Tertaut di Masjid

Artikel ini terinspirasi dari pertanyaan teman saya tentang siapa sih yang dimaksud orang yang tertaut hatinya di masjid. 
Apakah orang yang rumahnya dekat dengan masjid? 
Apakah orang yang senantiasa menyumbangkan harta untuk pembangunan masjid? 
Apakah orang yang membaktikan dirinya menjadi dewan kemakmuran masjid? 
Apakah orang yang mengajar TPA di masjid?
Apakah seorang pengembara yang menginap di masjid terus?
Atau malah jangna-jangan orang yang menemukan jodohnya di masjid?

Kita tinjau sebuah hadis 
Tujuh golongan manusia yang akan diberi perlindungan oleh Allah dalam naungannya di hari yang tiada naungan melainkan perlindungan Allah itu sendiri iaitu:1. Imam (pemimpin) yang adil,2. pemuda yang sentiasa beribadat kepada Allah,3. lelaki yang hatinya sentiasa terpaut dengan masjid,4. dua orang yang saling cinta mencintai kerana Allah di mana keduanya berkumpul dan berpisah kerana Allah,5. seorang lelaki yang diajak oleh wanita rupawan serta berkedudukan tinggi untuk melakukan zina, lalu ia menjawab, “Aku takut kepada Allah”, 6.seseorang yang bersedekah dengan sesuatu sedekah lalu menyembunyikan sedekahnya itu sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dibelanjakan oleh tangan kanannya, 7.seseorang yang mengingati Allah di tempat yang sunyi lalu mengalir air matanya. ”(Riwayat Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Perlindungan dari Allah merupakan karunia sangat-sangat berharga di akherat nanti. Maka tentu yang dimaksud orang yang tertaut/terpaut hatinya di masjid jelas "orang pilihan" yang teruji melalui berbagai ujian yang pada akhirnya mendekatkan hatinya sebagai mukmin yang taat untuk beribadah kepada-Nya melalui masjid sebagai rumah Allah.

Imam Nawawi menerangkan dalam kitabnya syarhun-nawawi lil-muslimtentang sabda Nabi: “seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid” : yaitu orang yang sangat cinta masjid dan selalu sholat berjamaah di dalamnya, bukan siapa-siapa yang hanya sering duduk atau berdiam di masjid. (sumber)

Sedikit vs Banyak

Mau yang Sedikit atau yang Banyak??
Banyak merupakan kata sifat yang kualitatif, susah ngukurnya. Sebagai analogi, gaji 3 juta per bulan bagi seorang dokter muda di Ponorogo jelas rasa "banyak"-nya akan berbeda dengan gaji 3 juta per bulan seorang Xavi Hernandez. Yang satu merasa banyak yang satu merasa kurang. Well, sebenarnya itu hanya selingan di awal.

Namun mau bagaimanapun secara kasat mata kita pasti sepakat bahwa "banyak" merupakan kumpulan dari "sedikit". Sebagai contoh, percayakah ada seseorang yang kuliahnya 40 juta? Apapun jawabannya, seorang S1 dengan SPP 5 juta maka total SPP selama 8 semester sudha mencapai 40 juta. Jelas, matematika sederhana menunjukkan demikian. Lantas apa yang menarik bila kita tarik ke dalam amalan harian kita?

Ayo kita tengok target ibadah pribadi kita, pasti sangat sangat ambisius. Pengin hafal Al Quran? Iyo... Pengin rajin puasa ampe yang sunnah? Tentu... Pengin naik haji? Pasti... Pengin dapet Lailatul Qodr?Aamiin dan sebagainya

Namun kendala terbesar terdapat pada faktor "transformasi", tentu tidak mengacu pada tagline "I transform, u transform, we are transformers".

Boleh jadi... kita ngerasa ada di lingkungan (termasuk orangnya) yang kurang mendukung kita untuk bertransformasi
Boleh jadi... kita belum ngerasa perlu untuk berubah, istilahnya "ah masih ada tahun depan kok"
Boleh jadi... kita belum yakin dengan konsisten kita di kemudian hari
Dan masih ada berjuta-juta kilobyte alasan tersimpan di benak kita...

Lantas apakah kita harus menyerah dan melambaikan tangan pada segala target-target mulia kita? Menyerah? Kenapa harus menyerah? Ini bukan UTS ataupun UAS yang kalau tidak bisa menjawab maka sia-sia segala perjuangan kita.

