Wah, 2013 udah mau Beres

Lagu Bungong Jeumpa khas Aceh Tanah Rencong menggenapi keseimbangan sajian malam tadi hingga sore ini. Mata (penginnya) fokus ke codingan PHP dan telinga asyik mengikuti alunan musik dari album Nusantara Berdendang. Perpaduan teknologi dan budaya yang selaras. OK rehat dulu dari codingan yang membuat mata suntuk dari pagi kemarin. Cek kalender di laptop, aduh item semua, tapi seinget saya sih liburan masih jauh, so nikmati sajalah sepasang hari Sabtu-Minggu sebagai pitstop.

Jingok jingok kalender jadilah ingat target tahun ini yang harus dipenuhi. Banyak target yang belum bisa di-checklist dari daftar. OK, tempe dan tahu sebagai komoditas perlahan hilang dari pasar, jadi jangan sampai target-target tahun ini ikutan punah.

Sumatera, Kalimantan, dan Madura menjadi target ngebolang berikutnya. Bismillah, semoga setelah Jawa, Bali, Sulawesi, dan Lombok, salah satu ketiga pulau tadi harus bisa aku jelajahi, walau hanya sepucuk kota. Target realistis mengingat target menabung jika mengelus ubun-ubun. Maka, target utama untuk ngebolang berikutnya adalah Bandar Lampung. Kenapa Bandar Lampung? Secara geografis cukup dengan domisili saat ini yaitu Jakarta Selatan, ya nggak deket-deket amat sih, cuma bila dibandingkan dengan Palembang, Padang, Pekanbaru, Banda Aceh, Batam, Natuna, Kutai, bahkan Bangkalan, maka Bandar Lampung relatif lebih dekat dan pastinya menghemat waktu dan biaya pengeluaran. Teknis gimana? In syaa Allah ada jalan. Antusiaskan diri untuk menjelajahi samudera, masa sebagai anak seorang pelaut, justru cuma angrem di Pulau Jawa?

Persiapan S2, masya Allah riweuh jiwa teknis "mengemis" beasiswa. Ada syarat ini itu anu dan lain-lain. Kalau ditanya target, tentunya ada hasrat berkuliah di luar negeri, terutama Technische Universitat Munchen, sebuah kampus sewujud ITB di negeri Bavaria, Jerman, dan Technische Universitat Wien, setipe ITB juga di Ostreich alias Austria. Banyak faktor mengapa saya lebih berharap di dua kampus itu ketimbang USA ataupun UK yang punya reputasi mentereng. Jika parameternya klub sepakbola, jelas kampus di region Lazio, provinsi Catalan, atau bahkan di kota Amsterdam jadi prioritas, tapi masa iya kuliah S2 cuma biar bisa nonton bola. Kembali ke topik. Kampus domestik yang saya incar pun ada dua, yaitu Universitas Indonesia dengan MTI dan MIK-nya serta ITB dengan STEI-nya. Untuk jalur S2 jelas baru kick-off lagi sekitar September tahun depan (2014) lha, terus ngapain donk sekarang? Tentunya mempersiapkan diri dimana jalur beasiswa perlu kesiapan yang matang. Jangankan kuliah di luar negeri, di negara sendiri saja nilai TOEFL sudah jadi perhitungan. Itu baru TOEFL, belum macam LA (Letter of Acceptance). Untuk IPK in syaa Allah sudah memenuhi standar layak melanjutkan S2 yang bersponsorkan beasiswa pada umumnya. Bidang kuliah? Jelas sangat nyleneh bila saya CLBK ke Teknik Kimia ataupun pindah ke lain hati di DKV, lha terus? informatika maupun ilmu komputer, oh heaven yeahhh those are my target. Terkait kerja sudah terancang berbagai strategi, mulai dari tetap kerja dengan negosiasi jam dinas, bisa jadi hanya menyambi kerja yang konsepnya  remote programming, dan boleh jadi full di ICTN. Biaya? Ibu dan ayah saya masih gagal membujuk saya untuk bersedia menerima kucuran dana dari YPM (Yayasan Papah Mamah). Saya hingga saat ini masih ngeyel mengais beasiswa karena dua tahun lagi adik saya harus memulai kuliah dengan biaya yang tidak sedikit.

Kerja, setelah nyaris dua bulan tercekik kebingungan mau pindah apa nggak, akhirnya saya memantapkan diri untuk bertahan hingga Desember 2013. Idealisme untuk menikmati perjalanan di Indonesia Kreatif hingga akhir periode 2013 menjadi pertimbangan utama. Memang sih banyak tantangan, mulai dari yang bikin penat, tugas yang kadang aneh dan sarat revisi, ada juga yang saya buta sama sekali, terutama yang terkait bidang jaringan komputer dan sistem operasi (pokoknya yang dulu saya alergikan dari KK Telematics) justru makin menggerayangi tidur saya. Secara kekeluargaan, tempat saya saat ini sudah beberapa pekan ini mengalami peningkatan  kehangatan dan pembenahan urusan umum. Mungkin kalau bicara salary, hehee, skip aja deh :) intinya saya sangat berharap tabungan akhir tahun nanti sudah cukup.

Frase "kapan nikah?" untuk saat ini hanya bisa saya jawab dengan senyuman datar ala Roberto di Matteo.

Dan yang paling utama, target yang belum terjamah dengan lengkap di tahun 2013 adalah pemahaman akan hakikat hidup. Alhamdulillah muara hidup telah berhasil saya temukan, yaitu menshodaqohkan hidup di jalan-Nya hingga akhir hayat. Cita-cita meninggal dengan khusnul khotimah telah menjelma sebagai obsesi terbesar saya.

