Ketika Tiap Hari Lorong itu Tinggal Memori

Kadang bayangan samar di sebuah hari dimana saya termasuk dalam gerombolan orang-orang yang berdesakan di sebuah lorong menyaksikan proyektor yang menayangkan hasil akhir penerimaan sebuah SMA di daerah saya.. 
Kadang pula masih tersaji imaji suatu pagi saya sampai di lorong itu lagi di sebuah pagi yang mendung sisa gerimis sebelumnya. Di hari itu saya beserta sejumlah bocah lainnya tampak lugu bercelana biru sedangkan orang-orang yang jumlahnya dua kali lipat dari kami justru sudah berabu-abu di celananya.

Keduanya merupakan memori saat hai terakhir pendaftaran siswa baru serta hari pertama MOS di SMA Negeri 1 Slawi. Anak antau dari Selatan ini rupanya masih bisa menoleh ke dalam dua masa lalu yang berlangsung satu windu sebelumnya. Fase ber-SMA selama tiga tahun pun masih melekat sebagian besar di memorinya. Tentang suka, duka, rivalitas, pertemanan, romantika, dan hmmm masih ada ribuan kosakata sifat yang bisa mewakili 3 tahun itu.

Kelas X sebagai masa pencarian jati diri, dilanjutkan kelas XI sebagai episode pembuktian diri, hingga kelas XII sebagai lakon penuntasan petualangan.

#CumaDiSmansa saya pernah SMA..ya iyalah 
#CumaDiSmansa saya dikasih kesempatan jalan-jalan dari Dukuhsalam s.d. pelabuhan 
#CumaDiSmansa saya disuruh jadi pembina upacara Dan 
#CumaDiSmansa saya pernah jadi vokalis

3 tahun itu bukan masa yang singkat tapi saya bersyukur Allah membekali saya ingatan yang tajam dengan harddisk yang luas pada otak dan hati saya. Lorong itu setidaknya saya lewati tiap hari sekolah selama 3 tahun, bahkan lebih. Sebuah cermin dengna wajah sendiri seolah memberikan kesemaptan bagi kita untuk memotivasi diri sendiri sekaligus mengecek kerapian #kadang sambil merapikan rambut biar ganteng. Ah... aku sering merasa rindu dengan masa-masa itu dimana segala warna nya

SMA N 1 Slawi hanyalah benda mati dengan berbagai karakte orang silih berganti. Suasananya pun kerap berubah seiring trend yang menggandrungi remaja di tiap zamannya. Namun kita semua sepakat bahwa SMA Negeri 1 Slawi merupakan almamater kebanggaan yang penah menjadi bagian indah dalam hidup kita. Pernah? Hmm, bisa jadi. Namun bagi saya pribadi SMA Negeri dengan segala fitu di dalamnya (kegiatan KBM-nya, kegiatan ekskulnya, gurunya, kawan-kawannya, kantinnya) menjadi inspirasi untuk melangkah ke depan. 3 tahun itu meungkin telah berlalu seiring ijazah yang diterbitkan tapi kebanggaan belum saya tarik dari peredaran saya. 


Semoga Tuhan selalu melindunginya.

No Response to "Ketika Tiap Hari Lorong itu Tinggal Memori"