:) 1435

Masa lalu..
Yang manis bukan utk disombongkn
Yang pahit bukan utk diludahkan
Tapi itulah bingkisan dr Allah agar belajar
Belajar utk memahami betapa Allah Maha Pemurah yg menutupi aib2 kita
Belajar utk memahami kpd siapa kita berkawan saat gemilang, dg kebersyukuran ataukah dg ketakaburan

Masa depan..
Tak pernah semudah menulis target lalu mencentangnya
Pilihlah dg siapa kau berkoalisi..dengan pesimis kah? dengan pengumbar wacana? ataukah dg siapa?

1435..boleh jadi tahun terakhir kita...
Ayo kawan bangkitlah di tahun ini
Dimana amalan kita konsisten seramai Ramadhan
Dimana saling sapa tak hanya saat lebaran
Dan dimana tiada perbuatan kecuali ibadah

Jogja... Oktober ber-RoadshowIK

Setangkup Rindu (walau tidak) Seperti Dulu
Terhanyut aku akan nostalgia
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja


Kita di lagu itu mengacu pada berangkai kebersamaan yang terjalin antara saya dengan sejumlah relasi di Yogyakarta. Ada yang sesama alumni Smansawi, ada yang sesama (alumni) IT Telkom (lebih khusus HMIF), dan tentunya kawan-kawan RGM-TBTD. Sungguh berbagai nostalgia itu membuncah tajam ketika dihadapkan pada pemandangan jalanan Yogyakarta dari dalam mobil. Rasanya ada bayangan saya di pinggir jalan hendak berangkat PKL, agaknya ada saya bercengkerama di salah sudut Gelanggang Mahasiswa, lumrahnya ada saya dan seorang senior (yang sedang ber-S2) bersampingan menuju Mardliyyah (samping Sardjito). Ah, bahkan tatkala diri ini hanya berkawan dengan kesepian, Yogyakarta tetap mampu menggulirkan magisnya dengan mempermainkan emosi saya. Kalau boleh egois, Bandung dan Yogyakart menjadi domisili idaman, hehee. 

Petualangan kali ini memang berbeda, walaupun di tiap petualangna saya di Yogyakarta pun tentunya menggusung kespesialan tersendiri. Ada yang benchmarking BEM, ada yang 100% ngebolang (hanya karena nanggung udah nyampe Solo), ada acara Pramuka, ada PKL plus piknik bareng BPHHMIF, ada seminar ilmiah bidang IT. Dan di dalam episode ini, saya berkesempatan "berkeliaran" sebagai kru Indonesia Kreatif di 3 kampus selama 3 hari (plus 1 sore+malam hehehee). Simpelnya gini, Indonesia Kreatif mengadakan roadshow ekonomi kreatif di FEB UGM, MMTC, dan juga ISI Yogyakarta. Awalnya saya tidak disertakan karena posisi saya PIC IT, namun karena satu dan lain hal, maka akhirnya nama saya yang diutus mencari dragon ball di Yogyakarta. Kalau ditanya ngapain saja saya di situ, saya agak bingung ngejawabnya karena peran saya emang lebih mirip gelandang bertahan, semua yang tidak masuk jobdesk anggota tim lainnya yang sedang roadshow maka itu area kerjaan saya, simpel kan hehee

Keterlibatan saya di petualangan ini sebenarnya sudah dimulai sejak 11 Oktober lalu ketika RoadshowIK berlangsung di Binus University. Hasilnya alhamdulillah merujuk ke sebuah artikel ini :), kalaulah ada yang bertanya kenapa memakai kata "memantik", itu lebih disebabkan influence yang menjangkiti saya atas perjuangan teman-teman Pemantik Telkom University dalam membangun generasi anti-korupsi di Telkom University.

Nah, kembali ke topik utama yaitu petualangan di Yogyakarta yang diawali dari perjalanan singkat di Solo pada Selasa 22 Oktober lalu. ISI Surakarta menjadi lokasi Roadshow dimana kondisi sana sangat ramai, faktor pengerahan masa via Himpunan Mahasiswa menjadi katalis kesuksesan acara ini ditinjau dari antusiasme peserta. Itu baru yang bisa dihitung, yang tidak bisa dihitung alias kualitatif, tampak pada sejumlah pertanyaan kritis yang ditujukan kepada bintang tamu di sesi itu, yaitu Gladys Angelina. Bisa dibilang event di ISI Surakarta ini menjadi top scorer ditengok dari presensi plus keramaian. 

Suasana ramai di ISI Surakarta 

Tanpa tedeng-tedeng menginap, atau bahkan sekedar jalan-jalan cari souvernir, Tim Roadshow langsung menuju ke Yogyakarta, khususnya Kabupaten Bantul kawasan Paris (Parangtritis). Sempat pula malam harinya mengitari lokasi Roadshow untuk esok harinya. Walau tidak melintasi kawasan Sendowo, khususnya Mardliyyah dan cuma bisa menengok dari kaca jendela modil yang dibuka, terus terang rasanya ingin melambai #tapi jelas langsung dianggap aneh ama teman-teman di mobil.