2013, entah tinggal berapa pekan lagi, yang pasti hidup itu bukan perkara durasi usia, yang kualitas dalam mengisinya.

Menagih Komitmen Bercita-Cita

Cita-cita merupakan nafas yang menghidupkan masa depan. Setinggi apapun status pendidikan kita, apabila cita-cita tidak dimiliki maka kita tidak lebih berguna dibandingkan tutup botol minuman soda dimana benda seperti itu saja bisa dimanfaatkan untuk kerajinan barang bekas. Cita-cita, entah itu yang berjangka pendek, agak panjang, atau bahkan yang direncanakan hingga pasca-ajal, menjadi kita mawas diri bahwa ikhtiar itu harus. Ketika cita-cita pun tidak punya, maka bagaimana kita bisa membuktikan keimanan kita? Bahkan Rasulullah pun mempunyai cita-cita sehingga pada akhirnya sampailah ajaran Islam pada kita. 

Namun ada kalanya cita-cita yang menjadi obsesi kita justru menjadi "topik" utama ujian yang dikirimkan-Nya. Di situlah kembali Allah menyeleksi kepada siapa kita bersandar? Alih-alih teorinya kita bertawakal dan meminta pertolongan kepada Allah, kadang kita justru mempertanyakan keadilan Allah. Mempertanyakan keadilan Allah? Bukankah Allah itu Maha Adil? Berarti saat mulai ragu terhadap keadilan Allah berarti iman kita terhadap Allah sedang terancam.

Hal seringkali terlupakan adalah melihat cita-cita sebagai sebuah hal yang manis manis dan manis. Padahal cita-cita merupakan sebuah paket dengan segala konsekuensi manis dan PAHIT yang sudah "embedded feature". 

Ketika hati meniatkan untuk menargetakan sebuah cita-cita maka saat itu pula diri ini bersedia menerima berbagai ujian yang berkaitan dengan cita-cita tersebut, bahkan ujian yang berlabelkan cita-cita tersebut sudah siap menyambut dalam perjalan menggapainya. Dan dengan pertanyaan lain "ikhlaskah dia dengan segala konsekuensi menuju cita-cita tersebut?".

Sebagai umpama, seorang siswa kelas X (kurikulum 2006 hehee) bernama Kurma. Kurma sangat mengidamkan jurusan IPA alias NS. Ketika IPA/NS menjadi cita-citanya, maka (seharusnya) saat itu pula dia bersedia menerima berbagai cobaan dari Allah dengan embel-embel berkaitan dengan IPA/NS. Apalagi segala ujian yang terkait IPA/NS sudah muncul jauh sebelum cita-cita itu bisa digapai, yaitu proses menuju cita-cita. Dan justru ujian yang berkaitan dengan IPA/NS merupakan tolok ukur bagi diri sendiri apakah memang dunia IPA/NS yang menjadi cita-cita sesuai dengan kapabilitasnyakah? 

Umpama lainnya adalah Sawo, si mahasiswa Informatika semester 4 jebolan SMA yang sangat mendambakan jurusan Informatika sejak kelas X. Tugas ngoding frekuensinya melebihi dosis minum obat. Secara konkret, Sawo telah meraih cita-citanya, tapi ujian Allah belum berakhir. Cita-cita yang telah diraih itu harus dipertahankan dari segala ketidakenakan yang otomatis muncul ketika status mahasiswa informatika diraih.

Bahkan iri hati pun mengatasnamakan cita-cita untuk mengibuli kita. Boleh jadi pembaca (dan tentunya saya) mengalami kondisi dimana cita-cita belum diraih atau bahkan gagal diraih tapi teman kita justru memperolehnya. Tentu rasanya seperti disemprot jeruk nipis persis di pelupuk mata :) Dan kita menjadi orang paling malang sedunia, facebook menjadi tempat mengadu, bukan malah berwudhu dan bertahajud atau setidaknya berdzikir. Dan mulailah iri hati mencongkel optimisme kita terhadap skenario-Nya. 

Alkisah Jagung dan Singkong berebut menarik simpati Anggrek. Jagung dengan segala prestasi menterengnya optimis bahwa dialah yang layak bersanding dengan Anggrek, malah sudah membayangkan tagline Jagang di rumah masa depannya (Jagang? ga enak banget ngebacanya nih). Ketika ditanya motif jagung mengincar Anggrek, keluarlah jawaban diplomatis bin muluk-muluk. Kesamaan visi (versi si Jagung), prestasi akademik, kemapanan finansial, dan tak lupa agama #tsahhh (sambil mengayunkan rambut ala anime-anime gitu). Ketika tahu "hanya bersaing dengan Singkong yang sepengilatan Jagung tidak punnya kelebihan apa-apa. Namun masa depan bicara takdir Illahi, bukan angan/mimpi seorang individu. Justru Anggrek memilih Singkong. Jagung pun terjatuh tanpa bisa bangkit lagi, Jagung tenggelam dalam lautan dalam tersesat tanpa tahu arah pulang, padahal besok ada bimbingan skripsi ama dosen tuh. Well, jika ada posisi Jagung boleh jadi rasa iri sudah mencapai skala cumlaude. OK, tagihlah latar belakang cita-cita itu!! Menikah sebagai ibadah ataukah sekedar bermoduskan hawa nafsu lain jenis, apalagi dengan target tertentu =_=

Wah, ternyata ujian Allah itu dari berbagai jalur, bahkan rezeki yang diperoleh teman pun menjadi ujian bagi kita. Punya cita-cita ber-S2 tapi belum kesampaian, eh temen justru ada yang dapet padahal dia ambil S2 lantaran dipaksa orang tuanya. OK, pertanyaan baru pun muncul, mau menghabiskan waktu dengan berkeluh kesah ataukah semakin bersemangat untuk tidak mau ketinggalan?