Dalam konteks ibadah, yang menjadi penilaian Allah itu tidak hanya hasil, namun juga proses. Ketika ada proses yang tidak diketahui Allah, ketika ada pengorbanan yang hanya dipendam di kalbu maka Allah pun mengetahuinya.

Nah, sedikit tips dari temen yang sangat jitu untuk diterapkan agar bisa memperbaiki diri dalam meningkatkan target-target adalah prinsip "perlahan namun pasti".
Perlahan? Kenapa perlahan? Mau berapa lama? Eitsss, tunggu dulu, kita telisik dulu penjelasannya.

Perlahan tapi pasti di sini bukan berarti kita pelit dalam bertransformasi, kagak gitu. Dalam transformasi di sini, kita awali dengan membuat sebuah visi hendak seperti apa ibadah yang ingin kita konsistensikan. Jabarkan ibadah tersebut ke dalam beberapa langkah peningkatan. langkah-langkah peningkatan tersebut kemudian cantumkan target waktu pencapaiannya. Absurd? Mari tinjau contohnya di bawah.

Misal mempunyai target hafal Al Qur'an. Target jangka panjang ingin hafal berapa lama sih? Misal 5 tahun. Karena ayat Al Qur'an terdiri atas 6666 *CMIIW*, maka bagi 6666 dengan 5 tahun, didapatkan 1333,2, artinya tiap tahun harus hafal 1333,2 ayat. Kita pecah lagi per hari dimana satu tahun setara 365 hari, maka satu hari targetnya 3,6526 (1333,2 div 365), kita bulatkan menjadi 4 ayat. Empat ayat per hari bro. Sanggup ga? Memang ada ayat yang pendek (nan favorit) ada juga yang panjang. Ya itu kembali bagaimana sudut pandang kita hendak menyikapi positif atau tidak. 

Misal kita punya target rutin sholat sunnah rawatib, ini bisa dilakukan bertahap. Misalnya di 3 hari pertama rutin dan mantapkan sholat sunnah badiyah Maghrib, 3 hari berikutnya ditambahkan dengan sholat sunnah badiyah Isya, dan terus hingga seluruh sholat sunnah rawatib tertunaikan.

Keunggulan sistem perlahan yang kedua terdapat pada kesederhanaan dan kemampuan membiasakan diri yang lebih bisa terserap. Kebanyakan transformasi yang bersifat mendadak justru menimbulkan kekagetan secara fisik dan manajemen waktu. Alhasil konsistensi justru menjadi labil.

Semoga bermanfaat, wallahualam.

Call for Paper: Konferensi Nasional Informatika (KNIF) 2013 ITB


[meneruskan informasi via milis]

Institut Teknologi Bandung (ITB)
Kamis, 28 November 2013

Keynote Speaker : Romi Satria Wahono


Kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara Peneliti, Ilmuwan, Praktisi, Akademisi untuk mendiseminasikan penelitian Anda dalam Konferensi Nasional Informatika 2013 (KNIF 2013) yang diselenggarakan di Institut Teknologi Bandung pada

Hari            : Kamis
Tanggal         : 28 November 2013
Waktu           : 9.00 – 17.15

Konferensi Nasional Informatika (KNIF) merupakan konferensi yang diselenggarakan secara tahunan oleh Kelompok Keilmuan (KK) Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung. Konferensi ini diharapkan menjadi ajang pertemuan ilmiah tahunan tentang topik yang sedang hangat di bidang informatika, sekaligus menjadi sarana bagi para peneliti untuk berkomunikasi dan memaparkan area penelitian mereka.

KNIF 2013 memuat tema mengenai “Informatika di Indonesia: Potensi, Peluang, dan Tantangan” dengan mengundang Romi Satria Wahono, seorang dosen, peneliti dan technopreneur, sebagai keynote speaker yang akan mengisi topik dalam panel diskusi bersama sebelum dilakukan sesi paralel. Melalui kegiatan konferensi ini diharapkan dapat terbentuk sebuah komunitas baik dari akademisi maupun praktisi dari seluruh Indonesia yang memiliki kepedulian terhadap bidang ilmu keinformatikaan untuk saling berkumpul, berbagi, dan berdiskusi mengenai potensi, peluang, dan tantangan yang ada dalam bidang informatika khususnya terhadap domain persoalan dan peluang yang ada dalam komunitas lokal di Indonesia.

