Copa America Centenario: Edisi Spesial yang Penuh Ranjau

Turnamen edisi khusus ini akhirnya memangsa korban juga. Beruntung bukan korban jiwa, namun tetap saja menyedot perhatian karena berupa nama besar dua negara yang merupakan pelanggan gelar juara Copa America, bahkan pernah mengecap juara dunia. Mereka adalah Uruguay serta Brazil. Ada apa dengan mereka? Uruguay sudah menanggung malu lebih dulu setelah sepasang kekalahan memangkas peluang mereka bahkan tatkala mereka belum menuntaskan 90 laga ketiga. Ya, sosok Meksiko dan Venezuela tanpa diduga meggilas Uruguay. Barangkali negara yang pertama masih bisa dimaklumi, namun bagaimana dengan Venezuela? Skor tipis 0-1 menjadi sepanjang hikayat Uruguay yang nyaris genap 5 tahun lalu menjadi jawara Copa America. Sosok predator macam Luis Suarez dan meledak di La Liga hanya bisa meledakkan sebuah pukulan ke bangku cadangan lantaran di dua laga itu hanya menjadi "penonton". Ironi memang karena Venezuela merupakan salah satu negara dengan statistik kemenangan cukup miskin di zona COMNEBOL.

Brazil? Agaknya aib mereka masih sedikit lebih baik, yaitu didepak lewat gol tunggal yang benar-benar lahir dari depakan lewat tangan pemain Peru. Laga pertama yang gagal berbuah tiga poin sebetulnya sempat membaik di laga kedua, malah dengan sajian tujuh gol berbanding kebobolan satu tatkala meladeni Haiti di babak kedua. Tapi semua itu berasa sia-sia karena justru Peru, si "pencuri" kemenangan yang juga berhasil "merampok" tiket Brazil. Bicara nostalgia pun aka hampir hambar karena sosok pelatih saat, Dunga, adalah kapten alias pemain Brazil yang pertama kali mengangkat trofi Piala Dunia 1994 di Pasadena, Amerika Serikat. Ya, Amerika Serikat menjadi tuan rumah di edisi Copa America kolaborasi COMNEBOL dengan CONCACAF. Di tanah ini Brazil mendulang sanjungan 22 tahun lalu, tapi kini ditemani hanya frase pelipur lara berupa "tersingkir karena gol tidak sah". Eksistensi Marcelo dan Daniel Alves di komposisi timnas Brazil terasa hambar, pertanda Brazil dilanda Neymar-sentris. Eh tapi skor 7-1 versus Haiti didominasi Philip Countihno, lantas ada apa dengan Brazil?

Sumber foto: twitter.com

Copa America tahun ini boleh jadi harus berbagi jadwal dengan Piala Eropa/Euro 2016. Tapi urusan kejutan, Copa America sudah mengumbar eloknya kejutan dan ranjau tim-tim raksasa. Praktis unggulan saat ini menyisakan Cile, Argentina, dan mungkin Meksiko serta Kolombia. Tuan rumah Amerika Serikat pun diam-diam punya potensi sebagai pemilik kandang, tapi butuh kerja keras serta keberutungan agar 4 jagoan tadi juga tergilas dari tim-tim medioker. Percaya tidak percaya, suka tidak suka, Venezuela dan Peru menjadi pemberontak kemapanan di edisi tahun ini.

No Response to "Copa America Centenario: Edisi Spesial yang Penuh Ranjau"