Senyum yang Tertahan

Guratan lugu bentangkan damai
Usap nafas sejenak lega
Bak telaga di gurun memesona

Untaian lajur bukan memilih
Acap terseok pada persimpangan
Romantika jarak puluhan yojana

Sejenak teduh sekejap peluh
Jengah umpatkan iba menggigil
Tentang pembatas yang tak terbatas
Sekat ketiadasepakatan yang menjerat

Dawaiku bisikkan rindu
Gawai itu torehkan ngilu
Hingga dunia berpihak pada rencana
Bilamana udara jernih diayun harpa

Di Sini juga Ada Margasari

Kayaknya lebaran nanti bisa ke Margasari tanpa harus menyusuri Pantura.

Bursa Ketua ILUNI kali ini: Junior enggan cuma Menonton

Setelah kasak-kusuk pemilihan presiden FAST bulan April lalu, kini sejumlah informasi tentang peralumnian juga mewarnai social media. Kali ini berpangkal pada UI, kampus magister saya, dengan ILUNI alias Ikatan Alumni Universitas Indonesia sebagai lembaga yang akan menghelat proses suksesi. Sejujurnya di awal keramaian bursa ketua ILUNI kali ini saya tidak terlalu antusias, hingga seorang dosen yang men-share profil-profil seluruh calon ketuanya itu menayangkan sebuah nama yang beberapa saya dengar sepak terjangnya. Beliau adalah Faldo Maldini, seorang urang awak yang mampu merantau hingga ke negeri Tony Adams (well, nggak kebayang jika beliau melanjutkan studinya ke Italia, bisa geger juga pada bingung 'ini siapanya Paolo Maldini?'). Tidak bermaksud promosi, kampanye, ataupun simpatisan, saya hanya salut ada seorang alumni yang seangkatan dengan saya (beliau kelahiran 1990, sepantaran kawan-kawan karib saya juga) berani melenggang di bursa ketua sebuah ikatan alumni. Membayangkan "spesies" pemberani semacam ini rasa-rasanya sangat "langka", baik di FAST atau bahkan IA ITB, KAGAMA UGM, maupun ikatan alumni kampus UNPAD, UNDIP, hingga ITS.

Setelah kepo profil 5 calon lainnya, saya menemukan pula sosok muda lainnya, yaitu Ivan Ahda yang berkecimpung di dunia Psikologi dengan kiprahnya sebagai mahasiswa UI angkatan 2003. Woww, mantap juga fenomena ini. Fenomena yang semarak karena mereka bakal berlaga dengan sosok mahasiswa 1990-an dalam diri Chandra M. Hamzah (FHUI 1995) dan Fahri Hamzah (FEUI 1992), serta mahasiswa 1980-an, Arief B. Hardono (FTUI 1984). Ada pula sosok yang mungkin paling belia dari sisi status mahasiswa UI, yaitu Moeldoko yang merupakan FISIP 2013, tapi status itu diperolehnya di strata S-2 plus rekam jejak beliau di negeri ini yang terhitung senior. Maka duel 2 junior vs 4 senior ini bakal berlangsung dengan menarik.

Apakah memang gap 1 hingga 2 dekade akan mempengaruhi kualitas individu para calon dalam menyuguhkan program kerja? Saya belum menelusuri bukti empiris, termasuk dalam konteks pemilihan kali ini. Tapi melihat pengalaman organisasi Ivan Ahda dan Faldo Maldini, sulit menyingkirkan kedua dari percaturan hanya karena usia lebih muda. Ya, keduanya memperlihatkan sepak terjang yang "silau" dan kontribusi mereka di "sawah" masing-masing pun sudah menjangkau lingkup antarnegara. Namun karena ini bukan kontes dengan skor dari juri yang didasarkan dari penilaian individu, melainkan sistem voting, maka faktor jaringan bakal mempengaruhi hasil pemilihan nanti. Di atas kertas para senior memang lebih unggul karena faktor popularitas dan bekal jaringan yang lebih luas. Tapi itu di atas kertas. Dan di balik kertas di seberang sana pun, para junior ini juga punya bekal menggalang dukungan dari sesama alumnus junior. OK, dengan demikian, peran tim sukses rasa-rasanya bakal lebih menentukan pada saat menjelang pemungutan suara nanti.