Adapun topik bahasan yang dikaji (tanpa bermaksud membatasi) adalah sbb:
•        Mobile Computing
•         Image Processing
•         Computer Graphic
•         Artificial Intelligence
•        Information Retrieval
•        Data Mining
•        Information System
•         Distributed System
•        Computer & Network Security
•         Cloud Computing        
•        Speech Processing
•        Natural Language Processing
•        Pervasive Computing 
•        Social Media
•        Semantic Web Technologies
•        Computer Vision
•        Game & Multimedia
•        Algoritm & Complexity


TANGGAL PENTING
Batas Akhir Penyerahan Makalah Lengkap             7 September 2013
Pengumuman Penerimaan                             10 Oktober 2013
Batas Akhir Registrasi dan Makalah Siap Cetak      7 November 2013
Pelaksanaan Konferensi                                  28 November2013

BIAYA PENDAFTARAN

Peserta Pemakalah
Umum                               Rp. 500.000,-
Mahasiswa (Bukti KTM)              Rp. 450.000,-
Makalah Kedua (dst.)                   Rp. 250.000,-

Peserta Non-Pemakalah 
Umum                               Rp. 250.000,-
Mahasiswa (Bukti KTM)                   Rp. 150.000,-

PEMBAYARAN
Pembayaran dapat ditransfer ke rekening:
Konferensi Nasional Informatika
BNI Kantor Cabang Perguruan Tinggi Bandung
Nomor rekening: 0298451180

Born to be Fighter

"Aku cepat pulih" itu menjadi jawaban Tantan ketika Chinmi merubuhkannya di final turnamen tanpa senjata (kung fu boy)

Hidup itu harus terus berpijar
Kiyep alias redup mungkin menghentak tapi tidak berarti padam sebelum ajalnya
Tatkala rasanya butuh waktu lama untuk pulih, justru tanganNya terulur dan menunjukkan kasihNya

Ya... Bukankah Allah masih mengizinkanku berjuang di bumi ini walau sudah tiga kali aku terkapar hingga maut terasa dekat

Dan sekali lagi Allah menyelamatkanku dari keterpurukan
Melalui firmanNya yang menyusuri pembuluhku
Aku sadar bahwa setiap cobaab pasti sesuai makhlukNya
Itu keniscayaan
Tinggal diri ini sadar atau tidak pada kekuasaanNya

Kangen Kalian ^^

Besok pulang ke Tegal
Dan tak sabar jua bertemu dua bocah ini

Yang baju item Otrinanda Gandhi, dari nama belakangnya jelas dia adik kandung saya.
Yang oranye Anindito Adi Wicaksono, sepupu yang udah saya anggap saudara kandung sendiri.

Keduanya sepintas pendiem, padahal aslinya lebih hiperaktif ketimbang saya.
Tak sabar saya untuk main-main dan ngebolang lagi bareng kalian ^^

Video Klip yang Nendang Banget

Berikut video klip Nugie yang berjudul Lentera Jiwa


Okey, saya bukan hendak ngomongi saya yang dikatain mirip ama Nugie, hahaaa skippp

Rasanya nendang banget tatkala menengok masa lalu, yaitu saat SMA. Di SMA pasti ada yang namanya mata pelajaran favorit, ada yang yang favorit dan menguasai, ada yang favorit tapi tidak bisa menguasai, serta ada pula yang tidak favorit plus tidak memahaminya sama sekali (yang ini menyedihkan bro T_T).

Namun dalam skenario-Nya, berbagai penyimpangan kerap terjadi, misalnya
  • Dari sekian banyak fans kimia, ada 5 orang yang cenderung holic namun tinggal menyisakan Aas yang berkuliah di S1 Teknik Kimia Unsoed, lha yang lain? Masykur dan saya "hijrah" ke dunia komputer (saya di Informatika IT Telkom sedangkan Masykur di Ilmu Komputer UI, ckckck Kur Kur...ana ana wae awakmu kuwiii), Relly malah menikmati pendidikan di AMG (Akademi Meteorologi Geofisika, geofisika lho, bukan geokimia =_=), dan yang paling ekstrim ya Sekar yang tahun lalu lulus dari Akuntansi UI, akuntansi? ya akuntansi...
  • Salah seorang "senpai" di bidang astronomi, yaitu Arief sekarang sedang melanjutkan D4 Gizi di Poltekkes Kemenkes Semarang, tentu dia bukan hendak membuat makanan yang menyerupai rasi bintang
Tapi nama-nama tadi hanya minoritas alias pencilan. Masih ada ko yang "istiqomah" dengan bakatnya, misal Tyas dan Norma di STIS, Prihadi, Sucipah, dan Yosela di Pendidikan Matematika Unnes, Fathah di Kedokteran Undip. Namun bila ditelisik, maka itulah manisnya hidup. Walau sempat galau dan ingin kabur pindah kuliah, kenyataannya saya bersyukur menjadi lulusan informatika, mungkin Masykur pasca kelar skripsinya (aamiiin bos) juga demikian, hehee. Arief pun sangat enjoy dengna kapabilitasnya di bidang gizi.

