevansi blog terhadap topik tertentu



Kuliah sesi ini diawali dengan pengenalan terminologi yang mirip fan familiar dengan keseharian akademisi, yaitu data, informasi, dan pengetahuan. Ketiganya beserta wisdom merupakan komponen hierarki  D-I-K-W. Mahasiswa yang berkecimpung di urusan per-TIK-an patut mengetahui perbedaannya. Contoh berupa publikasi statistik dari Badan Pusat Statistik dapat digunakan sebagai identifiasi dimana letak perbedaannya. 

Selanjutnya ulasan bergeser ke topik hal-hal yangdipertimbangkan dalam mengevaluasi informasi, yaitu authority, relevancy, quality, bias, serta timeliness. Jujur, hal-hal ini sangat identik dengan dimensi-dimensi kualitas informasi, misalnya reputasi, keterkinian, kelengkapan, konsistensi, dll. Alhamdulillah di sela-sela waktu tidak luang, saya sempat mengumpulkan beberapa potongan webpage yang layak menjadi contoh dari kelima hal tadi. Beberapa memang agak nyentrik, tapi saya menempatkannya dari kacamata akademik.

Untuk sesi "ceramah" saya hanya melahap 30-an menit. Selanjutnya, peserta kelas dibagi ke dalam 4 kelompok untuk menjalankan proses Diskusi Terpumpun alias FGD. Empat kelompok ini mewakili empat metode pencarian informasi, yaitu model Kulthau, model Alberta Inquiry, model Big Six, serta model FLIP. Lantas, masing-masing mengobrolkan sebuah metode pencarian informasi dan menyimulasikannya berdasarkan topik tertentu.

Salut kpd kreativitas kalian

Selamat dan Semoga Dilimpahi Berkah

Bulan September, dan malah hingga Oktober, ini penuh dengan kabar gembira, terutama berkaitan dengna hablumminannas. Alhamdulillah banyak kawan saya yang akan menunaikan amanat baru sebagai seorang suami. Ikatan pernikahan yang mereka lalui masing-masing itu saya yakin akan berlumuran cerita unik masing-masing. Ada yang menemukan jodoh yang ternyatakawan satu jurusan saat kuliah, ada yang ternyata kawan satu SMA, ada yang ternyata pernah satu kepanitiaan. Semua punya rekam histori yang tentu menarik untuk dipelajari sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya.

Semoga penuh berkah kpd kalian bersama pasangan masing-masing mas Triyoga Adi Perdana , mas Mokhammad Dina , mas Senoaji Nurfaizin , mas Mukhamad Jaenuri , mas Anindityo Suryohudoyo , Dias Yusuf Wardana serta yang sudah mendahului di awal bulan September ini, mas Aditya Setiaji W.

ini kisahku dateng kondangan
[aku yang ketutupan mahkotanya si mba ratna hohohooo]


Salam dari saya beserta Prati Hutari Gani

Bhayangkara FC, Momen Kembalinya Persebaya kah?

Nama BSU  sebagai singkatan dari Bhayangkara Surabaya United ternyata tidak berumur panjang. Persis memasuki pekan ke-18, mereka berganti kulit menjadi Bhayangkara FC. Alasan mereka cukup diplomatis, yaitu tidak ingin kepolisian diidentikkan dengan kedaerahan tertentu, dalam hal ini Surabaya, walau kandangmereka ada di Sidoarjo. Namun di balik alasan diplomatis ini, sebetulnha terselubung makna bahwa langkah ini secara otomatis mempersilakan Persebaya, terlepas dari legalitasnya di mata operator kompetisi, sebagai satu-satunya klub dengan akar kota pahlawan sebagai pewaris sejarah Bajul Ijo.