Cita-cita, ya cita-cita...
Apapun bentuknya itu ujian dari Allah
Pada siapakah tempat kita mengadu atas berbagai peliknya jalan untuk meraih atau bahkan mempertahannya?
Sejauh manakah kesungguhan kita meraihnya? Sebatas wacana? Ocehan? Mencoba sekali, gagal lalu cengeng dan kapok? Ataukah apa?
Pastikan cita-cita sesuai dengan jalan-Nya dan menjadi sarana mendekatkan diri kepada-Nya

Our Friendship is still Looping

Sudah 5 tahun kami saling kenal
Perkenalan yang berevolusi menjadi persahabatan
Persahabatan yang tak jarang direcoki begajulannya anak muda
Persahabatan yang berpanenkan romantisme berkreativitas
Ketika kebersamaan berkoding perlahan punah
Maka (semoga) hingga ajal nanti perkawanan itu terus "looping" di kalbu

IF-32-01 disebut Constraint, sebuah istilah di dunia database yang ditujukan pada field yang menjadi primary key dan ditulis besar di kaos futsal kelas kami. Ketika saya mengenakannya di Tegal, adik kelas saya yang di STAN berkomentar "kalau di saya 'Constraint' itu artinya hambatan". Hmmm, lain prodi lain maksud. Di tahun-tahun awal warna hitam hijau menjadi identik hingga pada akhirnya putih ungu "mengkudeta" dominasi warna itu. Well, tampaknya basa basinya sudah cukup. Jadi gini, 8 September lalu kelas saya, IF-32-01 mengadakan (jarkomnya) sih halal bi halal, ya terserah sih kalau mau dibilang reuni, nongbar (nongkrong bareng), jumpa kangen, dan apalah karepmu.

Seperti biasa jarkom waktu pagi hari untuk acara non-formal sudah menjadi pertanda acaranya bakal mulur, dan itu terbukti, hehee, saya juga berperan aktif dalam keterlambatan ini karena baru dateng satu jam dibandingkan lainnya. Alhasil tidak sempat ikutan jogging bareng di danau, tapi ngomong-ngomong nih, emang beneran kalian jogging y? ko agak nggak-nggak percaya itu. 

Setelah melakukan pencarian dengan algoritma Ant Colony Optimization #fiuhhh, akhirnya saya berhasil menemukan mereka (diiringi lagu Akhirnya Kumenemukanmu by Naff), dan emang pas banget mereka mau makan. Pasca makan rombongan Dago, yaitu anak-anak yang sekarang ber-S2 di ITB malah baru dateng, ada yang udah mandi ada juga yang belum mandi tapi rapi, tapiiii ada juga yang masih tampak kucelnya hahaa.



Agenda berikutnya itu (harusnya sih) ke panti asuhan, tapi lantaran beberapa hal akhirnya disepakati ke panti asuhannya menjelang Dhuhur. Apa saja "beberapa hal" itu? Pertama, masih ada yang belum makan, kedua ada yang baru mau mandi (don't ask whether I am!!), ketiga salah satu motor kami ada yang mengalami kerusakan dan perlu disaster recovery, keempat kami masih terlalu asyik mengobrol, ya masih anennn gitu (njiji'i), dan (ini nih yang paling bikin geleng) Nasta si maskot kelas ilang entah kemana plus HP si Nasta ternyata malah kebawa Iful, lha terus gimana caranya menghubungi Nasta? Tanpa dinyana, Nasta cukup cerdik, yaitu mencari rumah seorang temannya dan minta sms ke rombongan kelas, huffffthhhh #terharu #nangis bawang


Ke panti asuhan tentunya bukan sekedar formalitas, tapi tujuan. Berbagi rezeki pun hanya salah satunya, ada yang lebih penting dari itu, yaitu mengasah terus kepekaan nurani. Kadang kita terlalu rakus dan gampang ngiler ketika dengar ada teman yang gajinya di atas kita, tanpa disadari masih ada yang pulsa internet pun tidak ada, bahkan ketika kita lalai menyapa orang tua tiap harinya, justru masih ada anak-anak yang pertemuan terakhir dengan ayah/ibunya sudah bertahun-tahun lalu.


Pasca-main ke panti asuhan, makan siang menjadi agenda yang kembali diisi dengan berbagai kebanyolan khas anak muda. Saling ledek bisa diibaratkan bahan pokok selain nasi kala itu. Dan ketika menjelang pulang, justru Demsy si maskot (emang ada berapa maskot ye?) justru baru datang. Hahahaa, jadi inget jaman Pengling.



Senja pun tiba, kembali kami harus berserakan ke kos masing-masing, tapi pulangnya kami kali ini bukan sekedar PGA, Sukabirus, Sukapura, melainkan menyebar ke berbagai belahan bumi lain, ya masih lingkup Jawa Barat-DKI Jakarta sih. Termasuk si bocah dari Tegal yang kembali ngoding di Senin esoknya.

Permainan Ikhlas Episode September

Pekan kemarin bukan pekan yang mudah. Selembar halaman website dengan wujud newsletter menguras waktu bermain saya, why? Waktu pengerjaannya sering melewati batas normal jam kerja. Hehee terganggu deh jadwal dinas nyuci di kosan. Bisa dibilang ini yang kedua karena pengerjaan yang sebelumnya juga seperti itu.