Itu baru momen ketika menoleh ke belakang saat SMA, kalau saat kuliah? Jelas lebih beragam
  • Ada bang Jack yang hendak melanjutkan studi ke S2 Manajemen, padahal S1-nya Teknik Telekomunikasi
  • Ada pula Alvin, Fitri dan Siti yang notabene S1 T. Informatika justru meminta LA (Letter of Acceptance) S2 di S2 Manajemen UGM (Alvin) dan S2 SBM ITB (Mpit+Iti)
  • Ada juga Dita yang S1 Sistem Komputer justur menjadi guru TK
  • Kang Khanif yang T. Telekomunikasi malah kerja sebagai Sales Supervisor di Toyota (ga tau masih apa nggak), tapi adakah hubungannya penjualan otomotif dengan telekomunikasi?
Itulah menariknya takdir yang disusun oleh Allah SWT, tidak selalu berdasarkan disiplin ilmu maupun kesukaan sebelumnya, namun terbaik itu pasti ^_^

Menikah sebagai Manifestasi Rukun Iman [2]

Masih seputar kaitan menikah dengan rukun iman pertama, yaitu uman kepada Allah SWT. Kali ini berkenaan dengan makna cita-cita yang sering digaungkan sesama muslim bila ada saudaranya yang menikah, yaitu menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Lha, hubungannya dimana?

Pertama kali frase tersebut sebagai sebuah cita-cita alias doa, siapa yang berhak dan berwenang mengabulkannya dengan penuh keridhoan? Hanya Allah

Kedua, frase tersebut ditinjau secara  historis-filologis, hasil rangkaian tiga kata utama (ini sumbernya):
  • Sakiinah artinya tenang, tentram
  • Mawaddah artinya cinta, harapan
  • Rahmah artinya kasih sayang dan satu kata sambung wa yang artinya "dan"

Ada pula pemaknaan dari sumber berikut
  • Pengertian Sakinah : Sakinah menurut bahasa berarti kedamaian, ketenteraman, ketenangan, dan kebahagiaan. Dalam sebuah pernikahan, Pengertian sakinah berarti membina atau membangun sebuah rumah tangga yg penuh dengan kedamaian, ketentraman, ketenangan dan selalu berbahagia.
  • Pengertian Mawaddah : Mawaddah menurut bahasa berarti Cinta atau harapan. Dalam sebuah Pernikahan, Cinta adalah hal penting yang harus ada dan selalu ada pada sebuah pasangan suami Istri. Dan Mawaddah berarti Selalu mencintai baik dikala senang maupun sedih.
  • Pengertian Warrohmah : Warrohmah memiliki kata dasar rohmah yang artinya kasih sayang. dan kata wa disini hanya sebagai kata sambung yang maknanya dan. Didalam sebuah keluarga, kasih sayang adalah hal penting yang harus ada dan selalu di jaga agar impian menjadi keluarga bahagia bisa tercapai.

Sakiinah menjadi sebuah kondisi yang dicapai melalui keterikatan terhadap Allah dimana iman yang kuat sehingga Allah SWT akan memberi ketenangan dan kebahagiaan. Masalah yang kerap timbul adalah menganggap pernikahan sebagai urusan duniawi yang bisa dipisahkan dari urusan kepada Allah. Kondisi ini kerap menjadi kedua belah pihak tidak lagi berpedoman pada "pernikahan untuk-Nya", dan bila sebuah aktivitas sudah tidak dinafasi niat untuk ibadah, maka menjadi blunder dan bom waktu.

