Menanggalkan Akuisme Saat Pascasarjana [1]

Acara di UPI hari Sabtu (12/3) lalu menyisakan sebuah pesan terkait dunia pendidikan, dan juga menyinggung ambisi/cita-cita kita. Pesan itu sebetulnya sederhana, yaitu menanggalkan pola pikir "akuisme" alias selfishbin egois dalam memaparkan motivasi kita tatkala berburu beasiswa. Para pembicara menyinggung tentang karakter akuisme sebagai kriteria yang sudah pasti tidak lolos seleksi beasiswa karena dianggap tidak bisa memberikan manfaat timbal balik kepada sekitar. Saya sepakat dengan paradigma mereka, namun mendadak saya tergugah untuk memasang gagasan anti-akuisme ini tidak sesederhana tujuannya mengincar beasiswa, namun lebih global lagi dalam menempuh pendidikan S2 dan S3.

Kenapa S2 dan S3? Karena dua jenjang tersebut masih menjadi minoritas di statistik raihan pendidikan masyarakat Indonesia. Jenjang D3, D4, dan S1, sudah menjadi hal yang lumrah, terutama di Pulau Jawa dan kota-kota besar di luar Pulau Jawa. Syarat bekerja berupa lulusan S1 sudah jamak didengar di berbagai kota. Dalam kalimat lain, ketiga jenjang tersebut dilalui sebagai sesuatu yang wajar, normal, dan kenyataannya tidak seinisiatif ketika seseorang hendak mengambil jenjang S2 dan S3. Bagaimana dengan S2 dan S3? Kita kupas satu per satu karakteristiknya plus kaitannya dengan sikap akuisme.

Gelar magister alias S2 masih menjadi spesies langka di Indonesia. Secara umum alasan menggaet  rencana S2 meliputi: mengeskalasi karir di organisasi saat ini, menambah ilmu yang mendukung job-desc saat ini, memper siapkan diri memasuki jenjang dunia riset dan akademik. Alasan macam mengisi waktu luang bisa diabaikan karena jumlahnya sangat kecil. Rentang waktu kuliah S2 relatif singkat, yaitu 3 s.d. 6 semester, namun jangan tanya kesibukannya. Bisa dibilang mengungguli S1 penugasannya. Belum lagi yang sambil mengelola rumah tangga hingga sambil mengikuti agenda rutin di kantor. Bagi program studi yang diisi oleh para karyawan, justru weekend menjadi momen menceburkan diri berjamaah menunaikan tugas kuliah. Pertanyaannya, setelah usai mau apa? Jika menganut paham akuisme, tentu bayangan pascalulus S2 tidak jauh dari benefit gaji naik, pangkat naik, dan tentunya nama semakin panjang. Apakah salah? Entah... tapi itu manusiawi. Namun, coba berpikir lebih bijak lagi. Bukankah hakikat hidup itu adalah menjadi manusia yang terbaik dimana kebermanfaat menjadi tolok ukurnya? Jernihkanlah pikiran dengan menatap luas manfaat bagi sekitar jika kita mengambil S2, tentunya sesuai misi yang kita gusung. Jika menggusung misi eskalasi karier, maka rentangkan sayap untuk membangun karier yang lebih produktif dan penuh inovasi bagi organisasi, dan tentunya bagi Islam dan Indonesia. Apabila organisasi bergerak di industri komersil, maka karier yang kita bangun adalah karier yang bisa menjaga agar industri ini memberi kontribusi bagi bangsa melalui kualitas produksi barang dan jasa. Apabila organisasi kita di ranah layana  publik, maka karier yang kita bangun adalah yang memberikan layanan prima bagi masya rakat. Apabila kita menanggung misi sebagai langkah memasuki dunia riset dan akademik, maka pergunakan hasil pendidikan S2 untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran ilmiah yang berperan sebagai solusi untuk mempercepat peradaban manusia.

Bagaimana dengan S3?
Actually, i have not been in there yet. Maka yang saya sampaikan adalah kacamata di luar kotak S3. Kurang lebih begini...
S3 memakan durasi yang nyaris setara S1, yaitu 8 semester, bahkan bisa lebih. Pertanyaannya, apa saja yang dikeluarkan oleh mahasiswa S3 dan bandingkan apa yang akan didapat setelah lulus S3. Apabila kerangka berpikirnya hany dosen yang full time ngajar, maka kalkulasi kasar akan menempatkan status sulit untung (secara finansial). Gaji dosen lulusan s3 full time ngajar masih dalam garis yang tidak sebanding investasi waktu dan biaya yang dikeluarkan. Maka sangat tidak disarankan mengincar dosen full fime ngajar sebagai rencana pascalulus S3. Dari sini sudah tampak pemegang fanatik akuisme bakal rontok. Mengapa?

/* bersambung */

No Response to "Menanggalkan Akuisme Saat Pascasarjana [1]"