Persebaya di awal dekade 2010-an terseret kasus dualisme klub beserta 3 klub terkemuka lainnya, yaitu Arema, Persija, dan PSMS. Masing-masing tamat dualismenya dengan cara yang berbeda. Persija dan Arema yang sekarang selain "terbukti" secara hukum lewat pengadilan, juga "beruntung" karena bercokol di kompetisi ISL, bukan IPL. Awan mendung terus menyelimuti duo hijau PSMS dan Persebaya. Kasus Persebaya terbilang panjang karena tim Persebaya yang secara manajemen kuat (dan sempat menghuni Divisi Utama LI, kerap disebut Persebaya DU) ternyata bukan Persebaya yang disokong dengan kuat oleh suporter Bonek (dan berlaga di IPL dengan nama Persebaya 1927). Alhasil si Persebaya dengan manajemen kuat ini pun gersang dukungan masyarakat dan lebih jauh lagi gagal memenangkan pengadilan sehingga wajib menghapus nama Persebaya yang sudah digunakannya. Saat mereka berkutat di sejumlah turnamen pada periode pembekuan PSSI, mereka sempat menyandang nama Bonek FC lalu berganti kulit  sebagai Surabaya United.

Nama terakhir inilah kemudian bersedia merger dengan PS Polri lalu menelurkan Bhayangkara Surabaya United. Nuansa Persebaya sebetulnya masih kental dengan jersey warna hijau untuk kandang dan putih untuk tandang. Pun dengan logo yang mencantumkan tugu kota pahlawan beserta simbol buaya dan hiu. Bahkan ketiganya ditmpilkan dalam ukuran besar pada jersey bagian samping. Hanya saja, patut diakui bahwa ketidakadaan nama Persebaya terlalu besar dampaknya. Bahkan dukungan Bonek pun merosot. Di lain sisi, suporter yang kerap hadir malahan dari kalangan polisi, khususnya daerah Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo.


Sumber bola.net


Seiring diakuisisinya saham secara penuh oleh koperasi milik Polri, maka dominasi Kepolisian atas klub ini pun nyaris lengkap. Semakin paripurna setelah pergantian nama ini diikuti perubahan warna kostu kuning dan hijau muda pada kandang serta hilangnya tiga simbol kota pahlawan dari logo klub ini. Yang menarik, proses revolusi ini persis di saat para Bonek semakin kencang menyuarakan kembalinya Persebaya ke kancah sepakbola Indonesia. Jangankan TSC, kompetisi ISC B pun mereka alfa. Praktis kiprah terakhir mereka adalah turnamen Piala Kemerdekaan. Sesudah itu, nasib mereka terkatung-katung.

Sebuah kebetulan yang tentu menarik. Apakah revolusi di BSU terkait semakin meletupnya kemungkinan Persebaya kembali ke percaturan sepak bola Indonesia. Yang pasti, manajemen Bhayangkara FC menyatakan dukungan mereka kepada Persebaya untuk segera bangkit. Hanya saja, saya berharap tidak ada politik bawah meja di balik ini semua. Misalnya "penyerahan tiket" untuk berlaga di kasta tertinggi sepak bola Indonesia dari Bhayangkara ke Persebaya. Persebaya harus berupaya keras menembus belantara Divisi Utama atau ISCB secara sportif sebagaimana tahun 2009 lalu.

Tentang Mereka di Stasiun Purwakarta

Terus terang pemandangan di area Stasiun Purwakarta ini memantik perhatian saya. Saya yakin tidak hanya saya, setidaknya jika istri saya menenteng kamera digitalnya di sini maka dia akan melahap sekian waktu untuk mendokumentasikan bongkahan-bongkahan tersebut. Dan saya yakin istri saya akan protes karena kenyataannya pengunjung stasiun dilarang mendekati lokasi tersebut.

Berbagai bongkahan kereta di sini, menurut saya,terlalu sayang jika hanya digeletakkan begitu saya seperti ini. Memang mereka sudah tidak lagi laik untuk beroperasi. Namun ketidaklaikan itu jika berurusan dengan rel kereta api. Bagaimana dari sisi edukasi dan histori? Akan lebih bermanfaat jika mereka ditata ke dalam lingkungan berwujud museum.

Dengan merelokasi mereka ke dalam lingkungan museum, kita akan !enikmatk galeri yang sangat nyata tentang kiprah perkeretaapian sebagai salah sati transportasi massal paling populer Indonesia, khususnya di Pulau Jawa dan Sumatera. Malah, frngan mengolahnya secara "cantik" akan bermuara pada pemasukan masa depan bagi PT KAI.

Hehee