Rima-Rima Sederhana: Bulan Sabit di Pondok Cina

Meruah rekah secercah asa merah jambu
Derap mendekap sinari penantianku
Menjelang gempita meriahnya degapku
Biar begitu tertahankan pelita kalbuku

Rembulan kibaskan elok nyala di malamku
Berjarak ruang aku menyapa saujana
Senyum yang beranjak dari mimpi
Kilau migrasiku jajaki dunia nyata

Susuri sekilas lalu dimana kepak merayap
Terdepakku di galangan berbanjar
Kini sebingkis ukuran Tuhan menggapit relungku
Kemarilah alasan baruku tetap hidup berlari
Benahilah rumah batin kami di suatu alam nanti

Kenapa harus Nulis Paper

Paper bukan terminologi asing di dunia akademik. Paper bagi profesi dosen dan periset merupakan kwajiban formal yang rutin dipenuhi (idealnya) dengan peogresif sesuai keilmuannya. Pun dengan mahasiswa yang juga (mulai) didorong wajib memenuhi publikasi ilmiah berupa paper sesuai strata yang dilaluinya. Walau secara formal, paper merupakan kewajiban, namun ada beberapa hal yang (bisa) menjadi alasan agar akademisi mau dan mampu memublikasikan paper-nya, baik di ranah seminasi ataupun jurnal periodik.

Pertama, mengembangkan diri
Alasan ini sangat egosentris namun tidak ada salahnya karena memang ada dampak positif menulis paper bagi seorang akademisi. Pola pikir kritis, menata bahasa, efektivitas dan efisiensi dalam menyampaikan pemikiran, hingga tentunya manajemen waktu, itu semua merupakan komponen-komponen yang "keras" namun bermanfaat dalam mengembangkan diri si akademisi.

Kedua, kesempatan "ditampar" dengan sportif
Memang "nyelekit" saat hasil penelitian kita dipertanyakan, bahkan hongga urusan sepele macam tata bahasa. Namun di sini justru kesempatan kita untuk dijatuhkan dengan hormat dan bisa berintrospeksi dengan lebih matang. Ada sebuah benefit tersendiri ketika hasil karya kita dikomentari orang lain, entah tanggapan positif ataupun negatif. Namun itu menunjukkan ada potensi daya tarik dari pekerjaan kita. Dan dari pengalaman saya, separah apapun riset dan presentasi kita, para pakar yang ada tetap beramah senyum dalam berdiskusi.

Ketiga, jembatan menuju "jendela"
Dari keaktifan menulis paper, kita akan terpacu untuk mempelajari karya orang lain. Secara tidak langsung, akan muncul "direktori" di otak kita yang berperan mengompilasi relasi-relasi baru beserta kompetensi yang dimiliki masing-masing. Bila beruntung, kita akan dihadiahi "tiket" menjelajahi bumi Allah untuk menyerap nilai-nilai positif dari tanah seberang. Dan itu modal kita untuk memperbaiki bangsa Indonesia dan juga agama Islam.

Keempat, kontribusi bagi institusi
Segala rupa statistik macam webometric, peringkat scopus, dll, itu semua tidak lepas dari produktivitas sebuah institusi dalam memublikasikan risetnya melalui paper. Bahkan di berbagai "lelang dana riset", produktivitas dan portofolio riset milik institusi ikut mempengaruhi penilaian. Di sini kita berkesempatan ikut membangun institusi tempat kita bernaung.

Kelima, warisan untuk diacu
Beberapa skripsi, tesis, dan disertasi mensyaratkan rujukan berupa paper yang dipublikasikan di jurnal periodik dan seminasi, namun tidak memperkenankan penggunaan rujukan sesama skripsi, tesis, mauoun disertasi. Artinya sebagus apapun riset kita namun tidak dijadikan publikasi paper, maka tidak bisa digunakan sebagai acuan suksesor kita di tempat institusi. Mereka terancam gersang referensi.