Okay, matchday is begun. 
Hari pertama lalu RoadshowIK bertempat di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada yang dulunya Fakultas Ekonomi (saja), tepatnya Menara Pertamina. Acara alhamdulillah lancar. Tempatnya sangat representatif dengan posisi kursi membentuk tribun yang menanjak sehingga memudahkan audience menikmati presentasi si pengisi acara. Bintang yang akan sharing kali ini adalah M. Arief Budiman. Awalnya saya mengira dia orang yang pendiem plus jaim tingkat cumlaude. Itu terlihat sejak dijemput di depan menara Pertamina hingga "anteng"-nya selama Roadshow dilangsungkan sampai pada momen dia tampil. Dan asli saya tertipu matang-matang, orangnya gokilll parah dalam menyusun kata. Keren pisanlah. Sepintas omongannya datar dan sesekali sok lugu, tapi justru di situlah konten lawakannya mengena. Berikut cuplikan kultwit Tim RoadshowIK selama berlangsungnya pemaparan Re-Search, Re-Creation oleh beliau. Dosen UGM (lupo namanyo) di matkul kewirausahaan jgua bercerita bahwa di mata kuliahnya, mahasiswa (secara berkelompok) melakukan online business untuk memantik naluri ber-entrepreneur, mirip banget matkul inov di IT Telkom. Diantara sekian audien, ada seseorang yang tampak "pangling" ngelihat saya (ya saya juga agak pangling dengan wajahnya yang familiar), dan ternyata #drumroll itu kak Juli, salah seorang anak TBTD UGM. Ajakan main ke Sanggar tak lupa disampaikan termasuk oleh ka Asih yang langsung nyuruh silaturahim ke Sanggar, pengin banget main ke situ...tapi #air mata rintik membahasi tanah

Presentasi mas Arief (CEO Petakumpet) di UGM dengan topik Re-Search, Re-Creation

Sudut pandang dari tribun audien

Narcis heula di depan FEB, cuaca terik panas sehingga terkesan merem =_=

Selepas diskusi yang sifatnya agak teoritis (karena tidak otomatis langsung dipraktikan), maka Tim RoadshowIk langsung menggeber kendaraan menuju Jogja Digital Valley untuk silaturahim dengan Pakar10, yaitu sebuah "komplotan" pecantu koding (y nggak semuanya maniak coding sih, ada yang bagian ngedesain). Obrolan mengenai 5 fitur website Indonesia Kreatif berlangsung lumayan sersan (serius nyaris tidak santai hahaa). Orang-orang di Pakar10 tipikal sama seperti anak IT pada umumnya, yaitu gokil dan nggak bisa diem. Di sana didemokan juga aplikasi user untuk website Indonesia Kreatif yang baru. Pokoknya salutlah dengan kerja keras mereka. 

Naluri empat orang di Tim Roadshow kali ini adalah berjiwa nge-bolang sehingga menjelang sore, kami pun bergegas (ya nggak bergegas juga sih, agak layah leyeh dulu sembari ngantuk =_=) menuju Pantai Parangtritis. Kecean dengna ombak pantai plus eksperimen foto-foto jelas menjadi agenda yang khusyuk untuk dilakukan oleh saya hahaa. Dan menjelang malam, sepaket angkringan plus kopi jos menjadi sajian malam itu. Kangen juga euy ngangkring bareng Bowo di Jogja maupun ngangkring bareng teman-teman Pramuka di TW/NP. Setelah mondar mandir tersesat tanpa tahu arah jalan pulang terjatuh dan tak bisa bangkit lagi #skippp akhirnya santapan utama malam ini berpusat di Dixie. Dan di sini mas Riyan alias om PM masih melanjutkan diskusi mengenai Portal Indonesia Kreatif. Ya nggak masalah sih sebenarnya, cuman mmm, teknis banget dan saya tipikal orang yang sangat tidak bisa menolak ajakan orang untuk diskusi, maka diskusi agak serius pun saling terlontar antara kami plus Mas Ade.

