Apakah Keluarga (Besar) itu Tidak Punya Roadmap?

Belakangan agak ramai juga kampus si sebelah selatan itu. Perlahan mulai mengulik secuil pemikiran tentang dinamisnya dunia mahasiswa dengan segala..segala apa y? ya segala "dinamika"-nya...

4,5 berstatus sebagai anggota dari sebuah Keluarga Besar Mahasiswa (entah keluarga itu menggap saya dari bagiannya ataukah tidak :p) ada sebuah pertanyaan yang belum terjawab, yaitu "ada nggak sih roadmap keluarga besar mahasiswa ini?" Kenapa harus bertanya seperti ini? Kesannya ko formal banget sih? Berasa lagi ngomongin riset dengan suasana mendadak kaku, please deh, ga usah formal-formal amit, have fun ajalah di keluarga besar ini.


Well, have fun, kaku, garing-crispy, romantis #aihh, ngebanyol, itu adalah kemasannya, bungkusnya, interface-nya, metodanya, tapi secara persenyawaan tentunya sebuah organisasi sekelas keluarga besar harusnya mempunyai pandangan yang visioner dimana didefinisikan ke dalam sebuah roadmap.


Mari kita pergunakan sebuah pola pikir negasi, yaitu suatu cara berpikir memandang pentingnya sesuatu bukan dari keberadaannya, tapi ketidakadaannya. Coba bayangkan kalau roadmap keluarga besar mahasiswa tidak ada! Eh, bentar-bentar, bukannya malah tidak ada ya roadmap di keluarga besar ini? *CMIIW* Okay, sekarang coba evaluasi kondisi keluarga besar yang tidak ber-roadmap ini

Pertama, pencanangan program kerja yang lebih fokus pada : meneruskan warisan, suka-tidak suka terhadap cara pelaksanaan pendahulunya. Subjektivitas melekat. Mungkin justifikasi ini pun subjektif yee...hehee... Tapi terkait pencanangan program kerja, hal yang cukup fatal terjadi adalah kebersinambungannya. Banyak proker yang korelasinya lemah dengan proker serupa di tahun sebelumnya, bahkan proker ini pun entah bagaimana akan bisa dikembangkan di tahun berikutnya. Ada dua faktor pendukung ketidakberlanjutannya proker-proker demikian. Satu, terlalu malasnya meninjau proker tersebut tahun lalu, entah itu dengan cara diskusi langsung ke penyelenggara (dan pihak yang menjadi sasaran). Dua, tidak ada acuan untuk menuntun apa yang harus dilakukan pada tahun ini dan apa yang harus diestafetkan untuk tahun berikutnya. Tahun ini mengadakan kerja bakti membersihkan sungai, tapi tahun berikutnya tidak ada kelanjutannya.


Sebagai "bengkel kreativitas", tentu banyak ide-ide dahsyat yang cocok diterapkan pada lapangan luas produktivitas mahasiswa. Perkara lingkungan saja bisa melahirkan puluhan program kerja. Begitu pula peran keluarga mahasisswa dalam mengembangkan masyarakat di sekitar kampus, aspek pendidikan, aspek kesehatan, aspek ekonomi dll. Tantangan yang perlu dikuasai oleh para komandan di keluarga besar adalah bagaimana memanajemen waktunya. Dan ketika berpikir jauh ke depan, roadmap menjadi panduan dalam mengambil langkah.

Kedua, silahkan disurvei mengenai gambaran para "komandan" ataupun para "kopral" di keluarga besar tersebut. Siapa sajakah yang mau berpikir untuk membayangkan bagaimanakan kondisi keluarga besar ini sekian tahun mendatang? Mayoritas masih berfokus pada bagaimana mencairkan dana untuk proker ini, bagaimana perang "poster" di mading kampus, dll. Harus ada para pendobrak (walau sedikit) yang mampu mengarahkan pemikiran jangka pendek ke arah jangka panjang.



Ketiga, budaya egosentris antarinstansi, bahkan antarsubinstansi yang lumayan kental. Roadmap berperan besar dalam mengkoneksikan berbagai elemen untuk berkolaborasi. 

Bukan hal yang sulit ditemui kondisi ketika UKM-UKM terlalu asyik dengan agendanya masing-masing tanpa adanya interaksi yang bersifat kebersamaan. Para komandan keluarga besar pun agaknya belum bisa menangkap peluang untuk mengajak kerja sama antarinstansi. 


Kesibukan mengurusi program kerja menjadi alasan untuk menunda-nunda keinginan untuk mengajak instansi-instansi di dalam keluarga besar untuk bekerja sama.



Keempat, tanpa roadmap maka akan muncul kebiasaan untuk berpikir jangka pendek. Dampaknya sudah banyak terlihat. Secara organisasi, aksi/demo yang dimotori lembaga eksekutif di keluarga besar tersebut banyak yang bersifat mendadak dan analisis dari kajiannya kurang menampilkan pemikiran yang mampu melihat masa depan secara jauh dan menyeluruh. Secara individu pun, banyak alumni keluarga besar yang kerepotan menata kehidupan pascalulus karena tidak mempunyai roadmap.


Ketika dilibatkan sebagai panelis fit and proper test bakal calon presma dan wapresma di sebuah kampus dengan 2 pasang kandidat (artinya ada empat orang), hanya ada satu orang yang tahu dan pernah membaca MP3EI (opooo kuwii).

Well, bagaimana membangun sebuah keluarga besar melalui roadmap?
Kita kulik nanti hehee
Saya coba mengobrol dengan sejumlah orang-orang inspiratif sebagai narasumbernya :)

No Response to "Apakah Keluarga (Besar) itu Tidak Punya Roadmap?"