Sisi Sosial Ojek Online "Go-Jek"

Belakangan nama Gojek danter terdengar. Alasan awalnya sederhana. Beberapa tukang ojek konvensional memboikot keberadaan mereka dengan cara yang agak kasar. Sempat media sosial secara masif memberitakan hal ini. Namun waktu bergulir dan yang belakangan diberitakan adalah konsep bisnis Go-jek yang (bagi saya pribadi) kelewat unggul dibandingkan ojek konvensional.

Berikut artikel sederhana yang sangat deskriptif dalam menjelaskan model bisnis Go-jek dari sisi driver/rider mereka. Ada poin yang saya soroti di situ. Pertama pencerdasan tentang keamanan berkendara. Ya jujur 70% ojek konvensional yang saya naiki tidak menyedakan helm bagi saya. Kedua adanya waktu luang yang bisa dimanfaatkan produktif oleh driver/rider mereka, untuk berkuliah, berwirausaha, dll.
http://selepasngajar.com/rekayasa-gojek/

Kasus boikot yang terjadi beberapa waktu lalu ternyata belum mampu merobohkan Go-jek. Pendapat pribadi saya ada dua faktor pendorong kenapa boikot mereka gagal. Pertama penetrasi internet di Jabodetabek dan Bandung yang sangat kuat sehingga pemakaian aplikasinya tinggi. Dampaknya koneksi pelanggan ke driver/rider Go-jek lebih kuat daripada ojek konvensional. Kedua faktor harga yang lebih jelas. Ya jelas saja dengan rincian harga yang lebih jujur membuat ojek konvensional kalah telak.

Menariknya, e-commerce ini mulai "dilirik" pemerintah, khususnya Kemenkominfo dan Kemenhub. Entah apa tujuan akhirnya hehee

Sumber foto» republika online

No Response to "Sisi Sosial Ojek Online "Go-Jek""