Sebuah sore di Pantai Parangtritis, teringat 2009 bareng BEM dan 2012 bareng HMIF

hari kedua dan ketiga, tampaknya harus di-pending ketikannya lantaran sudah larut malam, saya ngantuk, apalagi hari ketiga  di Jogja ya emang baru dilaksanakan besok. Okay, Jogja...Jogja, memang istimewa. Bahkan #sebagian teks hilang dilanjutkan sebuah senyuman :)
#laptop langsung dimatikan
#lanjut di pool Primajasa
#yeyeyeyyyyy kawan esce#ketje lahiran :)

#lanjutkan curcol hari kedua
Hari kedua di MMTC Yogyakarta berlangsung sedikit di bawah ekspektasi, faktor sedang UTS dan acara sore hari boleh jadi menjadi faktor kekurangramaian. Padahal pembicara dari kalangan industri kreatif dua orang lho, yaitu mba Marini Irsanti dan mas Arief Budiman (stand up comedy lagi nih wkwkwkkk). Kalau pembawaan mba Anti serius dan lumayan tajam statsitiknya (tapi nggak pakai macam Poisson maupun tabel distribusi binomial), maka mas Arief membuka sharingnya dengan kalimat "sudah waktu Ashar, saya persilakan teman-teman yang belum Sholat untuk sholat karena apa yang saya sampaikan sangat tidak lebih penting daripada sholat teman-teman", kesannya memang bercanda, tapi sebuah reminder yang tajam lho. Berbagai quotes kocak terlontar darinya, salah satu diantaranya adalah Kamu ngerjain skripsi itu ada manfaatnya nggak? Kalau nggak ada, ya nggak usah bikin skripsi, tapi bikin yang lebih hebat lagi manfaatnya (buat kampus dan buat kamu)

Mas Arief kembali ber-stand up comedy di MMTC

Hari ketiga sekaligus hari terakhir di Jogja untuk event itu, yaitu di ISI Yogyakarta yang berlokasi hanya 1,5 jam dari penginapan kami di kawasan Bantul. Di hari ini, dapat dibilang saya agak jor-joran dalam mengeluarkan tenaga lantaran itu hari terakhir. Alhamdulillah pesertanya banyak dan antusias dalam mengikuti pembicaraan. Sedikit kekurangan terletak pada alokasi waktu diskusi yang agak mendekati waktu persiapan untuk ke masjid sehingga sejumlah mahasiswa pulang lebih dulu. Jika di dua kampus sebelumnya, sosok bintang tamu lebih mendominasi acara, kali ini justru si dosen, Mikke Susanto yang mampu memikat perhatian saya dengan berbagai pemaparan konsep pemasaran untuk barang seni, misalnya bagaimana penentuan harga.

 mas Toto sedang memperkenalkan Indonesia Kreatif

Pasca-sholat Jumat, suasana mulai gelisah karena masih belum puas jalan-jalan. Maka dengan agak nekat (terancam telat naik pesawat), saya, mba Ria, dan Mas Toto menjelajahi Kota Jogja mencari oleh-oleh. Mas Toto dengan gudeg, saya dengan bakpia, dan mba Ria yang ngeborong kerudung. Dan memang, kita nyaris terlambat naik pesawat. Namun, pada akhirnya, semua masih dalam rencana. Kami berhasil naik pesawat dengan tepat waktu dan pada waktunya hehee. 

Oiya euy,, lah laruik sanjo di AdiSutjipto

RoadshowIK belum selesai, Senin harinya saya harus menyelesaikan artikel (yang belum beres), laporan pendahuluan Portal (yang barusan beres), dan tentunya ngoding website KCM dan BPPI (yang belum beres juga =_=). Mas Toto dan Mba Ria akan menuju ke Surabaya-Malang-Denpasar ditemani Mas Irvan. Selamat berkreatif kawan :)

