Adekku (makin) Keren

How amazing you are !!!
Keren pisan emang adik saya

Di Pramuka alhamdulillah dapet rezeki bareng partnernya (lupa namanya) berupa juara II kategorinya juga saya lupa di Loka Bhara. Di Ambalan Gajah Mada pun dia makin aktif, betah, dan asyik. Itu terasa dari bagaimana dia antusias dalam menceritakan berbagai petualangannya yang heboh, padahal saya bila ke adik saya biasa saja dalam menceritakan keasyikan di Pramuka.

Soal corat-coret menggrafis pun dia makin demen, desainnya pun lumayan ketjelah, dibanding zaman saya SMA, dia lebih teratur dalam menentukan komposisi warna serta punya referensi yang jelas.

Di sela-sela kesibukannya, dia masih mampu konsisten dalam mejaga ritme akademiknya. Target masuk IPA/NS terpenuhi, tak hanya itu, nilainya pun cukup mencengangkan, apalagi Kimianya. Tapi dia masih lebih memfavoritkan TIK dibanding Kimia (kebalikan saya nih).

Dan yang paling saya kagumi dari dia adalah kemampuan itu untuk memilih apa yang menjadi passion-nya tanpa terpengaruh jejak saya di SMA dulu. Dia ikut Pramuka, dia sibuk ngedesain, dia doyan TIK dan Kimia, dan masihhhh banyak lagi, itu bukanlah instruksi dari saya, melainkan pilihan, pilihannya sendiri, pilihan yang dia jalani dengan enjoy.

(seinget) Gue juga ga pernah "menang"

Maghrib lalu, sebuah kabar "unexpected" muncul di whatsapp, kawan saya yang tergabung di kontingen MTQN dari kampus IT Telkom mengabari bahwa kontingen IT Telkom tidak ada yang bisa membawa pulang "oleh-oleh" (baca:gelar juara).

Well, juara (apapun peringkatnya) merupakan suatu titel yang sangat mahal harganya, diidamkan, dan tentunya membanggakan. Membanggakan tapi juga melenakan, dan pastinya menyakitkan bagi rival yang dikalahkan. Semua orang tentu ingin menjadi pemenang walaupun ditutupi kata bijak "yang penting berusaha sebaik mungkin". Maka pasca pengumuman hasil seubah kompetisi, akan ada dua golongan, "pemenang" dan "pecundang". Tidak ada yang berada di keduanya? Kenapa tidak ada zona abu-abu? Jawabannya ada di paragraf selanjutnya.

"pemenang" dan "pecundang", keduanya saya beri tanda kutip karena bagi tiap orang ada definisi masing-masing, baik si peserta kompetisi yang mengalaminya, kompetitornya, ataupun orang lain yang hanya menonton (dan ikut berjingkrak). Maka hak tiap insan untuk melabeli "pemenang" atau "pecundang" pada seorang/sekelompok peserta kompetisi. Bagi yang mendefinisikan "pemenang" sebagai peraih peringkat pertama maka Borussia Dortmund adalah "pecundang" di UCL musim lalu, tapi bila yang mendefinisikan "pemenang" adalah yang tim yang bisa mengalahkan tim Real Madrid atau Barcelona maka Dortmund tergolong "pemenang" (bersama Muenchen, Celtic, dan AC Milan). Jika seseorang menargetkan masuk 5 besar, di sebuah turnamen maka hasil peringkat 3 menempatkannya sebagai "pemenang", walaupun bagi si ambisius pengincar peringkat 1 menilai peringkat 3 adalah tempatnya "pecundang".

Sehingga "pemenang" dan "pecundang" kembali pada apa yang diniatkan, boleh jadi orientasi pada hasil, boleh jadi pula berpulang pada proses yang dilalui.

Jika berpatokan pada "pemenang" itu hanya untuk peringkat 1, maka (seinget) saya pun saya juga tidak pernah memenangkan kompetisi apapun dalam konteks individual. Alhamdulillah jika konteks tim saya terbantu teman-teman saya meraihnya bersama-sama :D. Namun saya enjoy saja (cenderung cuek) dengan berbagai celotehan yang menyebut saya "pecundang". Mungkin karena terbiasa dalam suasana medioker dan tidak pernah diunggulkan kali ya. Lomba IPU di SD Margasari juara II, SMP ga pernah ikutan lomba, Lomba Mapel TIK SMA Tegal juara II, Olim Kimia SMA Tegal juara II, KTI TKPP juara III, KTI Undip peringkat 6, Olim Statistik ga lolos final malah, GemasTIK cuma final. Mungkin karena itu ketika mendengar ketidakberhasilan membawa piala di atas, saya bisa memahami rasanya. 

