Benang Merah Kunjungan Bapak Presiden

Sejak dilantik pada 20 Oktober 2014 alias dua tahun lalu, Presiden Joko Widodo tetap melestarikan budaya 'blusukan'-nya. Salah satu bukti yang tidak terbantahkan dari kebiasaan beliau ini adalah mengagendakan untuk Sholat Ied di luar ibu kota Jakarta. Apabila tahun 2015 lalu, provinsi Aceh, tepatnya Kota Banda Aceh, yang menjadi lokasi blusukan, maka tahun ini Kota Padang di provinsi Sumatera Barat menjadi persinggahan presiden untuk menutup Ramadhan 1437 H. Kebiasaan ini menjadi pendobrak tradisi presiden RI yang senantiasa tetap di ibu kota, lebih spesifik lagi, mengikuti Sholat Ied dari Masjid Istiqlal. Kebiasaan tersebut makin kentara dengan kunjungan Presiden Joko Widodo saat sholat Ied di Kota Martapura, Kalimantan Selatan pada tahun 2015 lalu saat masih 1436 H, walau memang beritanya tidak seheboh kunjungan ke Aceh dan Sumatera Barat.

Aceh, Sumatera Barat, dan Kalimantan Selatan memang merupakan basis yang kental dengan suasana Islami. Provinsi Aceh merupakan daerah otonom yang menerapkan syariat Islam satu-satunya di Indonesia, buah perjuangan sekian dekade yang penuh keringat dan darah. Sumatera Barat identik dengan masyarakat Minangkabau yang memiliki semboyan hidup ABS-SBK alias Adat Basandikan Syarekat - Syarekat Basandikan Kitabullah. Sedangkan Provinsi Kalimantan Selatan masih memiliki kesultanan yang berbasis Islam, yaitu Kesultanan Banjar. Bicara soal kelayakan dan kaitan antara daerah yang dikunjungi beliau dengan kultur tata kelola masyarakat Islam, tentu kunjungan beliau sudah tepat.

Namun, yang menarik ketiga provinsi tersebut ternyata dalam Pemilihan Presiden tahun 2014 lalu bukan menjadi lumbung suara pasangan terpilih Joko Widodo dengan M. Jusuf Kalla. Ketiga provinsi tersebut beserta sejumlah provinsi lain, yaitu Riau, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, serta Maluku Utara, menempatkan pasangan Prabowo Subianto dan M. Hatta Rajasa sebagai peraih suara di atas 50 persen alias pemenang di provinsi tersebut. Maka pertanyaan sederhananya, apakah kunjungan di tiga daerah tersebut dilatari faktor tematik, yaitu agenda religi di provinsi yang religinya kental, ataukah ada tujuan politis untuk merangkul dukungan. Dari daftar provinsi yang dipaparkan sebelumnya, dominasi kultur dan tata kelola Islam relatif kental di seluruh provinsi tersebut. Jika menengok tren tersebut, rasa-rasanya Presiden berpotensi menjadi provinsi-provinsi tersebut sebagai destinasi hari raya Idul Fitri dan Idul Adha berikutnya. Namun kecil peluangnya bagi Banten dan Jawa Barat mengingat presiden saat ini lebih memprioritaskan perhatiannya pada daerah di luar Pulau Jawa.

Jika niatnya memang sebagai bagian dari agenda religi, maka semoga tetap dikokohkan niat sucinya dan sebaiknya tidak terbatasi hanya di daerah yang Islamnya kental. Jika memang agenda politis, rasa-rasanya, presiden perlu mempersiapkan strategi agar tidak memancing emosi ataupun rasa dipermainkan bagi masyarakat di provinsi tersebut.

sumber statistik; http://kpu.go.id/koleksigambar/PPWP_-_Nasional_Rekapitulasi_2014_-_New_-_Final_2014_07_22.pdf

No Response to "Benang Merah Kunjungan Bapak Presiden"