Pemutus Rantai

Sebuah bus malam datengnya telat sehingga Mawar (bukan nama sebenarnya) telat pulang sekaligus mencatatkan rekor 7 hari beruntun pulang larut malam. Bangunnya pun kesiangan sehingga sekeluarga telat sarapan. Si suami, sebut saja Kumbang berangkat dengan wajah tidak disetrika alias kusut. Di kantor emosinya makin ababil ketika berbagai problema menyapa. Kepada karyawan lain dia menjadi ketus. Alhasil traffic perform satu korporasi ngedrop. Bonus tahunan pun batal cair. Kupu-kupu, teman si Kumbang harus mengurangi kirimannya ke istrinya di seberang pulau. Bila dirunut dari awal apa penyebabnya? Gara-gara macet.

Ya sekilas lebay memang kasusnya. Namun ada hal yang menarik di situ, yaitu efek sistematik pikiran negatif yang menular berkepanjangan.
Kurang lebih seperti itulah kondisi di kota metropolitan yang intensitas interaksi antarmanusianya sangat tinggi. Maka tidak heran banyak lingkaran negatif terjadi dimana-mana. Mungkin bukan lingkaran biasa, tapi jaringan yang menjalar karena terlalu penat aura negatifnya dan efeknya tidak hanya ke satu hal tapi ke banyak dampak.

Aura negatif memang mudah menular, dengan ataupun tanpa sengaja. Saking betenya kita jadi sensitif karena merasa jadi pribadi yang paling banyak mendapat masalah.

Banyak cara untuk menularkan aura negatif tersebut. Taaapiiii masih terlalu banyak cara untuk mengonversinya menjadi aura positif.

Tidak perlu tampil mengggelar bak motivator di tengah KRL yang sering macet. Tak perlu pula membalas keluhan orang.

Jadilah seseorang yang memutus rantai negatif tersebut. Eh eh eh apa maksudnya nih?

Minimal diam dan jangan mau ikut-ikutan menyebar aura negatif. Tidak akan pernah ada habisnya jika kita mengeluh dan mengeluh.

Perbanyaklah dzikir serta mmbaca Al Quran agar hati tentram.

No Response to "Pemutus Rantai"