Kompetisi memang mengasyikan, karena menjadi titik ukur kita mempertinggi prestasi. Apakah berarti orang yang tidak pernah memenangkan kompetisi merupakan orang yang bodoh? orang yang merugi? atau malah orang yang celaka? Jawabannya  kembali berpulang pada definisi dan tentunya seberapa diri ini mensyukurinya.

Ketidakberhasilan meraih peringkat 1 merupakan ujian. Apakah kita masih ingat dan dekat dengan Allah ketika terjadi hal tersebut?

Duniawi memang menggiurkan, 

Inspirator Menulis

Ada beberapa orang yang menjadi inspirator saya dalam menulis, siapa sajakah mereka?

Norma Etika, beliau ketua KIR saya di SMA (saat itu saya cuma wakilnya). Dan untuk urusan tulis menulis ilmiah beuhhh dia sekian tingkat langit di atas saya. Tempat kuliahnya, yaitu STIS pun digaet melalui jalur spesial, yaitu juara 1 Olimpiade Statistika (5 besar langsung mengikuti seleksi masuk STIS tahap lanjut) . Di STIS, "midas"-nya dalam menulis masih terbukti, bahkan tidak hanya urusan menulis ilmiah, menulis santai macam blog pun dia geluti, ini link-nya normaetika90.tumblr.com. Keren parahkan dia, begitu ngliat dia aktif nulis di sana, jelas naluri saya ikut tertarik buat ikut nulis.

Rinaldi Munir, dosen ITB yang satu ini sebagaimana Norma, menjadi inspirasi saya dalam menulis ilmiah maupun santai (tapi muatannya masih ilmiah lho). Beralamat di rinaldimunir.wordpress.com, beliau aktif dalam menyampaikan berbagai gagasan, baik sosial, akademik, budaya, religi, hingga kenegaraan. Keren pisanlah orangnya. Dan untuk urusan menulis karya ilmiah berupa jurnal dan paper, beliau terhitung produktif dan publikatif. FYI = beliau orangnya ramah dan senang berdiskusi.

Achmad Rizal, dosen IT Telkom yang satu ini sangat luwes orangnya, tidak jaim, dan gemar menulis juga, baik yang virtual alias blogging di arl.blog.ittelkom.ac.id maupun tulisan serius macem jurnal dan paper. Kalau di blog dia lebih banyak mengulas kisah jalan-jalannya, sedangkan di paper, andalan beliau adalah topik instrumentasi biomedis.

Triyoga Adi Perdana, kapten saya di UKM Pramuka, kalau ngomong biasa aja (maksudnya standar seorang ketua), tapi kalau udah nulis asli style sok ganteng beromantis bangetlah hahaa. Gak percaya? Cek aja di triyogaadiperdana.wordpress.com, Belakangan dia agak jarang karena harus ada yang ditulisnya, yaitu di sebuah "masterpiece" (ifuknowwhatimean).

Herpin Dwijayanti, kakak yang bijak satu ini mempunyai passion untuk berdakwah, dan salah satunya dia menjadikan blognya, yaitu herpinspiration.wordpress.com sebagai media untuk dakwah.

Duel Paling Berisik

Rurouni Kenshin episode 49 merupakan laga yang paling filosofis menurut saya. Di fragmen yang berjudul "The Wolf Destroys the Eye of the Heart : The Fierce Attack of the Zero Stance Gatotsu" ini berisi pertarungan antara Hajime Saito dengan Usui. Keduanya boleh dibilang tipikal samurai berdarah dingin yang secara tampang masih stay cool pasca menjalankan tugasnya bertarung hingga ajal lawan-lawan mereka menjadi penutup laga.

Background keduanya unik. Saito yang ex-komandan Shinsengumi batalyon 3 justru bergabung dengan pemerintah karena dia mempunyai misi menegakkan kebenaran "versinya" (Aku Soku Zan) di negara Jepang, padahal sebelumnya batalyon Shinsengumi-nya sempat dianggap duri untuk mewujudkan pemerintahan saat ini. Usui sendiri merupakan lawan Shishio di sebuah laga yang bermuara pada kebutaan dirinya, pasca laga itu justru dia menjadi samurai tunanetra yang mempunyai pendengaran luar biasa, yang justru disebutnya sebagai "mata hati". Dia justru bergabung dengan Shishio di Juppongatana dengan maksud membalas dendam pada Shishio suatu hari nanti.