Untuk pengerjaan yang pertama diawali dengan pembuatan desain oleh teman saya si desainer, itu H-3 lebaran, tapi konten masih banyak yang 50:50 kelayakannya untuk masuk redaksi newsletter atau tidak. Awalnya terpikirkan untuk memakai template namun karena ada teman satu meja yang menjadi desainer di tim redaksi. Tanpa dinyana oleh atasan, beliau malah membuat desain versinya. OK hehee, karena si desainer tersebut tidak merasa kecewa, ya saya ikut saja hehee. Proses slicing berlangsung lancar walaupun terjadi berbagai revisi lantaran perbedaan browser sehingga yang tampak di satu lapak beda di lapak lain. Bahkan ketika di perbedaan margin 5 pixel pun bisa jadi komoditas untuk kembali revisi hahaa hehee hihihii.

Kejadian revisi ala "kerikil" kembali berulang pada pengerjaan pekan lalu. Bahkan lebih "epic".

Konsep footer dibagi menjadi "powered by" (PB) dan "find us on"(FUO). Awalnya PB sebelah kiri dan rata kiri, sedangkan FUO di sebelah kanan center. Setelah berjam-jam mengerjakan, ternyata dianggap tidak cantik. Layout footer dirombak menjadi PB dilanjut FUO keduanya di tengah center. Lantasan bingung peletakan FUO, maka FUO dihilangkan dan PB di kiri rata kiri. Eh, kayaknya jomplang, akhirnya diminta diletakkan di tengah rata tengah. Dan pada akhirnya diletakkan di kiri dan rata kiri. Itu belum termasuk "serpihan" beda pendapat mengenai ukuran image tertentu. Alhasil target pengiriman Rabu pagi mulur menjadi Jumat bada Maghrib. Alhamdulillah, ya... jangan sampai saking rumitnya proses membuat kita "amnesia" untuk bersyukur akan selesai sebuah amanat.

Bahkan ketika mengirimkannya via GoogleChrome ternyata berbeda dengan MozillaFirefox. Padahal coding-annya masing sama. Sekali lagi browser menjadi wild card yang mengasyikan dalam menggoyang-goyangkan kelegowoan dalam mengerjakan tugas proyek.

Ketika menjelang selesai pengerjaan, justru muncul pertanyaan ke telinga, "kenapa dari kemarin nggak pakai template?" Dalam hati bergugam gini "lha, orang tahu-tahu desain udah disodorkan masa mau nyari template yang ujung-ujungnya harus disamain dengan desain yang udah dibuat, well. Permainan keikhlasan pekan kemarin sungguh menarik

Ketika pulang ke Bandung, barulah teringat beberapa taktik untuk mengakali "pecahnya" layout bila ada elemen image yang ukurannya diubah, kenapa baru kepikiran ye? Sungguh permainan keikhlasan merupakan cara Illahi menyeleksi umat-Nya dan bahan introspeksi pada diri masing-masing.

3 Contoh Rivalitas

Hal yang identik dengan persaingan dan adu keunggulan. Diasosiasikan pula dengan berbagai diksi, yaitu kommpetisi, turnamen, pertandingan, laga, kejuaraan, bahkan permusuhan.

Ada kalanya persaingan itu menumbalkan persahabatan, bahkan ketika rivalitas itu tidak melahirkan pemenang sama sekali, persahabatan sudah tinggal menjadi kenangan. Tapi ada juga yang bersikap bijak dengan kembali "berseragam" pertemananan ketika laga telah usai.

Persaingan akan menjadi makanan pemuas nafsu lupa menghadirkan keikhlasan sebagai bahan utamanya. Apabila dirimu terperangkap dalam persaingan, maka tengok (tahu tengok gak? kalau bahasa Jawa "nglinguk", kalau baso palembang "jingok")  dengan bijak sebelum terlanjur dirimu tenggelam dalam berbagai risikonya.

Jika hal yang menjadi faktor berrkompetisi merupakan suatu hal yang (memang seharusnya) mulia, maka tanamkan bahwa persaingan tersebut hanyalah sudut pandang sempit, kenapa? Cobalah melihat lebih luas bahwa hal mulia tersebut seharusnya bukan tujuan akhir, melainkan titik peningkatan menuju kemuliaan yang lebih hakiki, bingung? 

Kita ambil contoh si Pepaya dan si Sirsak bersaing memperebutkan Melon. Baik Pepaya maupun Sirsak berpandangan Melon merupakan tipikal muslimah yang sholehah dan mampu menjadi pendukung yang nyaris sempurna dalam menegakan dakwah, artinya alasan keduanya sungguh mulia. Alasan yang mulia itu akan menjadi ironi ketika keduanya terbutakan ego. Jika alasan keduanya memang hal itu, maka yang seharusnya dilakukan oleh Sirsak dan Pepaya adalah memperkuat diri, menjaga diri, dan tentunya menjadikan persaingan ini sebagai perlombaan dalam kebaikan, bukan malah saling melempar fitnah untuk menjatuhkan rival, bahkan menempatkan si Melon sebagai prioritas untuk diperjuangkan melebihi kecintaan terhadap Allah, misalnya meragukan takdir Allah, naudzubillah.