Mawaddah pun menjadi anugerah yang tidak bisa dibarter dengan berbagai mata uang. Akan muncul tantangan dalam mengatur prioritas. Teorinya cinta kepada Allah itu tetap nomor satu, barulah disusul kepada Rasul, bukan malah diselip oleh suami/istri. Itu teorinya, namun tatkala berjalannya rumah tangga akan muncul berbagai ketidaksengajaan dalam merekayasa prioritas tersebut, mungkin berkedok "membahagiakan keinginan suami/istri", "ah, sholat sunnah kan kalau ditinggalkan ya kagak dosa", ataupun "ahhh, pusing nih ngatur duit buat makan, tidur dululah, tadarusnya besok ajah". Sehingga perlu manajemen cinta yang terarah, salah satunya dengan kesadaran dari kedua belah pihak tentang apa yang menjadi prioritas utama dalam mengelola rumah tangga. Apabila keduanya sama-sama menyadari prioritas utama tetap kepada Allah maka rasa cinta diantaranya bukannya menukik tajam, justru akan saling mendukung agar suami/istrinya bisa makin menyayangi Allah dan sikap saling mendukung itu yang akan menjaga rasa cinta diantara keduanya.

Warrohmah turut memberi andil yang signifikan namun menurut rekan-rekan yang lebih ahli, rasa sayang justru baru muncul setelah sekian lama menjalani rumah tangga, itupun tidak ada indikator yang definitif mengenai waktunya, namun lazimnya terjadi setelah melalui proses yang panjang, berliku, dan penuh halang rintang. Sebagai contoh, bagi seorang anak, rasa sayang terhadap orang tua tidak muncul ketika fase balita, melainkan tatkala telah menjalani berbagai konflik batin tatkala perbedaan pendapat dengan orang tua, merantau jauh dari orang tua, menyaksikan pengorbanan orang tua. Well, ini bukan FT*V, namun serupa dengan itulah bagaimana suami dan istri saling membina hingga "warrohmah" bersemayam diantara keduanya. Dan tak dapat dipungkiri, peran Allah tiada batasnya dalam memunculkan rasa sayang ini.

Wallahualam

Menikah sebagai Manifestasi Rukun Iman [jilid 3]

Masih berkenaan dengan Menikah sebagai Manifestasi Rukun Iman dimana berikutnya tentang rukun iman yang kedua, yaitu iman kepada malaikat

Malaikat, dzat yang gaib, ciptaan-Nya dengan tugasnya masing-masing, diantaranya
  • Ada yang bertugas menyampaikan wahyu Allah, yaitu Jibril
  • Ada yang bertugas mencatat amalan baik, yaitu Rakib
  • Ada yang bertugas mencatat amalan buruk, yaitu Atit
  • Ada yang bertugas mencabut nyawa, yaitu Izrail
  • Ada yang bertugas menanyai di alam kubur, yaitu Munkar dan Nakir
  • Ada yang bertugas menajga surga, yaitu Ridwan
  • Ada yang bertugas menjaga neraka, yaitu Malik
  • Ada yang bertugas meniup sangkakala, yaitu Israfil
  • Ada yang bertugas membagi rezeki, yaitu Mikail
Apa yang hendak dikemukakan di sini, (maaf sekali) tidak terlalu banyak, yaitu
  • Dalam menjalankan amanat sebagai suami/istri, menjadi ayah/ibu, itu semua akan dicatat oleh Rakib dan Atit. Secara teori tentu kita berharap Rakib mencatat sebanyak-banyaknya dan bila perlu Atit tidak mencatat apa-apa, itu teorinya, kenyataannya? Dengan segala kelalaian tatkala belum menjalani pernikahan saja teori itu jauh panggang dari api (kalau peribahasa kuliner "jauh gulai dari kipas sate"). Apalagi tatkala proses penjajakan (mmmm, yang bener "penjajakan" atau "penjajagan" sih? Awam euy) tidak ada istilahnya dispensasi. Dispensasi yang begimana? Ya namanya juga buat promosi, ngirimin si target sms ngajak tahajud ah, weitsss, itu kan tujuannya cari muka, bukan cari ridho-Nya, akan jadi amalan baik apa buruk tuh? Wallahualam, tapi malaikat bakal "mendokumentasikan" segala tindakan kita tersebut.
  • Pun saat rumah tangga itu ditata, boleh jadi segala riak bakal memancing ego untuk berbohong. Nah, bila istri/suami butuh waktu untuk sadar "dikibuli", tidak demikian dengna malaikat.
  • Izrail itu tinggal menunggu "surat perintah" pencabutan nyawa. Nah, lantaran kita tidak tahu kapan "eksekusi"-nya, jangan menunda-nunda kebaikan di dalam berumah tangga, contohnya "menunda berkurban padahal jelas mampu" atau misalnya "pensiun dari dakwah" (loe kate dakwah itu bisa disamain kaya pemain badminton gantung raket?"
  • Tuntunan menikah secara umum terdapat pada Al Qur'an, sebuah kitab suci yang diturunkan Allah SWT melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad untuk diamalkan. Maka implementasi Al Quran dalam menjalan pernikahan merupakan manifestasi rukun iman kepada malaikat