Roadshow IDKreatif : Binus University

20131018_Roadshow_Goes_To_Campus_BINUS_1
Periklanan merupakan bentuk komunikasi yang seringkali dianggap remeh oleh kebanyakan orang. “Iklan itu yang penting lucu”, barangkali opini semacam ini yang timbul di sebagian masyarakat. Padahal untuk membuat sebuah karya yang berperan sebagai media iklan/promosi, dibutuhkan kreativitas yang orisinil, bernilai estetika, dan mampu menyampaikan tujuan iklan tersebut. Maka sebagai langkah untuk memantik kreativitas di bidang periklanan, Indonesia Kreatif dalam Roadshow Indonesia Kreatif Goes to Campus (IKGTC) di Universitas Bina Nusantara (Binus University) jurusan Creative Advertising menyelenggarakan talkshow yang mempertemukan tiga stakeholder dalam ekonomi kreatif pada hari Jumat, 11 Oktober 2013. Tiga stakeholder yang dihadirkan dalam talkshow kali ini adalah akademisi dari Binus University, khususnya jurusan Creative Advertising, praktisi dari industri kreatif yang diwakili oleh XM Gravity, serta pemerintah yang diwakili oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Talkshow ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan mengenai kebutuhan dunia industri periklanan serta perkembangannya dari masing-masing stakeholder tersebut dalam mewujudkan progresivitas ekonomi kreatif, khususnya subsektor periklanan.
20131018_Roadshow_Goes_To_Campus_BINUS_3
Talkshow ini dimulai dengan pemaparan perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia dari tahun ke tahun serta pengenalan platform Indonesia Kreatif oleh Managing Director Indonesia Kreatif, Riyanto. Beliau menyampaikan bahwa ada tiga stakeholder yang berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi kreatif, yaitu pemerintah, dunia industri, serta akademisi. Karena itulah, sinergitas ketiganya mutlak diperlukan untuk menghubungkan kebutuhan dan keinginan dari tiap stakeholder. Tak lupa, diperkenalkan pula roadshow Indonesia Kreatif yang dilangsungkan pada bulan Oktober sampai November 2013 di 15 kampus dengan mengusung 15 subsektor di tiap kampus.
20131018_Roadshow_Goes_To_Campus_BINUS_2
Talkshow sesi berikutnya dibawakan oleh XM Gravity selaku perwakilan dari praktisi industri kreatif subsektor periklanan. XM Gravity merupakan agen kreatif yang telah berdiri sejak 1995 dan bergerak di bidang digital advertising, dengan klien dari berbagai bidang, antara lain telekomunikasi, kesehatan, transportasi, dan kuliner. Di kesempatan ini, XM Gravity yang diwakili oleh tim kreatifnya, mengulas tentang bagaimana teknis pengolahan ide kreatif yang berlangsung dalam dunia industri periklanan. Dalam kenyataannya, menciptakan produk periklanan yang kreatif memang membutuhkan proses yang tidak instan. Orisinalitas dan keunikan jelas menjadi harga mati, di samping keharusan untuk memenuhi kebutuhan klien. Selain aspek teknis, terdapat pula aspek non-teknis, misalnya selera klien vs selera konsumen yang sering menjadi dilema bagi insan kreatif bidang periklanan. Salah satu hal yang patut diperhatikan dalam membuat produk periklanan yang kreatif adalah pentingnya riset terhadap kondisi masyarakat selaku konsumen, khususnya kecenderungan mengenai selera yang tengah berkembang di masyarakat. Dengan memanfaatkan berbagai fasilitas teknologi informasi dan komunikasi yang tengah berkembang saat ini, maka pelaku industri kreatif subsektor periklanan diharapkan mampu menyerap informasi mengenai kondisi masyarakat sebagai masukan dalam menciptakan produk periklanan yang sesuai dengan selera masyarakat. Melalui riset terhadap kondisi masyarakat inilah, produk periklanan selain bernilai orisinil, kreatif, juga mampu menyampaikan pesan kepada konsumen.
20131018_Roadshow_Goes_To_Campus_BINUS_4
Roadshow IKGTC di Binus University ini juga menampilkan sejumlah presentasi dari karya-karya mahasiswa jurusan Creative Advertising. Karya pertama berupa kampanye bertemakan Adventure Experience The Pasar buatan Teri yang dilatarbelakangi fenomena bahwa mayoritas anak muda Indonesia enggan masuk pasar karena kesan kumuh yang melekat pada pasar. Melalui karyanya, Teri mempromosikan pasar dengan asosiasi baru, yaitu suasana lebih menarik dan penuh tantangan ala anak muda dengan harapan generasi muda mau berbelanja ke pasar. Produk periklanan kreatif buatan mahasiswa Binus University lainnya adalah Ojekway karya Hafiz. Ojekway merupakan konsep menjadikan ojek sebagai alternatif bertransportasi untuk masyarakat kelas menegah ke atas dan eksklusif. Produk kreatif lainnya dipresentasikan oleh Yosephine, mahasiswi Binus University yang juga menjadi kontributor di Kreavi.com, khususnya aplikasi microsite Snack. Sebagai kontributor, Yosephine memberikan ide berupa image blogging, yaitu gambar sebagai materi utama dalam artikel website. Dengan konsep image blogging inilah, pembaca akan lebih mudah mencerna informasi yang disampaikan melalui gambar/foto.
20131018_Roadshow_Goes_To_Campus_BINUS_5
Sebagai penutup, perwakilan Kemenparekraf, Mohammad Djufri, menyampaikan apresiasi mendalam atas kreativitas produk-produk Binus University yang disebutnya sebagai kampus superkreatif. Di kesempatan ini pula, beliau juga mengutarakan harapannya agar tiga stakeholder dalam ekonomi kreatif dapat bersinergi. Kemenparekraf yang saat ini sedang membuat pemetaan dan direktori pelaku kreatif bidang periklanan, menemukan sejumlah gagasan menarik yang didapatkan dari momen ini. Yang pertama yaitu ide untuk menyelenggarakan kompetisi desain periklanan di Binus University. Berikutnya adalah peningkatan komunikasi untuk saling membantu dalam mempromosikan produk periklanan ke luar negeri, maupun pendelegasian akademisi ke berbagai event kreatif di luar negeri yang bermuara pada peningkatan kualitas produk-produk kreatif di Indonesia.
—–
Foto: Dokumentasi Indonesia Kreatif