Rivalitas yang agak susah terjadi dalam sebuah tim, bukan antartim. Hal ini menjadi ancaman berupa bom waktu yang justru tidak terprediksi kapan bisa meluluhlantakkan komitmen yang selama ini telah terbangun. Misalnya dalam sebuah tim proyek ada dua orang desainer, di satu sisi keberadaan keduanya menjadi suatu taktik untuk memunculkan alternatif dalam memilih desain, keduanya pun dapat berbagi ilmu maupun saling memberikan pendapat, namun ketika hanya salah satu desain yang dipakai maka potensi sakit hati pada yang tidak dipakai desainnya menjadi tantangan untuk segera diselesaikan sebelum kemangkelan itu terakumulasi.

Kisah lain juga dijumpai pada klub favorit saya, FC Barcelona. Kepindahan Ibrahimovich ke AC Milan didasari kegagalannya menjadi nomor 1 di Barca, secara produktivitas jelas Ibra di atas David Villa, Alexis Sanchez, Theirry Henry, Pedro Redriguez. Tapi kenapa empat pemain itu durasi musim bermainnya lebih lama di Barca? Faktor kelogowoan untuk mengalah tidak menjadi striker nomor 1 (bisa jadi) jawabannya. Jabatan itu sudah didapukkan pada Lionel Messi dan keempat pemain itu sedari awal sudah memilih untuk tidak menjadi rival Messi apalagi mengkudetanya. Namun Ibra yang merupakan striker nomor 1 di Malmo, Ajax, Juventus, dan Inter Milan jelas enggan mengalah, alhasil persaingan pun muncul.

Well, kesimpulannya apa nih? Rivalitas merupakan sebuah pilihan yang mau tidak mau bakal menyeret kita. Maka, punyailah tujuan hidup yang jelas dan ikhlas sebagai modal manajemen diri dalam bersaing dan sebaik-baiknya persaingan adalah berlomba-lomba dalam kebaikan.

Memangkas Prioritas

Walau kini engkau telah tiada kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tiada terobati

Asyik juga mendendangkan lagu ini pagi hari. Mengingatkan pada sebuah momen dalam hidup yang pernah beberapa berkeliaran di Jogja lantaran berbagai alasan yang mana kesemuanya berdasarkan pilihan, tepatnya menikmati pilihan. Lomba Proposal di FK-UGM 2006 tentunya merelakan diri tidak ikut survey PAB (yang katanya rame, kocak, ble'e). Benchmark BEM 2009 tentunya menyeret pada konsekuensi logis, yaitu tidak hadir plenno+binsik PDKT 2009. TKNP3T 2011 mengharuskan mangkir KP beberapa hari, jalan-jalan BPH versus PKL di Disparbud awal 2012 pun jadi lakon kebimbangan, dan SNATi 2012 memaksa tidak ikut pleno PDKT 2012. Ah, ive itu cuma satu tapi terlalu banyak pilihan dalam hidupnya, walau tidak semua berhilir pada sesuatu yang orang umum menganggapnya "menyenangkan".

Hidup pada dasarnya pilihan alias multiple choice dimana masing-masing ada konsekuensi yang melekat. Dan dalam memilih suatu hal, pastikan ada alasan kuat dalam memilihnya.

Dr. Maman Abdurrohman, dosen TA1 di kelas saya dulu berujar, bahwa ada banyak banyak motivasi dalam ber-TA, bisa karena nilai, bisa karena waktu, bisa pula karena bidangnya. Ketika berorientasi nilai, maksudnya mengharuskan diri meraih A, mungkin agak IPK aman di batas tertentu, maka TA hanya boleh berhenti ketika probabilitas meraih A sudah mendominasi. Apabila orientasinya adalah waktu, misalnya sudah ingin  kerja untuk meringankan beban orang tua serta apakah  meraih A, B, bahkan C sekalipun, IPK-nya tidak ada melonjak ke batas lain (mungkin sudah pasti cumlaude), maka TA tidak perlu banyak menghabiskan waktu, selesaikanlah dengan segera dan lekaslah bersidang, tapi tentu ad astandar kelayakan yang harus dipenuhi. Ketika berorientasi pada bidang dimana hasilnya harus perfek, maka mau tidak-mau mengikhlaskan diri untuk tidak bisa selesai TA dalam waktu cepat walaupun probabilitas meraih nilai meningkat. Intinya, ketika tidak punya faktor penentu dalam mengerjakan TA, ya limbung sendirilah nantinya, bahkan ketika memilih judul dan merencanakan output-nya pun sudah keteteran dalam bersikap.

Pun dengan memilih pekerjaan, faktor yang perlu dipahami mana saja yang menjadi prioritas dalam memilihnya. Memilih pekerjaan, bukan sekedar nominal gaji. Banyak aspek lain yang perlu diperhatikan, yaitu lokasi kerja, waktu kerja, bidang yang dikerjakan ataupun job description, proyeksi masa depan, suasana kerja, hmmmm apa lagi ya? banyak, namun yang tidak kalah penting kesesuaian dengan roadmap.

Roadmap, ada beberapa orang, khususnya yang sangat kalkulatif, membuatnya, namun ada juga yang berparadigma bahwa hidup itu dibawa mengalir saja. Well, bagi saya roadmap menjadi suatu keharusan, mengapa? Banyak berbagai kesenangan (baik duniawi maupun yang berjangka panjang hingga akhirat) yang menggiurkan dan tentunya membuat iri. Sebagian sesuai dengan roadmap saya saat ini, ada yang sesuai roadmap namun tidak masuk agenda roadmap saya sama sekali.

Siapa sih tidak terkesima dengan jabatan di organisasi macam parpol? boleh jadi jabatan di struktur pemerintah tinggal menanti "masa panen". Mungkin hanya minoritas seperti saya yang enggan untuk mengikutinya, jangankah mengikuti, minat bergabung ke partai saja tidak.