Selanjutnya rukun iman ketiga, yaitu kepada kitab-kitab Allah
Al Qur'an sebagai kitab yang diturunkan Allah bagi kaum Nabi Muhammad SAW. Ada sebuah renungna menarik di sini berupa sebuah analogi, tidak akan dijabarkan seperti apa, namun intinya, janganlah sampai kia menikah tanpa tahu dasarnya. jangan-jangan nikah karena disuruh orang tua, jangan-jangan mengikuti trend saat ini, jangna-jangan mau ngincer warisan. Lantas harus bagaimana? Bukalah Al Qur'an, insyaAllah jawabannya ada situ tentang apa yang menjadi landasan dalam menikah.

Sebagai insan yang berrakal dan berhati, ada banyak tindkaan yang bisa kita lakukan terhadap Al Quran. Memilikinya (baik mendapat dari orang tua, beli sendiri dll); Menyimpannya; Membacanya; Menelisik terjemahannya; Mencerna kandungannya (tentunya jangan otodidak, ini bukan tutorial jQuery coy); Menghafalkannya; Mengamalkannya. 

Tentu akan sangat barokah bila dengan keikhlasan kit amenjadi hafidz, namun ketika kita masih belum mencapai bukan berarti kita layak dicap "orang gagal". Kenapa demikian? Manusia butuh waktu dan punya keterbatasan diri. Boleh jadi kemampuan menghafal kita belum terasah, Boleh jadi (maaf) pelafalan beberapa huruf agak mengalami kesukaran dll. Namun (sekali lagi), bukan berarti kita boleh menyerah, apalagi menjauhinya. Bahkan bagi orang yang tetap konsisten membacanya walau terbata-bata, insyaAllah ada "bonus" dari Allah. Bila masih sukar menghafal, maka manfaatkanlah waktumu untuk tetap berupaya menghafal sekaligus menelisik makna dan pastinya mengamalkannya.

Termasuk ayat-ayat tentang pernikahan. Jika hendak menikah tapi belum ngerti aturan nikah yang termuat dalam Al Qur an tentu akan sangat membahayakan manajemen berkeluarganya. Tapi bukan berarti perkawinannya bakal tercela. Jika di kemudian hari justru keduanya mampu mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, maka pernikahan itu akan bermakna.

Itu baru yang membahas pernikahannya secara khusus. Nah dalam berumah tangga, ada banyak perkara yang ternyata eh ternyata ada panduannya di dalam Al Qur an, misalnya zakat, makanan, cara mendidik anak, berpakaian, dll. Ketika kita bisa menerapkan berbagai perintah dan menahan diri dari berbagai larangan sebagaimana termuat dalam Al Qur an maka pernikahan kita insyaAllah menjadi manifestasi iman kita kepada Al Qur an

Wallahualam

Menikah sebagai Manifestasi Rukun Iman [jilid 1]

Ini judulnya terlalu berat ga sih? Ada kosakata "nikah", "manifestasi", ama "rukun Iman".
Kita tinjau dulu berdasarkan KBBI
Nikah=ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama
Manifestasi=Perwujudan sebagai suatu pertanyaan perasaan atau pendapat
Rukun=yang harus dipernuhi untuk sahnya suatu pekerjaan
Iman=kepercayaan (yang berkenaan dengan agama)

Sehingga (menurut saya), bila diambil suatu pemaknaan, maka judul di atas berarti "menikah yang diniatkan untuk memenuhi perwujudan suatu kepercayaan".