Read more at http://indonesiakreatif.net/news/liputan-event/indonesia-kreatif-goes-to-binus-university-memantik-kreativitas-dalam-periklanan/

Accumulative Silent

Diam aku asumsikan sebagai solusi
Peredam amarah tatkala nalar enyah dari ubun-ubun
Dimana cermin itu berkoar tentang cerita yang dipercayakan padanya
Dimana lara hati menjadi jajanan yang diumbar

Diam aku asumsikan sebagai penawar luka
Penetral asam basa penganaktirian ala kawan sejawat
Dimana perspektif yang dirangkai seenaknya subjektif
Dimana ego menggulitakan kepekaan nurai

Diam aku sajikan entah hingga kapan
Mungkin ketika aku bangun dari garis nadir
Mungkin saat obrolan cairkan keanguhan tiap kita
Tapi tiada pernah kuharap sapaan sebasi embun silam

Bagaimana bisa aku tumbuh bila terus dikerdilkan opini
Bagaimana bisa aku optimis ketika cercaan jadi sarapan
Dan bisakah aku berlari tatkala merangkak pun aku dihujat

#puisi setengah lagu balada ini terinspirasi dari cerita seseorang yang sekecewa-kecewanya hati lantaran diremehkan habis-habisan oleh sahabatnya sendiri

Tengadahkan Asamu

Ekspedisi ini belum berakhir
Malah hidup masih berupa rentetan episode yang penuh misteri
Ikhtiar kitalah yang menentukan kualitas hidup kita
Hidup yang hanya sekejap tanpa terprediksi kapan dan bagaimana episode akhirnya

Tataplah langit yang tiap hari berulang kali memayungi
Apakah tak malu kita bila stagnan dalam keputusasaan?
Dan tidakkah kau kufur bila menyia-nyiakan umur yang Allah beri
Tengadahkanlh asamu
Tundukkanlah tawakalmu
Perbanyaklah sujudmu

12 Oktober 2013 10.39
Di atas perahu di tengah Sungai Musi

Sindiran Sebuah Ke(tidak)pantasan

Lama tidak menulis, mmm lebih tepatnya lama tidak mengetik pikiran di blog ini. 95% ketikan saya selama tiga pekan ini lebih banyak tercurah di layar codingan.

Tak terasa sudah nyaris 5 bulan dari (apa yang saya sebut) Toba Fushima. Banyak hal yang berubah sejak insiden (entah kenapa saya tulis di situ "insiden").
Yang pasti saya semakin introvert dan sangat mudah minder. Bukan berarti ini merupakan sebuah keluhan, sebaliknya bagi saya ini adalah tantangan.

Tentang sebuah kepantasan, boleh jadi itu terhitung epos, boleh jadi pula berstatus elegi

Ketika Tiap Hari Lorong itu Tinggal Memori

Kadang bayangan samar di sebuah hari dimana saya termasuk dalam gerombolan orang-orang yang berdesakan di sebuah lorong menyaksikan proyektor yang menayangkan hasil akhir penerimaan sebuah SMA di daerah saya.. 
Kadang pula masih tersaji imaji suatu pagi saya sampai di lorong itu lagi di sebuah pagi yang mendung sisa gerimis sebelumnya. Di hari itu saya beserta sejumlah bocah lainnya tampak lugu bercelana biru sedangkan orang-orang yang jumlahnya dua kali lipat dari kami justru sudah berabu-abu di celananya.

Keduanya merupakan memori saat hai terakhir pendaftaran siswa baru serta hari pertama MOS di SMA Negeri 1 Slawi. Anak antau dari Selatan ini rupanya masih bisa menoleh ke dalam dua masa lalu yang berlangsung satu windu sebelumnya. Fase ber-SMA selama tiga tahun pun masih melekat sebagian besar di memorinya. Tentang suka, duka, rivalitas, pertemanan, romantika, dan hmmm masih ada ribuan kosakata sifat yang bisa mewakili 3 tahun itu.

Kelas X sebagai masa pencarian jati diri, dilanjutkan kelas XI sebagai episode pembuktian diri, hingga kelas XII sebagai lakon penuntasan petualangan.