Siapa sih tidak takjub dengan kehebatan seorang penggaet beasiswa luar negeri? Mungkin hal itu sangat silau secara psikis dan secara konkret sulit bagi saya mewujudkannya.

Bergaji gede, siapa yang tidak ngiler? Dengan gaji besar, peluang untuk beramal secara kuantitas lebih besar, peluang untuk membahagiakan orang tua pun besar, peluang untuk membekali diri dengan berbagai pengalaman hidup pun lebih besar.

Sulit bagi kita untuk tidak iri dengan berbagai wujud digdayanya orang lain, apalagi ketika yang orang lain dapatkan merupakan hal  yang kita incar. 

Tato?

Sebuah koran olahraga terbeli sore kemarin, salah satu artikelnya mengulas tentang trend bertato serta bertata rambut di kalangan atlet sepak bola. Untuk jenis trend yang terakhir saya tidak begitu risih, namun untuk trend jenis pertama, hmmm, tato, agak risih juga menelaahnya.

Sebagai umat muslim, ada seubah hadis yang menjadi patokan saya menolak tato;

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknati wanita yang menyambung rambutnya, dan yang meminta untuk disambungkan, wanita yang mentato dan meminta ditatokan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5933 dan dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma no. 5937)“

Alasan meniru-niru  diapungkan sebagai motiff sejumlah pesepak bola tertato, khususnya pesepak bola Eropa jelas menjadi indikasi tergadaikannya semangat mempertahankan idealisme. Meskipun saya fans Barca, jujur saya tidak menyukai berbagai pola tato yang dipunyai oleh Fabregas, Alves, maupun Adriano.

Salah satu cuplikan "pembelaan" oleh seorang pesepakbola nasional adalah "jangna menilai seseorang dari penampilannya". Well, permasalahannya bukan sekedar image maupun suka tidak suka, melainkan kesesuaian dengan fiqh thoharoh yang saya anut dalam agama saya, Islam.

10 Langkah Menghafal Al Qur'an


Menghafal Al-Qur’an selalu menjadi idaman setiap Muslim, ia juga selalu menjadi batu pertama dalam menempuh perjalanan menuntut ilmu para ulama-ulama kita. Hal ini bisa kita temukan dalam setiap biografi para pewaris Nabi ini. Di sisi lain, menghafal Al-Qur’an juga menjadi salah satu bagian terpenting dalam berinteraksi dengan kitab pusaka umat Islam, Al-Qur’an.

Banyak sudah tulisan yang memuat trik dan tips menghafal Al-Qur’an, mulai dari zaman para Salafus Shaleh sampai sekarang. Namun ada berapa poin yang kadang kurang dipahami oleh para penghafal Al-Qur’an, ada yang lebih mendahulukan poin-poin sekunder dibanding yang primer, begitu pula ada yang lalai terhadap hal-hal yang primer padahal itu adalah poin yang harus dimiliki oleh para penghafal Al-Qur’an.
Ada sebuah buku (minibook) menarik yang dikarang oleh salah satu penulis produktif di Mesir, DR Rajib Sirjani. Dalam bukunya Kaifa Tahfadzul Qur’an ia membahas hal-hal yang harus diperhatikan oleh para penghafal Al-Qur’an. Secara garis besar ia membuat dua pembahasan. Pembahasan pertama tentang tips-tips yang bersifat primer (asasiyah) dan tips kedua bersifat sekunder (musa’idah). Dan dalam setiap pembahasan tips ada sepuluh poin yang harus diperhatikan.

TIPS-TIPS PRIMER (ASASIYAH)
Tips ini harus dimiliki oleh para penghafal Al-Qur’an karena menjadi hal yang sangat mendasar selama menghafal. Ada sepuluh poin yang harus dimiliki oleh para penghafal Al-Qur’an baik sebelum, sesudah atau selama ia menjalani proses menghafal Al-Qur’an. Inilah sepuluh tips primer (asasiyah) menghafal Al-Qur'an:

1. Ikhlas
Ikhlas merupakan fondasi terpenting dalam setiap pekerjaan. Hal ini disebabkan karena siapa saja yang melakukan sebuah pekerjaan bukan karena mengharap ridha Allah maka pekerjaannya akan sia-sia saja. Ia juga akan menjadi orang yang pertama kali disidang pada hari kiamat.
Sebuah hadits dari Imam Hakim menerangkan bahwa orang yang menghafal Al-Qur’an terbagi menjadi tiga golongan; golongan yang ingin pamer, golongan yang ingin mencari makan dari hafalannya dan golongan yang memang murni karena Allah.
Ketika kita tidak bisa ikhlas secara utuh maka kita bisa menggunakan alternatif pembantu yaitu dengan memperbanyak niat yang baik seperti niat dapat memperbanyak baca Al-Qur’an, bisa bertahajjud sambil mengulang hafalan, berharap bisa meraih kemuliaan orang yang menghafal Al-Qur’an, berharap agar orang tua kita dapat diberikan mahkota pada hari kiamat, agar terjauh dari azab akhirat, agar dapat mengajarkannya kembali pada orang lain, agar dapat menjadi suri tauladan baik bagi orang Muslim atau yang non-Muslim atau niat-niat baik yang lainnya. Yang penting kita berniat karena Allah dan bukan karena dunia.