Rukun Iman yang pertama : Iman kepada Allah SWT
Allah mempunyai sifat-sifat wajib, salah satunya iradat (berkehendak). Kehendak-Nya itulah pula mencakup terhadap segala perjodohan manusia yang diatur melalui skenario-Nya. Maka hendaknya dalam memahami hakikat perjodohan dilandasi ikhlas atas ketentuan-Nya. Ikhlas di sini bukan berarti pasrah dan berdiam diri menanti bidadari, karena Allah pun memerintahkan kita untuk berikhtiar serta bertawakal. Percayalah bahwa sebaik-baiknya jalan hidup adalah yang diridhoi-Nya, kenapa? Karena Allah mempunyai asma'ul husna Al Aliim (Maha Mengetahui), Al Adl (Maha Adil), As Shomad (Maha Dibutuhkan). Bila kita memang mengimani Allah maka kita pun harus mengetahui karakteristik Allah meliputi berbagai sifat wajib dan mustahil-Nya serta asmaul husna-Nya.

Lantas apa hubungannya pernikahan dengan iman kepada Allah SWT?
Pernikahan boleh jadi dikatakan sebuah jalur yang "mempertaruhkan" keimanan kita pada Allah. Lho mempertaruhkan bagaimana? Seringkali untuk menuju jenjang pernikahan, bahkan berawal dari proses "rekruitasi calon" akan muncul berbagai rintangan jalan terjal berliku dimana di satu sisi menjadi inspirasi plus pembuka mata kita akan kekuasaan-Nya, tapi di sisi lain jadi peluang kita kehilangan kepercayaan pada-Nya. Naudzubillah-nya bila kita dikuasai ego yang berkedok "ini gue ikhtiar lho".

Pilihan yang terbaik adalah menyadari bahwa pernikahan itu ibadah yang terkandung unsur hablumminannas (hubungan antarmanusia). Bila kita ingin ibadah ini diridhoi-Nya dan kita persembahkan kepada-Nya, maka lakukan dengan cara yang ditetapkan-Nya, inilah salah satu poin manifestasi menikah dalam konteks rukun iman kepada Allah

Dalam menjalankan ibadah pernikahan pun boleh kita suami/istri nantinya akan menjadi investasi yang boleh jadi akan berpengaruh pada meningkatkah atau menurunkah ibadah kita. Yang ini dapat dikategorikan sebagai kondisi yang tidak terprediksi. Kenapa tidak terprediksi?
1. Masa depan siapa yang tahu selain Allah #bahkan Barca kalah 0-4 dari Muenchen aja tidak ada yang mengira
2. Keimanan seseorang itu fluktuatif, pada dasarnya iman merupakan buah konsistensi, seberapakah komitmen dengan motivasi akan jadi penentu kokoh tidaknya iman
3. Yang namanya ibadah itu tidak terikat secara mutlak pada organisasi formal (baca: lembaga dakwah, majelis taklim dsj), karena apa? Ibadah dalam bentuk apapun, "juri" yang menilai kualitasnya hanya Allah. Alhasil tiada jaminan pasti bila menengok ke aspek afiliasi organisasi, walaupun secara kasat mata banyak ko yang mumpuni pengetahuannya :)

Sehingga kembali ke hakikat ibadah itu sendiri sendiri, apakah tujuan kita menikah untuk mendekatkan diri pada Allah ataukah sebagai ajang pamer ataukah pelampiasan nafsu? Apabila kita masih dan selalu memprioritaskan Allah sebagai yang pertama dan utama untuk dicintai maka pernikahan akan menjadi ladang ibadah, yang pada akhirnya itu menjadi manifestasi rukun iman kepada Allah.

Dan bila pernikahan dapat dijadikan sebagai langkah meningkatkan dakwah maka manifestasi rukun iman kita akan mempunyai nilai lebih karena bisa membangkitkan keimanan bagi sekitar kita.

Wallahualam

Review Bulan Pertama OJT

Sekarang kalender nunjukkin 29 Mei, artinya alhamdulillah sebulan genap saya menjalani karier sebagai salah seorang aktor Para Pencari Nafkah. Allah "menyekolahkan" saya di Kalibata. Banyak pengalaman yang "unik" di sini, diantaranya

Saya makin cungkring, jika selama mengerjakan TA (dengan pola hidup yang serampangan) saya berhasil menembus 68kg (info:68 adalah rekor berat badan terbesar saya, pdahal normalnya saya 71kg), nah rasanya berat badan saya sudah memasuki kisaran 63 atau 61kg (ha?? minus 8 atau 10 kg??) Ya iyalah, sarapan ga pernah nasi (kecuali pas libur ke Bandung), makan malam juga kalau lagi ingin, sehingga makan nasi default-nya hanya siang. Ngemil? Pengennya sih gitu, tapi atas penghematan ya mau gimana lagi? Ambil positifnyalah, kalau saya ikut turnamen Karate boleh jadi lawan yang beratnya setara justru anak SMA, nah asyik tuh hahaa