Laga ini diawali dengan "lelucon" berupa kesalahan Usui menebak tujuan Saito melawannya dan membiarkan Kenshin melanjutkan perjalanan menuju ruangan berikutnya. Usui mengira itu dilatarbelakangi persahabatan diantara mereka, padahal motif dari Saito adalah agar dia leluasa bertarung melawan Usui, bahkan bisa membunuhnya tanpa dihalangi oleh Kenshin. Sejak "lelucon" itulah, Saito yakin bahwa kehebatan Usui bukan karena faktor sihir, melainkan kemampuan mendengar suasana sekitar, termasuk detak jantung dan otot orang di sekitarnya, hal itu yang menyebabkan Usui bisa mengetahui kondisi psikologis orang lain, kecuali Sojiro yang selalu tampak bahagia tanpa merasa sedih.

Secara kehebohan duel, laga ini tidak semenarik Kenshin vs Aoshi, karena duel ini (mungkin bagi pembuat cerita) lebih menengahkan psywar atau perang urat saraf diantara mereka. Dan memang begitulah yang saya tangkap, keduanya lebih banyak mengumbar ejekan dan hipotesis mengenai kondisi lawannya. Dan justru Saito yang lebih bisa mengendalikan diri walau secara fisik dia lebih banyak terluka pada awalnya. Beberapa variasi serangan Gatotsu mental dan menjadi komoditas Usui untuk menyobek kedua paha Saito, tapi dengan ketenangannya, Saito berhasil menghujamkan pedangnya hingga Usui terlempar dan tewas. Sebelum tewas, Usui sempat melontarkan pujian tentang ketenangan Saito yang benar-benar tanpa belas kasihan.


Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan

sumber : muslim.or.id

Kedatangan bulan Ramadhan setiap tahunnya tak henti menjadi penghibur hati orang mukmin. Bagaimana tidak, beribu keutamaan ditawarkan di bulan ini. Pahala diobral, ampunan Allah bertebaran memenuhi setiap ruang dan waktu. Seorang yang menyadari kurangnya bekal yang dimiliki untuk menghadapi hari penghitungan kelak, tak ada rasa kecuali sumringah menyambut Ramadhan. Insan yang menyadari betapa dosa melumuri dirinya, tidak ada rasa kecuali bahagia akan kedatangan bulan Ramadhan.

Mukmin Sejati Itu Dermawan

Salah satu pintu yang dibuka oleh Allah untuk meraih keuntungan besar dari bulan Ramadhan adalah melalui sedekah. Islam sering menganjurkan umatnya untuk banyak bersedekah. Dan bulan Ramadhan, amalan ini menjadi lebih dianjurkan lagi. Dan demikianlah sepatutnya akhlak seorang mukmin, yaitu dermawan. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan bahkan memberi contoh kepada umat Islam untuk menjadi orang yang dermawan serta pemurah. Ketahuilah bahwa kedermawanan adalah salah satu sifat Allah Ta’ala, sebagaimana hadits:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi, di shahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’, 1744)

Dari hadits ini demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pelit dan bakhil adalah akhlak yang buruk dan bukanlah akhlak seorang mukmin sejati. Begitu juga, sifat suka meminta-minta, bukanlah ciri seorang mukmin. Bahkan sebaliknya seorang mukmin itu banyak memberi. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan yang dibawah adalah orang yang meminta.” (HR. Bukhari no.1429, Muslim no.1033)

Selain itu, sifat dermawan jika di dukung dengan tafaqquh fiddin, mengilmui agama dengan baik, sehingga terkumpul dua sifat yaitu alim dan juud (dermawan), akan dicapai kedudukan hamba Allah yang paling tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Dunia itu untuk 4 jenis hamba: Yang pertama, hamba yang diberikan rizqi oleh Allah serta kepahaman terhadap ilmu agama. Ia bertaqwa kepada Allah dalam menggunakan hartanya dan ia gunakan untuk menyambung silaturahim. Dan ia menyadari terdapat hak Allah pada hartanya. Maka inilah kedudukan hamba yang paling baik.” (HR. Tirmidzi, no.2325, ia berkata: “Hasan shahih”)