2. Keinginan yang kuat
Menghafal Al-Qur’an adalah sebuah pekerjaan yang amat mulia maka hanya orang yang benar-benar mempunyai niat yang kuatlah yang dapat mencapainya. Pekerjaan yang hebat hanya dimiliki oleh orang-orang yang hebat pula. Sama halnya ketika seluruh orang ingin masuk surga, apakah seluruh orang itu benar-benar memiliki tekad yang kuat untuk mencapainya, ternyata tidak, hanya segelintir orang bukan!
Keinginan yang kuat ini terpancar dari usaha yang ia lakukan untuk mencapainya. Dari usaha yang terus menerus inilah yang akan membuatnya menjadi sebuah kebiasaan. Dan dari kebiasaan inilah yang membuatnya terus menerus menghafal, mengulang dan mematangkan hafalannya. 

3. Mengetahui nilai menghafal Al-Qur’an
Orang yang mengetahui nilai sesuatu pasti akan berkorban apapun untuk meraihnya. Kalau manusia biasanya selalu mencurahkan seluruh usaha untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat duniawi lalu kenapa ia tidak melakukan hal yang sama untuk mencapai tujuan akhiratnya yang kekal.
Ketika kita mengetahui nilai pekerjaan yang kita lakukan maka kita akan semakin rindu untuk melakukannya. Ditambah lagi, orang yang mengetahui nilai suatu pekerjaan tidak sama dengan yang tidak mengetahuinya. Dan orang yang mengetahuinya secara global tentu tidak sama dengan yang mengetahuinya secara terperinci. Maka semakin kita mengetahui nilai pekerjaan itu lebih terperinci tentu akan membuat kita semakin berpacu untuk menggapainya.
Ada banyak kelebihan dan keutamaan bagi orang yang menghafal Al-Qur’an baik dalam Al-Qur’an itu sendiri atau hadits Nabi. Kita juga bisa menemukannya dalam beberapa literatur baik yang berbahasa Arab seperti At-tibyan fi adabi hamalatil Qur’an karya Imam Nawawi atau yang berbahasa Indonesia. 

4. Mengamalkan apa yang ia hafal
Poin ini menjadi poin terpenting dari tujuan menghafal Al-Qur’an. Karena hafal semata tidak akan menghasilkan nilai yang berarti tanpa dibarengi dengan praktik realita. Hal inipun sudah disinggung oleh Anas bin Malik; berapa banyak orang yang membaca Al-Qur’an namun Al-Qur’an malah melaknatnya.
Metode inilah yang digunakan oleh para generasi terbaik, generasi sahabat. Umar bin Khatthab telah mengajarkan kita metode yang tokcer dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, ia tidak pernah menghafal sesuatu kecuali ia telah mengamalkannya dan ia akan pindah ke hafalan berikutnya setelah ia mengamalkannya dan begitu seterusnya.
Ali bin Abi Thalib juga pernah memprediksi bahwa nanti suatu saat akan ada sebuah kaum yang ilmu mereka tidak lebih dari kerongkongan saja karena apa yang mereka lakukan berbeda dengan apa yang mereka ketahui. Bukankah orang yang mengamalkan apa yang ia tahu akan Allah berikan padanya hal-hal yang belum ia tahu.

5. Meninggalkan dosa dan maksiat
Hati yang sering berbuat maksiat tidak akan bisa menampung cahaya Al-Qur’an. Semakin ia bermaksiat maka akan mempengaruhi hatinya. Ketika hatinya semakin keruh maka lemahlah kemampuannya dalam menghafal Al-Qur’an yang suci. Karena dosa ibarat sebuah titik, semakin banyak ia bermaksiat dan berdosa maka akan semakin banyaklah titik hitam dalam hatinya, namun ia bisa dihapus dengan bertaubat dan memperbanyak istighfar.
Imam Syafi’i juga pernah mengalami hal ini kemudian bertanya kepada Imam Waqi’ yang akhirnya beliau membuat dua syair yang sangat terkenal, Syi’ir Syakautu ila Waqi’. Seorang Tabi’in (Dohhak bin Mazahim) pernah berkata tak ada seorang pun yang belajar Al-Qur’an kemudian ia lupa kecuali karena dosa yang ia perbuat. Dan melupakan Al-Qur’an termasuk musibah terbesar.

6. Berdoa
Berdoa merupakan senjata orang Islam. Karena ia yakin bahwa tidak ada yang sia-sia dari doanya, ia selalu yakin bahwa Allah selalu mengabulkan doa mereka baik secara langsung, ditunda waktunya atau diganti dengan yang lebih baik. 
Ada beberapa waktu yang tepat dalam berdoa seperti waktu sahur, usai shalat, sepuluh akhir Ramadhan, apalagi ketika kita sendiri dalam keheningan malam, ketika hujan, dalam perjalanan dan lain-lain. Selain itu ada beberapa tempat yang dapat mempercepat terkabulnya doa kita seperti di tanah haram (Mekkah dan Medinah), Hajar Aswad, Ka’bah, Raudhah dan lain-lain.

7. Pemahaman yang benar
Orang yang paham arti apa yang ia hafal akan lebih mudah menghafalnya dibanding mereka yang tidak paham. Dalam membantu pemahaman, kita bisa menggunakan beberapa alternatif seperti Al-Qur’an terjemah, tafsir yang simple atau yang lebih terperinci kajiannya.

8. Membaca dengan tajwid
Membaca Al-Qur’an dengan tajwid akan sangat membantu hafalan. Orang yang menghafal tanpa tajwid akan sangat sulit untuk dibenarkan ketika ia sudah selesai menghafal karena ia sudah terbiasa membaca dengan bacaannya yang salah. Apalagi orang yang membaca dengan tajwid ternyata mendapat pahala yang lebih besar. 
Yang harus diperhatikan dalam belajar tajwid adalah harus mengambil dari seorang guru yang sudah mantap hafalan dan bacaannya, dan tidak cukup belajar dari buku saja. Setelah belajar dari seorang guru yang hebat mungkin dia bisa menggunakan sarana pembantu seperti mendengar dari kaset atau komputer dan lain-lain. 

