Exploite the Experience
Salah satu tantangan mengajar mata kuliah yang bersifat terapan adalah menyodorkan studi kasus sebagai ilustrasi dari teori yang ada. Hal ini sudah saya alami sejak semester lalu saat mengajar Literasi TIK di prodi Sistem Informasi. Kebetulan memang semester lalu saya juga mengajar mata kuliah Teori Bahasa dan Automata yang sangat teoretis sehingga terasa perbedaannya. Di TBA saya tidak perlu banyak mengumbar studi kasus penerapan SI/TI, namun di LiTIK saya harus mengumpulkan stok kisah-kisah nyata untuk diangkat sebagai bahan ajar.
Semester ini situasinya bisa dibilang lebih menguras persiapan terkait studi kasus yang tiga kali lipat. Mata kuliah Literasi TIK kembali saya ajar, kali ini di prodi Teknik Industri, ditambah Sistem Informasi dan Perencanaan Strategis Sistem Informasi. Saya harus pandai-pandai menyusun skenario mau berbagi cerita apa saya. Sebagai catatan, saya ditantang menjelaskan ekosistem organisasi di dunia kerja pada mahasiswa tahun ke-3 dan ke-4 pada matkul Sisfo dan PSSI. Padahal mereka sendiri hanya mengenyam 4-6 pekan di dunia kerja berstatus Geladi ataupun Kerja Praktik. Artinya saya perlu mengatur ritme agak secara perlahan menyeret mereka ke dalam paradigma dunia manajemen organisasi dunia kerja. Sebisa mungkin saya menggunakan studi kasus yang sederhana dengan sesekali menyimulasikan percakapan di dunia kerja. Tampaknya saya perlu belajar teknik public speaking macam standup comedy tapi versi agak serius.
Terkait stok studi kasus, alhamdulillah sya terbantu dengan pengalaman di dunia kerja sejak tahun 2013. Pengalaman di PAJ Group selaku programmer, analyst, dan sesekali project administrator, sangat membantu. Pun pengalaman nge-proyek bareng di Arkadia itu juga memberi masukan tentang betapa dinamisnya ekosistem organisasi terkait pengelolaan SI/TI. Dan tak lupa bekal 3 semester di MTI Fasilkom UI turut mewarnai pengetahuan saya, baik "genoside" di kelas maupun "romusha" di S*buck. Tentu sya harus patuh aturan dalam meramunya. Ada fenomena yang bisa diutarakan begitu saja, ada yang harus anonim, ada pula yang tidak boleh diceritakan sama sekali. Saya harus cerdas memilih dan mempertanggungjawabkannya.
Harapan saya sederhana, mahasiswa bisa mudah mencerna dan bisa belajar di hari nanti.
Review of SPIS 1st Session
Saya berangkat dari gagasan perkembangan perilaku manusia yang sangat kental dengan pengaruh SI/TI belakangan ini. Contoh dalam pendidikan, keuangan, hingga kriminal saya paparkan dengan mengacu beberapa poin yang pernah pak Riri Satria kemukakan dalam salah satu presentasi di Slideshare. Paparan di awal ini bertujuan memberikan gambaran bahwa bisnis, sebagai aktivitas manusia, sangat erat kaitannya dengan SI/TI. Maka organisasi, harus menyadari bahwa SI/TI perlu diatur agar memberikan benfit yang sesuai tujuan bisnisnya. Selanjutnya, saya beralih ke tinjauan teoretis mengenai definisi jargon-jargon yang bakal sering digaungkan selama perkuliahan. Bahkan definisi SI dan TI saya ulas kembali untuk mengantisipasi salah paradigma sedari awal.
Terakhir, saya memberikan beberapa pancingan untuk mengilustrasikan pentingnya PSSI. Lagi-lagi, saya dituntut mampu mengumpulkan beragam studi kasus untuk menyeret para mahasiswa memahami 'makhluk' yang bisa jadi baru mereka jumpai keberadaannya sekian tahun mendatang saat mereka naik pangkat di organisasinya. Tidak masalah, siapa tahu ada sebagian dari mereka malah 'beruntung' memperoleh kesempatan menerapkan ilmu ini lebih dini.
Ekspektasi untuk Luis Milla
Pelatih impor kembali dipercaya menukangi Timnas Indonesia. Adalah Luis Milla, suksesor Alfred Riedl di level senior sekaligus U-23. Profil beliau relatif menjanjikan sebagai orang yang dianggap bertanggung jawab atas sejumlah prestasi Timnas Spanyol di level junior. Bekal sebagai mantan pemain FC Barcelona, Real Madrid, dan Valencia menjadi indikasi bahwa dia memang kenal dengan sepakbola sejak lama. Pertanyaan yang tidak mudah dijawab, "Apakah modal itu cukup?"
Menjadi arsitek timnas Indonesia bukanlah hal yang mudah. Sejak era 2000-an hingga 2016 gangguan ekosistem persepakbolaan Indonesia kerap menghantui kinerja pelatih timnas. Kasus ketua federasi dipenjara, dualisme kompetisi, dualisme federasi, dualisme timnas, pembatasan kuota pemain tiap klub, intervensi penentuan skuad, berubah-ubahnya format kompetisi, durasi pelatnas yang singkat, hingga pembekuan federasi merupakan penyakit yang membuat nama-nama seperti Ivan Kolev, Rahmad Darmawan, Manuel Blanco, dan juga Riedl, bisa dikatakan stress. Situasi yang jelas (setahu saya) tidak pernah terjadi di Spanyol ataupun negara-negara lain di Eropa. Dalam hal ini, Luis Milla belum teruji sepenuhnya walau tidak juga bisa disebut Milla tidak akan bisa mengatasinya. Barangkali tekanan media, tuntutan masyarakat, hingga kemungkinan sikap indisiplin pemain menjadi ancaman yang biasa dihadapi Milla.
Milla dituntut juara di dua kompetisi, SEA Games 2017 dan AFF 2018. Target muluk yang sebetulnya antara gila dan wajar. Disebut gila karena dari Wikipedia pun kita sudah bisa tahu bahwa prestasi maksimal yang pernah diraih hanyalah dua kali medali emas SEA Games, itu pun 1987 dan 1991. AFF malah konsisten dengan 5 kali runner up. Artinya ekspektasi ini tidak didukung histori yang menunjukkan tradisi bagus Indonesia di kompetisi tersebut. Jelas berbeda ketika Brazil, Italia, ataupun Jerman mencanangkan juara Piala Dunia. Atau bahkan Thailand dan Singapura yang mengoleksi 5 dan 4 kali juara AFF. Namun hal ini juga wajar karena di sisi lain mengindikasikan betapa "haus"-nya Bangsa Indonesia untuk berbuka "puasa". Siapa sih yang tidak getir menjadi spesialis juara dua?
Sebetulnya dengan histori yang ada, Milla tidak dibebani target yang mustahil. AFF misalnya yang menyimpan getir 5 kali runner up. Di sisi lain hal itu membuktikan bahwa Indonesia memiliki daya saing untuk mendobrak hegemoni Thailand, Singapura, dan Vietnam. Insiden 2004 dan 2010 ketika sebelum final sangat dominan dan diunggulkan ataupun kisah heroik 2016 ketika menjadi "juara sementara hingga menit ke-30 final kedua memberi sinyal bahwa ada mental yang harus dibenahi. Di sinilah Milla dituntut menjadi nahkoda yang bisa mengkokohkan optimisme agar insiden 0-3 di Bukit Jalil 2010 ataupun 0-2 di Rajamangala tidak terulang.
Mampukah?
Mengapa Ilmu Ikhlas
Hidup itu sederhana
Jadi orang baik yang melakukan hal baik untuk tujuan baik
Orang yang baik, hal yang baik, dan juga tujuan yang baik akan selalu diuji keikhlasannya
Pasti ada saja yang di luar rencana
Pasti ada saja lelah yang kita merasa kurang terhargai oleh sesama manusia
Pasti ada saja 'langit' di atas 'langit' yang kita huni
Pasti ada saja bisikan setan untuk kufur
Baik itu sebagai individu, istri/suami, ibu/ayah, anak
Obatnya [menurut saya yang hanya butiran terigu] yang mujarab adalah ikhlas sebagai pengignat buat apa sih hidup itu
Kadang ketidakikhlasan kerap menggugurkan nilai ibadah dalam keseharian kita
Meraki
Meraki itu ...
Tidak melulu realita sejalan rencana
Namun pada kesigapan menyalami tiap risiko
Dan menautkan asa walau masih gulita
Meraki itu ...
Sadar durasi di bumi tak pernah lama lagi
Lantas jemari menarikan hitungan langkah
Derap strategi untuk gapai efisiensi
Meraki itu ...
Tidak terikat pada kesal dalam tunaikan yang wajib
Melainkan berdansa atas suka cita
Sebagaimana Gibran berujar 'sebar benih penuh kemesrahan, hingga panen tiba kita tuai kegirangan'
SPIS this Semester
Semester ini tidaklah mudah karena saya tidak sekedar 'ngomong' di kelas. Saya juga musti menyiapkan materi dengan berbagai referensi akademik. Jelas hal yang sulit dengan keterbatasan waktu serta amanat baru 'menemani tesis istri' hehee, tapi optimislah bahwa ada kemudahan di balik kesulitan. Target saya dalam mengajar mata kuliah ini sederhana, yaitu menyampaikannya dengan bahasa yang 'membumi'. Ini bukan target yang mudah karena PSSI merupakan mata kuliah yang tidak begitu kental unsur informatikanya, bahkan agak berbau manajemen. Bagi anak prodi Sistem Informasi, tantangan ini mungkin relatif ringan tapi tidak dengan mahasiswa Informatika/Ilmu Komputer. Apalagi jika mahasiswanya lebih akrab dengan istilah agregasi, VoIP, RAID, NDFA, algoritma ini itu hehee.
Bismillah