Jadi makin rajin mandi. ya sebenarnya sejak 2011 kebiasaan jarang mandi sudah bekurang, nah sejak di Jakarta, mandi jadi kebutuhan wajib nih, biar makin ganteng gitu... Ya padahal di Jakarta ga pernah ketemu client, ketemunya  ya paling teman-teman satu proyek.

Ini nih yang paling membuat saya nyaman. Dapet kesempatan sholat jamaah di masjid ^_^. Lokasi kantor yang berdekatan dengan masjid ditambah mayoritas muslim menjadikan saya dan beberapa rekan di sini tidak mengalami kesulitan berarti untuk izin ke masjid. Di sini banyak pula yang berpuasa, ya maklum kerjaannya kebanyakan tidak menguras fisik. Artinya, bakal sayang banget kalau tidak dimanfaatkan untuk ibadah-ibadah sunnah. Yang tadarus pun ada, suasana toleransi dengan yang non-muslim pun baik dan terjaga.

Futsal, ow yeahhh, ntar malem si nomer pungguh 5 (gue) bakal berfutsal lagi membela lantai 2 (sebenarnya sih sekarang ruangan di lantai 1, namun karena ruangna pertama di lantai 2, dan lantai 1 tidak punya tim futsal sendiri maka saya berafiliasi ke lantai 2). Di laga perdana, saya gagal mencetak gol walau mendapat sejumlah peluang di depan gawang, mungkin ketajaman perlu diasah lagi.

PM dan redaksi yang "gokilll". Awalnya saya mengira saya full ngoding #langit_langsung_surem , namun ternyata saya menjadi PJ IT di sebuah tim proyek yang bisa dibilang mirip redaksi suatu portal, yaitu Indonesia Kreatif. Artinya keinginan terjun di jurnalisme walau ga ful ya luamayanlah nyicipin sikok sikok. Dari sini banyak pengalaman yang saya dapat, misalnya bagaimana menyusun strategi dalam mengelola media jejaring sosial secara terencana, manajemen SDM-nya. Tak hanya itu, orangnya pun asyik-asyik. Mas Toto yang sering sok serius, Mas Irvan yang sok pendiem, Mba Reni yang selalu riang, Mba Intan yang ada saja kehebohannya, Mba Ria yang kadang kalem (kecuali kalau udah bertiga dengan Mba Reni dan Mba Ria), Mas Nandik yang ngocol (busettt taunya loe kuliah angkatan 2008?? seangkatan donk ama gue... =_=)

Pressure, kalau yang ingin ya itung-itung obsesi ikutan masterchef ga tercapai. Ada juga sih yang karakternya mirip Chef Juna, cuma beda dikit cara ngomongnya. Orangnya sangat-sangat ngerti urusan teknis. Salut ama cara komunikasinya yang sangat membaur dengna semua orang melalui berbagai orbolan. Jujur, masih gugup jug akalau diskusi dengan dia nih. Hahaha

LDR antar-programmer, ini bukan pacaran jarak jauh sebagaimana remaja zaman sekarang (ya walaupun saya juga masih kategori remaja hahaa). Maksudnya gini, programmer utama di Portal (plus Direktori dan Showcase) ada di Jogja, nah kalau ada trouble, yang ditembung pertama itu saya, nah, musti pinter-pinter nih mengelola segala permasalahan dengan mitra kerja yang terpisahkan jarak T_T

Kesepian kalau udah nyampe kosan. Hwaaaaaa, saya kangen rumahku di Margasari, gue kangennnnn pake bangettt ama Paradewa

Dapet banyak inspirasi, kenapa? Lha masa gue ngelola konten Portal+Showcase+DIrektori Indonesia Kreatif tapi ga dapet inspirasi? Ya luculah, kenapa? Langsung lihat aja website-nya, isinya orang-ornag inspiratif
#kalau loe ngeklik website-nya, otomatis bakal naikin traffic, hihihiii

Okeyyy, kapan-kapan aku share lagi
Semoga Allah meridhoi pekerjaan ini