Semoga bermanfaat dan menginspirasi^^

Count up the Beat and Count down the day

Setahun lalu dua perkara menguasai hari-hari saya yaitu karya akhir/tesis dan persiapan menikah. Menikah, ya menikah, sebuah gerbang bagi dua orang insan-Nya menapaki terjalnya kehidupan menggapai berkah-Nya. Tiada terbayang secepat ini,mbahwa saat nyaris setahun usia pernikahan kami, kami tengah mempersiapkan diri menyambut buah hati kami. Titipan Illahi yang "sakral" karena dari hasil mendidiknya inilah, kami akan tergiring kensurga ataukah neraka. Titipan Illahi yang kelak menjadi pengalir amal tatkala usia kami berakhir. Titipan Illahi yang tidak pernah menyandang status "mantan orang tua" ataupun "mantan anak". Titipan Illahi yang menjadi deskripsi hebatnya kebesaran Allah SWT.

Pekan demi pekan sejak kami mendeteksi eksistensinya, kini memasuki usia pekan ke-40. Usia kandungan yang menandakan bahwa si eks-penegak ini harus siaga. Setiap langkah menuju tempat kerja, saat di tempat kerja, menuju kosan, saat di kosan, bahkan saat "extend" di kampus Depok/Salemba, harus disertai kesiapan pulang ke Bandung. Bahkan sudah dua hari ini "diorama" istri mengalami pembukaan mewarnai bunga tidurku. Sebuah sinyal ataukah geladi kotor? Wallahualam

Allah SWT adalah sutradara yang Maha Kuasa dan Maha Adil dalam menentukan skenario hidupku, hidup istriku, dan juga hidup bayi di kandungan istri (yang sudah bernyawa). Segala kemungkinan yang bisa saja terjadi patut dinafasi dengan khusnudzon alias berprasangka baik. Dengan segala liku-liku yang ada, kami tawakal atas ridho-Nya karena dengan itulah kami akan kuat dan dekat dengan-Nya.

Stasiun Pasar Minggu Baru, 12 April 2016
Sudah dua KRL full lewat, hehee

Badai dari Karibia

Panama, negara yang satu ini menjadi buah bibir masyarakat sedunia, bahkan sukses menggeser pemulihan kota Brussel sebagai headline news bulan April ini. Skandal yang terjadi di negara ini sukses menggegerkan berbagai negara di 360° permukaan Bumi. Sejak kita memasuki abad XXI, belum ada skandal keuangan multinasional yang seheboh Panama Paper, begitulah nama skandal ini, termasuk krisi keuangan di medio 2000-an. Mengapa Panama Paper begitu menggegerkan?

Singkatnya, Panama Paper merupakan skandal finansial pajak yang menyeret berbagai nama beken di dunia. Masalahnya nama-nama tersebut mayoritas adalah figur publik, baik pejabat, politisi, atlet, dll. Beberapa nama sudah tumbang sebagai bentuk pengakuan keterlibatannya, antara lain perdana menteri Islandia yang mengundurkan diri segera, ya Islandia yang selama ini jauh dari bisingnya kasus perpajakan. Nama perdana menteri Inggris, petinggi partai komunis di Tiongkok, atlet peraih 5 Ballon d'Or asal Argentina, bahkan beberapa nama asal Indonesia disebut-sebut punya andil di kasus ini. Dari nama-nama negara di atas, tampak bahwa kasus ini membuktikan bahwa negara yang finansialnya kokoh sekalipun, ternyata tidak membuat mereka steril dari skandal pajak.

Badai dari Karibia ini rasa-rasanya masih akan menggelayuti berbagai negara di dunia dalam kurun waktu yang lama. Muncul tudingan dari Rusia dan Tiongkok bahwa Amerika Serikat (USA) terlalu protektif dengan tidak memublikasikan nama-nama warga USA yang terlibat namun di saat yang sama USA mengumbar nama-nama terduga dari negara lain. Mengingat sejumlah nama terduga dan terkait adalah politisi di berbagai negara, jelas badai ini bisa jadi senjata ampuh bagi negara yang ulung memainkan media, termasuk USA.