9. Terus membaca Al-Qur’an
Orang yang sering membaca Al-Qur’an akan lebih banyak mendapat pahala dan di sisi lain hal itu akan mempermudah dan memperkuat hafalannya. Karena terus menerus membaca Al-Quran akan memindahkan daya ingatannya dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.
Biasanya para sahabat menghatamkan Al-Qur’an dalam seminggu. Hanya sebagian yang kurang dari itu dan hanya sebagian kecil yang lebih dari itu.

10. Membaca dalam shalat 
Bagi yang berkesempatan menjadi imam maka ia dapat langsung mengulang hafalannya. Namun bagi yang tidak menjadi imam ia dapat melakukannya ketika shalat malam, usai shalat isya, shalat dhuha atau shalat sunnah lainnya.

Klik di sini untuk sumbernya

Dari Muenchen, Barcelona, hingga Turki


Sabtu pagi, 31 Agustus 2013, seorang bocah bandel asyik menonton final Piala Super Eropa via tv di Villa Paradewa. Sendirian, tiada kawan, bahkan kedua tim yang bertanding, FC Bayern Muenchen dan Chelsea FC bukanlah tim favoritnya. Entah apa penyabab dia menjagokan Muenchen, mungkin karena pelatihnya adalah Pep Guardiola, eks pelatih Barcelona.

Laga memasuki menit ke 120 lewat 50 detik. Semua pemain berada di separuh lapangan milik Chelsea yang sudah unggul 2-1, hanya minus seorang pemain Chelsea yang dikartu merah dan Neuer, kiper Muenchen, yang mungkin tidak berharap menjadi Valdes jilid 2. 10 detik yang agaknya sekedar formalitas. Sebuah sontekan pemain berbaju merah berhasil menggetarkan jala Cech, kiper Chelsea. Ya, ternyata javi Martinez mencetak gol yang memperpanjang nafas Muenchen di laga ini. 




Bahkan skor 2-2 sama ini menjadi muara kemenangan Muenchen 5-4 di tos-tosan adu penalti. 31 detik jelas waktu yang sempit bagi sebuah laga yang berdurasi 120 menit (plus serangkaian injury time tiap babaknya). Bahkan selama 120 menit lebih 30 detik sebelumnya, Muenchen hanya bisa mengoyak gawang Chelsea satu kali.


Tak butuh lama bagi bocah itu untuk bernostalgia kesuksesan dua tim inspiratif lainnya yang kasusnya serupa (walau tidak semua sukses disaksikan secara real-time). Dua tim itu adalah FC Barcelona dan Tim Nasional Turki.

Salatiga, Menengok Makna Ikhlas

Pagi kemarin sebuah obrolan tentang Yakuhimo mengalit begitu saja di Whatsapp, ceritanya itu tentang SM3T, hampir mirip Indonesia Mengajar. Tapi, ada yang mulai menggelayuti diri ini ketika seorang kawan bercerita saat ini sedang ada acara di Salatiga. 
Ya, Salatiga... Sebuah tempat yang pernah mengajarkan arti sebuah kedewasaan dan keikhlasan.

Sebuah siang di medio Mei 2007, di kelas gaduh XI.IA3, seorang guru berbadan tegap muncul di sebuah pintu, beliau tidak hendak mengajar tapi mencari seorang bocah. Tak butuh lama kemudian beliau membawa bocah itu ke aula merah yang hanya berjarak 20 meter dari pintu tadi. Di situ sudah ada seorang anak jangkung. Singkat cerita dua bocah itu diharuskan hengkang selama seminggu untuk Training Olimpiade tingkat Provinsi di Salatiga. Secepat kilat, salah seorang diantara mereka menghitungkan dengan 7 jemarinya, dia bergugam dalam hati "hah? seminggu? ga bisa ikut perpisahan kelas XII donk?" Sebuah kesedihan di balik tantangan yang jelas akan dianggap bodoh bilamenjadi alasan untuk menolak ikut acara training yang memang langka tersebut. Tak ayal kesedihan itu disembunyikan jauh-jauh dari sang guru. Sore di hari itu pun berkalang haru ketika harus berpamitan dengan ketua dan teman-teman satu divisi acara serta tentunya orang tua.

Esok harinya, ketiga orang di atas meluncur ke Salatiga via Semarang. Faktor gundah karena harus melepas sebuah kebersamaan dalam berpanitia justru menjadi pemantik kegalauan ketika si bocah itu muai mempertanyakan kelayakannya mengikuti agenda training itu. Pesimis tentang bekal perkimiannya, sementara si jangkung tampak lebih tenang karena bidang trainingnya berkutat dalam konteks permatematikaan.

Sehari, dua hari, tiga hari, dan akhirnya genap 7 hari
Kedua bocah itu pun benar-benar dimabuk materi akademik yang masya Allah. Membaca rundown selama 7 hari yang dibagi saat pembukaan saja sudah cukup membuat kening berkerut. 
07.30-10.00, 10.30-12.00, 13.00-15.00, 15.30-17.30, dan 19.30-21.30 merupakan slot waktu yang hanya diisi kimia, kimia, dan kimia, sedangkan bagi si jangkung tentunya matematika. Sekitar 10 hari dari 24 jam "diabdikan "hanya" untuk belajar kimia.