Ini Sikap Saya


Sepekan lebih pascakasus Nissan Juke. 
Saya ga akan memaparkan kronologis mengingat saya sendiri belum membaca lansiran resmi dari pihak berwenang. Yang akan saya ulas di sini adalah kejadian-kejadian pascainsiden tersebut.

Pertama perdebatan di salah satu forum internet dimana perjadian perdebatan yang menurut saya adalah perbedaan persepsi, namun peserta debat justru terlalu asyik menghujat tanpa mengerti konteks obrolan. Perdebatan tersebut diawali dari permintaan kerabat "tersangka" yang meminta masyarakat agar tidak terlalu menekan ataupun mengolok-olok tersangka", namun para pengolok-olok ini beserta orang-orang yang tadinya hanya membaca, justru mengira permintaan tersebut sebagai pembelaan yang membenarkan tindakan pelaku ataupun "mewajarkan" apa yang telah terjadi. Padahal bukan itu yang dimaksud oleh kerabat "pelaku". Alhasil berbagai cacian pun semakin memedaskan debat tersebut. Perbedaan persepsi tersebut telah mengarah pada keinginan untuk mempertahakan opini bagi penyerang tersnagka bahwa "si pembela itu bodoh", dan bagi kerabat korban "penyerang kerabatnya adalah orang yang bodoh". Entah apakah kasus ini lebih runyam daripada kasus Eyang Subur ataukah tidak.



Kedua perdebatan mengenai sikap institusi kepada tersangka. Muncul desas desus pada media (yang harus diakui tingkat kejujurannya saat ini tidak lebih baik dari calo tiket bus di terminal) bahwa institusi hendak menyiapkan sanksi akademis kepada tersangka. Klarifikasi telah dikeluarkan, namun lagi-lagi perbedaan cara pandang menjadi topik ketidaknyambungan obrolan mereka. Yang alumni tampak merasa cara klarifikasi institusi arogan dan bagi institusi tampak keheranan dengan cara intervensi para alumni.

Di luar perdebatann tersebut, sejak awal saya secara pribadi tentu berbela sungkawa bagi kedua belah pihak. Perasaan ini timbul bukan sebagai penyandang almamater IT Telkom (sama seperti tersangka) ataupun mahasiswa yang pernah KP di PT AP 1 (walau berbeda kota dengan tempat dinas ayah tersangka). Kenapa harus berbela sungkawa pada keduanya? Kedua-duanya jelas ditimpa musibah. Baik korban (yang meninggal dunia maupun yang ditinggalkan) ataupun juga tersangka jelas tidak pernah mengharapkan kejadian ini. Tentu kasus akan berbeda bila yang terjadi adalah seorang mahasiswa tertangka meengkonsumsi putaw, karena itu hampir 100% sengaja.


Kehilangan orang tua, kakek-nenek jelas sangat "menghancurkan" kehidupan si putra yang selamat tersebut. Kehilangan orang tua karena dirawat di rumah sakit saja (bagi saya) nyaris membuat saya pingsan, apalagi kehilangan untuk selamanya.


Tersangkut kasus kecelakaan yang menyebabkan orang lain meninggal dunia jelas lebih membuat mentalnya lebih hancur daripada tidak lulus UN. Selamanya hal tersebut akan diingat, hal ini tentu akan berbeda dengan kita yang tidak terlibat, kenapa? Boleh jadi kita akan mudah melupakan insiden tersebut, mungkin pula ketika kita mengendarai mobil/motor kita lupa belajar dari kejadian tersebut. Oke untuk frase barusan, saya pertegas bahwa bila yang menjadi tersangka justru bisa belajar dari kesalahannya, sedangkan kita jsutru tidak bisa belajar dari kesalahan tersebut (padahal kita termasuk yang memperoloknya) berarti kita termasuk orang yang merugi dan bodoh.

Saat SMA saya pernah mengalami peristiwa yang menyebabkan seumur hidup saya waswas terhadap "kecepatan kendaraan". Peristiwa ini justru terjadi bukan pada saya dan bukan saat saya sudah bisa mengendarai motor. Ketika ini saya pulang SMA terjadi macet yang kemudian muncul suara "ada anak SMA 1 meninggal kecelakaan". "deughhh", jantung saya langsung sesak, "siapa gerangan orang malang tersebut? apakah saya mengenalnya?" Dan ketika kendaraan saya terus maju saya melihat jenazahnya yang justru mengakibatkan saya trauma lebih dari sepekan. Kejadiannya dikarenakan yang bersangkutan jatuh dari motor ketika diboncengi oleh temannya. Teman yang memboncengkannya sendiri mengalami depresi yang luar biasa yang menjadikannya pribadi yang (semakin) pendiam. Jika dibandingkan dengan kasus di atas tentu tidak serupa, namun bagi saya, kalutnya jiwa mahasiswa yang menjadi tersangka itu jelas lebih dahsyat ketimbang kasus kedua tadi.

Dan sebagai mantan mahasiswa IT Telkom namun akan tetap beralmamater IT Telkom, saya tentu memberikan support kepada yang bersangkutan dengan cara yang saya bisa, misalnya tidak memperkeruh suasana, mengajak rekan-rekan saya untuk berpikir jernih dalam menyikapi kasus tersebut, mendoakan agar kedua belah pihak diberi ketabahan. Tentunya bagi orang lain, khususnya yang mengenalnya, akan mampu memberikan dukungan yang lebih konkret lagi, namun perlu diingat bahwa dukungan saya (atau bahkan keluarga IT Telkom) bukan berarti membenarkan tindakan perilaku.

Akhir kata, di sekitar kita ada banyak pelajaran yang lebih berharga dari slide-slide kuliah, namun lebih sukar dicerna, maka pekakanlah nurani ini agar semakin bijak bersikap.

Ujian Allah itu hanya perkara giliran dan wujud

Depan kampus S2 Manajemen UGM, Manggarai, Jakarta

No Response to "Ini Sikap Saya"