SNATi 2013

Wah...tak terasa sudah ada publikasi tentang SNATi 2013 yang diadakan di FTI Universitas Islam Indonesia. Kebetulan tahun lalu saya mendapat rezeki untuk ikut serta dengan "mempromosikan" TOGAF pada Disparbud sebagai materi makalah. Itu pertama kalinya saya lolos sebagai pemakalah di hajatan informatika setelah di 2011 "salah jurusan" di acaranya FISIP UI.

Berikut merupakan poster publikasinya :


Nah bagi yang ingin skripsi ataupun tesisnya dipublikasikan secara nasional (tentunya masih dimungkinkan kritik dari reviewer sebelum benar-benar lolos) tak salah bila meluangkan diri untuk ikut.

Cripsy Skripsi

Skripsi bukan cinta satu malam yang "indah"
Skripsi bukan anugerah yang jatuh "tepluk" dari langit selagi kita pulas tertidur
Skripsi juga bukan "gaji" yang kita peroleh dengan berbakti pada ormawa

Skripsi adalah bukti dari firman-Nya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

Ayo kawan segerakan kabar gembira keberhasilan akademik kita pada orang tua :

Electronic Health Record (EHR)


Menurut Health Information Management Systems Society’s (HIMSS), Electronic Health Record (EHR) informasi rekaman kesehatan pasien yang memanjang, digeneralisasi oleh satu atau lebih encounter pada berbagai delivery setting. suatu catatan elektronik komprehensif dari informasi kesehatan pasien yang merupakan integrasi beberapa database informasi kesehatan. Informasi yang diberikan meliputi demografi pasien, catatan kemajuan, masalah, obat, tanda vital, riwayat medis masa lalu, imunisasi, data laboratorium, dan laporan radiologi [NIH06]. 
EHR merupakan catatan elektronik yang aman. EHR hanya dapat diakses dan dibagi oleh penyedia layanan perawatan kesehatan, diantaranya dokter, perawat, teknisi laboratorium [GAR06].
Komponon-komponen kunci EHR adalah sistem administrasi, sistem laboratorium, sistem radiologi, sistem farmasi, order dokter terkomputerisasi, dan dokumentasi klinik diantaranya meliputi : catatan dokter, perawat dan tenaga kesehatan lain, tanda-tanda vital, catatan perioperatif, resume pulang, transkrip dokumen manajemen, abstrak medical record, prosedur, informasi dan credentialling staf. Semua komponen ini akan terpadu dalam sistem EHR yang dibuat untuk memungkinkan berbagi data dalam sistem [NIH06].
Di Indonesia, regulasi mengenai EHR belum diatur secara khusus dan sementara ini mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis. Pada Permenkes tersebutdi pasal 2 ayat 1 disebutkan bahwa “Rekam medis harus dibuat secara tertulis, lengkap, dan jelas atau secara elektronik”[KES08]. 
Hal ini mengindikasikan adanya izin dari pemerintah Republik Indonesia dalam penyeleng-garaan EHR dalam pengelolaan rumah sakit di Indonesia. EHR pada rumah sakit juga dipergunakan untuk membuat statistik mengenai kasus dan penanganannya oleh rumah sakit sebagai bagian dari Sistem Informasi Rumah Sakit yang diatur dalam Permenkes No. 1171/MENKES/PER/VI/2011 khususnya pasal 2 ayat 1 [KES11].

Rujukan
[KES08]    Peraturan Menteri Kesehatan No. 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis.
[KES11]    Peraturan Menteri Kesehatan No. 1171/MENKES/PER/VI/2011 tentang SIRS Sakit.
[NIH06]    National Institutes of Health National Center for Research Resources. 2006. Electronic Health Records Overview. Mitre Corporation : Virginia.
[GRA11]   Gray, BH; et al. 2011. Electronic Health Records: An International Perspective on “Meaningful Use”. Commonwealth Fund pub. 1565 Vol. 28.