Terlepas dari hasil pemilihan, sulit menampik bahwa keberadaan seorang yang relatif muda di bursa ketua ILUNI merupakan torehan tersendiri. Hal yang sebetulya menjadi cerminan bahwa Indonesia sedang "demam" pemimpin muda. Jika di Jawa Timur sana Kabupaten Trenggalek dipimpin oleh sosok yang berusia 30-an tahun plus wakilnya baru 25-an, di Lampung juga gubernurnya baru tahun ini mencicipi usia kepala 4, apakah ILUNI bakal "tertular"?

Nama Pahlawan sebagai Nama Stadion di TSC 2016

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat bangga dan tidak mudah lupa akan jasa para pemimpin yang juga menjadi pahlawan. Hal itu bisa dilihat pada penamaan stadion di Indonesia yang justru erat kaitannya dengan para pahlawan, khususnya yang memberikan kontribusi bagi daerah tersebut. Sebagaimana kebiasaan di negara-negara lain, nama pahlawan kerap digunakan secara resmi sebagai nama jalan, nama bandara, hingga nama universitas di Indonesia. Namun urusan memberi nama stadion dengan nama pahlawan merupakan hal yang jarang ditemui di negara-negara lain. Di Eropa, kerap sebuah stadio diberi nama dengan nama seseorang, namun orang tersebut bukanlah pahlawan terkait latar belakang perjuangan nasionalisme. Justru nama atlet hingga presiden klub pemilik lah yang digunakan sebagai nama stadion, misalnya Stadion Giuseppe Meazza, Stadion Marc Antonio Bertegoni, Stadion Santiago Bernabeu. Nah, berikut ini beberapa stadion kandang klub TSC yang namanya diambil dari nama pahlawan.

Dari pesisir Barat Pulau Andalas, sebuah stadion dengan arsitektur khas rumah gadang tegak berdiri. Semen Padang merupakan tuan rumah dari stadion yang dinamai H. Agus Salim ini. Beliau merupakan tokoh diplomat ulung yang berhasil menjadi ujung tombak pergerakan nasional, mulai dari era Serikat Islam hingga diamanatkan sebagai menteri di sejumlah departemen di era Presiden Soekarno. H. Agus Salim, yang lahir di Koto Gadang, Agam, berperan besar sebagai juru bicara Indonesia saat menjalani proses "angkat suara" di ruang diplomasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Yang menarik, stadion ini menyertakan huruf "H" yang merupakan singkatan dari Haji sebagai nama stadion. Sebuah isyarat bahwa masyarakat Minang menerapkan ABS-SBK di segala lini.

Beranjak ke Pulau Jawa, tepatnya di Jakarta Selatan, sebuah bangunan megah menjadi kandang Persija sekaligus timnas Indonesia. Pernah stadion bernama Senayan sebagaimana letak kawasan tersebut. Namun di awal era Reformasi, pemerintah mengubah namanya menjadi nama sapaan akrab tokoh proklamator Indonesia, yaitu Bung Karno plus awal "Gelora". Stadion Gelora Bung Karno merupakan stadion dengan kapasitas terbesar di Indonesia dengan rekam jejak tingkat Asia relatif menyilaukan, yaitu lokasi utama Asian Games 1962, Asian Games 2018 (insya Allah), serta final Piala Asia 2007. Secara pribadi, Bung Karno memang merupakan tokoh yang sangat memperhatikan peran olah raga, termasuk sepak bola, sebagai wahana untuk menggalakkan nasionalisme. Nama Bung Karno (termasuk Soekarno) juga terhitung lengkap karena dipakai pula sebagai nama jalan, nama bandara, dan juga nama universitas.

Tokoh legendaris dalam babat tanah Sunda juga mewarnai sepak bola Indonesia. Nama Prabu Siliwangi mengacu pada seorang maharaja bernama Sri Baduga yang merupakan pemimpin kerajaan Sunda Galuh. Kemasyurannya juga menginspirasi TNI daerah Jawa Barat dan Banten yang menamai Kodam mereka dengan sebutan Siliwangi. Di era perserikatan hingga Ligina, Stadion Siliwangi menjadi kandang dari Persib Bandung. Namun di musim ini, stadion ini menjadi pangkalan PS TNI, klub berbasis tentara yang secara geografis kebetulan stadion Siliwangi terletak di basis wilayan TNI Kodam Siliwangi.

