[Review] Kungfu Panda 3

Ini adalah kartun favorit saya, bahkan ketika prekuel nomor 1-nya rilis sekian tahun yang lalu. Jujur dari sisi animasi dan graf-cit Kungfu Panda terhitung standar. Tapi jika bicara alur cerita beuh top markotop, mbahas urusan filosofis jos margondos. Film Kungfu Panda dari edisi 1 s.d. 3 ini saya anjuran untuk ditonton bagi kalian yang belajar tentang mengembangkan diri. Dan khusus di Kungfu Panda 3 ini, nilai pembelajaran yang disajikan makin "pecaah".

Pertama tentang eskalasi diri
Kita tidak bisa berhenti di zona nyaman dimana kita berpuas diri. Kita perlu menyadari bagaimana kita akan bisa jauh lebih berkembang tatkala menemui kesulitan. Dan kadang kesulitan yang menjadi "kado" buat kita adalah hal-hal yang sepintas sangat tidak sesuai dengan keinferioran kita. Sebagai contoh karakter "koplak" Po yang justru dipertemukan dengan amanat menjadi guru dan menjadi pemandu bagi Tigres dkk.

Kedua tentang Mengenal Diri dan Menjadi Diri Sendiri
Ini sepintas klasik, tapi di film Kungfu Panda ini kita dipaksa menikmati suguhan Po yang tidak serta menanggalkan karakter aslinya tatkala menjadi seorang guru. Dia menunjukkan karakter wibawa seorang guru dengan caranya sendiri. Hanya saja memang, kepiawaiannya menjadi guru memang muncul justru saat tidak sedang dilihat oleh kawan-kawannya, kecuali Tigres, melainkan di hadapan para panda yang buta dengan karakter Po.

Ketiga tentang Memanfaatkan Potensi
Po sangat memahami bahwa panda bukan makhluk yang cekatan bertarung, apalagi para panda yang sehari-hari hidup damai. Maka dia menyusun strategi dengan mengeksplorasi karakter mereka masing-masing. Ini sebetulnya sindiran bagi pendidikan yang terlalu berorientasi pada kepuasan si pengajar namun mematahkan kreativitas murid-muridnya.

No Response to "[Review] Kungfu Panda 3"