Musim Terakhir di Paradewa

mp3 berjudul Mahameru dengan vokal Ari Lasso (versi Dewa) berdendang di laptop cokelat ini. Di akhir selalu terucap sebuah kata "Paradewa". Entah kebetulan atau tidak, bagi saya Paradewa mempunyai sebuah arti. Arti yang lebih dari sekedar seongok bangunan di PGA Recidence. Paradewa merupakan rumah yang penuh kenangan.

Mungkin banyak yang menganggap Paradewa bahwa bagi saya hanya tempat naruh baju dan numpang mandi. Well, terserah kata orang, namun bagi saya, Paradewa mempunyai makna lebih dari sekedar tempat berteduh. Di Paradewa inilah banyak kisah-kisah yang penuh intrik dan kebanyolan khas anak rantau.

Mei 2008, si ganteng dari Tegal (sebut saja ive) memberanikan diri menyusuri kota Bandung ditemani kaka kelasnya (sebut saja "Ridwan"), hendak  mencari kos rupaya, tempat yang kebetulan dimasuki adalah suatu bangunan yang lumayan terang dengan aprkiran di dalam dan lebar. Lantaran sudah penuh maka urunglah niat si ganteng bersemayam di situ.

Mei 2009, dalam nuansa panitia PDKT 2009 saya kenal dengan Wahyu alias WEPE dan Carte di kepanitiaan PDKT, ternyata keduanya berasal dari kos yang bernama Paradewa. Entah apa yang menyebabkan mereka begitu kompak, menurut pengakuan dan kenarcisan mereka, itu karena faktor kos "Paradewa". Paradewa? Apaan tuh? Semacam Parasetamol kah? Ternyata itu nama kosan. Seorang pemuda lugu asal Semarang (sebut saja Wisnu) berhasil digaet untuk menjadi penghuni di situ. Dan ko si Wisnu jadi ikutan kompak dengan mereka ya? Entah ... Namun beberapa kali saya diminta main ke Paradewa untuk diskusi tentang PDKT dengan kang Wepe, dari situlah saya baru tahu kalau Paradewa itu kos yang dulu saya hendak di situ namun penuh. Ohhhh

April 2010, kondisi kosan di kosan saya kala itu lumayan tidak kondusif, maka melalui informasi yang saya dapat langsung dari kang Wepe, akhirnya saya memutuskan hengkang ke Paradewa, alasan utama, banyak yang kenal di situ. Ada kang Wepe, bang Carte, Wisnu, dan bang Eri. Sejak saat itulah berbagai memori seputar Paradewa menghiasi hari-hari sang mahasiswa pencari IPK ini. Mulai dari Paradewa yang memang cuma sebagai tempat naruh pakaian doank, hingga Paradewa, khususnya ruang P207 menjadi sarangnya saya berkreativitas dengan sisi introvert saya.
Pelanginya indah sekali... subhanaAllah
Suatu sore saat hari-hari terakhir menjelang hengkang ke Jakarta

Foto terakhir sebelum benda-benda itu diberesi


Salah satu kenangan yang mungkin (atau bahkan pasti) saya kangenkan adalah nonton bareng bola di aula. Aula... ya di situlah saksi Barca membantai Madrid 5-0, Barca diinjak Chelsea 2-2, Madrid digebuk Muenchen adu penalti, lalu gantian Madrid melumat Barca 3-1, Barca diremukkan Muenchen 0-4. Kenapa kebanyakan tentang Barca dan Madrid, ya tentu karena tiga penghuni terdekat dengan aula adalah 2 orang Cules dan 1 orang Madridista. Dan sore hari di Paradewa sembari menikmati sajian Liga Indonesia pun turut memberi masa lalu yang kocak, kenapa kocak? Satu, satu kos yang suka Liga Indonesia cuma saya, Dua, di semester akhir saya acap meluangkan waktu (aslinya sih ngluyur di pertengahan kuliah) untuk nonton Sriwijaya FC berlaga.