Stadion Si Jalak Harupat ini adalah stadion yang menjadi markas Persib Bandung sejak era ISL. Walau terletak di Soreang, Kab. Bandung, bukan Kota Bandung, namun kapasitas yang lebih luas daripada Stadion Siliwangi menjadi alasan migrasinya si Pangeran Biru. Memang, di satu sisi nama Si Jalak Harupat adalah sebutan untuk ayam jantan legendaris di masyarakat Sunda. Namun di sisi lain, nama ini juga mengacu pada julukan seorang pahlawan nasional asli dari Bandung Raya, yaitu Otto Iskandar Dinata. Beliau merupakan sosok pribumi yang terkenal keberaniannya dalam menggerakan persatuan Indonesia sehingga Jawa Barat menjadi pihak yang pro terhadap bentuk negara kesatuan. Satu-satunya hal yang masih menjadi misteri terkait sosok Otto Iskandar Dinata adalah kronologis hilangnya beliau di akhir hayatnya.

Beralih ke Jawa Timur, ada stadion yang juga menggunakan kata sapat "Bung", yaitu Stadion Gelora Bung Tomo. Stadion ini menjadi markas klub berbasis kepolisian, Bhayangkara Surabaya United (selain Stadion Gelora Delta Sidoarjo). Bung Tomo kerap menjadi simbol dari Hari Pahlawan karena memang kepiawaian lantang beliau berpidatolah menjadi sumbu yang menjadikan Arek-Arek Suroboyo berkobar melawan gempuran tentara Inggris (NICA). Saya pribadi sempat mendengarkan cuplikan pidato beliau yang saya akui "pedas" memang pantas menjadi sumber dari peristiwa dahsyat yang kemudian menjadikan Surabaya dijuluki sebagai Kota Pahwalan.

Lamongan punya sejarah panjang sebagai sebuah wilayah administratif. Di pertengahan abad 16, Lamongan yang menjadi wilayah setingkat kadipaten memiliki pemimpin baru bernama Tumenggung Surajaya. Dari sinilah, alasan stadion yang dihuni oleh Persela Lamongan memiliki nama Surajaya.

Stadion ini sebetulnya kerap disebut tatkala Persegi Gianyar masih pentas di Divisi Utama Ligina. Namun sejak porak-porandanya Persegi plus kempisnya keuangan klub asal Bali lainnya (Perseden Denpasar, Perst Tabanan), tenggelam pula detak jantung sepak bola di Pulau Bali ini. Di awal 2015, Persisam yang hijrah ke Bali memutuskan berganti identitas menjadi Bali United Pusam dengan pilihan stadion jatuh pada Kapten I Wayan Dipta. Nama beliau memang tidak setenar I Gusti Ngurah Rai, yang juga nama bandara. Tapi jangan salah, beliau merupakan talenta yang dikenang karena keberaniannya memimpin perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Kota Tenggarong di Kalimantan Timur sebelumnya hanya identik dengan Kerajaan Kutai selaku kerajaan tertua di Indonesia. Namun sejak klub bernama Mitra Kutai Kartanegara melejit di pentas ISL, kota satu ini mulai mencuri perhatian. Salah satu kelengkapan klub yang paling membuat orang bertanya lebih jauh tentang kota ini adalah nama stadion, yaitu Aji Imbut. Siapakah beliau? Sekedar informasi, nama Aji di masyarakat Kutai merupakan gelar kebangsawanan (cmiiw). Aji Imbut merupakan sultan yang menjadi pemimpin masyarakat Kutai Kartangara, khususnya dalam pertempuran melawan VOC. Beliau bergelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin. Di awal pemerintahan beliau, ibu kota kesultanan Kutai dipindahkan ke Tepian Pandan yang diubah namanya menjadi Tangga Arung, di kemudian hari lidah orang menyebutnya Tenggarong.

Demikian itulah nama-nama stadion di TSC 2016 yang ternyata berasal dari nama seorang pahlawan. Semoga memberi pengetahuan tersendiri, khususnya terkait sejarah Indonesia dari berbagai sisi. Di luar stadion-stadion tersebut masih ada beberapa nama stadion yang berasal nama individu pahlawan, baik nasional maupun pahlawan setempat. Misalnya Stadion Kaharudin Nasution di Pekanbaru, Stadion Abu Bakrin di Magelang, Stadion Letjen H. Soedirman di Bojonegoro, Stadion Gelora Supriyadi di Blitar,

Peue Ka Siap?