Bagaimana dengan Indonesia? 
Sejauh ini isu Panama Paper muncul di saat kurang tepat, kenapa? Indonesia sedang diguncang 3 masalah lebih pelik: penculikan WNI di Filipina, skandal suap reklamasi Jakarta, dan bursa bakal calon Gubernur DKI Jakarta. Apalagi belum ada nama politisi atau penusaha Indonesia di Panama Paper yang dipastikan terkategori ilegal. Nah jika sudah ada?

Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan Kementerian Keuangan untuk mengkaji substansi skandal tersebut. Semoga pesan presiden tersebut adalah niat tulus agar masyarakat tidak mudah termakan isu, apalagi Indonesia termasuk negara rawa n isu-isu sensitif, terutama menjelang berbagai agenda politik. Dengan demikian, Kemenkeu harus segera bertindak cepat merespon instruksi tersebut agar tidak muncul kesan menyembunyikan nama-nama terkait larrna faktor koneksi partai. 

Akademisi juga harus bisa muncul untuk menganalisis apa saja efek Panama Paper terhadap iklim ekonomi global dan harus bertindak bagaimana pemerintah. Cukup ringkih isu Panama Paper mengingat nama-nama mayor yang diduga terlibat dan juga kaitannya aktivitas yang terjadi dengan hukum tiap negara yang jelas berpengaruh pada perbedaan dampak. Apakah setiap aktivitas yang terjadi di Panama bersifat ilegal? Hingga kini, semua masih abu-abu.

Mereka yang Berjuang agar Jakarta tidak Banjir

Nggak pake efek kamera, sengaja agar lebih alami. Ini adalah potret ibu kota Indonesia. Kota Jakarta Pusat memang berkali-kali meraih adipura. Namun di balik kemegahannya, mereka inilah "guardian" ya png berperan besar mencegah Jakarta banjir

PhD in UI? May be ^^

Maratonnya Nyampe Sini

Hiruk Pikuk Jelang Pilpres FAST

Bosan juga menyimak grup alumni FAST beberapa hari ini, mungkin hampir sekian pekan hehee. Berbagai publikasi meraup dukungan menjelang Pilpres FAST semakin gencar memberondongi notif di HP. Sebetulnya sah-sah antusiasme tiap tim sukses, simpatisan, dll. Hanya saja yang cukup mengganjal adalah materi publikasi yang masih berkutat pada kepentingan pragmatis jangka pendek, yaitu citra dukungan sebanyak-banyak agar nanti saat pemilihan bisa menyedot angka semaksimalnya. Esensi pemilihan ketua (dalam hal ini "presiden") berupa adu ide, gagasan, program kerja, hingga inovasi masih miskin diobral. Entah sebetulnya ada tapi tidak terlalu dimunculkan, atau malah memang tidak ada rencana kontes yang berkualitas. Atau kah memang fenomena program kerja itu tidak sepenting total suara yang mendukung saat pemilihan? Well, sampai di sini saya masih belum bisa membedakan pemilihan presiden FAST dibandingkan pemilihan ketua himpunan.

Padahal ekspektasi sangat membumbung tinggi. Dengan total alumni sekian puluh ribu (tentu masih jauh dibandingkan IA-ITB ataupun ILUNI UI), namun masih terlalu banyak jika dibandingkan dengan total partisipan dalam tiap kegiatan FAST (dari beberapa event yang terpublikasikan di grup FB FAST). Dengan bekal SDM melimpah plus sepak terjang para alumnus di berbagai domain industri, seharusnya budaya ilmiah bisa tetap dipekikkan dalam memperbaiki FAST. Rindu juga pada pendekatan Balance Score Card yang coba diumbar salah satu kandidat pada Pilpres FAST periode sebelumnya. Mungkin pula FAST patut menerapkan Key Performance Indicator agar bisa lebih objektif menilai keberhasilan program kerjanya. Baiklah, menjelang pemilihan kali ini saya bersikap positive thinking saja, semua pragmatisme ini akan sirna pasca-pemilihan dan berganti dengan torehan ide-ide gemilang yang bertujuan jelas, berjangka panjang, dan tentunya bisa memberikan manfaat.