Keutamaan Bersedekah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala benar-benar memuliakan orang-orang yang bersedekah. Ia menjanjikan banyak keutamaan dan balasan yang menakjubkan bagi orang-orang yang gemar bersedekah. Terdapat ratusan dalil yang menceritakan keberuntungan, keutamaan, kemuliaan orang-orang yang bersedekah. Ibnu Hajar Al Haitami mengumpulkan ratusan hadits mengenai keutamaan sedekah dalam sebuah kitab yang berjudul Al Inaafah Fimaa Ja’a Fis Shadaqah Wad Dhiyaafah, meskipun hampir sebagiannya perlu dicek keshahihannya. Banyak keutamaan ini seakan-akan seluruh kebaikan terkumpul dalam satu amalan ini, yaitu sedekah. Maka, sungguh mengherankan bagi orang-orang yang mengetahui dalil-dalil tersebut dan ia tidak terpanggil hatinya serta tidak tergerak tangannya untuk banyak bersedekah.

Diantara keutamaan bersedekah antara lain:

Kembali Melangkah

reff=
Jejak lunglai yang sempat tertatih
Muram durja itu lekas kuusir
Dengan atau tanpa uluran
Hidupku berlanjut tegap melangkah

Semangat dan visi
yang dijadikan isu takkan berpadu
Tentang hati
yang takkan bisa diurai kalimat

Arah tujuan muara yang dikeruhkan kabut
Apakah itu juga yang disebut bencana

Bahkan bila aku berteriak
Bisikan seberang lebih nyaring terdengar

Ketulusan dan kesungguhan takkan sebanding
Dengan apa yang bertajuk kenyataan
Ekspektasi ibaratnya sintesis mimpi

Kecenderungan mewajarkan menyibak usang
Bayangan itu takkan pernah terang

Pertama kalinya bikin lagu di studio IDkreatif

bem, dpm, dan himpunan WAJIB RISET

Warisan terburuk yang (mungkin) diestafetkan dalam "dinasti" per-KBM-an adalah rasa percaya diri yang terlalu tinggi. Mengapa demikian? Tanpa bermaksud merendahkan kredibilitas organisasi tersebut, tapi masih ada sejumlah (tidak seluruhnya) pemikiran dalam melakukan pergerakan yang tidak diawali dengan RISET. Hasilnya sudah jelas ketika argumentasi mereka "dibenturkan" dengan pendapat kontra, yang terjadi adalah kengganan untuk membuka pikiran. Bahkan ketika sudah tidak lagi menjadi pengurus ormawa di KBM, budaya anti-riset ini berlanjut ketika mengerjakan tugas akhir dimana pemahaman terhadap suatu permasalahan kurang bisa menyeluruh, bahkan ada yang angkuhnya mempertahankan pendapatnya.

RISET? Riset yang seperti apa? Bukannya itu kerjaannya lab ya? Mmm, kerjaan dosen kayaknya deh, atau mungkin mahasiswa tahun akhir, pengurus ormawa KBM mah isinya tahun-tahun tengah yang lagi klimaks menikmati momen-momen populer. Well, sudah banyak proker-proker yang berjalan tanpa feedback yang jelas selain LPJ (yang tidak pernah bisa dibaca dengna leluasa oleh mahasiswa umum kecuali LPJ, abis LPJ ya udah lenyap segala transparansinya).

Riset menurut KBBI adalah penyelidikan (penelitian) suatu masalah secara bersistem, kritis, dan ilmiah untuk meningkatkan pengetahuan dan pengertian, mendapatkan fakta yang baru atau melakukan penafsiran yang lebih baik.

Tidak ada keterangan yang pernah saya baca di kampus bahwa "riset hanya boleh dilakukan oleh lab", artinya mengapa BEM, DPM, Himpunan tidak menyelenggarakan riset? Boleh jadi risetnya ada, tapi prosesnya kurang komprehensif karena metode yang kurang sesuai dengan kasusnya. Boleh jadi pula definisi riset yang dikenal oleh otaknya adalah "penelitian yang bersifat ilmiah, misalnya artificial intelligence, digital signal processing, software engineering", jika iya berarti definisi itu masih terlalu sempit.