Dalam kurun waktu yang tidak singkat, umat muslim akan memasuki fase spesial yang sangat dinanti. Bulan Ramadhan, bulan yang menandai kesempatan berharga untuk mengubah pribadi kita masing-masing. Bulan yang tidak hanya identik dengan menahan lapar dan dahaga, namun juga akan berisi telaga hidayah yang tidak bisa semua orang temui. Bahkan sebuah "kemisteriusan" bernama Lailatul Qadr turut menyertai spesialnya fase ini.

Sebuah anekdot "garing" kerap disebut sebagai pertanda Ramadhan sudah dekat, yaitu iklan sirup M*arj*an. Sekedar pebandingan, iklan itu menandakan ada perusahaan yang konsisten dari tahun ke tahun mempersiapkan bulan Ramadhan. Pertanyaannya, apakah kita tidak terendiri oleh konsistensi si perusahaan/brand tersebut.

Bukankah tahun lalu juga ada Ramadhan?
Sebuah keberuntungan tersendiri apabila bisa menjumpai sebuah bulan Ramadhan. Tidak semua insan berkesempatan menjumpainya. Coba tengok rekan kita ataupun keluarga kita. Barangkali ada satu dua nama yang sudah tidak bersama kita, padahal mereka ikut ber-Ramadhan bersama kita, bahkan turut meramaikan romantisnya lebaran. Maka, tatkala usia kita menjangkau Ramadhan, kita patut mensyukurinya.

Bukankah hanya menahan lapar dan dahaga?
Eitttsss, rugi banget kalau puasa hanya diisi siklus sahur-puasa-buka puasa dst hingga malam takbir. Segala macam ibadah kita dijanjikan ganjaran yang luar biasa. Shalat fardhu plus segala rupa shalat sunah, tadarus Al Qur'an, infaq, waah sungguh akan ada banyak kesempatan menabung amalan di Ramadhan. Barangkali jika dibuat checklist yang versi lengkap macam buku Ramadhan (hehee, jadi inget jaman SD ampe SMP) agaknya daftarnya akan sangat panjang. Jelas sayang banget kalau kita hanya mengisinya dengan tidur. Konon ujar-ujar tidur saja berpahala harusnya ditanya balik "tidur aja dapet pahala, apalagi tadarus?".

Yaelah masih lama keuleusss
Yakin masih lama? Tuh liat aja timnas-timnas di Eropa mau berlaga di Euro saja persiapannya udah dari tahun lalu. Sebuah umat muslim, kesiapan mereka (walau dalam konteks Euro) tentu menjadi sindiran yang membangkitkan semangat kita untuk lebih menyambut bulan Ramadhan. Persiapannya bukan berarti menganggarkan ongkos pulang kampung, membuat jadwal buka bareng puasa di tempat-tempat yang instagramable, ataupun menyusun menu bukber plus jadwal reuni. Sederhana saja persiapannya, yaitu menyusun target amalan selama Ramadhan. Tentu akan mengasyikan tatkala ilmu berorganisasi yang didapat saat kuliah diterapkan dalam menyambut Ramadhan. Rencanain KPI alias indikator kesuksesan tiap amalan, rencanain anggaran bersedekah, rencanain bikin desain publikasi yang memotivasi sesama, dll.

Selamat menjemput Ramadhan terbaikmu^^

Tatkala Iman (Perlu) Menundukkan Akal

Isra Mi'raj merupakan sebuah titik dalam hikayat Nabi Muhammad SAW yang paling sulit diterima dengan akal sehat jika tidak diimbangi dengan iman dan taqwa. Perjalanan dari Mekkah ke Jerusalem lalu dilanjutkan ke langit, jelas ekspedisi yang menjadi ujian keimanan bagi kaum Muslim saat itu. Keyakinan Abu Bakar Shiddiq, sosok yang pertama kali meyakini ekspedisi Isra Mi'raj, tentu menjadi pencapaian iman yang luar biasa. Harus diakui bahwa keimanan beliau sudah mampu menundukkan segala bentuk keraguan dari akalnya.