Sejumlah Target Kampus dari 2011

Tabel di bawah bersumber pada Rencana Induk Penelitian di IT Telkom, sebuah kampus yang boleh disebut berkembang, boleh disebut merangkak, boleh disebut ngebut, boleh juga disebut sempoyongan, dan berbagai jenis kecepatan lainnya dalam mewujudkan produktivitas riset. Alasannya jelas, yang berkarya adalah manusia yang banyak sehingga sangat tidak mudah untuk mengasuransikan pencapaian target tersebut. Yang pasti, ada sebuah pertanyaan "Apakah kita MAU dan MAMPU menjadi bagian dari kesuksesan tersebut ataukah (lagi-lagi) penonton yang bermodal sebungkus popcorn?"

Pada nomor 1 s.d. 9 tidak ada klausul "INI UNTUK DOSEN". Jadi. mari sebagai mahasiswa kita kontribusikan kegemaran menulis kita ke arah berilmiah untuk kampus tersayang ini


Menepis Ragu yang Tersibak


Menepis Ragu yang Tersibak
Angkat kembali senyumku
Dimana kabut belum menipis
Dalam sukma aku berpapasan pekat
Seumpama bisa lari takkan arahku ke belakang

Dongeng dan mitos tentang tembok itu
Samar enggan diakui zaman
Berlagak kebal tapi aku menyurut ke situ
Kemelut itu laga untukku

Hingga aku karam berlumur cela
Ataukah unggul menawan
Sejatinya pilihanku ada pada kepalan nyali

Jatuh pun biasa bagiku
Terjun bebas pasca tersingkirkan tak apalah
Tapi hanya di sini aku mungkin terinjak

Daun Meranggas


kemarau ini seperti jadi momentum tepat
firasatku nyali ini seg'ra temui sekat sempurna
oh... adakah hutan itu kerontang selama aku tapaki
oh... bisakah jelujurku ronai rimba ini

wangi itu terbuai kupu-kupu saingi kumbang
dawai terpetik seiring asa berguguran mengucur
hmm... di titik ini jenuh memuncaki ubunku
syalala... gugamku di balik pelangi semu itu

bahkan taburan angin pun tawar terasa
terik memancar matangkan luka bekas tersayat
dimana sayap itu keropos sisakan lintasan rapuh
jemari isyaratkan keringnya pembuluh melepuh

tergerogoti imaji semu dimana bodohku mengaraknya
lembayung dan rumput teki kawan karibku saat terkapar
bawalah senar layangan ini ke tempat tombak mimpi terhempas
sibakan angin syahdukan meranggas daunku pohon citaku

senja isyaratkan sejenak menanggalkan penat
namun darahku tercemari tuba sekujur hari tak terhenti
layaknya anggrek sakit itu menjalar terhampar hanya saja buruk rupanya
dengan parang apapun aku sobek nadi itu semakin aku terkuasai

seberkas lilin letupkan iba
tapi gerimis mengguyur pesanku jantung hendaknya kian kuat
ngilu yang menggerayangi nalarku
sematkan ukiran rona melenting kesadaran tersisa

terbalutkan kepayahan infeksi menganga aku tergopoh
tanpa tongkat lengkapi kerabunan mata dan berkunang-kungannya hati
jebakan tampaknya bukan lagi anggota kamusku
aku menyeret separuh kendali nuraniku

tibalah sebening bentuk kemerlip kekayaan hati
tabuhkan genderang melenakan daya
beraksilah pemulih kalbu
bilamana engkau sebagai kepingan terakhir misteri hidup itu

Terjerembab Mimpi


Dari tepian nelangsa terhampar
Bila aku selami di palung nurani
Pelabuhan solusi belum terpancar dari teropongku

Hatiku jengah tapi aku abaikan
Otakku mendidih tapi aku biarkan
Sekuat niat aku ibaratkan pohon kelapa
tak mudah terseret tiupan isu dan emosi sekitar

bahkan tatkala permata itu tak lagi kirimkan nasehat
ataupun lelah bergelimangan keringat
kayuh terus hingga lelah tak bisa mengusik
entah mengapa luka terkoyak itu mengambang

sinaran kelam antara wajah-wajah suram
bergugam mantra memaki
harapku terbaus segala senyuman riang hari baru
adakah itu tak hanya khayalan?

prediksi takkan tergaransi keterwujudannya
ranumnya buah keputusan terbungkus nyali

Aku di Lorong Jalanan


Jeruji kawat menahanku
Denyut nadiku sahut meredup
Kemarau yang kerontang
Hujan bersemayam badai

Busur yang kupanggul
Terarah pada kabut
Pantang kupulang
Ataupun lenyap seketika

Anganku terperangkap cacian
Ilusi bermuram durja
Senyumku terbasuh lumpur
Biar keringatku menyapunya

Bertuba pembuluh visiku
Berkabung naluriku untuk tegap
Terkadang merangkak demi bertahan
Tersisa aku di lorong jalanan

T'lah kutaburkan benih suka cita
Hingga tiada tersisa di kantung hatiku

Celoteh Kaderisasi


Lagu Himno del Heroico Instituto Vidal berdencang di telinga saya. lagu apa itu? Ya bisa diibaratkan Mars SMA 1 Slawi ataupun Mars IT Telkom, dibawakannya dengan Con Bravura, pokoknya berwibawa banget selama 38 detik, namun tiba-tiba permainan gitar dan keyboard "mengacaukan" telinga. Vokal masih tegap berwibawa tapi irama instrumen tadi sudah terlanjur meracuni lagu ini. Sungguh kombinasi yang (hingga detik ini) takkan terpikirkan dalam lembaga pendidikan formal manapun di Indonesia.

I always think about develop creativity, sometimes my innovative idea come after event happened #hahaaa...kadang modem kreativitas ini perlu diisi ulang dengan mendekatkan diri pada Yang Maha Memberi (kreativitas)

Kali ini celoteh saya tentang kaderisasi. Sesuatu yang dianggap sakral, yang diagungkan, yang disucikan, yang dianggap keramat, bahh.. pusaka macam apa sih kaderisasi? Ampe-ampe dibikin PUK (Pola Umum Kaderisasi). Kaderisasi memang kerap membuat kita keder dalam mengkader.

Apa itu kaderisasi? mari kita analogikan dalam sebuah tugas pemprograman ataupun Desain Analisis Algoritma. Kaderisasi ibarat algoritma yang merancang input agar menjadi output. Namun apakah perumapamaan ini sangat tidak relevansi? Terserah kisanak :D

Namun akan jadi suatu kebodohan bila algoritma (baca : kaderisasi) menjadi sesuatu yang "haram" untuk diutak-atik (bahkan ketika sudah ada mekanisme pengubahannya pun masih ada segerombolan kolot yang menutup mata terhadap perubahan sekitarnya). Jangan tutup mata bung, kaderisasi di KBM ini tujuan untuk apa? Mempertahakan hegemoni ataukah sekedar puisi romantis yang mengidam-idamkan mahasiswa yang "perfecto"?

Kembalilah kita pada hakikat kita sebagai input dan output. Kita adalah mahasiswa (at least saat gue nulis postingan ini, gue masih diakui sebagai mahasiswa ITT walau KTM ilang :p). InsyaALLah kita akan (segera) bermuara menjadi alumni. Nah, seperti apakah lulusan IT Telkom yang dibutuhkan dunia kerja dan masyarakat Indonesia? Lakukan analisis terhadap kebutuhan dunia luar atas alumni kita. Misalnya, alumni ITT dikenal tukan bolos, berarti kaderisasi perlu ditingkatkan di sektor kedisiplinan.

Jangan lupa analisis pula kondisi input saat ini. Mempergunakan rujukan mahasiswa sekian tahun lalu sebagai panduan karakter si inputnya baru jelas memperlihatkan ketidakcerdasan dalam berpikir. Janganlah sampai saking terburu-buru kejar deadline maka lupalah mengadakan analisis input. Mungkin bila event-nya PDKT sih tinggal nunggu si mahasiswa baru dateng, lha kalo yang kayak LKOD, LKOL? Bisa-bisa pesertanya yang punya "kepentingan karier". Bermanfaat sih bermanfaat nama sayang banget ya panitia susah-susah namun yang diincar sertifikatnya, bukan konten acaranya.