Kenangan lain apa ya? Tentunya ketika "piknik" ke Brebes untuk mengunjungi walimahannya Bang Eko. Perjalanan yang penuh canda dan keabsurdan. Gak nyangka juga si abang yang kamarnya persih di bawah kamar saya dan sering main PES di aula ternyata mau nikah. Well, belakangan kamarnya (yang kosong diakuisisi oleh Wisnu).

Masa iya penghuni Paradewa lupa ama Miyu. Miyu? Ya Miyu, kucing kesayangan Wisnu yang kerap menjahili saya kalau hendak makan di tengah aula. Kucing lucuuuuuu banget.
Miyu dengan pose jelalatannya

Bicara kenangan dan inspirasi jelas tidak lengkap tanpa menyebut P207 sebagai sarang inspirasi, 
Pintu menuju kamar saya (sebelah kiri)

Seinget saya sih, saya jarang beli buku, ko lumayan banyak begitu ya? Mana ada yang tentang grafcit n basdat lagi ? =_=

Orang-orang hebat itu yang menjadi inspirasi saya ketika bangun pagi dan berevaluasi diri tiap malamnya

Sisa-sisa terbitan dipajang sebagai bukti kesibukan saya pada orang tua

  • tempat saya tertawa ketika nonton berbagai film kocak, 
  • tempat saya "lupa besok ada UTS/UAS" ketika malah nonton Kamen Rider, 
  • tempat saya nangis ketika bersembunyi dari berbagai kegetiran hidup yang keras, 
  • tempat saya mengetik berbagai rangkaian tugas akhir
  • tempat saya tiba-tiba dirasuki ide-ide kreatif
  • tempat saya mengurung diri ketika kepribadian introvert benar-benar mencengkram
  • tempat saya memasang berbagai foto-foto kebersamaan dengan kawan-kawan seperjuangan di berbagai organisasi dan kepanitiaan
  • tempat saya menggantung baju yang sering berantakan hahaa
  • tempat saya "ngaca" ketika hendak kuliah
  • tempat saya kelabakan mencari kacamata bila hendak kuliah
  • tempat saya berbaring seharian pasca insiden 17 April #entah kronologisnya gimana
  • tempat saya yang hanya ada seekor kucing dan seorang Wisnu yang berani memasukinya
  • dan tempat saya ... (dan tak terhitung memori indah di sana)


16 Januari 2013 mungkin menjadi momen yang paling gila dalam karier saya di Paradewa, rencana tidur setengah 9 yang saking gundahnya menjelang sidang esok harinya, justru membuat saya baru bisa tidur setengah 12.


Dan ini yang paling utama, yaitu orang-orangnya. Thanx banget kepada kamar sebelah Acho Paliwan atas segala bantuan dan support-nya untuk TA saya, diskusi tentang per-KBM-an plus rivalitas el classico diantara kita, Wisnu sebagai teman sharing TA yang luar biasa perjuangan dan kegigihannya, salutlah buat kau Nu, para alumni yang udah berserakan di mana-mana, ada kompetitor ketampanan, bang Eri, tukang ngledek terkoplak, bang Carte, yang paling lurus, kang Wepe, sesepuh paling nyante, bang Kimung, serta alumni-alumni lainnya, bang Okta, bang Jono, serta para generasi penerus, Ilham "tukang PLN", Aji "Wisnu Junior", Fahmi, Adi dan kembarannya Ari, Anggit.
Bang Kimunk diwisuda di kosan oleh para sesepuh Paradewa ^_^

Saya abis pelantikan Saka Kominfo jadi ngantuk gitu

Aula tengah yang penuh kenangan 

Bila lagu Jikustik berisi lirik "meski aku tak lagi di situ... tolong ingat-ingatlah aku... demi senja dan secangkir teh hangat kusempatkan berkunjung pulang... kawan aku pulang

Maka biarlah segala kenangan itu terpatri dimana Paradewa bukan hanya identitas untuk ditulis di CV, tapi memang itulah rumahku di Bandung.

No Response to "Musim Terakhir di Paradewa"