Perjalanan Isra' berupa perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa barangakali bisa saja dicerna dengan logika pada era saat ini. Era dimana sudah tersedia berbagai versi pesawat yang memungkinkan perpindahan manusia diantara dua titik tersebut. Namun di era Rasulullah, unta sebagai transportasi "termodern" tidak bisa menjangkau jarak keduanya dalam waktu semalam.

Perjalanan Miraj jelas lebih spektakuler karena menghubungkan lokasi berangkat Rasulullah di Jerusalem ke langit ke-7. Teknologi buatan manusia saat ini, dan boleh jadi hingga kiamat, belum ada yang mengakomodasi perjalanan tersebut. Akal kita tentu semakin sulit menerka lokasi bertemunya Nabi Muhammad dengan para Rasul terdahulu. Akan ada banyak pertanyaan di benak kita. Dimana lokasi masing-masing lapisan langit? Bukankah arwah manusia adandi alam kubur hingga kiamat? Lalu kenapa Nabi Muhamad bisa bertemu para Rasul yang sudah meninggal (kecuali Nabi Isa AS).

Akal umat terdahulu diuji dengan dua "studi kasus" ekspedisi dahsyat dimana salah satunya (Isra) bisa dimungkinkan pada saat ini, maka akal umat saat ini masih diuji dengan mungkin tidaknya perjalanan satunya lagi (Mi'raj). Dan segala kemungkinan itu merupakan batas yang timbul karena kemampuan pikir manusia. Kemungkinan yang akan sirna jika yang berkehendak itu adalah Yang Mahakuasa, Allah SWT. Dengan kata lain, sampai kapanpun, hingga kiamat, Isra Mi'raj akan menjadi ujian bagi manusia. Ujian yang menggalakkan peran iman dan taqwa untuk mengungguli akal semata.

Isra Mi'raj juga memberikan kita warisan. Bukan sekedar cerita sejarah yang menghiasi seremonial belaka. Warisan yang rutin kita tunaikan sebagai bekal paling pertama ditanyakan saat hari akhir nanti. Warisan yang menjadi kewajiban kita dalam rangka mencegah pribadi ini dari ancaman perbuatan keji dan munkar.

Sesuatu yang Tertunda

Ibarat album band asal Surabaya, Padi yang legendaris itu "Sesuatu yang Tertunda". Butuh waktu untuk menerawang ritme dengan frekuensi yang sempat masuk "archive" hehee. Tapi di tengah persiapan yang serba mepet, Allah memberi banyak kemudahan. Kali ini bukan sekedar berpikir pragmatis yang seadanya, namun menggusung mimpi untuk memperbaiki penerapan TI di negeri ini.


Jengah memang dengan keprihatinan suasana e-government yang masih belum mulus. Tapi sebagaimana ujar Ust. Salim A. Fillah bahwa kita harus "curiga" apabila kita berada di lingkungan yang penuh masalah. Ya, curiga bahwa jangan-jangan kita adalah solusinya. Nah, mari berdayakan intelektual kita untuk kontribusi positif.

Ada Ada dengan Lapas?

Bulan April telah berlalu, bulan yang kelam bagi sejarah penanganan narapidana di Indonesia. Betapa di bulan keempat lalu, dua insiden di dua lembaga permasyarakatan terjadi. Keduanya menggenapi kasus yang terjadi di tahun 2016 ini menjadi empat. Kasus terakhir yag terjadi kebetulan berlangsung di Kota Bandung, wajar jika akhirnya masyarakat mulai gaduh, padahal kasus kerusuhan jika melanda Kota Aceh, Bengkulu, dan Denpasar. Sebagai masyarkat sipil yang "buta" dengan ekosistem di dalam lembaga permasyarakat, saya bingung tentang apa penyebab insiden tersebut "sebenarnya".

Mengapa kata sebenarnya saya beri tanda kutip? Karena kerap alasan yang terjadi disamarkan untuk menghindari insiden yang lebih parah, terutama jika timbul korban jiwa. Berbagai dugaan menghampiri laman-laman di dunia maya. Perkelahian ditengarai sebagai inti dari insiden, walau ada pula bumbu isu bunuh diri. Namun bagaimana ke depannya? Apakah akan ada perbaikan? Bagaimanapun kasus yang meyeret para tahanan, mereka tetap punya hak untuk memperbaiki kualitas hidup.

Mulai timbul di benak saya untuk mencari solusi dari sisi TI. Apakah ada peluang bagi TI memperbaiki situasi penghidupan di lembaga permasyarakatan? Saya berangan-angan "wabah" e-commerce bisa menjadi potensi bagi para penghuni lembaga permasyarakat. Wabah di sini bukan berarti para penghuni menjadi konsumtif, namun justru dibekali kemampuan untuk terjun di dunia e-commerce pasca-menghirup udara segar. Saya juga berangan-angan, akan ada aplikasi semacam dasboard yang secara blak-blakan melaporkan performa pengelolaan lembaga permasyarakatan. Benarkah terjadi ledakan jumlah penghuni sehingga sumber daya yang ada cukup? Benarkah birokrasi yang ada mempersulit para penghuni memperoleh hak-haknya, seperti dijenguk keluarga, mengajukan remisi, hingga mengajukan PK (peninjauan kembali)?

Saya berharap ada kontribusi TI, melalui e-government di sini...

yang nun jauh di sana

Leicester City, di Ambang Juara EPL dan Debutan UCL

Leicester City kini di ambang sejarah yang sontak menjadi perbincangan di berbagai belahan dunia. Klub yang musim lalu berkubang di zona degradasi, kini berlumur dukungan untuk menjadi juara Liga Inggris. Titel yang tidak sekedar perdana sebagai peserta Premiere League, namun juga sepanjang partisipasi mereka di kancah sepak bola Liga Inggris. Jika mereka berhasil mereka menjadi klub yang benar-benar baru pertama kali menjuarai Liga Inggris (s/k EPL) pasca Nottingham Forest meraih trofi Liga Inggris di musim 1977-1978.

Kita masih berbicara umpama. Ya, status Leicester City saat ini tidak lebih dari peraih 2 besar yang terancam juara. Bisa jadi kegagalan Tottenham menundukkan Chelsea akan menobatkan Leicester meraih gelar juara tanpa harus menanti dua laga tersisa. Maka kita masih berasumsi jika Leicester meraih gelar juara Liga Inggris yang juga membuat mereka otomatis berlaga di Liga Champions musim depan. Memang peringkat tiga (yang kini diduduki Manchester City) pun otomatis tiket ke grup Liga Champions, namun jika ada kesempatan juara, kenapa tidak sekalian juara?

Jika bicara kemungkinan juara Liga Inggris sekaligus lolos ke Liga Champions, maka Leicester akan mengikuti jejak Deportivo La Coruna, FC Rubin Kazan, FC Twente, Bursapor, dan Montpellier. Masing-masing berstatus juara La Liga 1999-2000, Russian Premier League 2007/2009, Eredivisie 2009/2010, Liga Turki 2009/2010, serta Ligue 1 2011/2012. Sebagai kadonya mereka dihamparkan tiket ke Liga Champion tanpa kualifikasi. Di musim masing-masing itu mereka pertama kali bertahta di liga tersendiri. Hal yang sama juga berlaku bagi Leicester. Dan di sinilah, Leicester musti waspada.

Dari klub-klub tersebut, praktis hanya Deportivo La Coruna yang berhasil merangsek hingga babak 8 besar Liga Champion. Rubin Kaza dan Twente harus rela tergusur ke Liga Eropa lantaran hanya mampu menyentuh ranking 3. Bursapor dan Montpellier malah terperangkap dengan status juru kunci. Jelas alarm yang menandakan perlunya waspada sebagai klub pendatang baru. Kompetisi Liga Champion juga mengisyaratkan Leicester harus melakoni 4 turnamen sekaligus karena di Inggris terdapat 3 kompetisi lokal dan sebagai tambahan tidak ada "cuti tahun baru".

Leicester perlu mencontoh Super Depor yang tidak mendadak ambrol skuadnya pasca juara La Liga 1999-2000. Sosok Djalminha dan Roy Makaay yang begitu sentral tidak dilego begitu saja. Justru hadir sosok Diego Tristan sebagai penguat kualitas tim. Memang gelar La Liga gagal dipertahankan, namun torehan langkah di Liga Champion yang mencapai 8 besar jelas prestasi non-trofi yang spesial. Jadi, rekomendasi terbaik bagi Leicester City jika mampu mengukir sejarah di blantika musim ini adalah pertahankan sosok Riyad Mahrez, Jamie Vardy, Shinji Okazaki, hingga Kasper Schmeicel.

Sumber foto: www.caughtoffside.com