Contoh paling simpel adalah RISET mengenai KEBUTUHAN OBJEK,

HMIF FamGath 2013

If INF then FORMAT do TIKA write INFORMATIKA IS THE BEST YEAHHH

Lama juga tak mendengar jargon ini. Suatu jargon yang bila diteriakkan di kampus IT Telkom maka langsung menujukan pikiran pada HMIF. Well, 15 dan 16 Juni lalu Divisi External berhasil mengadakan ngumpul bareng veteran-pengurus, namanya HMIF Family Gathering, mau disebut itu boleh, mau dibilang Reuni HMIF sok mangga, mau disebut Nostalgia HMIF karepmu. Intinya membongkar lagi semangat untuk mewujudkan HMIF yang lebih baik #cieleh

Sarapan dulu yukkk

Acaranya dimulai dengan menanti, menanti, dan menanti hingga akhirnya sejumlah komplotan mengadakan sarapan bareng di Fatimah PGA. Siapa lagi kepala sukunya bukan si Alvin. Ternyata ditinggal sarapan (padahal udah jam 10) namun di Fodcourt (tempat nunggunya) masih belum ada indikasi mau berangkat. Well, menjelang dhuhur akhirnya berangkatlah kita ke Villa Bunga.

Untuk angkatan 2008 sendiri yang bisa dateng kebetulan 5 orang, yaitu Alvin, Demsy, Donni, Rachdi, dan saya ^_^. Entah mengapa berasa boyband gitu, apalagi liat foto ini, geuleuh pisanlah..

Dari kiri ke kanan = cakahim#1 (simpatisan TopDewa), cakahim#2 (simpatisan TopDewa juga), cawapres TopDewa, timsukses cakahim#2 (simpatisan TopDewa juga), simpatisan cakahim#1 (simpatisan TopDewa juga)

Leluhur yang lebih sepuh banyak lho, ada kang Adit, kang Ferdian, kang Aji, kang BagRul, kang Tepe, kang Andika dll (dan lainnya lupa)

Kang Adit sedang memperkenalkan diri

Sore itu dimulai dengan perkenalan diri oleh para pengurus serta veteran plus perwakilan dari fakultas, yaitu Bu Tisa dan Bu Gia. Malam harinya, acara makin hangat, kenapa? Pertama diawali pentas seni yang menampilkan berbagai (mantan) artis kampus, hehee. Ada yang hafal lirik ada yang ndengung-ndengung yang penting rame. Tensi belum meredup, sebuah ritual jaga lilin musti kita lakoni :p. Seremoni HUT HMIF ke-20 tahun dimajukan sebulan, mumpung lagi rame ngumpul nih :D

Makan Bangkai

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang
(QS Al Hujurat : 12)

Keutamaan Para Penghafal Al-Qur’an

**Keutamaan di Dunia**
1. Menghapal Al Quran merupakan keutamaan rabbani yang datang dari Allah SWT.
Bahkan nikmat menghapal Quran sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapat wahyu.
Rasulullah SAW menjelaskan, “Barangsiapa yang membaca (hafal) Quran, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian hanya saja tidak diwahyukan kepadanya. Tidak pantas bagi hafidzh quran bersama siapa saja yang ia dapati dan tidak melakukan kebodohan terhadap orang yang melakukan kebodohan (selektif dalam bergaul) sementara dalam dirnya terdapat firman Allah.” (HR. Hakim)

2. Seorang hafidz quran adalah orang yang mendapat penghargaan khusus dari Nabi SAW
Diantara penghargaan nabi yang pernah diberikan nabi kepada sahabat penghapal quran adalah perhatian yang khusus kepada syuhada Uhud dengan mendahulukan pemakamannya dan dalam pengiriman delegasi Rasulullah memilih orang yang paling banyak hafalannya sebagai delegasi.

“Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, “Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Quran, ketika ditunjuk salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak umlahnya, kemudian Rasulullah mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampaikanlah pada Shahabi yang paling muda usaianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab, “Aku hafal surat ini..surat ini..dan surat Al Baqarah.”Benarkah kau hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i)

3. Menghapal Al Quran merupakan ciri orang yang diberi ilmu
“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim.” (QS Al-Ankabut : 49)

4. Hafidz quran merupakan keluarga Allah di muka bumi
Daripada Anas ra. Ia berkata Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri daripada manusia.” Kemudian Anas berkata lagi, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Baginda manjawab, “yaitu ahli quran (orang yang membaca atau menghapal quran dan mengamalkannya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.” (HR. Ahmad)

5. Menghormati hafidz quran berarti mengagungkan Allah
Daripada Abu Musa Al Asya’ari ra ia berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Diantara perbuatan mengagungkan Allah adalah menghormati orang Islam yang sudah tua, menghormati orang yang menghafal quran yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya dan tidak membiarkan Al Quran tidak diamalkan serta menghormati kepada penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud)