Himmpas yang tak Dirindukan

Tuntas sudah kiprah di sebuah "sawah" bertajuk HIMMPAS UI dua pekan lalu. Sebuah sawah yang berisikan banyak petani-petani tangguh yang telah lebih dari semusim menyemai benih-benih kebaikan. Seperti halnya musim tanam yang berganti rupa, maka akan ada petani-petani baru yang lebih muda, lebih piawai, dan punya sebuah kelebihan yang tidak dimiliki petani-petani sebelumnya. Kelebihan itu adalah kesempatan untuk berkreasi di masa depan. 

Prestasi yang telah direguk tahun lalu tak pernah lebih dari sekedar histori, rekam jejak yang mungkin hanya menjadi pemanis di company profile. Namun prestasi di masa lalu itu tidak pernah bisa diedit karena masa lalu terkunci rapat dalam etalase yang "cukup dikenang" saja. Sebaliknya, kepengurusan saat ini punya keleluasaan untuk berimajinasi setahun ke depan. Hak yang memungkinkan untuk saling beradu gagasan kreatif dan rasional. Hak yang tidak akan pernah dimiliki kepengurusan sebelumnya. Hak yang perlu diimbangi banyak kewajiban, setidaknya dua: khusnudzon dan ber-ikhtiar. Saya jadi ingat quote-nya (bukan) Steve Jobs, "Sebaik-baiknya rencana adalah yang terlaksana".

Himmpas UI bukan Lem Tikus
Seseorang yang membeli mie ayam berhak protes jika di mienya tidak ada ayamnya. Tapi belum ada sejarahnya orang membeli lem tikus lalu mengeluh karena tidak ada tikusnya. Kira-kira bagaimana dengan Kawan-Kawan terhadap HIMMPAS UI ini? Termasuk yang mie ayam atau yang lem tikus? Ini bukan sekedar lelucon karena kadang ide ntitas kerap menipu penampilan. Banyak web dengan domainnya nama berbau Islami tapi isinya #AhSudahlah, belum lagi penggunaan gelar 'ustadz'oleh akun di socmed yang isinya membuat kita ingin meng-kamehame-nya. Bagaimana dengan HIMMPAS UI? Dalam hal ini, saya masih optimis mengamati bagaimana  nanti output pengurus dan anggota HIMMPAS serta dampaknya bagi UI, bangsa, dan agama.

Menyadur Karakter CxO
Perbedaan besar organisasi (baik negara maupun korporasi) antara besar vs kecil ada pada visinya. Visi di sini bukan sekedar tagline kalimat, melainkan jangkauan mereka meneropong. Negara Korea Selatan maju IT-nya bukan karena satu dua malam, tapi perencanaan strategis SI/TI dari era 1980-an. Bahkan mereka sudah berani mengobrolkan roadmap e-government di akhir era 1980-an. Kesuksesan FC Barcelona di era 2010-an adalah buah sekolah sepak bola yang dirintis sejak 1990-an, itulah mengapa hingga kini mereka masih kokoh di blantika sepak bola Eropa. Negara kita pun sebetulnya punya tradisi merencanakan jangka panjang, tidak percaya? Silakan tengok Repelita di era Orde Baru ataupun MP3EI di era Reformasi. Keberlanjutan pertumbuhan itulah yang menjadikan organisasi bisa tumbuh dengan pesat, tidak sekedar berpikir "hari ini makan apa?" Maka belajarlah dari tokoh-tokoh terkemuka yang mampu menggunakan perannya sebagai CxO untuk berpikir jauh ke depan. Maka, coba luangkan waktu untuk merumuskan renstra HIMMPAS UI. Dari sini kita belajar untuk menyiapkan laju pesat sebuah organisasi yang tidak sekedar setahun dua tahun. Bukankah HIMMPAS tidak dirancang di tahun ini dan setahun ke depan saja.

Oh iya kita punya banyak kendala, mulai dari lokasi Depok dengan Salemba, jam kuliah, udah ada yang menikah, lagi kerja, lagi PDKT#eh. Well, sampai kapanpun kendala tetap kendala kecuali ada yang mau berpikir mengelolanya sebagai peluang. Dengan kapabilitas yang dipunyai para pengurus tahun ini, saya masih menaruh bibit-bibit optimis. Optimis mereka bisa menghentikan tradisi-tradisi tertentu dan mengorbitkan adat-adat yang lebih perlu. You know what..hehee

Reason for Exist
Akhir paragraf di artikel ini adalah persuasi untuk introspeksi. Sebetulnya untuk apa ada Himmpas? Jika mantan Menkominfo pernah nge-tweet "internet cepat 'buat apa'?" dan responnya ramai, maka bayangkan ketua Himmpas UI nge-tweet "Ada @HimmpasUI ada 'buat apa'?" (Jangan lupa follow @HimmpasUI ya gaess), kira ramai tidak ya responnya? Jika ramai, apakah ramai pro, ataukah kontra, ataukah nanya "himmpas itu apa"? Semoga adanya HIMMPAS UI memiliki sebab yang masuk akal, bukan sekedar "karena UGM punya HIMMPAS dan ITB punya KAMIL". Apalagi M kedua adalah Muslim dan PAS-nya adalah Pascasarjana, jelas orang akan banyak bertanya mengapa harus ada organisasi khusus bagi mahasiswa muslim di jenjang pascasarjana.

HIMMPAS UI mungkin dirindukan bagi sebagian manusia, tapi saya lebih berharap untuk tidak merindukan HIMMPAS UI jika itu tidak bisa membuat HIMMPAS menjadi lebih baik
Depok-Bandung-Jakarta Selatan
#AkhirnyaDipublishJuga

4th PKI Awareness

Kesempatan mendengarkan pemaparan yang menarik seputar tanda tangan digital, sertifikat elektronik, dan tentunya IKP (versi Indonesia dari PKI). Kali ini relatif lebih meriah, lebih teknis pembahasannya, dan juga lebih luas jangkauan pesertanya. Semoga menjadi tonggak yang stabil dan progresif untuk menuju implementasinya (yang rencananya) dimulai tahun 2016 ini.

Rangkiman Islam 5 Dimensi

Rangkuman petuah berharga dari Dr. K.H. Asep Zaenal Ausop, M.Ag. tentang Islam Lima Dimensi dalam di Masjid Salman ITB (27/2).

5 potensi buruk yang dimiliki oleh manusia:
1. Dhaluman, yaitu sikap mendzalimi diri sendiri walaupun sudah tahu bahwa hal tersebut buruk, misalnya merokok. Hal ini diingatkan dalam Al-'Aĥzāb ayat 72, "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh".
2. Jahula, tidak bodoh tapi suka bertindak bodoh ataupun sudah tahu tercela namun masih melakukan perbuatan tersebut. Contoh nyata adalah meminum miras walaupun sidah tahu bahayanya, tahu larangannya, bahkan ada minuman lain lebih murah dan bermanfaat seperti jus :)
, thu trcela tpi dijalankan
3. Halu'ma dan jazu'a, taitu sikap suka mengeluh serta berkeluh kesah. Hal ini dikarenakan ketidakmampuan manusja bersyukur atas apa yang diterima atau dimiliki dan memandang hanya dari sisi negatif tanpa menyadari kebaikan manfaat yang ada. Kita bisa melihat fenomena ini dari Surat Al-Ma`ārij ayat 19-20, "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah".
4. Manu'a, yaitu sikap kikir, baik kepada diri sendiri mauoun orang lain.

5. 'Ajula, yaitu bertindak dengan suasana tergesa-gesa. Ada sebuah ayat yang emnyinggug kebiasaan ini, yaitu Al-'Isrā' ayat 11, "Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa."

Kita harus bisa mengganti perbuatan-perbuatan di atas dengan sikap adil, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya; bertindak cerdas dan sabar atas apa yang terjadi pada kita; serta bersyukur atas apa yang ada pada kita.

5 hal yang berhubungan dengan manusia, yaitu:
1. Abid, hamba Allah karena memang hanya Allah yang patut disembah. Diterangkan dalam Adh-Dhāriyāt ayat 56, "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku".
2. Khalifah, wakil Allah sehingga kita wajib menegakan keadilan hukum-hukum Allah di muka bumi. "Penunjukan" manusia sebagai khalifah dipaparkan dalam Al-Baqarah ayat 30, "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi'. Mereka berkata: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?' Tuhan berfirman: 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui'".
3. Ro'in, yaitu pemimpin sebagaimana dipesankan dalam hadis Rasulullah bahwa "Kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan ditanyai atas kepemimpinan kalian".
4. Da'i, misi berdakwah dalam rangka mengingatkan kebaikan. Salah satunya termaktub dalam At-Taĥrīm ayat 6 "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan".
5. Visi, misi, strategi, yaitu tentang apa target yang kita harapkan dari kehidupan ini serta bagaimana mewujudkannya. Visi ini adalah terwujudnya kehdupan yang baik di dunia dan akhirat, sedangkan misinya adalah beribadah pribadi dan kolektif, yaitu memakmurkan kseejahteraan hidup seluruh manusia. Kemudian yang menjadi strategi adalah menjadikan semua aktivitas sebagai ibadah.

Wallahualam.

Apresiasi bagi Mereka, Pemimpin yang Peduli Kebudayaan

Pemimpin daerah tidak melulu harus identik dengan kasus korupsi ataupun birokrasi berbelit. Masih ada kok pemimpin daerah yang bisa berprestasi dengan baik. Salah delapan dari seluruh pemimpin daerah di berbagai penjuru tanah air adalah 8 sosok berikut (1 orang berhalangan, cmiiw). Mereka mendapat apresiasi "formal" berupa Anugerah Kebudayaan 2015 dari PWI Pusat pada awal Februari 2016 lalu. Memang secara publikasi penghargaan ini jauh dari hingar bingar keramaian, mungkin karena di negeri ini berita kontroversi seperti LGBT dan sianida lebih heboh daripada berita tentang prestasi. Menarik dari bagi melihat daftar nama serta wajah peraihnya karena 2 diantara 8 bupati/wali kota tersebut memiliki ikatan kedaerahan dengan saya, yaitu Tegal dan Kota Bandung.

Sumber: http://www.kemenkopmk.go.id 
Siapapun fotografernya, saya acungi jempol karena begronnya bagusss banget dan cocok dengan sosok-sosok wali kota dan bupati yang ada di situ.

Kedelapan bupati/wali kota berprestasi tersebut adalah:
  1. Abdullah Azwa Anas, Bupati Banyuwangi (Jawa Timur), menerima Anugerah Kebudayaan  berbasis  revitalisasi tradisi lokal dan mobilisasi kesadaran masyarakat lewat berbagai festival.
  2. Ali Yusuf, Walikota Sawahlunto (Sumatera Barat) menerima Anugerah kebudayaan berbasis warisan cagar budaya, tenun, dan pariwisata.
  3. Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta (Jawa Barat), menerima Anugerah Kebudayaan berbasis revitalisasi tradisi Sunda, dengan keteladan partisipatoris.
  4. Enthus Susmono, Bupati Tegal (Jawa Tengah) menerima Anugerah Kebudayaan berbasis religiusitas dan pewayangan sebagai medium komunikasi pembangunan.
  5. Hugua, Bupati Wakatobi (Sulawesi Tenggara) menerima Anugerah Kebudayaan berbasis  kearifan maritim,  tradisi dan jaringan global.
  6. Jimmy F.Eman, Walikota Manado (Sulawesi Utara) menerima Anugerah Kebudayaan berbasis keindahan alam, tradisi  yang diaktualkan, dan festival internasional.
  7. Mochamad Ridwan Kamil, Walikota Bandung (Jawa Barat) menerima Anugerah Kebudayaan berbasis modernitas dan aktualisasi tradisi dengan dukungan teknologi dan media sosial yg mengglobal.
  8. Wilhelmus Foni, Penjabat Bupati Belu (NTT) menerima Anugerah Kebudayaan berbasis penegasan jati diri Indonesia di wilayah perbatasan Timor Leste dan Australia.
Keberhasilan mereka tentu juga disokong faktor masyarakat yang mampu memberikan kontribusi positif terhadap gagasan-gagasan cerdas mereka. Namun pengaruh kepemimpinan jelas tidak bisa disepelekan. Saya teringat kata-kata seorang gubernur muda asal Jambi (cmiiw), "Pemimpin daerah itu tidak hanya mengepalai jajaran birokrasi, tapi juga memimpin masyarakat". Maka, akan sangat pesat perkembangan kebudayaan suatu daerah, jika memang pemimpinnya adalah orang yang "melek" budaya dan mau me-"melek"-kan masyarakatnya.

Pelajaran dari Siti Hajar

Ada sebuah kisah penuh pelajaran dari sosok Siti Hajar. Teladan yang merupakan ibu dari Nabi Ismail as sekaligus istri dari Nabi Ibrahim as. Kisah petualangan beliau beserta keluarganya bertahan hidup di sebuah padang pasir direpresentasikan dalam beberapa rukun dalam haji dan umroh. Padang pasir tersebut kelak menjadi salah satu pusat peradaban dunia, yaitu Mekkah ataupun Makiyah.

Khusnudzon terhadap perintah Allah
Saat ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim, Siti Hajar menanyakan alasan kepergian beliau. Jawaban demi jawaban tidak juga dilontarkan Nabi Ibrahim, kecuali sebuah anggukan yang merespon pertanyaan terakhir, "Apakah ini perintah Allah?". Anggukan tersebut ternyata sudah cukup bagi Siti Hajar untuk membentengi diri dari segala macam prasangka buruk. Dengan bekal prasangka baik itulah dia "merestui" kepergian Nabi Ibrahim walau artinya dirinya hanya berdua dengan Nabi Ismail yang kala itu masih belia. Sebuah pelajaran bahwa dalam membina rumah tangga, berprasangka baik merupakan modal yang penting untuk membangun kepercayaan.

Mau Berikhtiar serta Fokus pada Solusi
Walau sadar bahwa keberadan dirinya dan Nabi Ismail adalah perintah Allah, Siti Hajar tidak lantas berleha-leha mengharap adanya hidangan yang diturunkan dari langit. Beliau tetap berupaya mencari makanan dan minuman untuk memastikan keberlangsungan hidup mereka, terutama Nabi Ismail. Status istri seorang rasul tersebut tidak mendorong dirinya manja. Tatkala pencarian belum membuahkan hasil, dirinya tidak putus asa, apalagi menyalahkan Allah. Meskipun dalam tekanan, Siti Hajar mampu tetap fokus pada apa yang seharusnya dilakukan. Sebuah pelajaran berharga bagi kita agar bisa lebih bertindak nyata daripada berkomentar cela. Bahkan di akhir pencarian air yang dilakukannya hingga berkali-kali melewati bukit Shofa dan Marwa, justru sumber air terletak pada tanah di ujung kaki bayi Nabi Ismail. Rezeki tersebut datang justru dari tempat yang dekat dan tidak diduga. Namun Siti Hajar tidak lantas mengeluh lantaran kesal dikerjai. Beliau memanjatkan syukur dengan khusnudzon atas ujian tersebut.

Wallahualam.

Rio Sudah Mau Melaju... Bagaimana dengan yang lain?

Selamat berjuang Rio Haryanto yang menjadi WNI pertama di kursi mobil F1. Prestasi yang membanggakan, namun juga mengundang cibiran. Semua tentu kembali ke subjektif atau objektifnya kita memandang ekosistem yang terjadi.

Konon, ini adalah kendaraan (sumber: Liputan6.com) yang memerlukan mahar bermiliar rupiah, investasi yang sangat wah untuk industri yang sangat jangka panjang bagi Indonesia
 
Sudah banyak yang mengulas sikap pro dan kontra terkait tebusan bermiliar-miliar yang musti dikeluarkan Rio Haryanto untuk berlaga di kejuaraan F1. Bombastis dan mengundang pertanyaan mengingat dana tersebut sifatnya "crowdfunding" hasil dari APBN (cmmiw), dana marketing sebuah BUMN, hingga talangan pribadi, bahkan uluran tangan negara lain. Dari berbagai keributan di dunia maya, sebetulnya permasalahannya memang terletak pada pendanaan. Soal kiprah Rio sebagai pembalap (sebetulnya dan sepertinya) tidak ada masalah. Nasi sudah jadi bubur ayam. Sayang jika Rio harus mendepakkan dirinya hanya karena tidak enak hati. Rio sudah waktunya untuk mengucap "bismillah" memasuki musim 2016 ini. Sekarang pertanyaannya, "Bagaimana dengan 'yang lain'"?
Siapa yang dimaksud 'yang lain'?

Pertama pemerintah Indonesia
Harus ada upaya keras dari pemerintah (terlepas dari suka tidak suka, bahkan apapun afiliasi koalisinya) untuk memanfaatkan identitas Rio sebagai WNI agar bisa betul-betul memberi dampak bagi negara Indonesia. Apalagi Rio (dari hasil pengamatan saya) pun adalah orang yang sangat bangga dengan ke-Indonesia-annya. Beberapa langkah yang bisa dan patut diupayakan oleh pemerintah Indonesia antara lain:
  • Memperjuangkan branding Indonesia, khususnya kepariwisataan Indonesia sebagai atribut resmi Rio dan juga tim Manor
  • Menjembatani pembukaan lapangan kerja di tim Manor yang berasal dari WNI
  • Menyatakan dukungan langsung dan terbuka atas partisipasi Rio di F1

Kedua dari industri
Industri juga perlu tanggap dalam menyikapi partisipasi Rio di F1. Beberapa upaya positif yang patut dijalankan oleh pihak industri antara lain:
  • Kerja sama dalam konteks positif
  • Ikut andil "menggerakan" branding Indonesia sebagai negara yang memiliki kekuatan ekonomi potensial
Ketiga ya kita-kita
Kita juga memiliki peran lho. Perannya sederhana karena terkait sebuah pilihan, menjadi "suporter" ataukah "kritikus".

Serampai Langkah di Teras Cikapundung

Masih (Banyak) PR terkait IKP

Implementasi IKP di Indonesia masih jauh kawan. Perjalanan untuk mengantarkan teknologi ini ke masyarakat dan industri belum layak dilalui dengan santai. PR masih menumpuk, apalagi Indonesia memikiki tantangan yang spesial dalam urusan layanan TI untuk publik.

Siapa saja PSrE nanti?
Industri masih bertanya-tanya "Bisnis apa sih PSrE itu? Bisa 'balik modal' kapan? Memang pasarnya sudah ada?" Jelas pertanyaan yang sulit dijawab, baik oleh regulator maupun akademisi. Untuk layanan publik non-komersil kepada masyarakat, barangkali pemerintah (dengan kekuatan hukumnya) bisa menugaskan satu atau beberapa lembaga pemerintah sebagai PSrE, tapi bagaimana bisnis kodel yang layak untuk menghidupi lembaga tersebut, apakah subsidi menjadi "ASI" tanpa ada batas waktu untuk mandiri? Swasta? Hmmm, sulit membayangkan kekuatan lokal menjadi bidak catur mayor saat ini, kecuali ada sokongan asing. Tapi sekali lagi, bisnis sertifikat elektronik di Indonesia belum menjanjikan secara bisnis jangka pendek. Yang paling logis saat ini adalah "menekan" instansi pemerintah menggunakan sertifikat elektronik untuk e-government. Sektor swasta, barangkali hanya industri perbankan yang cukup realistis untuk didorong menjadi PSrE swasta.

Siapa saja RA-nya?
Ujung tombak yang menjadi jembatan antara pemilik sertifikat elektronik dengan PSrE adalah RA. Namun siapa yang sudah siap menjadi RA? Secara teoretis, lembaga yang sudah tersebar di berbagai lokasi di Indonesia dengan kemapanan di sektor TIK hanya ada dua: pertama bank dan kedua kantor pemerintahan. RA inilah yang menurut saya bisa dipersiapkan dari sekarang melalui program kemitraan yang berpikir jangka panjang. Namun belum ada tanda-tanda adanya bank yang mencium semangat positif keberadaan PSrE ini, termasuk Bank Indonesia dan OJK di pusat. Menarik untuk disimak bagaimana potensi komersialisasi layanan RA oleh bank nantinya.

Bagaimana sokongan hukumnya?
Ini juga tak kalah pentingnya mengingat sertifikat elektronik merupakan sasaran Kemkominfo yang statusnya adalah institusi pemerintah. Payung hukum jelas diperlukan untuk menggerakkan seluruh entitas yang berperan maupun yang berpotensi terjun ke layanan TI ini. Faktor birokrasi yang berlibet plus tekanan internal-eksternalmjelas menjadi cerita yang membuat perjuangan implementasi sertifikat elektronik ini masih jauh dari kata sukswssa.

Bagaimana branding-nya?
Rasa-rasa sudah sepatutnya kerangka kerja implementasi program pemerintah, termasuk di bidang TIK, menyertakan branding sebagai bagian dari rencana kerja. Teknologi canggih, andal, aman, plus dilindungi oleh payung hukum masih sulit "laku" jika branding-nya dikerjakan asal-asalan. Lebih jauh lagi, persepsi masyarakat terkait sertifikat ekektronik, adalah barang mewah, bukan kebutuhan tentang keamanan informasi.

Dunia utuk Akhirat

Rangkuman Kajian Sabtu Dhuha di masjid Salman ITB oleh Prof. Dr. H. Dedi Mulyasana tentang Dunia untuk Akhirat

Manusia di dunia ini seperti orang asing, orang yang sedang menyeberang. Karena kenyataannya dunia ini hanya persinggahan semata dan secara waktu terlalu singkat usia kita dibandingkan waktu di akhirat kelak. Maka, perlu dipertanyakan dua hal ke diri kita. Pertama, sedang apa dan punya bekal apa ketika Allah memanggil? Kedua, darimana berasal dan hendak kemana? Tentu menuju ke akhirat, sehingga kita perlu "mengenal" apa saja "kendaraan" akhirat, yaitu: niat, iman, ilmu, amal saleh, dan ikhlas. Kelima kendaraan ini bermuara pada mencari ridho Allah, bukan membahagiakan orang lain, misalnya istri membahagiakan suami ataupun sebaliknya. Namun berhati-hatilah terhadap niat, karena ada pula konsep reward-punishment yang bjsa dengan mudah menghabiskan niat kita.

"Sebaik-baiknya kenikmatan, tidak ada kenikmatan yang abadi.
Sejelek-jeleknya keburukan, tidak ada keburukan yang abadi.
Dinia adalah tempat menanam dan akhirat adalah tempat menuai hasil."

Terdapat beberapa jenis ketakutan salah
1. Takut kehilangan harta daripada takut kehilangan surga
2. Takut sakit daripada takut dosa
3. Takut dosa (bisa menghindari dosa), tapi tidakntakut pada kesombongan, padahal ancamannya neraka
4. Takut dosam takut adzab kesombongan, tapi tidak takut riya, padahal dapat menghapuskan amalan soleh.

Berikut ini merupakan beberapa situasi dimana dunia merebut kesuksesan:
1. Sukses di dunia hilang makna jika mendatangkan kecemasan dan rasa takut
2. Sukses tanpa iman dan sukur akan menempatkan manusia pada derajat terendah di sisi Allah
3. Sukses itu adalah bila mampu mengubah kenikmatan menjadi amal saleh
4. Sukses itu ditempatkan di bawah iman, jangan sampai ditempatkan atas logika dan kepentingan

Apakah harta dan jabatan itu kebahagaiaan?
- Jika harta jaminan kebahagaiaan, maka tidak ada orang kaya stres dan bunuh diri
- Jika jabatan jamina  kebahagiaan, maka  tidak ada pejabat depresi

Al-Ĥadīd:23 - "(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."

3,12 Juta dari Angkatan SD saya tidak Punya Ijazah SMA/SMK/MA

"Laporan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2012 mencatat bahwa mereka yang lulus SMA/sederajat pada tahun 2011 hanya 43,4% dari total angkatan mereka ketika pertama kali masuk SD, yaitu 4,9 juta. Hal ini berarti dalam tahun itu terdapat 2,1 juta anak-anak Indonesia yang tidak memiliki ijasah SMA. Jika hal ini dibiarkan 10 tahun saja. Maka kita akan 'memproduksi' 21 juta anak Indonesia yang tak berijazah SMA. Dalam kondisi seperti ini, bonus demografi bukan lagi sebagai anugerah tetapi kutukan bagi sejarah."

Pernyataan di atas dilansir dari artikel kawan saya, Detha Alfrian Fajri, M.M., yang berjudul "The Scholar’s Responsibilities" di Buku The Next Indonesia. Pernyataan dari Kemendikbud yang dikalkulasikan dalam visi beliau menjadi sebuah kengerian yang luar biasa. Saya mencoba menelusuri data yang berkaitan dengan pernyataan tersebut. Hasil cukup mencengangkan memang. Berikut ini link yang bisa Kawan telusuri untuk memastikan validitas artikel tersebut.
kemdikbud.go.id/kemdikbud/dokumen/BukuRingkasanDataPendidikan/Final-In-Brief-1112.pdf
kemdikbud.go.id/kemdikbud/dokumen/BukuRingkasanDataPendidikan/6-Final-Statistik-PT-2011-2012.pdf

Sedikit "bocoran" mengenai publikais resmi tersebut pada halaman 25 di buku Final in Brief (itu halaman yang di pojok buku lho ya, bukan halaman pas buka file pdf-nya :v). Di situ memang ada upaya kreatif untuk menjelaskan arus masuk dalam persentase tiap angkatan dari awal SD s.d. lulus Sekolah Menengah (tingkat) Atas (termasuk MA dan SMK). Cara penayangannya sudah bagus, namun sayangnya antarangkatan tidak dibedakan warnanya sehingga perlu jeli untuk memeriksa arus tiap angkatan. Sebagai gambaran, untuk angkatan saya masuk SD di musim 1996/1997, hanya ada tersisa 35,7% yang mampu menggapai ijazah SMA. 35,7% tersebut berasal dari angka 100% di titik start masuk SD yang berjumlah 4.849.131 orang. Artinya dari (sekitar) 4,8 juta tersebut hanya 1.731.139,767 orang (dibulatkan 1,73 juta orang) saja yang meraih ijazah SMA. alias sekitar 3,12 juta kawan-kawan yang masuk SD-nya bareng saya tidak mampu meraihnya. Ngeri memang perjalan tersebut. Faktor ekonomi dan sosial tentu (sangat mungkin) menjadi kambing hitamnya, walau ada faktor lain berupa sebagian dari 3,12 juta orang mengalami duka meninggal dunia.

Bagi masyarakat dengan status ekonomi sosial, tentu ber-SMA menjadi hal yang lumrah, bahkan kerap pusing memilih SMA mana tujuannya. Lain halnya bagi mereka yang ekonominya kurang mampu ataupun kondisi sosialnya yang tidak didukung infrastruktur pendidikan yang layak, pilihannya justru mau ber-SMA atau tidak. Ijazah SMA yang dibayar dengan uang dan waktu selama 3 tahun jelas investasi yang terlalu memberatkan bagi mereka. Selain itu, pertanyaan mereka, jika lulus SMA apa keuntungannya? Pekerjaan di daerah-daerah tertinggal tidak banyak yang mensyaratkan ijazah SMA untuk bertahan. Jika tanpa ijazah SMA sudah bisa kerja, untuk apa masuk SMA? Menurut saya, hal tersebut sangat wajar, namun ada dinamit yang terus membelenggu atas pola pikir demikian. Dinamit tersebut adalah bagaimana keberlangsungan nasib anak keturunan mereka jika pola pikir seperti itu terus dilestarikan?