#CumaDiSmansa saya pernah SMA..ya iyalah 
#CumaDiSmansa saya dikasih kesempatan jalan-jalan dari Dukuhsalam s.d. pelabuhan 
#CumaDiSmansa saya disuruh jadi pembina upacara Dan 
#CumaDiSmansa saya pernah jadi vokalis

3 tahun itu bukan masa yang singkat tapi saya bersyukur Allah membekali saya ingatan yang tajam dengan harddisk yang luas pada otak dan hati saya. Lorong itu setidaknya saya lewati tiap hari sekolah selama 3 tahun, bahkan lebih. Sebuah cermin dengna wajah sendiri seolah memberikan kesemaptan bagi kita untuk memotivasi diri sendiri sekaligus mengecek kerapian #kadang sambil merapikan rambut biar ganteng. Ah... aku sering merasa rindu dengan masa-masa itu dimana segala warna nya

SMA N 1 Slawi hanyalah benda mati dengan berbagai karakte orang silih berganti. Suasananya pun kerap berubah seiring trend yang menggandrungi remaja di tiap zamannya. Namun kita semua sepakat bahwa SMA Negeri 1 Slawi merupakan almamater kebanggaan yang penah menjadi bagian indah dalam hidup kita. Pernah? Hmm, bisa jadi. Namun bagi saya pribadi SMA Negeri dengan segala fitu di dalamnya (kegiatan KBM-nya, kegiatan ekskulnya, gurunya, kawan-kawannya, kantinnya) menjadi inspirasi untuk melangkah ke depan. 3 tahun itu meungkin telah berlalu seiring ijazah yang diterbitkan tapi kebanggaan belum saya tarik dari peredaran saya. 


Semoga Tuhan selalu melindunginya.

Ngulik Kreativitas dan Inspirasi di CompFest 2013

Nongkrong di studio Indonesia Kreatif memang membuka wasan mengenai berbagai kegiatan kreatif di Indonesia, khususnya daerah jabodetabek. Salah satu event kreatif yang masuk ke laptop saya ketika mempersiapkan newsletter awal bulan ini adalah CompFest 2013 yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Acaranya terdiri atas kompetisi, seminar, bazaar dll. Karena lokasi yang relatif dekat (dekat secara jarak lho, kalau secara durasi waktu sih ga terprediksi =_=), waktu di akhir pekan (Sabtu  dan Minggu) serta konten aara yang terkait ICT maka langsunglah saya daftar di acara tersebut via website compfest2013.web.id. Acara yang saya pilih awalnya adalah seminar dimana berbagai topik yang menarik berhasil menggaet kepenasaran saya, ada yang tentang inovasi dalam riset, NLP, perceptual commputing, gameconomics. Okay, 5 dari 8 seminar saya tandai di kalender saya. Untuk bazar dan kompetisinnya sendiri sudah tidak begitu mengerti mau ikut nonton apa nggak, hehee.

Tapi sekitar hari Senin lalu, saya mulai bingung, redaksi Indoensia Kreatif punya hajatan di Jumat s.d. Minggu ini, artinya saya terancam tidak bisa ikut nonton CompFest. Kenapa "terancam"? Karena saya sendiri dalam bimbang galau ketidakjelasan #ceileh diikutkan di event ini atau tidak. Di hari Kamis barulah saya langsung di-plotting untuk mengurusi dokumentasi dan logistik yang artinya harus stay di lokasi. Karena Indonesia Kreatif menjadi prioritas saya saat ini, maka saya mantapkan hati untuk berkomitmen atas kesempatan kepercayaan yang diberikan oleh rekan-rekan redaksi. Memang tidak logistik dan dokumentasi tidak sekeren tugas lainnya, tapi bagi saya tidak penting keren apa nggaknya amanat, tapi bisa memberikan layanan yang terbaik nggak #lebay. Alhasil saya putar otak dan merevisi encana ikut nonton CompFest hanya di hari ketiga dimana menurut rundown jam 11 (harusnya) sudah selesai. Namun karena satu dan lian hal maka jam 12 lebih sedikit, redaksi baru meninggalkan penginapan. Tanpa basa basi (sekedar info saya sudah mandi lho, artinya saya bukan orang cruwek #apadahh) langsung saya menumpang angkot menuju lokasi. Sempat terlelap tidur plus nyasar tapi akhirnya sampai juga di lokasi. Kalau mengacu jadwal seminar yang (harusnya) saya ikuti, maka saya cuma ikut satu seminar di CompFest, it's OK, btw tentang apa ya? lupa euy, akhirnya persis di gerbang gedung saya baru ingat kalau sesi yang akan saya ikuti adalah Gameconomics, kayaknya menarik nih. 

Pintu masuk Balai Sidang (dalam bergugam tentang sebuah doa ^_^)

Dan ketika masuk ke ruangna seminar lumayan kaget juga karena saya (kayaknya) kenal kaos yang dikenakan oleh pembicaranya, pas mulai menaikkan pandangan ke bagian wajah cuma satu kalimat di benak saya "lha ko mas yang di NightSpade?". Sambil senyum sendiri saya pun menikmati beliau berbagi pengetahuan tentang bagaimana berentreprenur di bidang game development, tak lupa mengingat-ingat namanya, "oh iya itu Mas Gery NightSpade", gugam saya dalam hati. Mas Gery duu pernah mengisi juga ddalam acara training TEP di BTP. Orangnya asyik plus kocak, itu kesan yang saya tangkap ketika ngobrol makan siang dengna dia saat di BTP pasca acara kala itu. Dan keramahannya masih lestari ketika berpapasan di dekat mushola pasca seminar kali ini. Pembicara satunya adalah Alfred dari Samsung. Mas Gery lebih banyak mengupas tentang bagaimmana caranya membentuk kerangka berpikir dalam SDLC untuk studi kasus game development plus asyiknya berwirausaha di bidang ini.  Terus terang menjadikan NightSpade sebagai bintang tamu di topik ini merupakan langkah yang tepat kaena NightSpade terhitung berani untuk ukuan technoreprenur di Indonesia, mengapa? Mereka berani mengincar pasar justru di luar negeri. Alfred dari Samsung lebih menonjolkan tantangan dalam menganalisis peluang pasa beserta kondisi persaingan saat ini. Orangnya lumayan kocak. Terus terang, mendengar diskusi tentang ber-entrepreneur memang menarik namun akan jadi ajang bermimpi tanpa tidur ketika hanya meninggalkan wacana dan wacana, tanpa ampun, saya kritik diri saya sendiri pasca-sesi inspiratif itu.
Mas Gery dengan kaos NightSpade-nya yang membuat saya langsung "surprise"


Spanduk di depan bazaar

Sebagai (mantan) beberapa kepanitiaan di ITT, saya kagum dengan keberhasilan panitia COmpFest menggaet sponsor dan media partner sebanyak itu

Jeda istirahat pun saya sempatkan untuk mengunjungi bazar, awalnya karena terpaksa lantara sertifikat harus diambil di situ. Tapi jujur, saya berterima kasih atas "jebakan" itu, kenapa? Awalnya saya mengira bazar ini hanya berisi stand-stand start up game developer yang "palingan gitu-gitu doank", eh ternyata si panitia menjelaskan bahwa di dalam sistemnya kayak di Ti*mez*one, yaitu kumpulkan poin dari tiap stand lalu tukarkan dengan hadiah di pusat merchandise. Speechless-lah saya dengan ide simpel tapi subhanaAllah kreatifnya. Lantaran sudah sore maka saya terlambat untuk antre, maka hanya sempat mencicipi dua stand yaitu game Mimi apa gitu lupa nama lengkapnya, serta game menggambar dari ngomik.com. Antrean tempat penukaran poin menjadi merchandise benar-benar padat. Kali ini terbukti bahwa "cowok itu males belanja tapi agresif untuk berebut doordprize".

Stand pertama yang saya "cicipi" game-nya

Adanya stand ngomik.com juga ternyata

Ramainya bazar, padahal sudah hari terakhir dan sore

Ini antrean waktu belum membludak di injury time :)

Walaupun tidak registrasi via website untuk seminar sesi keempat hari itu, ternyata panitia masih menyediakan slot untuk tiket on the spot. Hajar bleh #penuh semangat Tiba-tiba bertanya dalam hati, "eh ini sesi keempat tentang apa ya?" #koplak Ternyata Firstman R. Marpaung dari Intel Indonesia #ini intel yang komputer bukan intel yang suka mata-matai lho. Di sesi sore itu, beliau memberikan informasi penting bahwa Intel memberikan "beasiswa" berupa dukungan aplikasi SDK di bidang perceptual computing serta bantuan hardware bagi developer yang "berani" dan punya "komitmen" untuk mengembangkan diri di bidang tesebut. Paparannya walau sebatas konsep umum, namun mampu disampaikan dengan asyik, mulai dari trend saat ini, roadmap pengembangan perceptual computing yang diadakan oleh Intel, dan tak lupa motivasi untuk tidak mudah menyerah dalam mengembangkan diri di bidang ICT.

Pak Firstman dengan penuh semangat membagi info tentang kesempatan riset dengan dukungan dari Intel

Capek, ngantuk, ternyata terobati dengan event inspiratif Minggu lalu.

Dan Garuda Muda ini Bersemi

Jika puasa di bulan Ramadhan sudah jelas kapan waktu berbuka, tidak dengan "puasa" gelar sepakbola bagi Tim Nasional Indonesia. Pasca medali emas pada SEA Games Manila 1991, Indonesia, baik di level senior maupun junior hanya mampu menggaet 4 medali perak AFF dan sekeping perak di SEA Games Palembang-Jakarta 2011 serta serta sebuah gelar juara turnamen ekshebisi yang justru dibumbui kontroversi. Memang, ada ucapan manis "perak itu separuh dari emas" tapi tetap saja 5 kali runner up bukan bermakna 2,5 kali juara. Tapi sepakbola masih menjadi olah raga paling digandrungi di negeri ini, bahkan membuat iri insan bulu tangkis maupun cabang olah raga lain.

Dan malam ini (ketika tulisan diketik), kumandang teriakan "gol" pemain timnas AFF U-19, Ilham Udin menandai paceklik gelar juara. Laga dramatis itu dituntaskan oleh drama adu penalti melawan Vietnam. Skor 7-6 ini menjadi kesimpulan di laga yang melibatkan 16 penendang plus dua orang kiper. Kelemahan kiper Vietnam yang kurang reaktif untuk mengantisipasi bola ke sebelah  kanan (dari arah penendang) turut memberi andil akhir perjuangan Vietnam di laga itu. Mental pemain harus diakui sangat berperan dalam babak adu penalti. Dua penendang gagal dimana salah satunya justru sang kapten Evan Dimas tidak membuat mereka patah arang. Evan justru terus meneriaki teman-teman untuk tetap menjaga nafas semangat walaupun kegagalan dia dalam penalti sebelumnya mungkin saja menjadi penentu kekalahan Indonesia, tapi saya acung jempol kepadanya yang tidak laut pada kegagalan individu.

Detik-detik akhi drama adu penalti dari sudut pemain bukan penendang (sumber)

Dan akhirnya pendakian itu pun mengakhiri paceklik gelar (sumber)



Ketika penyerahan medali, komentator menyebutkan asal klub maupun diklat tiap pemain. Momen ini juju rmembuat saya tesentuh karena ada yang ebrasal dari Aceh, Ternate, Diklat Ragunan (padahal diklat ini sempat dianggap sudah habis masa poduktifnya) hingga SAD Uruguay. Luar biasa, TImnas U-19 kali ini mempunyai ikatan dari berbagai penjuru Indonesia yang seolah memproklamasikan kemerdakaan Indonesia dari belenggu puasa gelar juara di Stadion Gelora Delta Sidoarjo.

Inikah awal dari generasi emas? Biar waktu dan ikhtiar mereka yang menjawabnya (sumber)

Ngomong-ngomong soal komentator dan proklamasi, harus diakui bahwa saya curiga komentator laga tadi itu merupakan penggemar berat sejarah Indonesia. Tak jarang dia malah terdengar seperti berorasi. Boleh jadi bagi sebagian orang itu mengganggu, sebagian orang cuek, dan sebagian lagi justru terpancing untuk menajga sejarah sebagai pelajaran untuk memompa semangat.

Akhir kita, selamat dan tentunya terima kasih pada segenap pemain dan kru pelatih Timnas Indonesia U-19 Piala AFF. Saya bangga atas jerih payah, pengorbanan, dan tentunya mental baja kalian.

Terima kasih Pak Pelatih Indra Sjafri ^_^ (sumber)

Berikut daftar pemain timnas di turnamen ini (dikutip dari Wikipedia)

Skuad saat ini[sunting]

20 pemain berikut dipanggil untuk mengikuti Kejuaraan Remaja U-19 AFF 2013 pada tanggal 9 - 23 September 2013 di Indonesia.
No.Pos.Nama PemainTanggal lahir (umur)TampilGolKlub
GKRafi Murdianto8 Januari 1995 (umur 18)Bendera Indonesia Perserang Serang
GKRuli Desrian19 Desember 1996 (umur 16)Bendera Indonesia PPLP Padang
DFDimas SumantriBendera Indonesia PSDS Deli Serdang
DFFebly GushendraBendera Indonesia Diklat Ragunan
DFMuhammad FatchurohmanBendera Indonesia Persekap Pasuruan
DFHansamu Yama Pranata16 Januari 1995 (umur 18)Bendera Uruguay Deportivo Indonesia
DFMahdi Fahri Albaar27 September 1996 (umur 16)Bendera Uruguay Deportivo Indonesia
DFMuhamad Sahrul KurniawanBendera Indonesia Persinga Ngawi
DFPutu Gede Juni Antara7 Juni 1995 (umur 18)Bendera Indonesia Diklat Ragunan
MFAlqomar TehupelasuryBendera Indonesia Nusa Ina
MFEvan Dimas Darmono13 Maret 1995 (umur 18)Bendera Indonesia Persebaya 1927
MFHendra Sandi Gunawan10 Februari 1995 (umur 18)Bendera Indonesia Persiraja Banda Aceh
MFMuhammad Hargianto24 Juli 1996 (umur 17)Bendera Indonesia Diklat Ragunan
MFPaulo Oktavianus Sitanggang17 Oktober 1995 (umur 17)Bendera Indonesia Jember United
MFZulfiandiBendera Indonesia PSSB Bireuen
FWDinan Yahdian Javier6 April 1995 (umur 18)Bendera Uruguay Deportivo Indonesia
FWMuhammad Dimas Drajad30 Maret 1997 (umur 16)Bendera Indonesia Gresik Utd U-21
FWIlham Udin ArmaynBendera Indonesia Diklat Ragunan
FWMaldini Pali27 Januari 1995 (umur 18)Bendera Uruguay Deportivo Indonesia
FWMuchlis Hadi Ning SyaifullohBendera Indonesia Persekap Pasuruan