Yuk Lapor Pajak (dan Bayar bagi yang Lolos Kuota)

Well, hiruk pikuk perpajakan memasuki injury time selama 1 bulan. Batas tanggal 31 Maret 2016 untuk lapor pajak tahun 2015 diganjar bonus "30 hari" menjadi 30 April 2016. Faktor masih banyak administrasi yang belum beres plus faktor teknis berupa server yang "berasap" menjadi muara penambahan waktu ini. Terlepas dari membludaknya akses, harus diakui bahwa Kemenerian Keuangan, termasuk Ditjen Pajak, adalah pemegang ranking 1 egov dalam sekian tahun terakhir, saya tidak meragukan hal tersebut. Dan terobosan pembuatan e;-filling untuk lapor pajak secara online merupakan gagasan yang sangat memperbaiki sistem perpajakan di Indonesia plus mereduksi peluang "uang panas birokrasi". Memang implementasinya belum memuaskan ekspektasi masyarakat 100%, tapi saya yakin ke depannya akan jauh lebih baik.

Judi di dalam Lomba

Sebuah topik yang "unik" dipaparkan Ustadz Ahmad Sarwat pada khotbah Sholat Jumat (1/4) di Kemkominfo, Jakpus. Saya sebut unik karena ulasan Judi adalah hal yang langka dibahas di berbagai khotbah sholat Jumat. Dan apa yang diulas beliau kemarin memang mengundang kepenasaranan tersendiri, kenapa?

Beliau mengawali pembahasan tentang judi ini dari sisi kriteria judi yang terdiri dari 4 hal:
- Ada lebih dari satu peserta yang bertanding (baik sesama kompetitor maupun kompetitor dengan bandar)
- Ada harta yang dipertaruhkan
- Ada pemenang diantara peserta tadi
- Ada perpindahan harta dari yang kalah kepada yang menang

Sampai pada penjelasan tersebut, semua masih terasa mudah untuk menganggukkan kepala. Namun ketika dua kasus dikemukakan beliau, mulailah ada pencerahan yang menjadi kritik atas berbagai "judi terselubung" di tengah masyarakat.

Kasus pertama permainan kartu remi/gaple yang tidak mempertaruhkan apa-apa. Ada peserta yang bertanding dimana akan ada pemenang dan akan ada yang kalah. Namun sudah disepakati tidak ada taruhan apa-apa sehingga yg menang tidak mendapat apa-apa, pun yang kalah tidak kehilangan apa-apa. Dalam kasus ini, permainan demikian tidak bisa disebut judi. (Perkara membuang waktu atau malah bisa menunda2 ibadah, itu sudut penilaian lain)

Kasus kedua adalah lomba membaca Al Quran yang menggunakan biaya pendaftaran. Tentu aktivitas yang mulia karena membaca Al Quran banyak berkahnya, namun bagaimana jika peserta diwajibkan membayar uang tertentu (entah dinamakan biaya registrasi, biaya partisipasi, infak, dll)? Bagaimana si pemenang memperoleh hadiah yg sumbernya dari uang yg dibayarkan tadi? Dalam kasus tersebut, coba kita tinjau kriteria judi:
- ada peserta, iya
- ada pemenang dan ada yang kalah, iya
- ada harta yang dipertaruhkan, karena sumbernya dari uang yang dibayarkan peserta, maka iya
- ada perpindahan harta dr yang kalah ke yang menang, karena hadiah pemenang berasal dr uang peserta, maka iya
Dengan demikian konsep lomba demikian justru memenuhi kriteria judi

Sang ustadz memberikan solusi berikut:
- Lomba perlu diatur konsep aliran dananya
- Boleh ada uang dari peserta, namun jangan digunakan untuk hadiah pemenang (piala, uang tunai, dll), tapi gunakan utk operasional lomba (sewa tempat, konsumsi, dll)
- Hadiah pemenang ambil dari sumber dana selain uang peserta
Dengan demikian uang masuk dibedakan menjadi uang peserta dan uang non-peserta, uang keluar dibedakan jg mnjdi uang hadiah dan uang-non hadiah

Berikut ini merupakan referensi yang memang menjelaskan pemaparan beliau
http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1181456683&=hukum-hadiah-dari-suatu-perlombaan-yang-berasal-dari-uang-pendaftaran.htm