Mengisi Masa Depan [3]

Tempo hari saya berceloteh tentang masa depan yang sifatnya jangka pendek...
Nah...sekarang ambo pengin sharing tentang apa yang jadi target masa depan jangka panjang.
Tapi ada beberapa orang yang berprinsip jalani hidup sebagaimana adanya. Hmmm, bagi yang punya kemampuan menghadapi tanpa persiapan sih ga masalah, nah...kalo yang orangnya kayak saya (punya keterbatasan dalam menghadapi sesuatu yang "ujug-ujug") jelas susah.
Maka, aku susunlah beberapa rancangan masa depan itu.

Pertama profesi pascalulus, ada banyak peluang kerja di bidang informatika, baik yang berkaitan dengan korporasi ICT ataupun korporasi non-ICT (such as farmasi, transportasi, edukasi) dll.
Nah, kalau dari aku sendiri insyALLah tidak mempermasalahkan apakah itu korporasi ICT ataukah tidak. Terkait domisili pun tidak masalah apakah tetap di Bandung, ataukah Jawa Tengah, bahkan bila harus ke luar Pulau Jawa, kenapa tidak? Aku berencana di dunia industri selama 5-7 tahun. Apakah di korporasi yang sama terus ataukah apa pergantian? Kita lihat nanti. Apa yang nantinya aku garap, aku prefer ke bidang software engineering dan information system

Ndirikan warung. Yiripiiiiiiiiiiiiii... aku walau kurus dan bertensi rendah (sejak 2008 s.d. awal 2012 tiap kali ikut donor darah tensi selalu 110/80) namun aku sangat hobi banget dengan yang namanya kuliner. Terserah mau dibilang enak atau nggak, yang pasti mie favoritku adalah buatanku sendiri dan ibuku. Nah.. tapi di warung (aku sebut warung biar lebih kerasa murah di hadapan customer..haha) nantinya, bukan aku yang masak. Penginnya ya masakan Jawa, tapi ga masalah bila nantinya ada sentuhan Jepang ataupun Timur Tengah. Lokasi tentu saja Bandung atau Bekasi (entah kenapa Bekasi, kepikiran aja). Pengelolanya entah akan dijalankan bareng dengan teman-teman atau tidak, yang pasti aku akan berkolaborasi dengan istriku nanti dalam mengelolanya#beuhhhh


Menguasai beberapa bahasa asing dan bahasa daerah. Terlepas dari rencana beasiswa ke luar negeri, buat saya mempelajari bahasa adalah hal sangat menarik. Nah, beberapa bahasa asing yang saya targetkan untuk saya kuasai (setelah Bahasa Inggris) adalah Jerman, Jepang, dan Arab. Sedangkan bahasa daerah yang menjadi sasaran untuk dikuasai adalah Padang, Palembang, Sunda, Banjar, dan Makassar.

Hafal minimal Juz Amma untuk 3 tahun ke depan. Hafalan surat saya sangat perlu ditingkatkan. Masa lagu-lagu KLa n Larcenciel hafal, tapi firman Allah cuma dikit? malu aku

Melanjutkan S2, ini saya targetkan di penghujung karier saya di industri. Beberapa target perguruan tinggi untuk S2 nantinya adalah

  • Software Engineering University of Qatar
  • Information System, Faculty of Informatics, Vienna University of Technology
  • Software Technology and Interactive System, Faculty of Informatics, Vienna University of Technology
  • Data Mining, Teknik Informatika, Institut Teknologi Telkom (ataukah udah jadi Tel-U??)
  • Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung
Orang mungkin bertanya kenapa pengen kuliah di luar negeri? toh, predikatnya juga sama-sama S2. Emang gajinya bakal lebih gede y? haha...bukan gitu...Dengan kuliah di luar negeri, kita bisa mempelajari kebudayaan luar negeri yang bisa dikembangkan di Indonesia dan sebagai muslim kita bisa meluaskan jangkauan dakwah kita

Menjadi dosen. Well, kenapa ya saya jadi berniat menjadi dosen? mungkinkah darah pengajar dari kakek>ibu>trus saya?? Kebetulan selama dua tahun terakhir saya banyak berinteraksi dengan dosen-dosen yang inspiratif. Padahal dulu saya berpikir bahwa dosen itu pekerjaan yang kolot, dan ternyata snagat-sangat tidak. Emang saya mau ngajar dimana? Ibarat pemain bola yang sudah merintis karier di IT Telkom (saya masuk ke sini sebagai prioritas utama perguruan tinggi incaran saya), tentunya saya memprioritaskan IT Telkom (atau apapun namanya nanti) sebagai alamamater yang akan menjadi tempat naungan saya berbagi inspirasi dan ilmu. Setelah 5-7 tahun di dunia industri, saya akan kembali ke sini.

Terus aktif di Pramuka dan Karate. Well, dua bidang ini merupakan hal yang sudah aku geluti dengan passion sejak SMP. Jika hanya cukup menjadi simpatisan, ya gapapa. Tapi siap bila dipercaya menjadi pengelola aktif, entah itu di lingkup kecil maupun lebih besar.

Masih aktif nulis, baik itu ilmiah maupun non-ilmiah. Dosen wali saya pernah bikin paper bareng suaminya, salah satu dosen pembimbing UKM Pramuka di kampus saya juga pernah membuat paper bareng istrinya. Dan semoga nantinya saya dan istri saya juga. Eaaaa... Well, apakah ini "sinyal" bahwa saya bakal nikah ama sesama dosen?? (FYI=suami/istri mereka juga dosen) Weitsss, ntar dulu bang... ga gitu juga kali... Tidak pernah (at least sejauh ini) saya memasukkan "dosen" sebagai parameter memilih istri saya. Ataukah berarti calon istri saya berasal dari bidang "ICT" (such as anak IF)...haha...idem ditto bung.. Saya melihat bahwa kolaborasi yang fuzzy-professional tersebut sebagai motivasi unik dan produktif. Bila istri saya tidak lihai menulis, ya ntar saya bantu, kalau dia lebih jago ya tentu ok ok saja. Bila dari bidang keilmuan yang sama ya gapapa, kalau bukan yo santai saja, IF luas bidang yang luas dan bisa dikolaborasikan dengna berbagai disiplin ilmu lain.

Nah, ini nih yang juga menjadi penentu terwujud tidaknya target-target di atas, yaitu menikah. Pasti agan-agan bakal rewel dengan pertanyaan "kapan?" "ama siape?"  dan sejenisnya. Demi kebaikan bersama, khususnya menjaga objektivitas dalam bertingkah laku, maka saya akan terus menjaga rahasia siapa beliau, at least clue-nya adalah kerudung, berpikir dewasa, bermanfaat. toh, belum ada janur kuning, itu aja saya belum tahu apakah memang dia atau bukan. Saat ini hanya bisa ikhtiar sebagaimana yang saya bisa.

1 Response to "Mengisi Masa Depan [3]"

Unknown mengatakan...

luar biasa bos ive!