Dan tak lupa percantiklah proses di dalamnya. Waterfall saja sekarang sudah "diamandemen" menjadi Neo Waterfall, itu yang udah jadi rujukan metode pengembangan website tingkat internasional lho.. Bila hanya menjadi warisan tanpa dipikir esensinya maka percayalah ketika berpotensi pula mewariskan budaya korupsi di negeri ini. Eh, pemasarannya gimana atuh kang? Lha kiye keh sing susah temen. Coba data siapa saja calon "pembeli" tiket masuk event kaderisasi, bagaimana karakternya, apa latar belakang organisasi (UKM dan labnya), cari tahu yang dibutuhkan organisasi mereka (jangan cuma kebutuhan 1 2 ormawa), cari tahun apa yang sedang menjadi trend saat ini.

Di kampus ini masih ada "dogma jahanam" berupa kaderisasi milik segelintir oknum dan kemudian para penganut aliran kebatinan itu "mengembargo" event kaderisasi di kampus, tak hanya mengembargo, tapi juga rajin membuat fatwa yang mencela kaderisasi di kampus ini. Kalau dipikir-pikir "embargo" dan "fatwa" buata mereka kepada mahasiswa lain tersebut ya sebenarnya proses kaderisasi juga lho, hanya saja bersifat kontra-petahana. Yapz, fenomena ini merupakan contoh meniru politik kotor, padahal seperti kata mas BP di blognya, "kita tidak perlu membunuh untuk menunjukkan bahwa membunuh itu salah". Lantas harusnya bagaimana?

Bagian penutup ini sengaja saya "anehkan" dimana tidak ada kesimpulan maupun kalimat mutiara, tujuan agar celoteh yang (harapannya) memasuki titik klimaks tidak begitu saja seenaknya saya akhiri dengan kalimat manis, namun "nuansa gerah" itu masih hangat di otak pembaca sehingga muncul ide-ide yang semoga menjadi kenyataan. Semngatlah untuk membangun peradaban bermutu di kampus berkualitas ini.

Dining Philosopher

Judul di atas bukan tentang konsep dining philosopher yang materi Operating System semester 5, bukan, ini tentang sajian "makan malam" yang penuh dengan filosofi 1,5 hari yang lalu, kenapa 1,5? Karena diadakan malam hari diantara pergantian tahun. Ya ya yapzz.. Ketika hirup pikuk petasan dipersiapkan di pusat Kota Bandung Karate Telkom memutuskan meninggalkan nikmat duniawi menuju sengsara duniawi ke Oray Tapa, sebuah buper di Utara Kota Bandung. "Sengsara"? Hahahaa, gimana gak sengsara, cara menelusuri sawah sudah nyaris mirip gerilyawan Macan Tamil Sri Lanka dan ketika sampai di TKP hampir mirip pengungsi dari Rohingya. Well, satu kita culik satu per satu hikmah di balik "sengsara" yang menjadi santapan makan malam kami dimana hidangan penutupnya berupa berbagai merk mi rebus/goreng dan tidur beratapkan saung dan langit.

Sengsara itu ibarat persimpangan mengenai cara kita menyikapi rintangan, pilih jalur mengeluh, jalur tetap diam datar tanpa ekspresi, ataukah jalur berdoa. Namun, apakah dengan keluhan kita mendadak akan turun nasi goreng dari langit? Apakah cara lain akan memberi efek bagi kita? Ibarat UTS multiple choise, ada banyak pilihan dengan berbagai efek yang bisa kita nikmati

Tiket menuju TKp adalah membawa tenda, terpal, rangka, dan berbagai alat masak dan bekal. Ya seperti itulah latihan Karate. Kita merasa capek luar binasa tertatih membawa barang-barang tersebut, namun itulah yang akan menjadi modal kita "survive" di TKP. Dalam latihan Karate, kita seringkali merasa capek, jenuh, bosan, letih, lesu, lemas, lunglai, lebay terhadap porsi latihan yang kadang kita sendiri lupa "apa manfaatnya", namun itulah modal yang menjadi "senjata" kita survive dalam pertandingan/turnamen/maupun tujuan lainnya

Sementara dua itu dulu saja yang hendak saya tulis di blog tersayang ini. Nanti kalau sudah dapat dokumentasi event kemarin, segera saya tambahkan.

Any lessons always avaible in anywhere, anytime