Memangkas Prioritas

Walau kini engkau telah tiada kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tiada terobati

Asyik juga mendendangkan lagu ini pagi hari. Mengingatkan pada sebuah momen dalam hidup yang pernah beberapa berkeliaran di Jogja lantaran berbagai alasan yang mana kesemuanya berdasarkan pilihan, tepatnya menikmati pilihan. Lomba Proposal di FK-UGM 2006 tentunya merelakan diri tidak ikut survey PAB (yang katanya rame, kocak, ble'e). Benchmark BEM 2009 tentunya menyeret pada konsekuensi logis, yaitu tidak hadir plenno+binsik PDKT 2009. TKNP3T 2011 mengharuskan mangkir KP beberapa hari, jalan-jalan BPH versus PKL di Disparbud awal 2012 pun jadi lakon kebimbangan, dan SNATi 2012 memaksa tidak ikut pleno PDKT 2012. Ah, ive itu cuma satu tapi terlalu banyak pilihan dalam hidupnya, walau tidak semua berhilir pada sesuatu yang orang umum menganggapnya "menyenangkan".

Hidup pada dasarnya pilihan alias multiple choice dimana masing-masing ada konsekuensi yang melekat. Dan dalam memilih suatu hal, pastikan ada alasan kuat dalam memilihnya.

Dr. Maman Abdurrohman, dosen TA1 di kelas saya dulu berujar, bahwa ada banyak banyak motivasi dalam ber-TA, bisa karena nilai, bisa karena waktu, bisa pula karena bidangnya. Ketika berorientasi nilai, maksudnya mengharuskan diri meraih A, mungkin agak IPK aman di batas tertentu, maka TA hanya boleh berhenti ketika probabilitas meraih A sudah mendominasi. Apabila orientasinya adalah waktu, misalnya sudah ingin  kerja untuk meringankan beban orang tua serta apakah  meraih A, B, bahkan C sekalipun, IPK-nya tidak ada melonjak ke batas lain (mungkin sudah pasti cumlaude), maka TA tidak perlu banyak menghabiskan waktu, selesaikanlah dengan segera dan lekaslah bersidang, tapi tentu ad astandar kelayakan yang harus dipenuhi. Ketika berorientasi pada bidang dimana hasilnya harus perfek, maka mau tidak-mau mengikhlaskan diri untuk tidak bisa selesai TA dalam waktu cepat walaupun probabilitas meraih nilai meningkat. Intinya, ketika tidak punya faktor penentu dalam mengerjakan TA, ya limbung sendirilah nantinya, bahkan ketika memilih judul dan merencanakan output-nya pun sudah keteteran dalam bersikap.

Pun dengan memilih pekerjaan, faktor yang perlu dipahami mana saja yang menjadi prioritas dalam memilihnya. Memilih pekerjaan, bukan sekedar nominal gaji. Banyak aspek lain yang perlu diperhatikan, yaitu lokasi kerja, waktu kerja, bidang yang dikerjakan ataupun job description, proyeksi masa depan, suasana kerja, hmmmm apa lagi ya? banyak, namun yang tidak kalah penting kesesuaian dengan roadmap.

Roadmap, ada beberapa orang, khususnya yang sangat kalkulatif, membuatnya, namun ada juga yang berparadigma bahwa hidup itu dibawa mengalir saja. Well, bagi saya roadmap menjadi suatu keharusan, mengapa? Banyak berbagai kesenangan (baik duniawi maupun yang berjangka panjang hingga akhirat) yang menggiurkan dan tentunya membuat iri. Sebagian sesuai dengan roadmap saya saat ini, ada yang sesuai roadmap namun tidak masuk agenda roadmap saya sama sekali.

Siapa sih tidak terkesima dengan jabatan di organisasi macam parpol? boleh jadi jabatan di struktur pemerintah tinggal menanti "masa panen". Mungkin hanya minoritas seperti saya yang enggan untuk mengikutinya, jangankah mengikuti, minat bergabung ke partai saja tidak.

Siapa sih tidak takjub dengan kehebatan seorang penggaet beasiswa luar negeri? Mungkin hal itu sangat silau secara psikis dan secara konkret sulit bagi saya mewujudkannya.

Bergaji gede, siapa yang tidak ngiler? Dengan gaji besar, peluang untuk beramal secara kuantitas lebih besar, peluang untuk membahagiakan orang tua pun besar, peluang untuk membekali diri dengan berbagai pengalaman hidup pun lebih besar.

Sulit bagi kita untuk tidak iri dengan berbagai wujud digdayanya orang lain, apalagi ketika yang orang lain dapatkan merupakan hal  yang kita incar. 

No Response to "Memangkas Prioritas"